Tags

, , , ,

Someday We'll Know Rev

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Someday We’ll Know 2

Pairing : Wonkyu, Yunjae

Genre : Romance, Angst, Family

Rating : PG

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster belong to @SuciiCho

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, a little mention of drugs used, Several OC, a rather fast plot, OOC, AU

Summary : Where is happiness? Only yourself could answer that.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

Masa lalu pahit itu terus membuatku tidak pernah tenang. Meskipun sekarang aku bahagia dengan suamiku Jung Hwangsoo tapi batinku terus menangis jika mengingat Siwon dan terkadang Seungwoo. Hwangsoo, suamiku adalah pria yang baik. Pria yang mau menerimaku saat dia tahu aku sudah mempunyai Yunho. Pria yang sesuai dengan keinginan keluargaku. Pria dari keluarga terpandang dan kaya raya, pria dengan reputasi yang baik, pria dengan segudang prestasi dan berhasil dalam bisnisnya. Namun satu kekurangan Hwangsoo. Dia divonis tidak bisa memberikan keturunan sehingga satu-satunya pewaris semua yang dia miliki adalah Jung Yunho, anak tirinya. Aku berpikir kehidupanku sekarang akan terus seperti ini, walau ada rasa rindu tapi aku harus memendamnya demi Hwangsoo dan juga Yunho. Namun setelah bertemu dengan Siwon dan mengetahui keadaan Seungwoo, aku tidak tahu harus merasakan apa lagi. Disatu sisi aku ingin memeluk Siwon dan mengurusi Seungwoo yang sedang sakit. Tetapi di satu sisi aku tidak mau Hwangsoo mengetahui masa laluku dan mengetahui bahwa aku meninggalkan mantan suami dan anakku karena tidak tahan jika harus jatuh miskin. Dimata Hwangsoo aku merupakan wanita sempurna yang cantik, baik, dan keibuan. Aku takut jika Hwangsoo akan membenci dan meninggalkanku jika dia mengetahui semuanya.

“Siwonnie.. Siwonnie, anak umma.” Aku terus mengulang kata-kata itu dan mengusap wajah tujuh tahun Siwon yang sedang tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya.

“Umma kangen Siwonnie. Kangen sekali.” Aku tak sanggup membendung lagi airmataku dan menangisi kebodohanku sendiri. Menangisi segala kesalahanku pada anak kandungku sendiri. Anak kandungku yang sekarang hidup menderita karenaku. Aku terus menangis sampai aku kelelahan dan tertidur, sesaat melupakan segala masalah yang harus kuhadapi.

End Jihyun P.O.V

( 。・_・。)(。・_・。 )

Siwon memarkirkan mobil mewah itu dipelataran parkir kampus Dong Bang, kampus Yunho. Begitu mobil tersebut terparkir rapi, Siwon bergegas keluar dan membukakan pintu untuk Yunho. Yunho keluar namun dengan tampang sedikit kesal. Dia menatap Siwon dengan kedua alis yang ditautkankan. Dia tidak terlalu suka diperlakukan seperti tadi.

“Hyung. Kau tidak usah seperti itu. Aku bisa buka pintu sendiri.” Siwon menanggapi keluhan Yunho dengan senyumannya. Yunho menjadi sedikit mereda kekesalannya setelah melihat senyum Siwon. Entah kenapa Yunho merasa ada kedekatan tersendiri dengan Siwon.

“Tapi anda majikan saya tuan muda, jadi say..”

“Aish! Aku sudah bilang panggil aku Yunho. Hanya Yunho tanpa ssi. Kalau hyung salah bicara lagi, aku akan menghukum hyung. Paham?!” Yunho memotong segala alasan yang ingin diutarakan Siwon dan sedikit mengancam Siwon jika dia tidak mau mendengar permintaan Yunho. Dia merasa tidak sepantasnya Siwon berlaku seperti bawahan kepadanya, walau kenyataannya Siwon memang berkerja untuknya saat ini, namun Yunho tidak suka jika Siwon harus merendahkan dirinya seperti ini padahal umur Siwon lebih tua darinya. Siwon, yang terkejut dengan sikap Yunho yang tidak sombong walaupun dia memang mempunyai berbagai alasan untuk bersikap seperti itu, tersenyum lebih lebar. Siwon sudah tahu bahwa Yunho adalah adik kecilnya dulu saat dia melihat ibunya dirumah keluarga Jung tadi. Melihat sikap Yunho sekarang, Siwon merasa bangga dengan Yunho. Yunho tidak besar kepala dengan semua kekayaan yang dimilikinya. Yunho tidak seperti ibu mereka.

“Baiklah tu.. Ah.. Maksud saya, baiklah Yunho.” sahut Siwon menyetujui untuk memanggil Yunho hanya dengan namanya saja. Dalam hati Siwon ingin sekali memanggil Yunho dengan nama kecilnya dulu, Yunnie, namun dia menahannya karena selain Yunho sepertinya tidak mengingat lagi siapa dirinya, Yunho juga merupakan majikannya sekarang.

Yunho sudah memiliki hidup yang baik. Dia tidak kekurangan suatu apapun. Dia sehat dan terlihat menawan dengan wajah kecilnya yang tampan, badannya yang tegap dan tinggi, juga senyumnya yang bagai malaikat. Siwon merasa dia tidak bisa merusak kebahagian Yunho dengan keberadaannya. Biarkanlah Yunho melupakan dirinya beserta ayah mereka Seungwoo. Yunho tidak perlu mengingat sesuatu yang hanya akan membuatnya sedih atau bahkan membuatnya merasa bersalah dan tertekan karena keadaan Siwon dan Seungwoo sekarang. Sekarang Yunho sudah memiliki ayah baru yang Siwon nilai bijaksana dan berwibawa. Yunho pasti bahagia dan jika Yunho bahagia, itu sudah cukup untuk Siwon.

“Oke. Oh iya, hyung. Hyung tidak usah menungguku. Nanti setelah kuliah, aku ada acara dengan teman-teman. Aku akan bilang ke appa mengenai ini sehingga hyung bisa pulang cepat hari ini.” Suara Yunho membangunkan Siwon dari pikirannya. Walaupun dia tidak fokus pada perkataan Yunho, tapi samar-samar dia masih mendengar bahwa Yunho ingin dia untuk pulang sekarang. Siwon ragu untuk mengabulkan permintaan Yunho. Tidak saja karena ini hari pertama dia bekerja, namun dia juga khawatir jika Yunho pergi seperti itu tanpa adanya pengawasan.

“Tapi tua..eh maksud saya Yunho, saya bertugas mengantar anda kemana pun anda mau. Dan bukankah anda harus mengikuti pelajaran tambahan dengan tuan Kim setelah pulang sekolah?” ucap Siwon mencoba mengingatkan Yunho bahwa dia memiliki jadwal lain hari ini setelah kuliahnya selesai.

“Ah hyung. kenapa kau jadi seperti Hwang ahjussi saja sih?! Aku tidak suka pelajaran tambahan itu. Semua tentang bisnis. Mana tertarik aku dengan itu.” Ucapan terakhir Yunho menarik perhatian Siwon. Siwon berpikir apakah Yunho masih menyukai hobi yang dulu dia lakukan saat masih kecil. Tanpa segan, Siwon mencoba mencari tahu apa adiknya itu masih mempunyai cita-cita yang sama.

