Tags

, , , ,

Title : Tak Sebebas Merpati

Pairing : Wonkyu, a little bit Yunjae and Twins!Minsu

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, Kahitna and their label company

Inspired : Tak Sebebas Merpati by Kahitna

Warning : Un-betaed, AU, BL, OOC, and Chessy Alert.

Summary : Bahagia meski mungkin tak sebebas merpati.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Panti Asuhan WKS

Suasana panti asuhan sore ini sungguh menyenangkan. Tawa, teriakan, bahkan ada sedikit isakan dan tangisan dari semua anak di panti ini membuat aku semakin bahagia. Bukan karena keadaan mereka yang sebenarnya membuat renungan untuk semua orang melainkan bahagia karena paling tidak aku bisa berbagi sedikit dengan mereka. Berbagi kebahagiaan di hari ulang tahunku ini. Sejak tadi siang aku, sahabat-sahabatku berserta pasangan mereka dan tentu saja kekasihku membuat pesta di panti asuhan yang dikelola oleh orang tuaku. Seharusnya mereka juga hadir disini, namun karena ada sedikit permasalahan di tempat kerja, keduanya sangat menyesal tidak bisa hadir di pesta ulang tahunku. Aku mengerti meski sedikit kecewa, tapi orang tuaku mempunyai kewajiban yang harus mereka laksanakan. Lagipula ada banyak orang yang bersamaku sekarang dan aku senang membagi hari kelahiranku ini dengan mereka. Terutama dengan kekasihku, Cho Kyuhyun.

Kehadirannya di pestaku bisa dibilang suatu peristiwa langka. Aneh? Mungkin saja. Salahkan pekerjaannya sebagai dokter sukarela yang selalu berpergian ke Negara yang membutuhkan tenaga medis sukarela seperti dirinya. Hubungan kami bisa dikatakan hubungan jarak jauh dengan dia selalu berada di belahan dunia lain dan aku, sebagai manajer pemasaran di perusahaan ayahku, selalu berada di Korea atau di beberapa Negara yang mempunyai cabang perusahaan ayahku. Jadi bisa dipastikan betapa gembiranya aku ketika dia memutuskan mengambil cuti dan datang ke pesta ulang tahunku sekarang.

Bicara soal Kyuhyun, dimana dia sekarang. Sejak kami membuka hadiah untuk anak-anak disini, dia sudah tidak tampak lagi. Aku mulai mencarinya setelah mengatakan kepada Yunho hyung untuk menggantikan aku sebentar dengan urusan pesta. Yunho hyung menyanggupi dan langsung menarik istrinya Jaejoong-ssi untuk menemaninya bercengkrama bersama anak-anak panti. Aku tertawa geli ketika melihat betapa merahnya wajah Jaejoong-ssi ketika Yunho hyung mencium pipinya di depan anak-anak. Aku pun meninggalkan mereka dan langsung menyusuri setiap sudut gedung panti asuhan ini. Lumayan menguras tenagaku karena bangunan panti ini cukup besar dan setelah tiga puluh menit mencari aku tak juga menemukan Kyuhyun. Maka dari itu aku memutuskan mencarinya keluar. Mungkin saja dia ada di taman bermain yang ada di panti ini.

Aku segera keluar dan berjalan cepat menuju taman bermain tersebut. Dan benar saja, si taman itu aku melihat Kyuhyun yang sedang seru bermain bersama dua orang bocah kembar. Aku mengenal bocah kembar itu karena akulah yang pertama kali menemukan mereka ketika mereka diletakkan oleh orang tua mereka di pintu panti asuhan ini lima tahun yang lalu. Aku juga yang memberikan mereka nama karena orang tua mereka meninggalkan kedua bocah tampan itu tanpa nama.

“Minho-ah! Suho-ah!” panggilku lantang lalu berlari kecil menghampiri ketiganya. Minho dan Suho, dua bocah kembar itu, langsung menolehkan wajah mereka ke arahku dan segera berlari meninggalkan Kyuhyun seorang diri. Aku berhenti berlari dan langsung berjongkok sambil merentangkan kedua tanganku, bermaksud menangkap mereka berdua dalam dekapanku. Mereka memang langsung menerjangku ketika mereka berdua sampai ke arahku.

“Ugh!” ujarku ketika tubuh kecil mereka bertubrukan dengan tubuhku. Aku hampir terjatuh kebelakang tapi aku masih mampu menjaga tubuhku agar tidak terjungkal ke belakang.

