Tags

, , , ,

Someday We'll Know Rev

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Someday We’ll Know 8

Pairing : Wonkyu, Yunjae

Genre : Romance, Angst, Family

Rating : PG

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster belong to @SuciiCho

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, a little mention of drugs used, Several OC, a rather fast plot, OOC, AU

Summary : Where is happiness? Only you could answer that.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

Yunho mengeratkan pelukannya di tubuh Kyuhyun. Mungkin ini pelukan terakhirnya sebagai kekasih Kyuhyun. Tetapi Yunho tidak menyesal. Dia memang kehilangan kekasih tapi dia akan mendapatkan kakak ipar yang begitu manis. Kakak ipar yang dia masih anggap sebagai adiknya sendiri. Yunho tersenyum membayangkan situasi yang akan terjadi nanti, walau Yunho dan Kyuhyun beserta Siwon harus memikirkan bagaimana cara mereka untuk memberitahukan orang tua Kyuhyun, terutama ibu Kyuhyun. Yunho yakin mereka tidak akan menerima begitu saja. Masih banyak yang harus dipikirkan oleh mereka bertiga. Belum lagi Yunho harus memikirkan bagaimana cara untuk menjelaskan masalah ini dan menyatakan perasaannya kepada Jaejoong dan membuat gadis yang lebih tua darinya itu mengerti dan mau menerimanya.

“Yunho!” teriakan Siwon membuat Kyuhyun dan Yunho melepaskan pelukan mereka. Siwon tampak berlari mendekati mereka berdua. Dia tidak menyadari adanya Kyuhyun karena fokus utamanya adalah berita yang harus dia sampaikan kepada Yunho.

“Hyung? Kenapa kau kelihatannya panik seperti itu?” tanya Yunho begitu Siwon sampai dan terengah-engah di depan Yunho.

“Umma Yun, Umma!”

“Kenapa dengan umma hyung?!” rasa takut Yunho semakin tinggi mendengar Siwon menyebutkan Jihyun. Yunho bahkan tidak memperdulikan bahwa Siwon memanggil Jihyun dengan sebutan umma dengan entengnya. Siwon sendiri juga tidak sadar dia telah memanggil Jihyun dengan sebutannya yang selalu didambakan oleh Jihyun.

“Umma terkena serangan lagi di otaknya. Saat ini dokter sedang menangani umma. Ayo kita segera kesana!” jelas Siwon dan mengajak Yunho untuk segera menemui Jihyun. Keduanya segera berlari diikuti oleh Kyuhyun dibelakang mereka. Siwon dan Yunho berdoa bahwa tidak ada sesuatu yang membahayakan Jihyun. Keduanya berdoa bahwa mereka tidak harus kehilangan orang tua mereka sekali lagi.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Yunho. Siwon dan Kyuhyun tiba di kamar rawat Jihyun bertepatan dengan kedatangan dokter dan suster yang langsung bergegas menangani Jihyun secara intensif. Tampak juga Hwangsoo yang terlihat panik melihat istrinya sekarang kesakitan sambil memegangi kepalanya dan berteriak agar seseorang mampu membuat sakit kepalanya hilang.

“Yeobo.. Sa..sakit.. Sakit yeobo..” sahut Jihyun lemah. Airmatanya terus mengalir karena rasa sakit yang sangat menyiksa.

“Sabar sayang, sabar. Biarkan dokter mencoba mengatasi rasa sakitmu. Aku disini. Aku disini menemanimu.” Ucap Hwangsoo mencoba menenangkan istrinya yang ketakutan sekaligus menahan rasa sakit itu. Hwangsoo juga tidak bisa membendung airmatanya sendiri ketika melihat sang istri tidak berdaya seperti ini. Yunho dan Siwon langsung menghampiri Hwangsoo dengan Yunho berada di samping Hwangsoo dan Siwon di sebelah Yunho. Sedangkan Kyuhyun hanya melihat dari jauh. Kyuhyun tidak mau kehadirannya mengganggu kerja dokter dan suster serta ketiga lelaki yang merupakan orang terdekat Jihyun.

“Sakit.. sakit..” lirih Jihyun sampai akhirnya dia tak sadarkan diri karena tak kuat dengan sakit di kepalanya. Dokter dan suster langsung bertindak lebih cepat lagi untuk menstabilkan keadaan Jihyun. Dokter tersebut langsung memerintahkan suster untuk membawa keluar keluarga pasien sementara dia mencoba menangani Jihyun.

“Umma!” Yunho berseru ketika suster tersebut mengajak dirinya, Siwon, Hwangsoo, dan Kyuhyun keluar untuk sementara waktu.

Keadaan Jihyun ternyata semakin memburuk. Upaya dokter untuk menyembuhkan Jihyun memang masih berjalan, namun penyakit Jihyun sudah terlalu lama bersarang di tubuhnya. Kanker otak itu sedikit demi sedikit mengikis daya tahan Jihyun. Terlebih lagi berbagai macam permasalahan yang dialaminya beberapa waktu terakhir ini membuat Jihyun tertekan dan melupakan pengobatan rutinnya.

