Tags

, , , , , , ,

Title : Life Is Beautiful 1

Pair / Charas : Wonkyu, Yunjae, Minho, Suho, Kris

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Warning : Un-betaed, Family, Angst, GS, OOC, OC, AU

Summary : Hardship of a relation between people is part of life to make you understand its meaning. What’s make it beautiful is when you could take what life is offer to you and not taken it for granted.

( 。・_・。)(。・_・。 )

“Pengadilan memutuskan bahwa terdakwa Wu Yifan alias Kris dinyatakan tidak bersalah.”

Tok! Tok! Tok!

Ketiga ketukan palu dari sang hakim menyatakan bahwa persidangan kali ini berakhir sudah. Pengacara, keluarga terdakwa, dan orang-orang yang percaya bahwa terdakwa tidak bersalah semuanya bersuka cita atas keputusan hakim tersebut. Namun lain halnya dengan keluarga penuntut dan semua yang merasa bahwa terdakwa bersalah. Mereka semua terkejut dan kecewa dengan keputusan ini. Terlebih lagi ibunda dari korban terdakwa. Dia mulai menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba saja berteriak histeris, menolak semua kenyataan yang menurutnya tidak adil ini.

“Tidak!! Ini tidak benar!! Orang itu bersalah! Orang itu telah membunuh anakku. Orang itu pembunuh!!” teriak ibunda dari pihak penuntut.

“Umma!!” teriak satu orang yang merupakan anak dari wanita yang baru saja berteriak tadi dan dia langsung menghampiri sang umma untuk menenangkan dirinya.

“Tidak! Tidak!! Soojung tidak boleh tidak mendapatkan keadilan atas apa yang sudah menimpanya. Anakku tidak akan tenang jika bajingan itu lepas dari jerat hukum. Siwonnie, lakukan sesuatu! Lakukan untuk putri kita!” Choi Siwon, atau Siwonnie seperti nama panggilannya tadi, hanya mampu memeluk tubuh istrinya dengan erat dan menyembunyikan wajah merah dan basah istrinya yang sudah menangis meraung-raung di dadanya. Siwon tak lupa juga mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang. Siwon tahu kesedihan dan kepedihan istrinya sekarang dengan keputusan pengadilan ini. Siwon juga merasakan hal yang sama dengannya.

“Umma.” Lirih seorang pemuda berusia 18 tahun memanggil istri Siwon tersebut. Siwon yang masih dengan mendekap istrinya tersebut, menoleh kepada anak keduanya sekaligus putra sematawayangnya itu. Dengan perlahan Siwon mengisyaratkan kepadanya untuk membawa sang umma yang masih meremas baju Siwon dengan erat.

“Minho-ah. Tolong kau bawa umma ke mobil. Biar appa urus dulu semuanya di sini.” Perintah Siwon kepada pemuda bernama Minho tersebut. Pemuda itu mengangguk lalu meraih tubuh sang umma untuk beralih ke pelukannya. Minho merangkul tubuh sang umma yang terus saja menangis lalu menuntunnya ke mobil mereka sementara Siwon menyelesaikan urusan dengan pengacara mereka untuk tindakan hukum selanjutnya. Siwon sendiri juga kecewa dengan keputusan pengadilan ini, namun pria berumur 46 tahun itu masih lebih bersabar dan masih sanggup menerima semua berita ini dengan kepala dingin.

Siwon menunggu kurang lebih lima menit sebelum akhirnya dia bisa berbicara dengan pengacara mereka setelah pengacara tersebut selesai berdiskusi dengan hakim dan personel pengadilan lainnya. Siwon diberitahu bahwa dia bisa mengajukan kasasi dari keputusan pengadilan ini. Namun Siwon harus cepat mengajukannya, jika tidak masalah ini akan benar-benar dianggap selesai. Mendengar kabar tersebut dari sang pengacara, Siwon hanya menanggapi bahwa dia akan berpikir terlebih dahulu untuk mengajukan kasasi. Siwon tetap harus membicarakan ini dengan istrinya. Tapi dia berjanji akan secepatnya memberitahu keputusannya kepada pengacara keluarga mereka tersebut. Disaat Siwon sedang berdikusi dengan pengacaranya, terdakwa yang sudah dinyatakan bebas itu tiba-tiba saja mendekati Siwon dan membungkuk dalam.

