Tags

, , , ,

Someday We'll Know Rev

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Someday We’ll Know 6

Pairing : Wonkyu, Yunjae

Genre : Romance, Angst, Family

Rating : PG

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster belong to @SuciiCho

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, a little mention of drugs used, Several OC, a rather fast plot, OOC, AU

Summary : Where is happiness? Only you could answer that.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

“Tentu saja tidak. Lagipula kau juga tidak hanya akan bertemu Siwon dirumahku. Aku sudah memasukan Siwon di Dong Bang.” Mataku semakin membesar ketika aku mendengar berita itu. Berarti aku dan Siwon hyung akan satu kampus. Ini bisa membuka banyak jalan padaku untuk semakin mendekatinya.

“Benarkah itu ahjussi?!” tanyaku memastikan. Aku tidak mau salah dengar dan sekali lagi harus menelan pil pahit kekecewaan. Hyunjae ahjussi sekali lagi menganggukan kepalanya.

“Kau punya banyak waktu dengannya disana karena walaupun Siwon lebih tua tapi dia harus mengulang dari awal. Bisa jadi dia satu kelas denganmu. Siwon mengambil manajemen bisnis.” Aku semakin tersenyum lebar dengan informasi dari Hyunjae ahjussi. Ini berarti tidak hanya kami berdua satu kampus, tapi kami juga satu jurusan. Walau aku tidak tahu apakah kami satu kelas, namun hal ini sudah cukup untukku. Aku menggenggam tangan Hyunjae ahjussi dan membungkukan tubuhku sedikit seraya mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih ahjussi. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Siwon hyung. Aku akan berusaha. Doakan aku ya ahjussi.” Hyunjae ahjussi hanya tertawa kecil sambil menepuk-nepuk punggungku.

Aku tersenyum dengan situasiku sekarang. Aku tahu bahwa akan sulit untuk bisa berinteraksi dengan Siwon hyung terlebih lagi sampai bisa berhubungan saat dia masih menjadi supirku. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak mau sampai harus kehilangan Siwon hyung untuk kedua kalinya. Aku bukan lagi bocah berumur lima tahun yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku dipisahkan dari kakak dan ayahku sendiri. Aku berjanji demi kalung yang selalu melingkar dileherku ini bahwa aku akan berbaikan dengan Siwon hyung dan membuatnya bisa menerimaku dan memaafkanku. Aku sekali lagi terlalu terfokus pada diriku sendiri sehingga tidak menyadari tatapan sedih penuh penyesalan dari seseorang.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Yunho baru saja menuruni tangga saat dia melihat Jihyun duduk di sofa ruang keluarga dengan pandangan kosong lurus kedepan. Hati Yunho sedikit terenyuh melihat Jihyun yang terus murung sejak pertengkarannya dengan Hwangsoo. Sejak itu Hwangsoo jarang pulang kerumah. Sebagian besar waktunya dia habiskan di kantor bahkan Hwangsoo memilih untuk tidur di apartemen pribadinya yang dulu sangat jarang dia tempati dibandingkan pulang ke rumah. Hwangsoo menyibukan dirinya dengan segala pekerjaan yang ada dan secara kebetulan memang banyak pekerjaan yang masuk ke perusahaan Hwangsoo. Yunho sendiri juga jarang dirumah karena sibuk kuliah, melakukan hobinya secara diam-diam, dan berkunjung ke rumah keluarga Yoo demi mendapatkan pengakuan dari Siwon walau sampai saat ini Siwon masih berkeras hati tidak mau berurusan dengan Yunho lagi.

Yunho sedikit juga merasa bersalah pada Jihyun karena kurang memperhatikannya beberapa bulan terakhir ini. Semua perhatiannya tertuju pada Siwon sehingga dia lupa bahwa Jihyun juga butuh tempat untuk bersandar, apalagi situasi Jihyun yang sekarang kurang disukai oleh orang-orang terdekatnya.

Jihyun sendiri memilih tetap berada dirumah ini daripada pergi kerumah orang tuannya. Jihyun memilih untuk menghadapi ini seorang diri karena pada dasarnya semua yang menimpa dirinya karena pilihannya sendiri. Jihyun sadar bahwa seberapa kuat bujukan atau hasutan dari keluarganya, pilihan tetap ada ditangannya dan ketika dia memilih meninggalkan Seungwoo dan Siwon, Jihyun tahu bahwa konsekuensi yang dia terima akan berbalik padanya.

“Umma.” Panggil Yunho pelan menyadarkan Jihyun dari lamunannya, entah apa itu. Jihyun sedikit tersentak walau dengan segera dia berbalik dan menatap Yunho dengan senyumannya meski senyum itu terlihat hampa.

