Tags

, , , ,

Title : Other Side – Sequel Choice

Pairing/Charas : Wonkyu, Joonmyeon, a bit Yunjae & Kyungsoo

Genre : Family, Romance, Angst, Drama

Disclaimer : All casts are belong to their self, their respective agency and God

Warning : Un-betaed, Angst, GS, AU, OC, OOC, Sad, Change of Surname, Broken!Wonkyu (perhaps)

( 。・_・。)(。・_・。 )

“Aku hamil.” ucap wanita manis berusia tak lebih dari 20 tahun itu kepada seorang pria tampan di hadapannya. Pria yang sedari tadi sibuk menulis sesuatu di agendanya, langsung menghentikan kegiatannya dan menengadah, terpengarah dengan kabar yang mendadak tersebut.

“Hamil?!” cekatnya tak tahu harus bersikap seperti apa karena begitu banyak perasaan yang bergumul di dalam dirinya.

Bahagia? Tentu! Dia akan menjadi seorang ayah. Dia akan memiliki buah cintanya dengan wanita yang paling dia cintai.

Kaget? Apalagi! Kekasihnya tiba-tiba saja mengabarkan berita bahagia tersebut seakan mereka sedang membahas cuaca.

Takut? Sedikit. Pria itu tentu saja takut karena biar bagaimana pun kehamilan ini tidak direncanakan sebelumnya. Pria itu yakin bahwa dia selalu menggunakan pengaman ketika bercinta dengan sang kekasih. Namun, dia bisa bilang apa jika Tuhan menggariskan hidupnya harus memiliki salah satu malaikat kecil-Nya. Pria itu hanya bisa berpasrah bahwa semua yang akan terjadi nanti adalah pembelajaran untuknya.

Yang penting sekarang, pria itu harus mulai menyusun prioritasnya. Mulai dari memastikan kandungan sang kekasih seh…

“Aku mau menggugurkannya.”

…at dan menyiapkan…

“Apa?!”

“Aku mau menggugurkannya saja.” Ulang wanita cantik itu.

Dan sang pria hanya terdiam, mengamati wajah kekasih yang begitu datarnya saat mengatakan dia akan menggugurkan darah dagingnya sendiri. Begitu datar sehingga membuat pria itu takut dan asing dengan wanita yang begitu dia puja itu.

.

.

.

Terkadang dia berpikir, mengapa penyesalan selalu datang setelah kesalahan itu terjadi? Mengapa manusia tidak bisa menghindari penyesalan sehingga tidak perlu merasakan sakitnya rasa sesal itu? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Dia hanya mampu bertanya kenapa pada dirinya sendiri ketika dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dia sekarang hanya bisa merasakan rasa sesal, rasa bersalah, rasa pedih karena kesalahan itu. Dia hanya dapat berjalan ke depan, berdoa agar suatu saat dirinya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu dengan mereka yang dia sakiti, agar Tuhan memberikanya cara untuk menebus semua kesalahannya, agar Tuhan memberikan kesempatan baginya untuk meminta maaf kepada pria yang sangat dia cintai dan…

…dan bayi mungil tak berdosa yang dia tinggalkan begitu saja di tangan sang ayah kandung.

Dia berharap suatu saat ada saatnya dia bertatap muka dengan mereka dan meminta maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Dan hal itu yang sekarang dialami secara pribadi oleh Cho Kyuhyun.

.

.

.

Kyuhyun memandang dua sosok yang sedang bersendau gurau di atas sebuah tikar di bawah pohon yang rindang. Dua sosok yang membuat mata coklatnya mengeluarkan cairan bening bernama airmata.

Satu sosok yang akan selalu ada dalam ingatan dan hatinya dan satu sosok yang tak pernah dia lihat namun sosok itu menimbulkan perasaan rindu yang memuncah, meski semua diselimuti dengan perasaan sedih dan bersalah.

Siwonnie… dan… dan… Bayiku! Putri kecilku!!

“Mereka selama ini ada di dekatku dan aku tidak pernah tahu?” gumamnya kepada Yunho yang setia menemani sahabatnya tersebut.

“Siwon-ssi ternyata cukup pintar bersembunyi Kyu.” Ucap Yunho.

“Dan gadis itu?” tanya Kyuhyun memastikan identitasnya walau hati Kyuhyun sudah menjerit kenyataan pahit yang dia ketahui.

“Putrimu.” Dan airmata itu kembali turun dan lebih deras dari sebelumnya. Kyuhyun memejamkan matanya berusaha menutup jalur airmata untuk turun namun apa daya, kekuatannya lebih dasyat daripada Kyuhyun sendiri. Rasa sedih dan pedih itu lebih berkuasa sehingga sanggup memerintahkan sang airmata untuk terus turun. Isakan demi isakan menemani airmata tersebut yang sudah mengalir seperti sungai.

“Putriku… Dia putriku…”

“Choi Joonmyeon.” Ujar Yunho memberi tahu nama lengkap putri Kyuhyun, Joonmyeon.

Yunho meremas bahu Kyuhyun, berusaha memberikan kekuatan kepadanya. Terlebih lagi karena bahu itu semakin bergetar hebat dan pada akhirnya Yunho hanya merasakan udara kosong karena tubuh Kyuhyun sudah merosot jatuh.

Tangisan wanita cantik itu semakin keras meski dia sudah menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Beruntung taman itu cukup ramai sehingga tangisan Kyuhyun tidak terdengar oleh dua sosok yang sangat dia rindukan. Namun ironisnya, justru karena keramaian itulah, Kyuhyun menjadi pusat perhatian sehingga membuat Siwon dan Joonmyeon menoleh ke arah Kyuhyun.

“Ada apa appa?” tanya Joonmyeon karena dia tak bisa melihat penyebab suara orang-orang yang terdengar bersimpati kepada seseorang.

“Entahlah.” Jawab Siwon singkat.

