Tags

, , , ,

Someday We'll Know Rev

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Someday We’ll Know 5

Pairing : Wonkyu, Yunjae

Genre : Romance, Angst, Family

Rating : PG

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster belong to @SuciiCho

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, a little mention of drugs used, Several OC, a rather fast plot, OOC, AU

Summary : Where is happiness? Only yourself could answer that.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

“Ya, ahjussi Choi memang orang yang hebat. Sayangnya dia mempunyai anak sepertimu.” Siwon yang mendengar Kyuhyun berbicara seperti itu, langsung mendelikkan matanya dan pura-pura marah padanya.

“Yah!!” Kyuhyun tertawa melihat mata Siwon yang melebar akibat godaannya tadi. Kyuhyun melepas tangannya untuk menutup mulutnya saat dia tertawa. Bagaimana pun dia masih menyadari bahwa dia seorang perempuan. Sementara itu Siwon yang melihat tawa Kyuhyun yang begitu indah dimatanya, menjadi ikut tertawa. Siwon serasa melepas sedikit kesedihannya akibat kepergian Seungwoo. Dia juga seakan melupakan sejenak bahwa Kyuhyun sudah memiliki seorang kekasih. Entah karena apa, tapi berada di dekat Kyuhyun seperti ini membawa nuansa lain terhadap Siwon. Siwon tidak mengira bahwa dia bisa bercanda seperti sekarang dengan gadis yang pertama kali membuatnya jengkel dan kemudian membuatnya tambah kerepotan dengan segala ulah usilnya selama dia bekerja dengan keluarga Jung.

Keduanya terus tertawa sampai beberapa saat. Ketika tawa mereka reda, entah pengaruh apa yang membuat mereka saling menyilangkan tangan mereka ke satu sama lain. Lengan ramping Kyuhyun memeluk leher Siwon sedangkan lengan kekar Siwon memeluk pinggang Kyuhyun. Siwon menyusupkan kepalanya di pertemuan antara bahu dan leher Kyuhyun. Kyuhyun sendiri membelai lembut rambut Siwon. Kyuhyun merasakan daerah sekitar leher dan bahunya basah. Menyadari bahwa Siwon menangis, Kyuhyun semakin memperat pelukannya. Keduanya terus berpelukan sampai Siwon yang melepas lebih dulu. Dia menyeka wajahnya dan tersenyum kepada Kyuhyun.

“Terima kasih Kyu. I really need a shoulder to cry on.”

“Ya baguslah aku yang melihatmu menangis. Coba kalau gadis lain, kau sudah tidak laku lagi. Mana ada yang mau sama lelaki cengeng sepertimu.”

“Betul juga. Untung kamu yang melihat Kyu. Sayang, kau sudah punya pacar. Coba kalau masih sendiri, aku mau juga daftar jadi pacarmu.” Kyuhyun langsung terdiam ketika mendengar Siwon berbicara seperti itu. Kyuhyun tidak tahu mengapa, tapi hatinya kecewa saat Siwon mengingatkan dia akan statusnya yang kekasih Yunho. Siwon juga menyadari apa yang baru dia katakan dan ikut terdiam. Siwon tidak tahu apa yang harus lakukan jika dia berada di situasi seperti ini. Mencoba mengakhiri kebisuan yang canggung ini, Siwon membuka suaranya.

“Um.. Kyu, apa sudah selesai?” tanya Siwon canggung sambil mengarahkan jarinya pada luka-luka diwajahnya. Kyuhyun sedikit tersentak mendengar suara Siwon, namun dia bisa segera mengendalikan dirinya dan meraba wajah Siwon sekali lagi.

“Ah.. Tidak, aku belum selesai.”

“Sudahlah Kyu, biar aku lakukan sendiri. Lagipula aku sudah tidak merasa sakit lagi.”

“Diam dan biarkan aku berkerja. Aku tidak mau Yoo ahjussi sampai menegurku karena dia melihat tampangmu masih berantakan seperti ini.”

“Terserahmu sajalah.” Siwon menyerah. Dia membiarkan Kyuhyun menyelesaikan tugasnya. Mereka berdua terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri sampai tidak menyadari seseorang menatap mereka sejak awal mereka berpelukan. Mata itu menatap keduanya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Kangin P.O.V

Apa yang sedang dilakukan oleh Siwon dengan gadis itu? Mereka kelihatan akrab. Aku baru saja akan menghampiri mereka ketika aku melihat mereka berpelukan. Seketika itu juga aku menghentikan langkahku. Keduanya begitu larut dalam suasana kebersamaan mereka sampai tidak menyadari kehadiranku yang hanya berjarak beberapa langkah dari mereka. Aku menyaksikan keduanya seperti sedang menyalurkan kehangatan dan perasaan terdalam kepada satu sama lain. Dibenakku aku bertanya apakah Siwon memiliki hubungan khusus dengan gadis itu. Tapi kenapa Siwon tidak pernah menceritakan soal gadis itu jika benar mereka memiliki hubungan. Siwon selalu menceritakan semua hal padaku.

Saat mereka mulai melepaskan diri dari kaitan lengan mereka, aku baru berani mendekati mereka kembali. Aku masih melihat mereka saling melayangkan canda dan saat aku memberitahu mereka akan kehadiranku, aku melihat raut wajah gadis itu menjadi merah seperti kepiting rebus. Dia segera menjauhkan dirinya dari Siwon. Siwon yang menyadari sikap gadis itu setelah mengetahui kedatanganku hanya menaikkan salah satu alisnya. Mungkin Siwon heran kenapa gadis itu seakan malu dengan kehadiranku.

