Tags

, , , ,

Title : Covet – Sequel Other Side

Pairing/Charas : Wonkyu, Joonmyeon, a bit Kyungsoo, Haebum

Genre : Family, Romance, Angst, Drama

Disclaimer : All casts are belong to their self, their respective agency and God

Warning : Un-betaed, Angst, GS, AU, OOC, Sad, Change of Surname, Broken!Wonkyu (perhaps)

( 。・_・。)(。・_・。 )

“Aku paham Siwonnie. Aku sangat paham.”

“Aku memang bukan ibu yang baik. Aku tahu itu.”

“Aku datang kesini hanya ingin meminta maaf kepadamu, kepada putri kita. Aku tahu bahwa dosaku tak terampuni dan aku tahu kau sulit memaafkan aku.”

“Aku sadari itu. tapi Wonnie… Aku… Aku mohon… Aku mohon maafkan aku. Ak…aku… Tolong maafkan aku Wonnie… Ma… maafkan aku…”

“Maafkan aku.”

“Aku akan pergi. Aku akan mengikuti keinginanmu. Aku akan menghilang dari kehidupan kalian untuk selamanya.”

“Terima kasih kau tidak mengatakan betapa kejamnya aku Wonnie. Terima kasih karena kau sudah menjaga putri kita. Terima kasih karena kau sudah mendidiknya menjadi sepertimu dan bukan sepertiku. Terima kasih…”

“Aku pergi dulu.”

“Selamat tinggal.”

.

.

.

“Mm…ma…maaf. Won…Wonnie… Joo…Joonie…”

Itulah kata yang terus terucap dari bibir Kyuhyun ketika tubuhnya yang berlumuran darah dibawa dengan ranjang rumah sakit oleh perawat dan dokter yang terlihat bergegas untuk menyelamatkan dirinya.

Kata itu yang terus terucap dari bibirnya sampai kegelapan menyelimutinya.

Wonnie… Joonie… Aku mencintai kalian berdua… Maafkan aku… Maaf…

.

.

.

“Berita pagi ini, telah terjadi kecelakaan mobil di jalan bebas hambatan di sekitar daerah G. Mobil yang dikendarai sendiri oleh pemilik sekaligus CEO dari Cho Hotel dan putri dari konglomerat terkenal Cho Donghae-ssi, Cho Kyuhyun-ssi, menabrak pembatas jalan lalu terbalik dan terpental beberapa meter dari lokasi tabrakan. Saat ini Cho Kyuhyun-ssi masih dalam perawatan intensif di rumah sakit S. Kondisinya cukup parah ketika ditemukan oleh pengendara lainnya yang melintas. Di duga, Cho Kyuhyun-ssi tidak mampu mengendalikan laju mobilnya sehingga kecelakaan itu terjadi. Belum dapat dikonfirmasi alasan mengapa Cho Kyuhyun-ssi tidak fokus ketika mengendarai mobilnya. Informasi lebih lanj…”

Kyuhyun!!!

.

.

.

Cantik.

Manis.

Anggun.

Menawan.

Indah.

Dia adalah wanita yang begitu aku cintai sejak pertama kali mata ini bertemu pandang dengan mata bulat coklatnya yang memukau. Hati ini sudah terjerat dalam jaring cintanya sejak aku mendengar suaranya yang memanggil namaku, sejak aku mendengar tawanya yang merdu bagaikan tawa malaikat di telingaku.

Aku benar-benar tunduk di kakinya. Cinta ini benar-benar membuatku buta karena aku tidak menyadari penderitaan panjang saat aku memilih dirinya sebagai tambatan hatiku.

Aku terlalu larut dalam angan-anganku sendiri sampai aku dipaksa untuk melihat kenyataan betapa berbedanya aku dengan dia. Betapa dunia kami terpisahkan oleh nama baik, harta dan kuasa.

Aku terlalu terbuai dengan mimpiku yang begitu naïf, yang begitu lugu berpikir bahwa dengan cinta kami bisa mengatasi semua masalah di dunia ini.

Aku salah. Sangat salah.