Semua orang tahu yang ada di situ tahu bahwa jika Jihyun tidak berhasil menahan serangan kali ini, Jihyun bisa saja meninggal dunia. Hal itu yang sangat ditakutkan Hwangsoo, Yunho dan Siwon. Mereka takut kehilangan Jihyun, meski Jihyun pernah melukai hati mereka bertiga. Akan tetapi, biar bagaimana pun busuknya perilaku Jihyun terdahulu, mereka tahu bahwa mereka masih sangat mencintai Jihyun dan mereka paham jika situasilah yang membuat Jihyun sampai bisa melakukan hal-hal buruk di masa lalunya.

Semua orang yang menyayangi Jihyun terus menunggu dengan tidak pasti hasil dari dokter yang sedang berusaha menyelamatkan Jihyun. Mereka terus menunggu dan berdoa semoga Jihyun baik-baik saja dan mampu melewati ini semua. Mereka menunggu sampai sekitar setengah jam sampai akhirnya dokter dan suster keluar dari ruangan Jihyun dengan raut wajah muram. Semua orang yang menunggu di luar langsung berpikiran hal yang terburuk walau mereka terus berdoa agar pikiran mereka tidak terjadi. Namun Tuhan memang miliki rencananya sendiri. Gelengan dari dokter tersebut memastikan dugaan buruk dari Yunho, Hwangsoo dan juga Siwon.

Suasana lorong rumah sakit di depan kamar rawat Jihyun seketika itu juga muram. Raut wajah penuh kesedihan dan lelehan airmata setia menemani. Yunho memperhatikan Hwangsoo yang terlihat gontai dan bisa kapan saja jatuh. Dan benar saja, dengan beberapa langkah mundur ke belakang, Hwangsoo langsung menyandarkan diri di dinding depan pintu masuk kamar rawat itu. Secara perlahan tubuhnya merosot turun lalu terduduk dengan kedua lututnya terlipat di depan dadanya.

“Semua salah appa Yun. Salah appa!” seru Hwangsoo. Airmatanya semakin deras membanjiri pipi pria tersebut. Yunho yang menyaksikan Hwangsoo begitu terpuruk karena berita duka tentang Jihyun, langsung bersimpuh di depan Hwangsoo. Yunho memeluk erat tubuh pria itu dan tanpa sadar ikut menangis bersamanya.

“Appa, ini bukan salah appa. Umma memang sudah sakit sejak lama appa dan sekarang kita harus bisa menerima kenyataan bahwa umma sudah tidak kesakitan lagi. Umma sudah tenang dan bersama dengan Tuhan.” Lirih Yunho. dalam hati Yunho meyakinkan dirinya sendiri dengan kata-katanya tadi. Dia merasa bahwa sekarang bukan waktunya untuk merasakan penyesalan yang tanpa ada ujungnya. Sekarang adalah waktu untuk bisa mendukung dan menyokong Hwangsoo agar mampu tabah menerima kenyataan pahit dan serba mendadak ini. Hanya saja, terkadang seseorang membutuhkan sesuatu untuk disalahkan kala situasi tidak memungkinkan seperti sekarang. Dan biasanya, jika tidak ada orang lain yang patut untuk disalahkan, maka diri sendiri yang akan menjadi korbannya. Tak terkecuali Hwangsoo.

“Tapi jika appa tidak meninggalkan umma, kondisi umma pasti tidak seburuk ini Yun. Umma pasti tidak akan meninggalkan kita seperti ini.”

“Appa sudahlah. Apa yang sudah terjadi, terjadilah. Kita tidak bisa melawan takdir.” Bujuk Yunho sekali lagi agar Hwangsoo tidak memikirkan hal lain selain merelakan dan mendoakan Jihyun. Yunho sendiri juga merasa sangat sedih sekarang, tetapi melihat betapa hancurnya sang appa, mau tidak mau Yunho harus bersikap lebih tegar dari Hwangsoo. Yunho mengerti benar rasa bersalah Hwangsoo karena selama Jihyun di rawat, Hwangsoo tidak pernah datang menjenguknya.

“Tapi Yun..” Hwangsoo masih belum bisa merasa tenang karena berita ini. Dia terus saja menentang perkataan Yunho dan semakin terpuruk dalam penyesalannya. Yunho hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kekeras kepalaan Hwangsoo. Yunho diam saja dan memutuskan untuk tidak mencoba membujuk Hwangsoo dulu untuk saat ini. Hwangsoo pasti tidak bisa menelaah apapun yang Yunho sampaikan.

“Ini salahku.” Yunho memalingkan wajahnya ke arah Siwon yang memang sejak dokter mengumumkan bahwa Jihyun tidak mampu bertahan, dia hanya berdiri di depan pintu ruang rawat Jihyun. Yunho menangkap nada sesal dan ketakutan yang tidak tahu pasti karena apa dari suara Siwon tadi. Yunho pun berdiri dan menghampiri Siwon.

“Hyung.” panggilnya pelan. Yunho berharap Siwon tidak merasakan hal yang sama seperti Hwangsoo karena semua ini juga bukan kesalahannya. Namun Yunho harus kecewa karena ternyata Siwon sama saja dengan Hwangsoo.

“Jika anda butuh orang untuk disalahkan tuan Jung, salahkan saya. Saya penyebab umma saya meninggal seperti sekarang. Seperti apa yang sudah saya lakukan terhadap appa saya.” Ucapnya pelan namun tersirat kesedihan di suara beratnya itu. Siwon seakan tak punya semangat lagi untuk berbuat apapun. Yunho yang mendengar perkataan Siwon tadi menjadi sangat kesal. Mengapa semua orang sibuk dengan rasa bersalahnya sendiri.