“Yunnie. Kau mau berangkat kuliah nak? Umma buatkan sarapan ya?!” tawar Jihyun sambil berdiri ketika melihat Yunho yang sudah siap akan berangkat kuliah. Yunho terlihat ragu untuk menerima tawaran Jihyun. Disudut hatinya dia masih menyimpan kemarahan kepada Jihyun akibat tindakannya dulu, tetapi biar bagaimana pun Jihyun tetap ibunya. Ibu yang begitu menyayanginya seakan dia memberikan kasih sayang untuk 2 orang kepada Yunho. Ya Jihyun memberikan kasih sayangnya kepada Yunho secara berlebihan. Entah karena apa,

Yunho menyadari bahwa selama ini Jihyun memang sangat menyayanginya. Jihyun memberikan kasih sayang dengan porsi untuk dua orang karena Jihyun tidak bisa memberikan kepada Siwon yang kala itu tidak diketahui bagaimana keadaannya. Menyadari hal tersebut, Yunho menatap Jihyun sedih. Rasa marah karena perilakunya dulu seketika itu menguap begitu saja. Dengan perlahan, Yunho mendekati Jihyun dan begitu sampai dihadapan ibunya itu, dengan lembut Yunho mendekap tubuh wanita berwajah cantik namun terlihat lelah itu erat. Jihyun terkejut bukan main, tetapi dia segera membalas pelukan Yunho dan menangis tersedu-sedu karena rindu yang teramat dalam kepada putra bungsunya ini.

“Maafkan umma Yun.. Maafkan umma..” sahut Jihyun dalam isakannya. Yunho hanya mengangguk pelan sambil terus mendekap Jihyun, menyalurkan kekuatan agar Jihyun bisa tabah menghadapi masalah yang menimpa keluarga mereka sekarang. Setelah beberapa lama, Yunho melepaskan dekapannya dan memberikan kecupan singkat di kedua pipi Jihyun membuat Jihyun tersenyum lega walau masih ada airmata yang mengalir dari kedua bola matanya.

“Aku berangkat dulu umma.” Pamit Yunho. Mendengar Yunho berkata seperti itu, Jihyun segera menghapus airmatanya dan bergegas menuju dapur. Jihyun mengeluarkan beberapa bahan untuk membuat sandwhich dan segera mengolahnya untuk menjadi bekal sarapan Yunho. Sementara itu, Yunho tetap berdiri ditempatnya memandang Jihyun yang sibuk membuatkannya sarapan. Yunho membiarkan Jihyun melakukannya karena dia tahu Jihyun akan sangat senang jika Yunho mau menerima pemberian ibunya tersebut.

Tak lama, Jihyun kembali lagi dengan kotak bekal yang sudah berisi sandwhich buatannya. Jihyun langsung memberikan kepada Yunho yang dengan senang hati menerima pemberian ibunya itu. Namun Yunho sempat heran karena ibunya memberikan dia 2 kotak bekal. Pandangan penuh tanda tanya dari Yunho membuat Jihyun dengan sedikit terbata menjelaskan kenapa dia memberikan dua kotak bekal tersebut.

“Um..umma dengar Siwon sekarang, um.. Siwon sekarang satu kampus denganmu Yun.” Yunho mengangguk pelan mendengar ucapan Jihyun walau masih ada kebingungan dengan maksud yang akan disampaikan oleh Jihyun.

“Umma.. umma pikir, mungkin Siwon juga belum sarapan. Jadi.. jadi.. Bisakah kau berikan kotak bekal itu kepada Siwon?” pinta Jihyun sambil meremas tangannya, sedikit takut dengan permintaannya baru saja. Entah karena Yunho baru saja berbaik hati mau menerima Jihyun, wanita cantik tersebut memiliki keberanian lagi untuk mencoba mengambil hati Siwon. Yunho sendiri cukup terkejut dengan tindakan dan permintaan Jihyun. Padahal Yunho baru saja mau berinteraksi lagi dengannya, tapi begitu cepat Jihyun bisa beranggapan bahwa Siwon akan mau menerima pemberian darinya walau dia tahu dengan pasti apa yang akan diperbuat oleh Siwon jika dia tahu kotak bekal itu berasal dari Jihyun.

“Umma..” Yunho mencoba memberikan pengertian pada Jihyun, namun ucapannya terhenti ketika dia melihat Jihyun menggelengkan kepalanya sambil mengisyaratkan bahwa dia menginginkan agar Yunho membiarkan dia melanjutkan ucapannya.

“Umma tahu Yun. Umma tidak tahu diri meminta ini padamu. Umma tidak tahu diri beranggapan bahwa Siwon akan menerima pemberian umma. Tetapi, bisakah kau coba memberikan ini padanya? Kau tidak harus bilang kalau kotak bekal ini dari umma. Sandwhich ini kesukaan Siwon, ya jika kesukaannya belum berubah. Bisakah Yun?”

“Umma.. Bukannya Yunnie tidak mau, tapi Yunnie sendiri masih kesulitan untuk bisa dekat dengan Siwon hyung. Sudah beberapa bulan Yunnie mencoba mendekati Siwon hyung, tetapi belum berhasil. Siwon hyung..” Yunho tidak mampu melanjutkan ucapannya karena dia khawatir Jihyun akan makin terpuruk dengan kenyataan bahwa Siwon juga tidak mau menerima dirinya. Bahwa Yunho beranggapan Siwon juga membenci dirinya. Jika Jihyun tahu hal tersebut, bisa diduga bagaimana hancurnya dia karena secara tidak langsung Jihyun penyebab Siwon bisa memiliki rasa itu kepada Yunho, walau belum terbukti apakah memang Siwon membenci Yunho.

