Tags

, , , , , ,

Title : Don’t Leave Me 4

Pairing : Wonkyu, a bit Yunjae, Siblings!Minsu

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Warning : Un-betaed, GS, OOC, AU

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

“Kyu, ingat kata-kataku tadi. Dan jika kau perlu teman untuk berbagi, kau bisa langsung menghubungiku.” Ucap Jaejoong eonnie sebelum akhirnya pergi bersama dengan Yunho. Dia sempat melambaikan tangannya kepadaku dan aku balas pula dengan lambaian tangan.

Aku rasa sudah saatnya aku berbicara serius dengan Siwon lagi. Tak ada gunanya jika aku membiarkan masalah ini berlarut-larut seperti sekarang. Siwon mendiamkanku karena dia mengira aku telah menolaknya, menolak niat baiknya untuk menggantikan posisi Shiyuan menjagaku. Tapi dia harus tahu bahwa aku tidak mau dia hanya menjadi pengganti Shiyuan. Dia lebih berharga jika hanya untuk melakukan itu. Dia bukan Shiyuan dan tidak akan pernah menjadi Shiyuan. Dia Siwon dan dia adalah alasanku untuk berjuang demi kebahagiaan baruku.

Hhh.. Shiyuan. Aku mencintaimu. Selalu dan akan mencintaimu. Tapi cintaku padamu akan lebih menjadi kenangan indah. Aku tidak akan pernah melupakanmu walau aku jatuh cinta kepada orang lain. Kau akan selalu punya tempat di hatiku. Dan aku akan melakukan hal yang kau mau Shiyuan. Aku akan bahagia. Dan jika kebahagian itu terdapat pada malaikat yang kau utus untuk bersamaku dan mejagaku, maka aku akan mengikutinya. Semoga saja aku belum terlambat untuk menggapai hati malaikat penjaga itu.

( 。・_・。)(。・_・。 )

“Kyuhyun-ssi. Maaf menggangumu, kau dicari oleh Ryeowook-ssi.” Aku tersentak dan langsung menoleh kebelakangku. Di sana aku menemukan Siwon sedang berdiri dengan tas punggung yang disampirkan di bahunya. Dia kelihatan mau pulang. Ya wajar saja, latihan untuk pergelaran sudah selesai dan fitting baju juga sudah selesai.

“Kyuhyun-ssi. Kau mendengarku? Kau dicari Ryeowook-ssi.” Ucapnya menyadarkanku dari lamunanku sendiri. Aku mengangguk lemah sebelum bangun dari tempat dudukku. Aku melihat Siwon membungkuk sedikit kemudian bermaksud pergi dari tempatku sekarang. Ternyata benar dugaanku bahwa Siwon hanya berbicara denganku untuk urusan pekerjaan saja. Dia sepertinya masih enggan untuk bicara denganku tentang kami.

“Siwon-ssi! Tunggu!” cegahku sebelum Siwon pergi lebih jauh. Dia berhenti namun tidak membalikkan tubuhnya. Melihatnya bersikap seakan aku tidak ada atau aku ini seperti orang asing baginya, membuatku sakit. Mengapa sikapnya harus berubah sedrastis ini? Oke, memang sebagian besar sikapnya seperti itu karena salahku tapi aku tidak mengira akan seburuk ini.

“Siwon-ssi tolong lihat aku.” Ucapku sedikit memelas. Namun Siwon tidak bergeming sama sekali. Dia justru kembali berjalan.

“Siwon!” seruku sambil mencekal lengannya agar dia berhenti. Aku merasakan tubuhnya menegang sehingga aku melepaskan cekalanku, walau di satu sisi aku takut dia akan mencoba pergi lagi. Beruntung Siwon tetap ditempatnya, dia bahkan berbalik dan menghadap ke arahku.