“Hyung.” panggil Siwon menyadarkanku dari pikiranku tentang gadis ini. Gadis itu juga tersentak ketika mendengar suara Siwon. Dia melihat kearah Siwon dan aku bergantian dengan tatapan bingung yang menurutku sangat imut. Jika aku perhatikan gadis ini lumayan cantik, manis pula. Walau dia bukan seleraku. Tiba-tiba aku baru sadar bahwa aku sama sekali tidak mengetahui nama gadis ini. Belum ada yang memperkenalkan dia padaku. Saat dimobil tadi dia juga terus saja adu mulut dengan Siwon sehingga aku tidak sempat menanyakan namanya. Aku melirik kearah Siwon dan memberi tanda padanya untuk mengenalkan gadis ini padaku. Siwon mengerti maksud tatapanku sehingga dia beralih pada gadis disampinya itu.

“Kyuhyun. Kurasa kau belum mengenal Kangin hyung. Hyung, dia Cho Kyuhyun, anak perempuan dari dokter Cho.” Aku agak terperanjat mendengar bahwa gadis ini anak dokter Cho. Aku pikir dokter Cho belum menikah.

“Dokter Cho punya anak juga ya?! Aku kira dia tidak menikah karena terlalu cinta sama pekerjaannya.”

“Hyung!” Aku tertawa geli melihat ekspresi Siwon. Dia menggerakan bola matanya kearah Kyuhyun, mengisyaratkan agar aku tidak berbicara yang bukan-bukan didepan gadis ini. Yang benar saja. Aku tidak berbicara hal yang tidak sopan. Hanya mengutarakan apa yang ada dibenakku.

“Asal tahu saja ya. Walaupun appaku jarang pulang karena mengurusi pasiennya, tapi dia itu appa yang paling baik. Dasar beruang bodoh.”

“Kyu!!” Tawaku langsung hilang mendengar Kyuhyun mengejekku dengan kata beruang bodoh. Gadis ini mulutnya berbicara lebih cepat daripada otaknya. Aku tahu Siwon cemas saat melihat raut wajahku yang garang. Dia secara tidak sadar mendekatkan dirinya menghalangi pandanganku dari Kyuhyun. Sepertinya Siwon ada hati dengan gadis ini. Aku tak pernah melihat dia bersikap seprotektif ini kepada gadis mana pun. Padahal aku tidak bermaksud melakukan apa-apa.

“Hyung maafkan dia. Mulutnya memang suka seenaknya sendiri.” Bela Siwon. Aku semakin penasaran dengan hubungan mereka berdua. Siwon benar-benar kelihatan khawatir jika aku marah terhadap Kyuhyun. Aku melihat Siwon membalikan sedikit badannya agar bisa menatap Kyuhyun.

“Kyuhyun. Cepat minta maaf pada Kangin hyung. dan kau seharusnya memanggil dia oppa. Dia jauh lebih tua daripada dirimu. Dia saja jauh lebih tua daripada aku. Kita harus menghormati orang yang lebih tua Kyu.” Tunggu dulu. Siwon itu sebenarnya sedang membela Kyuhyun atau sedang menggodaku. Dasar kuda bodoh ini.

“Bisakah kau tidak mengucapkan kata tua terus menerus Choi Siwon, dasar kuda bodoh!” tukasku sambil memukul bagian belakang kepalanya. Siwon mengerang kesakitan walau aku tahu dia hanya pura-pura. Aku tidak memukulnya sekeras itu.

“Hahaha.. ternyata julukan kita sama oppa. Siwon si kuda bodoh.” Kyuhyun tertawa geli melihat tingkah kami berdua. Oh, ternyata dia juga memiliki julukan yang sama denganku untuk Siwon. Sepertinya gadis ini tidak buruk juga dan aku mulai tahu mengapa Siwon bisa tertarik pada Kyuhyun. Gadis ini menampilkan dirinya apa adanya.

“Hm. Tampaknya aku mulai suka dengan gadis ini, Siwon.” Siwon memandang kami bergantian dan menghela nafasnya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan aku dan Kyuhyun hanya tertawa bersama melihat tingkah Siwon yang seakan kalah karena kami berdua sepakat menggodanya.

Kami saling bercakap-cakap dan bensendau gurau sampai kami bertiga dipanggil oleh Hyori-ssi untuk makan siang. Kami segera bangun dan beranjak ke ruang makan untuk menyantap masakan yang telah tersedia.

Gazebo di Taman Belakang Kediaman Keluarga Yoo

Aku, Siwon dan Kyuhyun bersantai sambil berusaha saling mengenal, terlebih lagi aku dan Kyuhyun ketika ada salah satu pelayan dirumah keluarga Yoo ini menghampiri kami. Dia membungkuk sebelum akhirnya berbicara dengan Siwon.

“Maaf mengganggu tuan muda Siwon, ada tamu untuk anda di depan.” Wajah Siwon langsung berubah menjadi masam ketika pelayan itu memanggilnya dengan sebutan tuan muda.

“Sudah berapa kali aku katakan ahjussi, jangan panggil aku dengan tuan muda.” Sahut Siwon mengingatkan.

“Tampaknya ada seseorang yang mengikuti ucapanku.” Ujar Kyuhyun sambil tertawa kecil. Aku melihat dia dan Siwon tertawa bersama penuh arti. Ya, mungkin mengingat sesuatu yang lucu yang pernah terjadi antara mereka berdua.