Namun, insting Jihyun bekerja dan dia menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Siwon dan Yunho. Jihyun terduduk di sofa, tidak kuat berdiri karena rasa bersalah yang semakin membebani dirinya. Jihyun menggelengkan kepalanya berkali-kali, tidak percaya bahwa dia penyebab hancurnya hubungan kakak beradik tersebut. Padahal Jihyun berharap paling tidak Yunho bisa dekat kembali dengan Siwon karena sepertinya Siwon masih sangat menyayangi Yunho. Jihyun juga tadinya berharap Yunho bisa menjadi jembatan antara dia dengan Siwon. Tetapi semuanya buyar, karena ulah yang dilakukannya dulu. Jihyun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergetar menandakan dia menangis selain terdengar isakan dari mulutnya. Yunho yang melihat Jihyun seperti itu bermaksud menenangkan dirinya, tapi dengan cepat salah satu tangan Jihyun terangkat dan mencegah Yunho.

“Pergilah Yun. Nanti kau terlambat.”

“Tapi umma..”

“Umma baik-baik saja.. Hhh.. Kau pergilah. Tinggalkan saja kotak itu disini.” Sahut Jihyun tidak memandang sedikit pun kearah Yunho. Yunho sendiri hanya bisa menghela nafas sambil meletakkan satu kotak bekal di meja kemudian pergi menuju pintu depan, meninggalkan Jihyun yang sekali lagi menutupi wajahnya.

Kampus Dong Bang

Siwon baru saja selesai membereskan buku dan tasnya ketika iris matanya tidak sengaja melihat ke jendela dan memandang keluar ruang kelasnya, lebih tepatnya kearah pelataran parkir kampus. Disana Siwon melihat Yunho yang berdiri didekat mobilnya, menunggu Siwon seperti biasanya dalam beberapa bulan terakhir ini. Yunho terlihat menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berkali-kali, mungkin sedang mencari Siwon yang memang seharusnya sudah berada di mobilnya setelah kuliah terakhir hari ini.

Siwon menghela nafasnya berat melihat tingkah laku Yunho selama beberapa bulan ini. Ketika Yunho mengetahui dirinya kuliah di kampus yang sama, Yunho tidak henti-hentinya mencoba mengambil hati Siwon, mengikutinya jika Yunho sendiri tidak ada kuliah dan membantunya dengan melakukan apa saja ketika Yunho melihat Siwon perlu bantuan, walau Siwon sendiri bisa mengatasi masalahnya itu.

Yunho memang menyisihkan waktunya yang padat hanya untuk bisa bersama dengan Siwon. Karena kelas mereka yang berbeda, Yunho mencari tahu jadwal lengkap Siwon agar Yunho mudah untuk bisa paling tidak betegur sapa dengan Siwon dan jika Yunho beruntung Siwon mau menanggapi Yunho. Namun sering kali Yunho harus menerima kenyataan pahit bahwa Siwon bersikap berbanding terbalik dengan sikapnya dulu saat dia masih menjadi supir Yunho. Siwon bersikap seakan-akan dia tidak mengenal Yunho.

Seakan Yunho tidak pernah ada dalam kehidupannya. Kenyataan itu terkadang membuat Yunho muram dan kecewa. Sakit hati dan kesedihan yang dirasakan oleh Yunho kala Siwon hanya menatap lalu berpaling dari Yunho saat Yunho dengan cerianya memanggil namanya, terus terasa. Yunho juga begitu sedih jika saat Siwon tidak memberikan reaksi apa-apa jika Yunho bercerita segala hal yang dipikir Yunho mampu membuat Siwon senang. Atau saat Siwon dengan santainya memasuki mobilnya dan berlalu begitu saja padahal dia tahu bahwa Yunho sudah menunggunya. Semua itu membuat Yunho terkadang ingin menyerah, tetapi pemikiran itu selalu ditepis oleh Yunho karena Yunho ingin seperti Siwon yang tidak pernah menyerah dalam hidupnya.

Kembali kepada Siwon yang sekarang sudah berjalan meninggalkan kelas menuju pelataran parkir. Siwon, seperti jadwalnya belakangan ini, setelah selesai kuliah akan langsung menuju ke perusahaan milik tuan Lee. Siwon memang masih bekerja disana walau sekarang bukan lagi menjadi kurir melainkan menjadi pekerja paruh waktu di beberapa bagian dari perusahaan tersebut. Siwon selalu diperbantukan di semua divisi untuk mengenal secara jelas bagaimana caranya menjalankan sebuah perusahaan karena setelah Siwon lulus nanti, dia akan diberi tanggung jawab untuk membantu Hyunjae dalam menjalankan perusahaan miliknya.

Ketika Siwon sampai di pelataran parkir dan menemukan Yunho yang masih menunggunya disamping mobil, hati Siwon bergetar karena perasaan bersalah. Dalam hatinya dia tahu bahwa bagaimana pun dia ingin menghindari Yunho, darah tidak akan bisa berbohong. Siwon akan selalu menyayangi Yunho sama seperti dulu. Apalagi selama beberapa bulan terakhir ini Yunho selalu menunjukkan bahwa dia memang ingin bersama dengan Siwon lagi. Yunho ingin kakak kandungnya kembali padanya. Tetapi, Siwon masih ragu apakah dengan kehadiran dirinya dikehidupan Yunho sekali lagi akan berdampak baik untuknya.