“Lalu anda tertarik dengan apa?” tanya Siwon yang membuat Yunho menatapnya tidak percaya. Selama ini tidak ada yang pernah menanyakan apa minat Yunho yang sebenarnya. Semua sudah diputuskan karena dia satu-satunya pewaris dari keluarga Jung. Sehingga ketika Siwon bertanya Yunho tertarik dengan apa, dia tidak bisa mempercayai telinganya.

“Eh? Hyung ingin tahu?”

“Jika anda tidak keberatan untuk menceritakan kepada saya.”

“Serius hyung?” Melihat Siwon mengangguk, Yunho semakin tidak percaya. Namun dia tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya saat ada seseorang yang perduli dengan apa yang dia mau. Siwon merupakan orang pertama, karena ibunya sendiri juga tidak pernah menanyakan hal itu. Sekali lagi, seluruh hidup Yunho sudah diputuskan bukan oleh dirinya sendiri melainkan oleh orang lain.

“Baru kali ini ada seseorang yang mau mendengarkan minatku.” Yunho tersenyum senang dan hal itu membuat Siwon juga ikut merasakan kegembiraan Yunho.

“Jadi anda tertarik dengan apa?” tanya Siwon sekali lagi. Kali ini Yunho menjawab Siwon singkat.

“Menari.”

“Menari?”

“Iya hyung, menari. Aku ingin menjadi penari professional dan jika bisa menjadi seorang koreographer tari.” Siwon mengembangkan senyumnya. Ternyata apa yang dipikirkan olehnya benar adanya. Yunho masih memiliki keinginan yang sama saat dia masih kecil. Dulu Siwon selalu menemani Yunho yang berlatih tari mengikuti setiap video musik yang ditampilkan ditelevisi. Siwon saat itu ikut menemaninya karena dia cemas jika adik sematawayangnya itu terjatuh dan terluka karena gerakan tari yang terkadang sulit bagi anak berumur lima tahun. Namun Siwon tahu bahwa Yunho memiliki bakat dibidang seni satu itu. Terbukti dengan mudahnya dia mengikuti setiap gerakan orang dewasa yang menarikan tarian tersulit sekalipun. Siwon ingin sekali membantu Yunho mewujudkan mimpinya itu jika dia sanggup dan jika Yunho juga bersungguh-sungguh.

“Anda serius?” tanya Siwon memastikan. Yunho menjawab dengan anggukan tegas. Namun sedetik kemudian wajah Yunho menjadi murung.

“Hanya saja appa dan umma pasti tidak akan setuju karena aku satu-satunya yang dapat meneruskan bisnis keluarga.” Siwon merasa kasihan pada Yunho karena masalah ini. Dia pasti kebingungan untuk memilih antara impiannya atau mewujudkan keinginan orangtuanya. Yunho yang merasa pembicaraan mereka sudah terlalu dalam memutuskan untuk mengakhirinya. Lagipula Yunho harus segera masuk ke kelas sekarang. Yunho lalu menepuk pundak Siwon pelan.

“Sudahlah hyung. Kita bicara nanti saja. Sekarang aku masuk dulu. Oh, iya hyung. Sebelum hyung pulang tolong hyung antarkan ini untuk pacarku ya. Dia kuliah di kampus ini.” Yunho menyerahkan sebuah bingkisan dan secarik kertas berisikan alamat sebuah kampus.

“Setelah itu hyung langsung pulang saja. Ingat langsung pulang. Biar aku yang bilang ke appa. Kalau sampai aku mendengar dari Shin dong ahjussi Siwon hyung kembali kerumah dan menunggu aku sampai selesai kuliah dan kembali kesini, aku akan marah hyung.” Siwon tertawa kecil mendengar Yunho sekali lagi mencoba mengancamnya. Dia lalu mengangguk menyetujui perkataan Yunho.

“Baiklah Yunho. Terima kasih.” Ujar Siwon pelan. Siwon lalu mengambil bingkisan beserta kertas bertuliskan alamat kampus itu dari tangan Yunho. Siwon menhafalkan alamat kampur tersebut dan setelah Siwon yakin akan tujuannya, dia menyimpan kerta itu didalam saku bajunya lalu meletakkan bingkisan itu didalam mobil.

“Terima kasih? Buat apa hyung? Ah sudahlah. Sampai besok pagi hyung.” Yunho yang merasa aneh dengan ucapan terima kasih hanya mengelengkan kepalanya. Lalu dia segera berlari kearah kelasnya dan meninggalkan Siwon yang menghela nafasnya perlahan. Siwon kemudian kembali masuk ke mobil dan membawa mobil itu ke tujuan yang diminta oleh Yunho. Sambil menyetir, Siwon memikirkan lagi kebaikan hati Yunho membiarkan dia untuk pulang cepat, apalagi disaat Siwon yang memang membutuhkan waktu untuk beristirahat diberikan kelonggaran untuk hari ini. Dia sangat senang melihat Yunho tumbuh dewasa seperti sekarang.

Siwon merasa sangat beruntung dan berterima kasih dengan keputusan Yunho untuk memperbolehkannya pulang karena sekarang Siwon bisa memastikan keadaan ayahnya yang menurutnya semakin memburuk. Siwon ingin sekali segera memasukkan ayahnya ke rumah sakit untuk perawatan, namun mereka berdua harus bersabar sedikit lagi selama dua bulan ini sebelum semua itu terjadi. Karena setelah Siwon menerima gajinya dari hasil bekerja di rumah keluarga Jung, maka tabungan untuk biaya pengobatan ayahnya terkumpul sudah. Siwon tersenyum senang meskipun dia sedih karena harus bertemu lagi dengan Jihyun yang sudah membuangnya. Namun rasa bahagia karena sebentar lagi Siwon bisa membawa Seungwoo kerumah sakit, menutupi kesedihannya. Siwon bersiul dan memacu mobil Yunho lebih cepat agar segera bisa memenuhi permintaan Yunho dan bisa segera kembali ke apartemennya.

Kampus SM – Siwon P.O.V

Aku tiba di kampus SM, kampus yang tertulis dikertas yang diberikan oleh Yunho. Kampus ini sama besarnya dengan kampus Dong Bang tadi. Begitu tiba, aku langsung memarkirkan mobilku dipelataran parkir yang tersedia. Setelah terparkir, aku pun keluar dari mobil itu sambil membawa bingkisan yang diberikan oleh Yunho. Aku melihat bingkisan tersebut dan melihat kartu ucapan untuk seseorang bernama Cho Kyuhyun. Apa dia kekasih Yunho yang dimaksudkan oleh dia tadi? Ah, bukan urusanku. Yang penting sekarang aku harus segera menemukan gadis bernama Cho Kyuhyun ini dan memberikan bingkisan ini agar aku bisa segera pulang. Aku mengedarkan pandanganku kesekitar, mencoba mancari seseorang yang bisa aku minta tolong. Aku melihat seorang gadis berambut pirang panjang, jelas sekali itu dicat, sedang mendengarkan musik dengan head phonenya disalah satu bangku di taman kecil dekat sebuah gedung. Aku langsung menghampiri gadis tersebut, berharap dia tahu siapa Cho Kyuhyun itu. Ketika sampai di depan gadis itu, aku menyapanya pelan sambil menepuk pundak gadis itu lembut.

