Tags

, , , ,

Someday We'll Know Rev

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Someday We’ll Know 1

Pairing : Wonkyu, Yunjae

Genre : Romance, Angst, Family

Rating : PG

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster belong to @SuciiCho

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, a little mention of drugs used, Several OC, a rather fast plot, OOC, AU

Summary : Where is happiness? Only yourself could answer that.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Siwon P.O.V

Terkadang hidup itu menyenangkan bagi sebagian orang yang beruntung. Sedangkan sebagian lagi menganggap hidup di dunia ini bagaikan hidup di neraka. Hah.. Padahal mereka belum pernah kesana, tapi sudah sok tahu tentang bagaimana neraka itu. Memangnya mereka pernah mati dan hidup kembali. Orang-orang kurang kerjaan. Tapi, mungkin aku termasuk orang-orang kurang kerjaan itu, karena pernah dalam satu waktu di hidupku, aku menganggap kehidupanku bagai di neraka. Segala musibah tidak pernah lepas dariku. Anehnya, aku tak pernah merasa menyesal dengan kehidupanku sekarang karena menurutku menyesal adalah pekerjaan paling bodoh yang pernah dilakukan seseorang. Tidak akan ada yang berubah dengan penyesalan.

Hh.. Buat apa aku berpikir tentang hal-hal filasat begini?! Aku punya urusan lebih penting daripada mememikirkan bagaimana hidupku. Aku harus segera membawa benda-benda yang ada ditanganku ini. Benda-benda berupa bungkusan berisi daun kering dan beberapa lembar kertas untuk menggulung rokok yang kugenggam dengan erat. Benda-benda ini adalah benda-benda yang tidak seharusnya aku bawa karena aku bisa mendapat masalah karenanya. Namun aku tak punya banyak pilihan. Aku membutuhkan benda-benda ini. Aku sangat membutuhkannya.

Aku melihat sekelilingku dan menyadari bahwa jalan sempit ini akan segera dilalui oleh orang-orang yang mencari jalan pintas ke stasiun kereta. Aku segera menyimpannya dalam tasku agar tidak terlihat orang lain dan berjalan menuju apartemen kecilku di sudut kota. Ya aku baru saja akan pulang disaat orang lain sibuk mengejar transportasi umum untuk pergi bekerja atau ke sekolah. Kenapa? Karena aku baru saja pulang dari tempat kerjaku. Tempat kerjaku yang merupakan klub malam yang memperkerjakanku sebagai pelayan sekaligus pemain piano. Pekerjaan yang berat namun cukup untuk menyokong hidup kami.

Oh maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Siwon, Choi Siwon. Aku tinggal berdua saja dengan ayahku. Sekolah? Aku mana bisa bersekolah lagi. Semua waktuku habis untuk merawat ayahku dan menghidupi kami berdua. Ibuku? Sudah mati. Saudara kandung? No comment. Kekasih? Pertanyaan bodoh. Tak usah aku jawab. Tak punya pertanyaan lagi? Ya sudah. Aku pun sudah sampai. Sekarang pergilah.

End Siwon P.O.V

Choi Seungwoo sedang merebahkan tubuhnya saat dia mendengar pintu depan apartemen yang dia tinggali bersama putranya terbuka. Dia mencoba duduk namun rasa sakit disekitar perut dan tulang belakangnya sangat menyiksanya. Dia menjadi terbatuk batuk dan susah bernafas.

“Uhuk..uhuk.. hah..hah..hh..”

“Appa, aku pula.. Appa!!” Siwon yang melihat ayahnya memegang perut dan dadanya langsung berhambur kesamping beliau. Siwon segera mengambil segelas air yang memang selalu dia sediakan diatas meja nakas jika ayahnya seperti sekarang ini.

“Minum dulu appa.” Seungwoo segera meneguk air putih tersebut dan menarik dalam-dalam nafasnya. Sepertinya hal tersebut berhasil karena dia sudah lebih tenang dan batuknya mereda. Siwon menepuk-nepuk punggung ayahnya dengan lembut sampai ayahnya benar-benar terlihat membaik.

“Mengapa appa bangun. Appa masih belum sanggup.”

“Appa ingin menyambutmu, Siwon. Kau baru saja pulang bukan?! Pasti kau lelah.” Siwon hanya diam menanggapi perkataan ayahnya tersebut. Sedangkan Seungwoo yang melihat putranya itu terdiam hanya memberikan senyuman kecil dan mengacak-acak rambut Siwon.

“Appa memang tidak bisa lagi bekerja membantumu, tapi paling tidak appa ingin menyambutmu. Apa appa salah?” Siwon menggeleng kepalanya perlahan. Dia lalu menatap ayahnya dan memaksakan senyumnya yang memperlihatkan kepada ayahnya dua lesung pipit di pipinya.

“Tidak salah appa. Namun appa masih sakit.” Sahut Siwon pelan agar sang ayah tidak merasa tidak enak hati atau tersinggung. Siwon sangat menghormati dan menyayangi ayahnya ini. Teruatama sejak keadaan beliau yang seperti ini. Seungwoo membalas senyum putranya itu dan mengangguk-angguk kepalanya pelan.

“Ya sudah. Mian ne. Appa akan lebih berhati-hati lagi.” Siwon sekarang bisa tersenyum lega mendengar ayahnya mau untuk lebih berhati-hati lagi. Tiba-tiba Siwon ingat bahwa dia sudah membawa obat untuk ayahnya itu. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur ayahnya dan mengabil obat yang ada didalam tasnya.

“Oh iya appa, aku sudah bawakan obat yang biasa. Appa pasti akan merasa lebih tenang dengan obat ini.” Ucap Siwon sambil menyerahkan obat yang sudah Siwon olah agar bisa digunakan oleh ayahnya. Seungwoo melihat ketangan Siwon dan menghela nafasnya.

“Siwon, sudah appa bilang. Obat itu berbahaya bagimu. Kau bisa terkena masalah karena membelinya.” Ingat Seungwoo akan bahaya dari obat terlarang tersebut. Namun Siwon hanya membalas ayahnya dengan senyuman kecil dan terus menyodorkan obat itu kepada Seungwoo.

“Tenang saja appa. Tidak ada yang tahu. Aku mendapatkannya di tempat kerjaku. Nah sekarang appa harus menghisapnya.”

“Siwon, obat itu hanya akan membuat appa melupakan rasa sakit sementara saja. Lebih baik kau simpan uang untuk membeli obat itu agar kau bisa kuliah.” Saran Seungwoo dan seketika itu raut wajah Siwon mengeras entah karena marah, galau, atau kecewa. Namun Seungwoo tahu jika putranya sudah seperti itu, dia hanya bisa menyerah pada kemauan Siwon.