“Choi Siwon-ssi, maafkan saya.” Tuturnya cukup keras sehingga membuat beberapa orang yang masih berada di pengadilan itu menoleh ke arah mereka. Memang pemandangan yang tersaji sekarang sangat aneh untuk semua yang hadir diruang siding itu. Mereka berpikir mengapa terdakwa yang jelas-jelas harus mengalami masalah karena berurusan dengan pihak berwajib dan pengadilan adalah orang yang meminta maaf kepada si pengugat. Siwon sendiri sempat heran sampai dia tahu maksud pemuda yang seumuran dengan Minho itu. Siwon tahu maksud dia meminta maaf karena Siwon sadar, pemuda itu juga tahu dirinya sebenarnya bersalah. Siwon sadar bahwa pemuda itu meminta maaf karena dia telah membuat seluruh keluarga Siwon menderita karena ulahnya.

“Untuk apa kau minta maaf? Kau sudah bebas anak muda. Kau sudah menang dan aku kalah. Kau sudah membuktikan bahwa Soojung tidak akan mendapatkan keadilan atas perbuatanmu. Kau seharusnya senang, karena tuduhan kami terhadapmu tidak benar sehingga kau bisa memulihkan namamu dan mencari target lain selain Soojung.” Cibir Siwon dengan nada suara yang menyiratkan kebencian. Siwon mengepalkan kedua tangannya agar tidak memukul pemuda yang masih menundukkan kepalanya itu.

“Mohon jaga ucapan anda Choi Siwon-ssi. Klien kami sudah terbukti tidak bersalah sehingga anda tidak berhak berucap demikian.” Sanggah pengacara si terdakwa tidak senang dengan ucapan Siwon. Siwon hanya memandang lekat pengacara yang membantu Wu Yifan atau lebih di kenal dengan nama Kris itu dalam menangani masalah ini. Pengacara yang membuatnya kalah di pengadilan ini. Pengacara muda yang memang terkenal pintar dan tak pernah kalah di persidangan mana pun. Pengacara muda bernama Jung Yunho.

“Appa, sudah selesaikah?” tanya seseorang yang membuat Siwon memalingkan wajahnya dari Yunho dan menatap wajah cantik putri sulungnya yang ternyata menyusulnya kemari.

“Jae? Kau sudah pulang sayang?” tanya Siwon balik kepada wanita cantik berumur 23 tahun itu yang sekarang sudah berdiri di depan Siwon.

“Tadi pagi appa. Aku dan Suho langsung kemari dari bandara. Aku juga sudah dengar soal keputusan hakim tadi dari Minho dan umma.” Jelas wanita bernama Jae atau lengkapnya Choi Jaejoong itu dengan lembut meski ada nada kesedihan di suara merdunya itu.

“Oh begitu.” Lirih Siwon menanggapi ucapan Jaejoong. Jaejoong meremas bahu ayahnya tersebut sebelum menarik tangan Siwon perlahan. Dengan senyum yang pilu Jaejoong membelai lengan Siwon.

“Ayo appa, lebih baik kita pulang saja dulu. Biar pengacara Song yang mengurusnya. Pengacara Song, kami pulang dulu. Mohon anda lakukan apa yang harus anda lakukan untuk mendapatkan keadilan bagi adikku.” Perintah tegas Jaejoong. Wanita yang memiliki peringai sama keras kepalanya seperti sang ibunda meski dia juga memiliki sikap tenang selayaknya sang ayah.

“Baik nona Choi.” Jaejoong mengangguk pelan lalu membantu Siwon untuk pergi dari ruang pengadilan itu. Jaejoong sempat melirik ke arah Yunho yang sekarang memandang Jaejoong dengan pandangan terkejut. Keduanya saling pandang sebelum akhirnya Jaejoong yang memutuskan kontak mata. Jaejoong dan Siwon lalu keluar meninggalkan Yunho yang terlihat masih bingung dan sedikit bimbang setelah kehadiran Jaejoong dan juga Kris yang akhirnya mengangkat kepalanya dan memandang punggung orang-orang yang menuntutnya itu dengan pandangan sayu dan menyesal.

