Tags

, , ,

Title : Choice

Pairing/Charas : Wonkyu, Joonmyeon (Suho), a bit Yunjae & Kyungsoo, Donghae, Youngwoon, Dongwook, GTop

Genre : Family, Romance, Angst, Drama

Disclaimer : All casts are belong to their self, their respective agency and God

Warning : Un-betaed, Angst, GS, AU, OC, OOC, Sad, Change of Surname, Broken!Wonkyu (perhaps)

( 。・_・。)(。・_・。 )

“Aku hamil.” ucap wanita manis berusia tak lebih dari 20 tahun itu kepada seorang pria tampan di hadapannya. Pria yang sedari tadi sibuk menulis sesuatu di agendanya, langsung menghentikan kegiatannya dan menengadah, terpengarah dengan kabar yang mendadak tersebut.

“Hamil?!” cekatnya tak tahu harus bersikap seperti apa karena begitu banyak perasaan yang bergumul di dalam dirinya.

Bahagia? Tentu! Dia akan menjadi seorang ayah. Dia akan memiliki buah cintanya dengan wanita yang paling dia cintai.

Kaget? Apalagi! Kekasihnya tiba-tiba saja mengabarkan berita bahagia tersebut seakan mereka sedang membahas cuaca.

Takut? Sedikit. Pria itu tentu saja takut karena biar bagaimana pun kehamilan ini tidak direncanakan sebelumnya. Pria itu yakin bahwa dia selalu menggunakan pengaman ketika bercinta dengan sang kekasih. Namun, dia bisa bilang apa jika Tuhan menggariskan hidupnya harus memiliki salah satu malaikat kecil-Nya. Pria itu hanya bisa berpasrah bahwa semua yang akan terjadi nanti adalah pembelajaran untuknya.

Yang penting sekarang, pria itu harus mulai menyusun prioritasnya. Mulai dari memastikan kandungan sang kekasih seh…

“Aku mau menggugurkannya.”

…at dan menyiapkan…

“Apa?!”

“Aku mau menggugurkannya saja.” Ulang wanita cantik itu.

Dan sang pria hanya terdiam, mengamati wajah kekasih yang begitu datarnya saat mengatakan dia akan menggugurkan darah dagingnya sendiri. Begitu datar sehingga membuat pria itu takut dan asing dengan wanita yang begitu dia puja itu.

.

.

.

Terkadang hidup itu tidak adil untuk sebagian orang. Namun itulah yang membuat hidup menjadi tantangan untuk diri sendiri, karena bagaimana pun kau berharap jika kau tidak mencoba untuk merubah ketidak adilan hidup, kau hanya akan semakin terjerat dalam liku permainannya yang pada akhirnya hanya membuatmu menyalahkan segala hal dalam dirimu bahkan sekitarmu.

 Hidup memang tidak adil, tapi hidup juga adalah pilihan. Adalah pilihanmu sendiri apakah kau akan tunduk pada ketidak adilannya atau kau akan memilih untuk berjuang demi orang-orang yang kau cintai dan yang terpenting demi dirimu sendiri.

 Klise memang jika bilang bahwa semua cobaan yang kau hadapi akan membawamu menjadi orang yang lebih tegar, lebih bijak, dan lebih memaknai bagaimana pengaruh cobaan itu untuk dirimu sendiri. Akan tetapi seklisenya ucapan itu, segelintir orang tetap mempercayainya dan mencoba menghadapi cobaan yang mungkin dia anggap tidak sanggup dihadapi. Cobaan memang sulit dihadapi jika kau sendiri, tetapi jika kau hadapi bersama orang tedekatmu, perkataan klise itu akan menjadi kenyataan yang sesungguhnya.

Dan hal itu yang dialami secara pribadi oleh Choi Siwon.

.

.

.

“Appa!” pekikan dari seorang gadis kecil membuat Siwon menoleh dan ketika iris matanya menangkap sang gadis cilik, kedua bola mata itu terbelalak sempurna.

“Joonie!” teriak Siwon dan tanpa perlu diminta dua kali, pria itu berlari secepat yang dia bisa, meninggalkan lukisannya begitu saja, untuk menghampiri gadis kecil tersebut.

Gadis mungil yang dipanggil Joonie itu sekarang sedang meraba-raba lantai di bawahnya sambil menangis tersedu-sedu. Tangisannya bukan karena luka kecil di lututnya ketika dia terjatuh tadi, bukan juga karena kesal pria yang dipanggil appanya itu meninggalkan dirinya seorang diri di kamar. Tidak, bukan karena itu semua.

Joonie kecil menangis karena dia kesal dengan dirinya sendiri. Dia benci dirinya sendiri. Dia benci dengan keadaannya yang cacat. Dia benci dengan kebutaannya. Tetapi, semua yang dia rasakan tidak pernah sekali pun dia ceritakan kepada sang ayah. Baginya, sang ayah sudah cukup terbebani dengan mengurus dirinya yang cacat. Gadis mungil itu tidak mau menambah kesedihan sang appa dengan perasaannya sendiri.

Maka dari itu, tangisan adalah salah satu jalan keluar yang dia tahu. Meski dengan menangis, sang ayah akan semakin khawatir dengan keadaannya namun sang ayah tidak akan bertanya panjang lebar karena takut membuatnya semakin keras menangis. Ayahnya akan membiarkan dia menangis sampai puas sebelum memeluknya dengan erat dan mengatakan kata-kata sayang kepadanya, berusaha membuatnya tegar.

Joonie kecil akan menjadi gadis yang cengeng hanya pada saat dia tak kuat lagi menanggung semua cobaan yang mungkin terlalu berat untuk gadis berusia 8 tahun seperti dirinya.

Hanya saat seperti inilah dia bisa bersikap layaknya gadis kecil. Hanya saat dia membenci dirinya sendiri.

“Sayang! Oh sayang… Putri kecil appa. Sini sayang.” Suara lembut nan cemas milik Siwon membuyarkan lamunan sang gadis cilik. Terlebih lagi ketika lengan kekar sang appa mengangkatnya dan membawa tubuh mungilnya ke sofa.