“Mungkin appa sebaiknya memeriksa kesana. Mungkin ada seseorang yang membutuhkan bantuan.” Pinta Joonmyeon. Siwon menatap putri sematawayangnya itu dengan raut wajah khawatir.

“Appa tidak mau meninggalkanmu sendirian sayang.”

“Tidak apa-apa appa. Kyungsoo akan segera kembali. Appa pergilah.” Desak Joonmyeon sambil tersenyum, mencoba meyakinkan sang ayah untuk pergi memeriksa keramaian tersebut.

Siwon tersenyum lalu mengusap rambut Joonmyeon dengan lembut sebelum mengecup pucuk kepala gadis manisnya itu.

“Appa segera kembali. Diam disini ya sayang.”

“Siap appa.” Ujar Joonmyeon sambil mengangkat telapak tangannya dan memberi hormat layaknya prajurit. Siwon tertawa melihat tingkah lucu Joonmyeon dan kembali mengusap rambutnya sebelum akhirnya pergi melihat keadaan ramai yang tak terlalu jauh dari mereka.

Siwon berjalan ke arah beberapa orang yang berdiri memandangi sesuatu. Siwon mencoba melihat apa yang sedang diperhatikan oleh orang-orang tersebut ketika iris hitamnya mengenali satu orang yang sedang memeluk seseorang yang kelihatannya sedang menangis. Siwon tak bisa melihat wajah orang tersebut karena tertutup oleh kedua tangannya.

“Tuan!” ucap Siwon mengenali Yunho dan dengan segera dia menerobos masuk ke dalam lingkarang yang dibuat orang-orang yang lalu lalang tersebut.

“Tuan!” panggil Siwon membuat Yunho menoleh dan sedikit terkejut dengan keberadaan Siwon di hadapannya. Yunho terlihat gugup karena dia tidak mengira Siwon akan menghampiri dia dan Kyuhyun.

“Si… Siwon-ssi…” gagapnya memanggil nama Siwon.

“Anda kenapa? Apa anda membutuhkan bantuan? Ada apa dengan teman anda?” tanya Siwon.

“Aku baik-baik saja, hanya…”

“Si… Siwon… Siwonnie…” lirih Kyuhyun sambil mengangkat wajahnya sehingga Siwon melihat dengan jelas wajah Kyuhyun.

Siwon membeku seketika kala matanya beradu pandang dengan mata basah Kyuhyun. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan bertemu lagi dengan Kyuhyun setelah wanita yang dia cintai itu menyerahkan Joonmyeon ke tangannya lalu pergi meninggalkannya bersama dengan Joonmyeon.

“Siwonnie…” lirih Kyuhyun lagi dan kali ini berusaha menggapai tangan Siwon.

Akan tetapi, Siwon menarik tangannya kemudian langsung berdiri. Siwon masih memandang Kyuhyun yang terlihat kacau. Ada perasaan iba melihat Kyuhyun seperti itu, namun perasaan lain yang berkecamuk di hati Siwon lebih kuat dari rasa ibanya.

Tanpa banyak bicara, Siwon berlalu begitu saja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho.

“Siwonnie!!” seru Kyuhyun ikut berdiri dan berusaha mengejar Siwon. Dia berhasil ketika lengan putihnya mencekal lengan Siwon walau langsung dihempaskan oleh pria berlesung pipi itu.

“Jangan sentuh aku.” Tukasnya dingin dan menusuk. Kyuhyun memandang Siwon dengan sendu sambil sesekali menggigit bibirnya, menahan rasa sakit karena penolakan Siwon.

Inikah rasanya ketika aku memcampakanmu Wonnie? Batin Kyuhyun kala dia ingat dia pernah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Siwon sekarang.

“Kumohon… Dengarkan aku dulu…” mohon Kyuhyun yang justru ditanggapi dengan raut wajah penuh amarah dari Siwon meski pria itu diam seribu bahasa.

“Siwonnie…”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Saya permisi.”

“Siwonnie!”

“Appa.” Suara lembut namun cemas milik Joonmyeon mengalihkan perhatian Kyuhyun dan Siwon. Keduanya memiliki ekspresi yang berbeda ketika melihat Joonmyeon yang dituntun oleh Kyungsoo.

Kyuhyun memandang Joonmyeon dengan raut wajah bahagia dan penuh kerinduan sedangkan Siwon memandang Joonmyeon dengan raut wajah penuh ketakutan. Dia takut jika Joonmyeon tahu siapa Kyuhyun sebenarnya. Siwon takut jika Joonmyeon tahu dirinya berbohong selama ini dengan mengatakan bahwa ummanya sudah meninggal sejak dia lahir dan bukan membuangnya.

“Joon…” belum selesai Kyuhyun memanggil nama Joonmyeon, dia sudah dihentikan oleh Siwon dengan pandangan tajamnya yang seolah mengatakan, ‘berani kau memanggilnya maka aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu lagi dengannya’, yang langsung membuat Kyuhyun ciut.

“Joonie, sayang. Kenapa kau kemari?” tanya Siwon setelah memastikan Kyuhyun tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menghancurkan seluruh jerih payah Siwon selama ini.

“Appa bicara dengan siapa?” tanya Joonmyeon tidak mengindahkan pertanyaan Siwon. Joonmyeon lebih tertarik dengan siapa sang ayah bicara. Joonmyeon merasa kaget saat dia mendekati sang ayah didampingi oleh Kyungsoo, indera pendengarannya menangkap kekesalan dari Siwon.

Joonmyeon penasaran dengan situasi tersebut karena selama hidupnya, belum pernah Joonmyeon mendengar ayahnya bicara seketus dan sedingin itu kepada seseorang. Jika Siwon marah atau kesal, Joonmyeon selalu mendapati ayahnya diam sehingga mau tidak mau dia atau orang-orang yang bersangkutan akan mencoba mencairkan suasana.

Maka, ketika nada suara sang ayah meninggi, Joonmyeon ingin tahu siapa yang mampu membuat Siwon seperti itu.