“Permisi nona. Maaf mengganggu.” Aku melihat bahwa gadis itu kelihatan terganggu dengan panggilan dan tepukanku, namun setelah melihatku, dia hanya menatap wajahku datar lalu melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Entah kenapa aku menjadi salah tingkah dilihat seperti itu oleh gadis secantik dia. Ya, gadis ini cantik sekali. Kulit putihnya terlihat sehat dan bersinar, mata besarnya yang indah, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang seakan meminta setiap pria untuk menciumnya. Ya, pria mana yang tidak akan tertarik dengan kecantikan seperti yang dimiliki gadis ini. Aku juga sedikit tertarik dengannya, namun aku punya urusan yang lebih penting dari mengagumi kecantikan gadis ini. Lagipula, gadis ini terlalu cantik. Dia bukan seleraku, aku lebih suka tipe-tipe yang manis.

“Kau pasti bukan mahasiswa disini. Ada yang bisa aku bantu tuan tampan?” goda gadis itu. Oke, aku yakin dia bukan tipeku. Walau aku tahu sepertinya dia hanya main-main tapi tetap saja aku kurang suka dengan sikapnya baru saja. Aku tersenyum dan menanyakan tentang gadis bernama Cho Kyuhyun. Semoga gadis ini tahu.

“Ya. Saya bukan mahasiswa disini. Saya sedang mencari seseorang bernama Cho Kyuhyun. Dia mahasiswi disini.”

“Cho Kyuhyun?”

“Benar. Apa anda mengenalnya?” Gadis itu diam saja sambil terus menatapku. Aku menjadi salah tingkah karena tatapannya. Aku mulai menggaruk kepalaku sendiri. Dia tertawa kecil karena tingkahku. Saat dia tertawa seperti itu, dia baru terlihat manis sekaligus cantik. Gadis itu lalu berdiri tiba-tiba dan menarik tanganku yang tidak membawa bingkisan. Aku agak canggung dengan tangannya yang memegang tanganku, tapi aku biarkan saja karena ingin tahu maksud gadis ini.

“Aku akan antarkan kau ke baby Kyu. Dia sedang tidak ada kuliah pagi ini. Oh ya, aku belum tahu namamu tampan?” kali ini nada suara gadis ini tidak menggoda seperti tadi. Nada suaranya hanya sekedar bercanda denganku.

“Ah, maaf, nama saya Choi Siwon.” Aku menjawabnya sambil terus berjalan menuju sebuah gedung yang berada deket dengan gedung sebelumnya. Kami berdua masuk kedalam gedung tersebut dan menyusuri lorong yang terdapat beberapa ruang kelas. Ada yang terisi dengan mahasiswa dan mahasiswi yang sedang kuliah, ada juga yang kosong. Kami berhenti disebuah ruangan yang tertutup. Dia melepaskan tanganku dan berbalik menghadapku. Dia tersenyum lagi padaku.

“Choi Siwon. Nama yang sesuai dengan orangnya.” Aku hanya tersenyum menanggapi pujian dari gadis ini.

“Kalau begitu Choi Siwon, namaku Kim Jaejoong. Kau bisa memanggilku apa saja kecuali Jaejoong-ssi. Umurmu berapa Siwonnie?” Aku agak terkejut dengan caranya memanggil namaku dengan akrab seperti itu. Kami baru saja bertemu kurang dari lima menit dan dia sudah berani memanggilku dengan Siwonnie. Tapi sekali lagi, itu bukan urusanku. Jika dia ingin memanggilku seperti itu, itu adalah urusannya. Tujuanku kesini hanya satu. Bingkisan untuk Cho Kyuhyun.

“Umur saya 20 tahun nona Jaejoong.”

And that. I don’t like that call. Panggil aku Jaejoong saja.”

“Baik, Jaejoong.”

Well, kau setahun lebih muda dariku, tapi wajahmu boros Siwonnie. Wajahmu terlihat lebih dewasa dari umurmu.”

“Saya tersanjung jika anda bilang saya dewasa.”

“Apa cara bicaramu selalu seperti ini?”

“Tidak. Hanya saja ayah saya selalu berpesan untuk selalu berlaku sopan pada wanita.” Aku dapat melihat gadis bernama Jaejoong itu memutar bola matanya. Aku tahu terkadang cara bicaraku terdengar gombal oleh sebagian wanita, tapi aku memang menghargai mereka walaupun latar belakang mereka terkadang tidak semanis penampilan mereka. Namun, aku belum bisa memutuskan apakah aku bisa menghargai kembali wanita yang pernah meninggalkan aku dan ayahku. Ah, Siwon! Lupakan soal wanita itu. Sekarang kau disini memliki tugas. Cepat selesaikan agar kau bisa pulang. Aku mengingatkan diriku sendiri atas alasan aku bisa ada disini sekarang.

“Sudahlah. Anyway, di ruangan ini Kyuhyun berada. Kau bisa langsung bertemu dia disini. Aku pergi duluan ya, Siwonnie. Senang berkenalan denganmu. Semoga kita dapat bertemu lagi.” Suara Jaejoong menyadarkan aku kembali. Aku melihat dia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhiku sambil melambaikan tangan kanannya. Walaupun aku tahu dia tidak akan bisa melihat diriku tapi aku tetap membungkuk kearahnya dan mengucapkan terima kasih. Paling tidak dia bisa mendengar ucapan terima kasihku karena dia membalas dengan ucapan sama-sama diiringi dengan tawa kecilnya.

Setelah kepergian Jaejoong, aku kembali menatap pintu yang tertutup ini. Jaejoong pergi meninggalkan aku yang kebingungan. Apa aku langsung membuka pintu ini atau menunggu pintu ini dibuka dari dalam. Tetapi, mengingat aku harus menggunakan waktu yang diberikan Yunho ini seefisien mungkin, maka aku memberanikan diri mengetuk pintu tersebut, menungggu balasan dari dalam. Setelah menunggu sekitar 5 menit, pintu itupun terbuka. Dari balik pintu itu, menyeruak seorang gadis paling manis yang pernah aku lihat.

Gadis itu memiliki rambut hitam selengan yang dibiarkan terurai. Namun dia menghiasi mahkota kepalanya tersebut dengan bando manis yang sederhana. Gadis ini cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita. Kulitnya putih seperti kulit Jaejoong walau sedikit lebih pucat. Pandanganku beralih pada wajahnya yang manis. Pipi tembemnya membuatnya semakin manis dan lucu serta bola mata coklatnya yang jernih tersebut tertutupi oleh bingkai kacamata besar, terkesan seperti kutu buku, tapi buatku kacamata tersebut menambah pesonanya. Hidungnya mancung dan bibirnya yang penuh membuat gadis ini cantik sekaligus manis. Benar-benar tipeku.

“Kau cari siapa?” suaranya membangunkan aku dari kekagumanku akan wajah dan fisiknya. Aku memberikan senyuman terbaikku untuknya, tapi kelihatannya dia tidak peduli sama sekali. Gadis itu justru menatapku dengan sedikit kesal. Aku bingung dengan reaksinya, apa aku melakukan kesalahan. Belum sempat aku bertanya, dia sudah memotongku terlebih dahulu.

