Tags

, , , ,

Title : Don’t Leave Me 3

Pairing : Wonkyu, a bit Yunjae

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Warning : Un-betaed, GS, OOC, AU

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

“Ternyata apa yang diucapkan oleh hyung memang benar adanya. Kau memang cantik walaupun kau itu suka sinis.”

“Kau..?!” Aku sudah tidak sanggup lagi untuk menahan emosiku. Ada apa ini?! Siapa Siwon sebenarnya? Mengapa dia bisa tahu soal ucapan yang sering dikatakan oleh Shiyuan?! Mengapa dia memanggil Shiyuan dengan hyung?!

“Maaf aku tidak jujur padamu sebelumnya Kyuhyun-ssi. Aku punya alasan untuk itu. Aku kenalkan diriku sekali lagi ya Kyuhyun-ssi. Namaku Choi Siwon. Aku saudara kembar dari Shiyuan yang terpisah dari kecil. Salam kenal.” Oh Tuhan. Saudara kembar Shiyuan. Aku tidak pernah tahu Shiyuan punya saudara kembar. Shiyuan tidak pernah cerita jika dia memiliki saudara. Tidak. Ini tidak mungkin. Pasti Siwon mendapatkan informasi dari seseorang yang tahu mengenai aku dan Shiyuan lalu sekarang dia mencoba mempermainkanku. Mempermainkan perasaanku.

“Tidak mungkin. Kau jangan asal bicara Choi Siwon! Mana mungkin kau saudara kembar Shiyuan!” bentakku marah. Aku menepis tangannya yang ada diwajahku. Aku menghapus kasar airmataku sendiri walau mereka terus saja mengalir tiada henti.

“Aku tahu kau akan bereaksi seperti ini Kyuhyun-ssi. Maka dari itu, aku tidak langsung mengatakan bahwa Shiyuan dan aku bersaudara. Namun kalau kau tidak percaya, aku juga tidak akan memaksa. Aku datang ke Korea, mencari dirimu, bersusah payah agar bisa ikut dalam salah satu pargelaranmu, hanya karena aku ingin memenuhi janjiku pada Shiyuan hyung.” Aku semakin tidak mengerti dengan semua ini. Kapan Shiyuan bertemu dengan Siwon? Kapan Shiyuan membuat janji yang aku tidak tahu dengan Siwon? Kenapa Shiyuan tidak pernah bilang apa-apa soal Siwon kepadaku. Kami saling bertatapan, masing-masing dengan pikiran dan pertanyaan mengenai semua masalah yang berkaitan dengan Shiyuan. Oh, Shiyuan. Apa maksudmu dengan semua ini? Kau membuat aku dan Siwon berada dalam situasi yang rumit. Situasi yang menyangkut perasaan kami berdua.

( 。・_・。)(。・_・。 )

“Janji?!” tanyaku sambil memeluk diriku sendiri seakan memberi kekuatan untuk menghadapi kenyataan ini. Aku tidak tahu harus bagaimana jika dihadapkan dengan Siwon yang begitu mirip dengan kekasihku dan kenyataan bahwa dia adalah saudara kembarnya. Bagaimana mungkin aku sanggup menghadapi ini semua disaat aku mencoba berdiri sendiri tanpa adanya Shiyuan di sisiku.

“Ya, janji. Aku berjanji akan menjadi malaikat penjagamu sebagai pengganti dirinya. Janji yang aku tahu sangat tidak mungkin kulakukan karena di matamu hanya ada Shiyuan hyung.” Siwon menjelaskan dengan senyum yang dipaksakan. Oh Shiyuan, mengapa kau membuat Siwon berjanji seperti itu? Mengapa kau membuat situasi kami berdua menjadi sulit?

Aku melangkah mundur dan ketika betisku menyentuh kursi di balkon itu, seketika itu juga aku terduduk lemas. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku karena aku tidak mengerti kekuatan apa yang membuat Shiyuan melakukan ini.