“Siwon hyung!!” teriak keduanya senang. Mereka langsung memeluk leherku dengan erat membuatku sedikit kesulitan bernafas. Tapi pelukan mereka tidak sampai mencekikku. Dengan santai aku berdiri dan menggendong keduanya lalu membawa mereka berdua ke hadapan Kyuhyun. Pria manis itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah si kembar jika sudah melihatku. Mereka berdua memang akan langsung hiperaktif jika sudah melihatku. Wajar karena selama ini akulah yang paling memanjakan keduanya. Aku sudah menganggap keduanya sebagai bagian dari keluargaku sendiri. Dan sepertinya keduanya juga menganggap aku sebagai kakak mereka bahkan tidak jarang keduanya memanggilku dengan sebutan appa. Kelihatannya mereka ingin sekali agar aku menjadi ayah mereka.

“Kenapa kau kesini hyung? Bukankah acaranya belum selesai?” tanya Kyuhyun sambil mengambil Minho dan Suho dari gendonganku. Kyuhyun menempatkan Minho dan Suho di bangku taman kemudian mengambil dua senjata mainan berbentuk lumba-lumba yang bisa mengeluarkan gelembung-gelembung sabun.

“Minho-ah, Suho-ah, ini senjatanya sudah penuh dengan sabun. Pasti gelembungnya lebih banyak dari yang tadi.” Ucap Kyuhyun lembut. Minho dan Suho berteriak kegirangan dan langsung menerima senjata mainan itu. Mereka lalu berlari ke tengah taman yang ada air mancurnya dan bermain berdua disana, meninggalkan aku dan Kyuhyun di tempat kami semula.

Melihat Minho dan Suho menikmati permainan mereka dan tidak menghiraukan lagi aku dan Kyuhyun, aku langsung menarik pinggang Kyuhyun ke arahku. Aku melingkari kedua lenganku di pinggang rampingnya itu lalu mengecup pipi bulatnya. Kyuhyun sedikit kaget namun setelah beberapa saat dia hanya tersenyum lalu membiarkan aku mendekapnya erat. Punggung Kyuhyun sekarang bersandar di dadaku. Tangan Kyuhyun pun sudah berada di atas lenganku. Aku meletakkan kepalaku di bahunya sambil sesekali menghirup aroma tubuhnya dari perpotongan leher dan bahunya dan juga mencium leher jenjang Kyuhyun.

“Geli Siwonnie.” Keluh Kyuhyun meski aku tahu dia menyukainya. Aku tersenyum ketika dia mengatakan itu dan bukannya berhenti, aku semakin melancarkan serangan ciuman ke leher, bahu lalu ke pipinya sebelum kembali pada posisi awal yaitu kepalaku di bahunya. Salah satu lengan Kyuhyun meraih kebelakang dan mengusap-usap rambut hitam pendekku.

“Kenapa kau semanja ini Wonnie?” tanya Kyuhyun sambil tertawa geli karena hembusan nafasku dan mungkin saja sedikir rambut di daguku mengelitikinya.

“Memangnya aku tak boleh manja kepada kekasihku sendiri?” tanyaku balik sambil sedikit mengembungkan pipiku cemberut. Kyuhyun menoleh sedikit dan melihat raut wajahku yang merajuk sebal. Kyuhyun bukannya merasa bersalah dia justru semakin tertawa sehingga membuatku semakin kesal. Kedua alis tebalku sudah menyatu dan wajahku menampakkan kekesalan.

“Ya ampun, calon direktur perusahaan terbesar di Korea merajuk seperti anak kecil. Kau tak cocok memasang tampang itu Wonnie. Jelek tahu.”

“Enak saja. Aku ini tampan baby.”

“Narsis seperti biasanya.” Cibirnya masih dengan senyum manisnya itu. Kami berdua terdiam lalu sama-sama tertawa karena candaan kami masing-masing. Kyuhyun lalu melepaskan pelukanku dari tubuhnya tapi dia menggenggam tanganku erat dan menarikku untuk duduk di bangku taman. Kami berdua lalu duduk bersebelahan. Aku melepaskan genggamanku hanya untuk meraih kepala Kyuhyun lalu menyandarkannya ke bahuku sementara tanganku yang satunya lagi menggenggam tangan Kyuhyun yang aku lepas tadi. Aku membelai rambut coklat madu Kyuhyun dengan lembut dan memberikan kecupan beberapa kali ke rambutnya yang harum itu. Aku sungguh merindukan kekasihku. Kami sudah lama tak bertemu jadi jangan salahkan aku jika aku tak bisa berhenti untuk menyentuhnya.

