Tags

, , , , , ,

Someday We'll Know Rev

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Someday We’ll Know 15

Pairing: Wonkyu, Yunjae, Kangteuk, GTop

Genre : Romance, Angst, Family

Rating : PG

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster belong to @SuciiCho

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, a little mention of drugs used, Several OC, a rather fast plot, OOC, AU

Summary : Where is happiness? Only you could answer that.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

“Siwon, aku tahu seperti apa dirimu. Kau pasti bosan dengan ucapanku tentang desain dan segalanya. Pergilah. Bantu suamiku dan juga monyet kuning itu. Bisa-bisa dia sekarat karena dikerjai oleh Hyunnie. Aku yakin sekarang Hyunnie menyuruhnya mewakili dirinya untuk berdiskusi soal kerjasama ini.”

“Kau yakin noona?”

“Yakin. Sekarang pergilah. Tuan Kang, ruang rapat untuk pertemuan dengan suamiku dan atasan anda dimana ya?”

“Oh, saya bisa meminta salah seorang bawahan saya untuk mengantar Siwon-ssi.”

“Benarkah? Ya sudah. Siwon-ah, sana pergi.”

“Oke, oke. Aku pergi dulu ya. Bye noona.” Pamit Siwon pergi dengan ditemani salah seorang bawahan dari tuan Kang yang langsung datang begitu di panggil olehnya.

Tidak sampai semenit setelah Siwon pergi, koreographer yang disebut oleh tuan Kang tadi datang dari arah yang berlawanan dengan perginya Siwon. Koreographer tersebut langsung disambut oleh tuan Kang dan diperkenalkan kepada Jiyong.

“Nyonya Choi, perkenalkan. Ini adalah Choi Yunho, koreographer terbaik kami. Yunho-ssi, beliau adalah Choi Jiyong-ssi, istri dari Choi Seunghyun-ssi yang mungkin akan menjadi investor kita.” Ujar tuan Kang. Jiyong dan Yunho bersalaman dan membungkuk hormat sebelum tersenyum satu sama lain. Yunho tidak melihat senyum aneh dari Jiyong yang sebenarnya sedang berpikir.

Sejak tadi Jiyong terus merasa aneh. Mulai dari nama Cho Kyuhyun dan sekarang Choi Yunho. Kenapa nama-nama itu seperti nama-nama yang sering muncul dalam cerita Siwon? Apa semua ini kebetulan atau kedua orang itu mungkin…

“Salam kenal nyonya Choi. Saya Choi Yunho.”

“Ah. Salam kenal Yunho-ssi. Saya…” belum selesai Jiyong mengenalkan dirinya sendiri, ucapannya terhenti karena disela oleh suara Siwon yang tiba-tiba kembali.

“Noona. Aku lupa memberikan ponselm… Yunho?!”

“Hyung…”

( 。・_・。)(。・_・。 )

“Noona. Aku lupa memberikan ponselm… Yunho?!” seru Siwon. Suara tercekat kala memanggil Yunho. Matanya melebar melihat sosok adik kandung yang sangat disayanginya itu tepat berada dihadapannya, sehat dan terlihat baik-baik saja.

“Hyung…” lirih Yunho sama terkejutnya dengan Siwon. Pemuda yang sekarang telah tumbut menjadi seorang pria itu memandang sendu kea rah Siwon.

Siwon terus menatap Yunho seakan kelopaknya enggan untuk berkedip. Siwon merasa bersyukur sekaligus sedih ketika melihat Yunho yang ada dihadapannya sekarang.

Adiknya itu telah menjadi seorang pria yang terlihat mapan dan bukannya Yunho yang selalu hidup seadanya, bukan Yunho yang kurang perhatian ketika bersamanya. Yunho yang ada di depannya sekarang adalah Yunho yang mandiri. Mandiri dan mampu hidup tanpa dirinya. Ya, tanpa dirinya.

Siwon merasa kedua matanya memanas. Dia bisa merasakan cairan bening miliknya akan keluar dan Siwon takkan membiarkan itu terjadi. Dia tidak boleh terlihat lemah, dia tidak boleh terlihat menyedihkan. Dia sudah berjanji kepada dirinya bahwa dia harus bisa bersikap seperti tidak pernah terjadi apapun. Ya. Seperti tak pernah terjadi apapun. Siwon beranggapan bahwa Yunho akan lebih baik tanpa ada campur tangan darinya. Dengan pendirian itu, Siwon mencoba tersenyum meski jelas senyum itu palsu. Dia harus bisa membuat Yunho tidak terlibat lagi dengan dirinya.