Dalam hubungan kami, hanya akulah yang berjuang. Hanya aku yang berusaha agar kami bisa terus bersama.

Hanya aku yang ternyata mencintainya dari lubuk hatiku yang terdalam.

Itu kesimpulanku ketika dengan mudahnya dia mengatakan akan menggugurkan calon bayi kami, malaikat kecil kami. Aku tak percaya bahwa wanita yang begitu aku sayangi itu tega meninggalkan bayi kami yang masih merah dan harus menanggung perbuatannya dengan keterbatasan pada fisiknya.

Sejak dia mematahkan semua harapanku, apa lagi yang tersisa dariku untuknya?

Cinta? Aku tahu masih ada setitik cinta untuknya karena bagaimana pun dia adalah ibu dari putriku. Namun apakag cinta itu cukup?

Apakah cinta itu cukup bagiku agar bisa memaafkan semua kesalahan, semua luka, semua kepedihan yang ditorehkan kepadaku, kepada putri kami?

Entahlah.

Aku hanya manusia biasa. Aku masih merasakan sakit hati dan mungkin perasaan dendam karena perbuatannya di masa lalu. Aku tidak bisa melupakan begitu saja bagaimana putri kami harus menelan kekecewaan karena tak pernah di jemput oleh sang bunda ketika pulang sekolah. Aku tidak bisa melupakan raut wajah muram putri kami saat dia diejek karena keterbatasan fisiknya. Dan aku tidak akan bisa melupakan tangisan putri kami ketika dia merindukan ibunya. Ibunya yang dia tahu telah meninggal dunia padahal kenyataannya ibunda yang dia sayangi itu telah meninggalkannya.

Ya, aku hanya manusia biasa yang memiliki seribu rasa baik positif maupun negatif.

Aku hanya manusia biasa yang meskipun sangat kecewa dengannya, aku masih merasakan sakit di hati ini ketika melihatnya terbaring tak berdaya di ruang ICU dengan berbagai alat menempel di tubuhnya.

Aku tak kuasa untuk menahan laju airmataku ketika melihat pucatnya wajah cantik itu dan tertutupnya mata coklat indah itu yang biasanya bersinar karena dia menikmati hidup ini.

Sosoknya yang sedang berjuang dengan maut, sosoknya yang sedang mencoba untuk bertahan hidup.

Setidaknya itulah yang dikatakan oleh dokter kepada kedua orang tuanya.

Setidaknya itu yang aku camkan dalam hatiku agar aku tidak melakukan hal bodoh seperti mengatakan kebenaran kepada putriku yang saat ini sedang berada di dalam kamar ICU tersebut.

.

.

.

“Kondisinya cukup parah ketika Cho Kyuhyun-ssi dibawa kemari tuan dan nyonya Cho. Namun, beruntung kami bisa menstabilkan keadaan Kyuhyun-ssi sehingga dia bisa melewati masa kritisnya. Sekarang, Kyuhyun-ssi sedang berusaha untuk bisa bangun dari komanya. Yang perlu anda berdua lakukan adalah terus berbicara dengannya.”

“Maksud dokter? Saya tidak mengerti. Anda bilang tadi putri kami baik-baik saja. Lalu kenapa anda sekarang mengatakan dia sedang berjuang untuk sadar dari komanya?!”

“Begini tuan dan nyonya Cho, kondisi fisik Kyuhyun-ssi sebenarnya sudah membaik selain dia harus rehabilitasi setelah sembuh benar. Hanya saja, sepertinya Kyuhyun-ssi menolak untuk sadarkan diri. Kyuhyun-ssi seakan tidak memiliki semangat untuk hidup sehingga dia memilih teritidur.”

“Oh Tuhan! Anakku…” raung Cho Kibum, ibunda Kyuhyun ketika mendapat kabar mengenai kondisi Kyuhyun pasca kecelakaan.

“Kenapa bisa sampai seperti ini yeobo?! Putri kita…” isak tangis Kibum hanya bisa dijawab dengan pelukan erat oleh Donghae. Dia juga tidak mengira nasib Kyuhyun akan seperti ini.