Siwon memangku putri kecilnya tersebut sebelum memeriksa seluruh tubuhnya. Siwon melihat ada lecet kecil di lutut putrinya. Siwon menghela nafas sebelum mendudukan putrinya di sofa lagi dan dia mengambil kotak obat.

Siwon lalu kembali memangku putrinya tersebut setelah meletakan kotak obat di sampingnya. Siwon membuka kotak obat itu, mengambil obat antiseptik, kapas dan plester luka lalu memusatkan perhatiannya kepada gadis kecilnya tersebut.

“Sayang, tahan ya. Ini hanya perih sedikit.” Sahut Siwon lembut yang diangguki oleh gadis kecil itu. Siwon lalu membubuhkan obat antiseptik itu ke kapas sebelum mengusapkan secara perlahan ke luka gadis kecil itu. Joonie meringis ketika antiseptik itu menyentuh lukanya tetapi dia tidak berkata apapun. Joonie membiarkan sang appa melanjutkan kegiatannya yang sedang mengobati luka di lututnya sampai selesai.

Ketika plester luka sudah terekat dengan sempurna di lututnya, barulah Joonie bereaksi. Tangan mungilnya meraba wajah sang appa, menyusuri setiap lekuk wajah tampan yang tak pernah dia lihat sejak dia lahir. Tangan mungil itu bergerak sampai tangan Siwon sendiri meraih tangan Joonie dan mengecup telapak tangannya dengan penuh kasih sayang. Sementara satu tangan Joonie berada di pipi sang ayah.

“Appa menyayangimu sayang. Sangat menyayangimu.” Ungkap Siwon tulus. Joonie tersenyum pilu. Dia tahu benar ayahnya begitu menyayanginya dan dia pun begitu. Hanya saja Joonie selalu merasa kehadirannya tidak sepatutnya untuk sang ayah. Dia beban. Hanya sebuah beban.

“Appa.” Panggilnya perlahan, membuat Siwon menatap mata kosong Joonie yang tidak terarah kepadanya.

“Apa sayang?”

“Kenapa Joonie tidak mati saja?”

“Joonie!”

“Kenapa Joonie tidak mati dan mengikuti umma ke surga? Kenapa Joonie harus berada di dunia ini jika Joonie hanya membuat appa susah? Kenapa Tuhan membiarkan Joonie lahir ke dunia ini? Kenapa appa?” tanya Joonie bertubi-tubi, tidak memberikan kesempatan bagi Siwon untuk menyelanya.

Siwon menatap putri semata wayangnya itu sendu. Siwon mengerti pedihnya perasaan gadis kecilnya karena kondisinya ini. Siwon paham, Joonie selalu menyalahkan dirinya karena cacatnya itu. Siwon tahu bahwa Joonie selalu merasa dirinya adalah beban yang menghalangi dia untuk mencapai kebahagiaannya sendiri.

Siwon menghapus satu bulir yang mengalir turun dari kelopak matanya lalu memeluk gadis kesayangannya itu. Siwon memeluk dengan erat dan mengecup puncak kepala Joonie dengan lembut sebelum menjawab pertanyaan Joonie.

“Joonie ada disini karena Joonie adalah harta paling berharga milik appa. Joonie hadir di dunia karena Joonie diberi tugas untuk menjaga appa dan bukan sebaliknya. Jika Joonie tidak ada, maka appa akan sendirian dan justru appa akan semakin susah. Joonie diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat dunia ini walau dengan mata hati Joonie. Semua itu diberikan kepada appa karena Tuhan begitu menyayangi appa.” Ungkap Siwon mencoba memberikan pengertian kepaga Joonie, namun ketika Joonie diam saja, Siwon merasa dia harus mengatakan sesuatu agar Joonie tidak bersedih lagi.

“Joonie, Tuhan begitu sayang kepada appa, sangat sayang sampai Tuhan bersedia meminjamkan salah satu malaikat terbaiknya kepada appa sampai waktu appa habis di dunia. Banyak orang yang mendambakan malaikat Tuhan sampai mampu melakukan segala cara, tapi appa, appa hanya berdoa dan puff! Joonie hadir untuk appa. Jadi Joonie sayang, jika tidak ada Joonie, maka appa bukan siapa-siapa. Appa bukan siapa-siapa sayang. Jadi appa mohon, jangan tinggalkan appa ya.” Begitu untaian lembut SIwon terucapkan, Joonie menangis sekeras yang dia bisa.

Gadis itu terharu dengan kata-kata tulus Siwon. DIa tahu semua itu bukanlah kebohongan namun sesuatu yang timbul dari hati Siwon yang paling dalam. Joonie bahagia bahwa disamping keterbatasannya, dia memiliki orang tua yang begitu mencintainya. Namun di satu sisi, Joonie juga merasa sedih karena tak mampu membalas semua kasih sayang sang appa dengan perbuatan. Yang Joonie tahu, bahwa untuk saat ini kehadiran dan cintanya yang bisa dia berikan untuk sang appa.

Tapi Joonie janji appa, Joonie akan menjadi seseorang yang bisa membanggakan appa. Joonie janji.

.

.

.

“Hei Kyu.” Sapa seorang pria tinggi berwajah kecil namun tampan kepada wanita yang meski sudah berumur diatas 30 tahun tapi masih terlihat sangat cantik.

“Hei oppa. Sedang apa disini? Membelikan boneka gajah lagi untuk istrimu?” sapa wanita yang dipanggil Kyu itu sembari bertanya kepada pria tersebut.

“Boojae sedang merajuk Kyu. Dia kesal karena aku pulang larut malam tanpa memberitahukannya.” Jelas pria itu sambil memilih beberapa boneka gajah dan boneka Hello Kitty kesukaan sang istri yang diyakininya mampu meluluhkan kekeras kepalaan dan meredam kemarahan sang istri.

“Huft. Jika saja kau tidak menceraikan aku, tentu kau tidak akan serepot ini dengan gajah centil itu.”

“Dan jika aku tidak menceraikanmu, aku pasti akan terus merasakan penyesalan yang mendalam dan kesepian seumur hidupku karena menolak anugerah terbesar dalam hidupku.”

“Gombal.”