“Kalau kau hanya akan berdiri seperti orang bodoh disitu, lebih baik kau pergi saja. Kau menggangguku.” Wow. Senyumku sempat menghilang ketika aku mendengar dia berbicara seketus itu. Ucapannya cukup membuatku terkejut. Gadis ini manis, tapi bicaranya tidak semanis wajahnya. Tetapi aku tidak terlalu peduli dengan perkataannya karena dengan ucapannya tersebut aku jadi menyadari bahwa aku disini bukan untuk mengagumi dia, tapi karena sebuah tugas. Aku kembali tersenyum dan menanyakan tentang Cho Kyuhyun. Mungkin saja gadis ini teman sekelas atau kenalan Cho Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun?” tanya gadis itu. Aku mengangguk berharap dia akan kembali kedalam ruangan dan memanggilkan Cho Kyuhyun. Aku berasumsi jika Cho Kyuhyun ada didalam karena buat apa Jaejoong mengantarku kesini jika dia tidak mengantarku ke tempat Cho Kyuhyun berada. Atau jangan-jangan Jaejoong sedang mengerjaiku.

“Siapa kau? Ada apa mencariku?” tanya gadis tersebut masih dengan suara ketusnya. Segala pikiran tentang Jaejoong yang mengerjaiku pupus sudah karena sekarang didepanku berdiri Cho Kyuhyun yang sedang aku cari. Ternyata ini pacar Yunho. Hm. Seleranya cukup bagus. Aku sedikit kecewa karena gadis ini milik Yunho. Tapi sudahlah, aku memang tidak sepatutnya berpikiran macam-macam. Aku lalu menatap gadis itu dan menyodorkan bingkisan dari Yunho. Dia bingung dengan bingkisan ditanganku dan menatapku dengan penuh tanda tanya.

“Saya Choi Siwon, supir sementara tuan muda Yunho. Beliau meminta saya untuk mengantarkan bingkisan ini untuk nona Cho Kyuhyun. Dan karena saya sudah menemukan anda nona muda, mohon terima bingkisan ini.” Kataku sopan. Bagaimanapun jika gadis ini memang pacar Yunho maka dia adalah termasuk orang-orang yang berada dilingkungan seperti Yunho. Aku tahu bahwa ibunya Yunho tidak akan mengizinkan Yunho bergaul dengan sembarangan orang.

“Jangan panggil aku nona muda. Aku benci dipanggil seperti itu. Panggil aku Kyuhyun saja.”

“Namun saya hanya seoran…”

“Aku tahu siapa kau. Tapi kalau aku bilang aku benci dipanggil seperti itu ya berarti aku benci. Jadi jangan panggil aku seperti itu lagi.” Ucapnya sedikit kesal sambil mengambil bingkisan yang ada ditanganku. Aku memandang datar Cho Kyuhyun ini. Gadis ini kelihatannya suka seenaknya sendiri. Aku tahu persis bagaimana tipe seperti dirinya, Pemberontak, tidak menyukai aturan-aturan ketat dari kalangan atas, menolak setiap fasilitas yang diberikan oleh orangtua mereka, ingin hidup normal seperti teman-teman mereka yang bebas dan sebagainya. Tapi untukku, yang hidup setiap hari dengan kondisi serba terbatas menganggap tuan putri sepertinya hanyalah anak manja yang tidak bisa menghadapi permasalahan yang ada. Apa dia tidak sadar jika dia menginginkan setiap pelayan dan pekerjanya memanggilnya dengan hanya nama, maka mereka akan mendapatkan hukuman jika terdengar oleh orang lain terlebih lagi oleh orangtuanya.

“Maaf nona muda, tapi saya tidak bisa berbuat seperti itu. Sudah sepantasnya saya bersikap sepantasnya terhadap nona muda.” Aku berkata dengan nada datar padanya. Aku tidak mau diperintah oleh orang lain selain mereka yang memperkerjakanku. Aku bisa melihat raut wajahnya berubah menjadi semakin kesal dan sedikit tidak percaya karena aku tidak mau menurutinya. Aku menyeringai melihat wajahnya tersebut.

“Kau! Sudah aku bilang aku tidak suka kau panggil begitu! Kau ini bodoh atau bagaimana?! Aku yakin Yunho pasti juga memintamu memanggilnya dengan nama bukan?! Kenapa aku tidak bisa?!” Ah gadis ini membawa-bawa Yunho. Apa dia pikir karena dia adalah kekasih Yunho dia bisa seenaknya. Aku membalasnya dengan senyuman, mungkin lebih tepatnya seringai. Dia agak mundur selangkah melihat aku yang tidak takut padanya.

“Karena dia majikan saya, nona muda. Apapun perintahnya akan saya turuti. Tapi anda, anda bukan majikan saya. Saya tetap akan memperlakukan anda sebagaimana seorang supir memperlakukan teman majikannya.” Ucapku sopan walau ada sedikit tekanan pada nada suaraku. Hal itu membuat nona muda ini makin tersulut amarahnya. Bagus. Biar dia tahu bahwa dia harus bisa memikirkan orang lain saat mengajukan permintaan yang mau tidak mau memberatkan orang lain, walau maksudnya baik.

“Kau ini aneh! Bukannya jika aku bukan majikanmu jadi kau bisa bersikap biasa saja denganku. Kenapa kau malah terbalik seperti itu sih?!” Aku tertawa dalam hati mendengar dia berbicara seperti itu. Memang logikanya jika dia bukan majikanku seharusnya aku bisa bersikap biasa saja. Namun aku tahu siapa dia, dan aku tidak mau ambil resiko jika ada yang tahu aku bersikap tidak hormat padanya.

Aku tidak mau ambil resiko jika ada yang mendengar dan memberitahu siapa saja diantara keluarganya maupun keluarga Jung kalau aku tidak bersikap selayaknya seorang supir. Walau kemungkinan hal itu tejadi sangat kecil, tapi sekali lagi aku tak mau ambil resiko. Aku tahu benar seperti apa lingkungan sosial mereka. Penuh dengan tata krama dan menegaskan adanya perbedaan derajat. Yang benar saja! Apa aku harus ditegur dan mungkin saja kehilangan pekerjaan hanya gara-gara menuruti permintaan aneh gadis ini. Menyadari bahwa Cho Kyuhyun menunggu jawaban dariku, maka aku membalasnya dengan singkat namun jelas untuk bisa dimengerti olehnya.

“Karena saya tidak pernah bersikap tidak sopan dengan orang yang baru saya temui, nona muda.” Balasku padanya. Ya selain aku tidak mau ambil resiko aku juga selalu sopan pada orang yang baru aku kenal. Aku dapat melihat tangannya terkepal menahan marah atau mungkin juga menahan untuk tidak menamparku.

“Kamu!!”

“Tugas saya sudah selesai. Anda sudah mendapatkan bingkisan tuan muda Yunho. Jadi saya mohon pamit.” Sahutku berbalik dan beranjak meninggalkan tempat tersebut, namun satu tangan halus menahan lenganku. Aku melihat tangan Cho Kyuhyun menggenggam lenganku dengan erat.

“Tunggu dulu, aku belum selesai denganmu.”