Tanpa bicara lagi, berusaha tidak menghiraukan keberadaan Yunho, Siwon melangkah melewati Yunho dan mendekati Jiyong lalu menyerahkan ponsel milik Jiyong yang ada padanya. Setelah itu, Siwon berbalik meski sempat menatap Yunho sekali lagi sembelum membungkuk dan berjalan cepat meninggalkan Yunho, Jiyong, tuan Kang dan staff tuan Kang yang tadi menemani Siwon.

Mendapati perlakuan Siwon yang dingin seakan tidak mengenalnya itu, Yunho hanya bisa terpaku. Bibirnya bergetar menahan apapun yang akan keluar dari mulutnya. Yunho ingin berteriak memanggil Siwon, Yunho ingin memeluk kakaknya yang telah pergi lama itu, namun…

Namun sikap Siwon membuatnya tak mampu berkutik. Yunho seakan tersihir untuk tidak bergerak dan membiarkan Siwon pergi menjauhinya. Pergi, sekali lagi.

Sedangkan Jiyong, wanita cantik itu sedikit heran dengan sikap Siwon baru saja. Tampaknya Siwon mengenal koreografer muda ini namun kenapa dalam sekejap sikap Siwon berubah drastis seolah-olah Yunho adalah orang asing. Jiyong yang penasaran, akhirnya segera mengikuti Siwon dan karena dia merasa sepertinya ini adalah masalah pribadi, tak lupa Jiyong memberitahu kepada tuan Kang dan stafnya untuk kembali bekerja seperti biasa. Jiyong tidak masalah ditinggal sendiri. Awalnya keduanya menolak tetapi karena Jiyong bersikeras maka mau tak mau keduanya menyetujui permintaan Jiyong dan pergi ke tempat kerja mereka masing-masing.

“Siwon-ah!!” panggil Jiyong lantang berharap Siwon mendengarnya dan berhenti berjalan. Usaha Jiyong berhasil karena sebelum Siwon masuk ke dalam lift, dia menghentikan langkahnya. Jiyong segera mendekati Siwon dan tanpa basa-basi, wanita itu langsung bertanya kepada Siwon.

“Ada apa denganmu? Kenapa sikapmu beg…”

“Noona. Aku mohon jangan bertanya apapun.” Sela Siwon pelan namun penuh penegasan bahwa dia tak mau membahas apapun sekarang. Jiyong menatap Siwon dengan tatapan penuh kekhawatiran. Siwon yang dilihatnya sekarang seperti Siwon saat mereka pertama kali bertemu. Sorot mata yang ditampilkan oleh Siwon sarat dengan kepedihan.

Dengan penuh kasih sayang layaknya seorang kakak, Jiyong membelai rambut Siwon membuat si empunya rambut mengalihkan pandangannya dari pintu lift ke arah Jiyong. Saat iris hitam itu bertemu dengan iris Jiyong, wanita yang sudah dianggap seperti kakak perempuannya itu, tersenyum.

“Baiklah Siwon-ah. Aku tidak akan bertanya apapun sampai kau bersedia bercerita.” Ucap Jiyong pengertian. Mendengar ucapan Jiyong, Siwon tak bisa menahan senyum yang terpatri di wajah tampannya. Istri Seunghyun tersebut begitu baik dan pengertian. Siwon sangat berterima kasih bisa dipertemukan dengan pasangan Choi muda tersebut.

“Terima kasih noona.”

“Ya sudah. Lebih baik kita menyusul Hyunnie saja. Aku sudah tidak minat berkeliling lagi.”

“Ah… Apa karena aku noona? Kalau begitu, mung…”

“Diamlah! Aku bilang aku sudah tidak ingin berkeliling lagi jadi ini tidak ada hubungannya denganmu. Awas kalau kau berani bicara kalau ini semua karena kau! Aku pukul kau nanti!” ancam Jiyong walau tidak ada keseriusan dalam nada bicaranya.

Siwon terkekeh mendengar ancaman setengah bercanda itu. Siwon mengangguk, menyetujui keputusan Jiyong untuk menyusul Seunghyun. Lagipula cepat atau lambat keduanya harus menyusul Seunghyun.

“Oh, by the way, kau tahu ruang rapatnya Siwon-ah? Kita hanya berdua saja sekarang karena aku membiarkan tuan Kang dan stafnya tadi kembali bekerja.”

“Aku tahu noona. Tadi aku sempat bertanya kepada staf tuan Kang.”

“Oh.” Respon singkat Jiyong sebelum keduanya berbincang tentang hal-hal yang ringan dan menunggu lift datang. Jiyong sengaja terus mengajak Siwon berbicara dengannya karena dia ingin perhatian dan pikiran Siwon teralihkan dari masalah yang membebani hatinya tadi. Paling tidak Jiyong tak perlu melihat lagi wajah sendu dan murung Siwon terpampang jelas seperti tadi.