“Itu kenyataannya, Kyu! Kau bahkan tahu sejak kita menikah, tak pernah ada perasaan apapun diantara kita. Pernikahan kita hanya pernikahan status demi keluarga kita.”

“…”

“Masih mengingat dia Kyu?”

“Aku bahkan tak berhak untuk mengingat dirinya oppa. Aku sudah sangat menyakitinya.”

“Kyu…”

“Kau beruntung oppa. Kau masih sempat menyelamatkan kebahagiaanmu. Kau masih bisa merengkuh orang yang kau cintai dalam pelukanmu.”

“Kyu…”

“Jangan pernah lepaskan Jaejoong eonnie ya oppa. Kau harus terus bersamanya dan juga anak kalian.”

“Pasti Kyu. Dan aku juga mendoakan semoga kau bisa bahagia.”

“Terima kasih oppa, tapi kebahagiaan itu sudah menjauh dariku. Kebahagiaan itu menjauh sejak aku meninggalkan dia dan buah hati kami.”

“Kyu…” panggilan pelan Yunho tidak dihiraukan oleh Kyuhyun. Wanita cantik itu melangkah keluar dari toko boneka dengan belanjaannya. Sebuah boneka beruang yang berukuran sedang. Boneka yang selalu Kyuhyun beli setiap ulang tahun putrinya yang sekarang entah berada dimana. Putrinya yang dia titipkan kepada ayah kandungnya. Putri yang dia buang.

Yunho menatap miris punggung Kyuhyun yang kesepian. Pria itu tahu bagaimana hancurnya Kyuhyun saat ini.

Dulu wanita itu selalu menyangkal bahwa dia merasa kehilangan pria yang begitu dia cintai beserta buah cinta mereka. Dulu Kyuhyun selalu mengelak ketika ditanya bagaimana perasaannya yang sesungguhnya. Dulu Kyuhyun selalu berbohong dengan mengatakan bahwa mantan kekasih dan putrinya hanyalah masa lalu kelam, bahwa dia sama sekali tidak mencintai mereka berdua. Dulu Kyuhyun terlalu tenggelam dengan nama besar keluarga Cho sehingga menutup mata hatinya untuk melihat ada yang lebih berharga daripada nama besar.

Yunho pun sama saja. Saat dia menikah dengan Kyuhyun, yang ada di otaknya hanya peluang, peluang dan peluang. Yunho tahu dengan menikahi putri seorang konglomerat seperti Cho Donghae adalah kesempatannya untuk bisa meningkatkan derajat dirinya dan keluarganya. Bukan berarti keluarga Yunho adalah keluarga yang kekurangan dan tidak terkenal, tapi keluarga Cho adalah keluarga yang sangat terpandang dan lebih segalanya daripada keluarga Jung.

Jadi ketika Cho Donghae menginginkan dia yang notabene adalah putra sahabat dekatnya, Jung Youngwoon, untuk menikah dengan Kyuhyun, tanpa perlu diminta dua kali Yunho langsung menyetujuinya.

Yunho bahkan sampai meninggalkan Jaejoong, kekasihnya sendiri yang sedang hamil, demi pernikahan itu. Meninggalkannya untuk membesarkan anak mereka, Kyungsoo seorang diri.

Butuh waktu tiga tahun bagi Yunho untuk menyadari bahwa nama, harta dan kuasa bukanlah segalanya. Butuh waktu tiga tahun bagi Yunho untuk memahami bahwa dia tidak mungkin bisa mencintai Kyuhyun seperti dia mencintai Jaejoong. Butuh waktu tiga tahun untuk mengetahui bahwa Kyuhyun tidak akan bisa memberikannya keturunan karena sakit dan menyebabkan rahim Kyuhyun harus diangkat. Butuh tiga tahun untuk menerima kenyataan bahwa Kyuhyun pernah melahirkan seorang anak sebelum menikah dengannya, lalu menyerahkan begitu saja bayi itu kepada ayah kandungnya tidak lebih dari tiga jam setelah bayi itu dilahirkan. Dan butuh tiga tahun bagi Yunho memutuskan untuk menceraikan Kyuhyunn karena semua alasan tadi.

Yunho tidak pernah mengkritik Kyuhyun karena perbuatannya yang meninggalkan darah dagingnya sendiri meski ke tangan sang ayah. Yunho tak berhak menghakimi Kyuhyun karena dia pun juga melakukan hal yang sama kepada Jaejoong sehingga dia tahu bagaimana perasaan Kyuhyun. Yunho tahu bagaimana terlukanya perasaan Kyuhyun disaat dia sudah menerima bahwa dia memang mencintai lelaki itu dan akhirnya mau mengakui buah hati yang belum pernah dia gendong sama sekali saat dia tahu keduanya menghilang tanpa jejak.

Yunho merasa sangat beruntung karena meski dia membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyadari kesalahannya, dia hanya membutuhkan waktu tiga bulan untuk mencari keberadaan Jaejoong. Dia hanya butuh tiga minggu untuk bisa berada dekat dengan sang buah hati, bermain dengannya, memanjakan putri lucu yang memiliki mata bulat sama seperti sang bunda. Dan dia hanya membutuhkan tiga jam berdiri di luar pintu rumah Jaejoong, diguyur oleh hujan deras, sampai akhirnya Jaejoong keluar rumah, memeluknya, menciumnya, dan mengatakan ‘Aku mau menikah denganmu, Yunnie’ untuk menjawab lamarannya.

Ya, Yunho lebih beruntung daripada Kyuhyun dan katakan dia kejam, namun Yunho tidak mau bernasib sama dengan Kyuhyun. Yunho masih ingin memiliki keluarga kecilnya yang berharga.

“Tuan.” Panggilan pelayan toko boneka itu mengenyahkan semua ingatan masa lalu Yunho. Yunho sedikit terkejut karena sepertinya pelayan ini tidak ada saat dirinya sedang berbicara dengan Kyuhyun tadi.