“Ada pesan yang ingin nona muda titipkan kepada saya untuk tuan muda Yunho?” tanyaku sambil berbalik lagi. Tangan halus nona muda ini masih saja menggenggam lenganku. Aku menatap antara tangannya dan wajahnya bergantian. Tampaknya dia sadar bahwa dia masih memegang lenganku dan seketika pipi putih tembemnya itu menjadi memerah. Dimataku dia terlihat sangat manis, namun sayang aku masih malas berurusan dengan dia. Cho Kyuhyun melepaskan pegangan tangannya dari lenganku dan berusaha menutupi kegugupan dan rasa malunya.

“Antarkan aku ke kampus Yunho. Hari ini aku tidak jadwal sampai siang nanti. Jadi aku ingin bertemu dengannya.” Aku tertawa kecil mendengar perintahnya tadi. Mengantarkan dia ketempat Yunho katanya. Memangnya dia siapa berani memerintahku seperti tadi.

“Maafkan saya nona muda. Tapi perintah tuan muda Yunho jelas sekali, bahwa saya diperbolehkan pulang setelah mengantar bingkisan untuk anda dan karena anda sudah menerimanya, tugas saya untuk hari ini selesai. Saya permisi.” Ujarku sambil membungkuk hormat, membalikkan badanku dan berjalan pergi.

“Kau…! Kembali kesini! Yah!!” Cho Kyuhyun terus berteriak memanggilku tetapi aku tidak memperdulikannya. Aku terus berjalan meninggalkan dia sambil menyunggingkan senyum kecilku.

End Siwon P.O.V

Kyuhyun P.O.V

Apa-apaan dia. Siapa tadi namanya? Choi Siwon. Dasar orang menyebalkan. Baru kali ini ada yang bisa membantahku. Dia sama sekali tidak mau mendengarkan aku dan justru memberikan argumen padaku. Benar-benar menyebalkan! Lalu aku tersentak sendiri. Bukahkan aku juga tidak suka jika orang lain menjadi penjilat jika berhadapan denganku. Lelaki tadi jelas sekali mempunyai prinsipnya sendiri, walaupun dia sangat menyebalkan.

Aku memang tidak suka dengan istilah nona muda, tuan muda, dan sebagainya. Bagiku setiap orang itu sama saja. Tidak ada yang lebih dari lainnya. Namun kasta itu akan selalu ada. Apalagi dengan ibuku yang sangat menjunjung kehormatan keluarga. Ibuku selalu menegaskan pada semua orang dirumahku untuk bersikap sesuai dengan posisi mereka dan jika ada yang membangkang, maka mereka bisa kehilangan pekerjaan.

Aku, yang memang tidak sependapat dengan ibuku, ingin sekali diperlakukan biasa saja oleh setiap orang dirumahku. Ya, ketika aku bilang aku tidak mau mereka memanggilku nona muda dan hanya namaku, mereka melakukannya. Setiap pelayan dan pekerja dirumahku semuanya akan menuruti perintahku. Namun ketika orangtuaku ada, mereka ragu memanggilku begitu. Padahal aku selalu bilang bahwa mereka tidak akan dihukum apa-apa tapi tetap saja mereka takut dan kembali memanggilku nona muda. Karena semua seperti itu, akhirnya aku tahu mereka menuruti keinginanku karena takut jika aku marah dan mengadu pada ibuku, bukan karena mereka menggangapku sama dengan mereka. Ya, mereka tidak percaya bahwa aku tulus ingin agar mereka bisa dekat denganku sebagai teman dan bukan mengganggap mereka sebagai bawahan belaka.

Teman. Ya, selama ini aku hanya menginginkan teman yang benar-benar menganggapku sama. Teman yang berpikiran bahwa dia dan aku setara. Tapi tidak, selama aku masih menyandang nama keluarga Cho, maka aku akan selalu terikat dengan aturan konyol keluarga ini. Satu-satunya yang bisa memahamiku hanya Yunho dan Jaejoong eonnie. Yunho adalah teman dekatku karena kami selalu satu sekolah sejak SMP sampai dengan SMA. Kami juga bertetangga setelah keluarganya pindah ke dekat rumahku. Kami selalu bersama-sama karena Yunho yang pada dasarnya memang selalu ramah, selalu menjagaku yang suka dijahili oleh teman-teman sekolah karena sikapku yang terkadang bagi mereka kurang bersahabat.

Aku sebenarnya tidak terlalu perduli jika Yunho menjagaku atau tidak karena siapapun yang menjahiliku pasti akan aku balas 2 kali lipat dari perbuatan mereka padaku. Namun karena Yunho memang hanya satu-satunya yang mau berteman denganku, makanya aku membiarkan dia selalu berada disampingku. Sedangkan Jaejoong eonnie adalah anak dari pengasuhku. Dia tiga tahun lebih tua dari aku dan Yunho. Walau Jaejoong eonnie anak seorang pengasuh, tetapi otaknya sangat cerdas. Dia selalu mendapatkan beasiswa sehingga tidak pernah menyusahkan ibunya. Aku tidak pernah bertemu dengan ayah Jaejoong eonnie. yang aku tahu dari Kim ahjumma, ayah Jaejoong eonnie sudah lama meninggal dunia.

Aku, Yunho, dan Jaejoong eonnie selalu bersama. Kami sudah seperti saudara walau sekarang kami berpisah karena Yunho memilih kampus Dong Bang sedangkan aku mengikuti jejak Jaejoong eonnie memilih kampus SM. Kami bertiga sangat dekat, terlalu dekat sehingga menimbulkan salah paham dari pihak keluarga besar aku dan Yunho. Mereka mengira aku dan Yunho saling tertarik satu sama lain. Dan sekarang, melihat kedekatanku dengan Yunho, mereka memutuskan untuk menjodohkan kami.

Jelas saja aku menolak perjodohan ini. Aku masih ingin mengembangkan diriku sendiri. Aku belum memikirkan kekasih atau bahkan tunangan. Aku yang masih belum mengenal diriku sendiri mana bisa menjalin hubungan dengan orang lain. Aku berpikir bahwa Yunho juga akan menolak perjodohan ini, karena aku lihat dia semakin hari semakin dekat dengan Jaejoong eonnie. Tapi pikiranku salah, karena Yunho sama sekali tidak berkata apa-apa mengenai ide tentang perjodohan kami ini. Yunho tidak berkata iya namun dia juga tidak membantahnya sehingga membuat kedua keluarga kami mengira Yunho setuju-setuju saja. Akhirnya kami dijodohkan dan akan bertunangan setelah kami berdua menginjak usia 20 tahun.

Dengan situasi yang terjadi belakangan ini, aku merasa bersalah terhadap Jaejoong eonnie. Aku tahu bahwa dia sangat menyukai Yunho, mungkin bisa dikatakan bahwa dia mencintai Yunho melihat kedekatan mereka berdua. Saat Yunho mengumumkan bahwa aku resmi menjadi kekasihnya pada Jaejoong eonnie, aku mengira bahwa Jaejoong eonni akan terkejut, tetapi dia malah tersenyum dan mengucapkan selamat pada kami berdua. Penasaran dengan sikapnya yang biasa saja, aku mengajaknya bicara dan menanyakan kenapa dia bisa bersikap seperti itu padahal aku tahu dia mencintai Yunho. Namun sekali lagi Jaejoong eonnie hanya tersenyum dan menjelaskan alasannya.