Kami sedang menikmati kebersamaan kami sambil memastikan Minho dan Suho masih dalam jangkauan pengawasan kami ketika tiba-tiba Kyuhyun mengangkat kepalany dari bahuku dan melihat ke arah sepasang burung merpati yang sedang bertengger di pohon dekat tempat kami berada. Kyuhyun terus melihat sepasang burung itu seakan aku tidak ada bersamanya sampai kedua burung itu mengembangkan sayapnya dan dan terbang. Kyuhyun masih saja memandang kedua burung itu sampai mereka tidak terlihat lagi. Aku sempat bingung dengan perilaku Kyuhyun dan baru saja akan menanyakan apa dia baik-baik saja namun niatku terhenti karena Kyuhyun membuka mulutnya terlebih dahulu.

“Wonnie.”

“Ya baby.”

“Apa kau bahagia bersamaku?” tanya Kyuhyun kemudian menolehkan wajahnya dan memandangku datar meski ada gurat keseriusan di sorot matanya. Aku sedikit tercengang dengan pertanyaannya tadi. Pertanyaan aneh macam apa itu? Tentu saja aku bahagia bersamanya. Tidak ada yang membahagiakanku selain selalu berada disisinya dan aku menyuarakan isi hatiku itu kepadanya. Kyuhyun tersenyum tulus ketika mendengar ucapanku tadi. Dia lalu mengembalikan posisi awalnya sebelum melihat sepasang merpati tadi yaitu menyandarkan kepalanya di bahuku walau kali ini dia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Sedangkan aku pun kembali menempatkan satu tanganku di rambutnya yang halus itu dan satu lagi di lengan Kyuhyun yang memelukku. Aku membelai lembut lengan itu dan sesekali memberikan kecupan di kening dan rambut Kyuhyun.

“Kenapa kau bertanya seperti itu baby? Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanyaku setelah kami nyaman dengan posisi kami. Aku masih penasaran dengan pertanyaan awalnya tadi. Kyuhyun menggeleng pelan sebelum menjawab pertanyaanku.

“Tidak ada mengganggu pikiranku Wonnie. Hanya pikiran aneh yang sempat terlintas saat aku melihat sepasang merpati tadi.” Jawabnya. Aku sedikit tersentak dengan jawabannya tadi. Karena sepasang merpati Kyuhyun menanyakan pertanyaan aneh tadi. Aku meraih pipinya lalu menghadapkan wajah Kyuhyun agar menatapku.

“Pemikiran apa itu baby?” tanyaku sambil tersenyum. Entah kenapa aku merasa geli dengan alasan Kyuhyun tadi. Kyuhyun pun ikut tersenyum karena mungkin dia merasakan hal yang sama.

“Aku sempat berpikir, pasti rasanya menyenangkan jika kita bisa bebas seperti sepasang merpati tadi. Kau dan aku akan selalu bersama tanpa ada yang sanggup memisahkan kita. Tidak seperti sekarang.”

“Kyuhyun..” Jari telunjuk Kyuhyun sudah menempel sempurna di bibirku ketika aku baru mau membantah ucapannya tadi. Dia masih tersenyum dengan sangat manisnya kepadaku.

“Dengarkan aku hyung.” pinta Kyuhyun lembut. Mau tak mau aku mengangguk dan membiarkan dia melanjutkan perkataanya meski dalam hati aku keberatan dengan maksud ucapan awalnya tadi. Kyuhyun seperti menyiratkan bahwa keadaan kami yang sering berpisah karena pekerjaannya adalah kesalahannya. Kyuhyun sendiri tersenyum lagi sebelum membuka mulutnya untuk berbicara lagi.

“Hyung, aku tahu bagaimana perasaanmu ketika aku selalu saja pergi dan meninggalkanmu disini. Aku mengerti bagaimana kesepiannya dirimu ketika aku tidak berada disisimu.” Aku terperangah mendengar ucapannya tadi. Aku tidak tahu harus berpikir seperti apa. Aku tidak memungkiri bahwa aku sangat kesepian tanpa Kyuhyun disisiku dalam waktu yang cukup lama. Aku akui bahwa sedikitnya dalam hati ini aku sedih karena Kyuhyun lebih memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya. Namun aku tidak pernah merasa terbebani dengan pilihan hidupnya. Aku tahu betapa bermaknanya dan betapa Kyuhyun ingin melakukan hal tersebut. Jadi aku sedikit kaget Kyuhyun mengucapkan itu. Aku kira aku sudah menutupi rasa sedihku dengan baik.