“Maafkan saya jika membuat tuan terkejut. Tadi saya sedang melayani pelanggan lain sehingga saya baru bisa melayani tuan. Apakah tuan butuh bantuan dengan boneka-boneka itu?” tawar pelayan toko itu ramah. Dia mengerti arti tatapan Yunho yang menanyakan keberadaannya yang tiba-tiba muncul itu sehingga memberikan penjelasan seperlunya agar Yunho mengerti. Pelayan itu tersenyum dengan senyum berlesung pipinya yang membuat wajahnya semakin tampan meski usianya sudah menginjak kepala empat.

“Ah ya. Pantas saja aku dan temanku tadi tidak melihat anda. Um…Tolong semua boneka ini dibungkus rapi.” Pinta Yunho yang langsung dikerjakan oleh pria itu.

“Choi Siwon.” Sahut Yunho menyebut nama yang dia lihat di tanda pengenal pria pelayan toko tersebut.

“Ya tuan? Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya pelayan toko yang ternyata Siwon tersebut. Siwon kembali memasang senyumnya dan itu membuat Yunho ikut tersenyum.

“Ah, tidak. Hanya saja nama anda terdengar tidak asing di telinga saya. Nama anda seperti nama seseorang yang dekat dengan kenalan saya.” Jawab Yunho sambil terkekeh. Ya, dia ingat Kyuhyun pernah mengatakan nama mantan kekasihnya yang menghilang itu. Namanya sama seperti nama pelayan toko di hadapannya ini.

Ah, sepertinya bukan pria ini. Tidak ada kebetulan seperti ini bukan?! Batin Yunho mengelak firasatnya. Kalau saja Yunho tahu bahwa firasatnya itu memang benar adanya.

“Benarkah? Ya, nama saya memang sedikit pasaran tuan.” Timpal Siwon mengomentari jawaban Yunho. Keduanya tertawa bersama karena ucapan Siwon tersebut.

Mereka berbincang sesaat sembari menunggu Siwon menyelesaikan tugasnya membungkus semua boneka yang dibeli oleh Yunho dan ketika semua sudah siap untuk dibawa pulang oleh Yunho, Siwon memberikan tas-tas besar berisi boneka gajah dan Hello Kitty ke tangan Yunho.

“Silahkan tuan, barang belanjaan anda. Terima kasih telah mengunjungi toko kami. Semoga anda puas dan silahkan kembali berkunjung ke toko kami.” Ucap Siwon sopan yang ditanggapi senyuman simpul dari Yunho.

Pria yang memiliki bibir berbentuk hati itu berjalan menuju pintu keluar begitu dia menerima barang belajaannya. Akan tetapi belum sempat dia keluar, Yunho mendengar suara yang memanggil Siwon dan entah kenapa, Yunho ingin tahu pembicaraan mereka. Jadi dia berpura-pura melihat beberapa boneka lagi yang berdekatan dengan pintu keluar dan menajamkan pendengarannya.

Di lain sisi, Siwon yang merasa namanya dipanggil, menoleh ke arah suara tersebut. Ketika iris hitamnya bertatapan dengan iris yang juga sama hitamnya dengan miliknya, Siwon tersenyum lagi.

“Hei Dongwook.” Sapa Siwon kepada rekan kerjanya tersebut.

“Hyung, bukankah kau shift pagi?! Kenapa kau masih disini?! Dimana Seunghyun? Lalu kenapa kau sendiri? Dimana Gayeon?!”

“Tadi saat aku hendak pulang, Seunghyun datang dengan wajah panik. Dia memintaku menggantikannya karena dia harus pulang Dongwook-ah. Jiyoung tiba-tiba merasa sakit di perutnya. Tampaknya Jiyoung akan segera melahirkan. Jadi aku menyetujui permintaannya. Lalu untuk Gayeon, dia tadi salah makan sehingga dia masih di toilet, membuatku harus melayani pelanggannya dulu.”

“Dasar bocah itu!”

“Sudahlah. Namanya juga salah makan Dongwook-ah. Nanti kau pastikan dia baik-baik saja ya. Kalau dia masih buang-buang air terus, kau suruh dia ke rumah sakit.”

“Baik hyung, akan aku lakukan tapi jika kau begini terus kau bisa semakin jarang ke taman untuk melukis?! Pelangganmu bisa kabur.”

“Tidak apa-apa Dongwook-ah. Kelahiran seorang malaikat lebih penting dari apapun.”

“Hhh… Kau ini hyung. Kau itu terlalu baik sampai menjadi bodoh. Ya sudahlah. Sekarang kau pulang. Joonie sudah menunggumu di depan toko.”

“Joonie?! Dia kemari?”

“Ya.”

“Kenapa gadis itu kemari?”

“Tidak tahu hyung. Aku tidak bertanya.”

“Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu Dongwook-ah.” Pamit Siwon yang diangguki oleh Dongwook.

Siwon berjalan ke ruang ganti karyawan dan mengganti seragamnya. Setelah selesai, pria itu keluar kembali dan berjalan menuju pintu keluar. Tak lupa dia berpamitan sekali lagi kepada Dongwook.

Saat Siwon keluar, Yunho sudah tidak ada disana melainkan berada di luar toko. Yunho menyembunyikan keberadaannya dan masih memantau gerak-gerik Siwon. Yunho sebenarnya tak mengerti dengan sikapnya sekarang. Mengapa tiba-tiba dia begitu tertarik dengan pria yang baru kali ini dilihatnya? Mengapa Yunho merasa ada sesuatu yang berbeda dari Siwon?

Dan karena rasa penasaran itulah, akhirnya Yunho memutuskan ingin lihat seperti apa Siwon itu. Mungkin tidak akan terus menerus karena Yunho juga tak ingin membuang waktunya, tetapi paling tidak sampai dia tahu apa yang menyebabkan dia merasa ada sesuatu yang ganjil dari semua ini.

“Joonie.” Yunho mendengar Siwon menyapa seorang gadis yang sangat manis. Gadis berkulit putih dengan mata bulat lucu. Namun ketika tersenyum mata itu berubah menjadi seperti bulan sabit. Manis, cantik, menggemaskan. Senyumnya membuat Yunho sedikit menarik nafasnya ketika melihatnya. Senyum gadis itu begitu indah dan tampak seperti,

“Malaikat.” Gumam Yunho tak sadar.

Yunho menatap gadis itu dengan seksama dan itu membuatnya merasa bahwa gadis itu mirip dengan seseorang.