Café YJS

Seorang pria dengan setelan jas terlihat sedang duduk di samping jendela besar di café tersebut ditemani dengan secangkir kopi panas di atas mejanya. Pria itu memandang ke arah luar dan sesekali memeriksa ponselnya. Pria itu memang sedang menunggu seseorang. Seseorang yang sangat dia rindukan karena telah berpisah selama 5 tahun lamanya. Seseorang yang sangat dia cintai dan pernah mengisi hidupnya dengan kenangan indah meski kini hubungan itu terputus sejak orang itu memutuskan pergi untuk melanjutkan sekolahnya. Walaupun begitu, sang pria masih menunggu dan berharap bisa menyambung kembali jalinan cinta mereka.

Cling! Cling!

Bunyi bel penanda datangnya pelanggan café tersebut membuat pria itu menoleh dan langsung melihat ke arah pintu masuk. Wajahnya berbinar kala orang yang dia tunggu sudah datang dan berjalan ke arahnya. Pria itu lalu berdiri ketika orang yang ditunggunya sampai di hadapannya. Dia menarik kursi yang berada didepannya, mempersilahkan orang tersebut untuk duduk. Dengan tenang, orang tersebut duduk lalu menunggu sang pria juga duduk sebelum dia memulai pembicaraan.

“Apa kabar Jung Yunho-ssi?” tanya orang tersebut dengan nada datar. Pria yang ternyata adalah Yunho itu sedikit terkejut dengan panggilan formal yang ditujukan kepada dirinya, tidak pernah sekali pun orang didepannya ini memanggilnya seformal tadi.

“Kabarku baik Jae. Bagaimana kabarmu? Kapan kau kembali ke Korea? Kenapa kau tidak memberitahu aku?” tanya Yunho beruntun terhadap orang yang ada dihadapannya yang tak lain dan tak bukan adalah Jaejoong. Jaejoong tidak langsung menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Yunho melainkan dia memanggil seorang pelayan café dan memesan secangkir latte untuk dirinya. Ketika pelayan itu membungkuk dan pergi untuk mengambilkan pesanan Jaejoong, barulah Jaejoong kembali menatap Yunho dan menjawab pertanyaannya.

“Aku tidak tahu Yunho-ssi. Maksudku, fisikku baik-baik saja, tapi secara perasaan, entahlah. Seharusnya kau lebih tahu daripada aku.” Ucap Jaejoong sedikit menyindir Yunho. Yunho pun menutup mata dan mengusap wajahnya dengan jengah. Yunho paham maksud ucapan Jaejoong tapi pria berwajah kecil itu tidak tahu harus menanggapi apa atas ucapan Jaejoong tadi.

“Jae, kau tidak bisa menyalahkan aku karena aku membela Kris-ssi. Dia klienku, tentu aku membelanya.” Sahut Yunho membela dirinya. Yunho merasa Jaejoong tidak adil terhadap dirinya jika wanita cantik tersebut menyalahkan dirinya atas kemenangan dirinya dalam kasus Kris. Sementara itu Jaejoong yang mendengar pembelaan Yunho hanya menatap pria tampan itu dengan datar. Tidak ada emosi sama sekali terpancar di wajah Jaejoong meski melalui cara bicaranya Yunho tahu betapa marahnya Jaejoong saat ini. Jaejoong sekali lagi tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Yunho. Dia justru memalingkan wajahnya dan berterima kasih kepada pelayan yang sudah datang dengan pesanannya. Jaejoong menyeruput sedikit latte tersebut sebelum menanggapi ucapan Yunho.