“Dan membiarkan appa mati begitu?! Sudahlah appa, percaya padaku. Aku masih sanggup merawat appa. Lagipula, aku juga sudah menyisihkan uangku untuk appa berobat nanti. Kata dokter Cho, jika aku sanggup mengumpulkan uang sesuai dengan permintaan rumah sakit, maka appa bisa mendapatkan perawatan. Dokter Cho itu baik sekali. Dia yang mengusahakan agar aku hanya membayar setengahnya saja.” Siwon mencoba mengalihkan pembicaraan agar ayahnya tidak mempersoalkan lagi tentang obat di tangannya ini. Walau sepertinya Seungwoo tidak teralihkan, namun dia mengikuti alur pembicaraan Siwon dan mengambil obat tersebut.

“Iya Siwon. Beliau memang baik sekali. Beruntungnya appa punya teman seperti dokter Cho.” Kedua ayah dan anak itu saling berpandangan dan tertawa bersama. Walau hidup mereka jauh dari kata mapan, namun meraka bahagia karena masih saling memiliki satu sama lain. Ketika Seungwoo baru akan menghisap obat tersebut, dia tidak sengaja melihat jam dinding yang ada dikamarnya.

“Siwon, bukankah kau ada pekerjaan tambahan dua jam lagi?” Siwon melirik jam dinding yang tadi dilihat oleh Seungwoo dan melihat jarum jam itu menunjukkan pukul 6, Siwon langsung berlari kearah kamar mandi.

“Argh! Sial! Aku bisa terlambat!” Seungwoo yang melihat Siwon terburu-buru seperti itu hanya bisa mendengarkan Siwon memaki lalu mengelengkan kepalanya. Seungwoo merasa sangat tidak berguna karena membuat anaknya itu bekerja sekeras mungkin demi dirinya. Seharusnya Siwon seperti pemuda lainnya, kuliah, bersenang-senang dengan teman atau kekasihnya, kerja part time untuk membeli mobil baru atau apa pun yang dia mau. Bukan mengurusi orang tua sakit-sakitan sepertinya dan bekerja siang dan malam demi bisa bertahan hidup. Seungwoo merasa bersalah karena diumurnya yang masih 20 tahun, Siwon sudah menanggung hidup berat seperti sekarang ini semenjak dia tidak sanggup lagi bekerja karena apa yang sedang dideritanya kini.

“Appa,aku pergi dulu. Aku tadi sudah meletakkan makan pagi dan makan siang appa di kulkas. Dipanaskan saja ya appa. Kalau appa tidak kuat berjalan, panggil saja Kangin hyung. Hari ini dia libur, jadi dia ada seharian diapartemennya. Aku juga sudah menitipkan segala keperluan appa padanya.” Ucapan Siwon menyadarkan Seungwoo dari lamunannya. Dia menatap Siwon yang buru-buru memakai sepatunya.

“Siwon, apa tidak sebaiknya kau batalkan pekerjaan tambahan ini? Kau baru saja pulang, nak. Kau belum tidur sama sekali.” Siwon behenti sebentar dan memandang ayahnya dengan senyuman. Sambil mengancungkan ibu jarinya, Siwon berpamitan pada ayahnya.

“Tidak usah khawatir appa. Aku baik-baik saja. Aku harus pergi sekarang. Aku hampir terlambat. Aku berangkat. Aku sayang appa.”

“Hati-hati Siwon.” Entah Siwon mendengar atau tidak karena dirinya sudah menghilang dibalik pintu. Seungwoo kembali masuk dalam lamunannya. Sejenak dia melirik kearah meja nakasnya dan membuka laci yang ada dimeja tersebut. Seungwoo mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah usang. Dia memandang foto tersebut dengan kesedihan yang mendalam.

“Seharusnya aku bersikeras agar kau mau membawa Siwon juga Jihyun. Mengapa kau begitu tega meninggalkan darah dagingmu sendiri? Anak itu sekarang menderita bersamaku.” Seungwoo menatap foto itu sekali lagi dan mengusapnya perlahan. Tanpa dia sadari setitik demi setitik bulir airmata telah jatuh diatas foto tersebut.

“Maafkan appa Siwon. Appa tidak sanggup melihat dirimu yang selalu memikirkan appa. Maafkan appa.” Setelah mengucapkan hal tersebut, Seungwoo berusaha beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah lemari pakaiannya. Dia membereskan beberapa pakaiannya dan mengambil sedikit uang dari dalam kotak uang yang biasa ditinggalkan oleh Siwon agar bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-harinya. Kemudian Seungwoo mengambil secarik kertas dan menuliskan pesan untuk Siwon. Setelah itu, Seungwoo berjalan perlahan menuju pintu keluar dan pergi meninggalkan apartemen tersebut.

Kediaman Keluarga Jung

Siwon berlari tergesa-gesa menuju rumah mewah tersebut. Dia berhenti didepan gerbang otomatis yang berdiri gagah dihadapannya. Siwon mengambil nafasnya terlebih dahulu sebelum dia menekan tombol interphone yang terpasang disamping gerbang tersebut.

“Kediaman Keluarga Jung. Ada yang bisa saya bantu?”

“Em, saya Choi Siwon. Supir pengganti sementara yang dikirim oleh tuan Lee.”

“Oh iya. Choi Siwon. Anda tepat waktu. Tuan muda sudah hampir siap. Masuk saja dari pintu belakang. Anda putari rumah ini dari sebelah kiri.”

“Baik. Terima kasih.”

Siwon pun memutari rumah itu dan menemukan sebuah gerbang yang lebih kecil dari gerbang sebelumnya. Disana ada seorang penjaga yang setelah Siwon memperkenalkan dirinya, membukakan gerbang tersebut agar Siwon bisa masuk. Siwon berjalan dengan tergesa-gesa kedalam rumah. Didalam rumah tersebut, dia menemukan seorang pria berpakaian ala butler menantinya. Siwon membungkuk hormat pada pria tersebut dan dibalas dengan perilaku yang sama darinya.

“Selamat pagi Choi Siwon. Saya Shin Donghee, kepala pelayan dirumah ini. Anda dikirim oleh tuan Lee untuk menggantikan supir tuan muda yang sedang sakit. Saya senang karena anda tepat waktu walaupun saya tidak menyangka bahwa anda semuda ini.” Shindong memperhatikan Siwon dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menilai apakah Siwon bisa bekerja dengan baik diusianya yang masih muda.

“Selamat pagi tuan Shin. Saya memang masih muda, tapi saya akan mengerjakan tugas saya dengan baik.” Ujar Siwon tegas tanpa sedikitpun merasa terintimidasi dengan Shindong. Shindong terkesan dengan perilaku Siwon, namun dia tetap harus menyakini bahwa Siwon orang yang tepat untuk tuan muda.

“Baiklah. Selama 2 bulan ini, saya mohon agar anda bisa bekerja dengan baik. Tugas anda hanya mengantar kemanapun tuan muda inginkan. Namun walau begitu, tuan muda memiliki jadwal yang harus beliau hadiri. Anda pastikan tuan muda mengingat jadwal tersebut.” Ingat Shindong sambil memberikan Siwon secarik kertas berisi jadwal tuan muda Jung. Siwon menerima kertas itu dan mengangguk mengerti. Kemudian, Shindong menunjukkan ruang pelayan agar Siwon dapat menganti bajunya. Dia pun pergi keruang pelayan tersebut dan bersiap-siap untuk hari pertamanya sebagai supir.