Flashback

Jaejoongie eonnie bersandar di tembok dekat jendela di kamarku. Pandangannya diarahkan keluar jendela. Aku yang terduduk dipinggir ranjang terus memandanginya berharap dia mau berbagi sedikit pikirannya padaku sekarang. Aku ingin menghiburnya setelah baru satu jam yang lalu Yunho memberitahunya mengenai perjodohan kami. Aku yakin hatinya sekarang pasti kecewa dan aku merasa bersalah karena secara tidak langsung aku adalah penyebabnya. Hh.. Mengapa sih orang-orang kaya itu senang sekali menjodohkan anak mereka padahal mereka belum tahu apa yang bersangkutan mau atau tidak. Yunho juga. Padahal sepertinya dia juga menyukai Jaejoong eonnie tetapi kenapa dia diam saja. Apa memang dia tidak pernah menyadari perasaan Jaejoong eonnie padanya. Jika memang tidak, itu berarti dia bodoh dan buta. Aku saja bisa lihat bagaimana perhatiannya Jaejoong eonnie pada Yunho. Dan Jaejoong eonnie bukan orang yang mudah memberikan perhatiannya pada orang lain.  

“Kapan kalian akan bertunangan Kyu?” pertanyaan Jaejoong eonnie membuyarkan pikiranku. Aku langsung memusatkan lagi perhatianku padanya.

“Setelah kami sama-sama berusia 20 tahun eonnie.”

“Oh. Selamat ya Kyu.”

“Eonnie…”

“Aku akan mendoakan semoga hubungan kalian berjalan lancar.”

“Eonnie.. Tolong hentikan. Disini hanya ada kau dan aku. Jujurlah…” Jaejoong eonnie menoleh kearahku. Hatiku semakin bersalah ketika aku melihat matanya yang sudah berkaca-kaca. Dan ketika bulir airmata itu jatuh dari kedua mata indahnya, aku langsung berdiri dan memeluknya erat. Dia membalas pelukanku dan menangis dicuruk leherku karena memang aku sedikit lebih tinggi darinya. Aku terus membelai rambut pirang panjangnya yang dibiarkan terurai.

“M..Ma..afkan aku Kyu.. Hiks..hikss.. Ak..aku…” Dia melepas pelukanku dan mengambil nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Kemudian dengan cepat dia menghapus bekas airmatanya dan menatapku serta tersenyum dengan getir.

“Hhh…Aku baik-baik saja. Yunho memang bukan untukku Kyu. Kami terlalu berbeda. Aku tahu seberapa besar aku mencintainya, dia takkan bisa memilihku. Itu pun kalau Yunho memang memiliki perasaan yang sama denganku. Kau tahu aku ini siapa Kyu. Aku tidak bisa dibandingkan denganmu yang anak dari seorang dokter terkenal dan pemimpin perusahaan Cho Corp. Aku sudah bahagia jika Yunho bahagia.” Jelas Jaejoong eonnie. Ah, lagi-lagi orang harus menderita karena alasan perbedaan status. Kenapa susah sekali untuk bahagia sesuai keinginan diri sendiri.

“Eonnie…” sahutku sedikit memelas. Aku tidak rela jika Jaejoong eonnie menyerah begitu saja. Namun disudut hatiku, aku tahu bahwa apa yang dikatakannya benar. Akan sulit untuk bisa bersama dengan Yunho selama Yunho masih menyandang nama keluarga Jung. Walaupun orangtua Yunho menyetujui jika Yunho dengan Jaejoong eonnie, belum tentu semua anggota keluarga Jung setuju. Ah, andai aku lebih kuat dari sekarang, maka aku mungkin bisa membantunya. Tapi aku sendiri masih terjebak dengan kukungan keluargaku sendiri.

“Sudahlah Kyu. Jangan pikirkan aku. Aku sudah bilang aku baik-baik saja bukan?! Yunho pasti bisa menjagamu Kyu dan aku yakin kau pasti bisa membahagiakan dia. Jaga dia ya.” Sahut Jaejoong eonnie sambil mencubit kedua pipiku dan berusaha tersenyum menutupi kesedihannya.

“Jae eonnie..”

“Ayo Kyunnie. Senyum. Senyum untukku ya?!” Aku hanya bisa mengangguk pelan dan membiarkan Jaejoong menarikku keluar dari kamar dan menuju kebawah.

End Flashback

Ah jika aku memikirkan perjodohan dan segala aturan keluargaku, hal tersebut selalu saja membuat aku pusing. Hanya dengan menyanyi dan bermain video game bisa membuat aku santai sesaat. Oh iya, aku tadi sedang bermain game di ruangan kelasku sebelum diganggu oleh lelaki tinggi nan menyebalkan itu. Aku menggunakan ruangan itu karena ruangan itu akan kosong sampai siang nanti. Seharusnya ada materi kuliah tadi pagi, tapi karena dosennya berhalangan, sehingga tidak ada kuliah sampai siang.

Aku bergegas masuk kekelas lagi dan melihat di PSP ku tertulis kata Game Over. Ah aku lupa menghentikan sejenak permainanku tadi. Argh!! Ini gara-gara supir Yunho bernama Siwon itu. Awas kalau aku sampai bertemu dia lagi. Aku akan balas perbuatannya padaku hari ini. Lihat saja Choi Siwon.

End Kyuhyun P.O.V

Apartemen Choi

Siwon membuka pintu apartemennya dan segera masuk dengan beberapa barang belanjaan untuk makan malam. Walaupun masih siang tapi dia harus menyiapkan makan malam karena pastinya dia tidak punya cukup waktu jika baru membuatnya pada sore hari. Namun karena hari ini Siwon merasa beruntung karena Yunho memperbolehkan dia pulang cepat maka Siwon bisa berisrahat sebentar. Siwon memang merasa sedikit kelelahan dengan semua pekerjaan yang dilakukannya dari pagi sampai malam.

Hari ini memang hari yang baik bagi Siwon, tidak saja dia mendapatkan pekerjaan tambahan yang menghasilkan bayaran yang cukup besar, dia juga masih diperbolehkan untuk terus bekerja dengan tuan Lee. Namun dia tidak mengira akan bertemu dengan Jihyun, ibunya yang dulu meninggalkannya. Dia tidak mengira bahwa takdir membawanya bertemu dengan Yunho lagi dan memperbolehkannya untuk menjaga Yunho walaupun dalam bentuk yang berbeda. Ya, hari ini memang baik untuk Siwon walaupun ada sedikit insiden dengan kekasih Yunho tadi pagi. Siwon masih heran kenapa Yunho bisa bersama dengan gadis itu.

Cho Kyuhyun. Nama itu terus terulang dikepala Siwon. Siwon tidak memungkiri bahwa dia tertarik dengan Kyuhyun. Kyuhyun berbeda dengan semua gadis yang pernah dia temui. Semua gadis bahkan wanita yang lebih tua suka menempel padanya walaupun jelas-jelas Siwon tidak suka. Terlalu banyak kepalsuan saat mereka mendekati Siwon kerena mereka hanya tertarik dengan fisiknya bukan dirinya secara individu. Siwon sadar dengan penampilannya sendiri. Walaupun dia bukan orang kaya, namun dia tetap menjaga penampilannya. Rapi dan bersih. Dua hal itu menjadi hal penting bagi Siwon.

