Tags

, , ,

Title : Endeavor – Sequel Covet

Pairing/Charas : Wonkyu, Joonmyeon, a bit Kyungsoo, Haebum, Jaejoong

Genre : Family, Romance, Angst, Drama

Disclaimer : All casts are belong to their self, their respective agency and God

Warning : Un-betaed, Angst, GS, AU, OOC, Sad, Change of Surname, Broken!Wonkyu (perhaps)

( 。・_・。)(。・_・。 )

Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan anak yang didambakan.

Aku…

.

.

.

“Joonie… Putri umma…”

.

.

.

Begitu kata itu terucap dari bibir penuhnya, Joonmyeon tahu semuanya. Walau tidak seluruh ceritanya tetapi otak cerdas Joonmyeon tahu apa maksud kata-kata itu terlontar dari bibir Kyuhyun. Joonmyeon buta matanya namun bukan mata hatinya. Joonmyeon tidak bisa melihat namun dia bisa menyusun semua hal yang dia dengar dan rasakan. Joonmyeon mampu merangkum setiap potongan puzzle lika liku hidupnya dengan sangat baik sehingga dia bisa mengambil kesimpulan bahwa Kyuhyun adalah benar ibu kandungnya.

Joonmyeon tahu bahwa selama ini ada rahasia besar dibalik kelahirannya. Dan rahasia itu tersimpan rapat oleh ayah kandungnya sendiri.

Itu artinya selama ini Siwon telah menutupi kenyataan darinya. Ayah kandung yang begitu dia kasihi telah membohonginya.

.

.

.

Kelabu.

Warna itu yang menyelimuti awan di daerah pemukiman sederhana tempat tinggal Siwon dan Joonmyeon.

Warna itu juga yang menandakan perasaan yang dirasakan oleh Joonmyeon.

Gadis itu bagaikan awan mendung yang siap menumpahkan air hujan ke bumi. Joonmyeon merasakan mendung yang sama kala dia tahu rahasia kelahirannya.

Joonmyeon sudah mengurung dirinya di kamar sejak Siwon menceritakan semuanya. Mulai dari hubungannya dengan Kyuhyun sampai bagaimana dirinya hadir dalam hidup sang appa.

Joonmyeon sendiri sebenarnya heran mengapa setelah mendengarkan kebenaran dari bibir Siwon, Joonmyeon tidak menangis. Joonmyeon tidak marah karena dirinya dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Joonmyeon tidak kecewa karena kebohongan sang ayah. Joonmyeon tidak merasakan apa-apa.

Joonmyeon justru merasa tenang.

Sedih. Tentu saja. Karena itulah dia ada di kamarnya seorang diri seperti ini. Akan tetapi untuk meluapkan dan menimpakan semua penderitaannya kepada Siwon dan Kyuhyun, tidak pernah terbersit sama sekali.

Joonmyeon seakan paham mengapa dia bernasib demikian.

Bukankah memang begitu nasih seorang anak yang tak pernah diinginkan.

Dia dibuang. Dia tidak dianggap. Dia bukan seseorang yang berarti.

Joonmyeon merasakan pipinya basah. Setelah mengurung diri selama dua hari akhirnya airmata itu turun juga. Namun Joonmyeon tidak berniat untuk menghapusnya. Joonmyeon membiarkan airmata itu mengalir, berharap mereka bisa membawa serta semua rasa tak menyenangkan yang dia rasakan sekarang. Joonmyeon berharap airmata ini dapat membuatnya melupakan kenyataan pahit yang tak bisa dia ubah. Joonmyeon berharap airmata ini mampu menenggelamkannya sedalam-dalamnya sehingga dia tak perlu muncul lagi ke permukaan.

.

.

.

“Siwonnie…” lirih Kyuhyun memelas kepada Siwon.

Pagi itu, Siwon kedatangan tamu yang tidak diundang. Keluarga Cho, mulai dari Donghae, Kibum dan Kyuhyun sendiri yang harus duduk di atas kursi roda sementara waktu karena sedang dalam masa pemulihan, bertandang ke rumahnya. Siwon awalnya terkejut, namun setelah menatap ketiga orang yang memandangnya dengan penuh harap, Siwon tahu maksud kedatangan mereka.