“Mengapa Shiyuan tidak pernah cerita mengenai dirimu kepadaku, Siwon-ssi? Kenapa dia diam saja?” tanyaku mencoba mengerti jalan pikiran mantan kekasihku itu. Sementara itu Siwon hanya manrik nafasnya dan menghembuskannya perlahan dan ikut duduk di sampingku.

“Mengenai hal itu, aku juga tidak tahu Kyuhyun-ssi. Padahal aku sudah sering bilang padanya bahwa aku ingin sekali bertemu denganmu. Bahwa aku ingin mengenal kekasih kakakku yang selalu dia banggakan itu. Aku bahkan mengatakan bahwa aku akan terbang ke Cina dan menjenguknya. Tapi jawabannya selalu saja tidak. Dia selalu bilang tidak ingin merepotkanku dan sebagainya. Aku adiknya, aku berhak untuk cemas.” Sungut Siwon. Aku hanya memandangnya sesaat. Aku bisa merasakan kesedihan dan sedikit kekesalan Siwon terhadap Shiyuan. Seharusnya Shiyuan memang tidak berbuat demikian. Siwon berhak mengetahui kondisinya saat itu.

Mengetahui situasi Siwon yang juga tidak mudah saat menghadapi kekeraskepalaan Shiyuan, aku menghela nafas pelan. Aku paham benar bagaimana perasaan Siwon saat itu. Aku masih beruntung bisa bersama dengan Shiyuan pada masa-masa terakhirnya, tapi Siwon, dia hanya bisa berduka dari jauh.

“Siwon-ssi.” Panggilku perlahan, membuat Siwon mengalihkan pandangannya padaku. Aku tersenyum miris karena sepertinya aku harus membuka kenangan Siwon, meskipun mungkin itu adalah kenangan pahit untuknya.

“Apa?” tanyanya dengan nada datar. Aku terdiam sesaat sebelum melanjutkan lagi apa yang ingin aku tanyakan kepada Siwon.

“Sejak kapan kau bertemu dengan Shiyuan?” tanyaku perlahan. Aku sedikit cemas jika Siwon tidak mau menjawabku, namun senyuman dan lesung pipi yang menghiasi wajahnya itu mengubur kecemasanku. Sebelum menjawabku, Siwon memalingkan lagi wajahnya dariku dan memandang ke arah pemandangan dari balkon ini.

“Setahun sebelum Shiyuan hyung meninggal. Saat itu, aku nekad berkunjung dan ketika aku mengetahui dia sakit, aku sempat ingin tinggal bersamanya dan merawatnya. Tapi keinginanku ditepis olehnya dengan berbagai macam alasan.” Jawabnya. Siwon menarik nafasnya lagi dan menghembuskannya dengan cepat. Dia seakan ingin membuang semua beban yang dia pendam selama ini. Siwon sudah terlalu banyak menghela nafas. Apakah dia tidak tahu bahwa ada omongan orang yang bilang jika terlalu sering menghela nafas maka kebahagiaanmu akan hilang. Tapi aku menepis pikiran itu, bukan itu yang harus kupikirkan sekarang. Aku kembali mendengarkan cerita Siwon.

“Saat itu aku juga tahu bahwa kau adalah kekasih Shiyuan hyung. Aku tahu kalian sangat mencintai satu sama lain. Aku tahu. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari sikap Shiyuan hyung yang berseri-seri seperti anak kecil ketika menceritakan tentang dirimu Kyuhyun-ssi.” Aku tertawa kecil mendengar Siwon berkata seperti itu tantang Shiyuan. Aku tahu bahwa Shiyuan sangat mencintaiku seperti aku mencintainya. Hhh.. Membicarakan Shiyuan seperti ini dengan Siwon, seperti menguak kenangan indahku bersamanya. Aku bisa merasakan kesedihan mulai merasuk dalam hatiku. Tanpa sadar satu butir airmata mulai keluar dari mataku. Aku buru-buru menghapusnya sebelum Siwon memergokiku.