“Appa.” Yunho kali ini mendengar suara gadis manis itu dan lagi-lagi Yunho terpana dengan suara lembut nan merdu milik gadis itu.

Siapa gadis itu sebenarnya? Batin Yunho semakin penasaran terlebih lagi ketika gadis itu memanggil Siwon dengan appa.

Jadi mereka ayah dan anak. Argh! Sial! Kenapa aku benar-benar penasaran dengan mereka?!

“Kenapa kemari sayang? Bukannya appa sudah bilang untuk menunggu appa di sekolah. Kau kemari dengan siapa?” tanya Siwon khawatir jika Joonie datang sendiri ke tempatnya bekerja.

Joonie tersenyum lagi dan baru akan menjawab pertanyaan sang appa ketika muncul seseorang dari belakang Siwon.

“Tentu saja dengan aku, Siwon ahjussi.” Jawab orang itu sembari memamerkan senyum lebarnya kepada Siwon.

“Kyungsoo-ah. Ada kamu rupanya.” Ucap Siwon sambil tertawa kecil dengan tingkah lucu sahabat putrinya tersebut. Mereka lalu berbincang sesaat sebelum Siwon mengambil tongkat putih Joonie, melipatnya menjadi tiga bagian, lalu meraih tangan Joonie dan menggandengnya.

“Ayo sayang. Kita rayakan ulang tahunmu.” Ajak Siwon yang diangguki oleh Joonie.

“Aku boleh ikut bukan Siwon ahjussi?” pinta Kyungsoo sambil memberi Siwon tatapan memelas. Siwon kembali tertawa melihat tingkah Kyungsoo.

“Tentu saja boleh Kyungie. Boleh bukan appa?” kali ini Joonie yang meminta.Siwon mengangguk dan meraih tangan Kyungsoo juga, membawa dua gadis imut itu ke tempat favorit mereka sekaligus tempat langganan keluarga kecil Choi merayakan segala sesuatu. Taman.

Sedangkan bagaimana dengan Yunho sendiri?

Pria itu tentunya terkejut luar biasa. Dia tidak mengira bahwa putrinya mengenal Siwon dan gadis yang dipanggil Joonie itu. Akan tetapi, tiba-tiba sekelebat ingatan datang ke benak Yunho. Dia mengingat bahwa Kyungsoo pernah membawa temannya tersebut. Hanya saja saat itu Yunho sedang banyak pekerjaan sehingga tidak terlalu memperhatikan.

Yunho berusaha mengingat siapa nama lengkap gadis itu. Dan setelah lama berpikir sampai dia melupakan niat awalnya membuntuti Siwon, akhirnya Yunho mengingat nama gadis itu.

Merasa gadis itu bukanlah gadis asing, Yunho segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Yoboseyo. Ini aku”

“…”

“Aku butuh bantuanmu.”

“…”

“Carikan aku semua informasi tentang gadis bernama Choi Joonmyeon.”

“…”

“Sesegera mungkin. Kalau perlu aku ingin semua datanya sudah berada di meja kerjaku di rumah sebelum aku sampai.”

“…”

“Sekitar setengah jam lagi.”

“…”

“Well, itulah sebabnya aku membayarmu mahal bukan?! Itu tugasmu dan aku hanya mau hasilnya. Aku tunggu laporan darimu.”

Klik!

Tanpa menunggu balasan dari orang diseberang sambungan telepon itu, Yunho menutup koneksi ponselnya. Yunho lalu mengedarkan pandangannya ke tempat ketiganya berada tadi hanya untuk mendapatkan kekosongan karena ketiganya sudah pergi.

Yunho berdecak kesal namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Lebih baik dia menunggu hasil pekerjaan detektif suruhannya di rumah dan setelah dia tahu pasti siapa Joonmyeon dan Siwon sebenarnya, baru dia akan bertindak. Entah bagaimana, Yunho merasa keduanya memiliki hubungan dengan Kyuhyun.

Dan karena dia ingin membantu Kyuhyun, maka semua ini harus dimulai dari pasangan ayah dan anak itu.

.

.

.

“Yang benar saja! Jadi mereka…” ucapan Yunho terhenti begitu saja karena pria itu tak mampu merangkum kata-kata yang tepat atas hasil penyelidikan detektif sewaannya tersebut.

Yunho mengusap wajahnya kasar. Raut muram begitu kentara di wajah tampannya itu. Yunho tidak mengira jika Siwon dan Joonmyeon ternyata benar-benar memiliki hubungan dengan Kyuhyun. Dan bukan hanya hubungan biasa, melainkan hubungan yang sangat dekat.

Yunho mengambil ponsel layar sentuhnya dan menekan angka-angka yang tertera di layar itu sebelum mengarahkan ponsel tersebut ke telinga kanannya. Yunho mengetuk-etuk meja kerjanya tak sabar katika nada tunggu sambungan telepon menjadi nada yang didengarnya.

“Ayolah Kyu! Cepat angkat!” seolah menjawab doa Yunho, akhirnya Kyuhyun mengangkat ponselnya.

“Yoboseyo.”

“Kyu! Kita bertemu di taman dekat toko boneka yang tadi kita singgahi.” Titah Yunho dan langsung mematikan sambungan telepon mereka, tak memberikan Kyuhyun kesempatan menjawab.

Kyuhyun yang berada di seberang sambungan itu, mengerutkan kedua alisnya menajdi satu. Heran dengan Yunho yang seenaknya saja menyuruhnya pergi ke taman tanpa penjelasan apapun.

“Kenapa lagi dengan beruang menyebalkan itu?!” gerutu Kyuhyun namun dia tetap mengambil tas tangannya, kunci mobil dan jaket lalu keluar rumah mengikuti kemauan Yunho.

.

.

.

Kyuhyun memandang dua sosok yang sedang bersendau gurau di atas sebuah tikar di bawah pohon yang rindang. Dua sosok yang membuat mata coklatnya mengeluarkan cairan bening bernama airmata.

Satu sosok yang akan selalu ada dalam ingatan dan hatinya dan satu sosok yang tak pernah dia lihat namun sosok itu menimbulkan perasaan rindu yang memuncah, meski semua diselimuti dengan perasaan sedih dan bersalah.