“Sudahlah. Aku kedepan dulu.” Sahut Siwon sambil berdiri dan beranjak masuk kerumah dan menuju ke pintu depan rumah ini untuk menemui tamunya tersebut. Aku ikut berdiri bersama dengan Kyuhyun mengikuti Siwon. Siwon sempat menghentikan langkahnya dan menatap kami berdua heran.

“Kenapa kalian ikut?” tanyanya. Aku memutar mataku malas dan langsung merangkul bahunya sambil menarik dia untuk meneruskan langkahnya.

“Sudah. Ayo lekas kedepan. Tidak baik membiarkan tamu menunggu sendirian.” Kataku sambil memberikan senyuman termanisku. Siwon hanya membalas dengan senyum kecil dan kembali melangkah. Ketika kami sampai di teras depan, kami menemukan seorang gadis cantik berambut pirang panjang duduk manis di salah satu bangku teras.

“Eonnie. Akhirnya datang juga.” Kyuhyun menerobos Siwon dan aku untuk mendekati gadis tersebut. Gadis itu langsung berdiri dan berbalik. Dia memandang Kyuhyun sekilas lalu langsung memberikan senyuman yang menurutku sangat manis. Sedangkan Kyuhyun langsung memeluknya dengan erat. Aku memandang gadis itu dengan lekat. Jika tadi aku bilang Kyuhyun bukan tipeku, sekarang situasinya berbeda.

Gadis ini baru tipe kesukaanku. Dewasa dan elegan. Cantik pula. Siwon sendiri sepertinya mengenal gadis ini karena dia juga langsung mendekatinya dan memberikan pelukan singkat. Aku mengalihkan pandanganku dari gadis ini kepada Siwon. Aku heran, darimana dia bisa memiliki kenalan gadis-gadis cantik seperti ini. Bukan aku tidak pernah lihat dia bergaul dengan wanita cantik lainnya, tapi Siwon jarang bergaul dengan tipe gadis rumahan seperti Kyuhyun dan juga gadis yang tidak aku kenal ini. Kenapa hanya Siwon saja yang beruntung. Siwon menyadari tatapan intens dariku dan menatapku balik sambil mengerutkan alisnya bingung.

“Kau kenapa hyung?” tanyanya karena aku masih terus saja memandanginya. Aku berpikir kenapa Siwon bisa beruntung dan aku langsung tahu apa jawabannya. Siwon sudah terlalu lama hidup menderita. Siwon sudah terlalu lama bersikap melebihi usianya dengan begitu banyak tanggung jawab dan masalah-masalah yang harus dihadapinya seorang diri. Mungkin dia seberuntung sekarang adalah hadiah dari Tuhan karena segala sesuatu yang dia kerjakan, dia lakukan dengan sebaik-baiknya dan tanpa mengeluh. Aku tersenyum lega karena adikku satu ini sudah bisa menata hidupnya menjadi lebih baik dan aku berharap kehidupannya mulai sekarang akan seindah kehidupan pemuda seusianya.

“Hyung?” Aku tersentak ketika Siwon memanggilku sekali lagi sambil mengguncang sedikit tubuhku. Aku membalas panggilannya hanya dengan senyumku dan menggelengkan kepalaku, menandakan bahwa aku tidak apa-apa. Siwon hanya mengangguk ragu dan kembali memperhatikan Kyuhyun dan gadis itu yang sekarang sedang berbicara.

“Eonnie, sulit tidak tadi kesini?” tanya Kyuhyun sambil masih terus memegangi lengan gadis itu. Dia tersenyum melihat tingkah manja Kyuhyun. Aku sempat terkejut melihat tingkah manja Kyuhyun. Kyuhyun ini memiliki dua kepribadian atau bagaimana.

“Tidak kok Kyu. Alamatnya jelas. Siwon aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu. Kau yang tabah ya.” Tuturnya sambil menggenggam tangan Siwon, menyalurkan rasa keprihatinannya akan berita duka ini. Siwon mengangguk dan tersenyum kepada gadis itu. Siwon menggenggam tangannya dengan erat, menyatakan rasa terima kasih atas perhatiannya pada kondisinya sekarang.

“Terima kasih noona. Ayo, masuk dulu. Aku kenalkan dengan orang tua baruku.” Aku melihat Jaejoong, nama gadis itu, mengangkat salah satu alisnya dan menatap Siwon sambil tersenyum.

“Kenapa kau memanggilku dengan noona sekarang? Bukannya aku sudah bilang panggil aku Jaejoong saja. Kau ini.” Siwon hanya tersenyum menanggapi ucapan Jaejoong tadi.

“Ya sudahlah. Terima kasih atas tawarannya Siwon, tapi aku kesini tidak lama. Mungkin lain kali. Aku kesini sekaligus ingin menjemput Kyuhyun pulang. Kyu, nyonya besar sudah menunggumu. Kau ada acara dengannya hari ini bukan?!” tolak Jaejoong seraya mengingatkan Kyuhyun. Aku mengalihkan pandanganku darinya kepada Kyuhyun yang sekarang sedang membelalakan matanya dan mengingat bahwa dia sepertinya punya rencana yang harus dia tepati. Aku tertawa geli ketika Kyuhyun menepuk dahinya sambil mengutuk kebodohannya sendiri karena baru ingat jika dia punya acara lain.