“Ada apa Kyuhyun-ssi? Maaf tapi jika tidak ada yang penting, aku harus segera pulang. Aku harus berkemas.” Ucapnya datar. Tapi aku tidak begitu perduli dengan nada suaranya. Aku hanya mendengar kata berkemas. Siwon berkemas? Memang dia mau pergi kemana?

“Aku disini hanya sampai pargelaran selesai Kyuhyun-ssi. Setelah itu aku akan langsung kembali ke Inggris. Apa kau lupa bahwa aku hanya model pengganti.” Ujarnya. Ah benar juga. Dia akan selesai pada pergelaran besok karena Changmin sudah bisa bekerja kembali. Bagaimana ini? Besok adalah hari terakhirku bersamanya.

Sementara aku bergumul dengan pikiranku sendiri, aku mendengar suara tawa dari Siwon. Aku langsung melihat ke arah Siwon dengan pandangan heran, berharap dia mau menjelaskan kenapa dia tertawa. Namun bukan jawaban yang aku terima melainkan tawa Siwon semakin menjadi karena melihat tampang bingungku.

Dia satu sisi aku sedikit kesal karena Siwon menertawakanku tapi di satu sisi aku aku juga tidak perduli jika dia tertawa semakin keras. Aku hanya lega dia mau menampakan tawa dan senyum itu lagi dihadapanku.

“Kau tampaknya tidak sadar telah mengucapkan semua yang ada dibenakmu dengan jelas kepadaku ya. Kau lucu sekali.” Ucap Siwon setelah tawanya mereda. Kyuhyun tersenyum melihat wajah berbinar Siwon. Kyuhyun merasa sudah lama tidak melihat Siwon seperti itu.

“Kau juga tampan jika kau tertawa seperti itu Siwon.” Senyum Siwon langusng menghilang setelah perkataanku tadi terlontar dari bibirku. Dia menatapku terkejut lalu sedetik kemudian wajahnya berubah datar lagi. Sepertinya aku salah bicara. Ah! Kenapa aku tidak bisa menahan ucapanku.

“Terima kasih atas pujiannya Kyuhyun-ssi. Tidak biasanya kau memujiku seperti tadi.” Sahut Siwon datar. Aku jadi salah tingkah sendiri.

“Um… Ya…”

“Lalu kau ingin bicara apa?” tanya Siwon.

“Itu.. aku ingin..” Aku menghentikan sejenak ucapanku karena aku ingin perhatian Siwon sekarang tertuju kepadaku. Saat mata hitamnya memandangku lekat, dadaku berdesir sama seperti saat aku bersama dengan Shiyuan. Sama, bahkan mungkin lebih berdebar dibandingkan saat aku bersama dengan Shiyuan. Oh Tuhan, ternyata aku memang mencintainya.

“Aku ingin bicara denganmu. Tentang Shiyuan. Tentang kita.” Lanjutku sambil tersenyum tulus kepadanya. Aku menunggu reaksi Siwon seperti apa. Aku berharap dia akan bertanya apa aku mencintainya atau apapun juga. Aku tidak menduga Siwon menghela nafas seakan perkataanku adalah beban baginya.

“Kyuhyun-ssi, jika ini masalah tentang janjiku dengan Shiyuan hyung, aku sudah bilang bahwa kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membebanimu jika kau terganggu dengan kehadiranku.”

“Tapi aku..”

“Setelah pergelaran ini berakhir, aku akan menghilang dari hidupmu dan kau bisa kembali ke kehidupanmu tanpa ada bayang-bayang Shiyuan hyung. Kau…”

“Bisakah kau berhenti bicara dan dengarkan aku?! God!” sergahku cepat. Ternyata dia sama saja seperti Shiyuan. Suka mengambil kesimpulan sendiri. Aku menarik nafas sebelum mengatakan apa yang sudah aku siapkan ketika aku bisa bertemu empat mata dengan Siwon. Kali ini aku akan menyelesaikan semuanya sampai tuntas. Aku tidak mau menyesal dan aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai dua kali.