Dan dugaannya tepat. Kyuhyun berserta kedua orang tuanya datang untuk bisa bertemu dengan Joonmyeon dan dirinya.

“Aku tak bisa Kyu. Aku tak mau melihatnya lebih menderita dari ini.” Ucap Siwon untuk kesekian kalinya, mengatakan bahwa Joonmyeon tidak akan mau bertemu dengan Kyuhyun. Hanya saja Kyuhyun terlalu keras kepala untuk bisa mengerti. Wanita itu bersikukuh untuk diizinkan bertemu dengan Joonmyeon.

“Aku mohon Wonnie, biarkan aku melihatnya. Biarkan aku menjelaskan semuanya. Ak…aku…”

“Maaf Kyu, tapi aku rasa semua sudah berakhir. Joonie…”

“Aku kenapa appa?” suara datar namun terkesan dingin itu menyapa gendang telinga keempat orang dewasa yang sedang membicarakan dirinya.

“Joonie…” sahut Siwon ketika melihat Joonmyeon sudah berada dekat dengannya. Siwon terlalu fokus kepada Kyuhyun sampai tidak menyadari kehadiran Joonmyeon yang sudah rapi dengan seragam dan tas sekolahnya.

Sedangkan Kyuhyun, wajahnya berbinar melihat Joonmyeon. Dia ingin berdiri dan memeluk Joonmyeon namun sayang tubuhnya tidak mau mengikuti perintah otaknya. Kyuhyun mengerang kesakitan membuat Kibum langsung mengusap punggung Kyuhyun dan menyuruhnya untuk tidak memaksakan diri.

Kyuhyun yang pada dasarnya sangat keras kepala tidak mengindahkan nasehat Kibum. Kyuhyun terus mencoba agar bisa berdiri walau gagal dan dia kembali terduduk di kursi rodanya. Akhirnya, Kyuhyun mengalah dengan kondisi tubuhnya yang belum pulih benar. Dia menghela nafas panjang sebelum mengayuh roda dari kursi rodanya ke arah Joonmyeon. Siwon sendiri yang sejak tadi terdiam melihat Kyuhyun, sekarang bergerak maju diantara Kyuhyun dan Joonmyeon.

“Kyuhyun, pulanglah.” Usir Siwon halus. Dia tidak mau kejadian Joonmyeon yang mengurung diri di kamar terulang kembali hanya karena kehadiran Kyuhyun yang begitu menyakiti hati Joonmyeon. Siwon sendiri sudah mendapatkan hukuman atas kebohongannya dengan Joonmyeon yang memberikannya silent treatment selama beberapa hari sampai kemarin Joonmyeon mau membuka mulutnya dan memanggil Siwon.

Siwon yang ketakutan akan Joonmyeon yang membencinya bisa merasa lega ketika Joonmyeon mengatakan bahwa dia memaafkan Siwon karena telah berbohong kepadanya. Meski Joonmyeon kecewa Siwon menutupi kenyataan dari Joonmyeon, namun Joonmyeon tidak akan pernah bisa membenci Siwon. Bagi Joonmyeon, Siwon satu-satunya orang yang bisa dia sebut sebagai keluarga. Siwon satu-satunya cahaya bagi kegelapannya ini dan Joonmyeon juga mengerti penderitaan Siwon sama besarnya dengan apa yang Joonmyeon rasakan.

Tapi jika dengan Kyuhyun…

“Siwonnie, aku mohon… Ak… aku ummanya… Joonie… Umma…”

“Umma?” satu kata itu membuat Siwon dan Kyuhyun yang sedang berdebat memperhatikan Joonmyeon dengan seksama. Mereka menunggu kata-kata apa yang akan diucapkan oleh Joonmyeon.

“Umma? Siapa? Anda?” tanya Joonmyeon datar. Namun semua orang yang ada disana bisa merasakan kegetiran dan kepedihan gadis 17 tahun itu rasakan saat ini. Kata ‘umma’ yang Joonmyeon ucapkan bagaikan sebilah pisau yang siap menembus hatinya jika terus Joonmyeon ucapkan.