“Ketika Shiyuan hyung menolak kehadiranku, mau tidak mau aku harus pulang ke Inggris. Namun kami masih berhubungan walau dengan telepon atau email. Yang pasti kami selalu mencoba terbuka satu sama lain. Dia bahkan menunjukkan fotomu padaku melalui salah satu emailnya. Fotomu yang sedang cemberut Kyuhyun-ssi.” Ujar Siwon sambil terkekeh ringan. Aku menepuk bahunya pelan karena tawanya itu. Apa yang lucu dari wajah cemberutku? Aku tidak perlu dia untuk mengingatkan aku tentang itu. Aku heran, mengapa semua orang selalu tertawa ketika mereka melihat wajah cemberutku? Apa yang salah dengan wajahku? Lupakan. Kelihatannya Siwon masih ingin melanjutkan ceritanya.

“Lalu saat itu tiba, ketika dia tahu bahwa hidupnya tak lama lagi. Dia mulai menghubungiku terus, memintaku untuk berjanji bahwa setelah dia pergi, aku mau menjagamu. Tapi aku tahu bahwa itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin aku bisa menjagamu dengan kemungkinan bahwa aku akan semakin membuatmu sedih dengan kehadiranku. Kehadiranku yang pasti selalu mengingatmu padanya.” Jelas Siwon. Aku memalingkan wajahku dari Siwon. Aku cukup terkejut karena Siwon memikirkan perasaanku padahal dia saat itu belum mengenalku dan melihat rupaku.

“Walau pada akhirnya aku menyetujuinya, karena aku tidak mau Shiyuan hyung meninggalkan dunia ini dengan perasaan tidak tenang. Aku berjanji padanya bahwa aku akan menjagamu.” Ucapnya lagi. Aku masih terus menatap ke arah pemandangan seperti Siwon.

“Tapi setelah aku sudah bisa melihatmu dengan mata kepalaku sendiri, aku bisa melihat bahwa kau ikut mati bersama dengan Shiyuan hyung. Kau selalu terlihat muram dan sedih, meski raut sedihmu tidak sesuai untuk wajahmu yang cantik tapi sangar itu.” Goda Siwon sambil menolehkan wajahnya kepadaku. Mungkin Siwon menggodaku karena ingin mencairkan suasana. Mendengar godaannya itu, aku juga langsung menoleh dan memukul pelan lengannya lagi.

Kami sempat tertawa kecil bersama walau tawa kami terdengar canggung. Kami masing-masing tahu bahwa kami harus menyelesaikan masalah ini. Setelah beberapa lama, kami lalu saling berpandangan. Cukup lama kami menatap wajah dan mata dari lawan bicara masing-masing, sampai akhirnya Siwon menggenggam tanganku erat sehingga aku merasakan adanya getaran aneh menyelubungi seluruh tubuhku kala tangan hangat Siwon menggenggam tanganku erat seperti sekarang.

“Kyuhyun-ssi, mungkin ini kelihatan aneh untukmu, tapi aku hanya ingin hyungku tenang disana. Aku hanya ingin menepati janjiku padanya sebagai seorang adik dan seorang laki-laki. Tapi jika kau keberatan, paling tidak kau yang mau berjanji padaku bahwa kau akan bahagia seperti yang diinginkan oleh Shiyuan hyung.” pintanya sambil terus menatap mataku teduh. Aku tak sanggup melihat tatapan yang mirip dengan tatapan Shiyuan sehingga aku memalingkan wajahkan dan melepaskan genggaman tanganyan dengan kasar. Karena perilakuku tadi sepertinya Siwon salah menafsirkan rasa gugupku menjadi sebuah penolakan dariku. Aku dapat merasakan tatapan sedihnya dan dari lirikanku aku bisa melihatnya mengusapkan wajahnya lalu berdiri dengan cepat. Aku masih terdiam dan tidak bergerak sama sekali. Aku masih tidak tahu harus bagaimana setelah mendengar ucapannya tadi. Di telingaku Siwon terdengar seperti mengutarakan perasaannya padaku. Atau mungkin itu hanya perasaanku tapi yang jelas sangat membuatku bimbang dan bingung.