Disaat kedua orang tua Kyuhyun itu mencoba saling memberikan kekuatan untuk pasangan masing-masing, iris Donghae menangkap sosok pria yang menjadi cinta pertama dan mungkin yang terakhir untuk Kyuhyun.

Donghae membulatkan kedua matanya kala sosok itu benar adalah Siwon. Donghae begitu terkejut dengan kehadiran pria yang dulu dia tentang habis-habisan ketika berhubungan dengan Kyuhyun. Pria yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan Kyuhyun jika saja dia tidak menanamkan prinsip dan pemikirannya kepada Kyuhyun. Pria yang bisa saja menyelamatkan putrinya saat ini.

“Siwon-ah. Kamu disini?!”

“Donghae-ssi.”

“Siwon-ah?” suara serak Kibum terdengar ragu menyebut nama pria yang selalu dicintai oleh Kyuhyun itu. Kibum tidak menduga jika dia bisa bertemu dengan Siwon lagi setelah perbuatan jahat yang keluarganya lakukan kepada Siwon.

“Kibum-ssi.” Suara Siwon membuat Kibum yakin dan tanpa peringatan apapun, wanita paruh baya itu menerjang Siwon lalu menangis keras di dada Siwon.

Siwon sendiri terperangah dengan sikap Kibum terhadapnya namun dengan lembut pria itu menepuk-nepuk punggung Kibum meski dengan kecanggungan yang kentara. Siwon tak tahu harus bersikap seperti apa selain menepuk-nepuk punggung wanita yang melahirkan Kyuhyun tersebut.

“Appa?” panggilan Joonmyeon membuat Kibum mengangkat wajahnya dari dada Siwon. Dia langsung tahu sejak Joonmyeon mengucapkan kata appa bahwa gadis manis dan imut yang sedang dituntun oleh Kyungsoo itu adalah cucunya.

Kibum menoleh ke arah Siwon, memastikan apakah dugaannya benar. Anggukan kecil Siwon memastikan dugaannya tersebut.

“Appa!” pekik Joonmyeon ketika tidak ada jawaban dari sang ayah. Yang didengar oleh Joonmyeon meski samar-samar adalah isakan seorang wanita. Maka dari itu, Joonmyeon menjadi gusar karena dia justru mendengar suara orang lain daripada suara ayahnya sendiri. Sedangkan Siwon, setelah mendengar pekikan Joonmyeon yang cemas, Siwon mendekati Joonmyeon.

“Appa disini sayang.” Sahutnya setelah melepaskan diri dari pelukan Kibum. Siwon mengelus rambut Joonmyeon lalu mencium pucuk kepala putri tersayangnya itu dengan lembut.

“Appa? Kenapa tadi meninggalkan Joonie?! Apa tahu bukan Joonie paling benci dengan rumah sakit. Sebenarnya kita sedang apa disini?!” tanya Joonmyeon masih kesal walau dia melingkarkan tangannya di pinggang Siwon dan menyerukan kepalanya manja ke dada bidang Siwon.

Siwon terkekeh kecil melihat tingkah manja Joonmyeon hanya membalas dengan pelukan di tubuh mungilnya.

“Kita datang kesini untuk menjenguk Kyuhyun ahjumma sayang.” Jawab Siwon yang langsung membuat Joonmyeon menegakan tubuhnya dan menampakan raut wajah cemas.

“Kyuhyun ahjumma?! Memangnya kenapa dengan Kyuhyun ahjumma, appa?!” tanya Joonmyeon lagi.

“Kyuhyun ahjumma kecelakaan sayang.” Jawab Siwon. Begitu mendengar jawaban itu, serta merta Joonmyeon melepaskan pelukannya dan menepuk-nepuk dada Siwon sambil berkata,

“Ya Tuhan! Appa, ayo antar Joonie menemui Kyuhyun ahjumma. Cepat!” desaknya semakin cemas.

“Ya sayang. Sabar.” Ucap Siwon sambil menggenggam tangan Joonmyeon yang terus menepuk-nepuk dadanya.

Siwon tak perlu menanyakan dimana keberadaan Kyuhyun karena dia sudah lebih dulu datang dan melihat keadaan Kyuhyun.