Sementara itu, Yunho yang melihat kedekatan Siwon dan Jiyong merasa sedih sekaligus iri. Yunho sedih karena Siwon bersikap ramah kepada Jiyong dan terlihat akrab layaknya saudara. Yunho iri karena dia ingin menggantikan posisi Jiyong. Perasaannya tersebut membuat Yunho tak sadar berjalan mendekati Siwon.

Siwon dan Jiyong sendiri menyadari kehadiran Yunho di dekat mereka. Keduanya menatap Yunho dengan tatapan yang berbeda. Jiyong menatap Yunho dengan tatapan penuh dengan rasa ingin tahu sedangkan Siwon dengan tatapan datar yang tak terbaca oleh Yunho. Yunho terus memandang Siwon dan berdiri terpaku berhadapan dengannya sampai tiba-tiba Yunho memberanikan dirinya menyapa Siwon.

“Hyung…” satu kata itu membuat Siwon tersadar dari kebisuannya. Pria berlesung pipi itu mengalihkan pandangannya dari Yunho dan memilih memandang pintu lift yang masih rapat tertutup.

“Hyung…” ulang Yunho sekali lagi namun Siwon masih saja tidak memberikan respon apapun. Pria tinggi itu lebih tertarik dengan pintu kaca lift daripada wajah Yunho.

“Hyu…”

“Yunho-ssi, apa kau mengenal adik iparku?” tanya Jiyong memotong sahutan Yunho kepada Siwon. Pertanyaan Jiyong, ah bukan. Mungki lebih tepatnya panggilan ‘adik ipar’ membuat mata Yunho terbelalak.

“Adik… Ipar…”

“Ya, adik ipar. Siwon-ah adalah adik dari suamiku Choi Seunghyun.”

“Apa?!”

“Kelihatannya kau mengenal adik iparku. Mungkin nanti kita bisa berbicang lebih lanjut. Tapi untuk sekarang maaf sekali Yunho-ssi, kami harus pergi.” Tepat di saat Jiyong berkata demikian, pintu lift pun terbuka. Jiyong dengan anggun membungkuk kepada Yunho lalu menarik Siwon yang membatu sejak Jiyong mengklaim bahwa dia adalah adik iparnya dan bukan sebagai sahabat.

Siwon tahu bahwa Jiyong sudah menganggap dirinya seperti adik sendiri tapi biasanya Jiyong tidak pernah secara langsung mengatakan itu. Terlebih lagi dengan nada suara yang seperti mengintimidasi Yunho itu, seolah mengatakan bahwa Yunho tidak usah terlalu akrab dengan dirinya karena dia bukan siapa-siapa Siwon.

Menyadari hal itu, Siwon menatap tak enak kepada Yunho. Dia mengerti bahwa mungkin Jiyong bersikap demikian kepada Yunho karena menganggap Yunho adalah penyebab dirinya bersedih tadi tapi Siwon juga tidak menampik rasa gundah ketika Yunho memperlihatkan raut wajah terkejut sekaligus terluka karena ucapan Jiyong tersebut. Siwon bisa membaca pikiran Yunho jika adiknya itu mengira Siwon sudah tidak mau lagi berhubungan dengannya sampai harus memiliki orang lain yang dianggap sebagai saudara dan bukannya memaafkan dan menerima Yunho kembali.

Ya, Siwon memang merasa tak enak kepada Yunho namun di satu sisi ada perasaan lega ketika melihat Yunho tak berkutik dengan ucapan Jiyong. Katakan Siwon jahat, tapi Siwon memang tidak mau berhubungan dengan Yunho. Bukankah tadi dia sudah menegaskan bahwa Yunho akan lebih baik tanpanya dan apa yang dia lihat sekarang dari Yunho adalah kenyataan. Yunho terlihat lebih baik daripada saat bersamanya dulu. Bagi Siwon, sudah bertemu dengan Yunho saat ini sudah cukup untuknya. Siwon tidak ingin mengganggu kehidupan Yunho hanya dengan kehadirannya meski untuk itu Siwon harus bersikap seolah-olah diantara mereka tidak pernah terjadi apapun, bahwa keduanya tidak saling mengenal.