“Hyung! Jangan seperti ini!” seru Yunho kesal bukan main dengan sikap hyungnya sekarang. Yunho bingung karena mengapa Siwon bisa merasa bersalah dengan meninggalnya umma mereka bahkan Yunho sempat terkejut Siwon masih menganggap kematian Seungwoo adalah kesalahannya. Bukankah Siwon sendiri dulu sangat menderita karena perbuatan Jihyun. Bukankah Seungwoo bisa bertahan selama itu adalah karena perjuangan Siwon. Mengapa kakaknya itu sekarang rapuh sekali.

“Tapi itulah kenyataan Yun! Apa kau tidak ingat kata dokter waktu itu, umma seharusnya baik-baik saja jika dia terus melakukan pengobatan. Tapi sejak bertemu denganku, sejak dia tahu aku dan almarhum appa masih bisa bertahan kala itu, dia mulai tidak memperhatikan dirinya. Dan di saat dia seperti itu Yun, aku justru menambah bebannya. Anak macam apa aku?!”

“Hyung..”

“Sepertinya apa yang dikatakan keluarga umma ada benarnya. Aku memang anak pembawa sial.” Siwon berkata pelan namun indera pendengaran Yunho masih sangat baik. Hati pemuda bermarga Jung itu terenyuh karena sedih Siwon bisa mengucapkan hal itu tentang dirinya sendiri.

“Hyung!!”

“Seandainya aku tidak ada, umma mungkin masih hidup. Seandainya aku tidak ada mungkin keluarga kita tidak tercerai berai seperti sekarang. Seandainya aku tidak ada, mungkin umma dan appa kita masih bersama dan bahagia. Semua salahku Yun. Salahku. Seharusnya umma tidak melahirkanku.” Siwon terus mengucapkan hal yang paling dibenci oleh Yunho. Siwon terus menerus menyalahkan dirinya sendiri, padahal semua orang tahu bahkan Jihyun pun tahu bahwa yang diucapkannya sekarang hanya omong kosong. Siwon bukanlah pembawa sial. Yunho mengepalkan tangannya erat dan tanpa peringatan, kepalannya itu melayang ke rahang Siwon.

Buagh!

Siwon langsung terhempas menabrak dinding kala pukulan Yunho mendarat di rahang kirinya. Yunho menatap Siwon dengan mata yang masih basah namun pandangannya tajam. Yunho sangat marah sekaligus sedih ketika mendengar Siwon mengatakan bahwa dirinya seharusnya tidak dilahirkan. Yunho tidak mengerti mengapa Siwon bisa begitu rendah memandang dirinya sendiri. Yunho berpikir, apakah Siwon tidak tahu bagaimana berartinya dia di matanya, di mata almarhum Seungwoo, bahkan di mata almarhumah Jihyun. Apakah semua penderitaan Siwon selama ini memang membuatnya tidak merasa bahwa dirinya dibutuhkan oleh orang lain.

Yunho melangkah mendekati Siwon yang sekarang posisinya sama dengan Hwangsoo. Siwon menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututya yang tertekuk. Wajah yang mungkin telah basah sekarang karena tengah menangis. Siwon menangis bukan karena sakit di rahang kirinya, tetapi karena semua yang terjadi dalam hidupnya. Siwon merutuki dirinya sendiri yang sepertinya selalu membawa kesialan dalam kehidupan orang lain. Pertama ayahnya, Seungwoo dan sekarang Jihyun ibu kandungnya sendiri. Ini salahnya. Hal itu yang terus berputar dalam benak Siwon. Tuhan sekarang menghukumnya dengan mengambil Jihyun sebelum dia sempat mengatakan bahwadia sangat merindukan Jihyun selama ini. Bahwa Siwon masih sangat menyayanginya. Tuhan menghukumnya karena dia telah bertingkah kurang ajar dan melukai hati Jihyun.

“Argh!! Yunho.. Yunho.. hyung.. hyung.. Bukan maksud hyung membuat umma sedih Yun. Hyung, hyung tidak mau kehilangan umma seperti hyung kehilangan appa.. Hyung tidak mau Yun.. Tapi kenapa? Kenapa Tuhan selalu kejam kepada hyung? Kenapa Tuhan selalu mengambil orang-orang yang paling berharga untuk hyung? Kenapa Yun?” tangisan pedih Siwon itu membuat Yunho semakin sedih. Dia tidak tahu bagaimana untuk menenangkan Siwon yang terpukul seperti sekarang.

“Hyung..” hanya itu yang mampu dikatakan oleh Yunho. Pemuda itu kembali bersimpuh dan kali ini bersimpuh di depan Siwon. Yunho baru saja mau memeluknya, namun tiba-tiba Siwon mengangkat wajahnya dan mencengkram lengan Yunho.

“Katakan Yun, apa hyung harus mati untuk menggantikan umma? Apa hyung harus mati? Jika itu yang harus hyung lakukan, hyung bersedia Yun. Hyung bersedia mati menggantikan umma.” Siwon mulai berbicara tak karuan. Rasa sedih dan takut karena kehilangan orang tuanya sekali lagi membuatnya tak bisa berpikir secara jernih. Kejadian saat Siwon mengetahui bahwa Seungwoo meninggal dulu terulang lagi. Siwon tak sanggup menahan rasa pedihnya sehingga terus saja menimpakan segala sesuatu yang buruk yang terjadi pada keluarganya kepada dirinya sendiri. Yunho yang menyaksikan betapa hancur sang kakak sekarang tidak bisa berbuat apapun kecuali membujuknya, memberitahunya bahwa semua yang terjadi bukan salahnya. Semua ini merupakan alur yang di buat Tuhan, cobaan dariNya.