Halaman depan Kediaman Keluarga Jung

Siwon menunggu dengan sabar tuan muda Jung untuk keluar dari rumah. Sambil menunggu, Siwon sesekali memeriksa ponselnya, memeriksa jika ayahnya atau Kangin menghubunginya. Tidak berselang lima menit dari saat Siwon memeriksa ponselnya, seorang pemuda berumur sekitar 17-18 tahun keluar dari rumah besar itu ditemani seorang wanita yang meskipun sudah cukup berumur masih menunjukkan kecantikannya dan seorang pria yang kelihatan bijaksana dan berwibawa. Siwon masih belum memperhatikan ketiga orang tersebut karena masih sibuk dengan ponselnya, sampai dia mendengar suara yang sangat dikenalnya memanggil nama pemuda tersebut.

“Yunnie. Hari ini, hari pertamamu sebagai mahasiswa. Kau baik-baiklah disana.” Siwon yang mendengar suara wanita tersebut mengangkat wajahnya dari ponsel yang dipegangnya. Dia menatap lurus kearah wanita yang sedang memeluk pemuda tadi walaupun pemuda tersebut kelihatan risih oleh perilaku ibunya tersebut. Siwon terlihat terkejut dan tidak percaya dengan penglihatannya sekarang. Dia tidak percaya bisa bertemu lagi dengan wanita tersebut. Wanita yang dia anggap sudah mati.

“Ah, umma. Aku bukan anak SD lagi. Berhentilah bersikap seperti itu.” Protes pemuda yang dipanggil Yunnie oleh ibunya itu. Dia pura-pura kesal karena bisa terlihat bahwa pemuda tersebut masih bisa memberikan senyuman manisnya kepada wanita cantik itu. Sedangkan Siwon yang melihatnya hanya bisa terdiam. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa.

“Ah tapi kau ini anak umma satu-satunya. Mana bisa umma bersikap biasa saja jika kau akan semakin lama semakin tidak ada disamping umma.” Ketika Siwon mendengar hal tersebut, ada sesuatu yang terasa aneh dihati Siwon.

“Sudahlah yeobo. Biarkan Yunho. Dia sudah hampir terlambat untuk ke kampus. Lihat supirnya saja sudah siap.” Ketika sang lelaki yang merupakan suami dari wanita tersebut mengingatkan bahwa supir pemuda yang bernama asli Yunho itu sudah siap, barulah wanita tersebut memalingkan wajahnya. Dia melihat Siwon dan merasa mengenal rupa pemuda yang menjadi supir anaknya itu.

“Lho? Hwang ahjussi kemana?” Yunho bertanya pada sang ayah yang berdiri disampingnya.

“Kamu bagaimana?! Hwang ahjussi itu sedang sakit. Pemuda ini akan menggantikannya selama 2 bulan.” Jelas tuan Jung singkat. Yunho hanya mengangguk dan berjalan kearah Siwon. Siwon membungkuk hormat pada Yunho yang dibalas hanya dengan senyuman oleh Yunho.

“Hai, aku Jung Yunho. Siapa namamu?” Sebelum Siwon menjawab pertanyaan Yunho, dia melihat terlebih dahulu kearah wanita tersebut. Kemudian Siwon mengalihkan lagi perhatiannya pada Yunho dan memberikan senyum bisnisnya kepada Yunho.

“Perkenalkan tuan muda, nama saya Choi Siwon.” Mendengar nama Siwon, wanita tersebut membulatkan mata indahnya dan menatap tidak percaya kearah Siwon. Dia terlihat sedikit ketakutan dan cemas ketika melihat Siwon. Sesekali dia melihat kearah suaminya lalu kearah Siwon lagi.

“Jangan panggil aku tuan muda. Panggil Yunho saja. Oh iya. Umurmu berapa?”

“20 tahun tuan muda.”

“Sudah kubilang panggil aku Yunho saja. Ck.. baiklah. Kalau begitu, aku panggil Siwon-hyung saja. Ayo hyung. Aku bisa terlambat jika tidak berangkat sekarang.”

“Baik tuan muda, oh maaf maksud saya Yunho-ssi. Silahkan.”

“Tanpa ssi hyung.” Siwon tersenyum mendengar Yunho yang masih keberatan dengan nama panggilan darinya. Siwon kemudian membukakan pintu penumpang dan ketika Yunho sudah masuk, Siwon segera berjalan ke kursi pengemudi. Dia masih sempat melihat kearah wanita itu lagi sebelum akhirnya menjalankan mobil dan pergi dari rumah tersebut.

Jihyun P.O.V

Pemuda itu.. Tak salah lagi dia adalah Siwon kecilku dulu. Ah, dia telah tumbuh besar dan gagah seperti itu. Dia juga tampan dan tinggi. Dia seperti Seungwoo, ayahnya. Aku sudah tidak pernah melihatnya lagi sejak aku meninggalkan Seungwoo tiga belas tahun lalu. Aku tidak tahu mengapa dia bisa menjadi supir Yunho tapi yang aku tahu bahwa Siwon tidak seharusnya berada disini. Bukan berarti aku tidak merindukannya, bukan berarti aku tidak menyayanginya lagi, tapi aku sudah memiliki hidupku sendiri. Hidup yang bahagia. Aku takut jika Siwon menceritakan masa laluku pada suamiku sekarang, Hwangsoo akan meninggalkanku. Walaupun Siwon tampaknya tidak menunjukkan gelagat bahwa dia mengenal diriku dan juga Yunho tapi tetap saja aku cemas jika memikirkan dirinya berada disini.

“Yeobo.” Suara lembut nan tegas milik Hwangsoo menyadarkanku dari segala pikiranku. Aku menoleh kearahnya dan tersenyum padanya. Dia membalas senyumanku sambil memeluk pinggangku.

“Ada apa? Kenapa kau melamun?”

“Ah, tidak apa-apa. Hanya sedikit heran kenapa kau memperkerjakan pemuda itu sebagai supir Yunho? Bukankah dia masih terlalu muda. Bagaimana dengan kuliahnya? Apakah dia tidak akan kesulitan dengan jadwalnya?!” tanyaku mengalihkan perhatian Hwangsoo dari pikiranku sekaligus menyelidiki tentang keberadaan Siwon disini. Aku memang heran kenapa Siwon mau menerima pekerjaan yang menghabiskan banyak waktu seperti menjadi supir pribadi Yunho.

“Ah, iya, aku lupa bilang padamu. Siwon itu tidak kuliah yeobo. Yah sepertinya dia tidak sanggup untuk membiayai kuliahnya dengan ayahnya yang tidak bekerja karena sakit sehingga dia yang menggantikan posisi sebagai tulang punggung keluarga.”