“Kau salah paham jika mengira aku menyalahkanmu karena kau membela klienmu. Kau pengacara, sudah merupakan tanggung jawabmu untuk membelanya bukan?! Namun aku hanya ingin tahu satu hal Yunho-ssi.” Tanggap Jaejoong tenang. Terlalu tenang bagi Yunho. Yunho tahu seberapa ekspresifnya Jaejoong. Wanita di depannya ini seperti bukan Jaejoong yang dia kenal. Wanita ini seperti wanita es yang sama sekali tidak terpengaruh dengan apapun juga. Yunho terpaku dan tidak memberikan respon atas penyataan Jaejoong tadi. Keterpakuannya membuat Jaejoong melanjutkan lagi ucapannya.

“Kau pernah bilang bahwa kau akan membela seseorang setelah kau yakin dia tak bersalah. Apa kau yakin klienmu itu tidak bersalah?” tanya Jaejoong. Yunho menatap bingung ke arah Jaejoong. Jujur, Yunho sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan ini. Tentu saja Yunho yakin kliennya tidak bersalah. Selama ini Yunho selalu membela mereka yang memang tidak bersalah namun terjebak dengan perkara yang bukan menjadi kesalahan mereka. Yunho selalu memastikan terlebih dahulu akar permasalahan dari kasus yang akan ditanganinya. Dengan semua itu, Yunho mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Jaejoong. Jaejoong kemudian menundukkan kepalanya sesaat sebelum mengangkatnya lagi dipadu dengan helaan nafas panjang.

“Kau yakin?” tanya Jaejoong lagi. Yunho kali ini sedikit tersinggung karena Jaejoong mempertanyakan kemampuannya sebagai seorang pengacara. Yunho tahu bahwa dia masih muda dan pengalamannya tidak sebanding dengan semua pengacara senior di luar sana. Tetapi Yunho bisa sedikit berbangga hati karena selama dia menjadi pengacara, belum sekali pun Yunho kalah dalam pertempuran di pengadilan. Apa pun kasus yang dia tangani.

“Tentu saja aku yakin Jae. Aku selalu melakukan penyelidikan sebelum aku membela klienku. Dan maafkan aku jika perkataanku lancang tapi kau harus tahu bahwa Kris-ssi itu dijebak oleh Choi Suujong-ssi karena dia dendam setelah diputuskan oleh Kris-ssi.” Sahut Yunho perlahan. Yunho tidak ingin mengungkit masalah kasus yang sudah selesai tapi menurut Yunho, Jaejoong berhak tahu apa yang sudah dia ketahui. Kris memang tidak bersalah dan adik Jaejoong yang telah menjebaknya. Yunho menceritakan bahwa Soojung memanipulasi tindakan perkosaan yang dialaminya dan menimpakan hal tersebut kepada Kris. Yunho mengatakan bahwa Soojung menuduh Kris telah memperkosanya padahal Soojung tidak diperkosa sama sekali melainkan melakukannya sukarela dengan seseorang.

Jaejoong meremas tali tas yang dia pangku diatas pahanya ketika mendengar penjelasan Yunho. Sekuat tenaga Jaejoong menahan amarahnya dan rasa ingin menampar Yunho atas tuduhan pria tersebut kepada mendiang adiknya. Dengan tarikan nafas panjang lalu dihembuskan secara perlahan, Jaejoong lalu mengeluarkan sebuah map plastik lalu dia letakkan diatas meja tersebut. Kali ini bukan tatapan datar yang Jaejoong berikan kepada Yunho melainkan tatapan tajam seakan pria itu merupakan orang yang paling dia benci di dunia walau kenyataanya Jaejoong masih sangat mencintai pria tersebut. Meskipun begitu, bagi Jaejoong sekarang, Yunho tak lebih dari seseorang yang hanya terhasut dengan nama besarnya sendiri sehingga tidak melihat bahwa dia sudah melakukan kesalahan dengan membela Kris.

“Bukalah Yunho-ssi. Dalam map tersebut kau akan mendapatkan bukti bahwa klienmu memang bersalah dan semua bukti yang kau dapat adalah bukti palsu hasil rekayasa orang tua klienmu sendiri.” Ucap Jaejoong masih dengan nada suara pelan namun menusuk. Yunho pun membulatkan matanya terkejut. Dia memandang map plastik tersebut dengan pandangan tidak percaya. Yunho bergantian menatap map dan Jaejoong, seakan semua yang Jaejoong katakan adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Jaejoong menggeleng pelan dengan seringai kecil menghiasi wajah cantik nan putihnya tersebut.