“Hyung, kumohon. Jangan menyalahkan dirimu hyung. Kau tak bisa menggantikan orang yang sudah diambil oleh Tuhan hyung. Umma sekarang sudah tenang hyung. Umma sudah bersama dengan appa Seungwoo. Umma bisa sedih jika kau seperti ini.” Yunho mengucapkan kata-kata itu, berharap Siwon bisa mengerti, berharap Siwon lebih tenang dan berpikir dengan kepala dingin. Namun sepertinya rasa sesak dan tekanan selama ini yang di alami oleh Siwon membuatnya tak bisa menerima apapun perkataan Yunho. Siwon menggelengkan kepalanya lalu berdiri dengan tiba-tiba. Yunho terperanjat dengan tindakan Siwon itu, ikut berdiri.

“Tidak. Umma akan bersama kita lagi jika hyung yang menggantikan umma. Tuhan pasti akan mengembalikan umma jika hyung menggantikan tempat umma..” ucapnya tak karuan dan tak memiliki logika sama sekali sehingga menimbulkan rasa panik dari Yunho, Kyuhyun yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan bahkan Hwangsoo pun, mulai ikut berdiri. Hwangsoo bahkan melupakan sejenak kesedihannya karena dia sendiri terkejut dengan ucapan Siwon yang sama sekali tidak beralasan dan tidak berdasar. Mereka bertiga memikirkan hal yang sama bahwa Siwon berniat untuk mencelakakan dirinya sendiri.

“Hyung! Apa kau gila?! Apa yang kau katakan?! Tidak ada seseorang yang bisa menggantikan takdir orang lain hyung! Kau jangan bicara sembarangan!!” teriak Yunho tidak perduli bahwa dia berada di rumah sakit dan bisa mengganggu orang lain. Dalam pikirannya, dia hanya ingin Siwon tidak mempunyai pikiran bodoh. Tapi Siwon seakan tuli dengan semua teriakan Yunho. Dengan cepat, Siwon sudah beranjak meninggalkan Yunho, Kyuhyun dan Hwangsoo. Pemuda itu berjalan sambil terus bergumam dan tidak menoleh sedikit pun ke arah mereka bertiga.

“Hyung harus pergi sekarang. Hyung harus pergi..” Yunho sungguh terkejut dengan sikap spontan Siwon. Merasa Siwon bisa terluka karena pikirannya sedang tidak stabil, Yunho berlari mengejar Siwon diikuti oleh Kyuhyun. Sedangkan Hwangsoo, walau dia merasa sama paniknya dengan Yunho dan Kyuhyun, tidak bisa mengikuti mereka. Hwangsoo masih harus mengurus tubuh Jihyun dan pemakamannya. Hwangsoo hanya bisa berdoa agar Siwon baik-baik saja.

“Hyung!! Hyung mau kemana?! Hyung!!” teriak Yunho lagi sambil berlari mengejar Siwon. Ketika pemuda bermata musang itu berhasil mencekal lengan Siwon, Yunho lalu mendorong Siwon ke dinding dan menahannya agar dia tidak bisa lagi pergi kemana-mana.

“Lepas Yun! Biarkan hyung pergi! Dengan kepergian hyung, kalian bisa bahagia lagi. Tidak ada lagi yang menjadi beban kalian. Tidak ada lagi si pembawa sial. Kau senang bukan Yun?!”

“Hyung!! Kau ini bicara apa?! Tenanglah hyung!!” Siwon menutup telinganya dan terus memberontak dari pegangan Yunho. Entah Yunho mendapat tenaga darimana atau memang karena Siwon yang terlampau stres karena semua permasalahan ini, Yunho mampu menahan tubuh Siwon yang notabene lebih besar darinya.

“Lepaskan aku Yunho!! Lepaskan!! Aku harus menyelamatkan umma! Umma tidak boleh mati Yun! Umma tidak boleh mati! UMMA!!” dengan teriakan terakhir itu, tiba-tiba Siwon terjatuh dan tidak sadarkan diri. Dia terkulai lemas di dekapan Yunho. Yunho semakin panik karena Siwon sama sekali tidak bangun ketika Yunho berusaha menyadarkannya. Dalam kepanikannya itu, Yunho hanya mampu berteriak,

“SIWON HYUNG!!”

Ruang Rawat Siwon

Yunho menundukkan kepalanya sambil meremas dengan kuat rambutnya sendiri. Dia sekarang berada di ruang rawat untuk Siwon. Setelah kejadian pingsan Siwon tadi, Yunho ditemani oleh Kyuhyun yang berhasil mengejar keduanya, langsung membawanya ke unit gawat darurat untuk pertolongan pertama. Yunho dan Kyuhyun sangat cemas akan keadaan Siwon meski akhirnya mereka bisa bernafas lega karena Siwon hanya kelelahan secara mental dan terlalu stres sehingga mempengaruhi kesehatannya. Dokter menyarankan untuk sementara Siwon di rawat dulu sampai dia benar-benar kuat. Yunho dan Kyuhyun menyetujui hal tersebut dan setelah mengucapkan terima kasih kepada dokter itu, Kyuhyun segera mengurus ruang rawat untuk Siwon sambil mengatakan kepada Yunho bahwa dia harus memberitahu keluarga Yoo bahwa Siwon harus di rawat dulu karena kelelahan dan stress. Yunho mengangguk dan berkata bahwa dia akan terus menemani Siwon sampai dia sadar.