Siwon menggeleng kepalanya mengingat bagaimana gadis-gadis itu mendekatinya karena tertarik pada wajahnya. Namun setelah Siwon menanggapi mereka,secara perlahan mereka menghindari Siwon. Siwon tertawa sendiri kala itu, karena memang mana ada wanita yang tidak marah jika Siwon mengatakan mereka tidak lebih dari parasit dan boneka palsu yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Ya, semua wanita cantik bagi Siwon sama saja. Sama dengan ibunya.

Namun hari ini Siwon bertemu dua gadis yang berbeda, dua gadis yang memiliki pesonanya masing-masing. Yang satu, Jaejoong. Pertama bertemu, Siwon mengira Jaejoong sama saja dengan wanita lainya yang pernah Siwon temui, namun setelah berbincang-bincang dengannya walau hanya sekitar 15 menit saat Jaejoong mengantarnya tadi, Siwon tahu bahwa Jaejoong hanya terkesan menggoda didepan saja.

Pribadinya menyenangkan, baik walau terkesan agak acuh dengan sekelilingnya. Yang kedua, Kyuhyun, kekasih Yunho. Gadis itu yang paling meninggalkan kesan dihati Siwon. Tidak saja secara fisik gadis itu merupakan tipe Siwon tapi kepribadiannya yang kontras menimbulkan ketertarikan tersendiri bagi Siwon. Kyuhyun terkesan kuat, sedikit galak, namun Siwon bisa menangkap keraguan akan dirinya sendiri. Keinginannya untuk bisa diterima oleh sekelilingnya.

Cerminan itu Siwon tangkap dari mata Kyuhyun. Siwon tahu persis seperti apa mata itu merefleksikan Kyuhyun sebenarnya karena Siwon pernah mempunyai tatapan seperti Kyuhyun dulu sebelum dia menyadari bahwa hidup tidak bisa ragu-ragu. Hidup yang dimengerti oleh Siwon adalah hidup yang berisi dengan pilihan-pilihan sulit dan harus dirimu sendiri yang membuat keputusan.

Keputusan yang terkadang menyakitkan baik untuk dirimu sendiri maupun orang lain. Siwon tidak bisa lagi ragu dalam mengambil langkahnya seperti yang mungkin dialami oleh Kyuhyun saat ini. Mengingat Kyuhyun dan Jaejoong, Siwon hanya bisa tersenyum karena tampaknya setelah beberapa tahun terjun langsung ke kehidupan nyata, Siwon dapat membaca kepribadian orang lain. Salahkan pekerjaannya yang menuntut untuk dapat mengerti setiap kemauan konsumennya. Ya, pekerjaan malamnya di klub dan pekerjaannya sebagai kurir si perusahaan tuan Lee mengajarkan banyak tentang hidup dan manusia kepada Siwon.

Siwon kembali tertawa sendiri mengingat bagaimana dia tidak mempunyai banyak pilihan ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa sekarang dialah yang harus menghidupi keluarganya. Namun tidak pernah terbesit satu kali pun penyesalan apalagi kekesalan karena dia harus menanggung ini semua, karena dia lega bahwa ayahnya masih mau bersamanya. Bahwa ayahnya tidak menganggap dia sebagai beban disaat ayahnya harus berjuang membesarkannya seorang diri. Bahwa ayahnya tidak membuangnya sebagaimana ibunya telah membuang dirinya. Dia bersyukur karena masih memiliki Seungwoo dan dia akan berusaha sampai batas kemampuannya untuk membalas Seungwoo.

Siwon menyudahi lamunannya sendiri berjalan kearah lemari pendingin yang ada didapur. Setelah memasukan barang belanjaan kedalam lemari pendingin tersebut, Siwon bergegas ke kamar tidur Seungwoo. Ketika Siwon masuk ke kamar tersebut, betapa terkejutnya dia karena tidak menemukan ayahnya sama sekali. Dengan perasaan cemas, Siwon mengelilingi apartemen kecilnya itu.

“Appa? Appa dimana?” Siwon terus memanggil-mangil Seungwoo sambil memeriksa semua ruangan yang ada disana tapi tetap tidak menemukan Seungwoo, ayahnya.

“Ayolah appa. Ini tidak lucu. Jangan buat Siwon takut appa.” Sahut Siwon lagi. Tiba-tiba Siwon memikirkan sesuatu dan langsung kembali ke kamar dan segera membuka lemari pakaian yang ada didalam kamar. Siwon tersentak ketika menemukan setengah dari barang-barang ayahnya sudah tidak ada beserta beberapa lembar uang yang ada dalam kotak yang disediakan Siwon untuk keperluan ayahnya sehari-hari. Siwon terduduk lemas karena dugaannya benar bahwa ayahnya pergi dari apartemen mereka. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan mengelilingi lututnya dengan kedua tangannya lalu menaruh kepalanya diatas lututnya tersebut.

Isakan demi isakan terdengar dari mulut Siwon. Dia merasa bersalah karena tidak mampu menjaga ayahnya. Tidak mampu meyakini ayahnya untuk bersabar sedikit lagi demi pengobatannya. Dia yakin ayahnya sudah lelah bersamanya karena kehidupan mereka yang tidak berubah sejak ditinggalkan oleh ibu mereka. Dia yakin ayahnya marah karena Siwon tidak mampu menopang dirinya seperti saat Seungwoo menopang Siwon sampai Siwon lulus SMA. Siwon mengeleng-gelengkan kepalanya.

Dia merasa bersalah karena sempat berpikiran seperti itu mengenai Seungwoo. Ayahnya bukan orang seperti itu. Seungwoo tidak seperti Jihyun,ibunya. Siwon merasa menjadi anak yang tidak berbakti kepada Seungwoo karena sempat berpikiran buruk pada Seungwoo. Siwon hanya bingung kenapa Seungwoo meninggalkannya. Siwon mengangkat wajahnya sedikit dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar dan ketika Siwon menghapus airmatanya, sesaat dia melihat ada secarik kertas tergeletak begitu saja diatas meja nakas. Tanpa pikir panjang, Siwon segera mengambil kertas tersebut dan melihat isinya. Kertas itu merupakan pesan dari Seungwoo untuk Siwon. Siwon langsung membacanya karena berpikir bisa mendapatkan petunjuk tentang keberadaannya Seungwoo sekarang.

Siwon, jika kau membaca pesan ini, berarti appa sudah pergi jauh. Appa memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu nak. Bukan karena appa marah ataupun kecewa kepadamu seperti yang pasti kaupikirkan sekarang. Tapi appa ingin melihat kau berbahagia nak. Kau masih terlalu muda untuk menanggung semua beban hidup kita. Appa tidak mau menjadi bebanmu.

Kau tidak perlu mencari appa. Appa akan baik-baik saja. Appa ingin kau mulai menata hidupmu. Gunakanlah uang yang kau kumpulkan selama ini untuk biaya kuliahmu. Jadilah orang yang sukses Siwon. Jadilah laki-laki yang kuat.

Dimanapun appa berada sekarang Siwon, appa akan selalu mendoakanmu. Selalu mendoakan kebahagiaanmu. Appa sangat menyayangimu nak. Dan jika kau rindu dengan appa, ingatlah bahwa appa selalu ada dihatimu.