“Bukan siapa-siapa sayang.” Jawab Siwon sedikit kikuk karena tiba-tiba ditanya seperti itu oleh Joonmyeon.

“Benarkah? Tapi tadi sepertinya appa sedang kesal dengan seseorang?!” desak Joonmyeon masih belum puas dengan jawaban Siwon. Siwon menghela nafas lalu menatap Kyuhyun lagi yang kali ini menutup mulutnya demi mengikuti keinginan Siwon.

Siwon memandang wanita yang masih sangat cantik itu dengan seksama. Sedikit demi sedikit, amarahnya mereda digantikan dengan kepedihan yang selalu bergelayut di hatinya. Siwon memanglingkan wajahnya dengan raut wajah sendu, berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya untuk tidak keluar.

Baginya sudah cukup airmata dia tumpahkan untuk wanita yang akan selalu dia cintai itu meski cintanya tak berbuah manis. Siwon sudah tak ingin dihantui oleh Kyuhyun dengan perasaan takut jika dia bertemu dengannya seperti sekarang ini. Siwon ingin benar-benar hidup tenang bersama dengan Joonmyeon.

Hanya mereka berdua.

“Lho appa? Sedang apa disini? Kyuhyun ahjumma?! Dari tadi ahjumma ada disini?!” pekik Kyungsoo kaget setelah melihat Kyuhyun dan ayahnya yang menyusul Kyuhyun. Kyungsoo baru bisa melihat dengan jelas sosok Kyuhyun karena tadi tubuh Kyuhyun terhalangi tubuh tinggi Siwon.

“Kau mengenal orang yang bicara dengan appaku Kyungie?” tanya Joonmyeon semakin penasaran. Fakta bahwa Kyungsoo mengenal orang yang baru saja berbicang dengan Siwon meski pria itu mengelak membuat Joonmyeon bertanya-tanya hubungan mereka berdua.

“Ya. Joonmyeon, mari aku kenalkan. Ini Kyuhyun ahjumma, sahabat appaku.” Ucap Kyungsoo memperkenalkan Kyuhyun kepada Joonmyeon. Kyungsoo mengarahkan tangan Joonmyeon ke arah Kyuhyun.

Dari tindakan Kyungsoo dan melihat kosong pandangan mata Joonmyeon, Kyuhyun baru menyadari bahwa Joonmyeon buta.

Kali ini Kyuhyun tidak tahu harus merasakan apalagi. Perasaan bersalahnya semakin menumpuk, sedihnya tak terbendung, pedih dan luka di hatinya semakin melebar. Kyuhyun ingin menangis lagi, namun entah kenapa airmatanya kali ini enggan untuk keluar. Mereka seperti tidak mau mengikuti perintah Kyuhyun untuk membuatnya lebih lega dengan menangis. Airmata Kyuhyun berkhianat dan membiarkan tuannya merasakan sesak dan kepedihan yang mendalam karena tak bisa meluapkan rasa itu.

Menyadari dia telah membiarkan satu-satunya buah hati yang begitu indah hilang dari genggamannya, membuat Kyuhyun semakin merasa menjadi seorang ibu yang kejam dengan kebenaran fakta yang tertulis di laporan detektif sewaan Yunho mengenai Joonmyeon. Dia benar-benar bukan manusia jadi wajar jika Siwon membencinya sekarang.

Kyuhyun tidak sanggup menyambut uluran tangan Joonmyeon yang ingin berkenalan dengannya sehingga tangan Joonmyeon menggantung di udara begitu saja. Kyuhyun merasa dirinya hina bersentuhan dengan Joonmyeon walau hatinya berteriak ingin memeluk Joonmyeon seerat mungkin, tidak membiarkan putrinya tersebut pergi lagi darinya.

Namun sikap Kyuhyun itu membuat Kyungsoo merasa heran sekaligus kesal karena mengira Kyuhyun tidak mau berkenalan dengan Joonmyeon karena Joonmyeon adalah gadis buta. Kyungsoo seperti tidak mempedulikan raut wajah Kyuhyun yang terlihat menyedihkan.

“Ahjumma! Kalau ahjumma tidak mau berkenalan dengan Joonie, ahjumma bilang saja!” ketus Kyungsoo yang langsung ditanggapi oleh delikan dan teguran dari Yunho.

“Kyungie! Sopan sedikit!”

“Ck!” decak Kyungsoo kesal lalu menurunkan tangan Joonmyeon.

Joonmyeon sendiri sebenarnya tidak mengerti mengapa Kyuhyun tidak mau menyambut uluran tangannya. Hatinya sedih kala mendengar Kyungsoo mengatakan tuduhannya kepada Kyuhyun. Dalam hatinya, Joonmyeon membenarkan tuduhan Kyungsoo tersebut. Menurutnya, mungkin memang Kyuhyun tidak mau berkenalan dengannya karena dia buta.

Joonmyeon tersenyum miris karena perlakukan Kyuhyun mengingatkan dia akan perilaku semua orang yang mengetahui keterbatasannya. Memang banyak yang membantunya namun tidak sedikit pula yang mempermainkannya karena cacatnya itu.

Siwon sendiri yang melihat senyum miris Joonmyeon merasa sedih dan terluka karena dia paham benar apa yang dipikirkan oleh Joonmyeon. Siwon semakin yakin bahwa Kyuhyun lebih baik tidak berada di antara mereka. Biarlah jika Siwon harus menyimpan rahasia ini seumur hidupnya.

“Joonie.”

“Ya appa?”

“Kita pulang sayang. Sudah hampir malam. Nanti kamu sakit sayang.”

“Sudah hampir malam appa? Kalau begitu ayo pulang. Besok appa bukannya harus masuk pagi sekali. Nanti appa tidak bisa beristirahat dengan baik kalau kita masih disini.”

“Joonie mencemaskan appa?”

“Tentu saja. Hanya appa yang Joonie miliki.”