“Ayahnya sakit?” Ketika mendengar Siwon tidak melanjutkan studinya dan Seungwoo yang sakit membuatku merasa bersalah. Aku menunggu jawaban dari Hwangsoo dengan sedikit berharap bahwa penyakit Seungwoo tidak terlalu parah.

“Itu yang aku dengar dari tuan Lee. Tuan Lee bilang bahwa ayah Siwon menderita kanker perut yang sudah menjalar ke beberapa bagian tubuhnya. Seharusnya dia sudah dirawat namun terkendala biaya. Tuan Lee merekomendasikan Siwon karena Siwon bekerja dengan baik di perusahaannya sebagai kurir. Dia tak memberikan rekomendasi lainnya hanya Siwon ketika aku menanyakan padanya adakah orang yang bisa menggantikan Hwang-ssi sebagai supir pribadi Yunho.” jawab Hwangsoo. Aku berpikir sejenak. Seungwoo menderita kanker? Sudah berapa lama? Dan selama ini Siwon bekerja dengan tuan Lee, rekanan bisnis Hwangsoo, tanpa aku ketahui? Apakah kehidupan mereka memburuk setelah aku tinggalkan? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dikepalaku. Aku menjadi penasaran dengan keadaan mereka berdua, namun aku perlu tahu apakah ada maksud lain dengan keberadaan Siwon disini. Aku masih cemas apakah Siwon disini untuk menceritakan masa laluku pada Hwangsoo.

“Tapi yeobo, jika Siwon bekerja di perusahaan tuan Lee, kenapa beliau bisa merekomendasikan dia untuk bekerja dengan kita? Apakah tuan Lee tidak membutuhkan tenaganya?” tanyaku hati-hati. Aku tidak mau Hwangsoo curiga dengan pertanyaanku seputar Siwon. Aku tak mau dia menyadari bahwa rasa ingin tahuku karena aku berusaha menyelidiki keberadaan Siwon dirumah kami.

“Aku juga sempat bertanya seperti itu, namun tampaknya tuan Lee sangat menyukai anak itu. Mungkin suka mungkin juga kasihan. Tuan Lee tetap akan memperkerjakan Siwon di perusahaannya karena memang kita hanya membutuhkan Siwon selama dua bulan. Siwon masih akan menjadi kurir, namun lebih banyak dia kerjakan di sore hari menjelang malam sebelum dia bekerja lagi.”

“Bekerja lagi? Apa maksudmu yeobo? Apa dia tidak istirahat?” Siwon bekerja ditempat lain selain rumah kami dan tuan Lee? Anak itu bekerja berapa pekerjaan? Apakah Seungwoo benar-benar tidak bisa bekerja lagi. Sekali lagi berbagai pertanyaan muncul dipikiranku. Namun satu hal yang pasti, Siwon bekerja terlalu keras untuk bisa bertahan hidup. Dan melihat kehidupanku dan Yuhno yang lebih dari berkecukupan membuatku ingin mengambil anak itu dan merawatnya lagi. Tetapi aku tahu benar bahwa hal itu tidak mungkin. Itu sama saja membuka aibku didepan Hwangsoo. Walaupun Hwangsoo baik tapi aku tidak tahu apa reaksinya jika tahu aku memiliki anak yang kutinggalkan sejak kecil.

“Aku juga tidak paham yeobo, hanya saja tuan Lee sempat bilang bahwa Siwon bekerja dari pagi sampai malam demi mengumpulkan uang agar ayahnya bisa mendapat perawatan dan karena gaji yang kutawarkan cukup besar, tuan Lee dengan tidak segan langsung menunjuk anak itu.” Aku sedikit terkejut dengan suara Hwangsoo yang membuyarkan lamunanku akan Siwon. Aku menatapnya lagi. Sesaat aku terdiam dan tiba-tiba aku kepikiran satu hal dan hal itu terasa mengganjal, maka aku segera tanyakan pada Hwangsoo.

“Ada yang tidak aku mengerti yeobo, jika tuan Lee menyukai anak itu kenapa dia tidak langsung membantunya. Tuan Lee itu termasuk orang yang berada, pasti tidak sulit baginya untuk sekedar membantu pengobatan seseorang.” Ya. Jika tuan Lee benar-benar ingin membantu Siwon kenapa dia tidak menanggung biaya pengobatan Seungwoo. Aku rasa hal itu tidak sulit bagi tuan Lee yang juga memiliki bisnis yang sama besarnya dengan Hwangsoo. Mengapa dia malah susah-susah mencarikan Siwon pekerjaan tambahan seperti ini. Dengan pemikiran seperti itu aku semakin khawatir jika ternyata benar ada maksud lain dengan kedatangan Siwon disini, bekerja sebagai supir pribadi yunho.

“Dia sudah pernah menawarkan bantuan itu, namun ditolak secara halus oleh Siwon. Kata tuan Lee, Siwon tidak ingin merepotkan siapapun karena dia masih sanggup bekerja.” Ah, begitu rupanya. Siwon memang mirip sekali dengan Seungwoo. Sampai-sampai sifat idealis Seungwoo juga menurun padanya.

“Kenapa dia bodoh sekali? Jika memang perlu bantuan seharusnya dia terima saja. Dia idealis sekali.”

“Hahaha… Siwon bukannya menolak bantuan yeobo, namun dia lebih suka diberikan kesempatan untuk bekerja daripada diberikan bantuan secara langsung. Aku rasa itu yang membuat tuan Lee sangat menyukainya. Dia tidak menutupi bahwa dia membutuhkan bantuan namun dia tidak ingin hanya sekedar menerima bantuan. Dia ingin bekerja keras untuk mendapatkannya. Aku rasa sikap seperti itu yang dibutuhkan oleh pemuda jaman sekarang. Aku tidak menyangkal aku sangat terkesan dengan apa yang dikatakan oleh tuan Lee tentang Siwon, dan aku akan membuktikannya. Jika benar..” Hwangsoo menggantungkan kalimatnya. Aku melihat ada binar kesenangan di matanya. Dia seperti telah menemukan sesuatu yang dapat membuat dirinya senang. Aku merasa curiga dengan tingkah laku Hwangsoo. Jangan katakan bahwa dia mempunyai rencana untuk Siwon. Tidak, itu tidak mungkin. Bagaimana bisa, dia baru mulai bekerja disini. Tapi aku perlu meyakinkan diriku sendiri.

“Jika benar? Kau ada rencana untuknya yeobo.” Hwangsoo hanya tersenyum kemudian berjalan kearah mobilnya yang memang sudah menunggu dirinya. Namun sebelum dia pergi, dia memberikan kecupan ringan dibibirku yang kubalas dengan kecupan dipipinya.

“Kita lihat saja nanti. Baiklah aku juga harus berangkat kerja. Sampai ketemu nanti saat makan malam yeobo.”