Mungkin saja Siwon adalah seorang pengecut karena tidak bisa menghadapi permasalahannya sendiri. Hanya saja rasa kehilangan, rasa dikhianati, rasa bersalah, kesedihan dan kepedihan yang Siwon rasakan ketika semua orang memandangnya tak becus merawat Yunho, semua itu membuat Siwon tak bisa begitu saja melupakan kenyataan bahwa dia telah gagal. Bertahun-tahun dia berkelana, berusaha menjadi orang yang lebih baik, tetap saja dia masih tak sanggup untuk mengikis perasaan bersalah akan peristiwa yang sudah menimpa Yunho. Siwon sadar dia hanya manusia biasa dan nampaknya waktu bertahun-tahun memulihkan dirinya itu masih harus bertambah, entah itu singkat atau lebih lama dari sebelumnya.

Ting!

Suara digital menandakan Siwon dan Jiyong telah sampai di lantai yang mereka tuju, membangunkan Siwon dari lamunannya. Dia memperhatikan sekelilingnya dan menemukan JIyong sudah berada di luar lift dengan senyum manis terpampang di wajah cantiknya.

“Kenapa kau masih disitu kuda bodoh?! Ayo cepat keluar! Hyunnie pasti sudah menunggu kita.” Ajak Jiyong sambil mengulurkan tangannya. Uluran tangan itu bagi Siwon bagaikan bantuan untuk hatinya. Siwon tersenyum lebar.

Mungkin dia masih akan merasa beban di hatinya karena peristiwa dengan Yunho, mungkin dia akan membutuhkan waktu untuk pulih dari keterpurukannya, mungkin Siwon harus sekali lagi berjuang untuk mencari alasan untuk tetap hidup sebagaimana dulu saat dia harus menemukan alasan itu ketika Seungwoo pergi untuk selamanya. Akan tetapi untuk kali ini Siwon tidak harus menghadapinya sendiri. Ada Jiyong, ada Hyukjae yang meski tidak terlalu dekat tapi masih merupakan orang yang bisa dia percaya, dan ada Seunghyun.

Senyum lebar bermahkotakan lesung pipi itu semakin melebar. Siwon pun menyambut uluran tangan itu dan keluar dari lift, berjalan beriringan dengan Jiyong. Ya, Siwon memiliki keluarga baru yang senantiasa berada di sampingnya. Siwon berharap dengan dukungan dari mereka, Siwon mampu untuk bisa menatap Yunho seperti dulu. Karena seberapa pun perasaan yang berkecamuk di hatinya, seberapa kecewanya dia kepada Yunho, Siwon tak lupa bahwa kekecewaan terbesarnya adalah dirinya sendiri. Jika dia bisa memaafkan dirinya sendiri pasti merupakan hal yang sangat mudah untuk berhadapan dengan Yunho lagi.

“Aku perlu Seunghyun hyung.” Gumam Siwon tiba-tiba. Gumaman itu sebenarnya dimaksudkan untuk dirinya sendiri namun Jiyong tentu mendengarnya.

“Kau memang selalu membutuhkannya Siwon-ah. Dan dia pun begitu. Kalian sudah berjanji akan menjadi saudara bukan?!” Siwon menoleh ke arah Jiyong sebelum sekali lagi memberikan senyumannya kepada nyonya Choi itu.

Keduanya lalu berjalan menuju ruang rapat dan dalam waktu beberapa menit keduanya sudah berdiri di depan pintu rapat tersebut. Siwon mengetuk pintu ruang rapat, menunggu jawaban dari dalam. Dan begitu ada sahutan dari dalam yang mempersilahkan dirinya masuk, Siwon membuka pintu, mempersilahkan Jiyong untuk masuk terlebih dahulu kemudian menutup pintu itu kembali. Di dalam, mereka berdua melihat Seunghyun yang duduk tepat menghadap ke arah Siwon dan Jiyong. Sedangkan pemilik WK Agency, duduk membelakangi mereka.

“Ah! Siwon-ah. Lho?! Jiyongie?! Kau disini juga?! Sudah berkelilingnya? Bagaimana keadaan kantor ini?! Ayo duduk.” tanya Seunghyun bertubi-tubi begitu dia melihat Siwon dan Jiyong memasuki ruangan walau pada akhirnya dia tidak mengindahkan apakah Jiyong maupun Siwon akan menjawab pertanyaannya karena dia sudah mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di sampingnya.

Siwon dan juga Jiyong memutar matanya malas dengan tingkah Seunghyun yang suka seenaknya itu. Bukankah seharusnya Seunghyun memperkenalkan Siwon dan Jiyong dan bukan langsung bertanya seperti itu. Meski demikian, keduanya berjalan ke arah Seunghyun dan begitu sampai, Jiyong langsung duduk di samping Seunghyun sementara Siwon membungkuk dulu, menunjukkan bahwa dia masih memiliki etika sebagai bawahan Seunghyun.