Selamat tinggal Siwon.

Appa

Siwon terduduk lagi dilantai. Kali ini dia tidak menutupi wajahnya yang sudah basah karena airmata. Dia tidak menahan tangisannya. Dia meremas pesan dari Seungwoo dan membawa kertas itu kedadanya.

“Appa.. Appa.. Jangan tinggalkan Siwon appa… Jangan tinggalkan Siwon seperti umma dulu. Jangan buang Siwon appa.. Siwon janji akan jadi anak baik… Siwon tidak mau sendiri.. Appa..” Siwon terus menangis dan menangis dengan keras sampai membuat Kangin yang baru mau keluar dari apartemennya mendengar tangisan Siwon. Kangin, yang memang sahabat dekat Siwon sekaligus rekan kerja di perusahaan tuan Lee, segera berlari menuju apartemen Siwon dan mendapati Siwon yang terduduk dilantai kamar tidur ayahnya. Kangin melihat jelas keadaan Siwon yang terpuruk karena pintu kamar itu terbuka lebar. Segera saja Kangin menghampiri Siwon dan berusaha mengangkat tubuh Siwon yang lebih tinggi darinya untuk bangun dari lantai. Tapi Siwon tidak bergerak juga. Dia terus terduduk dilantai sambil sesekali memukul-mukul lantai kamar itu.

Kangin bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Siwon bisa seperti ini dan dia bertanya-tanya dimana Seungwoo berada. Kangin mencoba lagi dan kali ini usahanya berhasil karena Siwon mau dipapah Kangin ke ruang depan. Kangin membantu Siwon sampai ke sofa kecil di ruang tamu. Ketika duduk, Siwon masih menundukkan kepalanya, namun tangisan berubah menjadi isakan kecil. Sepertinya Siwon sudah mampu mengendalikan dirinya walau belum sepenuhnya. Melihat Siwon sudah mulai tenang, Kangin mensejajarkan dirinya didepan Siwon, mencoba mencari apa yang sudah terjadi.

“Kau kenapa Siwon? Dimana Seungwoo ahjussi?” Namun bukan menjawab pertanyan Kangin, Siwon justru terus menunduk. Siwon masih mencoba untuk menghadapi kenyataan bahwa Seungwoo sudah pergi. Dia meremas rambutnya sendiri berusaha menahan sedih, galau, kecewa, terbuang, semua perasaan yang dirasakan oleh Siwon saat ini.

“Siwon..” Kangin mencoba memanggil Siwon kembali, namun hasilnya masih nihil. Siwon masih tidak bereaksi dengan panggilannya. Akhirnya mau tidak mau Kangin harus melakukan tindakan drastik untuk menyadarkan Siwon.

“SIWON!!” Plak!! Kangin terpaksa menampar pipi Siwon karena Siwon terlalu larut dalam perasaannya. Kangin ingin tahu apa yang sedang terjadi sehingga dia bisa membantu Siwon. Tapi jika Siwon terus seperti ini, bagaimana bisa Kangin dapat membantunya.

Siwon yang mulai tesadar dengan kehadiran Kangin, memegang pipinya yang perih dan merah akibat tamparan Kangin. Dia melihat kearah Kangin yang terus menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya, sekaligus lega karena Siwon menyadari kehadirannya. Kangin menghela nafas dan memilih untuk duduk disamping Siwon. Sedangkan Siwon yang setelah mendapat tamparan dari Kangin mulai bisa menjernihkan pikirannya. Dia sadar bahwa dia terlalu memikirkan kepergian Seungwoo sehingga melupakan bahwa Kangin berada ditempatnya.

“Maafkan aku hyung. Aku…aku…” Siwon yang sudah berhenti menangis mencoba bicara dengan Kangin walaupun ucapannya masih terbata-bata. Kangin meremas pundak Siwon dengan lembut lalu mengusap rambut Siwon.

“Hey, tenanglah. Aku juga minta maaf karena sudah menamparmu. Pasti sakit.”

“Iya bodoh. Sakit sekali.” Keluh Siwon main-main berusaha tersenyum walau sedikit dipaksakan. Kangin tertawa kecil menanggapi perkataan Siwon baru saja. Dia memukul pelan bagian belakang kepala Siwon.

“Yah! Sopanlah pada hyungmu. Itu salahmu sendiri.” Keduanya tertawa kecil bersama. Setelah tawa mereka reda, Kangin mencoba lagi menguak informasi dari Siwon tentang mengapa dia berperilaku seperti tadi dan mencari tahu dimana Seungwoo berada.

“Sekarang ceritakan kepadaku apa yang terjadi? Dimana Choi ahjussi?” Siwon menggeleng pelan dan menyerahkan secarik kertas yang masih digenggamnya tadi kepada Kangin. Siwon menarik nafas panjang dan mengeluarkannya seakan dia melepaskan beban tertentu. Saat Kangin membaca pesan Seungwoo, Siwon memutuskan bahwa dia harus mencari Seungwoo. Walaupun Seungwoo meminta Siwon untuk tidak mencari dirinya, Siwon tidak mungkin membiarkan ayahnya yang sedang sakit parah itu berada diluar sana tanpa ada yang menjaga dan melindunginya. Siwon bertekad akan mencari ayahnya sampai dia menemukannya.

Sementara itu Kangin yang sudah selesai membaca pesan Seungwoo melihat kearah Siwon yang terlihat lebih tenang dan sepertinya mempunyai ketetapan hati akan sesuatu. Kangin yang sudah mengenal Siwon sejak dia pindah ke apartemen ini dua tahun yang lalu, bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Siwon dari raut wajahnya yang terlihat bersikukuh itu. Dia menepuk sekali lagi pundak sahabatnya itu dan mengangguk.

“Kau pasti ingin mencari appamu bukan?! Akan aku bantu. Sekarang kau bereskan dirimu dulu, aku siapkan motorku. Kita coba cari di stasiun. Aku tunggu dibawah.” Ujar Kangin sambil beranjak pergi menuju pintu depan. Namun sebelum Kangin keluar sepenuhnya dari apartemen itu, Siwon memanggilya.

“Hyung..”

“Hm?”

“Terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih.” Kangin tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Siwon. Kangin merasa sudah sepantasnya dia membantu ayah dan anak itu, karena mereka juga sering membantunya kala dia dalam masalah.

“Sudahlah. Kau bersiaplah. Semoga kita masih bisa menyusul ahjussi. Aku tunggu 10 menit Siwon.” Siwon mengangguk setuju dan bergegas menyiapkan diri. Siwon hanya mencuci mukanya yang lusuh dan merah karena habis menangis. Dia menatap cermin sebentar, meyakinkan dirinya bahwa dia pasti bisa menemukan Seungwoo. Dan dia tidak akan berhenti sampai Seungwoo benar-benar ditemukan.

“Appa, tunggu Siwon. Siwon pasti bisa menemukan appa.” Ucapan tersebut menjadi pemacu semangat Siwon untuk bisa menemukan Seungwoo. Dengan ketetapan hati yang baru, Siwon bergegas turun dan menghampiri Kangin yang sudah siap dengan motornya dibawah.

TBC

Advertisements