“Ya ampun eonnie. Aku benar-benar lupa. Umma bisa membunuhku jika aku terlambat. Ayo kita pulang sekarang. Kenapa tadi appa membiarkan aku kesini sih?!” gerutunya menyalahkan dokter Cho, ayahnya sendiri. Siwon dan aku memandang Kyuhyun tidak percaya jika dia baru saja menyalahkan ayahnya sendiri. Bukannya tadi dia yang meminta kepada Yoo ahjussi untuk boleh ikut kerumah keluarga Yoo. Kami berdua menggeleng pelan sambil tertawa tersembunyi, takut ketahuan oleh Kyuhyun dan dia marah kepada kami.

“Ya sudah. Ayo. Kami pamit dulu Siwon.” Sahut Jaejoong lalu menarik tangan Kyu agar segera munuju mobil mereka. Namun Kyuhyun lagi-lagi mengingat sesuatu dan melepaskan tangan Jaejoong.

“Tunggu eonnie. Tasku ada didalam. Sebentar ya.” Kyuhyun segera berlari masuk kedalam rumah sekali lagi untuk mengambil tasnya. Aku dan Siwon yang menyaksikan Kyuhyun tergesa-gesa untuk mengambil tasnya, tertawa geli sekali lagi. Lalu aku memalingkan wajahku kepada Siwon. Sudah berapa kali aku mendengarnya tertawa lepas seperti tadi. Siwon benar-benar sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Dia sepertinya sudah bisa melepas kepergian Choi ahjussi dengan tabah dan sekarang berusaha untuk bisa bahagia seperti keinginan Choi ahjussi. Tampaknya selain itu, Kyuhyun mempunyai peran cukup besar. Aku berharap Siwon dan Kyuhyun bisa terus seperti sekarang dan mungkin hubungan mereka bisa lebih. Sepertinya Kyuhyun baik untuk Siwon dan sebaliknya.

“Aku tunggu di mobil saja ya Kyu. Aku pergi dulu Siwon dan temannya Siwon.” Suara merdu Jaejoong membangunkanku dari pikiranku tentang Siwon. Aku sadar bahwa dia belum mengenal aku. Siwon juga sepertinya lupa untuk mengenalkan kami. Segera saja aku membungkukkan tubuhku dan mengenalkan diri.

“Kangin. Kim Kangin.”

“Jaejoong. Kim Jaejoong. Oke. Sampai jumpa nanti Siwon.” Sekali lagi Jaejoong berpamitan. Siwon hanya melambai sejenak.

“Oke noona.” Sahut Siwon. Jaejoong membungkuk dan melangkah pergi meninggalkan teras rumah keluarga Yoo. Tapi baru beberapa langkah, Jaejoong mendadak berhenti. Dia terpaku ditempatnya melihat lurus ke depan. Siwon dan aku heran dengan sikap Jaejoong dan mendekatinya. Siwon lebih dulu menepuk bahu Jaejoong dan menanyakan kenapa Jaejoong tiba-tiba terpaku seperti itu.

“Noona?” Jaejoong tidak menggubris Siwon melainkan terus mengarahkan pandangannya kedepan. Siwon menjadi heran dan mengikuti arah pandang Jaejoong. Aku bisa melihat keterkejutan Siwon ketika dia melihat pemuda yang sempat memukulnya di pemakaman. Pemuda itu berdiri digerbang rumah sambil berkali-kali bolak balik seperti berdebat dengan dirinya sendiri apa seharusnya dia masuk atau tidak.

“Yunho.” Suara Siwon sepertinya membuat pemuda tersebut sadar bahwa dia sudah tidak sendirian lagi. Dia menatap Siwon dari balik jeruji besi gerbang rumah keluarga Yoo.

“Hyung.”

Yunho P.O.V

Aku meremas tanganku gugup. Saat ini aku sudah berada di dalam rumah keluarga Yoo yang saat ini menjadi keluarga baru Siwon hyung. Keluarga baru. Seharusnya aku dan umma yang menjadi keluarga hyung saat appa tiada seperti sekarang. Appa. Aku hampir tidak ingat bagaimana rupa dan sifat appa maka dari itu aku tidak bisa bersedih seperti Siwon hyung saat tahu beliau telah meninggal dunia. Tapi yang aku tahu beliau pasti adalah orang yang sangat hebat karena appa telah membesarkan Siwon hyung menjadi orang yang menurutku sangat dewasa dan mandiri.

“Minum dulu Yun.”

“Iya hyung. Terima kasih.” Aku masih merasa kikuk berhadapan langsung dengan Siwon hyung karena sekarang aku tahu siapa dia sebenarnya. Walaupun Siwon hyung terus memberikan senyum tulusnya padaku, aku yang sudah memakinya dan memukulnya justru disaat Siwon hyung membutuhkan banyak dukungan. Aku menerima gelas berisi minuman dingin itu dari tangannya dan menegak sedikit air tersebut sebelum meletakkan diatas meja. Aku melihat sekeliling rumah tempat tinggal Siwon hyung sekarang. Rumah ini terlihat lebih megah daripada dari luar tadi. Padahal dari luar saja rumah ini sudah lebih besar daripada rumahku.

“Siwon.” Suara pria besar yang sedari tadi bersama dengan Siwon hyung, Jaejoong noona dan Kyuhyun menyadarkanku dari observasiku terhadap tempat tinggal Siwon hyung. Siwon hyung berdiri dan menghampiri pria tersebut.

“Kangin hyung, kau mau pulang sekarang? Kenapa buru-buru? Menginap saja.” Tawar Siwon hyung. Sang pria besar yang akhirnya aku tahu siapa namanya, menggelengkan kepalanya. Dia menepuk pelan bahu Siwon hyung.