Bagaimana pandangan orang terhadap Yunho karena dulu, walau Yunho tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya, Yunho pernah melupakan bahwa dia memiliki seorang kakak dan ayah. Terlebih lagi sang kakak pernah menjadi supir dan Yunho masih tidak menyadari hal itu. Siwon takut masyarakat, seberapa gigihnya Siwon dan Yunho menjelaskan, akan tetap berpikiran negatif kepada mereka terutama terhadap Yunho. Terbukti dengan waktu Siwon pertama kali masuk ke kampus Dong Bang, sebagian mahasiswa dan mahasiswi yang mengenalnya saat dia masih menjadi supir Yunho, mempertanyakan bagaimana bisa Siwon satu kampus dengan Yunho.

Banyak rumor negatif yang menyatakan bahwa Yunho memperlakukan Siwon dengan tidak baik sehingga Siwon keluar dari pekerjaannya dan kembali kuliah. Ada juga rumor yang menyatakan bahwa Yunho dan Siwon memiliki hubungan lebih dari supir dan majikan dan keluarga Yunho mencoba memperbaiki hal tersebut dengan memberikan Siwon kesempatan untuk kuliah kembali, dan masih banyak lagi. Satu hal yang pasti, kebanyakan dari mereka berpikiran negatif terhadap Yunho dan keluarganya. Apalagi beredar rumor bahwa orang tua Yunho akan segera bercerai.

Melihat situasi ini, bagaimana mungkin Siwon bisa menerima Yunho kembali sebagai adiknya. Terlebih lagi mengungkapkan kepada semua orang bahwa mereka bersaudara kandung. Jika itu terjadi, Yunho pasti akan menderita dan Siwon tidak mau itu. Maka dari itu, Siwon beranggapan lebih baik dia dan Yunho tidak perlu saling mengenal lagi. Tapi, apa Siwon sanggup untuk menolak lebih jauh Yunho yang dengan tulus terus berupaya agar Siwon mau menerimanya. Jawabannya, tentu saja Siwon tidak sanggup.

Siwon merasa berdosa karena dalam beberapa bulan ini, sikapnya tidak dewasa. Padahal jelas Seungwoo selalu mengajarkannya bahwa memaafkan orang lain terlebih lagi anggota keluarga sendiri adalah perbuatan yang mencerminkan kedewasaan seseorang. Siwon sempat lupa dengan pesan itu karena perasaan sedih, kecewa dan marahnya pada Jihyun. Siwon sempat menyangkal bahwa dia masih sangat menyayangi Yunho, masih dan akan terus menyayanginya. Seharusnya dia ingat seperti apa pun masalah yang akan menerpa keluarga mereka, mereka masih memiliki satu sama lain. Jika memang Yunho akan mendapat masalah karena tersingkapnya masa lalu mereka berdua, Siwon akan selalu ada untuknya.

Siwon merasa malu pada Seungwoo, terlebih lagi pada dirinya sendiri karena walau dia sulit untuk melupakan kesalahan Jihyun, tidak sepantasnya dia menganggap Yunho sama dengan Jihyun. Tampaknya, perasaan sesal dan sedih yang dia rasakan saat Yunho pergi dari kediaman keluarga Yoo beberapa bulan yang lalu adalah perasaan jujur darinya. Sesal karena Siwon tidak mampu membuka hatinya saat itu juga untuk bisa menerima adik sematawayangnya itu. Sedih karena secara tidak langsung Siwon telah membuat Yunho merasa dirinya dibenci oleh Siwon dan Yunho menjadi menyalahkan dirinya sendiri karena hal tersebut.

Dengan kesadaran baru tersebut, Siwon tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Yunho saat dia mau mengakui kembali Yunho sebagai adiknya. Sambil melangkah perlahan mendekati Yunho, Siwon terus memperhatikan Yunho yang resah karena menunggu Siwon sedari tadi. Yunho yang membelakangi Siwon tidak mengetahui bahwa Siwon sudah berdiri dibelakangnya. Timbul rasa jahil dihati Siwon dan keinginannya untuk mengerjai Yunho. Dengan memasang wajah sedingin mungkin, Siwon memanggil Yunho.

“Sedang apa kau disini Yunho?!” Yunho yang mendengar suara Siwon segera berbalik dan menemukan Siwon yang menatap dingin kepadanya. Yunho sedikit gugup ketika melihat Siwon yang kelihatannya tidak suka dengan kehadirannya disini. Tanpa sadar, Yunho menggaruk kepalanya sendiri sambil tersenyum terpaksa.

“Hyung.”

“Sedang apa kau disini?” ulang Siwon dingin. Yunho sendiri ketika mendengar nada dingin dari kakak satu-satunya itu menjadi semakin salah tingkah. Sedangkan Siwon yang melihat Yunho seperti itu, tertawa geli dalam hati.

“Ah, hyung. Ak..aku..”

“Kau menghalangiku dari mobilku.”