“Hati-hati yeobo.” Aku melepas kepergian Hwangsoo dengan lambaian tanganku. Setelah dia pergi, aku masuk kedalam rumah menuju kamar tidurku. Aku mendudukkan diriku di pinggir ranjang dan membuka laci meja nakasku dan mengambil sebuah foto lama yang sudah usang. Aku menatap foto itu dan menangis menyadari betapa kejamnya aku kala itu. Tanpa mau mendengar apa kata Seungwoo aku meninggalkan mereka berdua disaat Seungwoo benar-benar membutuhkanku. Dan ketika aku mengetahui Seungwoo sedang sakit seperti sekarang dan keadaan Siwon yang harus banting tulang membiayai semua kehidupan mereka berdua, hatiku serasa ditusuk oleh belati panjang. Aku ibu yang buruk. Kenapa waktu itu aku tidak mau membawa Siwon bersamaku. Ah tidak, kenapa waktu itu aku justru meninggalkan Seungwoo saat dia tertimpa masalah. Kenapa aku lebih memilih kekayaan dibandingkan orang-orang yang aku cintai. Masih terbayang jelas raut wajah kekecewaan dan kepedihan dari Seungwoo dan Siwon saat aku memutuskan untuk bercerai dengan Seungwoo dan meninggalkan mereka berdua membawa serta hanya Yunho.

Flashback

Aku membereskan semua barang-barangku dan barang-barang Yunho dalam waktu yang cepat. Aku hanya membawa secukupnya saja karena nantinya aku bisa membeli lagi keperluanku saat aku sampai di Kanada menyusul kedua orangtuaku yang sekarang menetap disana. Aku berusaha untuk bersikap acuh dengan Seungwoo yang sejak tadi terus memperhatikan aku dari pintu kamar tidur kami.

“Jihyun…” panggilnya lirih. Aku menghentikan sejenak kegiatanku memasukkan pakaianku dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Aku memasang ekspresi datar padanya. Aku tidak mau dia tahu bahwa hatiku sebenarnya sakit untuk meninggalkannya seperti ini.

“Ada apa Seungwoo? Aku tidak ada waktu lagi. Kami bisa ketinggalan pesawat jika kau terus menggangguku seperti ini.” Sahutku sambil kembali mengemasi semua barang yang akan aku bawa kedalam koper. Seungwoo tidak menjawabku, dia hanya diam terpaku didepan pintu. Ketika semua sudah beres, aku langsung menarik dua koper, satu milikku dan yang satu lagi milik Yunho, keluar dari kamar. Aku berjalan cepat ke ruang tamu diikuti Seungwoo dibelakangku, masih dalam kebisuannya.

Sesampainya di ruang tamu, aku menemukan Siwon yang sedang merangkul pundak Yunho dan Yunho yang memeluk pinggang Siwon. Aku menatap keduanya terlebih lagi kepada Siwon yang sebentar lagi harus aku tinggalkan. Aku menatap Siwon dengan mata yang berkaca-kaca. Putra sulungku yang baik. Putra sulungku yang selalu patuh pada kami orangtuanya. Putra sulungku yang harus aku tinggalkan.

Aku meletakkan koper-koper itu sebentar untuk menarik Siwon dan memeluknya erat, namun Siwon tidak membalas pelukanku. Tanggannya tetap berada disamping tubuhnya. Aku melepaskan pelukankku setelah sadar Siwon tidak membalasku. Aku menatap Siwon dan menemukan wajah anak itu tanpa ekspresi sama sekali. Aku menurunkan tubuhku, menyesuaikan dengan tinggi badannya.

“Apa nyonya sudah selesai berkemas?” Aku tersentak mendengar Siwon berbicara seperti itu padaku. Kenapa dia memanggilku nyonya? Kenapa anak ini seperti menganggapku orang lain?

“Siwon..” panggilku lirih mencoba mencari jawaban atas keanehannya ini. Namun Siwon hanya terus memandangku seakan-akan aku ini bukan ibunya. Siwon justru berjalan menjauhiku dan mengambil kedua koper yang ada dibelakangku dan berusaha menariknya, namun dia hanya sanggup membawa koper Yunho yang lebih kecil.

“Jika sudah, mari saya antar ke pintu depan.” Sahutnya tenang. Terlalu tenang. Apakah ini yang akan dikatakan oleh anak berusia tujuh tahun kepada ibunya yang akan pergi? Apakah Siwon mencoba bersikap tegar atau justru sebaliknya, dia terlalu marah kepadaku sehingga bersikap seperti ini.

“Siwon, kenapa kau beg..” Aku mencoba sekali lagi mencari jawaban dari sikap anehnya ini, tapi belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Siwon sudah memotongnya terlebih dahulu.

“Nyonya tidak perlu khawatir terhadap saya. Saya dan appa saya akan baik-baik saja. Hanya satu yang saya minta dari nyonya setelah nyonya pergi dari rumah ini. Tolong jaga Yunho baik-baik. Dia cengeng nyonya, jadi nyonya harus selalu mengajarinya agar dia bisa menjadi laki-laki yang kuat.” Apa ini? Siwon kenapa kau begini nak? Aku berbalik melihat kearah seungwoo yang sepertinya juga terkejut dengan sikap Siwon. Seungwoo yang dari tadi hanya memperhatikan dari jauh, beranjak dari tempatnya menuju kearah kami bertiga.

“Huung..” Aku tersadar bahwa masih ada Yunho disana dan berbalik kembali menatap Yunho yang melihat antara aku dan Siwon dengan pandangan bingung. Siwon yang juga sadar akan keberadaan adiknya, memusatkan perhatiannya pada Yunho. Siwon melepas koper Yunho sesaat dan memegang kedua pundak Yunho sambil menundukkan dirinya agar bisa menatap langsung ke mata Yunho.

“Yunnie, dengarkan kata hyung. Ibumu yang akan menjagamu mulai dari sekarang. Hyung sudah tidak bisa lagi menjagamu, jadi kau harus mendengarkan kata-katanya dan jangan membuatnya sedih. Mengerti?!” Siwon menasehati Yunho yang hanya bisa tersenyum kecil dan mengangguk patuh. Anak itu memang lebih menuruti Siwon sebagai kakaknya daripada aku dan Seungwoo sebagai orangtuanya.

“Iya huung, Yunnie akan dengal kata-kata umma.” Siwon tersenyum mendengar jawaban Yunho dan mengacak rambut Yunho sayang.

“Anak baik. Hyung sayang Yunnie.”

“Yunnie juga cayang huung.” Kemudian Siwon menggenggam tangan Yunho erat sambil membawa kembali kopernya dan bermaksud mengajak Yunho keluar dari rumah menuju pintu depan, tapi sebelum dia dapat pergi lebih jauh, aku menghentikannya.

“Siwon, umma mohon jangan seperti ini. Umma sayang Siwon, hanya saja umma tidak bisa membawa serta dirimu nak. Harus ada yang menjaga appamu Siwon.” Kataku sedikit memelas. Siwon berhenti sejenak, lalu sedetik kemudian dia berbalik sambil masih memasang senyum dengan dua lesung pipitnya itu. Namun senyum yang dia berikan berbeda dari senyum yang selalu aku dapat darinya. Senyum Siwon sangat terpaksa dan hampa. Aku menatap Siwon dengan pandangan sedih dan tanpa sadar airmataku sudah jatuh melihat dia seperti itu.