“Joonie…” nama itu terdengar lemah ketika diucapkan oleh Kyuhyun. Tidak seperti di awal Kyuhyun bertandang ke rumah Siwon. Kyuhyun kehilangan tenaganya melihat Joonmyeon yang bersikap dingin kepadanya. Tatapan kosong Joonmyeon bagaikan pengingat akan kekejamannya dulu dan sekarang sikap dingin itu juga menorehkan luka baru di luka lama Kyuhyun yang belum mengering. Terlebih lagi ketika Kyuhyun mendengar lanjutan kalimat Joonmyeon.

“Tampaknya anda keliru nyonya. Saya tidak memiliki umma.”

Hati Kyuhyun hancur berantakan. Airmata itu meleleh begitu saja. Bibir sintal Kyuhyun bergetar karena kesedihan yang mendalam. Di benak Kyuhyun hanya ada satu pemikiran, bahwa Joonmyeon benar-benar sudah membencinya.

“Tapi Joonie…” ucap Kyuhyun masih berharap ada setitik rasa kasih dari Joonmyeon yang begitu baik hati. Namun satu kata dari Joonmyeon menghancurkan harapan itu.

“Pergi.”

Kyuhyun membekap mulutnya agar tidak ada isakan yang terdengar. Dia malu jika Joonmyeon sampai mendengarnya menangis. Kyuhyun merasa tak pantas jika Joonmyeon sampai mendengarnya menangis, apalagi tangisan ini adalah hasil perbuatan hinanya dulu. Kebencian Joonmyeon adalah hal yang wajar untuk Kyuhyun terima. Akan tetapi, Kyuhyun tidak mengira akan sesakit ini.

“Jonnie…” Siwon sendiri tidak menyangka Joonmyeon akan bersikap seperti itu. Siwon seolah-olah tidak mengenal gadis yang berada di depannya itu. Rasa sakit Joonmyeon ternyata mampu membekukan hatinya yang dulu begitu hangat.

Siwon menutup matanya kemudian menarik nafas panjang. Semua sudah terjadi. Walau Siwon merasa iba dengan Kyuhyun, namun semua telah terjadi. Keputusan yang diambil Kyuhyun dulu kini membuahkan hasil, meski hasil itu sangatlah kejam. Siwon sendiri merasa dirinya memiliki andil untuk akhir ini.

Jika saja dia berterus terang dari awal, jika saja ketika dia tidak menutup hatinya akan keinginan Joonmyeon untuk memiliki ibu, jika saja dia mau memaafkan Kyuhyun dan mencari wanita yang paling dia cintai itu, jika saja Siwon bisa menerima bahwa dirinya saat itu memang tidak akan bisa membahagiakan Kyuhyun sehingga keluarga mereka memutuskan hubungan mereka, jika saja…

Siwon juga bersalah disini. Dan melihat betapa menyesalnya Kyuhyun membuatnya berpikir dua kali untuk terus membencinya.

Tidak. Siwon tidak pernah membenci Kyuhyun. Kecewa mungkin, namun tidak pernah benci. Siwon begitu mencintai Kyuhyun sampai dia tidak sanggup untuk membenci Kyuhyun. Yang ada saat ini, adalah kepedihan karena keluarga kecilnya berada diambang kehancuran.

“Appa, Joonie harus berangkat. Joonie sudah tidak masuk selama satu minggu maka dari Joonie tidak mau terlambat saat sudah bisa masuk sekolah lagi.” Perkataan Joonmyeon membangunan Siwon dari lamunannnya. Dia menatap Joonmyeon dan Kyuhyun bergantian. Siwon bimbang untuk meninggalkan masalah ini menggantung begitu saja atau…

“…”

“Appa!” pekikan Joonmyeon kembali mengagetkan Siwon. Siwon mengambil keputusan untuk mengikuti keinginan Joonmyeon baru dia akan mencari jalan untuk memperbaiki masalah ini.

“Baik sayang. Tunggu sebentar, appa ambil jaket dulu.” Ucap Siwon lalu masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan Joonmyeon hanya dengan Kyuhyun, Donghae dan Kibum.

“…”

“Sudah sayang. Ayo kita berangkat. Kami pamit dulu Kyuhyun-ssi, Kibum-ssi, Donghae-ssi.” Pamit Siwon sambil menuntun Joonmyeon.

“Joonie…”

.

.

.