“Kalau begitu kita pulang sayang. Kyungsoo-ah, terima kasih telah merayakan ulang tahun Joonie bersama kami.”

“Sama-sama Siwon ahjussi. Aku juga senang bisa merayakannya ulang tahun Joonie.”

“Kyungie, sampai bertemu di sekolah ya.”

“Oke. Selamat ulang tahun ke-17 Joonie!”

“Kami pamit Kyungsoo-ah, tuan dan…”

Siwon tidak melanjutkan ucapannya dan memilih menatap Kyuhyun lagi. Siwon ingin memandang wanita berambut ikal itu terakhir kali sebelum dia benar-benar melupakan sosok wanita yang begitu dia cintai. Siwon ingin mematri seluruh keindahan Kyuhyun di dalam benaknya sebelum dia mengatakan selamat tinggal kepada Kyuhyun.

Siwon lalu tersenyum dan mengatakan,

“Selamat tinggal Kyuhyun-ssi.” Lalu berlalu bersama dengan Joonmyeon.

Mendengar ucapan perpisahan dari Siwon membuat Kyuhyun kembali terduduk lemas. Pandangannya kosong, airmata yang akhirnya mengalir kembali dia biarkan membasahi kedua pipinya sampai ke dagu, tangannya beranjak ke dadanya sendiri dan meremasnya.

Kata-kata Joonmyeon dan Siwon terus terngiang di dalam pikiran Kyuhyun.

Hanya appa yang Joonie miliki.

Selamat tinggal Kyuhyun-ssi.

“Tidak. Jangan pergi Siwonnie… Jangan pergi Joonie… Umma menyayangi kalian… Jangan tinggalkan umma… Umma mohon… Jangan tinggalkan umma…” pinta Kyuhyun memelas.

Hanya saja, permohonan itu tidak di dengar oleh kedua orang yang terlihat akrab dan selalu tersenyum bersama. Permohonan Kyuhyun hanya dibalas dengan gambaran ayah dan putrinya yang saling menyayangi. Permohonan Kyuhyun hanya dibalas dengan punggung keduanya yang akan selalu menghantui Kyuhyun. Permohonannya hanya didengar oleh angina yang bahkan tak mau menyampaikan kepada kedua orang yang sangat dicintai oleh Kyuhyun.

Permohonan yang akhirnya hilang bersama dengan tangisan memilukan seorang Cho Kyuhyun.

Siwonnie… Joonie… Umma menyayangi kalian berdua…

Hanya appa yang Joonie miliki.

Selamat tinggal Kyuhyun-ssi.

.

.

.

Tidak! Tidak!! TIDAK!!! Aku tidak mau berakhir seperti ini!!! Batin Kyuhyun menjerit sekeras yang dia bisa. Kyuhyun membuka matanya dan langsung menghapus airmata yang masih setia menemaninya.

Dengan susah payah, Kyuhyun mencoba berdiri. Kakinya lemas sejak dia mendengar kata perpisahan dari Siwon, namun kali ini Kyuhyun tak mau terpuruk lagi. Dia harus bangkit. Harus!

Siwon dan putrinya, Joonmyeon ada di depan matanya. Mereka ada di hadapannya. Tuhan telah memberikan kesempatan itu dan Kyuhyun akan menggunakan kesempatan itu dengan baik.

Kalian tidak boleh pergi lagi dariku! Tidak boleh! Tidak sebelum aku memohon maaf kepadamu Siwonnie, Joonie… Tidak… Aku harus berjuang. Kali ini aku harus berjuang! Batin Kyuhyun lagi, masih berusaha untuk berdiri dan akhirnya wanita cantik itu berdiri dengan tegap.

Kyuhyun mengambil nafas lalu membuangnya perlahan sebelum dia menoleh ke arah Kyungsoo.

Kyungsoo sendiri sedikit gugup di tatap seperti itu oleh Kyuhyun. Tatapan datar namun tersirat jelas kepedihan di kedua bola mata coklatnya itu membuat Kyungsoo merasa tak enak karena sempat bersikap ketus kepada Kyuhyun.

“Ahj…”

“Kyungsoo-ah.” Sahut Kyuhyun memotong ucapan Kyungsoo yang ingin bertanya kenapa Kyuhyun memandangnya demikian.

“Ap…apa?”

“Tolong antarkan ahjumma ke rumah Joonie.” Pinta Kyuhyun perlahan namun ada ketegasan di nada bicaranya. Kyungsoo sedikit kaget dengan permintaan itu dan juga tidak setuju jika Kyuhyun kembali mengganggu Siwon dan Joonmyeon. Gadis itu bermaksud menolak hanya saja Yunho lebih cepat menghalang keinginan Kyungsoo. Ayah Kyungsoo itu justru memegang kepala putrinya dan membuatnya mengangguk berkali-kali, seolah-olah menyetujui permintaan Kyuhyun sambil berujar,

“Anak nakal ini pasti akan membantumu Kyu. Kau tenang saja. Bukan begitu sayang?” Yunho menoleh ke arah Kyungsoo dan mendelikan matanya, memandng putri sematawayangnya itu dengan pandangan mengancam seolah mengatakan ‘jika berani menolak, akan appa pastikan hidupmu takkan tenang Kyungie’.

Melihat tatapan sang appa, otomatis Kyuhyun meneguk salivanya sendiri dan mengangguk patuh.

“Sekarang Kyungsoo-ah.” Titah Kyuhyun sambil berlalu terlebih dahulu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu masuk taman. Kyungsoo sendiri hanya mampu menghela nafas panjang dan melihat ke arah Yunho.

“Sudah, turuti saja. Ikuti Kyuhyun. Appa mau pulang dan memberitahu hal ini kepada ummamu.”

“Appa akan membiarkan aku pulang sendiri?!”

“Kalau kau sudah mengantarkan Kyuhyun, hubungi Park aneh itu. Appa yakin dia akan senang sekali menjemputmu.”