“Aku memang egois karena meminta banyak hal darimu hyung. Meminta kesabaranmu untuk mau menungguku selama aku berada di negeri orang, meminta pengertianmu akan keinginanku meraih semua mimpi-mimpiku, meminta hatimu untuk tidak terluka meski kau sering menangis karena aku.” Sekarang jelas aku benar-benar tidak mengerti darimana Kyuhyun bisa mengucapkan hal tersebut. Apakah kesedihanku terlihat jelas? Apakah aku membuatnya merasa bersalah karena hal tersebut? Bukan maksudku untuk membuat Kyuhyun sampai merasa seperti itu. Aku menatap Kyuhyun sendu. Menyalurkan permintaan maafkan dengan tatapan itu dan tanggapan Kyuhyun hanya senyum dan belaian di pipiku.

“Aku sudah membuatmu terluka dengan semua keegoisanku meski kau tetap dengan setia menantiku dan terus memberikanku cinta dan kasih sayang yang berlimpah. Maka dari itu hyung, kali ini biarkan aku yang membahagiakanmu.” Aku menatap Kyuhyun bingung. Apa maksudnya? Kyuhyun mau membahagiakanku. Tapi dia sudah melakukannya dengan menjadi kekasihku selama ini. Kyuhyun sudah membahagiakanku dengan caranya mencintai diriku. Apalagi yang kurang dari itu?

“Jangan memandangku begitu hyung. Maksudku, biarkan aku berada disisimu terus menerus mulai dari sekarang. Kau tahu hyung, tugasku sebagai dokter relawan sudah selesai minggu ini. Bulan depan aku sudah bisa bekerja di rumah sakit appa. Jadi, pangeran kudaku yang tampan, sebagai hadiah ulang tahunmu, terimalah aku yang akan mulai mengganggu kehidupanmu mulai detik ini.” Ucapan Kyuhyun tadi membuatku terpaku. Aku terus saja memandangnya seperti orang bodoh karena berita yang mengejutkan ini. Kyuhyun tidak pernah bilang bahwa kepulangannya sekarang akan menjadi kepulangan terakhirnya dari tugas-tugas keliling dunia itu. Jadi Kyuhyun akan terus bersamaku sekarang. Oh Tuhan, terima kasih.

Setelah aku sadar sepenuhnya dengan berita baik ini, aku langsung mendekap Kyuhyun dengan erat. Aku sempat mencium pelipisnya kemudian kembali menenggelamkan wajahku di cerug antara leher dan bahunya.

“Oh baby.” Aku hanya mampu mengatakan itu kepadanya sekarang. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menggambarkan kegembiraanku sekarang. Ini kejutan yang menyenangkan sekaligus membuatku terharu. Kyuhyun akhirnya kembali kepadaku.

Aku mendengar Kyuhyun tertawa kecil lalu mengeratkan pelukannya di tubuhku juga kala dia sadar aku tak mampu berkata apa pun untuk menanggapi berita gembira ini. Kami terus berpelukan sampai Kyuhyun mendorong tubuhku sedikit agar memberi jarak antara kami berdua. Hanya Kyuhyun tidak sepenuhnya menjauh, dia kemudian menautkan dahi kami sampai hidung kami juga bersentuhan satu sama lain.

“Kau bahagia?” tanyanya lirih.

“Tentu saja Kyu, kau tak tahu betapa bahagianya aku sekarang. Ini hadiah ulang tahun terbaik nomor dua bagiku.” Jawabku. Aku sedikit terkekeh ketika mendengar pertanyaan Kyuhyun tadi. Masih bisanya dia menanyakan hal yang sudah dia tahu sendiri jawabannya. Sedangkan Kyuhyun, dia melepaskan tautan dahi kami dan memiringkan sedikit kepala dan memandangku bingung. Posenya sekarang sungguh lucu dan imut, membuatku gemas dan ingin mencubit pipi bulatnya itu.

“Nomor dua? Memangnya apa yang nomor satu?” tanya Kyuhyun bingung tapi aku sedikit mendengar ada nada kesal disuaranya. Sepertinya baby Kyu cemburu ada yang hadiah yang melebihi hadiah darinya. Aku menggelengkan kepalaku karena geli melihat tingkahnya itu. Aku tersenyum jahil, kali ini gentian aku yang memberi kejutan baby.