Setelah dia mendengar berita di televisi tadi, Siwon bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Kyuhyun yang sebenarnya. Dia sampai sempat melupakan Joonmyeon dan saat dia ingat, Siwon harus berusaha menenangkan putrinya itu kala Joonmyeon datang sambil menangis dengan Kyungsoo yang Siwon minta untuk mengantarkan Joonmyeon menyusulnya ke rumah sakit.

Dan disinilah mereka. Di rumah sakit, menjenguk Kyuhyun yang notabene adalah ibu kandung Joonmyeon.

Siwon tak menampik dia merasa ragu dan tidak rela untuk membawa Joonmyeon menemui ibunya. Akan tetapi melihat kondisi Kyuhyun di ruang ICU membuat Siwon tak tega jika berdiam diri. Di sudut hatinya, Siwon merasakan sakit ketika harus menyaksikan Kyuhyun yang tak berdaya dan pedih jika tiba-tiba saja Kyuhyun tidak ada lagi di dunia ini. Terlebih lagi setelah Siwon tak sengaja mendengar penjelasan dokter bahwa Kyuhyun seperti tidak memiliki keinginan untuk hidup.

Maka dari itu, Siwon memutuskan untuk membawa Joonmyeon untuk sekedar melihat kondisi Kyuhyun. Apa yang akan terjadi nanti, akan Siwon pikirkan kemudian. Setidaknya jika Kyuhyun bisa merasakan kehadiran Joonmyeon di dekatnya, Kyuhyun memiliki lagi keinginan untuk hidup.

Siwon beranjak mengantar Joonmyeon ke ruang ICU tempat Kyuhyun berada, tapi sebelum pergi Siwon menganggukan kepalanya ke arah Kibum dan Donghae yang masih saja terpaku karena mereka baru saja bertemu dengan cucu semata wayang mereka. Cucu mereka yang dulu mereka tolak kehadirannya. Cucu perempuan yang sekarang tumbuh menjadi gadis manis nan cantik, persis seperti sang bunda, Kyuhyun.

.

.

.

Joonmyeon mengusap tangan Kyuhyun yang sekarang tengah terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Gadis itu tersenyum kala dia merasakan kehangatan yang berbeda saat menggenggam tangan Kyuhyun. Perasaan asing yang menyenangkan itu selalu datang jika Joonmyeon berdekatan dengan Kyuhyun.

Joonmyeon tak tahu siapa Kyuhyun sebenarnya dan dia tak peduli. Baginya, meski mereka baru bertemu dua kali dalam sehari namun Kyuhyun sudah memiliki tempat tersendiri di hatinya.

“Joonie.” Panggil Siwon perlahan tatkala dia melihat anak tunggalnya itu tersenyum sendiri.

Melihat tingkah putrinya tersebut Siwon merasakan dilemma. Dia lega jika Joonmyeon merasa nyaman berdekatan dengan Kyuhyun karena Kyuhyun adalah ibu kandungnya, namun Siwon juga takut jika putrinya tahu kebenaran akan jati dirinya, maka Joonmyeon akan hancur.

Hancur.

Hati Joonmyeon akan hancur dan Siwon yakin untuk mengembalikan pecahan hati gadisnya yang telah rapuh itu, dia membutuhkan lebih dari kehadiran dan kasih sayang darinya.

Siwon tak mau itu terjadi. Siwon tidak ingin itu pernah terjadi.

“Ya appa?” sahut Joonmyeon membuat Siwon sedikit tersentak dan memperhatikan kembali Joonmyeon dan melupakan kegundahan hatinya.

“Sudah malam sayang, kita harus pulang.” Ajak Siwon yang langsung membuat Joonmyeon kaget serta menampakan raut wajah tak rela untuk segera pergi.

“Pulang? Tta…tapi Kyuhyun ahjumma…”

“Kyuhyun ahjumma sudah ada yang menjaga sayang. Dia tak butuh kita.” potong Siwon mengakhiri keberatan Joonmyeon untuk pulang bersamanya. Namun setelah mengucapkan kalimat itu, Siwon langsung merasa bersalah.