“Appa! Namanya Park Chanyeol, bukan Park aneh!”

“Terserah.”

“Appa!”

“Jung Kyungsoo!” teriakan Kyuhyun memutus perdebatan tak penting antara ayah dan anak itu. Kyungsoo berdecak kesal sebelum berlari menyusul Kyuhyun.

.

.

.

Kyuhyun sudah menunggu sekitar dua jam sejak kedatangannya di rumah sederhana ini namun belum ada tanda-tanda dari Siwon maupun Joonmyeon menunjukkan dirinya.

Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum tersenyum sendiri. Menyadari situasinya sendiri, dia teringat akan kenangannya ketika masih bersama dengan Siwon. Pria bermarga Choi itu pernah menunggunya suatu hari di musim dingin. Kala itu Siwon terus menunggunya untuk datang di tempat yang telah mereka sepakati bersama. Siwon menunggu dan menunggu sampai lebih dari empat jam sampai akhirnya Kyuhyun datang.

Kyuhyun masih ingat senyum menawan Siwon ketika melihatnya datang hari itu. Senyum yang selalu membuatnya merasa bagaikan wanita paling cantik, wanita yang tidak ada tandingannya, wanita yang selalu dicintai olehnya. Senyum yang tetap merekah meski dengan bibir bergetar dan hidung merah karena terlalu lama berada di udara dingin.

Dan sekarang, keadaan tersebut berbalik. Dirinya harus menunggu Siwon dan Joonmyeon untuk datang di malam yang dingin ini. Malam yang sudah membuat tubuhnya harus bergetar karena kedinginan.

Kyuhyun sekarang merasakan bagaimana rasanya menunggu seseorang tanpa kejelasan seperti malam itu. Dia baru merasakan selama dua jam, sedangkan Siwon dengan setia menunggunya sampai empat jam lebih.

Tidak! Aku akan menunggunya disini! Aku harus bertemu dengannya dan juga putriku! Batin Kyuhyun bersikukuh.

Kyuhyun menerawang kala hatinya mengucapkan kata ‘putriku’. Masih berhakkah dia untuk memanggil Joonmyeon sebagai putrinya ketika dia sudah membuang Joonmyeon dulu.

Meski semua itu Kyuhyun lakukan dengan terpaksa, namun kenyataan dia telah membuang bayinya sendiri adalah kenyataan yang harus dia terima. Kenyataan dia adalah ibu yang kejam harus dia terima. Dan jika Joonmyeon membencinya, maka itu adalah ganjaran yang tepat untuknya. Kyuhyun akan berusaha untuk menerima konsekuensi itu, meski berat untuk hatinya.

“Kyuhyun-ssi.” Suara berat Siwon membuat lamunan Kyuhyun buyar. Kyuhyun mengangkat wajahnya dan menemukan Siwon yang menggengam tangan Joonmyeon sementara putrinya itu memeluk lengan Siwon.

Kyuhyun segera berdiri dari lantai tempat duduk sejak menunggu keduanya pulang. Dengan tergesa-gesa, Kyuhyun membersihkan debu yang menempel di roknya dan merapikan dirinya sendiri, memastikan dia terlihat baik dan cantik di hadapan Siwon.

“Sedang apa anda di depan rumah kami?” tanya Siwon datar namun Kyuhyun dapat menangkap nada tidak suka dari suara berat Siwon tersebut.

“Ak… aku…”

“Appa? Kyuhyun ahjumma ada disini?” tanya Joonmyeon heran karena Kyuhyun bisa ada di rumah mereka sekarang. Joonmyeon bisa tahu orang itu adalah Kyuhyun bukan karena Siwon memanggil namanya tapi karena dia mengenali suara Kyuhyun.

Joonmyeon tidak tahu perasaan apa yang melanda hatinya itu, tetapi dia merasa senang dengan keberadaan Kyuhyun. Joonmyeon senang dan lega karena Kyuhyun mau datang. Perasaan sedih karena penolakan Kyuhyun untuk menjabat tangannya di taman tadi meluap begitu saja.

Dengan perlahan, Joonmyeon melangkah maju, melepaskan tangannya dari lengan Siwon, meraba ke depan berusaha mencari tangan Kyuhyun.

Kyuhyun sendiri mengerti maksud Joonmyeon yang ingin meraihnya, langsung bergerak maju dan menggapai tangan Joonmyeon. Dia tidak mau kesalahannya di taman tadi terulang kembali. Kyuhyun sudah tak ingin melihat kesedihan di wajah cantik putrinya tersebut.

Tangan keduanya bersambut. Joonmyeon merasakan kehangatan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Sama halnya dengan Kyuhyun, dia pun merasakan kehangatan dan kebahagiaan hanya dengan menyentuh tangan Joonmyeon. Tanpa sadar, airmata Kyuhyun kembali turun meski tak ada isakan keluar dari bibirnya.

“Ahjumma.” Panggil Joonmyeon senang.

“Hei.” Sapa Kyuhyun balik. Hanya kata itu yang sekarang bisa dikatakan Kyuhyun tanpa membuatnya menangis.

“Ahjumma sedang apa disini? Apa ahjumma sendiri? Darimana ahjumma tahu rumah kami?”

“Kyungsoo yang memberitahu dan mengantar aku kesini.”

“Oh.” Ujar Joonmyeon sambil mengangguk mengerti.

“Ah! Aku belum memperkenalkan diriku dengan baik ahjumma. Namaku Choi Joonmyeon. Salam kenal.”

“Salam kenal Joonmyeon. Maaf tadi ahjumma seperti tidak mengacuhkanmu. Nama ahjumma…”

“Cho Kyuhyun-ssi. Kyungie sudah memberitahu saat di taman dan ahjumma tak perlu meminta maaf, aku mengerti kalau ahjumma kaget dengan kondisiku. Lalu jangan panggil aku dengan Joonmyeon, ahjumma. Panggil saja Joonie.”