Maka disinilah Yunho berada. Masih menundukkan kepalanya sambil terisak. Yunho baru saja mendengar dari Hyunjae yang sudah ada di rumah sakit ini dua jam yang lalu setelah Kyuhyun memberitahu kabar duka tentang Jihyun dan keadaan Siwon, bahwa kejadian seperti ini pernah terjadi pada Siwon saat pemuda itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa Seungwoo meninggal. Hyunjae mengatakan bahwa Siwon hampir saja bunuh diri dengan pisau, dengan maksud menyusul Seungwoo. Beruntung saat itu, tindakan konyol Siwon itu bisa di cegah dan Siwon akhirnya mampu menerima kenyataan pahit bahwa ayah yang selama ini bersamanya harus pergi untuk selama-lamanya. Mendengar itu semua, Yunho berpikir bahwa Siwon memang tidak sekuat yang selalu ditampilkannya. Siwon, kakaknya yang begitu baik, kakaknya yang walau menderita tetap mencoba untuk bertahan hidup demi ayah mereka, kakaknya yang selalu saja lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri, ternyata begitu rapuh dan mudah terluka.

Yunho merasa seharusnya dia mampu menjadi sandaran, menjadi penompang kakaknya saat tidak ada lagi tempat untuk dirinya bersandar. Seharusnya Yunho mampu menjadi orang itu setelah apa yang sudah dilakukan Siwon selama ini untuknya. Yunho mengangkat kepalanya, berupaya menghapus airmatanya lalu melihat Siwon yang tertidur gelisah di ranjang rumah sakit ini. Yunho menatap terus wajah Siwon dan akhirnya mendekatkan kursinya agar dia bisa lebih dekat dengan wajah Siwon. Dengan lembut, Yunho mengambil tangan Siwon dan menggenggamnya erat.

“Hyung, aku tidak tahu apa kau bisa mendengarku, tapi kumohon hyung, jangan menyalahkan dirimu terus. Bukankah tadi kau yang sempat menyemangatiku bahwa kita akan bisa melalui cobaan ini. Bukankah kau yang mengatakan bahwa kita akan membantu umma untuk sembuh. Meski sekarang umma telah tiada, kau tetap harus tegar hyung. Umma dan appa pasti sangat sedih melihat putra kebanggan mereka terpuruk seperti ini. Kumohon hyung, kuatlah. Aku tidak sanggup jika harus menanggung kesedihan ini sendirian. Aku butuh kau hyung. Aku butuh kau.” mata Yunho sudah berkaca-kaca ketika dia ingat waktu dia bertemu dengan Siwon sebelum Jihyun terkena serangan mendadak tadi.

Siwon begitu kuat memberikan kata-kata penyemangat untuk Yunho yang tidak tahan melihat Jihyun menderita karena sakitnya dan juga karena Hwangsoo yang tak kunjung hadir menjenguk Jihyun. Namun ketika Siwon melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Jihyun mengerang kesakitan dan tak sadarkan diri, Siwon sendiri yang tak kuat menahan beban yang menghancurkan hatinya itu. Walau begitu, Yunho merasa bahwa selama ini ternyata Siwon tidak membenci Jihyun. Siwon hanya kecewa dan terluka karena sikap Jihyun kepadanya.

Yunho mengeratkan lagi genggamannya seakan jika dia lengah sedikit saja, Siwon akan menghilang dari hadapannya. Yunho tidak akan sanggup jika itu sampai terjadi. Dia sudah kehilangan seorang ayah meski dia tidak memiliki waktu yang banyak dengan pria yang menyayanginya dengan segenap hatinya itu. Dia sudah kehilangan seorang ibu secara tiba-tiba. Dan jika Yunho harus kehilangan kakaknya karena dia tak mampu membantu sang kakak untuk menghadapi ini semua, Yunho yakin dia tidak sanggup hidup lagi. Yunho menghela nafas berat lalu merapikan sedikit rambut Siwon yang berantakan sambil melanjutkan kembali perkataanya.

“Hyung, kau bukan pembawa sial. Kau adalah kakakku yang paling hebat. Kau kebanggaan appa dan umma. Kau segalanya bagi kami. Jangan pernah berpikir kalau kau tidak layak untuk dilahirkan di dunia ini. Kau lebih dari itu, jika tidak ada kau, maka kebahagiaan orang tua kita tidak akan lengkap.” Yunho mengucapkan itu dengan tetesan-tetesan airmata yang akhirnya tak terbendung lagi. Cairan itu mengalir begitu saja karena sakit di hati Yunho semakin menjadi, mengingat Siwon yang hendak menggantikan Jihyun agar dia bisa selamat. Secara tidak langsung, Siwon rela mati demi Jihyun meski selama ini Jihyun telah membuatnya menderita.