“Nyonya kenapa sedih seperti itu? Saya sudah bilang bahwa saya tidak apa-apa. Sudah pasti saya akan menjaga appa saya apalagi umma saya sudah tidak ada.” Hatiku bagai dikoyak pisau tajam mendengar putraku berbicara seperti itu. Apa dia memang sangat marah denganku sampai dia menganggap aku tak ada. Menganggap aku seakan aku sudah mati. Aku berjalan gontai menhampiri Siwon. Aku mencoba menggapainya, namun dia menghindar secara halus.

“Oh, Siwon… Kenapa kau menghukum umma seperti ini..” Aku terus menangis karena Siwon benar-benar tidak mau kusentuh. Aku tahu aku bersalah padanya, tapi aku benar-benar tidak sanggup untuk membawanya. Seungwoo yang melihat semua kejadian tadi, bermaksud membantuku agar Siwon tidak bersikap seperti tadi.

“Siwon, sudahlah nak. Ummamu pasti mempunyai alasan kuat unt…”

“Appa ini bagaimana? Umma sudah tidak ada appa. Umma sudah meninggalkan kita. Masa appa lupa?” Lagi-lagi Siwon memotong ucapan dan kali ini ucapan appanya. Siwon seakan tidak mau mendengar alasan apapun mengenai kepergianku. Dia terus menegaskan bahwa aku sudah tidak ada. Oh Tuhan, apakah ini hukuman buatku?

“Siwon..” Seungwoo dan aku sama-sama memanggilnya lirih. Namun seakan tidak mau tahu lagi, Siwon justru mengarahkan pandangannya pada Yunho yang masih terlihat bingung dengan perilaku kami bertiga. Siwon yang masih menggenggam tangan Yunho semakin mengeratkan genggamannya mencoba mencari kekuatan dari adiknya itu.

“Nah Yunnie. Ayo hyung antar Yunnie ke mobil. Nanti jika Yunnie sudah sampai di Kanada, Yunnie harus jadi anak baik. Jangan nakal..” Siwon terus berbicara dengan Yunho sambil berjalan keluar menuju mobil yang sudah disiapkan oleh keluargaku untuk mengantarkan aku dan Yunho ke bandara.

Setelah Siwon dan Yunho menghilang dibalik pintu depan rumah, Seungwoo langsung berbalik kearahku dan menatapku tajam. Aku sedikit terkejut dengan tatapan Seungwoo karena Seungwoo jarang sekali marah apalagi menatapku setajam ini. Aku tidak sanggup menatap matanya sehingga memilih untuk melihat tanganku yang aku remas untuk mengurangi kegugupanku ditatap seperti itu oleh Seungwoo.

“Kau puas sekarang Jihyun? Kau puas?! Kau sudah mendapatkan keinginanmu. Siwon sudah melupakan dirimu seperti yang kau minta kemarin.” Aku tersentak dengan ucapan Seungwoo dan tanpa sadar aku menengadahkan kepalaku menatap balik Seungwoo.

“Bukan seperti ini Seungwoo. Aku tidak mau Siwon menganggap aku seperti aku sudah mati.” Keluhku padanya. Seungwoo hanya menggelengkan kepalanya.

“Lalu apa yang kau harapkan dengan ucapanmu semalam saat kau bilang bahwa kau hanya akan membawa Yunho. Bahwa kau tidak bisa membawa Siwon dan menyerahkan dia kepadaku. Bahwa kau menginginkan agar Siwon tidak bersedih ketika umma yang paling dia sayangi mengatakan padanya seakan dia anak yang tidak diinginkan. Apa yang kau harapkan? Bahwa dia akan memelukmu sambil menangis meraung-raung minta diajak? Bahwa dia akan berkata bahwa dia akan selalu menyayangimu dan berlaku seperti tidak terjadi apa-apa. Demi Tuhan Jihyun! Siwon masih berumur tujuh tahun. Mengapa kau tega meninggalkan dia disini, denganku yang sudah pasti tidak sanggup mengurusnya karena situasiku sekarang? Mengapa kau tidak bisa membawanya ikut ke Kanada?” Seungwoo meluapkan semua perasaannya padaku. Memang yang dikatakannya memang benar. Entah kenapa, aku memang beranggapan bahwa Siwon akan baik-baik saja dengan kepergianku. Entah pikiran bodoh mana yang membuatku bisa menyimpulkan bahwa Siwon tidak akan terganggu dengan semua masalah ini. Namun aku tidak mau sepenuhnya disalahkan oleh Seungwoo karena aku memiliki alasan kenapa aku tidak bisa membawa Siwon. Dan tanpa sadar, aku berteriak kepada Seungwoo.

“Karena orangtuaku yang menginginkannya!” Setelah aku meneriakkan hal tersebut, Seungwoo semakin membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang sudah aku katakan.

“Apa kau bilang?” Aku menarik nafas panjang sebelum menjelaskan semuanya kepada Seungwoo.

“Orangtuaku menganggap Siwon sebagai anak yang tidak diharapkan Seungwoo. Kau tahu sendiri, dia ada saat kita belum menikah. Siwon dianggap aib bagi keluargaku dan juga pembawa sial, karena aku harus menikah denganmu untuk menutupi skandal kehamilanku saat itu walaupun sebenarnya mereka tidak setuju denganmu karena perbedaan status sosial kita. Selama dua tahun kita harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari keluargaku sampai saat Yunho lahir. Sejak kelahirannya, semua kehidupan kita berubah karena kau menjadi sukses dengan bisnismu dan menjadi orang terpandang. Secara perlahan keluargaku mulai menerima kau dan juga Siwon. Aku berpikir bahwa kita berempat akan terus berbahagia.” Aku terdiam sesaat sebelum memulai lagi penjelasanku dan kali ini aku sedikit berteriak karena aku tak sanggup lagi untuk menyembunyikan apa yang aku rasakan selama ini.

“Tapi kenapa kau bisa begitu ceroboh dengan investasimu kali ini Seungwoo? Kenapa kau begitu percaya dengan rekan kerjamu itu sehingga dia mengambil semua milikmu begitu saja. Kenapa kau kembali membuat perbedaan antara kau dan aku?” Ya, alasan kenapa keluargaku mendesak agar aku pergi dan meninggalkan Seungwoo karena Seungwoo telah bangkrut. Bisa dipastikan kehidupan kami akan sangat sulit karena akan ada banyak masalah dari segi finansial Seungwoo. Aku yang memang terlahir dari keluarga berada juga memikirkan bagaimana dengan masa depanku juga anak-anakku.