“Ah! Maaf hyung! Ak..aku.. aku hanya ingin tahu kabarmu saja.” Ucap Yunho sambil sedikit bergeser agar Siwon bisa membuka pintu mobilnya. Siwon tidak menanggapi sama sekali. Dia justru berjalan sampai samping pintu mobilnya. Namun Siwon, tidak membuka pintu itu melainkan menatap lurus ke bola mata Yunho. Yunho yang ditatap seperti itu menjadi cemas. Takut Siwon mengucapkan kata-kata yang membuatnya semakin sedih. Yunho merasa bahwa perjuangannya selama ini benar-benar sudah menguras habis emosinya. Walau Yunho tidak akan menyerah, ada kalanya, Yunho merasa semua perjuangannya ini sia-sia belaka.

“Kau ini memang keras kepala Yun.” Ucap Siwon tiba-tiba. Siwon tidak tega melihat Yunho yang kelihatannya sedikit takut akan dirinya yang terus memandangnya dengan dingin.

“Eh??” Yunho sedikit bingung dengan maksud ucapan Siwon, tapi melihat senyum Siwon terpatri di wajah tampan pemuda berlesung pipi itu membuat Yunho menarik nafasnya. Dia terperangah melihat Siwon yang biasanya dingin, acuh, dan selalu menghindarinya kini bisa tersenyum semanis dan setulus itu padanya.

“Aku bilang kau ini memang keras kepala. Padahal aku sudah berusaha agar kau tidak usah terbebani dengan kehadiranku tapi kau justru selalu datang kepadaku. Tidak bosan apa mengejarku terus? Seharusnya kau itu mengejar gadis-gadis bukan aku.” Canda Siwon. Namun Yunho tidak mendengar sedikit pun perkataan Siwon. Hatinya sangat lega dan bahagia karena senyum dari Siwon. Senyum yang selalu didapatnya ketika Siwon bekerja sebagai supir namun hilang saat Yunho mengetahui bahwa Siwon adalah kakak kandungnya.

“Hyung.. hiks..hiks.. Siwon hyung..”

“Yunho?! Kenapa kau menangis?” Siwon sedikit terkejut ketika tiba-tiba saja Yunho menitikan airmatanya. Siwon heran kenapa Yunho menangis hanya karena ucapannya baru saja. Apa dia mengucapkan sesuatu yang salah. Sementara itu, Yunho hanya menggeleng kepala sambil beberapa kali menyeka airmatanya meski hal tersebut percuma karena airmatanya masih dengan santainya terus mengalir.

“Tidak.. Tidak hyung.. Terima kasih. Teri..hikss..hiks.. Terima kasih..” ucap Yunho terbata-bata. Siwon semakin heran dengan ucapan terima kasih dari Yunho.

“Terima kasih?! Terima kasih untuk apa?”

“Karena hyung sudah mau tersenyum lagi kepadaku. Dan apa yang tadi hyung bilang, bahwa hyung akan membebani hidupku? Justru aku yang takut akan hal itu hyung. Aku yang takut kau akan merasa aku yang menjadi bebanmu.” Siwon tersenyum lembut mendengar perkataan Yunho tadi. Siwon merasa bodoh karena sudah membuat Yunho merasa seperti itu, lebih bodoh lagi karena selama beberapa bulan dia terus saja menambah penderitaan pemuda berwajah kecil nan tampan tersebut. Dengan sayang, Siwon mengacak rambut Yunho.

“Aku tidak terbebani Yun.”

“Tetap saja hyung.. tetap saja aku takut..” rengek Yunho seperti anak kecil. Siwon menjadi tertawa geli melihat tingkah manja Yunho. Tangannya semakin mengacak rambut Yunho.

“Aish.. Kau ini cengeng sekali. Tidak berubah dari dulu. Kau itu sudah mahasiswa Yun, berubahlah sedikit.”

“Biar saja..hikss.. hiks.. Ka..kau y..yang membuatku.. cengeng..” Yunho menuduh Siwon sambil merajuk manja. Siwon hanya bisa geleng-geleng kepala. Tidak bisa percaya bahwa Yunho masih saja bersikap seperti saat mereka masih kecil dulu. Siwon mengeluarkan saputangannya dan menyerahkan kepada Yunho untuk menghapus airmatanya.

“Hapus Yun, kau jelek jika menangis seperti itu.” Yunho menerima saputangan tersebut dan mempergunakannya. Yunho kemudian menyimpan saputangan Siwon dengan alasan akan mencucinya telebih dulu. Setelah itu, Yunho dan Siwon terdiam beberapa saat. Ada sedikit kecanggungan diantara mereka sampai Siwon yang berinisiatif memeluk Yunho yang dibalas dengan pelukan yang lebih erat dari pelukan Siwon. Mereka cukup lama berpelukan sampai keduanya masing-masing melepaskan diri.

“Maafkan hyung Yunho. Hyung terlalu buta dengan perasaan kehilangan karena appa kita meninggalkan kita selama-lamanya. Kau tahu bahwa tidak ada orang selain appa yang menemani hyung selama ini.” Ucap Siwon pelan.

“Aku tahu hyung dan hyung tidak perlu minta maaf. Aku paham akan kondisi hyung. Aku lega sekarang, karena hyung sudah mau menerimaku.” Timpal Yunho. Siwon kembali mengacak rambut Yunho yang sudah berantakan itu. Yunho membiarkan Siwon melakukannya tanpa ada maksud untuk menghentikan tindakan Siwon. Baginya semua yang Siwon lakukan mencerminkan bahwa Siwon masih menyayanginya.