Aku melepas seluruh peganganu terhadap Kyuhyun dan dengan cepat aku sudah berlutut didepan Kyuhyun dengan menumpukan satu kaki ditanah sebagai pijakan. Lalu aku mengambil sebuah kotak beludru merah yang memang sudah aku persiapkan sejak awal sebelum pesta ulang tahunku berlangsung dan kejutan yang diberikan oleh Kyuhyun tadi. Aku membuka kotak kecil itu yang berisikan cincin platinum yang dihiasi dengan batu berlian kecil di tengah dan ukiran nama kami berdua di dalam cincin. Ukiran nama itu diberi sentuhan emas disetiap hurufnya. Aku kemudian meraih tangan Kyuhyun dan mencium punggung tangannya itu lalu menggenggamnya.

“Siwon..” Aku tersenyum memperlihatkan lesung pipi kesayangan kekasihku ini ketika sekarang gentian dia yang kehabisan kata-kata. Aku memandang Kyuhyun dengan penuh cinta dan harapan. Orang di depanku ini yang kecantikan wajahnya terkadang membuatku heran karena dia mampu tampil lebih menawan dibandingkan wanita-wanita yang aku kenal, dia yang merupakan seorang dokter muda yang berbakat, dia yang sudah mengisi relung hatiku sejak kami bertemu, dia yang aku cintai dari awal, sekarang bahkan nanti, adalah satu-satunya orang yang bisa aku bayangkan untuk berbagi hidupku. Dan aku rasa aku sudah siap untuk itu. Aku rasa kami sudah siap untuk itu. Untuk yang terakhir, ini saatnya aku mengetahui bagaimana perasaannya. Dengan yakin aku berkata kepada Kyuhyun.

“Adalah kebahagiaan utama untukku, Choi Siwon, jika kau, Cho Kyuhyun, bersedia mengganti namamu menjadi Choi Kyuhyun.” Ucapku tenang. Kyuhyun sudah menutup mulutnya dan matanya sudah berkaca-kaca, namun aku belum melihat satu bulir pun yang turun membasahi pipinya. Aku melanjutkan lagi ucapanku ketika Kyuhyun diam saja.

“Maukah kau menikah denganku?” tanyaku perlahan. Aku melamar Kyuhyun untuk menjadi pendamping hidupku. Tidak ada yang lain. Hanya dia.

Dengan lamaranku itu, tampaknya pertahanan Kyuhyun runtuh juga. Matanya sudah dialiri oleh tetesan airmata. Bulir bening itu sudah meluncur dengan lancar sampai ke pipi dan tangan Kyuhyun yang masih menutupi mulutnya. Aku mendengar sedikit isakan dari kekasihku ini. Aku mengarahkan tanganku yang sudah melepas genggaman tanganku kepadanya untuk menghapus airmatanya. Begitu sentuhan jariku menyentuh pipinya, tangis Kyuhyun semakin menjadi. Aku menjadi sedikit panik karena aku tidak mengira dia akan menangis seperti ini. Aku segera naik ke bangku lagi dan merangkul bahu Kyuhyun, mencoba meredakan tangisan Kyuhyun.

“Kau baik-baik saja sayang? Aku minta maaf kalau aku membuatmu sedih.”

“Tentu saja bodoh. Kenapa kau selalu saja seenaknya sendiri?! Aku kaget setengah mati! Kau mau membunuhku ya?!” protes Kyuhyun sambil menghapus sendiri airmatanya. Dia memukul lenganku keras membuatku sedikit kesakitan, tapi aku tertawa karena Kyuhyun memberikan tampang cemberutnya. Dia terlihat menggemaskan dengan bibirnya yang mengerucut imut dan pipi yang mengembung sempurna. Aku semakin tertawa kala Kyuhyun tak henti-hentinya memukul lenganku sampai aku harus meletakkan dulu kotak cincin di sampingku dan menahan tangan Kyuhyun yang memukul lenganku.

“Sudah marahnya? Lalu mana jawaban untukku?” tanyaku lagi setelah kekesalan Kyuhyun mereda. Aku heran dengan kekasihku ini. Biasanya orang jika dilamar akan menangis bahagia dan memeluk pasangannya. Tapi Kyuhyun justru kesal dan terus memukulku. Tapi inilah daya tarik Kyuhyun.