“Sajangnim, saya mohon maaf karena terlambat. Kami sudah selesai berkeliling walau masih ada beberapa tempat yang belum disinggahi, tapi nyonya Choi memutuskan untuk kemari.” Jawab Siwon sopan membuat Seunghyun sadar bahwa sekarang bukan waktunya bersikap biasa dengan Siwon. Terlebih lagi ketika rasa nyeri di pinggangnya karena cubitan Jiyong menandakan bahwa situasi saat ini masih situasi yang formal. Seunghyun tertawa garing menanggapi kesalahan kecilnya sebelum dia menanggapi Siwon.

“Begitukah? Ahahaha… Baiklah kalau begitu. Ah, hadirin sekalian, saya mohon maaf karena tidak mengenalkan salah satu staf saya. Siwon-ah kemarilah. Perkenalkan, dia Choi Siwon, sekretaris saya selain Hyukjae.”

DEG!

Siwon… Batin seseorang terkejut ketika orang yang akan menjadi penyandang dana di perusahaannya ini mengucapkan nama itu. Nama yang selalu dirindukan olehnya sejak perpisahan mereka. Nama yang selalu membawa rasa bersalah karena telah melukai hati sang pemilik nama itu.

“Siwon…?” sahutan pelan seseorang itu membuat seluruh tubuh Siwon membeku. Tidak hanya orang itu yang terkejut, Siwon pun demikian.

Siwon kenal suara itu. Sangat kenal. Suara gadis, ah tidak. Mungkin sekarang gadis yang selalu ada di hati Siwon itu telah menjadi seorang wanita. Wanita yang sekarang sudah berdiri dengan mata terbelalak sempurna sejak iris coklatnya menangkap sosok Siwon. Wanita yang sekarang menatap ke arah Siwon dengan pandangan terkejut, tidak percaya, namun yang lebih kentara adalah kerinduan dan kelegaan karena bisa bertemu dengan pria yang sudah mencuri hatinya itu.

“Kyu…” lirih Siwon mengucapkan nama yang lama tak terdengar dari bibirnya itu.

“Lho? Kalian saling mengenal? Kyuhyun-ssi, anda mengenal Siwon-ah?” tanya Seunghyun dengan tersenyum, secara tak langsung memutus perhatian kedua insan yang masih saling mencintai itu namun tak bisa atau lebih tepatnya tak mampu mengatakannya terang-terangan. Seunghyun tampaknya belum menyadari aura yang berbeda dari Siwon dan juga Kyuhyun.

“Aa… Ss…saya…”

“Kau kenal Kyuhyun-ssi Siwon-ah?” tanya Seunghyun beralih kepada Siwon karena tak sabar dengan tanggapan terbata dari Kyuhyun. Siwon memanglingkan wajahnya ke arah Seunghyun, bingung ingin menjawab apa. Haruskah dia berbohong dan mengatakan tidak mengenal Kyuhyun atau berbicara terus terang dan menanggung akibatnya yaitu pertanyaan bertubi-tubi dari Seunghyun.

Siwon menyayangi dan mempercayai Seunghyun dengan segenap jiwa raganya. Akan tetapi menceritakan kehidupan pahitnya dulu diluar dari kedua orang tuanya, Siwon belum sanggup. Siwon bahkan belum pernah menceritakan jika dia memiliki seorang adik.

“Siwon-ah? Kau kenapa? Sakit?” tanya Seunghyun menjadi cemas karena dilihatnya Siwon seperti orang tak fokus dan terlihat pucat.

“Ak… aku… Aku baik-baik saja hyung. Mungkin sedikit lelah.” Jawab Siwon ikut terbata seperti Kyuhyun. Seunghyun memandangi Siwon beberapa waktu lalu beralih menatap kepada Kyuhyun. Pria dengan wajah bak pembunuh berdarah dingin it uterus melakukan kegiatan menatapnya sampai Siwon menegur Seunghyun dengan perlahan.

“Hyung?” sahutan Siwon tidak dihiraukan sama sekali oleh Seunghyun. Dia justru menatap tajam ke arah Kyuhyun sampai mendadak Seunghyun memerintahkan Hyukjae untuk membereskan barang-barang mereka.

“Bereskan semuanya Hyukjae lalu antarkan istriku dan Siwon ke apartemen.” Titah Seunghyun tegas dan tak terbantahkan. Penuh kebingungan, Hyukjae pun hanya bisa mengangguk dan langsung mengerjakan perintah Seunghyun. Pria dengan senyum manis bergusinya itu membereskan berkas dan computer jinjing yang dibawanya dan setelah selesai, Hyukjae lalu memberikan gestur kepada Jiyong untuk mengikutinya keluar dari ruangan rapat itu. Tak lupa, Hyukjae juga mengisyaratkan kepada Siwon untuk ikut serta.