“Aku yang lega Yun. Aku tidak perlu lagi membohongi diriku sendiri. Aku sayang padamu. Aku menyayangi adikku ini yang sudah lama aku rindukan. Ya walau dia masih saja cengeng dan manja.”

“Hyung!!” Siwon tertawa kembali dan kali ini lebih keras karena rajukan Yunho. Yunho sendiri ikut tertawa karena melihat Siwon tertawa. Keduanya menikmati suasana yang mulai membaik diantara mereka. Mereka tidak menyadari sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan dengan perasaan bahagia namun tersirat kesedihan dan keinginan yang mendalam untuk bisa seperti mereka berdua. Orang tersebut membiarkan saja airmatanya terus turun dan dengan tatapan terakhir meninggalkan lingkungan kampus tersebut.

Kediaman Keluarga Yoo

Hyori tersenyum lega melihat Siwon tertawa terbahak-bahak setelah berhasil mengerjai Yunho untuk kesekian kalinya dihari itu. Sabtu ini, Yunho berkunjung kembali kerumahnya dan kali ini Yunho bisa bersenang hati karena Siwon sudah mau menerima dirinya. Berbeda dengan beberapa bulan yang lalu ketika Siwon selalu saja tidak mau keluar tiap kali Yunho datang berkunjung. Hyori sangat senang ketika sebulan lalu, Siwon pulang bersama Yunho dan mengabarkan bahwa semua permasalahannya dengan Yunho sudah bisa terselesaikan dengan baik.

Hyori bangga dengan Siwon yang mau bersikap dewasa dan bersikap selayaknya seorang kakak yang menyokong adiknya dan bukan justru membencinya. Hyori juga ingat betapa senangnya Hyunjae ketika mengetahui bahwa kedua saudara itu telah bersama lagi. Hyori sempat melihat Hyunjae tersenyum penuh arti kepada Yunho dan ditanggapi oleh Yunho dengan membungkukan tubuhnya serendah mungkin sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih.

Hyori ingat bagaimana semua orang saat itu mencoba membuat Yunho berdiri dan tidak bersikap seformal itu, bahkan Siwon sampai salah sangka dan mengira Yunho telah melakukan hal yang tidak benar karena sikapnya kepada Hyunjae. Siwon panik dan ikut serta membungkuk sambil meminta maaf. Hyunjae sendiri menjadi salah tingkah dan keadaannya cukup kacau. Jika mengingat kejadian itu Hyori selalu tertawa geli karena kenyataannya Yunho memang hanya berterima kasih karena Hyunjae selalu memberinya semangat untuk tidak menyerah demi pengakuan dari Siwon.

“Hyung! Kenapa sih kau senang sekali menggangguku?!” teriak Yunho tidak terima dengan ulah jahil Siwon.

“Habis kau itu bodoh sekali sih. Kenapa soal mudah seperti itu saja kau tidak bisa. Bagaimana kau mau lulus?! Yang ada kau jadi mahasiswa abadi.” Balas Siwon sambil tertawa geli melihat Yunho merengut karena tingkahnya.

“Hyung!!”

Rainy days rainy days, now that you’ve gone far away.

My raindrops pouring down my eyes, you know I’ll never be okay.

Goes fade away fade away, don’t you know I’m missing you.

Here it slowly falls again, every day and night.

As I open my eyes.

Bunyi ponsel Yunho menghentikan candaannya dengan Siwon. Yunho melihat ke ponselnya untuk mengetahui siapa yang telah meneleponnya. Yunho terlihat bingung karena tidak ada nama si pemanggil yang berarti nomor si penelepon bukan nomor yang dikenal oleh Yunho. Yunho segera mengangkat ponselnya.

“Yoboseyo.”

“…..”

“Benar, saya Jung Yunho. Dengan siapa saya bicara?” tanya Yunho setelah si penelepon memastikan siapa dirinya. Yunho semakin bingung karena jika di penelepon menanyakan siapa dirinya, itu berarti orang tersebut tidak mengenal dirinya.

“Rumah sakit? Kenapa saya harus kerumah sakit?”

“…..”

“Umma pingsan?!” Yunho berteriak sambil berdiri membuat Siwon yang sedari tadi hanya diam mendengarkan juga ikut berdiri. Siwon cukup tersentak mendengar Yunho berteriak bahwa Jihyun masuk rumah sakit. Terbersit perasaan cemas ketika mengetahui bahwa ibunya masuk rumah sakit.

“Baik. Saya akan segera kesana. Terima kasih sudah menghubungi saya.” Dengan ucapan itu, Yunho segera mengambil tasnya dan berlari keluar. Namun sebelum dia sempat keluar dari rumah, suara Siwon yang memanggilnya membuat langkah Yunho terhenti.

“Tunggu Yun. Kita pergi bersama-sama. Lebih cepat jika aku antar kau dengan mobil. Kau kesini tadi diantar bukan?!” tawar Siwon sambil mengambil kunci mobilnya, dompet serta ponselnya. Yunho sedikit terperangah karena Siwon mau mengantarnya kerumah sakit. Rumah sakit yang sekarang menjadi tempat Jihyun berada.

“Kau yakin hyung?” tanpa sadar Yunho menanyakan hal tersebut kepada Siwon. Namun Siwon tidak menjawab, dia justru menarik lengan Yunho dan memasukkannya kedalam mobil lalu memacu mobil tersebut kerumah sakit.