“Sepertinya aku pergi saja. Jelas kau terganggu dengan kehadiranku.” Dia beranjak pergi dari balkon itu, melangkah pergi dariku. Sedangkan aku, aku hanya mampu berdiam diri dan tidak mencegahnya. Aku belum siap menerima semua kenyataan yang datang sekaligus seperti ini. Aku perlu waktu untuk memikirkan maksud dari Siwon tadi, keinginan hatiku, dan apa aku sanggup untuk bisa memahami keinginan Shiyuan dan mencari kebahagiaanku sendiri.

“Kyuhyun-ssi.” Aku mengangkat wajahku perlahan memandang ke arah Siwon yang membelakangiku. Aku melihat punggung pria itu, pria yang memliki hubungan darah dengan mantan kekasihku. Aku menatapnya, berharap aku bisa ke sana dan memeluknya untuk menumpahkan perasaan rinduku kepada punggung yang sangat mirip dengan punggung Shiyuan. Namun.. namun punggung itu bukanlah punggung mantan kekasihku. Punggung itu adalah milik Siwon, pribadi yang berbeda dengan Shiyuan. Aku menutup mataku, berusaha agar airmata ini tidak mengalir, akan tetapi apa yang akan diucapkan Siwon setelahnya membuatku tidak bisa untuk tidak menangis.

“Kyuhyun-ssi, terima kasih sudah mencintai Shiyuan hyung dengan seluruh raga dan jiwamu. Kau adalah sumber kebahagiaannya bahkan sampai saat terakhirnya. Terima kasih sudah menggantikan aku dan appa kami selama Shiyuan hyung menghadapi sakitnya. Jika bukan karena dirimu, Shiyuan hyung pasti akan kesepian. Sekali lagi terima kasih dan semoga kau bahagia.” Dengan kata-kata itu Siwon akhirnya pergi dan menghilang di balik pintu yang memisahkan balkon dengan ruang pesta. Sedangkan aku, aku menangis sambil menutup mulutku sehingga tangisanku tidak terdengar oleh orang lain. Aku menangis karena Shiyuan telah mengirimkan malaikat untukku namun aku menyiakan. Aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa membiarkan Siwon menepati janjinya kepada Shiyuan. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menerima jika Siwon mencoba mendekatiku hanya karena keinginan Shiyuan. Ada apa denganku?

Sebulan Kemudian

Sudah satu bulan ini Siwon tidak pernah berbicara denganku lagi kecuali untuk urusan pekerjaan. Masih ada satu pergelaran lagi sebelum hubungan kerja kami berakhir. Siwon tidak seperti model-modelku yang lain yang memang akan terus bekerja denganku sampai semua pergelaran busanaku selesai dalam beberapa pekan ini karena Siwon memang hanya sebagai model pengganti untuk Shim Changmin dan pria setinggi tiang listrik itu sudah bisa bekerja lagi setelah aku menyelesaikan satu pergelaran lagi, yang berarti waktuku dengan Siwon hanya tersisa seminggu lagi.

Aku memijit keningku berusaha menghilangkan penat yang beberapa waktu terakhir ini menggangguku. Aku sudah tidak semangat untuk mengerjakan apa pun juga. Semua pikiranku terfokus pada Siwon, Siwon, dan Siwon. Memang perkenalanku dengan Siwon singkat, tapi dia memberikan kesan yang mendalam untukku. Bukan karena dia adik kembar Shiyuan, bukan itu. Tapi keberadaannya mampu membuatku nyaman. Perlu kuakui, Siwon terkadang menyebalkan dan terlalu persisten jika dia memiliki kemauan, namun dia juga begitu perhatian dan baik terhadapku. Dia baik dengan semua orang, tapi denganku, entahlah aku merasa istimewa jika aku bersama dengannya. Dan selama sebulan tidak beradu mulut dengannya atau paling tidak bertegur sapa dengannya, meninggalkan lubang besar di hatiku.