“Silahkan jika kau menganggapku berbohong Yunho-ssi. Aku tidak perduli. Kau bisa membuktikan ucapanku dengan semua bukti yang ada di map tersebut.” Ujar Jaejoong sambil mendorong map plastik itu lebih dekat ke arah Yunho. Yunho hanya dapat memandang map plastik itu tanpa ada tanda-tanda dia akan membukanya. Jaejoong menutup matanya kesal sebelum akhirnya membuka matanya lagi dan kembali berbicara.

“Di dalam amplop itu terdapat hasil visum yang asli sebelum ditukar oleh orang suruhan orang tua klienmu, alamat orang yang kau bilang adalah teman seks adikku padahal dia yang sudah membantu adikku saat klienmu mencampakan adikku di gang kecil waktu itu, dan banyak lagi. Kau lihat jika kau mau dan kau bisa menilai siapa yang sebenarnya bersalah disini.” Jelas Jaejoong lagi. Yunho mengambil nafas lalu membuangnya perlahan. Dia juga kembali mengusap wajahnya sebelum menanyakan sesuatu kepada Jaejoong.

“Jika benar map ini berisi bukti bahwa klienku bersalah, mengapa baru sekarang kau memberikannya Jae?”

“Takdir tidak memihakku kali ini Yunho-ssi. Aku terlambat menyerahkan semua bukti ini kepada appa dan pengacara kami. Aku mengira aku masih memiliki waktu sampai kemarin namun kau, yang dengan hebatnya bisa mempersingkat waktu persidangan sehingga keputusan hakim keluar kemarin, membuat semua jerih payahku untuk membuktikan bahwa adikku adalah korban pemerkosaan dari klienmu menjadi sia-sia.” Jawab Jaejoong masih berusaha untuk terlihat tegar dan tidak menangis di depan Yunho. Jaejoong selalu merasa bersalah sejak dia tahu bahwa dia terlambat memberikan keadilan untuk Soojung.

“Jae..” lirih Yunho pelan. Dia bisa melihat kesedihan di waut wajah Jaejoong dan jika dia bisa mengatakan langsung, Yunho merasa bahwa kesedihan Jaejoong disebabkan olehnya. Namun Yunho berusaha tidak terpengaruh dengan perasaannya terhadap Jaejoong dan mencoba memikirkan semua ini dengan tenang. Yunho masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan semua kenyataan yang terpampang jelas sekarang ini. Karena Yunho masih belum yakin apakah semua yang dikatakan oleh Jaejoong benar adanya.

“Soojung anak yang baik Yun. Dia gadis yang lugu. Dia tidak mungkin bisa merekayasa bukti seperti tuduhanmu tadi. Dia gadis baik-baik yang hanya ingin hidup bahagia seperti kebanyakan orang.” Sahut Jaejoong lagi sambill mengingat keinginan sederhana Soojung yang ingin seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Menikah dengan orang dia cintai, memiliki anak dan menjadi istri dan ibu yang baik untuk keleuarganya. Keinginan sederhana yang tidak mungkin bisa terlaksana karena Soojung sudah tidak berada di dunia ini lagi.

Jaejoong tidak mampu menutupi kepedihan hatinya ketika dia mendengar kabar mengerikan tentang Soojung dari Siwon. Saat itu, Jaejoong ingin segera pulang meskipun dia masih sangat sibuk untuk menyelesaikan kuliahnya dan beberapa pekerjaan yang dia lakukan untuk mengisi waktu luang. Namun mengingat bahwa dia masih harus menjaga dan menemani Suho yang saat itu juga bersekolah bersama dengannya, Jaejoong mengurungkan niatnya itu dan membantu penyelidikan dari tempat dia berada. Saat itu, Jaejoong tidak memberitahu kepada Suho mengenai peristiwa yang menimpa Soojung, saudara kembarnya walau sepertinya usaha Jaejoong sia-sia karena biar bagaimana pun Suho memiliki ikatan seperti ikatan batin dengan Soojung sehingga Suho selalu saja bertanya apakah Soojung baik-baik saja di Korea.