“Lain kali saja Wonnie. Aku ada urusan dan lagipula Kyuhyun dan gadis tadi, ehm.. siapa namanya tadi.. Ah, Jaejoong.. Mereka sudah pulang. Aku tidak mau menginap kalau mereka tidak menginap juga.” Canda pria bernama Kangin itu. Aku bisa melihat Siwon hyung terkekeh dengan candaannya.

“Yang benar saja hyung. Kau ini mesum sekali.”

“Yah!! Enak saja kau bilang aku mesum!! Siapa yang sedari tadi terus berpelukan dengan Kyuhyun?!”

“Hyung!!” Siwon hyung menutup mulut Kangin-ssi dengan telapak tangannya. Dia melirik kearahku, menunggu reaksiku setelah ucapan Kangin-ssi tersebut. Aku bisa melihat Siwon hyung menghela nafasnya lega karena mengira aku tidak mendengar dengan jelas ucapan Kangin-ssi padahal aku hanya berpura-pura tidak mendengar. Sebenarnya aku cukup kaget mendengar Siwon hyung dan Kyuhyun cukup dekat sampai-sampai mereka berdua berpelukan. Anehnya, aku biasa saja padahal jelas-jelas Kyuhyun itu kekasihku. Aku justru agak kesal saat Kangin-ssi sepertinya menunjukkan ketertarikannya kepada Jaejoong noona.

“Lepas! Kau ini kenapa?!” seru Kangin-ssi sambil melepaskan tangan Siwon hyung dari mulutnya. Dia menatap garang kepada Siwon hyung, walau aku tahu tatapan itu hanya main-main. Siwon hyung kembali memperhatikan Kangin dan memberikan seringai kepada Kangin-ssi, membuatnya bingung karena Siwon hyung seakan marah kepadanya.

“Hyung itu kalau bicara lihat situasi.” Tukas Siwon sambil sesekali melirik kearahku. Tampaknya Siwon hyung berusaha agar aku tidak menyadari kedekatannya dengan Kyuhyun maka dari itu dia memcoba agar Kangin-ssi tidak berbicara macam-macam. Namun sepertinya Kangin-ssi yang kelihatannya memang tidak mengerti hubungan antara aku dan Kyuhyun, tidak mengerti isyarat dari Siwon hyung.

“Situasi apa?!” Aku diam-diam tersenyum geli melihat raut wajah Siwon hyung yang membelalakan matanya melihat ketidakpekaan Kangin-ssi. Aku melihat Siwon hyung menepuk dahinya sendiri saat Kangin-ssi bertanya demikian.

“Ah sudahlah hyung. Kalau hyung mau pulang sekarang aku cuma bisa bilang hati-hati dijalan. Perasaanku tidak enak.” Mungkin Siwon hyung bermaksud membalas candaan Kangin-ssi dengan membuatnya marah dan memang candaan Siwon hyung berhasil. Aku melihat wajah Kangin-ssi terlihat kesal. Dia memukul belakang kepala Siwon hyung.

“Kau menyumpahiku hah?! Dasar dongsaeng kurang ajar!” Siwon menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa melihat kekesalan dari Kangin-ssi. Mereka berdua lalu tertawa berdua setelah Kangin-ssi sadar bahwa Siwon hyung hanya bercanda. Melihat mereka berdua tertawa lepas seperti itu, menimbulkan sedikit rasa iri dihatiku. Andai Siwon hyung bisa tertawa lepas seperti itu padaku pasti aku akan senang sekali. Dan aku semakin iri karena sepertinya Siwon hyung dapat melupakan sedikit rasa sedihnya dengan kehadiran Kangin-ssi.

“Kangin, sudah mau pulang?” suara lembut dari nyonya Yoo, membuat kami bertiga sadar bahwa beliau sudah berada bersama dengan kami. Aku bangun dari dudukku dan membungkuk hormat padanya. Nyonya Yoo pun membungkuk sedikit dan memberikan senyumannya padaku saat dia melihat diriku.

“Oh, ahjumma. Iya, aku masih ada urusan. Terima kasih untuk makan siangnya. Sampai nanti. Siwon, aku pergi dulu dan tidak usah diantar. Aku bisa sendiri.” Pamit Kangin sambil membungkuk kepada nyonya Yoo dan sekali lagi menepuk bahu Siwon kemudian memeluknya singkat. Siwon hyung membalasnya lalu terus memandangi punggung Kangin-ssi sampai dia benar-benar tidak terlihat lagi. Siwon hyung berbalik kepadaku lagi namun dia tidak segera menghampiriku, melainkan mendekati nyonya Yoo dan merangkul pundaknya erat. Nyonya Yoo tersenyum manis saat Siwon hyung berada disampingnya. Dia lalu mengalihkan pandangannya kepadaku.

“Oh Yunho bukan?! Apa kabar? Aku Yoo Hyori. Kau datang kesini karena ingin bicara dengan Siwon bukan?!” Aku mengangguk pelan sebagai jawabanku. Melihat responku, Hyori ahjumma menatap Siwon dan menunjuk kesuatu arah.

“Siwon sebaiknya kalian bicara di taman belakang saja. Disana lebih tenang. Nanti biar umma yang suruh pelayan untuk mengantarkan minuman kalian.” Saran Hyori ahjumma.

“Baik umma. Ayo Yun.” Sahut Siwon hyung mengiyakan lalu mengajakku ke halaman belakang rumah keluarga Yoo ini. Sesampainya disana aku kembali terpukau dengan betapa luas dan indahnya taman belakang rumah ini. Taman ini dipenuhi dengan bunga mawar dari berbagai jenis. Sepertinya Hyori ahjumma memiliki bakat berkebun yang sangat baik. Semua tanaman mawar ini terawat dengan sangat baik.