Raut wajah Joonmyeon seperti anak kucing yang dibuang oleh majikannya. Murung dan seolah ingin menangis menjadi hal yang harus dipandang oleh Siwon saat ini.

Siwon mengusap rambut Joonmyeon dengan lembut ketika Joonmyeon hanya mengangguk sebagai responnya atas ucapan sang appa.

“Ayo sayang.” Ajak Siwon lagi sambil membantu Joonmyeon untuk berdiri dan meninggalkan Kyuhyun dalam pengawasan kedua orang tuanya yang saat ini menyaksikan interaksi ketiganya dari jendela ruang ICU tersebut karena memang hanya dua orang saja yang diperbolehkan untuk berada di samping pasien.

Joonmyeon baru saja berdiri dan bermaksud melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kyuhyun ketika tiba-tiba tangan Kyuhyun menggenggam balik tangan Joonmyeon.

Joonmyeon terhenyak kaget saat dia merasakan genggaman Kyuhyun tersebut meski genggaman itu terasa begitu lemah. Joonmyeon membalikan tubuhnya ke arah Kyuhyun sehingga membuat Siwon ikut memperhatikan kemana Joonmyeon bergerak.

“Ada apa Joonie?” tanya Siwon heran dengan tingkah Joonmyeon yang tiba-tiba berbalik.

“Tangan.” Ucap Joonmyeon singkat.

“Tangan?” Dahi Siwon berkerut dengan kata ambigu Joonmyeon tadi sehingga akhirnya Siwon menoleh untuk melihat ke arah tangan Joonmyeon.

“Tangan ahjumma appa.” Sambung Joonmyeon bersamaan dengan Siwon yang melihat ke arah yang dimaksud oleh Joonmyeon. Matanya melebar melihat jemari Kyuhyun bergerak, berusaha menggenggam erat tangan Joonmyeon.

Tanpa perlu disuruh, Siwon bergegas menekan bel di samping ranjang Kyuhyun untuk memanggil dokter. Mereka berdua menunggu kedatangan dokter tersebut sampai akhirnya Siwon tak sabar dan pergi keluar kamar ICU tersebut, meninggalkan Kyuhyun bersama dengan Joonmyeon.

Joonmyeon sendiri saat tahu Siwon sudah pergi mulai meraba sekitarnya untuk kembali ke posisi awal yaitu di dekat Kyuhyun sebelum tadi dia akan pergi bersama dengan Siwon. Joonmyeon tak pernah melepaskan tangan Kyuhyun dan justru gadis itu semakin meremas tangan Kyuhyun sehingga membuat wanita berstatus ibunda Joonmyeon itu sadarkan diri sepenuhnya.

Mata bulat itu mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya dalam ruangan serba putih itu dengan retina matanya yang cukup lama tertutup. Kyuhyun merasa seperti terbangun dari mimpi panjang dimana dia merasa bahagia karena bisa tertawa bersama Siwon dan Joonmyeon. Kyuhyun ingin menangis ketika dia tahu dia sudah kembali ke dunia nyata, dunia dimana pria yang dia cintai dan putri tersayangnya tidak ada disana.

Kyuhyun kembali mengerjapkan matanya beberapa kali sampai dia merasakan genggaman tangan seseorang dan membuatnya menoleh ke arah Joonmyeon berada.

Kyuhyun memincingkan matanya untuk melihat dengan jelas siapa yang berada disisinya dan ketika iris coklatnya menangkap sosok Joonmyeon dengan jelas, iris itu pula terbuka dengan lebarnya dan mulai berembun sampai mengeluarkan kristal bening dari mata cantik itu.

“Jj…joon…mye…Joonmyeon…” Kyuhyun hanya sanggup mengatakan kata itu karena tenggorokannya terasa sangat kering dan bibirnya tak bisa berkata lebih jauh lagi. Sedangkan Joonmyeon, mendengar dengan jelas namanya dipanggil oleh Kyuhyun, langsung berdiri. Joonmyeon berusaha mendekati Kyuhyun tanpa melepaskan tangannya.