“Waktu itu, waktu kita bicara tentang Shiyuan di balkon, aku tidak bermaksud menolak kebaikanmu untuk menjagaku Siwon.”

“Kyuhyun-ssi.”

“Diam dan biarkan aku selesai bicara. Jangan memotong ucapanku.” Tukasku tegas. Siwon menatapku sayu dan akhirnya mengangguk. Aku kembali tersenyum lalu melanjutkan lagi perkataanku.

“Seperti yang aku bilang tadi, aku tidak bermaksud menolak kebaikan hatimu. Aku hanya bingung dengan semua ini. Maksudku, kau juga pasti kaget saat tahu bahwa model yang bekerja denganmu terlebih lagi dia bagaikan pinang dibelah dua dengan almarhum kekasihmu ternyata memiliki hubungan darah dengannya.” Sahutku sambil meraih tangan Siwon dan menggenggamnya. Siwon sedikit tersentak namun dia membiarkan tanganku menggenggam tangannya. Aku melirik sedikit ke arahnya dan aku yakin aku melihat semburat merah di pipinya. Dia lucu sekali.

“Kau juga pasti akan kaget jika orang tersebut mengatakan bahwa almarhum kekasihmu itu memintanya untuk menjagamu. Kau pikir bagaimana perasaanku menerima kenyataan itu. Kau mengerti maksudku bukan Siwon?!” Siwon hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku rasa dia mengerti bagaimana aku sulit menerima kenyataan bahwa Shiyuan meminta sesuatu yang terlalu berat bahkan untuk adiknya sendiri. Shiyuan seharusnya bisa mengerti, bagaimana mungkin aku bisa bersama seseorang tanpa adanya perasaan lain. Apalagi orang itu mirip dengannya. Aku pasti akan selalu membandingkan dia dengan Shiyuan. Namun setelah bicara dari hati ke hati dengan Jaejoong eonnie, aku bisa melepas itu semua. Siwon adalah Siwon. Shiyuan adalah Shiyuan. Mereka dua orang yang berbeda. Dan aku mencintai keduanya.

“Maka dari itu, kau paham bahwa aku dilema saat itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kau tidak tahu betapa peliknya perasaanku karena menyadari bahwa jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku sudah mulai mencintaimu, akan tetapi di satu sisi aku tidak mau mengkhianati Shiyuan. Terlebih lagi kau selalu mengatakan bahwa kau akan menjagaku demi menuaikan janjimu kepada Shiyuan. Apa kau paham apa yang aku mmmpht..” aku membelalakan mataku kala ucapanku terputus begitu saja. Bibir Siwon menghentikan setiap kata-kata yang ingin aku sampaikan kepadanya. Ciumannya terasa begitu menekan dan tergesa-gesa. Dia sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk membalas ciumannya. Namun beberapa menit kemudian, ciuman Siwon menjadi lebih lembut walau masih mendominasi. Dia mulai memberiku kesempatan untuk membalas ciumannya dan hal itulah yang aku lakukan. Aku mengulum bibir atas Siwon sementara dia mengulum bibir bawahku.

Apa ciuman kami terlalu cepat dan bergairah? Mungkin. Tapi bagi kami ini yang tepat kami lakukan berdua. Kami merasakan seakan jika kami tidak berbagi seperti ini, maka kami tidak akan bisa menyampaikan isi hati kami. Setelah merasa kapasitas udara di paru-paru kami menipis, mau tidak mau kami melepaskan tautan bibir kami.

“Kau mencintaiku? Aku? Dan bukan sebagai pengganti Shiyuan hyung?” Pertanyaan Siwon tadi sedikit membuatku kesal. Sesudah kami berciuman seperti tadi, dia masih saja menanyakan apakah aku mencintainya secara tulus dan bukan sebagai pengganti Shiyuan. Ternyata dia lebih bodoh daripada Shiyuan. Tapi dia adalah si bodoh milikku. Siwon milikku.