“Oke, anak-anak. Seosaeng ada pengumuman sedikit mengenai acara visit with your parents yang akan diselenggarakan bulan depan. Untuk orang tua yang nanti akan datang, dihimbau untuk siswa mengajak ayah dan untuk siswi mengajak ibu.” Sahut wali kelas Joonmyeon dan Kyungsoo yang serta merta mendapatkan keluhan serempak dari siswa-siswi di kelas tersebut.

“Eh?!”

“Yang benar saja! Ummaku sedang di luar kota!”

“Aku tak mau mengajak appaku! Yang ada dia menggoda teman-temanku lagi!”

“Mommyku sibuk luar biasa.”

“Babaku sedang di Cina. Dia tidak mungkin datang hanya untuk pertemuan bodoh ini!”

Dan berbagai keluhan semacamnya yang terus membuat wali kelas tersebut kesal. Dia belum selesai bicara tapi anak didiknya sudah langsung memprotes ucapannya.

Dengan sedikit mengebrak meja dan tatapan mengintimidasi, wali kelas tersebut bermaksud mendiamkan kelas yang sudah berisik itu. Tampaknya cara tersebut berhasil karena semuanya langsung terdiam dan menatap takut kepada wali kelas mereka.

Wanita berusia 40 tahun keatas itu kemudian menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya.

“Kalian ini selalu saja tidak mendengarkan seosaeng sampai selesai. Hhh… Tadi sudah seosaeng katakan kepala sekolah menghimbau. Dengar itu, menghimbau. Jadi jika keadaannya tidak memungkinkan, kalian boleh mengajak siapa saja wali kalian. Hanya saja, memang akan ada permainan dengan hadiah menarik khusus bagi yang mengikuti himbauan kepala sekolah.” Jelas wali kelas tersebut agar anak didiknya itu bisa berhenti mengeluh. Namun sayangnya dengan pernyataan terakhirnya tadi, mereka justru semakin rebut.

“Apa?! Berarti aku sudah kalah sebelum berperang?! Tidak adil!”

“Aku ingin ikut dengan Babaku! Tapi dengan begini, harapanku hancur sudah! Sekolah aneh!!”

“Yah! Ganti hari saja! Ummaku akan pulang sekitar dua bulan lagi!”

Dan semua keluhan yang lebih membuat kepala wali kelas itu berdenyut kencang. Anak didiknya ini memang selalu membuatnya pusing.

Lain wali kelas itu, lain pula yang dengan Joonmyeon. Gadis manis itu sedang kebingungan karena perkataan wali kelasnya. Joonmyeon tentu tahu bahwa dia tidak memiliki wali lain selain Siwon, hanya saja…

Di salah sudut hatinya, dia iri dengan semua teman-temannya. Meski orang tua mereka sibuk atau tidak ada di negara yang sama dengan mereka, akan tetapi orang tua mereka lengkap. Orang tua mereka menganggap mereka ada. Tidak seperti dirinya.

Joonmyeon ingin sekali mengajak ibunya. Ingin sekali. Namun…

.

.

.

“Appa.”

“Apa sayang?”

“Um… Itu…”

“Kenapa?”

“Sekolah…”

“Sekolah? Ada apa dengan sekolah?”

“Um…”

“Kenapa kau malu-malu begitu sayang?! Sudahlah. Dengarkan appa dulu. Appa mendapatkan pesanan lukisan yang cukup banyak sayang.”

“Apa?! Benarkah appa?! Wah! Selamat appa!”

“Terima kasih sayang. Appa juga senang sekali. Tapi masalahnya appa akan sangat sibuk jadi sepertinya appa tidak bisa mengantar jemput Joonie untuk sementara waktu. Appa saja sampai harus meminta jam kerja appa dipindahkan ke shift pagi agar appa memiliki waktu lebih. Jadi, agar Joonie aman pergi ke sekolah, Joonie nanti naik taksi saja ya.”

“Ih appa. Tidak perlu sampai seperti itu. Joonie bisa berangkat dengan Kyungsoo. Joonie yakin Kyungsoo tidak keberatan berangkat dengan Joonie.”

“Kau yakin sayang?! Apa tidak merepotkan Kyungsoo?”

“Tidak. Nanti Joonie yang mengatakan kepada Kyungsoo.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Appa mulai kapan?”