Aku yakin aku tidak akan terbiasa dengan kehidupan sulit yang akan aku terima setelah Seungwoo bangkrut seperti sekarang. Kalau dulu saat kami baru menikah, kami masih bisa bergantung pada keluargaku, lain hal dengan sekarang. Dulu mereka mau membantu kami karena mereka tidak mau terjadi skandal tentang bagaimana hidupku yang seperti putri berubah drastis disebabkan sang putri menikahi seorang pekerja kantoran miskin. Sekarang setelah sekian lama, kelaurgaku merasa mendapat kesempatan untuk menjauhkan aku dari Seungwoo.

Jelas-jelas mereka tidak akan membantu lagi karena memang awalnya mereka tidak suka dengan Seungwoo. Segera setelah mereka mendengar berita ini, mereka mendesak agar aku segera menceraikan Seungwoo dan kembali ke Kanada tempat kedua orangtuaku sekarang.

Awalnya aku sempat tidak mau meninggalkan Seungwoo karena jujur, aku mencintai Seungwoo dan kedua putraku. Namun setelah desakan demi desakan, akhirnya aku memutuskan mengikuti kemauan keluargaku. Aku memang merasa tidak sanggup jika aku harus berjuang secara fisik untuk membantu Seungwoo karena aku tidak pernah bekerja seumur hidupku.

Ketika aku menyetujui kemauan keluargaku, aku mengatakan pada mereka bahwa aku akan membawa Siwon dan Yunho. Tetapi, sekali lagi mereka membuat keputusan untukku bahwa aku hanya diperbolehkan membawa Yunho saja. Mereka mengatakan bahwa Siwon akan membawa kesialan bagi keluarga besarku seperti yang dia lakukan pada Seungwoo dan aku.

Mendengar mereka mengatakan bahwa anakku sebagai anak pembawa sial, amarahku sempat memuncak. Aku menghardik mereka mengatakan bahwa mereka salah. Semua musibah yang terjadi pada Seungwoo hanya kesalahan dalam berbisnis. Namun, sekali lagi, hatiku yang lemah membuatku bodoh karena menerima alasan-alasan yang dikemukakan oleh keluargaku tentang nasib buruk yang akan aku alami jika aku membawa serta Siwon.

“Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu sampai kau bicara seperti itu Jihyun?” ucapan Seungwoo menyadarkan aku bahwa aku masih berada bersama Seungwoo. Mendengar dia berkata seakan aku sudah gila karena menyalahkan kecerobohan Seungwoo dalam berbisnis membuatku emosi sehingga aku mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak aku katakan.

“Bukan aku yang hilang akal sehat, tapi kau Seungwoo. Semua hal yang sudah kita bangun harus hancur karena kau tidak hati-hati. Tapi sepertinya benar apa yang dikatakan oleh keluargaku. Apa kau ingin tahu yang dikatakan oleh mereka? Mereka menyalahkan Siwon. Mereka bilang semua kegagalanmu karena Siwon adalah anak pembawa sial. Siwon adalah anak haram yang tidak diinginkan. Siwon adalah an..”

“CUKUP!!” Teriakan penuh amarah dari Seungwoo membuatku menyadari bahwa aku telah mengatakan hal tabu. Aku melihat tatapan Seungwoo yang tertuju padaku penuh dengan kekecewaan, kepedihan, dan kemarahan.

“Seungwoo, aku..”

“Sekali lagi kau bilang anakku pembawa sial dan semacamnya, aku tak segan-segan menggunakan kekerasan padamu.” Aku menarik nafas tak percaya dengan pendengaranku. Seungwoo benar-benar marah kepadaku.

“Seungwoo..” Aku berusaha menenangkannya dengan memanggil namanya lembut, tetapi Seungwoo justru semakin menatapku garang. Aku mundur selangkah karena merasa takut padanya untuk pertama kali dalam hidupku. Seungwoo yang melihat aku ketakutan, menghembuskan nafasnya dengan berat hati dan mengusap pelan wajahnya mencoba menenangkan dirinya sendiri. Lalu Seungwoo memalingkan wajahnya dariku dan berjalan menuju pintu depan. Sebelum itu dia sempat berkata padaku.

“Aku sempat berpikir bahwa aku lemah karena menyetujui perceraian kita Jihyun, namun ternyata itu adalah keputusan yang benar. Lebih baik Siwon bersamaku daripada dia harus bersama keluarga yang hanya memandang status dan kekayaan.” Sekali lagi hatiku bagai ditusuk belati tajam setelah mendengar Seungwoo berkata seperti tadi walau dalam hatiku, aku membenarkan perkataannya. Merasakan aku tidak bereaksi apa-apa, Seungwoo melanjutkan perkataannya.

“Siwon benar Jihyun, ummanya sudah tidak ada. Karena mana ada seorang ibu yang tidak membela darah dagingnya sendiri dihadapan orang lain. Mana ada ibu yang menyetujui bahwa anak yang dilahirkannya dengan susah payah adalah anak pembawa sial.”

“Seungwoo!” Betapa sakit hatiku ketika ucapan tersebut keluar dari mulut suamiku sendiri, ah bukan, mantan suamiku. Tapi dia benar, bagaimanapun alasanku, aku memang ibu yang buruk, ibu yang gagal. Airmata yang sudah sempat berhenti mengalir lagi, menahan kepedihan bahwa aku benar-benar telah melukai dua orang yang sangat menyayangiku. Seungwoo membuka pintu dan membiarkannya terbuka seakan dia rela melepaskan aku untuk pergi. Tidak seperti saat dikamar tadi ketika dia seperti berusaha untuk menahanku.

“Lebih baik kau pergi sekarang Jihyun. Kau bisa ketinggalan pesawat.” Aku sudah tak sanggup lagi berada disini. Aku segera menghapus airmataku dan mengambil tas tangan dan koperku dan berjalan keluar dari rumah itu.

“Jihyun..” Aku menghentikan langkahku ketika mendengar Seungwoo memanggilku dengan nada datar. Aku menatap kearah Seungwoo yang masih belum mau menatap kearahku. Dia ternyata memperhatikan Siwon dan Yunho yang kelihatan menikmati waktu kebersamaan mereka walau ini merupakan yang terakhir.

“Terima kasih karena kau sudah bersedia hidup denganku selama tujuh tahun ini. Walau ternyata kau terpaksa bersamaku karena adanya Siwon, selama tujuh tahun ini aku bahagia bisa bersanding denganmu. Semoga kau mendapatkan seseorang yang sesuai dengan keinginanmu. Semoga kau bahagia Jihyun.” Setelah mengatakan hal tersebut, Seungwoo berjalan kearah Yunho. Dia memeluknya dan menggendongnya sambil membuka pintu mobil dan memasukkan tubuh kecil Yunho kedalam. Seungwoo berjongkok didepan pintu dan membelai pipi Yunho serta rambut Yunho lembut.

“Yunnie, jaga diri baik-baik ya nak. Appa akan selalu mendoakanmu dari sini. Selalu. Appa sayang sekali sama Yunnie.”

“Um. Yunnie juga akan mendoakan appa dali sana. Yunnie juga cayang cekali cama appa.”

“Anak pintar.” Seungwoo kemudian mencium kening Yunho dan berdiri. Dia menatap Siwon dengan pandangan sedih dan galau.