Jiyong yang paham akan sikap Seunghyun, hanya menghela nafas pelan dan mengikuti arahan Hyukjae. Jiyong pikir percuma untuk menanyakan mengapa tiba-tiba Seunghyun bersikap demikian. Jiyong hanya bisa menduga bahwa hal ini ada sangkut pautnya dengan Siwon.

Jiyong terbiasa dengan sikap protektif sang suami kepada orang yang dia sayangi. Dirinya merasakan hal tersebut selama menjalin kasih dan merajut rumah tangga bersama Seunghyun. Dan kini dengan kehadiran Siwon selayaknya seorang adik bagi Seunghyun, tentu menambah daftar orang yang perlu dilindungi olehnya. Maklum saja, Seunghyun memang sebatang kara semenjak kedua orang tuanya meninggal dan dengan dirinya yang berstatus anak tunggal. Seunghyun diasuh oleh pengacara sekaligus sahabat mendiang ayah Seunghyun karena Seunghyun tidak mempercayai kerabat kandungnya yang memang begitu licik ingin mengambil keuntungan dari Seunghyun.

Sejak pengacara tersebut juga harus tutup usia karena sakit, Seunghyun hanya memiliki Jiyong, Hyukjae yang baru-baru ini saja mampu mendapatkan kepercayaan Seunghyun karena pekerjaannya yang mumpuni sebagai sekretaris Seunghyun dan sekarang Siwon, orang yang tanpa pamrih telah menyelamatkan hidup Seunghyun dan membuatnya merasakan bagaimana menjadi seorang kakak.

“Siwon.” Teguran Hyukjae kepada Siwon membuat Jiyong kembali dari alam pikirnya. Dia menoleh kepada Siwon yang masih mematung menatap Seunghyun.

“Hyukjae-ah, kita keluar lebih dulu saja. Siwon-ah pasti menyusul. Ayo.” Ajak Jiyong yang mengerti bahwa Siwon masih ingin berada disini. Hyukjae terlihat ragu namun dengan lembut, Jiyong menarik tangan Hyukjae dan membawanya keluar dari ruangan itu.

“Hyung.” Sahut Siwon Seunghyun sekali lagi bermaksud agar Seunghyun memperhatikan dirinya dan mungkin bisa menjelaskan maksud Seunghyun menyuruh mereka semua pergi dari kantor WK Agency ini. Siwon tak mengerti mengapa tiba-tiba Seunghyun menyuruhnya, Jiyong dan Hyukjae untuk pergi disaat Seunghyun sendiri yang meminta ketiganya menemani Seunghyun di rapat penting antar dua perusahaan tersebut. Terlebih lagi sikap Seunghyun ketika memerintah Hyukjae terkesan sedikit tidak sopan dan Siwon tahu pasti ada sesuatu yang membuat Seunghyun marah. Siwon tidak menyadari jika kemarahan itu terjadi karena dirinya. Siwon tidak sadar jika Seunghyun menyadari adanya keganjalan dari caranya dan Kyuhyun saling menyapa.

“Hyung, kenapa kita…”

“Kita pulang Siwon.” Tegas Seunghyun dengan suara datar dan terkesan dingin, membuat Siwon menghentikan apapun yang ingin dia katakan. Niatnya untuk membuat Seunghyun membatalkan kaputusannya menjadi lenyap tak berbekas. Siwon menghela nafas kasar. Jika Seunghyun sudah seperti ini baik Siwon bahkan Jiyong sekali pun tak akan bisa merubah keputusan atau menolak keinginan pengusaha besar dan sukses itu.

“Baiklah.” Jawab Siwon kemudian membungkuk hormat kepada setiap partisipan di ruangan itu. Dengan tatapannya, Siwon meminta maaf atas kejadian kurang menyenangkan ini.

Pandangannya sedikit lama tertuju kepada wanita tercantik di mata Siwon. Tatapan rindu namun penuh kesedihan kembali terpancar dari bola mata hitam milik Siwon. Siwon menundukkan kepalanya sekali lagi kepada Kyuhyun lalu bergerak menuju pintu keluar, meninggalkan Seunghyun.

Kyuhyun sendiri menatap punggung pria yang selalu dirindukannya itu dengan nanar. Bola mata kyuhyun sudah berkaca-kaca, airmatanya siap terjun bebas untuk membasahi pipinya yang masih saja bulat namun menggemaskan. Bibirnya sedikit bergetar, ingin memanggil nama pria yang selalu bernaung di hatinya. Tapi Kyuhyun tak bisa mengatakannya dengan lantang. Kyuhyun pun merasa dia tak berhak untuk mengalirkan airmata ini. Dia tak berhak dengan segala perbuatannya di masa lalu.