“Perlukah kau bertanya jika kau sudah memakan bibirku seperti itu?” tanyaku balik. Dia menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin tidak gatal. Kami terdiam sesaat sampai Siwon melingkarkan kedua lengan kekarnya di bahuku dan menarik tubuhku kedalam dekapannya. Siwon memelukku erat. Terlalu erat sampai aku sedikit kesulitan bernafas, namun aku membiarkannya saja. Karena pelukannya adalah yang aku butuhkan saat ini. Kehangatannya adalah sesuatu yang membuatku sadar bahwa aku masih hidup, bahwa aku bukan boneka lagi yang hanya terus berjalan tanpa adanya roh semenjak kepergian Shiyuan.

Aku membalas pelukan Siwon dengan melingkarkan lenganku di pinggang dan punggungnya. Aku memeluk Siwon sama eratnya dengan pelukan Siwon di tubuhku. Aku pun menenggelamkan wajahku di dadanya, mencoba menghirup aroma tubuhnya yang bercampur dengan cologne yang selalu dipakainya. Aroma tubuhnya menyatakan sekali lagi bahwa pria yang mendekapku ini bukanlah Shiyuan, melainkan Siwon.

Dalam dekapannya, sesekali Siwon mengecup pucuk rambutku, keningku, lalu membelai lembut rambutku sampai ke punggungku. Sentuhannya berbeda dengan Shiyuan. Sentuhan Siwon lebih membuatku merinding, bukan merinding takut tapi merinding karena aku belum pernah merasakan sentuhan senyaman ini, bahkan dari Shiyuan sekalipun. Apakah ini pertanda dari Tuhan bahwa Siwon memang orang yang ditakdirkan untukku? Semoga saja, karena meskipun bukan, aku tidak akan melepaskan dirinya lagi. Melepas seorang Choi Siwon, malaikat yang dikirim oleh Shiyuan untuk mengisi hari-hariku dan menemaniku. Selalu.

Sembilan Tahun Kemudian

Aku berdiri di depan sebuah makam yang sudah lama tidak aku kunjungi. Aku meletakan sebuket bunga di makam tersebut dan mengatupkan kedua tanganku, menutup mataku dan mendoakan seseorang yang telah dikubur di makam tersebut. Aku terus berdoa dengan serius sampai satu suara memanggilku dengan lantang.

“Mommy! Minho-hyung nakal!!” teriak suara tersebut yang membuatku membuka mataku dan berdiri lalu berbalik ke arah suara yang memanggilku tadi. Aku bisa melihat seorang anak laki-laki berusia lima tahun berlari ke arahku meninggalkan satu anak laki-laki lainnya di belakang.

Aku tertawa melihat tingkah lucu kedua jagoan kecilku itu. Mereka selalu saja bertengkar meski sebenarnya si sulung hanya ingin menggoda si bungsu karena jika si bungsu sedang merajuk, wajahnya akan terlihat lucu dan imut. Si bungsu, Choi Suho, akhirnya sampai ketempatku berdiri dan memeluk kakiku. Dia menyembunyikan dirinya dari Choi Minho, sang kakak. Aku masih tertawa ketika aku mengangkat Suho dan menggendongnya.

“Sayang, kenapa lagi sih? Memang hyungmu nakal seperti apa?” tanyaku lembut.

“Hyung menjahiliku dengan memberikan kodok-kodok yang dia temukan tadi mommy. Aku takut dan jijik. Hyung nakal!!” pekiknya setelah mengadu kenakalan Minho terhadapnya. Aku semakin gelid an tertawa karena wajah Suho yang begitu lucu sedangkan Minho sendiri sama sekali tidak merasa bersalah dan justru kembali menyodorkan seekor kodok ke arah Suho yang masih dalam gendonganku.