Sementara itu, Kyuhyun menatapku datar. Tatapan itu sempat membuatku gugup tapi dengan lengan ramping itu memeluk leherku dan bibir itu membisikan sesuatu yang bibirku tertarik ke kanan dan ke kiri membentuk lengkungan. Kyuhyun berbisik,

“Ya Choi Siwon, aku mau menikah denganmu. Aku mencintaimu.” Maka dengan itu lengkapkah sudah kebahagiaanku. Aku membalas pelukan Kyuhyun sebelum melepaskan dekapan kami untuk memasangkan cincin yang sudah aku siapkan ke jari manisnya lalu mengecupnya ringan.

“Aku juga mencintaimu baby. Selama nafasku masih berhembus, bahkan sampai aku harus meninggalkanmu selamanya.” Ucapku bersungguh-sungguh. Kyuhyun menatapku berbinar. Perlahan dia mencium bibirku. Hanya menempel saja sebentar sebelum dia naik ke pangkuanku dan menyandarkan kepalanya di dada bidangku. Aku merangkul pinggang Kyuhyun dengan satu tangan agar tubuh Kyuhyun seimbang dan tidak jatuh sedangkan satu tanganku yang menganggur membelai surai Kyuhyun.

“Kyunnie.” Panggilku setelah kami terdiam beberapa menit.

“Hm..”

“Aku pasti akan membuatmu menjadi orang yang paling berbahagia, meski aku tidak bisa memberikanmu kebebasan seperti merpati tadi.” Janjiku kepadanya. Mungkin Kyuhyun kaget mendengar janjiku tadi terlebih lagi aku menyinggung soal merpati yang membuat kami saling mengungkapkan isi hati kami yang terdalam, karena dia bangkit dari tempatnya bersandar didadaku dan langsung menatapku seakan aku sedang bergurau dengannya. Kyuhyun mengusap pipiku lalu mendekatkan wajahnya dan mencium ujung hidungku sebelum kembali lagi menatapku.

“Bersamamu sudah menjadi kebebasan bagiku, hyung. Kau adalah sayapku, jika kau tidak ada, aku tidak mungkin bisa terbang sejauh dan selama ini. Terima kasih untuk itu dan semua yang sudah kau berikan kepadaku.” Aku mengusap pipi bulatnya dan mencium bibir Kyuhyun lembut. Ciuman yang tadinya tanpa tekanan apapun menjadi ciuman dengan lumatan-lumatan dariku dan darinya. Kami saling memagut bibir pasangan kami dan mencoba mendominasi ciuman ini. Namun tetap saja aku yang menang dan dengan sedikit dorongan aku bisa memasukan lidahku dan mengajak Kyuhyun beradu denganku. Kami terus berciuman sampai Kyuhyun yang melepas tautan bibir kami. Aku melihat dia sedikit menarik nafas sebelum akhirnya dengan berani dia memberikan ciuman-ciuman kecil di seluruh wajahku. Mulai dari kening, kedua mataku, hidung, kedua pipiku, dan terakhir bibirku. Aku menikmati perhatian dari Kyuhyun dan setelahnya aku merengkuh tubuhnya lalu berkata.

“Aku yang seharusnya berterima kasih baby. Kau membuat ulang tahunku kali ini menjadi momen paling indah dalam hidupku.”

“Selamat ulang tahun Choi Siwon. Semoga kau bahagia selamanya.”

“Terima kasih istriku yang paling manis.” Candaku. Kyuhyun langsung memberi jarak diantara kami lalu mencubit pipiku.

“Hei kita belum menikah!” serunya keras namun aku melihat tarikan bibir itu menandakan bahwa sebenarnya dia tidak keberatan aku memanggilnya seperti tadi. Aku tertawa lepas sebelum membopong tubuhnya membuat Kyuhyun reflek melingkarkan lengannya di leherku.

“Kalau bagitu ayo kita menikah sekarang.”

“Yah!! Choi Siwon bodoh! Turunkan aku! Choi Siwon!!” teriaknya keras sebelum akhirnya ikut tertawa bersamaku ketika aku membopongnya sambil berlari ke arah Minho dan Suho. Kami berdua ikut bermain gelembung sabun dengan si kembar dan menghabiskan waktu dengan mereka sampai kami puas.

Sesekali aku melihat ke arah Kyuhyun yang tertawa riang bersama si kembar. Tawa itu membuat hatiku berbunga-bunga. Tawa bahagia itu aku anggap sebagai hadiah dari Tuhan untukku. Ya, tawa itu adalah awal untukku berusaha dengan segala kemampuanku agar sang pemilik bisa terus memperlihatkannya.

Terimakasih kau terima

Pertunangan indah ini

Bahagia meski mungkin

Tak sebebas merpati

(Kahitna – Tak Sebebas Merpati)

END

Advertisements