Aku tersadar dari sihir taman mawar ini saat Siwon hyung mengajakku duduk di gazebo yang tersedia di taman ini. Kami berdua duduk berhadapan. Awalnya kami berdua saling terdiam karena tidak ada satu pun dari kami yang mau memulai duluan. Tapi sepertinya Siwon hyung mulai bosan dengan kebisuan ini karena dia menanyakan maksud kedatanganku kemari.

“Lalu, ada apa kau kemari?”

“Aku..” Aku tak tahu bagaimana memulainya karena aku juga kesini tidak yakin apa yang akan aku katakan kepada Siwon hyung. Selagi aku berusaha mengumpulkan kata-kata yang ingin aku katakan pada Siwon hyung, dia mendahuluiku.

“Jika kau kesini untuk membujukku agar bisa menerima ummamu, aku rasa sebaiknya kau pergi saja Yun. Maafkan aku, tapi aku belum bisa menerima dia.” Aku tersentak mengdengar nada dingin Siwon hyung jika membicarakan soal umma. Siwon hyung masih memendam rasa sakit hatinya pada perbuatan umma. Aku menggeleng keras, mengisyaratkan padanya bahwa bukan itu maksud kedatanganku walau disatu sisi aku sempat sedih karena kakak kandungku sendiri begitu membenci umma kami.

“Bukan karena itu aku kemari hyung. Aku.. aku ingin minta maaf. Aku.. sudah berlaku kurang ajar kepadamu. Aku..”

“Sudahlah Yun. Aku tidak marah. Kau hanya membela ummamu saja. Aku juga akan berbuat yang sama jika ada orang yang menghina appaku.” Lagi-lagi Siwon hyung memotong ucapanku. Aku menyadari bahwa Siwon hyung selalu menyebut umma kami dengan sebutan ummaku dan sebaliknya. Apa dia benar-benar tidak menganggap umma sebagai ummanya lagi dan apa dia tidak menganggap bahwa aku juga anak dari almarhum appa.

“Hyung. Kenapa kau selalu menyebut orangtua kita dengan ummamu dan appaku. Mereka orangtua kita hyung, seberapa besar pun kesalahan mereka. Choi appa juga appaku hyung. Beliau..”

“Dia memang appamu Yun, tapi kau sudah menganggapnya mati sebelum kau kenal siapa dia sebenarnya. Kau sudah menganggap kami berdua mati Yun. Kau bahkan tidak tahu nama kecil appa. Baru saja kau menyebutnya dengan appa Choi.” Aku sedikit malu karena ucapan Siwon hyung ada benarnya juga. Aku memang tidak tahu nama kecil appa. Namun aku kira ini bukan kesalahanku. Aku masih sangat kecil saat aku berpisah dengan mereka dan Siwon hyung harus mengerti itu.

“Hyung, aku tidak tah..”

“Aku paham bahwa kau tidak ingat dan kau tidak tahu mengenai kami karena ummamu tidak mengatakan yang sebenarnya dan mungkin karena kau masih terlalu kecil saat itu. Tapi kau pasti masih menyimpan memori tentang kami bukan?! Kau tahu bahwa kami nyata bahkan ketika ummamu bilang kami sudah mati. Tapi kenapa kau seakan tidak mau mengenang kami dan dengan entengnya kau bilang bahwa kau memiliki ayah dan kakak kandung yang sudah tiada tanpa ada perasaan sedih sama sekali.

Sedangkan aku dan appa selalu mendoakan yang terbaik untukmu Yun. Bahkan appa mendoakan ummamu agar selalu sehat dan bahagia.” Aku memejamkan mataku dengan perasaan berkecamuk. Siwon hyung tidak mau memberiku kesempatan sama sekali untuk mengatakan alasanku. Mengapa dia menjadi sedingin ini. Kemana Siwon hyung yang aku kenal ramah, hangat, namun tegas itu. Kenapa dimatanya sekarang, aku sama saja seperti umma. Apa karena perbuatanku dipemakaman tadi.

“Hyung, aku tidak bermaksud sep..” aku mencoba lagi untuk menjelaskan padanya namun sekali lagi aku harus menanggung kekecewaan karena Siwon hyung memutus perkataanku kembali.

“Sudahlah Yun. Aku cukup senang sekarang kau sudah mengetahui soal diriku walau aku memang tidak mempunyai nilai apapun dimatamu. Aku cukup bahagia ketika kau memperlakukanku dengan baik saat aku bekerja sebagai supirmu. Namun sekarang, aku rasa kita harus menjalani hidup kita masing-masing. Anggap saja semua yang kau ketahui sekarang tidak pernah terjadi. Kembalilah mengingatku sebagai hyungmu yang telah meninggal. Aku rasa itu yang terbaik.” Oh hyung.. Mengapa kau berkata seperti itu. Aku datang kesini dengan harapan aku bisa merasakan lagi kebersamaan kita sebagai saudara. Tanpa terasa, airmataku tumpah begitu saja. Aku menatap Siwon hyung mencoba agar dia mau mengerti bahwa aku juga terluka dengan semua ini, namun Siwon hyung bahkan tidak mau menatapku. Dia memalingkan wajahnya dariku dan lebih memilih melihat taman mawar didepannya.

“Hyung, kumohon.. hiks..hiks.. ja..janga.. menghukumku se..seper..seperti ini. Aku..”