Jaejoong masih tidak mengerti awal semua kejadian yang menimpa Soojung. Siwon hanya menceritakan bahwa Soojung diperkosa oleh orang yang tak lain adalah kekasihnya sendiri. Kekasih Soojung. Dua kata itu selalu bergema di dalam benak Jaejoong. Sejak kapan Soojung mempunyai kekasih? Darimana adiknya itu mengenal kekasihnya tersebut? Mengapa Soojung tidak pernah menceritakan perihal kekasihnya tersebut kepada kedua orang tua mereka? Dan mengapa sampai kekasih Soojung tersebut tega melakukan perbuatan terkutuk itu kepadanya?

Soojung diperkosa dan ditinggalkan di gang sempit dengan keadaan yang memprihatinkan sampai dia ditemukan oleh seorang pejalan kaki yang tidak sengaja melewati gang sempit itu untuk memotong jalan ke tempat tujuannya. Orang itu langsung menolong Soojung dan membawanya ke rumah sakit begitu dia mengerti bahwa Soojung baru saja diperkosa dan ditinggalkan begitu saja. Orang itu juga yang akhirnya menghubungi polisi yang kemudian menghubungi Siwon dan Kyuhyun. Dari situ semua bergulir dengan penuturan dari Soojung meski Soojung harus dibujuk oleh Kyuhyun agar mau menceritakan apa yang sudah terjadi, pemeriksaan visum rumah sakit, penyelidikan dari kepolisian, sampai kasusnya dipersidangkan di pengadilan.

Keluarga Choi sempat berlega hati ketika semua bukti terkumpul dan mereka yakin pelaku bisa terjerat dan dihukum sesuai dengan perbuatannya, namun entah bagaimana semua bukti berbalik menyudutkan Soojung. Mulai dari orang yang berbaik hati menolong Soojung justru dituduh sebagai orang yang bersekongkol dengan Soojung untuk menjatuhkan sang pelaku pemerkosaan yang tak lain dan tak bukan adalah Kris, kekasih Soojung. Lalu hasil visum pun entah kenapa tidak sesuai dengan hasil visum yang pertama kali diserahkan oleh pihak keluarga Choi dan kepolisian pun sepertinya kebingungan dengan adanya keanehan tersebut dan meski mereka mencoba menyelidiki ulang namun semuanya terlambat. Semua itu membuat Soojung terpuruk dan akhirnya mengambil jalan yang menurutnya baik. Soojung bunuh diri karena tidak sanggup menanggung semua beban dan rasa sakit hati atas perbuatan Kris. Jaejoong dapat membayangkan bagaimana hancurnya hati Siwon dan Kyuhyun karena dia pun merasakan hal yang sama. Kematian Soojung menyisakan kepedihan dan kesedihan yang mendalam untuk semua keluarga Choi terlebih lagi kematian Soojung atas dasar ketidakadilan.

Semenjak kepergian Soojung, Siwon dan Kyuhyun berupaya sekuat tenaga agar Kris bisa dijebloskan ke dalam penjara. Namun bukti dan pembelaan yang dilakukan oleh Yunho memusnahkan segala upaya dan harapan pasangan suami istri itu. Mereka harus menerima dengan pahit kenyataan bahwa dunia tidak memihak kepada mereka dan putri mereka. Bisa dipastikan juga betapa geramnya Jaejoong saat dia kembali ke Korea dan menemukan pelaku pemerkosaan Soojung lepas begitu saja. Jaejoong ingin sekali mengajukan keberatan atas keputusan hakim tersebut dan meminta kasus untuk dibuka dan diselidiki kembali tapi Siwon dan Kyuhyun tidak menginginkan itu semua.