“Kenapa kau terlihat seperti orang patah hati Kyuhyunie?” tegur seseorang sambil mengambil tempatnya di sebelahku. Aku sedikit terkejut namun masih bisa mengendalikan diriku ketika aku tahu siapa orang yang menegurku tadi.

“Memangnya aku terlihat seperti itu eonnie?” Kim Jaejoong, salah satu model wanitaku yang paling aku hormati. Dia begitu dewasa dan keibuan. Aku sering berbagi cerita dengannya ketika aku memulai karirku di Korea ini. Dia selalu mampu membuatku tenang dan memberiku solusi jika aku memiliki masalah.

Jaejoong eonnie tertawa mendengar pertanyaanku tadi. Kemudian dia membelai lembut rambutku sembari menyelipkan beberapa helai rambut yang keluar ke telingaku.

“Kau justru kelihatan kebih buruk dari patah hati. Kau bahkan lebih sedih daripada saat pertama kali kau menjejakan kaki ke Korea. Kau ada masalah apa Kyu? Kau bisa cerita padaku.” Aku menatap ragu ke arah Jaejoong eonnie. Apakah aku bisa menceritakan permasalahanku dengan Siwon dan meminta sarannya? Apakah Jaejoong eonnie akan mengerti perasaanku yang bimbang karena Shiyuan dan Siwon. Shiyuan. Kenapa Shiyuan lagi? Aku menghela nafas lagi kemudian mengelengkan kepalaku. Aku merasa letih dengan semua masalah ini. Mengapa bayang-bayang Shiyuan selalu menghantuiku? Mengapa aku tidak bisa menghilangkan pengaruhnya dari hidupku? Aku mencintainya tetapi mengapa sejak kedatangan Siwon seakan cinta itu mennyesakkanku. Aku tidak mau seperti ini. Aku tidak mau merasakan ini kepada Shiyuan.

“Eonnie..” panggilku lirih. Jaejoong eonnie masih membelaiku rambutku lembut. Entah kenapa, tapi aku merasa sedikit tenang dengan sikap sayangnya kepadaku.

“Hm?”

“Apakah aku salah jika aku mencintai lagi?” gumamku mempertanyakan perasaanku sendiri kepada Jaejoong eonnie. Aku mengira Jaejoong eonnie tidak mendengarku karena suaraku yang kecil, namun ketika tangan lembutnya memegang tanganku dan tangan yang membelai rambutku beralih ke pipiku dan mengarahkannya untuk menatap langsung Jaejoong eonnie, aku tahu dia mendengarnya.

“Maksudmu?” Aku menatap getir Jaejoong eonnie. Rasa ragu dan takut bahwa dia akan menilaiku salah karena mempunyai perasaan ini terhadap Shiyuan dan mungkin Siwon. Aku menguatkan hatiku dengan menggenggam balik tangan Jaejoong eonnie dan melanjutkan ucapanku.

“Apakah aku mengkhianati kekasihku yang telah meninggal jika aku mencintai orang lain?” tanyaku sedih. Aku membiarkan airmataku mengalir membasahi pipiku dan tangan Jaejoong eonnie yang berada di pipiku.

“Oh Kyu..” Tanpa berpikir panjang, Jaejoong eonnie melepaskan tangannya dari tanganku dan merengkuhku dalam dekapannya. Dia meletakkan kepalaku pada bahunya dan membelai sekali lagi rambutku. Aku memeluk balik tubuh rampingnya dengan melingkarkan kedua tanganku ke pinggangnya.