“Joonie.”

“Ya, itu aku.” Sahut Joonmyeon ceria.

Kyuhyun menatap wajah putrinya dengan seksama. Mulai dari bibirnya, pipi putih yang sama sepertinya, hidung, lalu mata kosong Joonmyeon. Kyuhyun kembali meneteskan airmatanya.

Dia tak mengerti mengapa Joonmyeon yang harus menderita karena dosanya? Mengapa Tuhan mengambil pengelihatan putri cantiknya dan bukan dirinya? Lalu, Kyuhyun tidak mengerti darimana kekuatan hati Joonmyeon berasal? Mengapa gadis itu masih bisa seceria itu dengan semua keterbatasannya? Mengapa?

“Joonie kehilangan penglihatannya sejak dia lahir. Komplikasi ketika dia berada dalam kandungan yang kemungkinan menyebabkan Joonie terlahir demikian.” Tukas Siwon sambil mendekati Joonmyeon dan menarik tubuh putrinya sedikit menjauh dari Kyuhyun. Ucapan Siwon tadi sedikit menjawab pertanyaan Kyuhyun meski tak semuanya Siwon beberkan. Kyuhyun merasa masih ada yang disembunyikan oleh Siwon.

“Komplikasi?”

“Ya. Mungkin itu terjadi karena ibu Joonie pernah ‘teledor’ dalam menjaga kandungannya.” Jawaban Siwon jelas menyindir Kyuhyun yang pernah beberapa kali hampir menggugurkan Joonmyeon ketika dia masih berada dalam kandungannya.

Walau pada akhirnya, Siwon berhasil meyakinkan Kyuhyun untuk tetap melahirkan bayi mereka dengan janji bahwa ketika Joonmyeon lahir, Siwon yang akan sepenuhnya mengasuh Joonmyeon.

Ketika semua pihak sepakat bahwa mereka akan membiarkan Kyuhyun untuk melahirkan bayinya, keluarga Kyuhyun membawa Kyuhyun pergi jauh untuk bersembunyi sampai dia melahirkan tanpa bertemu satu kali pun dengan Siwon. Lalu, ketika saatnya tiba, barulah keluarga Kyuhyun memanggil Siwon hanya untuk menyerahkan Joonmyeon ke tangannya dan memutuskan semua hubungan dengan pria berlesung pipi itu.

Hati Siwon saat itu hancur meski di satu sisi dia merasa sangat bahagia dengan kehadiran Joonmyeon. Hari itu adalah hari yang merubah seorang Choi Siwon. Siwon mengesampingkan semua hal, mimpinya, cintanya kepada Kyuhyun, hanya untuk seorang bayi mungil nan cantik yang berada dalam gendongannya. Hari itu merupakan hari seorang Choi Siwon mendapatkan seseorang yang akan selalu bersamanya, ketika wanita yang selalu dia cintai dan di kira mencintainya balik, meninggalkan dirinya.

Sejak itu, Siwon berjanji akan selalu menjaga Joonmyeon dan berusaha membuatnya bahagia meski dia harus berbohong dengan mengatakan bahwa ibunya meninggal saat melahirkannya.

“Appa! Jangan mengatakan mendiang umma teledor ketika mengandungku. Aku ini berhutang nyawa kepada beliau! Jika umma tidak berjuang sampai titik darah penghabisan, mungkin aku tidak akan berada disini!” keluh Joonmyeon ketika dia mendengar Siwon mengatakan soal keteledoran ummanya ketika mengandung.

“Ya, sayang. Maafkan appa. Ummamu memang yang terbaik.” Ucap Siwon meski tatapannya terarah kepada Kyuhyun.

Kyuhyun sendiri, hanya mampu menunduk malu. Dia tidak mengira bahwa Siwon tidak mengatakan yang sebenarnya tentang perbuatan kejinya dulu kepada Joonmyeon. Siwon justru membuat dirinya tampak seperti pahlawan bagi Joonmyeon walau Kyuhyun pun merasa sakit ketika Siwon mengatakan dirinya telah tiada. Bahwa umma Joonmyeon telah meninggal dunia.

Apa itu yang kau harapkan Wonnie? Bahwa aku tidak ada lagi di dunia ini sehingga aku tidak akan menyakiti hatimu lagi? Apa benar seperti itu?

“Oh begitu.” Hanya itu yang bisa Kyuhyun sampaikan. Dia tak tahu harus memberi respon seperti apa setelah mengetahui kenyataan pahit ini.

Bagi Joonmyeon, dirinya telah meninggal. Bagi Joonmyeon, dirinya hanyalah sebuah kenangan.

Kyuhyun menitikan airmatanya untuk kesekian kali dalam hari itu. Kyuhyun sedih karena dia merasa kesempatannya hilang untuk bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Meski bisa saja Kyuhyun mengatakan siapa dirinya, namun dia tidak ingin membuat Siwon berada dalam posisi yang sulit kala Joonmyeon tahu yang sebenarnya.

Kyuhyun paham sekarang, mengapa tadi di taman Siwon begitu ingin segera pergi dari hadapannya. Pria itu takut Kyuhyun akan membocorkan rahasia yang dia simpan selama belasan tahun.

“Ahjumma, mari masuk dulu.” Tawar Joonmyeon tiba-tiba.

“Ah, tidak terima kasih sayang. Ini sudah malam, ahjumma lebih baik pulang.”

“Yah…” rengek Joonmyeon kecewa Kyuhyun akan pergi secepat itu. Kyuhyun terkekeh kecil meski airmatanya masih setia menemani dirinya. Kyuhyun mengusap airmata itu sebelum bicara lagi kepada Joonmyeon.

“Jangan khawatir Joonie. Ahjumma akan datang lagi, jika kau dan appamu tidak keberatan tentunya.”

“Tentu saja tidak. Aku senang jika ahjumma mau sering mampir ke rumah kami.”