Awalnya Jaejoong yakin bahwa Kyuhyun akan sependapat dengannya karena Kyuhyunlah yang paling merasa terpukul dengan kejadian ini namun ternyata setelah mereka kembali ke rumah, Siwon dan Kyuhyun berdiskusi di dalam kamar mereka berdua dan memutuskan untuk menerima dengan pasrah. Siwon dan Kyuhyun bukannya tidak ingin keadilan untuk Soojung namun dengan apa yang akan mereka lakukan demi terwujudnya hal tersebut tidak akan membawa kembali Soojung ke kehidupan ini. Soojung sudah tiada. Satu hal yang bisa mereka lakukan sekarang adalah mendoakan agar Soojung bisa tenang di sisi Tuhan. Siwon dan Kyuhyun tahu jika keadilan di dunia tidak bisa dilakukan maka pada saatnya Tuhan akan menunjukkan keadilan itu.

Jaejoong tidak sepenuhnya setuju dengan keinginan kedua orang tuanya, tapi sebagai seorang anak, Jaejoong akan mengikuti keinginan keduanya. Dengan berat hati, dia melepaskan semua rencana yang dia susun untuk mengusut tuntas masalah ini dan membiarkan waktu yang membuka tabir kebohongan keluarga Wu. Jaejoong menghela nafas sebelum memusatkan perhatiannya kepada Yunho.

“Soojungku yang lugu, Soojungku yang manis, Soojungku yang baik hati harus pergi dengan cara seperti itu. Adikku harus pergi dengan sakit hati karena klienmu tidak mau bertanggung jawab atas pemerkosaan yang dia lakukan.” Lanjut Jaejoong dan kali ini Jaejoong tidak sanggup lagi menahan airmatanya untuk tidak turun. Rasa sakit dan kehilangan ini begitu menyesakkan hati Jaejoong.

Lalu, setelah menghapus kasar bulir airmata yang mengalir di pipi mulusnya dan tanpa menunggu lagi apakah Yunho akan membuka atau tidak map plastik itu, Jaejoong berdiri setelah meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja. Wanita itu berbalik hendak meninggalkan Yunho. Namun Jaejoong berhenti sejenak dan berbalik kemudian menatap Yunho lagi.

“Aku memberikan bukti itu karena aku sudah tidak memerlukannya lagi. Orang tuaku tidak akan mengajukan apapun. Kami lelah dengan semua ini. Balas dendam hanya akan membuat Soojung tidak tenang diperaduan terakhirnya. Kau bebas menghancurkan bukti-bukti itu Yunho-ssi.” Jelas Jaejoong sebelum dia berbalik lagi dan melangkah menjauh dari Yunho. Namun belum tiga langkah Jaejoong berjalan, langkahnya terhenti karena lengannya di cekal oleh Yunho yang sudah ikut berdiri.

“Jaejoong! Tunggu dulu! Kita belum selesai bicara.”

“Tidak. Kita sudah selesai bicara Jung Yunho-ssi. Maka mohon lepaskan tanganku karena aku harus pergi. Banyak yang harus aku lakukan.” Ucap Jaejoong berusaha melepaskan cekalan Yunho namun Yunho terus saja menggenggam lengan Jaejoong. Jaejoong menjadi kesal dan akhirnya menghempaskan tangannya dengan kasar dan menatap Yunho tajam.

“Jae..” lirih Yunho sendu. Ada sedikit perasaan bersalah dan kebimbangan di hati pengacara muda itu. Jika semua yang dikatakan Jaejoong benar adanya, maka Yunho melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya dan kesalahan itu bisa berakibat dia kehilangan Jaejoong. Sedangkan Jaejoong hanya menutup matanya sesaat lalu membukanya kembali dan berbalik.

“Aku permisi. Selamat siang.” Ucap Jaejoong lalu kembali melangkah menjauhi Yunho. Yunho hanya mampu memandang punggung Jaejoong karena dia sendiri tidak tahu harus mengatakan atau berbuat apa dengan informasi yang dia terima hari ini. Satu-satunya jalan adalah dia harus membuka dan membaca isi dari map plastik yang diberikan oleh Jaejoong dan mungkin menyusuri ulang kasus ini. Yunho harus siap dengan kebenaran yang nanti akan terkuak dan jika Jaejoong benar, maka Yunho harus siap dengan konsekuensi yang kemungkinan terjadi pada hubungannya.

TBC

Advertisements