“Hyung, kami sayang padamu. Tidak ada yang bisa mengubah rasa itu. Dan rasa itulah yang seharusnya kau pegang dalam hatimu hyung. Rasa itu yang akan membuatmu percaya bahwa kau itu berharga. Kau berharga hyung.” Yunho terus berkata menyemangati Siwon meski dia tidak yakin Siwon dapat mendengarnya.

“Jadi sekali kali aku mohon hyung, tegarlah. Kau harus kuat demi aku. Kau harus kuat demi dirimu sendiri hyung. Dan aku yakin kau mampu hyung. Karena kau sudah membuktikan kepadaku saat appa Seungwoo dipanggil Tuhan.” Dengan ucapan itu, Yunho semakin mengeratkan genggamannya di tangan Siwon. Pemuda itu mengarahkan tangan Siwon ke keningnya seraya berdoa agar Tuhan berbaik hati dan memberikan kekuatan kepada kakaknya. Yunho terlalu larut dengan dirinya sendiri sehingga dia tidak menyadari kelopak mata Siwon bergerak dan akhirnya membuka.

Siwon menolehkan wajahnya ke samping karena merasakan berat di tangannya. Siwon melihat Yunho yang sedang menggenggam tangannya erat sekali. Siwon cukup lama menatap Yunho tanpa mau mengganggu adiknya itu lalu memalingkan wajahnya menatap langit-langit kamar bernuansa serba putih itu. Siwon menutup matanya dan setetes airmata keluar. Siwon mulai bisa berpikir dengan tenang dan dia menyesali tindakan emosionalnya tadi yang pasti membuat Yunho dan orang-orang di sekitarnya cemas. Siwon merutuki dirinya sendiri karena terlalu lemah dan bodoh.

Appa, maafkan Siwon yang masih lemah ini. Siwon masih belum mampu untuk menjaga Yunho dan umma. Terutama umma.

Appa, apa umma sudah bersama denganmu? Jika sudah, sampaikan maaf Siwon yang terdalam. Siwon sungguh menyesal karena di sisa umur umma, Siwon terus saja menyakiti hatinya. Siwon tidak mampu berbuat apapun sekarang, namun Siwon berjanji, Siwon akan berusaha lebih baik lagi. Jadi appa, umma, Siwon mohon agar appa dan umma mendoakan kami berdua dari atas sana sebagaimana kami mendoakan appa dan umma.

Appa, umma, Siwon dan Yunho tinggal berdua sekarang, tapi Siwon janji Siwon akan terus menjaga Yunho mulai sekarang. Karena hanya dia keluarga Siwon satu-satunya.

Appa, umma, semoga kalian bahagia dan tenang di samping Tuhan. Siwon dan Yunho mencintai kalian. Selamanya.

Rumah Duka

Hwangsoo menatap foto Jihyun yang sedang tersenyum lebar. Wajah cantik Jihyun yang selalu membuatnya terpesona sekarang hanya akan membekas di dalam hatinya. Hwangsoo tidak bisa menatap atau membelai wajah cantik itu lagi. Hwangsoo merasakan kekosongan dalam hatinya sejak Jihyun meninggalkannya. Rasa pedih dan kehilangan itu akan terus menderanya sampai kapan pun, namun rasa bersalah yang tadi sempat menghinggapi hati Hwangsoo mulai berkurang sedikit demi sedikit. Hwangsoo tidak memungkiri bahwa selamanya dia akan menyesali tindakan egoisnya saat dia meninggalkan Jihyun seorang diri. Akan tetapi, rasa bersalah itu harus dia tebus dengan membahagiakan Yunho dan juga Siwon, jika pemuda itu menginginkan.

“Appa.” Panggilan itu langsung membuat Hwangsoo tersadar dari lamunannya dan dengan segera dia menghapus airmata yang sedari tadi terus turun tanpa dia sadari. Hwangsoo berbalik dan melihat Yunho berdiri di belakangnya. Hwangsoo mencoba tersenyum sebisanya agar Yunho tahu bahwa dia baik-baik saja sekarang, tidak seperti tadi saat pertama kali dia mendengar berita kematian Jihyun. Hwangsoo lalu mengajak Yunho untuk duduk di sampingnya. Keduanya terdiam cukup lama sampai Hwangsoo membuka mulutnya.

“Kenapa kau meninggalkan Siwon, Yun?” pertanyaan itu terlontar dari bibir Hwangsoo.

“Ada Hyunjae ahjussi dan Hyori ahjumma appa. Mereka yang menunggu Siwon hyung sekarang.” Jawab Yunho sambil tersenyum simpul kepada Hwangsoo. Mengingat pasangan Yoo itu sekarang bersama dengan Siwon, Yunho sebenarnya sedikit lega tapi juga iri pada saat yang bersamaan ketika Hyunjae dan Hyori datang untuk menjenguk dan menjaga Siwon.

Lega karena Yunho merasa satu-satunya orang yang didengar oleh Siwon sekarang mungkin adalah kedua orang tersebut. Iri karena Siwon sepertinya sangat terbuka dengan mereka berdua dan mau mengikuti semua nasihat dan perkataan mereka namun tidak dengannya. Pasangan Yoo tersebut bahkan mampu menjadi sandaran Siwon ketika pemuda tersebut berada pada momen-momen terberat dalam hidupnya.

“Apa kakakmu itu sudah lebih tenang?” tanya Hwangsoo lagi membuyarkan lamunan Yunho. Yunho menggeleng pelan lalu menjawab pertanyaan Hwangsoo.