“Eonnie, apakah aku berdosa jika orang itu adalah orang terdekat dari almarhum kekasihku itu? Apakah.. apakah aku wanita jahat karena tidak bisa menahan rasa cintaku kepada orang itu? Apakah aku berhak untuk bahagia dengan orang itu?” lanjutku dalam pelukannya. Kata-kataku sedikit terbata karena isakanku. Jaejoong eonnie terus memelukku sampai aku puas menangis di bahunya. Dia seakan tidak perduli aku membasahi bajunya. Sampai beberapa menit, akhirnya Jaejoong eonnie memegang kedua bahuku dan melepaskan pelukannya, namun jarak kami masih cukup dekat. Jaejoong eonnie menatapku dengan senyuman menghiasi wajah cantiknya itu.

“Kyuhyun tatap aku.” Aku merasakan jari Jaejoong eonnie mengangkat daguku agar wajahku menatapnya.

“Kyuhyun, kau wanita. Sebagai wanita kau butuh seseorang untuk menemanimu. Kau butuh seseorang untuk bisa melindungimu. Jika kau mencintai orang lain selain almarhum kekasihmu, berarti kau justru membuat kekasihmu di sana tenang sayang. Jika kekasihmu itu mencintaimu, dia akan sangat berbahagia jika kau bahagia.” Aku menundukkan kepalaku dan menggelengkannya berkali-kali. Aku masih merasa bahwa aku salah, namun Jaejoong eonnie menghentikan tingkahku itu dengan menangkupkan kedua tangannya di pipiku.

“Kyu, dengar aku. Kau tidak jahat, kau juga tidak salah, dan kau berhak untuk bahagia.”

“Tapi eonnie..”

“Tidak ada tapi Kyu. Camkan ucapanku. Kau. Berhak. Bahagia. Kehidupanmu masih panjang sayang. Tidak seharusnya kau meredupkan hidupmu sendiri karena cintamu kepada almarhum kekasihmu Kyu. Justru kau seharusnya menjadikan cintamu kepadanya, semangat dan peganganmu untuk menemukan cinta baru yang mampu menjaga kenangan kekasihmu dan tidak membuatmu melupakannya.”

“Adakah cinta seperti itu eonnie? Apakah orang itu akan mencintaiku sepenuhnya di saat aku sendiri belum tahu apakah aku tulus mencintainya atau karena secara fisik dia mirip dengan almarhum kekasihku. Aku tidak mau jika ternyata aku mencintainya karena aku melihat bayang-bayang kekasihku padanya. Dia terlalu baik untuk kuperlakukan seperti itu.” Ucapku ragu. Aku ragu karena cinta seperti itu memerlukan pengorbanan yang besar dan hati yang kuat karena pada dasarnya aku akan menduakan cinta baruku itu. Walau jika aku memikirkan orang itu, aku yakin dia melebihi kriteria itu semua. Ah aku mulai lagi dengan keegoisanku. Meskipun orang itu mampu, apa aku tega menempatkannya pada posisi menyulitkan itu. Keraguanku selalu membayangiku sampai perkataan Jaejoong eonnie selanjutnya seperti menamparku dengan keras dan membuatku sadar.

“Aku setuju Kyu. Kau harus tulus jika kau mencintai seseorang. Jangan jadikan dia pengganti kekasihmu. Akan tetapi Kyu, jika cinta barumu menyayangimu, dia akan menerima semua yang ada pada dirimu. Termasuk kenangan dan cintamu kepada kekasih lamamu. Asalkan kau bisa membedakan mana yang masih bersamamu dan mana yang kenangan.” Mana yang bersamaku dan mana yang kenangan. Kalimat itu serasa menusuk hatiku. Oh Kyuhyun bodoh, mengapa itu tak pernah terpikirkan olehmu. Aku merutuki kebodohanku sendiri.

Siwon, ya aku bisa bilang bahwa orang yang mulai aku cintai itu adalah dia, memiliki hati yang kuat melebihi siapa pun yang aku kenal. Karena jika tidak, dia tidak mungkin mau menyanggupi permintaan kakaknya walau hanya sekedar ingin membuatnya tenang di alam sana. Orang biasa pasti akan sangat terbebani dan hanya akan sekedar menjalankan permintaan itu sebatas permukaan. Tapi Siwon, dia melebihi itu semua. Perhatiannya dan kebaikannya yang ditujukan untukku memang tulus dari dirinya. Aku tahu bahwa di salah satu bagian dari dirinya, Siwon juga mencintaiku. Katakan aku terlalu percaya diri. Katakan aku gila, tapi aku bisa merasakan itu. Dan aku baru saja membuang itu semua karena kebimbanganku sendiri.