“Baiklah. Sekarang kau masuklah. Sudah malam.”

“Baik ahjumma. Selamat malam.” Ucap Joonmyeon menyudahi percakapannya dengan Kyuhyun dan hendak masuk. Namun langkahnya terhenti ketika dia merasakan sang ayah tidak beranjak dari tempatnya.

“Lho appa? Appa tidak masuk?” tanya Joonmyeon heran dengan tingkah laku Siwon sejak adanya Kyuhyun di rumah mereka.

“Kau masuklah dulu. Appa ingin berbicara sebentar dengan Kyuhyun-ssi.”

“Oh, oke.” Ucap Joonmyeon dan langsung masuk ke dalam rumah. Meski sebenarnya Joonmyeon penasaran dengan hubungan antara Kyuhyun dengan Siwon. Sepertinya mereka saling mengenal namun Joonmyeon tidak bisa mengenyahkan pertanyaan tentang mengapa ayahnya itu seperti tidak menyukai kehadiran Kyuhyun. Padahal Joonmyeon sendiri senang sekali dengan Kyuhyun walau Joonmyeon tidak tahu sebabnya.

Mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa? Batin Joonmyeon bergumul dengan pikirannya sendiri sebelum akhirnya dia hanya menghela nafas dan berjalan perlahan menuju kamarnya.

Sementara itu di luar rumah Siwon, Kyuhyun dan Siwon saling berdiri dan menatap pasangan masing-masing. Keduanya belum ada yang membuka mulutnya sampai,

“Kyuhyun/Siwon.” …mereka berbicara bersamaan.

“Ah, kau dulu.” Ujar Siwon mempersilahkan Kyuhyun untuk berbicara lebih dulu, namun Kyuhyun menolak dan membalikan keadaan kepada Siwon.

“Tidak, kau dulu saja.” Siwon menghela nafas panjang sebelum kembali membuka mulutnya.

“Baiklah. Kyu.”

“Ya?”

“Tolong jangan ganggu kami lagi.” Satu kalimat itu sebenarnya sudah bisa diperkiraan oleh Kyuhyun. Hanya saja, rasa sakitnya masih saja sama. Rasa sakitnya tidak berkurang dan justru bertambah tiga kali lipat ketika kalimat itu keluar dari bibir joker Siwon.

“Siwon…”

“Kami sudah bahagia tanpa kehadiranmu. Meski kehidupan kami tidak berlebihan sepertimu, tapi aku dan Joonmyeon merasa cukup hanya dengan keberadaan kami satu sama lain. Aku tidak ingin kehadiranmu membuatnya bersedih karena dia tahu ibunya…”

“…ibunya menelantarkannya. Ya, aku paham.” Potong Kyuhyun langsung karena tak tahan harus mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Siwon.

“Kyu…” Kyuhyun mengangkat tangannya, menghentikan semua perkataan yang ingin Siwon sampaikan. Tak perlu Siwon lanjutkan, Kyuhyun paham apa yang akan terjadi. Tak perlu Siwon jelaskan, Kyuhyun sudah mengerti bahwa kehadirannya di tolak oleh Siwon dan mungkin saja Joonmyeon.

Kyuhyun menunduk dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya sebelum mengeluarkannya perlahan. Sekuat tenaga Kyuhyun tidak ingin airmatanya turun. Dia tak mau Siwon mengira dirinya mengiba kepada Siwon agar pria baik hati itu memaafkan dirinya.

“Aku paham Siwonnie. Aku sangat paham.” Ucap Kyuhyun masih sambil menundukkan kepalanya.

“…”

“Aku memang bukan ibu yang baik. Aku tahu itu.” Lanjut Kyuhyun lagi ketika dia merasa diamnya Siwon seolah membiarkan dia berbicara.

“…”

“Aku datang kesini hanya ingin meminta maaf kepadamu, meminta maaf kepada putri kita. Aku tahu bahwa dosaku tak terampuni Wonnie dan aku tahu kau sulit untuk memaafkan aku. Aku tahu itu.”

“Kyu…”

“Aku sadari itu. tapi Wonnie… Aku… Aku mohon… Aku mohon biarkan aku mengatakan ini. Maafkan aku. Ak…aku… Tolong maafkan aku Wonnie… Ma… maafkan aku…” ucap Kyuhyun dengan membungkuk dalam kepada Siwon. Suaranya bergetar menandakan perasaaan sedihnya yang memuncah. Terlebih lagi Kyuhyun masih berusaha agar tidak menangis.

“Kyu…”

“Maafkan aku.” Ulangnya kembali memotong perkataan Siwon. Siwon memandang wanita yang melahirkan Joonmyeon itu dengan tatapan sendu. Siwon tahu bahwa Kyuhyun telah menyesali semua kesalahannya di masa lalu, namun Siwon belum yakin dia bisa begitu saja melupakan penderitaan yang menimpanya dan juga Joonmyeon. Siwon perlu waktu.

“…” Diamnya Siwon membuat Kyuhyun mengerti bahwa kesempatannya benar-benar hilang. Kyuhyun masih ingin berjuang namun jika Siwon dan Joonmyeon memang menginginkan dia pergi, maka dia akan pergi. Dia akan pergi lagi dan kali ini dia pergi demi kebahagiaan Siwon dan Joonmyeon.

“Kyu…”

“Kau ingin aku pergi.” Ucap Kyuhyun seperti memberi keputusan itu pada dirinya sendiri.

“Apa?”

“Jika itu keinginanmu dan juga Joonie kita, maka aku akan pergi. Aku akan mengikuti keinginanmu. Aku akan menghilang dari kehidupan kalian untuk selamanya.”

“Apa maksudmu dengan selamanya?”

“Ak…aku…”

“Kyuhyun.”

“Ah, tidak.”