“Aku tidak menghukummu Yun. Justru aku ingin kau tidak merasa terbebani dengan diriku yang tiba-tiba saja muncul dikehidupanmu. Aku ingin kau tetap seperti Yunho yang dulu saat pertama kali aku bertemu denganmu.” Siwon hyung seperti berusaha untuk tidak melihatku. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa agar dia mau memaafkanku. Agar dia mau menerimaku.

“Aku adalah aku Yun dan kau adalah kau. Anggap saja kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku pik..”

“Tidak! Bukan ini yang aku harapkan ketika aku datang kesini. Aku mohon hyung, jangan anggap aku tidak ada seperti kau menganggap umma.” Aku bangun dari tempat dudukku dan berlutut dihadapan Siwon hyung. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan selain memohon kepadanya untuk bisa sedikit saja mengerti bahwa aku ingin dia mengakuiku sebagai adiknya. Agar dia tidak membenci sebagaimana dia membenci umma. Siwon hyung terkejut dengan tindakanku dan langsung mencoba mengangkat aku dari lantai gazebo ini untuk berdiri. Tapi aku bersikukuh untuk tidak akan bangun sampai dia mau menerimaku. Aku menghapus airmataku dan menatap wajahnya dengan penuh keyakinan.

“Yunho! Bangun! Jangan seperti ini!” serunya terus mencoba mengangkatku, tapi aku terus berlutut dihadapannya membuatnya akhirnya menyerah walau ada raut kekhawatiran dan sedikit rasa tidak enak pada wajahnya.

“Aku tidak akan bangun sampai kau mau menerimaku hyung. Aku akan tetap seperti ini sampai kau mau memaafkanku.”

“Yunho!” Aku sedikit memejamkan mataku mendengar Siwon hyung berteriak marah kepadaku, namun aku sudah yakin ini adalah satu-satunya cara.

“Tidak hyung! Aku tidak mau kehilangan kakak yang sudah susah payah hadir di dalam kehidupanku.” Siwon hyung terdiam sesaat. Aku melihat dia akhirnya duduk lagi sambil memegang kepalanya lalu mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajah tampannya itu. Siwon hyung menghela nafas berat sebelum memulai bicara.

“Kau tidak mengerti Yun, aku han..” aku langsung memotong ucapannya karena aku yakin apa yang akan keluar dari mulutnya itu hanyalah penolakan terhadap diriku dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

“Kau yang tidak mengerti hyung! Sebelum aku tahu kau kakak kandungku, aku sudah menyayangimu seperti kakakku sendiri. Aku selalu merasa nyaman jika bersamamu. Hanya kau yang mengerti tentangku, keinginanku, mimpiku.” Aku menghentikan sejenak ucapanku untuk melihat reaksi Siwon hyung. Melihat tidak ada reaksi negatif darinya, aku melajutkan lagi perkataanku.

“Apa kau tahu perasaanku saat menuju kerumah ini? Perasaan bahagia yang aku rasakan karena seseorang yang aku anggap kakak ternyata benar kakak kandungku sendiri. Hyung, kau sudah menyayangiku walau aku memperlakukanmu seakan kau sudah mati dan sekarang adalah kesempatanku untuk membalas kasih sayangmu. Biarkan aku menjadi adikmu hyung. Biarkan aku mengenang appa Choi sebagaimana seharusnya seorang anak mengenang ayahnya. Biarkan aku menjadi anak dan adik kebanggaanmu dan appa Choi. Berikan aku kesempatan itu hyung.. Aku mohon..” Airmata yang sempat terhenti tadi mulai mengalir lagi. Aku sangat berharap dia tergugah dan mau membuka hatinya. Hanya saja aku harus menelan kekecewaan sekali lagi di hari ini karena Siwon hyung terus menggelengkan kepalanya.

Hatiku hancur karena dia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan aku yang masih berlutut di gazebo itu. Aku mengikuti perginya Siwon hyung yang masuk ke dalam rumah. Dia sama sekali tidak berbalik dan hanya terus berjalan. Melihat tidak ada gunanya lagi aku berlutut disini, aku pun bangkit dan berdiri. Aku mengikuti arah keluar Siwon hyung. Aku masih belum bisa menerima jika Siwon hyung benar-benar tidak mau berurusan denganku lagi. Perasaan sedih dan kecewa terus berada dalam hatiku. Entah apa yang harus kuperbuat untuk bisa membujuk Siwon hyung. Siapa yang mampu membantuku untuk bisa membuka hatinya.

Aku masih terus fokus dengan pikiranku sendiri sampai aku tidak menyadari seseorang berdiri didepanku. Hampir saja aku menabraknya jika seseorang tersebut tidak memanggil namaku.

“Yunho.” Aku sedikit terkejut dan terdorong sedikit ke belakang karena suara orang tersebut. Setelah aku perhatikan dengan teliti, orang tersebut adalah ayah angkat Siwon hyung. Aku lupa siapa namanya. Aku memang bodoh, nama appaku sendiri aku juga lupa.

“Yunho.” Dia sekali lagi memanggilku. Mungkin karena aku kembali melamun maka dari itu dia memanggilku lagi.

“Ya ahjussi. Mohon maaf aku tidak menyimak.” Dia hanya tersenyum lalu merangkul bahuku dan mengajakku keruang keluarga yang tadi aku singgahi sebelum ke taman belakang.