“Mereka selama ini ada di dekatku dan aku tidak pernah tahu?” gumamnya kepada seseorang yang dengan setia menemani Kyuhyun berdiri beberapa meter dari dua sosok tersebut.

“Siwon-ssi ternyata cukup pintar bersembunyi Kyu.” Ucap Yunho, seseorang yang menemani Kyuhyun tersebut.

“Dan gadis itu?” tanya Kyuhyun memastikan identitasnya walau hati Kyuhyun sudah menjerit kenyataan pahit yang dia ketahui.

“Putrimu.” Dan airmata itu kembali turun dan lebih deras dari sebelumnya. Isakan demi isakan menemani airmata yang sudah mengalir seperti sungai itu.

“Putriku… Dia putriku…”

“Choi Joonmyeon.” Ujar Yunho memberi tahu nama lengkap Joonmyeon.

Yunho meremas bahu Kyuhyun, berusaha memberikan kekuatan kepada sahabatnya tersebut. Terlebih lagi karena bahu itu semakin bergetar hebat dan pada akhirnya Yunho hanya merasakan udara kosong karena tubuh Kyuhyun sudah merosot jatuh.

Tangisan wanita cantik itu semakin keras meski dia sudah menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Beruntung taman itu cukup ramai sehingga tangisan Kyuhyun tidak terdengar oleh dua sosok, Siwon dan Joonmyeon, yang membuatnya terpuruk oleh rasa bersalahnya sendiri. Namun ironisnya, justru karena keramaian itulah, Kyuhyun menjadi pusat perhatian sehingga membuat Siwon dan Joonmyeon menoleh ke arah Kyuhyun.

“Ada apa appa?” tanya Joonmyeon karena dia tak bisa melihat penyebab suara orang-orang yang terdengar bersimpati kepada seseorang.

“Entahlah.” Jawab Siwon singkat.

“Mungkin appa sebaiknya memeriksa kesana. Mungkin ada seseorang yang membutuhkan bantuan.” Pinta Joonmyeon. Siwon menatap putri sematawayangnya itu dengan raut wajah khawatir.

“Appa tidak mau meninggalkanmu sendirian sayang.”

“Tidak apa-apa appa. Kyungsoo akan segera kembali. Appa pergilah.” Desak Joonmyeon sambil tersenyum, mencoba meyakinkan sang ayah untuk pergi memeriksa keramaian tersebut.

Siwon tersenyum lalu mengusap rambut Joonmyeon dengan lembut sebelum mengecup pucuk kepala gadis manisnya itu.

“Appa segera kembali. Diam disini ya sayang.”

“Siap appa.” Ujar Joonmyeon sambil mengangkat telapak tangannya dan memberi hormat layaknya prajurit. Siwon tertawa melihat tingkah lucu Joonmyeon dan kembali mengusap rambutnya sebelum akhirnya pergi melihat keadaan ramai yang tak terlalu jauh dari mereka.

Siwon berjalan ke arah beberapa orang yang berdiri memandangi sesuatu. Siwon mencoba melihat apa yang sedang diperhatikan oleh orang-orang tersebut ketika iris hitamnya mengenali satu orang yang sedang memeluk seseorang yang kelihatannya sedang menangis. Siwon tak bisa melihat wajah orang tersebut karena tertutup oleh kedua tangannya.

“Tuan!” ucap Siwon mengenali Yunho dan dengan segera dia menerobos masuk ke dalam lingkarang yang dibuat orang-orang yang lalu lalang tersebut.

“Tuan!” panggil Siwon membuat Yunho menoleh dan sedikit terkejut dengan keberadaan Siwon di hadapannya. Yunho terlihat gugup karena dia tidak mengira Siwon akan menghampiri dia dan Kyuhyun.

“Si… Siwon-ssi…” gagapnya memanggil nama Siwon.

“Anda kenapa? Apa anda membutuhkan bantuan? Ada apa dengan teman anda?” tanya Siwon.

“Aku baik-baik saja, hanya…”

“Si… Siwon… Siwonnie…” lirih Kyuhyun sambil mengangkat wajahnya sehingga Siwon melihat dengan jelas wajah Kyuhyun.

Siwon membeku seketika kala matanya beradu pandang dengan mata basah Kyuhyun. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan bertemu lagi dengan Kyuhyun setelah wanita yang dia cintai itu menyerahkan Joonmyeon ke tangannya lalu pergi meninggalkannya bersama dengan Joonmyeon.

“Siwonnie…” lirih Kyuhyun lagi dan kali ini berusaha menggapai tangan Siwon.

Akan tetapi, Siwon menarik tangannya kemudian langsung berdiri. Siwon masih memandang Kyuhyun yang terlihat kacau. Ada perasaan iba melihat Kyuhyun seperti itu, namun perasaan lain yang berkecamuk di hati Siwon lebih kuat dari rasa ibanya.

Tanpa banyak bicara, Siwon berlalu begitu saja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho.

“Siwonnie!!” seru Kyuhyun ikut berdiri dan berusaha mengejar Siwon. Dia berhasil ketika lengan putihnya mencekal lengan Siwon walau langsung dihempaskan oleh pria berlesung pipi itu.

“Jangan sentuh aku.” Tukasnya dingin dan menusuk. Kyuhyun memandang Siwon dengan sendu sambil sesekali menggigit bibirnya, menahan rasa sakit karena penolakan Siwon.

Inikah rasanya ketika aku memcampakanmu Wonnie? Batin Kyuhyun kala dia ingat dia pernah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Siwon sekarang.

“Kumohon… Dengarkan aku dulu…” mohon Kyuhyun yang justru ditanggapi dengan raut wajah penuh amarah dari Siwon meski pria itu diam seribu bahasa.

“Siwonnie…”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya permisi.”

“Siwonnie!”

“Appa.” Suara lembut namun cemas milik Joonmyeon mengalihkan perhatian Kyuhyun dan Siwon. Keduanya memiliki ekspresi yang berbeda ketika melihat Joonmyeon yang dituntun oleh Kyungsoo.