“…”

“Terima kasih kau tidak mengatakan betapa kejamnya aku kepada putri kita Wonnie. Terima kasih karena kau sudah menjaga Joonie. Terima kasih karena kau sudah mendidiknya untuk menjadi sepertimu dan bukan sepertiku. Terima kasih…”

“Kyuhyun…”

“Aku pergi dulu.”

“…”

“Selamat tinggal.”

.

.

.

“Appa.” Ucap Joonmyeon sedikit manja ketika keduanya berada di sofa ruang tamu setelah menikmati sarapan pagi mereka.

“Ya sayang?” balas Siwon sambil memeluk Joonmyeon dengan erat.

“Joonie kangen umma.”

“…”

“Joonie ingin dipeluk sama umma.”

“…”

“Joonie ingin dimanja sama umma.”

“…”

“Joonie ingin disayang sama umma.”

“,,,”

“Joonie…” dan bulir-bulir bening Joonmyeon berjatuhan membuat Siwon semakin mengeratkan pelukannya di tubuh mungil putrinya tersebut.

“Maafkan appa sayang. Maafkan appa…” lirih Siwon terus menerus.

Joonmyeon masih terus menangis. Dia tak mengerti mengapa kejadian di taman dan pertemuannya kembali dengan Kyuhyun di depan rumahnya kemarin membuat Joonmyeon mengingat sang umma yang telah tiada.

Joonmyeon tak mengerti mengapa dadanya begitu sesak karena penolakan Kyuhyun lalu di hari yang sama dadanya bergemuruh karena bahagia ketika tangannya di genggam oleh Kyuhyun dengan erat.

Kehangatan itu… Kehangatan itu bagaikan kehangatan seorang ibu kepada anaknya.

“Appa menyayangi Joonie bukan? Appa akan selalu berada disamping Joonie bukan? Appa akan terus mencintai Joonie meski Joonie…”

“Sshh sayang… Sudah appa katakana ribuan kali, Joonie adalah sumber kebahagiaan appa. Meninggalkan Joonie sama saja appa membuang kebahagiaan appa sendiri.” Ucapan tulus Siwon membuat Joonie menangis lebih keras dan membenamkan wajahnya di dada Siwon. Siwon pun berkali-kali mengecup pucuk kepala Joonmyeon, seolah mengatakan kepada sang buah hati bahwa cintanya tidak terbatas.

“Joonie sayang appa. Joonie tidak butuh yang lain. Joonie hanya butuh appa.” Tegasnya. Joonmyeon tahu seberapa besar dia menginginkan kasih sayang seorang ibu, hal itu tidak bisa dia dapatkan.

Ibunya telah tiada dan Kyuhyun belum tentu mau untuk menjadi sosok ibu baginya meski di sudut hati Joonmyeon, wanita yang baru dikenalnya itu memiliki sesuatu yang membuat perasaan Joonmyeon bagaikan diputar balik seperti roller coaster.

Karena itulah, Joonmyeon cukup puas dengan kasih sayang dari Siwon. Joonmyeon tidak membutuhkan siapapun selain sang ayah. Hanya Siwon yang menjadi tumpuan hidupnya sekarang. Hanya Siwon.

Siwon akhirnya kalah. Airmatanya mengalir juga. Ucapan Joonmyeon membuat beban di hatinya semakin bertambah. Kebohongannya adalah dosa terbesar yang dia lakukan kepada Joonmyeon.

Namun Siwon akan menanggungnya jika semua itu bisa membuat Joonmyeon bahagia. Siwon akan lakukan apapun demi Joonmyeon.

Meski itu memisahkannya dari ibu kandungnya sendiri.

Maafkan aku Joonie. Maafkan aku Kyunnie. Tapi ini yang terbaik untuk kita. Ini yang terbaik.

.

.

.

“Berita terkini untuk hari ini. Telah terjadi kecelakaan mobil di jalan bebas hambatan di sekitar daerah G. Mobil yang dikendarai sendiri oleh pemilik sekaligus CEO dari Cho Hotel dan putri dari konglomerat terkenal Cho Donghae-ssi, Cho Kyuhyun-ssi, menabrak pembatas jalan lalu terbalik dan terpental beberapa meter dari lokasi tabrakan.

Saat ini Cho Kyuhyun-ssi masih dalam perawatan intensif di rumah sakit S. Kondisinya cukup parah ketika ditemukan oleh pengendara lainnya yang melintas. Di duga, Cho Kyuhyun-ssi tidak mampu mengendalikan laju mobilnya sehingga kecelakaan itu terjadi. Belum dapat dikonfirmasi alasan mengapa Cho Kyuhyun-ssi tidak fokus ketika mengendarai mobilnya. Informasi lebih lanj…”

Kyuhyun!!!

.

.

.

Maaf. Kata yang singkat namun memiliki pengaruh luar biasa bagi dua pihak. Mereka yang meminta maaf dan mereka yang memberikan maaf. Keduanya di posisi yang sulit, posisi yang ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan meski ada kalanya keinginan itu tak tercapai.

Lalu apakah dengan satu kata itu semua masalah akan selesai? Apakah ketika kata itu terucap, semua penderitaan, kesedihan dan kepedihan di dalam hati akan sirna?

Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa memberi jawaban untuk pertanyaan itu.

Yang pasti, kata itu adalah langkah awal untuk bisa melanjutkan sesuatu yang belum terselesaikan. Kata itu, berarti untuk bisa melepaskan diri dari belenggu yang mengikat dirinya pada masa lalu.

Maaf.

Maaf.

Maaf.

.

.

.

“Mm…ma…maaf. Won…Wonnie… Joo…Joonie…”

Itulah kata yang terus terucap dari bibir Kyuhyun ketika tubuhnya yang berlumuran darah dibawa dengan ranjang rumah sakit oleh perawat dan dokter yang terlihat bergegas untuk menyelamatkan dirinya.

Kata itu yang terus terucap dari bibirnya sampai kegelapan menyelimutinya.

Wonnie… Joonie… Aku mencintai kalian berdua… Maafkan aku… Maaf…

END

Advertisements