“Siwon ayo masuk. Kita juga harus segera berkemas. Kita harus segera meninggalkan rumah ini.” Aku yang mendengarnya hanya bisa terdiam dan dengan pelan berjalan kearah mobil dan segera masuk kedalam. Memang Seungwoo dan Siwon juga harus segera keluar dari rumah ini, karena rumah ini akan segera disita oleh Bank. Aku yang sudah tidak bisa berlama-lama lagi segera memerintahkan supir untuk segera bersiap-siap.

“Sebentar appa.” Tiba-tiba Siwon mengeluarkan sepasang kalung berbandul bintang. Bintang itu merupakan liontin yang dibelikan oleh Seungwoo saat Siwon berulang tahun ke lima. Awalnya Seungwoo hanya membelikan satu saja untuk Siwon, namun aku dengar dari Seungwoo Siwon meminta satu lagi untuk diberikan ke Yunho saat dia juga berulang tahun yang ke lima, dan Yunho memang baru saja berulang tahun ke lima.

“Yunnie, ini buatmu.” Siwon memberikan satu dari sepasang kalung itu. Yunho segera menerimanya dan melihatnya dengan senang.

“Wow!! Kelen cekali huung. Yunnie cuka!” Siwon mengacak rambut adiknya dan tersenyum manis. Aku melihat senyumnya itu hanya mampu menahan diriku untuk tidak memeluknya dan menahan tangisku.

“Kalung ini sepasang Yunnie. Jadi jika kita bisa bertemu lagi, kita akan saling mengenali. Kau simpan baik-baik ya.” Pinta Siwon sambil sesekali mengusapkan ibu jarinya pada pipi Yunho. Yunho tertawa kecil dan membalas perkataan Siwon.

“Um. Yunnie akan telus memakainya. Yunnie pasti ingat cama huung.” Aku melihat Siwon menangkupkan kepala Yunho ditangannya. Dia menyatukan kening mereka sesaat lalu Siwon mengecup kening Yunho lembut.

“Goodbye Yunho. Be happy.” Setelah mengucapkan kata perpisahannya, Siwon menutup pintu mobil itu dan berjalan kearah Seungwoo yang sejak tadi berdiri memandangi kedua putranya.

“Huung?” Yunho kebingungan karena Siwon mengucapkan selamat tinggal padanya dan bukan sampai jumpa. Dia juga terlihat sedih ketika Siwon menutup pintu mobil dengan tiba-tiba dan berjalan meninggalkan dirinya menuju tempat Seungwoo. Yunho berbalik menatapku memperlihatkan matanya yang sudah berair.

“Ciwon huung?! Umma, kenapa Ciwon huung diam saja? Ciwon huung!” Mendengarnya terus meneriakkan nama Siwon membuatku segera memeluknya dengan erat. Membuatnya untuk tidak melihat kearah Seungwoo dan Siwon.

“Sudah Yunho, sekarang kau sama umma saja ya.”

“Umma, kapan kita akan kembali? Kapan Yunnie akan belsama dengan huung lagi?” pertanyaan Yunho seakan menjadi tamparan bagiku bahwa aku akan memisahkan seorang adik dengan kakaknya. Apalagi hubungan mereka sangat erat. Aku berusaha tidak memperdulikan ucapan polos Yunho dan segera memerintahkan supir agar segera berangkat.

“Jalan pak. Nah, Yunho manis, Yunho sama umma saja.” Ucapku membujuk Yunho agar tidak menanyakan Siwon lagi, namun Yunho semakin bertanya kenapa dia tidak bisa bersama dengan Siwon lagi dan dan terus berontak untuk dilepaskan dari pelukanku. Ketika Yunho bisa melepaskan diri dariku, dia mambalikkan badannya kearah jendela belakang agar bisa melihat Siwon. Dia mulai memukul-mukul jendela belakang mobil, berusaha memanggil Siwon dari dalam mobil yang mulai bergerak pergi dari rumah yang sudah ditiinggalinya selama lima tahun ini. Aku masih bisa melihat Seungwoo dan Siwon yang terus memandang mobil kami.

“Tidak! Kenapa Ciwon huung tidak ikut?! Yunnie mau cama Ciwon huung! Yunnie mau cama Ciwon huung!”

“Yunho! Dengar kata umma. Kita harus pergi sekarang!”

“Tidak mau! Yunnie mau cama Ciwong huung! Ciwong huung! Huung!” Aku melihat Yunho yang terus memukul-mukul jendela belakang mobil sambil terus berteriak memanggil Siwon.

“HUUNG!!!” Teriakan penuh kepedihan dan kesedihan milik Yunho bagaikan merobek hatiku. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana sedihnya Yunho saat itu. Tidak akan pernah lupa.

End Flashback

Masa lalu pahit itu terus membuatku tidak pernah tenang. Meskipun sekarang aku bahagia dengan suamiku Jung Hwangsoo tapi batinku terus menangis jika mengingat Siwon dan terkadang Seungwoo. Hwangsoo, suamiku adalah pria yang baik. Pria yang mau menerimaku saat dia tahu aku sudah mempunyai Yunho. Pria yang sesuai dengan keinginan keluargaku. Pria dari keluarga terpandang dan kaya raya, pria dengan reputasi yang baik, pria dengan segudang prestasi dan berhasil dalam bisnisnya. Namun satu kekurangan Hwangsoo. Dia divonis tidak bisa memberikan keturunan sehingga satu-satunya pewaris semua yang dia miliki adalah Jung Yunho, anak tirinya. Aku berpikir kehidupanku sekarang akan terus seperti ini, walau ada rasa rindu tapi aku harus memendamnya demi Hwangsoo dan juga Yunho. Namun setelah bertemu dengan Siwon dan mengetahui keadaan Seungwoo, aku tidak tahu harus merasakan apa lagi. Disatu sisi aku ingin memeluk Siwon dan mengurusi Seungwoo yang sedang sakit. Tetapi di satu sisi aku tidak mau Hwangsoo mengetahui masa laluku dan mengetahui bahwa aku meninggalkan mantan suami dan anakku karena tidak tahan jika harus jatuh miskin. Dimata Hwangsoo aku merupakan wanita sempurna yang cantik, baik, dan keibuan. Aku takut jika Hwangsoo akan membenci dan meninggalkanku jika dia mengetahui semuanya.

“Siwonnie.. Siwonnie, anak umma.” Aku terus mengulang kata-kata itu dan mengusap wajah tujuh tahun Siwon yang sedang tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya.

“Umma kangen Siwonnie. Kangen sekali.” Aku tak sanggup membendung lagi airmataku dan menangisi kebodohanku sendiri. Menangisi segala kesalahanku pada anak kandungku sendiri. Anak kandungku yang sekarang hidup menderita karenaku. Aku terus menangis sampai aku kelelahan dan tertidur, sesaat melupakan segala masalah yang harus kuhadapi.

End Jihyun P.O.V

TBC

Advertisements