Kyuhyun memandang Joonmyeon dengan raut wajah bahagia dan penuh kerinduan sedangkan Siwon memandang Joonmyeon dengan raut wajah penuh ketakutan. Dia takut jika Joonmyeon tahu siapa Kyuhyun sebenarnya. Siwon takut jika Joonmyeon tahu dirinya berbohong selama ini dengan mengatakan bahwa ummanya sudah meninggal sejak dia lahir dan bukan membuangnya.

“Joon…” belum selesai Kyuhyun memanggil nama Joonmyeon, dia sudah dihentikan oleh Siwon dengan pandangan tajamnya yang seolah mengatakan, ‘berani kau memanggilnya maka aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu lagi dengannya’, yang langsung membuat Kyuhyun ciut.

“Joonie, sayang. Kenapa kau kemari?” tanya Siwon setelah memastikan Kyuhyun tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menghancurkan seluruh jerih payah Siwon selama ini.

“Appa bicara dengan siapa?” tanya Joonmyeon tidak mengindahkan pertanyaan Siwon. Joonmyeon lebih tertarik dengan siapa sang ayah bicara. Joonmyeon merasa kaget saat dia mendekati sang ayah didampingi oleh Kyungsoo, indera pendengarannya menangkap kekesalan dari Siwon.

Joonmyeon penasaran dengan situasi tersebut karena selama hidupnya, belum pernah Joonmyeon mendengar ayahnya bicara seketus dan sedingin itu kepada seseorang. Jika Siwon marah atau kesal, Joonmyeon selalu mendapati ayahnya diam sehingga mau tidak mau dia atau orang-orang yang bersangkutan akan mencoba mencairkan suasana.

Maka, ketika nada suara sang ayah meninggi, Joonmyeon ingin tahu siapa yang mampu membuat Siwon seperti itu.

“Bukan siapa-siapa sayang.” Jawab Siwon sedikit kikuk karena tiba-tiba ditanya seperti itu oleh Joonmyeon.

“Benarkah? Tapi tadi sepertinya appa sedang kesal dengan seseorang?!” desak Joonmyeon masih belum puas dengan jawaban Siwon. Siwon menghela nafas lalu menatap Kyuhyun lagi yang kali ini menutup mulutnya demi mengikuti keinginan Siwon.

Siwon memandang wanita yang masih sangat cantik itu dengan seksama. Sedikit demi sedikit, amarahnya mereda digantikan dengan kepedihan yang selalu bergelayut di hatinya. Siwon memanglingkan wajahnya dengan raut wajah sendu, berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya untuk tidak keluar.

Baginya sudah cukup airmata dia tumpahkan untuk wanita yang akan selalu dia cintai itu meski cintanya tak berbuah manis. Siwon sudah tak ingin dihantui oleh Kyuhyun dengan perasaan takut jika dia bertemu dengannya seperti sekarang ini. Siwon ingin benar-benar hidup tenang bersama dengan Joonmyeon.

Hanya mereka berdua.

“Lho appa? Sedang apa disini? Kyuhyun ahjumma?! Dari tadi ahjumma ada disini?!” pekik Kyungsoo kaget setelah melihat Kyuhyun dan ayahnya yang menyusul Kyuhyun. Kyungsoo baru bisa melihat dengan jelas sosok Kyuhyun karena tadi tubuh Kyuhyun terhalangi tubuh tinggi Siwon.

“Kau mengenal orang yang bicara dengan appaku Kyungie?” tanya Joonmyeon semakin penasaran. Fakta bahwa Kyungsoo mengenal orang yang baru saja berbicang dengan Siwon meski pria itu mengelak membuat Joonmyeon bertanya-tanya hubungan mereka berdua.

“Ya. Joonmyeon, mari aku kenalkan. Ini Kyuhyun ahjumma, sahabat appaku.” Ucap Kyungsoo memperkenalkan Kyuhyun kepada Joonmyeon. Kyungsoo mengarahkan tangan Joonmyeon ke arah Kyuhyun.

Dari tindakan Kyungsoo dan melihat kosong pandangan mata Joonmyeon, Kyuhyun baru menyadari bahwa Joonmyeon buta.

Kali ini Kyuhyun tidak tahu harus merasakan apalagi. Perasaan bersalahnya semakin menumpuk, sedihnya tak terbendung, pedih dan luka di hatinya semakin melebar. Kyuhyun ingin menangis lagi, namun entah kenapa airmatanya kali ini enggan untuk keluar. Mereka seperti tidak mau mengikuti perintah Kyuhyun untuk membuatnya lebih lega dengan menangis. Airmata Kyuhyun berkhianat dan membiarkan tuannya merasakan sesak dan kepedihan yang mendalam karena tak bisa meluapkan rasa itu.

Menyadari dia telah membiarkan satu-satunya buah hati yang begitu indah hilang dari genggamannya, membuat Kyuhyun semakin merasa menjadi seorang ibu yang kejam dengan kebenaran fakta yang tertulis di laporan detektif sewaan Yunho mengenai Joonmyeon. Dia benar-benar bukan manusia jadi wajar jika Siwon membencinya sekarang.

Kyuhyun tidak sanggup menyambut uluran tangan Joonmyeon yang ingin berkenalan dengannya sehingga tangan Joonmyeon menggantung di udara begitu saja. Kyuhyun merasa dirinya hina bersentuhan dengan Joonmyeon walau hatinya berteriak ingin memeluk Joonmyeon seerat mungkin, tidak membiarkan putrinya tersebut pergi lagi darinya.

Namun sikap Kyuhyun itu membuat Kyungsoo merasa heran sekaligus kesal karena mengira Kyuhyun tidak mau berkenalan dengan Joonmyeon karena Joonmyeon adalah gadis buta. Kyungsoo seperti tidak mempedulikan raut wajah Kyuhyun yang terlihat menyedihkan.

“Ahjumma! Kalau ahjumma tidak mau berkenalan dengan Joonie, ahjumma bilang saja!” ketus Kyungsoo yang langsung ditanggapi oleh delikan dan teguran dari Yunho.

“Kyungie! Sopan sedikit!”

“Ck!” decak Kyungsoo kesal lalu menurunkan tangan Joonmyeon.