“Argh!! Hyung!! Huwe…!!” akhirnya Suho menangis juga. Aku sedikit kaget dengan lekingan tangisnya itu dan dengan segera membelai punggungnya, mencoba menenangkannya. Sedangkang Minho, anakku itu sudah pasti kaget dan kelabakan sendiri ketika adik kesayangannya itu menangis. Aku tahu kenapa dia terlihat khawatir. Selain memang karena dia sayang dengan baby Suho tapi dia juga sebenarnya takut dengan apa yang akan datang jika si kecil sudah menangis seperti ini. 3…2…1…

“Choi Minho!!” benar bukan. Si kuda galak akan datang jika sudah mendengar tangisan putra bungsunya. Aku melihat Minho mengikuti jejak adiknya yaitu berlindung di balik kakiku. Aku tersenyum melihat raut wajah cemas dan takut dari Minho. Ayahnya memang sedikit menakutkan jika sedang menerapkan disiplin. Sama seperti kakek mereka. Aku tadinya ingin membiarkan suamiku menangani kejahilan Minho, tapi berhubung aku juga tahu kalau Minho tidak bermaksud membuat adiknya menangis, aku jadi kasihan juga.

“Minho. Kenapa kau membuat adikmu menangis lagi?!” tegas Choi Siwon, suamiku. Ya, suamiku. Kami menikah delapan tahun yang lalu setelah kami berpacaran jarak jauh selama sepuluh bulan karena dia harus menyelesaikan semua urusannya di Inggris sebelum akhirnya menetap di Korea bersamaku dan membangun usaha rumah mode kami bersama.

“Aku tidak tahu kalau Suho-ah akan menangis daddy…” lirih Minho sekuat tenaga menahan tangisnya. Anak ini begitu ingin seperti ayahnya sehingga ketika Siwon mengatakan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis, Minho sering sekali menahan airmatanya. Padahal dia masih anak-anak, sudah sepatutnya jika dia merasa sedih atau sakit maka dia menangis. Tapi tidak, karena Siwon begitu berkarisma dan terlihat tangguh dimatanya, maka Minho mengidolakannya dan selalu mengikuti apa yang dilakukan oleh Siwon. Minho berusaha menjadi pria sejati seperti ayahnya.

Aku menatap Siwon setelah Minho berkata seperti itu. Aku ingin melihat reaksi kuda bodoh ini jika melihat anaknya menahan tangis dan menatapnya takut seperti itu. Dan apa yang aku pikirkan ternyata benar. Dibalik sikap tangguhnya, Siwon memiliki hati yang lembut. Mana bisa dia berlama-lama marah kepada buah hatinya. Yang ada juga Siwon terlalu memanjakan kedua putra kami.

“Lalu kenapa baby Suho menangis sayang? Kau ingat kesepakatan kita bukan?” tanya Siwon melembut dan dengan perlahan meraih lengan kecil Minho untuk mendekat ke arahnya. Aku memutar mataku malas. Siwon memang menakutkan jika sedang marah, tapi marahnya itu hanya sebentar. Sekarang dia justru menggendong Minho dan membelai rambutnya seakan Minho tidak berbuat salah sama sekali. Tapi, lupakan itu, aku penasaran dengan kesepakatan mereka. Memangnya Minho dan Siwon berjanji hal apa satu sama lain?

“Ingat daddy. Minho boleh menjahili asalkan tidak sampai Suho menangis.”

“Yeobo!!” aku sedikit tercengang mendengar kesepakatan mereka. Itu berarti Siwon membenarkan Minho untuk menjahili adiknya. Pantas saja aku sering melihat Minho terus menerus menjahili suho meski tidak sampai menangis.

What?”

“Kenapa kau membuat kesepakatan itu dengan Minho? Itu sama saja kau menyetujui Minho menjahili Suho.”

“Habisnya…”

“Kenapa?”

“Suho itu lucu sekali jika merajuk baby. Dan jika dia merajuk, Suho pasti akan datang kepadamu atau kepadaku.”