“Terima kasih eonnie.” ucapku sambil menatap Jaejoong eonnie dan memberikan senyuman tulus yang setelah beberapa waktu ini tak bisa muncul dari diriku. Aku tertawa kecil sambil mengambil tangan Jaejoong eonnie dari pipiku dan menggenggamnya erat, menyalurkan rasa terima kasihku karena dia mau mendengarkanku dan mau memberikan aku saran. Memang benar, aku akan selalu bisa mengandalkannya untuk membantuku. Mungkin setiap saran dan pendapat yang dia berikan berasal dari perjalanan hidupnya yang juga tidak mudah sampai akhirnya Jaejoong eonnie bisa menemukan tambatan hatinya. Bicara soal tambatan hati Jaejoong eonnie, aku melihat dari balik punggung Jaejoong eonnie, lelaki yang mengisi relung hatinya berjalan dengan anggun menuju kami berdua.

“Boojae.” Panggil pria itu lembut membuat Jaejoong eonnie membalikkan tubuhnya dan langsung berdiri sambil mengalungkan lengannya ke leher pria itu.

“Yunnie.” Balas Jaejoong memanggil pria itu dengan sedikit nada manja. Aku tertawa lagi melihat betapa manjanya Jaejoong eonnie saat dia bersama dengan pria itu. Pria itu, Jung Yunho, adalah salah satu modelku juga sama seperti Jaejoong eonnie. Mereka berdua sudah berhubungan cukup lama dan dari sumber yang aku dengar mereka akan segera menikah. Dan jika benar, berarti harus aku yang mendesain gaun pengantin Jaejoong eonnie.

“Ayo kita pulang.” sahut Yunho sambil melepaskan lengan Jaejoong dari lehernya hanya untuk menggenggamnya lalu mengajaknya untuk pergi.

“Sebentar sayang.” Pinta Jaejoong eonnie kemudian berbalik ke arahku.

“Kyu, ingat kata-kataku tadi. Dan jika kau perlu teman untuk berbagi, kau bisa langsung menghubungiku.” Ucap Jaejoong eonnie sebelum akhirnya pergi bersama dengan Yunho. Dia sempat melambaikan tangannya kepadaku dan aku balas pula dengan lambaian tangan.

Aku rasa sudah saatnya aku berbicara serius dengan Siwon lagi. Tak ada gunanya jika aku membiarkan masalah ini berlarut-larut seperti sekarang. Siwon mendiamkanku karena dia mengira aku telah menolaknya, menolak niat baiknya untuk menggantikan posisi Shiyuan menjagaku. Tapi dia harus tahu bahwa aku tidak mau dia hanya menjadi pengganti Shiyuan. Dia lebih berharga jika hanya untuk melakukan itu. Dia bukan Shiyuan dan tidak akan pernah menjadi Shiyuan. Dia Siwon dan dia adalah alasanku untuk berjuang demi kebahagiaan baruku.

Hhh.. Shiyuan. Aku mencintaimu. Selalu dan akan mencintaimu. Tapi cintaku padamu akan lebih menjadi kenangan indah. Aku tidak akan pernah melupakanmu walau aku jatuh cinta kepada orang lain. Kau akan selalu punya tempat di hatiku. Dan aku akan melakukan hal yang kau mau Shiyuan. Aku akan bahagia. Dan jika kebahagian itu terdapat pada malaikat yang kau utus untuk bersamaku dan mejagaku, maka aku akan mengikutinya. Semoga saja aku belum terlambat untuk menggapai hati malaikat penjaga itu.

TBC

Advertisements