Joonmyeon sendiri sebenarnya tidak mengerti mengapa Kyuhyun tidak mau menyambut uluran tangannya. Hatinya sedih kala mendengar Kyungsoo mengatakan tuduhannya kepada Kyuhyun. Dalam hatinya, Joonmyeon membenarkan tuduhan Kyungsoo tersebut. Menurutnya, mungkin memang Kyuhyun tidak mau berkenalan dengannya karena dia buta.

Joonmyeon tersenyum miris karena perlakukan Kyuhyun mengingatkan dia akan perilaku semua orang yang mengetahui keterbatasannya. Memang banyak yang membantunya namun tidak sedikit pula yang mempermainkannya karena cacatnya itu.

Siwon sendiri yang melihat senyum miris Joonmyeon merasa sedih dan terluka karena dia paham benar apa yang dipikirkan oleh Joonmyeon. Siwon semakin yakin bahwa Kyuhyun lebih baik tidak berada di antara mereka. Biarlah jika Siwon harus menyimpan rahasia ini seumur hidupnya.

“Joonie.”

“Ya appa?”

“Kita pulang sayang. Sudah hampir malam. Nanti kamu sakit sayang.”

“Sudah hampir malam appa? Kalau begitu ayo pulang. Besok appa bukannya harus masuk pagi sekali. Nanti appa tidak bisa beristirahat dengan baik kalau kita masih disini.”

“Joonie mencemaskan appa?”

“Tentu saja. Hanya appa yang Joonie miliki.”

“Kalau begitu kita pulang sayang. Kyungsoo-ah, terima kasih telah merayakan ulang tahun Joonie bersama kami.”

“Sama-sama Siwon ahjussi. Aku juga senang bisa merayakannya ulang tahun Joonie.”

“Kyungie, sampai bertemu di sekolah ya.”

“Oke. Selamat ulang tahun ke-17 Joonie!”

“Kami pamit Kyungsoo-ah, tuan dan…”

Siwon tidak melanjutkan ucapannya dan memilih menatap Kyuhyun lagi. Siwon ingin memandang wanita berambut ikal itu terakhir kali sebelum dia benar-benar melupakan sosok wanita yang begitu dia cintai. Siwon ingin mematri seluruh keindahan Kyuhyun di dalam benaknya sebelum dia mengatakan selamat tinggal kepada Kyuhyun.

Siwon lalu tersenyum dan mengatakan,

“Selamat tinggal Kyuhyun-ssi.” Lalu berlalu bersama dengan Joonmyeon.

Mendengar ucapan perpisahan dari Siwon membuat Kyuhyun kembali terduduk lemas. Pandangannya kosong, airmata yang akhirnya mengalir kembali dia biarkan membasahi kedua pipinya sampai ke dagu, tangannya beranjak ke dadanya sendiri dan meremasnya.

Kata-kata Joonmyeon dan Siwon terus terngiang di dalam pikiran Kyuhyun.

Hanya appa yang Joonie miliki.

Selamat tinggal Kyuhyun-ssi.

“Tidak. Jangan pergi Siwonnie… Jangan pergi Joonie… Umma menyayangi kalian… Jangan tinggalkan umma… Umma mohon… Jangan tinggalkan umma…” pinta Kyuhyun memelas.

Hanya saja, permohonan itu tidak di dengar oleh kedua orang yang terlihat akrab dan selalu tersenyum bersama. Permohonan Kyuhyun hanya dibalas dengan gambaran ayah dan putrinya yang saling menyayangi. Permohonan Kyuhyun hanya dibalas dengan punggung keduanya yang akan selalu menghantui Kyuhyun. Permohonannya hanya didengar oleh angina yang bahkan tak mau menyampaikan kepada kedua orang yang sangat dicintai oleh Kyuhyun.

Permohonan yang akhirnya hilang bersama dengan tangisan memilukan seorang Cho Kyuhyun.

Siwonnie… Joonie… Umma menyayangi kalian berdua…

Hanya appa yang Joonie miliki.

Selamat tinggal Kyuhyun-ssi.

.

.

.

“Appa.”

“Ya sayang?”

“Joonie kangen umma.”

“…”

“Joonie ingin dipeluk sama umma.”

“…”

“Joonie ingin dimanja sama umma.”

“…”

“Joonie ingin disayang sama umma.”

“,,,”

“Joonie…” dan bulir-bulir bening Joonmyeon berjatuhan membuat Siwon sigap memeluk putrinya tersebut.

“Maafkan appa sayang. Maafkan appa…” lirih Siwon terus mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Joonmyeon.

Joonmyeon masih terus menangis. Dia tak mengerti mengapa kejadian di taman tadi membuatnya mengingat sang umma yang telah tiada. Joonmyeon tak mengerti mengapa dadanya begitu sesak karena penolakan Kyuhyun tadi.

“Appa menyayangi Joonie bukan? Appa akan selalu berada disamping Joonie bukan? Appa akan terus mencintai Joonie meski Joonie…”

“Sshh sayang… Sudah appa katakana ribuan kali, Joonie adalah sumber kebahagiaan appa. Meninggalkan Joonie sama saja appa membuang kebahagiaan appa sendiri.” Ucapan tulus Siwon membuat Joonie menangis lebih keras dan membenamkan wajahnya di dada Siwon. Siwon pun berkali-kali mengecup pucuk kepala Joonmyeon, seolah mengatakan kepada sang buah hati bahwa cintanya tidak terbatas.

“Joonie sayang appa. Joonie tidak butuh yang lain. Joonie hanya butuh appa.”

Siwon akhirnya kalah. Airmatanya mengalir juga. Ucapan Joonmyeon membuat beban di hatinya semakin bertambah. Kebohongannya adalah dosa terbesar yang dia lakukan kepada Joonmyeon.

Namun Siwon akan menanggungnya jika semua itu bisa membuat Joonmyeon bahagia. Siwon akan lakukan apapun demi Joonmyeon.

Meski itu memisahkannya dari ibu kandungnya sendiri.

Maafkan aku Joonie. Maafkan aku Kyunnie. Tapi ini yang terbaik untuk kita. Ini yang terbaik.

END

Advertisements