“Lalu kau senang bisa memeluk-meluk baby Suho bukan?!” cibirku dan kejengkelanku semakin bertambah ketika dengan tidak malunya suamiku itu mengangguk dengan mantap. Aku mencubit hidung mancungnya itu, menimbulkan tawa geli dari Minho.

“Kau itu bisa setiap saat memeluknya Siwonnie. Tidak perlu sampai membuat dia dijahili oleh Minho terus.” Sahutku kesal karena aku tidak mengerti, ayah mana yang senang sekali melihat wajah cemberut anak kandungnya sendiri.

“Tapi wajah merajuknya itu sangat mirip denganmu sayang. Aku suka sekali.” Oh Tuhan, jika aku bisa menamparnya agar otaknya berjalan dengan normal pasti sudah aku lakukan. Tapi mengingat ada Minho dan Suho digendonganku, niat itu aku urungkan. Ya, aku masih bisa menghukum Siwon nanti.

“Kalian ayah dan anak sama saja.” Dengusku lalu mengalihkan pandanganku ke arah Minho.

“Sudahlah. Minho sayang, sekarang Minho minta maaf sama baby Suho ya. Kasihan baby Suho ketakutan sama kodok Minho.” Ucapku kepada Minho yang berada di gendongan Siwon. Anak tampanku mengangguk lalu menepuk punggung Suho, meminta secara tidak langsung agar adiknya berbalik dan berhenti bersembunyi dari leherku.

“Suho-ah, hyung minta maaf. Nanti Suho-ah boleh main dengan mainan hyung.” sahut Minho meminta maaf dan mengusap pipi gembil Suho, bermaksud menghapus airmata Suho. Suho sendiri masih terisak namun matanya menatap Minho secara langsung.

“Benarkah?” tanyanya ragu. Minho mengangguk mantap lalu mengarahkan tangannya ke rambut Suho.

“Benar. Jadi maafkan hyung ya.” Suho akhirnya tersenyum lalu mengangguk, memaafkan Minho. Aku tersenyum senang karena memiliki anak-anak baik dan penurut seperti mereka. Siwon pun pasti berpikir hal yang sama karena aku bisa melihat senyum lesung pipi kebanggan tersungging di wajahnya. Dia sendiri mendekat ke arahku dan mengecup singkat pelipis dan rambutku.

“Anak-anak mommy memang pintar. Ayo sayang, beri salam kepada uncle kalian.” Ajakku kepada Suho dan Minho untuk memberi salam kepada Shiyuan. Mereka berdua menundukkan kepala mereka dan mengikuti caraku berdoa tadi.

Aku memang bahagia sekarang. Sangat bahagia. Pilihanku untuk mengikuti kata hatiku dan mengenyahkan semua ragu tentang perasaanku dan perasaan Siwon terbayarkan sudah. Aku menikah dengan Siwon dan memiliki dua buah hati Minho yang berusia 7 tahun dan Suho, 5 tahun. Meski awal pernikahan kami terasa berat karena emosi diriku yang labil dan tiba-tiba saja selalu membandingkan antara Siwon dan Shiyuan, pada akhirnya cinta kami mengalahkan itu semua. Kami bisa terus bersama dan dengan kehadiran buah cinta kami berdua, hartaku lengkap sudah. Siwon adalah pendampingku dan itulah kenyataannya. Aku akan selalu mencintainya. Dulu, sekarang, dan sampai nanti. Aku memandang langit dan tersenyum.

Shiyuan, terima kasih karena kau telah mengirimkan Siwon kepadaku. Dia adalah hadiah terbaik yang pernah kau berikan untukku. Jagalah kami. Jagalah kedua buah hatiku, keponakanmu yang lucu. Jagalah keluargaku.

Semoga kau tenang sayang. Semoga kau juga bahagia disana seperti aku bahagia disini. Sekali lagi terima kasih dan selamat tinggal.

END

Advertisements