“Tidak tahu. Hyung masih tidur saat aku pergi tadi. Tapi semoga setelah sadar nanti, Hyunjae ahjussi dan Hyori ahjumma bisa menenangkan Siwon hyung.” harap Yunho sembari menghela nafas panjang. Hwangsoo hanya mengangguk, berharap hal yang sama dengan Yunho. Hwangsoo merasa kasihan dengan Siwon karena semua peristiwa yang dialaminya sejak dulu sampai sekarang selalu saja menguji ketabahan hati pemuda baik tersebut.

Melihat bertapa terpukulnya Siwon tadi saat Jihyun meninggal dunia, Hwangsoo sempat merasa malu kepada dirinya sendiri. Hwangsoo merasa Siwon bersikap demikian karena dia yang terlebih dahulu menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya dia bisa lebih kuat dari itu. Dia seharusnya bisa lebih kuat dari Yunho dan juga Siwon yang notabene adalah anak kandung Jihyun. Hwangsoo sadar bahwa saat ini keduanya membutuhkan dirinya, meski dia belum terlalu lama mengenal Siwon namun Siwon sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Hwangsoo akan menepati apa yang dia putuskan tadi sebelum Yunho datang. Itu janjinya kepada Jihyun.

Ruang Rawat Siwon

Siwon sedang duduk bersandar dan menikmati sentuhan lembut Hyori di rambutnya ketika dengan pelan pintu ruang rawatnya terbuka. Sebuah wajah manis terlihat dengan jelas ketika pintu tersebut terbuka sepenuhnya. Kyuhyun, pemilik wajah manis tersebut, membungkuk saat dia melihat ada Hyunjae dan Hyori di ruangan tersebut. Setelah itu, dia berjalan ke arah mereka bertiga saat dia sudah menutup kembali pintu ruangan itu. Kyuhyun tersenyum kepada Hyunjae dan Hyori namun memasang raut wajah masam dan kesal kepada Siwon. Siwon sendiri menyadari alasan mengapa Kyuhyun memberikan wajah itu kepadanya. Siwon menundukan kepalanya dan tidak mau menatap Kyuhyun. Dia terlalu malu untuk bertatapan dengan Kyuhyun karena gadis itu telah melihat betapa lemah dan bodohnya dia tadi saat emosi mengambil alih akal sehatnya.

Hyunjae dan Hyori saling berpandangan sebelum akhirnya mereka mengerti apa yang sudah terjadi. Tampaknya ada satu orang lagi yang marah dengan tindakan bodoh Siwon tadi. Mereka berdua sudah mendengar secara detil apa yang telah terjadi dengan Siwon dari Kyuhyun. Mereka cukup terkejut karena Siwon mengulang apa yang pernah dia lalukan dulu. Namun Hyunjae dan Hyori mengerti apa yang bisa dilakukan oleh emosi kala dia dibiarkan begitu saja. Pasangan Yoo itu juga paham bahwa cobaan ini terlalu berat untuk seorang pemuda yang baru saja kehilangan ayahnya yang menjadi satu-satunya teman hidupnya selama ini dan sekarang, Siwon juga harus menerima kenyataan bahwa ibunya juga sudah diambil Yang Maha Kuasa untuk selama-selamanya.

Saat keduanya bisa menemui Siwon, mereka melihat Siwon yang masih tertidur di temani oleh Yunho. Mereka berdua langsung menghampiri Siwon dengan kecemasan terlihat jelas di raut wajah tua mereka. Mereka berdua seakan mengingat kembali kejadian waktu Siwon juga meraung-raung ingin menyusul Seungwoo dan akhirnya pingsan sampai mendapat tindakan dari dokter saat itu. Keduanya bersyukur karena kali ini Siwon juga bisa dihentikan tepat waktu sebelum dia mencelakai dirinya sendiri.

Hyunjae dan Hyori kembali memusatkan perhatiannya kepada Kyuhyun yang masih mendelikkan matanya ke arah Siwon sementara pemuda it uterus saja menunduk. Hunjae dan Hyori mengerti bahwa keduanya perlu bicara empat mata tanpa ada yang mengganggu. Maka dari itu, pasangan Yoo itu beranjak pergi setelah Hyori mencium kening Siwon dan Hyunjae membelai rambut Siwon lalu menepuk bahu pemuda itu pelan. Ketika keduanya keluar dari ruang rawat Siwon, Kyuhyun menarik kursi yang sempat diduduki oleh Hyunjae dan mendekatkannya di pinggir ranjang Siwon. Siwon dan Kyuhyun terdiam beberapa saat sampai tiba-tiba Kyuhyun berdiri dan menampar pipi Siwon.

Siwon meraih pipinya dan mengusapnya, namun dia masih tidak menatap Kyuhyun. Siwon tidak berani melihat raut kekecewaan di wajah cantik Kyuhyun akan tetapi ketika dia mendengar isakan dari gadis yang berdiri di depannya, Siwon mau tidak mau mengangkat kepalanya. Di depan matanya, Kyuhyun menangis. Wajahnya sudah basah oleh airmata yang terus mengalir.