“Tidak apa-apa Yun. Oh, namaku Yoo Hyunjae, jika kau ingin tahu. Dan aku minta maaf sebelumnya karena aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian.” Sahutnya sambil mendudukanku di salah satu sofa. Sepertinya dia sadar bahwa aku tidak tahu namanya dan bingung memanggil dia apa. Hyunjae ahjussi juga meminta maaf karena sudah mendengar percakapan kami. Aku hanya menggeleng pelan sebagai balasanku, mengisyaratkan padanya bahwa aku tidak keberatan. Kemudian, setelah kami duduk berdampingan, dia melepas tangannya dari bahuku dan mulai berbicara.

“Maafkan Siwon. Dia hanya perlu waktu.” Aku menggeleng pelan. Aku tahu Siwon hyung memang butuh waktu tapi sepertinya akan sulit untuknya bisa menerimaku.

“Sepertinya tidak ahjussi. Siwon hyung benar-benar membenci aku dan ummaku.” Sahutku sambil mencoba tersenyum, walau aku hatiku sangat sakit. Aku kembali mengusapkan jariku untuk menghapus bekas airmataku. Hyunjae ahjussi hanya tersenyum melihat aku yang terpuruk seperti sekarang. Dia menepuk bahuku pelan setelah itu meremas lembut seakan memberikan kekuatan padaku. Aku memalingkan wajahku untuk menatapnya. Sepertinya Siwon hyung beruntung bisa bertemu dengan orang sehangat Hyunjae ahjussi.

“Lalu apa yang akan kau perbuat jika memang seperti itu kenyataannya?” tanyanya sambil masih meremas bahuku. Aku kembali menggelengkan kepalaku.

“Aku tidak tahu ahjussi.”

“Kalau aku jadi kau Yun, aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan menyerah demi orang yang berarti untukku. Apa Siwon berarti untukmu Yun?” tanyanya lagi.

“Tentu saja ahjussi. Dia keluargaku.” Jawabku tegas. Tentu Siwon hyung sangat berarti bagiku. Sebelum aku tahu dia kakak kandungku saja, aku sudah menganggap dia orang yang penting dalam hidupku, apalagi sekarang. Hyunjae ahjussi tersenyum senang mendengar jawabanku tadi. Dia kemudian memindahkan tangan besar nan hangatnya dari bahuku ke kepalaku. Dia sedikit mengacak rambutku sebelum dia menanggapi ucapanku tadi.

“Jadi Yun, seharusnya kau bersabar dengan sikapnya itu. Berikan Siwon waktu. Aku yakin lambat laun dia akan bisa menerimamu. Siwon itu sayang padamu Yunho, mana mungkin dia membencimu. Hanya saja saat ini dia belum bisa diajak bicara dengan kepala dingin. Satu-satunya cara adalah kau sering mengunjunginya dan mengajaknya bicara.” Saran Hyunjae ahjussi. Dalam hati aku berharap apa yang dikatakan oleh Hyunjae ahjussi adalah benar dan aku tanpa sadar menyuarakan hal tersebut.

“Benarkah ahjussi? Benarkah Siwon hyung tidak membenciku? Benarkah dia sayang padaku?” tanyaku beruntun. Hyunjae ahjussi hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaanku. Aku menghela nafas lega. Ucapan Hyunjae ahjussi membuatku seperti memiliki harapan lagi untuk bisa membuka hati Siwon hyung. Aku menganggukan kepalaku sendiri dan memantapkan hatiku untuk tetap mendekati Siwon hyung selama aku bisa.

“Baiklah ahjussi. Aku akan sering datang kesini dan mengunjungi Siwon hyung. Semoga ahjussi tidak keberatan dengan kedatanganku.”

“Tentu saja tidak. Lagipula kau juga tidak hanya akan bertemu Siwon dirumahku. Aku sudah memasukan Siwon di Dong Bang.” Mataku semakin membesar ketika aku mendengar berita itu. Berarti aku dan Siwon hyung akan satu kampus. Ini bisa membuka banyak jalan padaku untuk semakin mendekatinya.

“Benarkah itu ahjussi?!” tanyaku memastikan. Aku tidak mau salah dengar dan sekali lagi harus menelan pil pahit kekecewaan. Hyunjae ahjussi sekali lagi menganggukan kepalanya.

“Kau punya banyak waktu dengannya disana karena walaupun Siwon lebih tua tapi dia harus mengulang dari awal. Bisa jadi dia satu kelas denganmu. Siwon mengambil manajemen bisnis.” Aku semakin tersenyum lebar dengan informasi dari Hyunjae ahjussi. Ini berarti tidak hanya kami berdua satu kampus, tapi kami juga satu jurusan. Walau aku tidak tahu apakah kami satu kelas, namun hal ini sudah cukup untukku. Aku menggenggam tangan Hyunjae ahjussi dan membungkukan tubuhku sedikit seraya mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih ahjussi. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Siwon hyung. Aku akan berusaha. Doakan aku ya ahjussi.” Hyunjae ahjussi hanya tertawa kecil sambil menepuk-nepuk punggungku.

Aku tersenyum dengan situasiku sekarang. Aku tahu bahwa akan sulit untuk bisa berinteraksi dengan Siwon hyung terlebih lagi sampai bisa berhubungan saat dia masih menjadi supirku. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak mau sampai harus kehilangan Siwon hyung untuk kedua kalinya. Aku bukan lagi bocah berumur lima tahun yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku dipisahkan dari kakak dan ayahku sendiri. Aku berjanji demi kalung yang selalu melingkar dileherku ini bahwa aku akan berbaikan dengan Siwon hyung dan membuatnya bisa menerimaku dan memaafkanku. Aku sekali lagi terlalu terfokus pada diriku sendiri sehingga tidak menyadari tatapan sedih penuh penyesalan dari seseorang.

TBC

Advertisements