“Kyuhyun ahjumma!” serunya senang karena Kyuhyun telah sadar.

“Joon… myeon…” ulang Kyuhyun masih menangis haru karena orang yang pertama kali dilihatnya adalah putri kandungnya sendiri.

“Kyuhyun ahjumma… Syukurlah…” ucap Joonmyeon lega.

Kyuhyun memandang wajah manis Joonmyeon. Tangannya ingin sekali membelai wajah Joonmyeon tapi Kyuhyun tidak memiliki tenaga untuk itu. Kyuhyun begitu diliputi dengan keharuan dan kebahagiaan yang tak terkira sehingga dia melakukan sesuatu yang membuat Joonmyeon mematung seketika.

Kyuhyun dengan lirih memanggil Joonmyeon dengan,

“Joonie… Putri umma…”

.

.

.

Kelabu.

Warna itu yang menyelimuti awan di daerah pemukiman sederhana tempat tinggal Siwon dan Joonmyeon.

Warna itu juga yang menandakan perasaan yang dirasakan oleh Joonmyeon.

Gadis itu bagaikan awan mendung yang siap menumpahkan air hujan ke bumi. Joonmyeon merasakan mendung yang sama kala dia tahu rahasia kelahirannya.

Joonmyeon sudah mengurung dirinya di kamar sejak Siwon menceritakan semuanya. Mulai dari hubungannya dengan Kyuhyun sampai bagaimana dirinya hadir dalam hidup sang appa.

Joonmyeon sendiri sebenarnya heran mengapa setelah mendengarkan kebenaran dari bibir Siwon, Joonmyeon tidak menangis. Joonmyeon tidak marah karena dirinya dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Joonmyeon tidak kecewa karena kebohongan sang ayah. Joonmyeon tidak merasakan apa-apa.

Joonmyeon justru merasa tenang.

Sedih. Tentu saja. Karena itulah dia ada di kamarnya seorang diri seperti ini. Akan tetapi untuk meluapkan dan menimpakan semua penderitaannya kepada Siwon dan Kyuhyun, tidak pernah terbersit sama sekali.

Joonmyeon seakan paham mengapa dia bernasib demikian.

Bukankah memang begitu nasih seorang anak yang tak pernah diinginkan.

Dia dibuang. Dia tidak dianggap. Dia bukan seseorang yang berarti.

Joonmyeon merasakan pipinya basah. Setelah mengurung diri selama dua hari akhirnya airmata itu turun juga. Namun Joonmyeon tidak berniat untuk menghapusnya. Joonmyeon membiarkan airmata itu mengalir, berharap mereka bisa membawa serta semua rasa tak menyenangkan yang dia rasakan sekarang. Joonmyeon berharap airmata ini dapat membuatnya melupakan kenyataan pahit yang tak bisa dia ubah. Joonmyeon berharap airmata ini mampu menenggelamkannya sedalam-dalamnya sehingga dia tak perlu muncul lagi ke permukaan.

.

.

.

“Siwonnie…”

“Aku tak bisa Kyu. Aku tak mau melihatnya lebih menderita dari ini.”

“Aku mohon Wonnie, biarkan aku melihatnya. Biarkan aku menjelaskan semuanya. Ak…aku…”

“Maaf Kyu, tapi aku rasa semua sudah berakhir. Joonie…”

“Aku kenapa appa?”

“Joonie!”

“Joonie… Umma…”

“Umma? Siapa? Anda?”

“Joonie…”

“Tampaknya anda keliru. Saya tidak memiliki umma.”

“Tapi Joonie…”

“Pergi.”

“Jonnie…”

“Appa, Joonie harus berangkat. Joonie sudah tidak masuk selama satu minggu maka dari Joonie tidak mau terlambat saat sudah bisa masuk sekolah lagi.”

“…”

“Appa!”

“Baik sayang. Tunggu sebentar, appa ambil jaket dulu.”

“…”

“Sudah sayang. Ayo kita berangkat. Kami pamit dulu Kyuhyun-ssi, Kibum-ssi, Donghae-ssi.”

“Joonie…”

Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan anak yang didambakan.

Aku…

END

Advertisements