Rumah Sakit – Siwon P.O.V

Kami sampai dirumah sakit dalam hitungan menit. Selama perjalanan Yunho selalu mengeratkan tangannya dan menundukkan kepala. Aku tahu dia sedang berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan ibunya. Ibunya. Aku masih belum bisa menganggap wanita itu ibuku. Walau aku tahu aku sempat merasa cemas saat tahu dia masuk rumah sakit, tetapi di satu sisi aku masih belum bisa melupakan semua yang pernah dia lakukan terhadapku, khususnya kepada appaku. Jika saat ini aku mengantar Yunho ke rumah sakit adalah karena aku tidak mau terjadi sesuatu pada adikku ini karena dia terburu-buru pergi menyusul wanita itu di rumah sakit.

Begitu kami masuk ke lobby rumah sakit, Yunho langsung menanyakan keberadaan wanita itu dan kami pun langsung menuju ke ruang rawatnya setelah diberitahu oleh suster jaga didepan lobby. Ketika kami menemukan ruang rawatnya, Yunho langsung masuk begitu saja. Kami berdua menemukannya sedang terbaring lemah dengan infus dan alat bantu pernafasan. Yunho segera menghampiri ranjang wanita itu dan memeriksa keadaannya. Sedangkan aku hanya berdiri dekat pintu memperhatikan keduanya.

“Umma..” panggil Yunho lirih. Suara lembut Yunho membangunkan wanita itu. Dia melihat kearah Yunho dan memandangnya dengan berbinar. Aku tahu bahwa dengan alat pernafasan menutupi setengah wajahnya, dia masih bisa tersenyum kepada Yunho yang datang untuknya. Wanita itu lalu melepas alat pernafasannya agar bisa berbicara bebas dengan Yunho.

“Umma kenapa?”

“Umma tidak apa-apa Yun. Mungkin hanya kelelahan.”

“Yunho, hyung pulang dulu.Kau jaga ibumu.” Aku tidak tahan berlama-lama ditempat ini. Aku seperti diingatkan saat appa meninggal dirumah sakit karena penyakitnya. Aku berpamitan pada Yunho dan bermaksud pergi dari ruangan itu sampai satu suara menghentikan langkahku.

“Siwon?!” wanita itu memanggilku lirih. Aku yang memang sudah membalikkan tubuhku, hanya diam membelakanginya.

“Siwon. Kau datang nak?” Aku mendadak tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Entah karena situasi dia yang sedang sakit atau karena ada Yunho disini, aku tidak merasakan amarah yang sering aku tunjukkan kepadanya. Aku masih belum memberikan tanggapan apa pun dan masih setia berdiri ditempatku sekarang.

“Siwon datang mengunjungi umma?” Kali ini, walau aku merasakan sedikit kepedihan ketika mendengar suara serak yang menyiratkan harapan sekaligus kesedihan itu, aku memilih melanjutkan langkahku dan beranjak pergi dari ruangan itu. Namun sekali lagi langkahku terhenti. Bukan karena panggilan wanita itu melainkan dari teriakan Yunho.

“Umma!!” aku berbalik karena ingin tahu apa yang sudah terjadi sampai Yunho berteriak seperti itu dan aku menemukan dia tergeletak dilantai. Tangannya berdarah karena jarum infus yang terlepas dari tangannya. Tanpa sadar tubuhku bergerak sendiri dan langsung menghampiri wanita itu. Aku dengan sigap mengangkat tubuhnya dan merebahkannya kembali di ranjang rumah sakit itu. Aku tidak memperhatikan tatapannya dan Yunho saat aku mengangkat tubuhnya ke ranjang tersebut. Setelah aku memastikan dia baik-baik saja, aku segera berbalik lagi dan sekali lagi berjalan menuju pintu keluar. Namun tampaknya aku memang belum boleh untuk keluar, karena untuk kesekian kalinya langkahku terhenti lagi dan kali ini sebuah tangan menggenggam erat pergelangan tanganku.

“Kumohon Siwon, jangan pergi. Maafkan umma.. Umma.. umma.. hiks..hiks.. Umma benar-benar menyesal. Umma..”

“Tolong lepaskan tangan saya nyonya. Saya harus segera kembali.” Aku memotong ucapannya. Aku tidak mau melihatnya. Aku tidak mau kelepasan seperti tadi. Mengapa tubuhku bergerak semaunya sendiri. Aku mencoba melepaskan tanganku sendiri, namun wanita itu terus mencengkram pergelangan tanganku.

“Hyung..” Yunho juga sepertinya mencoba agar aku mau mendengarkan perkataan wanita ini, tapi maaf Yunho, aku belum sanggup melihat dirinya dan tidak teringat penderitaan appa kita. Selagi kami berada dalam pikiran kami masing-masing, seorang dokter ditemani seorang suster masuk kedalam ruang rawat wanita itu. Dokter tersebut sempat kaget karena infus wanita itu terlepas menyebabkan darah masih keluar dari tangannya.

“Nyonya Jung, mengapa infus anda terlepas? Suster tolong tangani.” Suster tersebut mengikuti perintah dokter itu dan bermaksud menangani tangan wanita itu. Namun dia mempersulit tugas suster itu ketika dia tidak mau melepaskan tanganku.