Siwon… Siwon… Siwon… Batin Kyuhyun lah yang terus menerus memanggil nama Siwon. Batinnya yang terus berusaha menenangkan hatinya yang gundah, kacau, tersayat-sayat karena dirinya sendiri.

Walaupun begitu, siapa dia yang bisa membohongi hatinya sendiri. Kyuhyun tahu dia masih sangat mencintai Siwon meski mereka telah berpisah sekian lama. Rasa cinta yang menyakitkan ini terus menderanya. Siwon adalah satu-satunya yang mampu membuatnya merasakan semua emosi yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Kyuhyun begitu tenggelam dalam perasaannya kepada Siwon sampai dia melupakan fakta bahwa dia sudah memiliki orang lain selain Siwon.

Perdebatan hebat terjadi di dalam diri Kyuhyun. Kyuhyun bimbang antara membiarkan Siwon pergi lagi dari dirinya atau kali ini dia yang mengejar Siwon. Kyuhyun terus berpikir sampai akhirnya opsi kedua lah yang menang. Tidak perduli dengan apa yang akan terjadi nanti, Kyuhyun harus bicara dengan Siwon. Harus!

Kyuhyun baru saja akan melangkahkan kakinya mengikuti Siwon sampai suara berat Seunghyun menghentikannya.

“Tuan-tuan, nona-nona, nona Cho, saya permisi.” Perkataan dingin Seunghyun membuat Kyuhyun menoleh ke arahnya. Dia kembali mendapati dirinya di tatap tajam oleh Seunghyun. Meski Kyuhyun tak tahu apa alasannya, namun Kyuhyun tidak sanggup membalas atau berkomentar apapun. Dia terus membisu sehingga Donghae mengambil alih tugas Kyuhyun untuk menjawab Seunghyun.

“Baik tuan Choi. Mungkin kita akan mengatur ulang pertemuan in…”

“Tidak perlu. Sepertinya saya tidak berminat lagi untuk menanamkan modal dan bekerja sama dengan WK Agency.” Sela Seunghyun tenang namun penuh intimidasi. Semua orang yang ada diruangan itu langsung membulatkan mata mereka tidak percaya dengan keputusan Seunghyun.

Mereka tidak mengerti mengapa Seunghyun berubah pikiran disaat mereka yakin pria berpengaruh tersebut positif akan menanamkan modal. Mereka semua panik, kebingungan dan resah dengan keputusan Seunghyun tersebut. Mereka tahu bahwa mereka membutuhkan Seunghyun demi kelangsungan perusahaan mereka.

Memang jika kesepatakan dengan perusahaan Seunghyun tidak berjalan dengan lancar, perusahaan mereka tidak akan serta merta bangkrut. Akan tetapi dengan adanya bantuan dari Seunghyun, bisa dipastikan kondisi perusahaan mereka akan semakin kuat dan bisa bertahan cukup lama di industri bisnis yang kejam itu.

“Tt…tapi tuan Choi… Anda tidak bisa langsung begitu saja mengakhiri kerjasama ini. Anda belum mendengarkan presentasi kami sampai selesai. Kami yakin anda pasti akan…” Ucap Donghae berusaha membujuk Seunghyun agar memikirkan lagi keputusannya namun sekali lagi Seunghyun memotong ucapan yang keluar dari siapa saja yang ingin merubah keputusannya.

“Saya bisa dan saya sudah memutuskan demikian nona Lee.”

Semua orang terdiam dengan ucapan Seunghyun tadi. Tidak ada yang berani lagi membuka mulutnya dan mencoba membantah ucapan Seunghyun. Seunghyun sendiri memandang sinis kepada semua yang ada di ruangan itu sampai tatapan mengarah kepada Kyuhyun.

“Permisi.” Pamitnya lalu berbalik dan meninggalkan ruangan itu, mengikuti arah keluar Siwon, Jiyong dan Hyukjae.

Sekeluarnya Seunghyun, semua orang mulai ribut. Mereka masing-masing mulai berasumsi bahkan sampai menyalahkan orang lain yang kemungkinan menyebabkan Seunghyun tersinggung dan membatalkan kerjasama mereka.

“Bagaimana ini Kyu?!” panik Donghae dan tanpa sadar menggigit kuku dan bibirnya sendiri, tanda bahwa dia gusar dan panik.

“Aku harus pergi.” Kata Kyuhyun tiba-tiba dan langsung keluar begitu saja. Donghae pun langsung ikut mengejar Kyuhyun.