“Dua hari lagi sayang dan kemungkinan akan selesai dalam dua bulan ini. Semoga saja.”

“…”

“Joonie?”

“…”

“Ah! Tadi Joonie mau bilang apa tentang sekolah Joonie?”

“…”

“Joonie?”

“Tidak jadi appa. Bukan hal yang penting.”

“Begitukah?”

“Um!”

“Ya sudah. Appa pergi dulu ya. Appa harus membeli keperluan appa untuk melukis. Joonie tidak apa ditinggal sendiri?”

“Appa, Jonnie sudah besar. Appa tenang saja.”

“Baik sayang. Appa pergi dulu.”

Apa aku harus menghubunginya?

.

.

.

Joonmyeon melangkah perlahan sambil menghentakan tongkat putihnya beberapa kali ke tanah, menuju bus yang akan ditumpanginya. Langkahnya lebih pelan dari biasanya. Hari ini Joonmyeon merasa sangat lelah dan sedih. Hanya dia yang tidak ditemani oleh orang tua atau wali siapa pun.

Joonmyeon tidak mengatakan kepada Siwon bahwa ada acara sekolah dengan orang tua. Dia pun melarang Kyungsoo untuk mengatakannya kepada Siwon karena satu alasan. Joonmyeon tidak mau mengganggu appanya yang sedang senang mengerjakan apa yang menjadi impiannya selama ini.

Joonmyeon yakin jika dia mengatakan bahwa hari ini ada jalan-jalan dengan wali siswa, pasti Siwon akan langsung meninggalkan pekerjaannya dan ikut denganya.

Tidak. Joonmyeon tidak mau itu.

Sudah saatnya Siwon memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Joonmyeon harus bersabar dan ikhlas menerima bahwa hari ini dia akan sendirian. Sepertinya menjadi putri seorang Jung Jaejoong harus cukup untuk Joonmyeon.

“Joonie! Ayo sayang, bus akan berangkat sebentar lagi.” Panggil Jaejoong, ibunda Kyungsoo. Joonie mempercepat langkahnya mengikuti suara Jaejoong. Kyungsoo sendiri yang sudah lebih dulu berada di samping sang bunda, berbalik lagi mendekati Joonmyeon. Dia tidak ingin Joonmyeon tiba-tiba saja jatuh lalu terluka. Keduanya sampai di depan pintu bus dalam beberapa menit dan segera melakukan registrasi ulang.

“Jung Jaejoong dan Jung Kyungsoo.”

“Hadir seosaengnim.”

“Lalu…”

“Ah seosaengnim, tolong masukan nama Choi Joonmyeon di dalam tim kami ya. Hari ini ummaku yang menjadi walinya Joonie.” Potong Kyungsoo ketika dia menyadari wali kelasnya akan menanyakan perihal Joonmyeon.

“Lho? Memangnya walinya Joonmyeon tidak ikut?”

“Tidak seosaengnim. Appa sedang sibuk, jadi aku ikut dengan keluarga Kyungie.”

“Begitu?! Huft, bagaimana ini?! Joonmyeon-ah, satu tim hanya bisa diisi oleh dua orang, anak dan orang tuanya. Jadi…”

Ucapan wali kelas itu tentu saja menusuk hati Joonmyeon. Perkataannya tidak salah karena memang begitulah peraturannya. Dan Joonmyeon menyadari setiap siswa siswi yang ikut, salah seorang dari orang tua mereka ikut serta.

Joonmyeon tersenyum pilu sebelum mengangguk kecil.

“Kalau begitu, aku tidak jadi ikut saja seosaengnim.”

“Joonmyeon-ah…”

“Tidak apa-apa. Kyungie, Jae ahjumma, aku pulang dulu.”

“Ah! Bagaimana kalau kamu satu kelompok dengan seosaeng saja?” tawar wali kelas Joonmyeon itu. Joonmyeon merasa tersentuh dengan tawaran wanita baik itu, namun Joonmyeon tahu pasti dia hanya akan memberatkan wali kelasnya karena wanita itu tentu akan sangat sibuk mengurus yang lain.

Joonmyeon lebih baik mengalah daripada dia harus merepotkan orang lain.

Gadis itu baru akan menjawab wali kelasnya ketika satu suara yang dikenalnya dan sangat tidak dia sangkan akan ada di dekatnya, mengambil alih pembicaraan antara dirinya dengan sang wali kelas.