“Nyonya, saya harus mengobati tangan anda dan mengganti infus anda. Bisa lepaskan tangan anda dari tangan putra anda nyonya?” aku yang tadinya tidak mau menatap wajah wanita itu akhirnya menatapnya juga. Aku melihat dengan seksama perubahan wanita itu. Wajah cantiknya sekarang lebih tirus dari sebelumnya, bola matanya yang biasa memancarkan sorot berseri sekarang terlihat muram. Aku juga menyadari tangannya lebih kurus dari biasanya. Mengapa dia bisa seperti ini.

Selagi aku memperhatikan perubahan pada dirinya, suster itu terus membujuk agar dia mau melepaskan tanganku. Tetapi wanita itu terus menggelengkan kepalanya, bertingkah seperti anak kecil yang tidak mau melepas mainan kesukaannya. Melihatnya seperti ini, aku tidak tega untuk meninggalkannya. Appa pasti akan memarahiku, andai dia masih hidup, jika aku meninggalkan wanita ini begitu saja saat dengan jelas dia sedang depresi. Aku meletakkan tanganku diatas tangannya dan melepaskan setiap jarinya secara perlahan. Airmata yang tadi sempat terhenti kembali turun karena dia mengira aku akan pergi dari dirinya. Namun saat aku menghapus butiran airmatanya, dia tersentak dan langsung menatap kemataku.

“Nyonya, biarkan suster ini mengobati tanganmu. Aku janji, aku akan disini sampai dia selesai.” Yunho terperanjat mendengar aku akan bersama ibunya sampai suster tersebut selesai dengan tugasnya. Sedangkan ibu Yunho memberikan senyum dan anggukan lalu membiarkan suster itu bekerja. Aku kemudian pindah kesisi lainnya disamping Yunho agar suster itu bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan leluasa. Sementara itu, wanita itu tidak memperhatikan sama sekali suster itu, dia terus menatapku, seakan jika dia mengalihkan sebentar saja pandangannya, maka aku akan hilang seperti asap.

Ketika suster itu selesai, dia keluar membawa infus yang telah diganti. Sedangkan dokter tersebut mulai memeriksa ibu Yunho dan ketika dia selesai, dia meminta kami berdua untuk keluar ruangan dan berbicara empat mata dengannya. Awalnya aku dan Yunho kesulitan untuk keluar, karena sekali lagi ibu Yunho bertingkah, tapi setelah diberi pengertian oleh Yunho, dia membiarkan kami keluar dari ruangan tersebut.

“Dimana ayah kalian?” tanya dokter tersebut setelah kami diluar ruang rawat wanita itu. Yunho menatapku terlebih dulu sebelum menjawab pertanyaan dokter tersebut.

“Appa saya sedang di luar kota dokter. Apakah umma saya baik-baik saja? Beliau bisa pulang sekarang?”

“Sayangnya ibu anda harus dirawat. Penyakitnya sudah cukup parah. Ada baiknya beliau segera dirawat. Saya sarankan nyonya Jung unt..”

“Sebentar dokter, nyonya itu terkena penyakit apa?” tanyaku bingung dengan ucapan dokter ini. Dirawat? Untuk apa?

“Anda berdua putra nyonya Jung bukan?! Apa beliau tidak memberitahu kalian berdua?!” Yunho menggeleng pelan dan aku bisa tahu dari raut wajahnya bahwa dia juga sama bingungnya denganku.

“Ya Tuhan! Pantas saja akhir-akhir ini kesehatannya menurun drastis. Dengan berat hati saya memberitahukan bahwa ibu anda mengidap kanker otak.” Jawab dokter tersebut sambil menatap kami dengan penuh simpati.

“Kanker otak?!” ulang kami berdua. Kami masih tidak percaya jika ibunya Yunho mengidap penyakit menakutkan seperti itu.

“Betul. Dan beliau sudah cukup lama mengidapnya. Tadinya beliau cukup menjaga kesehatannya agar bisa bertahan lebih lama, namun akhir-akhir ini beliau seperti tidak bersemangat untuk hidup dan saya sering mengingatkan beliau untuk rajin meminum obatnya ag..” perkataan dokter itu terputus begitu saja diotakku ketika aku mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa wanita yang sekarang sedang berbaring didalam ruang rawat itu mengidap kanker otak. Terlebih lagi dia tidak memperdulikan kesehatannya sendiri karena sesuatu yang aku yakin ada hubungan denganku.

Aku tak tahu harus merasakan apa sekarang. Marah, sedih, kecewa, kasihan, rindu, dan semua perasaan yang ada bercampur aduk. Aku menyandarkan tubuhku sendiri di dinding dekat pintu masuk kamarnya. Yunho yang aku tahu juga sangat terkejut dengan berita itu menyadari keadaanku yang galau dan kacau. Dia segera menghampiriku dan memelukku. Aku pun memeluknya dengan erat dan untuk pertama kalinya dalam hidupku setelah ditinggal oleh wanita itu, aku mengeluarkan kembali airmataku demi dia. Airmata untuk ibu yang sudah melahirkanku sekaligus ibu yang juga sudah membuangku.

TBC

Advertisements