“Kau mau pergi kemana Kyu?! Kyu!!” pekik Donghae kesal sambil mencekal lengan Kyuhyun yang sudah mencapai koridor lantai tersebut. Donghae memutar tubuh Kyuhyun dan dirinya kaget karena melihat raut wajah Kyuhyun yang menahan tangis dan kesedihan tertera jelas disana.

“Aku harus mengejarnya eonnie! Aku harus bicara dengannya! Aku harus!” pinta Kyuhyun berusaha melepaskan diri dari Donghae. Kyuhyun masih menangkap siluet Seunghyun dan Siwon tak jauh dari dirinya.

Donghae yang tadinya ingin memarahi Kyuhyun yang seolah-olah tidak melihat situasi genting mereka menjadi terpaku. Donghae terkejut dengan perilaku Kyuhyun.

“Kyu…”

“Aku harus mengejarnya eonnie… Aku… Aku takut jika aku membiarkan dia pergi, aku tidak bisa bertemu dia lagi. Aku harus bicara dengannya dan memohon pengampunan darinya…”

Memohon pengampunan? Dari siapa? Batin Donghae semakin penasaran dengan problema Kyuhyun. Kyuhyun sendiri, melihat Donghae yang melamun, langsung melepaskan cekalannya dan bergegas kembali mengejar Seunghyun dan Siwon.

“SIWONNIE!!” teriaknya keras sehingga tidak mungkin Seunghyun dan Siwon tak mendengarnya.

Siwon berbalik dan melihat Kyuhyun yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang. Siwon menatap Kyuhyun bingung karena Kyuhyun sampai mengejarnya seperti ini padahal saat di ruang rapat tadi, Kyuhyun nampak tak terlalu memberikan reaksi.

“Kyu…”

“Aku perlu bicara denganmu. Tolong jangan pergi dulu.” pinta Kyuhyun perlahan.

“Bicara? Bicara tentang apa?” tanya Siwon berusaha mengelak dari apapun pembicaraan yang ingin dilakukan oleh Kyuhyun. Siwon gusar dan tak siap dengan hal apapun menyangkut dirinya dan Kyuhyun.

Demi Tuhan! Aku baru saja menjejakan kaki di tanah kelahiranku! Mengapa aku sudah bertemu dua orang yang tak ingin aku temui sekarang?! batin Siwon tertekan. Siwon baru saja bisa menghindari Yunho, tapi kenapa sekarang justru bertemu dengan Kyuhyun.

“Please Siwon…” ulang Kyuhyun lagi kali ini benar-benar terdengar sangat memelas dan putus asa. Siwon terdiam, berdiri tanpa memberikan reaksi kepada Kyuhyun. Siwon merubah tatapannya kepada Kyuhyun, dari terkejut menjadi datar sehingga Kyuhyun tak bisa membaca pikiran Siwon.

“Maaf nona Cho, Choi sajangnim sudah mengatakan bahwa kami harus segera pergi. Jadi saya tidak mungkin memperlambat beliau. Permisi.” Ucap Siwon datar.

Kyuhyun terperangah dengan jawaban Siwon. Dia merasa di tolak mentah-mentah oleh Siwon. Perkataan Siwon tadi seakan menegaskan bahwa mereka memang tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.

“Mari sajangnim.” Ajak Siwon dan langsung ditanggapi dengan anggukan oleh Seunghyun. Keduanya berjalan kembali, membiarkan Kyuhyun terpaku sendirian sebelum ada Donghae yang mendekatinya dan berdiri di samping Kyuhyun.

Donghae menatap Kyuhyun dengan iba. Dengan lembut, Donghae mengusap lengan Kyuhyun.Donghae belum berani bertanya macam-macam kepada Kyuhyun karena Kyuhyun pasti belum siap menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu dengan Siwon dan Seunghyun, keduanya sudah sampai di depan lobby, bersiap memasuki mobil yang sudah siap sedia menunggu mereka. Namun sebelum memasuki mobil, Seunghyun menghentikan mereka berdua dengan memegang bahu Siwon.

“Siwon.”

“Ya hyung?”

“Begitu sampai di apartemen, kau harus menjelaskan semuanya kepadaku. Aku tak mau kau menutupi apapun. Aku rasa sudah waktunya kau jujur.” Ucap Seunghyun tegas. Siwon mengangguk lalu masuk ke dalam mobil diikuti oleh Seunghyun. Mobil itu kemudian melaju menuju apartemen sementara Seunghyun dan Jiyong sampai rumah mereka selesai di renovasi.

TBC

Advertisements