Awalnya Siwon hanya memandangi gadis itu sampai beberapa menit, pemuda itu mengulurkan tangannya kepada Kyuhyun yang langsung disambut olehnya. Begitu Siwon menggenggam tangan Kyuhyun, dengan perlahan Siwon menarik tangannya lalu mendekap tubuh Kyuhyun. Kyuhyun menyamankan dirinya di ranjang rumah sakit Siwon tersebut masih menangis sehingga airmatanya membasahi pakaian depan Siwon. Siwon terus memeluk Kyuhyun erat sambil sesekali membelai rambut hitam selembut mungkin. Tak henti-hentinya Siwon mengucapkan kata maaf kepada Kyuhyun.

Setelah cukup lama Kyuhyun mengeluarkan beban di hatinya melalui airmata, akhirnya Kyuhyun mulai tenang. Gadis itu mengusap sendiri pipinya dan sisa airmata dari matanya kemudian membalas pelukan Siwon dengan melingkarkan lengannya di pinggang pemuda tinggi itu. Siwon yang merasakan bahwa Kyuhyun sudah tenang pun akhirnya bisa tersenyum. Dengan perlahan Siwon mencium pucuk kepala Kyuhyun, membuat gadis dalam dekapannya itu juga ikut tersenyum.

“Maafkan aku, baby. Aku terlalu lemah dan bodoh sehingga menyebabkan kau dan semua orang menjadi cemas terhadapku. Aku sudah merepotkan banyak orang.” Sahut Siwon benar-benar menyesal. Dia tahu akibat tindakannya tadi, banyak orang yang merasa semakin sedih dan terbebani.

“Sshh.. Maafkan aku juga yang sudah menamparmu. Aku hanya kesal denganmu yang selalu saja memikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak pernah berpikir jika kau pergi dan Jihyun ahjumma mengetahuinya, dia akan lebih sedih dan terpukul. Apa kau tidak memikirkan perasaan Yunho, perasaanku?! Kau itu selalu saja seenaknya.” Gerutu Kyuhyun lalu memukul dada Siwon kesal. Siwon mengerang sedikit karena pukulan Kyuhyun, tapi dia tidak mencoba menahan Kyuhyun apabila gadis itu henadak memukulnya lagi. Siwon tahu bahwa dia pantas menerima hukuman dari Kyuhyun.

“Aku tahu baby, aku tahu. Maafkan aku.”

“Jika kau berani berbuat seperti itu, jangan pusing-pusing untuk mencari jalan agar kau bisa mati. Aku sendiri yang akan membunuhmu.” Ancam Kyuhyun dan kembali memukul dada Siwon. Siwon hanya menanggapi dengan tertawa kecil lalu mencium pucuk kepala Kyuhyun sekali lagi. Setelah itu, mereka berdua terdiam kembali dan menikmati sebentar kebersamaan mereka sebelum Siwon meminta Kyuhyun untuk menemaninya ke tempat Jihyun berada sekarang. Kyuhyun sempat menolak karena Siwon masih kelihatan pucat, namun kekeras kepalaan pemuda berlesung pipi itu membuat Kyuhyun mau tak mau menyetujui keinginan Siwon. Maka, setelah mengurus keluarnya Siwon dari rumah sakit, Kyuhyun, Siwon beserta pasangan Yoo, langsung pergi menuju rumah duka.

Setelah setengah jam menempuh perjalanan ke rumah duka, akhirnya keempat orang itu tiba. Sesampainya Siwon, Kyuhyun dan pasangan Yoo di rumah duka tersebut, Siwon langsung masuk dan mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat itu, berusaha mencari keberadaan Yunho dan Hwangsoo. Siwon menemukan mereka berdua tengah duduk berdampingan di samping altar yang memanjang foto Jihyun. Keduanya sedang berpamitan dengan pelayat terakhir yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Jihyun. Begitu pelayat itu pergi, Siwon segera menghampiri mereka lalu duduk di depan keduanya.

Yunho mengangkat wajahnya dan melihat Siwon sudah ada di depannya dengan tatapan sedih yang langsung membuat Yunho tanpa banyak bicara langsung menghambur ke arah Siwon dan memeluk kakaknya erat. Siwon pun membalas pelukan adiknya itu dengan sama eratnya. Sedangkan Hwangsoo menepuk bahu Siwon pelan lalu mengusap kepalanya dan juga kepala Yunho.

“Hyung..” Yunho semakin memeluk Siwon dan menumpahkan perasaannya melalui tangisan di bahu Siwon.

“Aku di sini Yun. Aku di sini.” Sahut Siwon yang juga sudah mengeluarkan airmatanya karena merasakan kepedihan. Keduanya terus berpelukan, saling menuangkan kesedihan mereka atas perginya Jihyun. Keduanya tahu bahwa mereka hanya memiliki satu sama lain sekarang. Mereka mengeri bahwa mereka berdua harus tegar dan tabah menghadapi ini semua. Terutama Siwon yang masih merasa menyesal karena sudah membuat Yunho menanggung sendirian luka hatinya karena kematian Jihyun kala Siwon tidak mampu menghadapi kenyataan tersebut.

Siwon mengusap lembut rambut Yunho dan terus membisikan ke telingan Yunho bahwa dia akan selalu bersama dengan Yunho. Bahwa dia tidak akan meninggalkan Yunho seorang diri. Siwon sudah berjanji kepada kedua orang tuanya yang sudah pergi meninggalkan mereka dan Siwon akan menepati janji itu. Demi Yunho dan demi dirinya sendiri.

TBC

Advertisements