“Terima kasih atas tawarannya seosaengnim, tapi Joonie akan pergi dengan saya.”

“Anda?”

“Perkenalkan, nama saya Choi Kyuhyun, umma Joonmyeon.”

.

.

.

Aku mengaku salah. Aku mengaku bahwa aku sungguh kejam, jahat, monster. Aku bukan ibu yang baik. Dan aku tidak akan membela diriku sendiri.

Aku mungkin tidak akan merengkuh kebahagiaan karena harus menebus semua dosa-dosaku di masa lalu. Aku mungkin akan berakhir dalam kesendirianku nanti. Namun, aku tidak mau semua itu terjadi kepada orang-orang yang aku sayangi. Terlebih lagi mereka yang sudah aku sakiti sedemikian rupa.

Aku menginginkan mereka menikmati hidup ini dengan semua keindahannya. Aku ingin senyum itu tetap ada di wajah menawan mereka. Aku ingin mereka bahagia.

Hanya itu. Mereka berbahagia.

Akan tetapi, aku mengetahui bahwa selama ini mereka menderita. Tak hanya karena keperluan materiil belaka, namun mereka harus menahan rasa sakit karena cercaan orang-orang dan pandangan meremehkan dari mereka.

Aku ingin mereka bahagia. Hanya itu.

Walau demikian, walau aku sudah mengatakannya di awal bahwa aku tidak berhak untuk behagia, jika mereka mengijinkan untuk membagi kebahagian mereka denganku, maka mati pun aku rela.

Untuk itu, untuk setitik kebahagiaan itu, aku akan berjuang semampu yang aku bisa. Meski penolakan yang pasti aku terima, aku tidak akan menyerah. Aku kini hidup bukan untuk diriku saja, aku hidup untuk mereka. Aku akan berusaha melindungi mereka dari apapun yang mungkin membuat mereka bersedih, kecewa dan perasaan yang aku tak ingin mereka rasakan lagi.

Jadi, langkah pertama adalah…

“Perkenalkan, nama saya Choi Kyuhyun, umma Joonmyeon.”

…membuat semuanya mengerti bahwa putriku memiliki seorang ibu. Bahwa dia bukan seorang yang tanpa ibu walau ibunya ini baru sekarang bisa berada disampingnya. Bahwa Joonmyeon memiliki seseorang yang kali ini akan menyerahkan nyawanya demi Joonmyeon dan bukan menginginkan kematian buah hatinya sendiri.

Aku ingin semua orang tahu bahwa mereka tidak akan bisa menyakiti Joonmyeon lagi. Tidak selama Choi Kyuhyun masih hidup.

END

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Wkwkwk… Makin aneh… Muup yak amazing readers, tapi inilah hasil dari pertapaan Nao sekaligus hasil dari kegalauan Nao gegara terhapusnya WP yang lama T^T

Nao udah ga mau bahas tentang betapa teganya oknum tersebut sampai sebegitu niatnya nge-hack account email Nao hanya untuk mendelete WP. Karena sudah terjadi mari lupakan saja dan buka lembaran baru dengan WP yang baru ini.

Nao aslinya punya satu WP lagi, namun karena WP yang itu khusus untuk hal2 berbau Jepang, maka tidak jadi Nao pakai disana.

Lalu untuk WP ini, Nao mau ngucapin arigato gozaimasu untuk KIRA… Doi yang sampai saat ini masih bersusah payah mereposting FF Nao meski dia sendiri ga ngerti arti tulisan itu selain yang berbahasa Inggris.

Makanya jangan aneh jika tidak ada n4oK0’s notes di setiap akhir FF. Emang sengaja Nao hapus, supaya dia ga bingung pas merepost.

Udah itu aja. Nao mau lanjutin pertapaan Nao supaya ini One Shot bisa kelar (sekaligus dengan FF lain yang masih pending). Setelah cek FF yang KIRA repost, ternyata banyak bener yang masih ngantung >_< Apalagi WKS Daynya udah lewat jauh, meski belun genap sebulan (ntar tanggal 10 November baru genap sebulan).

Gomen untuk typos and mistake. Udah biasa lah ya… XD

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, and Krisho

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements