Tags

, , , ,

Title : Tak Mungkin Ku Melepasmu

Pairing : Wonkyu, Yunjae, Brothership!Wonyun

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, Dygta and their label company

Inspired : Tak Mungkin Ku Melepasmu by Dygta feat. Andina

Warning : Un-betaed, GS, Angst, AU,OOC

Summary : Aku tak mungkin melepasmu meski kau berusaha untuk lepas dariku. Aku terlalu mencintaimu. Aku tak mampu jika kau harus pergi dariku lagi.

WonKyu YunJae TIS Series : Cinta Sendiri, Tapi Bukan Aku, Apalah Arti Menunggu, Jangan Pergi

( 。・_・。)(。・_・。 )

Siwon meletakan satu demi satu buku yang sudah selesai dipinjam itu ke raknya semula. Dia sedang memeriksa semua buku di perpustakaan tersebut. Akan ada acara seperti bedah buku di lantai 4 yang akan diselenggarakan oleh salah satu dosen senior. Dosen tersebut membutuhkan beberapa buku dari perpustakaan dan berhubung perpustakaan memang sudah menyanggupi untuk menyediakan buku tersebut maka disinilah Siwon sekarang.

Sebagai salah satu staf khusus yang ditunjuk untuk mengawasi kinerja perpustakaan, Siwon memang selalu menyempatkan waktu dalam jadwal padatnya mengajar untuk ke perpustakaan dan melihat apakah semua terlaksana dengan benar. Pekerjaan yang cukup berat karena perpustakaan milik universitas tempat Siwon bekerja cukup besar. Namun Siwon tidak pernah mengeluh. Dia menyukai pekerjaan ini karena dia suka buku. Dengan bekerja ditempat ini, Siwon selalu bisa membaca buku-buku baru yang terkadang belum terbit di toko buku. Terlebih lagi, dengan menyanggupi pekerjaan ini, Siwon mendapatkan semua buku untuk kuliah strata duanya secara gratis.

Pekerjaan Siwon memang seorang pengajar atau istilah bagusnya dosen. Hanya saja, Siwon belum resmi terdaftar karena dia belum menyelesaikan studi strata duanya. Siwon menyelesaikan kuliahnya di Jepang ini dalam kurun waktu dua tahun. Dia bersyukur karena masa kuliahnya saat berada di Korea diperhitungkan juga sehingga dia tidak perlu banyak mengulang mata kuliah. Setelah lulus, Siwon langsung ditawari pekerjaan sebagai asisten dosen sekaligus melanjutkan beasiswanya ke jenjang yang lebih tinggi. Tentu saja kesempatan itu diterima dengan tangan terbuka oleh Siwon.

Perjalanan hidupnya di Korea yang terkadang membuat sakit di hatinya berbuah manis di Jepang. Setelah bekerja sebagai asisten dosen selama 4 bulan, Siwon diminta menggantikan seorang dosen yang mengundurkan diri karena akan menikah. Sejak itu, Siwon menjadi dosen dan terus merampungkan kuliahnya. Dan sekarang dalam waktu setahun dia sedang menunggu kepastian untuk sidang. Siwon berharap thesisnya sudah bisa disidangkan tahun ini juga dan saat musim gugur nanti dia sudah bisa mendapat gelar masternya.

Sudah tiga tahun Siwon tinggal di Jepang seorang diri. Walau begitu, Siwon masih belum bisa melupakan semua yang sudah terjadi di Negara kelahirannya. Korea, kata itu selalu membawanya kepada dua nama yang sangat disayangi olehnya. Kakaknya Yunho dan juga sahabat yang dia cintai, Kyuhyun. Sampai saat ini pun Siwon masih tetap mencintai Kyuhyun dan juga masih merasa bersalah kepada Yunho.

Setelah peristiwa pengusiran Siwon oleh Yunho, Siwon sama sekali tidak pernah mendengar kabar tentang Yunho maupun Kyuhyun. Meski sempat beberapa kali Siwon melihat tayangan televisi tentang keberhasilan Yunho mengembangkan perusahaan tapi Siwon sama sekali tidak mengetahui perihal mengenai kelanjutan hubungan antara Yunho dan Kyuhyun. Bahkan di tayangan infotainment pun, sama sekali tidak ada berita tentang hubungan mereka berdua. Padahal ketika keduanya memulai menjalin cinta, beritanya langsung tersebar dimana-mana baik media cetak maupun melalui dunia maya. Waktu itu meski pun Yunho masih terbilang baru di dunia bisnis tapi berkat kegigihannya dan juga wajah tampannya, banyak media yang tertarik dengan kehidupan Yunho baik pribadi maupun pekerjaan.

Situasi tersebut seharusnya cukup menguntungkan bagi Siwon karena dia tidak harus sering mendengar atau melihat kemesraan dua orang tersebut. Hanya saja, Siwon tidak akan berbohong bahwa dia merasakan rindu yang sangat dalam kepada keduanya meski Siwon harus menerima kenyataan kedua orang tersebut sepertinya tidak merindukan dirinya. Terbukti dari satu kali Siwon mengirimkan email kepada Yunho dan Kyuhyun mengatakan bahwa dia baik-baik saja, tidak ada satu balasan pun dari mereka berdua. Siwon mengerti bahwa Yunho masih marah kepadanya dan mungkin saja melarang Kyuhyun untuk membalas emailnya atau bahkan Kyuhyun memang sudah melupakannya.

Siwon tersenyum sendiri dengan apa yang sudah dialaminya di Jepang ini. Hidupnya di Korea memberikan dia pengalaman dan pembelajaran untuk dirinya ketika dia menapaki Negara matahari terbit itu. Meski diawal dia tinggal di Jepang semuanya terasa berat karena Yunho membekukan semua bantuan finansialnya sehingga Siwon harus bertahan sendiri dengan tabungan yang dia punya dan dari hasil pekerjaan sambilannya, Siwon sekarang bisa hidup mandiri.

Sekarang Siwon tidak lagi merasakan betapa hidup tidak adil kepadanya. Semua pasti ada alasannya. Semua pasti ada jalannya. Tuhan sudah merencanakan apa yang terbaik untuk semua hamba-Nya. Siwon adalah salah satunya. Entah karena Tuhan yang berbaik hati atau karena karma baik yang menimpanya, hidup Siwon terasa tenang dan lancar. Untuk itu semua Siwon hanya bisa bersyukur dan terus berterima kasih kepada Tuhan.

Siwon menggelengkan kepalanya, membuang ingatan sedih di masa lalu. Dia sudah memiliki hidup yang damai disini dan itu yang terpenting sekarang. Dengan menepuk pelan kedua pipinya, Siwon bergumam seorang diri.

“Jung Siwon, semangat!”

Restoran Aoki

Kling! Kling!

“Maaf kami belum buka. Silahkan datang lagi pukul sebelas.” Suara manis Jaejoong menggema di restoran yang masih sepi itu. Wajar saja karena saat ini jam dinding di restoran milik Jaejoong itu baru menunjukkan pukul delapan pagi. Jaejoong saja yang merupakan pemilik restoran biasanya baru datang dua jam sebelum buka. Hari ini dia datang lebih awal karena ingin memeriksa keadaan kompor yang diadukan oleh salah satu pegawai sepertinya mengalami kerusakan. Jaejoong yang sangat hati-hati terhadap masalah riskan seperti itu, langsung memeriksa sendiri.

Jaejoong baru saja selesai melihat dan menghubungi pihak perbaikan ketika bel tanda pelanggan masuk berbunyi. Jaejoong jelas heran dengan prang yang datang tersebut karena seharusnya dia dapat membaca tanda ‘close’ di pintu masuk restoran ini. Maka dari itu, Jaejoong sedikit berteriak saat sepertinya orang tersebut sudah masuk ke dalam restoran. Jaejoong pun penasaran dengan siapa yang datang dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari dapur untuk melihat siapa gerangan yang datang sepagi ini ke sebuah restoran yang masih tutup.

“Maaf, restoran kami masih tutup. Sebaiknya an…” ucapan Jaejoong langsung terhenti begitu saja ketika iris matanya melihat secara jelas siapa orang yang datang ke restorannya tersebut. Mata bulat Jaejoong menatap mata tajam milik seorang pria berwajah kecil namun tetap tampan. Pandangan Jaejoong sedikit terkejut meski akhirnya dia bisa mengendalikan debaran hatinya dan menatap pria itu datar.

“Sedang apa kau disini Yun?” tanya Jaejoong kepada pria yang ternyata Yunho. Suara Jaejoong terdengar datar bahkan sedikit dingin, membuat Yunho tersenyum pilu. Yunho sendiri sudah menduga bahwa sikap Jaejoong tidak akan ramah padanya setelah apa yang telah dia lakukan dulu.

“Apa kabar Jae?” balik Yunho bertanya. Dia tidak menjawab pertanyaan dari Jaejoong dan hal itu sedikit membuat Jaejoong kesal. Jaejoong menghela nafas perlahan sebelum menanggapi Yunho.

“Aku baik. Kau sendiri?”

“Aku baik.”

“Tentu saja kau baik. Ada kekasihmu yang selalu bisa memperhatikan kebutuhanmu setiap saat bukan?!” ucap Jaejoong dengan nada sarkastik. Yunho menangkap nada kekesalan dari Jaejoong dan dia sedikit berharap bahwa Jaejoong kesal karena cemburu. Itu berarti Jaejoong masih memiliki perasaan kepadanya.

“Mungkin saja begitu.” Timpal Yunho. Dia belum mau memberitahu bahwa dia sudah putus dengan Kyuhyun tiga tahun yang lalu. Yunho melihat kesekeliling restoran. Yunho cukup terkesima dengan restoran ini. Restoran bergaya Jepang yang didesain minimalis dengan kesan seperti didalam rumah yang nyaman. Yunho tersenyum bangga melihat Jaejoong berhasil mencapai mimpinya memiliki restoran sendiri.

“Sejak kapan kau membuka restoranmu Jae?” tanya Yunho penuh keingintahuan tentang apa yang sudah dialami oleh Jaejoong. Yang bersangkutan menatap Yunho sesaat sebelum mendengus lalu menggelengkan kepalanya. Jaejoong paham bahwa Yunho sedang mengalihkan pembicaraan mereka akan maksud kedatangan Yunho ke Jepang dan ke tempatnya sekarang. Jaejoong berpikir dia akan mengikuti keinginan Yunho sementara waktu ini. Meski Jaejoong merasakan sakit dihatinya terbuka lagi hanya dengan melihat wajah Yunho.

“Dua tahun yang lalu. Aku membuka restoran ini setelah aku merasa mampu untuk menjadi koki direstoran milikku sendiri. Aku cukup bangga dengan apa yang aku miliki sekarang.” Jawab Jaejoong lalu mengambil tempat duduk di salah satu meja tamu dan mempersilahkan Yunho juga untuk duduk. Yunho pun mengambil tempat di hadapan Jaejoong.

“Aku bisa melihatnya. Kau benar-benar berhasil Jae.” Puji Yunho sesaat setelah dia duduk. Jaejoong tersenyum datar sebelum menanggapi pujian Yunho.

“Sama sepertimu. Kau kini bukan hanya seorang pebisnis handal tapi kau juga sudah menjadi selebritis.” Sindir Jaejoong sedikit. Yunho tidak merasa marah sedikit pun dengan sindiran Jaejoong. Dia justru menanggapi dengan senyuman dan berkata,

“Itu bukan kemauanku.” Sahutnya menegaskan. Jaejoong hanya mengangguk lalu dia kembali menatap lekat mata Yunho dan bertanya ulang pertanyaan yang dia ajukan di awal tadi.

“Sudahlah Yun, tidak usah berbasa-basi. Mau apa kau kemari? Maaf, tapi aku tidak punya banyak waktu. Masih banyak hal yang harus aku urus. Jadi kalau kau tidak punya urusan lagi, silahkan tinggalkan restoran ini.” Usir Jaejoong halus. Jaejoong ingin Yunho segera pergi karena jika pria itu masih terus berada di depannya, Jaejoong tidak tahu dia akan melakukan apa. Dalam hatinya, Jaejoong masih mencintai Yunho. Tapi rasa sakit akan ditinggalkan membuat Jaejoong tidak mau mengulangi hal pahit itu untuk kedua kalinya. Lagipula bagi Jaejoong, Yunho bukan miliknya lagi. Kenyataan itu saja sudah hantaman besar untuk Jaejoong. Dia tidak mau kembali membuka luka lama hanya dengan bertemu dengan Yunho.

“Tampaknya kau sangat tidak ingin bertemu denganku ya Jae.” Ucap Yunho masih mengelak dari pertanyaan Jaejoong. Yunho kini sudah lagi tidak tersenyum. Wajahnya menunjukkan raut kesedihan yang kentara. Matanya menatap Jaejoong sendu. Jaejoong memilih tidak menatap balik Yunho karena jika dia melihat tatapan itu, Jaejoong takut hatinya akan luluh dan dia akan memohon, merendahkan dirinya sekali lagi agar Yunho memilihnya.

“Aku ke Jepang untuk bertemu adikku Siwon, Jae. Aku mendapat informasi bahwa Siwon sempat bekerja bersama denganmu. Jujur saja aku terkejut kalian bisa bertemu disini. Dunia memang sempit ya Jae.” Ucap Yunho akhirnya menjawab pertanyaan Jaejoong. Jaejoong memalingkan wajahnya untuk bertatapan dengan Yunho lagi. Dia memang tahu bahwa Siwon yang dulu pernah sempat bekerja bersamanya di restoran Jaejoong yang lama, adalah adik kandung Yunho. Ketika mereka masih bersama, Yunho sempat mengenalkan Siwon satu kali kepadanya.

Saat bertemu Siwon di Jepang, terlebih lagi Siwon kala itu sedang membutuhkan pekerjaan, membuat Jaejoong bertanya pada dirinya sendiri apa yang telah terjadi dengan adik seorang pebisnis terkenal dan kaya. Jaejoong tidak mengerti mengapa Siwon hampir seperti orang yang tak terurus ketika dia memohon pekerjaan kepada manajer restorannya dulu. Tapi setelah mengenal pemuda baik hati itu dan mendengar ceritanya, Jaejoong mengerti apa yang terjadi antara Siwon dan Yunho. Jaejoong merasa Yunho sudah keterlaluan saat dia menghentikan semua bantuan finansial Siwon hanya karena Siwon memilih pergi. Jaejoong merasa Yunho seharusnya menyelidiki dulu dan bukan mengambil keputusan berdasarkan emosi.

“Aku kesini untuk…” Jaejoong yang tersulut emosinya karena teringat penderitaan Siwon, tidak membiarkan Yunho berbicara terlebih dulu. Dengan cepat Jaejoong menyela ucapan Yunho.

“Untuk apa? Untuk memastikan aku tidak bicara hal buruk kepada adikmu? Kau tenang saja Yun, aku tidak sepicik itu. Aku tidak pernah mau menjelekkan orang lain dibelakang mereka. Tapi berhubung kau sudah menyinggung tentang Siwon, jujur, aku juga kaget melihat adikmu dulu sangat membutuhkan pekerjaan. Padahal jika melihat keberhasilanmu, sepertinya tidak mungkin adik seorang Jung Yunho bisa sampai tidak makan dua hari hanya karena kehabisan uang.” Cibir Jaejoong sambil tersenyum sinis ke arah Yunho. Sedangkan Yunho yang mendengar perkataan Jaejoong, membelalakan matanya terperangah.

“Apa?!” seru Yunho tidak percaya jika Siwon sampai seperti itu dulu saat dia memutuskan semua bantuan finansial terhadap Siwon. Sebenarnya Yunho melakukan itu agar Siwon mau kembali padanya. Yunho ingin agar Siwon merasa begitu membutuhkan dirinya dan mau pulang kepada Yunho. Yunho yang saat itu masih mengira Siwon pergi ke tempat ibu mereka, tahu persis bahwa ibu mereka tidak akan perduli kepada Siwon sehingga dia yakin setelah Siwon kehabisan uang, Siwon pasti akan kembali. Hanya saja, sebulan, dua bulan, tiga bulan, dan seterusnya sampai setahun kemudian Siwon tidak kembali pulang. Yunho terus menunggu sampai tiga tahun dan tetap Siwon tidak menampakkan diri.

“Kau terkejut? Aneh. Padahal kau sendiri yang menghentikan semua bantuan finansial untuk adikmu sendiri. Aku terkesima dia bisa bertahan sebulan hanya dengan tabungan seadanya itu.” Sindir Jaejoong lagi. Jaejoong seakan melupakan rasa sakit hatinya sendiri kala dia ingat betapa tidak adilnya Yunho terhadap Siwon. Sementara Yunho yang merasa terus disudutkan oleh Jaejoong lambat laun menjadi kesal. Tanpa sadar telah meninggikan suaranya dia berdiri dan menyanggah ucapan Jaejoong.

“Aku berusaha menghubunginya Jae, tapi Siwon sama sekali tidak menggubrisku! Lalu aku juga sudah membuka kembali jalur finansialnya setelah sebulan dia pergi tapi tidak ada tanda-tanda Siwon memakai uang itu! Kau mau aku berbuat apa?!” seru Yunho. Jaejoong memandang wajah Yunho cukup lama sehingga membuat Yunho sedikit tidak nyaman karena tatapan Jaejoong seolah-olah mengatakan bahwa Yunho sudah berbuat salah sekali lagi. Desahan pelan keluar bibir Jaejoong. Dia berdiri lalu kembali memasuki dapur, meninggalkan Yunho agar bisa memikirkan kembali kata-katanya. Jaejoong sedikit berharap bahwa Yunho akan sadar bahwa dia salah jika dia berpikir dengan dia membuka jalur keuangan Siwon maka Siwon akan langsung pulang dan meminta maaf kepadanya. Masalahnya lebih dalam dari itu. Namun selang beberapa menit dalam kebisuan, Jaejoong hanya mendapati Yunho yang tidak mengatakan satu patah kata pun.

“Apa kau pikir Siwon sama sekali tidak menghubungimu Yun?” tanya Jaejoong memecah kesunyian. Dia pun sudah menyandarkan tubuhnya di pintu yang menghubungkan antara dapur dan restoran.

“Jae…”

“Kau bilang kau sudah menghubunginya tapi dia tak menggubris? Memangnya kau pikir itu salah siapa?!! Apa kau tahu, adikmu itu pernah mengirim email untuk memberitahu keadaannya. Dia mengirimkan email sialan itu hanya karena dia khawatir kau mencemaskannya. Dia berharap kau tidak marah lagi kepadanya dan mau membalas emailnya. Tapi apa yang dia dapat?! Satu kata pun tak pernah kau tuliskan untuknya!” teriak Jaejoong marah. Saat ini wanita berparas cantik itu sudah tidak sabar lagi menghadapi Yunho. Melihatnya yang sekarang, Jaejoong jadi paham mengapa dulu Yunho juga begitu mudah memutuskannya. Yunho tidak peka dengan semua yang terjadi disekelilingnya. Jangankan dirinya yang mungkin dikategorikan orang luar, adiknya sendiri saja Yunho tak bisa memahami perasaannya.

“Kau sudah berusaha kau bilang? Berusaha apa Yun?! Aku yakin kau sudah tahu sejak dulu bahwa Siwon tidak pergi ke Spanyol melainkan ke Jepang. Tapi sekali lagi, kau sama sekali tidak menjemputnya. Bahkan kau baru datang setelah tiga tahun. Tiga tahun Yun!! Tiga tahun Siwon berjuang sendiri karena kau membiarkan dia begitu saja.”

“Aku tidak bermaksud membiarkannya Jae. Kau harus mengerti itu.” Sahut Yunho mencoba membela dirinya sendiri. Pria berwajah kecil itu tahu dia salah, tapi dia tidak ingin mendengar segala tuduhan, sindiran, dan perkataan Jaejoong yang menusuk. Yunho ingin agar Jaejoong membantunya untuk meminta maaf kepada Siwon dan bukannya menghakiminya seperti ini. Egois memang, Yunho paham betul itu. Tapi Yunho juga tidak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa.

Saat dia tahu Jaejoong pernah dan mungkin masih berhubungan baik dengan Siwon, tanpa pikir panjang, pria gagah itu langsung terbang ke Jepang dua hari setelah Kyuhyun pergi. Awalnya dia ingin Kyuhyun dulu yang mencoba membuka hati Siwon dan setelahnya, Yunho berharap Kyuhyun bisa membantunya. Akan tetapi mendengar nama Jaejoong terhubung dengan Siwon, rasa rindu dan ingin menemui Jaejoong memuncah ke permukaan. Yunho merasa mungkin ini petunjuk dari Tuhan agar dia juga bisa memperbaiki hubungannya dengan Jaejoong. Mungkin terlalu naïf jika dia berharap Jaejoong mau menerimanya kembali menjadi kekasih, tapi paling tidak Jaejoong mau menerimanya sebagai sahabat seperti dulu.

“Oh aku mengerti. Cukup mengerti jika Siwon seharusnya membencimu karena ketidak pekaan dirimu. Tidak bermaksud kau bilang? Kau hanya terlalu perduli pada dirimu sendiri.” Cibir Jaejoong sambil berbalik lalu menatap Yunho tajam. Yunho bisa merasakan tekanan dari tatapan Jaejoong meski Jaejoong cukup jauh darinya. Kali ini Yunho tidak membantah perkataan Jaejoong, dia hanya membalas menatap Jaejoong sendu. Memohon dengan matanya agar Jaejoong mau mengerti situasinya. Namun, Jaejoong sudah cukup merasa kesal dan sakit hati sehingga dia tidak arti tatapan Yunho kepadanya.

“Ya, seharusnya Siwon membencimu. Anehnya, anak itu tak pernah merasa bahwa kau bersalah. Dia tidak pernah marah kepadamu. Justru dia selalu bercerita kepadaku betapa dia mengkhawatirkanmu karena kau seperti orang gila kerja dan tidak memperhatikan dirimu sendiri. Beruntung sekali kau Yun punya adik sebaik itu.” Ujar Jaejoong sinis.

“Kau juga beruntung adikmu pintar Yun. Dia tidak sepertiku. Siwon tidak menunggu jawaban tidak pasti darimu dan berusaha sendiri. Tidak seperti diriku yang terlalu naïf menunggumu selama lima tahun.”

“Jae…” Jaejoong menundukkan kepalanya, menolak untuk menatap Yunho lebih lama lagi. Hatinya sudah terasa sangat sakit dan Jaejoong tidak sanggup lagi jika harus terus berada di satu ruangan dengan Yunho.

“Lupakan kata-kataku tadi. Sekarang kau lebih baik pergi saja Yun.” Usir Jaejoong lagi, membuat Yunho menghela nafas berat dan menatap Jaejoong dengan tatapan sayu.

“Jae. Kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku lagi rupanya.” Jaejoong tidak memberikan respon apapun. Dia masih saja menatap ke arah lain selain wajah Yunho. Hal tersebut menambah rasa bersalah dan pedih bagi Yunho. Dia berdiri lalu beranjak menuju pintu keluar. Namun sebelum dia menggenggam kenop pintu, Yunho berputar lagi dan mengatakan sesuatu.

“Kau tahu Jae, aku selalu merasa takdir telah mengatur hubungan kita berempat terlalu rumit. Aku tidak habis pikir, kebetulan macam apa sampai kau dan Siwon bisa bertemu disini.” Mendengar perkataan Yunho tadi, Jaejoong tertawa kecil. Tawa yang terdengar oleh Yunho bagaikan tawa meremehkan.

“Kebetulan ya. Ya mungkin semua ini kebetulan. Kebetulan aku dan Siwon dicampakan oleh orang yang kami cintai. Kebetulan kami mengalami luka hati yang sama. Kebetulan orang yang kami cintai terlalu buta untuk bisa melihatnya. Kebetulan bahwa kami berdua dapat menghadapi itu semua dan menganggapnya masa lalu yang pahit.”

“Kau menganggapku masa lalumu Jae?” tanya Yunho sedikit bergetar. Dia tidak menyangka Jaejoong akan berkata seperti itu kepadanya. Yunho berpikir apakah dirinya benar-benar telah terhapus dari hati Jaejoong. Sementara Jaejoong sendiri merasa dipermainkan dengan perkataan Yunho tadi dan dia langsung melihat ke arah Yunho dan berteriak kencang.

“Apalagi yang bisa aku lakukan Yun?! Kau mau aku bagaimana?! Kembali menunggu dirimu? Kembali mengemis cintamu? Kembali terpuruk karena hatiku dihancurkan olehmu? Apa Yun? Katakan!!”

“Jae, kumohon… Dengarkan aku dulu. Aku…”

“Tidak! Kali ini kau yang dengar! Aku sudah melanjutkan hidupku. Meski aku akui aku tak bisa berpaling ke lain hati tapi aku sudah bisa berdiri lagi. Aku sudah bisa menata hidupku tanpamu Yun. Jangan hancurkan itu. Kumohon… Jangan ganggu aku lagi…”

“Jae…”

“Jika kau ingin bertemu dengan Siwon, akan aku berikan alamat apartemennya dan alamat kampusnya. Siwon pulang dari kampus pukul 6 sore. Terserah kau mau kesana atau menunggunya di apartemennya.” Yunho kembali terdiam karena Jaejoong sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk bicara dan menjelaskan sama sekali. Yunho sadar, untuk sekedar meminta maaf kepada Jaejoong, tidak akan semudah perkiraan awalnya.

Yunho tersenyum sedih. Apa yang diharapkan olehnya? Bahwa Jaejoong akan langsung memeluknya dan menerimanya dengan mudah. Bahwa Jaejoong akan dengan mudah memaafkannya setelah apa yang sudah dia perbuat. Semua ini adalah salahnya. Jaejoong benar, seharusnya Jaejoong dan Siwon membencinya. Dia tahu itu dan dulu dia siap untuk itu. Tapi ketika hal itu benar-benar terjadi, paling tidak dengan Jaejoong yang sekarang muak dengannya, Yunho tidak mampu menerimanya. Yunho berpikir bahwa dia harus melakukan apa saja agar bisa mendapatkan kata maaf dari Jaejoong dan juga Siwon.

“Pergilah Yun. Aku harus bersiap membuka restoranku.”

“Jae…”

“Pergilah.” Dan setelah berkata seperti itu, Jaejoong kembali masuk ke dapur dan menutup pintu dengan rapat. Dengan tutupnya pintu itu, Yunho seakan diberikan tanda bahwa tidak ada lagi yang bisa dia perbuat agar Jaejoong mau membuka hatinya. Sebulir airmata menetes membasahi pipi Yunho. Kini dia paham perasaan Jaejoong ketika dia pergi membelakangi Jaejoong saat mereka berpisah dulu. Sakit dan Yunho tak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya.

Dengan berat hati, Yunho berbalik dan membuka pintu untuk keluar. Namun sebelum dia benar-benar pergi, Yunho mengatakan sesuatu dengan cukup keras agar Jaejoong mendengarnya.

“Maafkan aku Jae. Aku mencintaimu.” Dengan ucapan itu Yunho pergi. Dia tidak tahu bahwa dibalik pintu dapur, Jaejoong sudah terduduk bersandar di pintu sambil menekuk lututnya. Airmata wanita cantik itu sudah mengalir deras, membasahi pipi putihnya. Isakan demi isakan tidak terdengar karena Jaejoong menutup mulutnya. Namun satu gumaman berhasil lepas dan gumaman itu terdengar lirih dan penuh kesedihan.

“Aku juga mencintaimu Yun. Sangat mencintaimu.”

Perpustakaan Kampus – Siwon P.O.V

Sudah dua hari ini sejak pertemuanku kembali dengan Kyuhyun di tempat ini dan dia masih saja datang. Beruntung kampus ini penjagaannya tidak seketat kampus lain sehingga dia bisa masuk kesini setiap hari meski dia harus memakai tanda tamu. Kyuhyun terus saja duduk di tempat yang sama yaitu tempat yang berdekatan dengan meja petugas perpustakaan. Entah apa yang dia harapkan setelah aku dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak seharusnya berada ditempat ini, terlebih lagi menemuiku seperti ini. Masih jelas di ingatanku peristiwa dua hari yang lalu.

Flashback

“Kyuhyun…” lirihku tidak percaya dengan apa yang sedang aku lihat sekarang. Kyuhyun. Sedang apa Kyuhyun disini? Bagaimana dia bisa menemukan aku? Begitu banyak pertanyaan tapi tak satu pun aku tahu jawabannya. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa saat melihat wajah Kyuhyun yang meski kami berpisah selama tiga tahun, masih tetap secantik dan semanis dulu. Bahkan dia lebih cantik dan terlihat lebih dewasa.

“Siwonnie…” sahutnya memanggil nama kesayanganku. Saat itulah aku tersadar bahwa Kyuhyun seharusnya tidak disini. Kyuhyun seharusnya tidak terlihat bersamaku. Tanpa pikir panjang, aku segera beranjak pergi keluar dari perpustakaan meninggalkan Kyuhyun yang sepertinya tidak mengira aku akan pergi begitu saja.

Hanya saja aku belum siap bertemu dengan Kyuhyun lagi. Aku tidak tahu apakah hatiku sanggup menanggung rasa sakit seperti dulu. Aku hanya ingin tenang. Aku hanya ingin mencoba melupakan dirinya meski sampai sekarang usahaku sia-sia. Yang ada rasa cintaku semakin besar untuknya. Aku takut dengan rasa cinta ini, aku akan tenggelam ke lubang yang sama. Aku tidak mau itu terjadi. Tidak lagi.

End Flashback

Sekarang, Kyuhyun terus datang ke tempat ini. Aku sendiri tidak bisa mengelak untuk tidak datang ke perpustakaan karena pekerjaanku disini. Seandainya saja aku boleh memilih,aku lebih suka megajar sampai malam agar tidak bertemu dengan Kyuhyun. Namun apa daya, tanggung jawabku sekarang adalah di perpustakaan ini dan aku tidak akan meninggalkan tanggung jawabku hanya karena masalah pribadi.

“Siwon sensei.”

“Ah, ya… ya… Ada apa Oga-san?” tanya Siwon kelagapan dan sepertinya terkejut karena panggilan darinya tapi Oga hanya menatap Siwon sebelum memusatkan perhatiannya ke maksud dia memanggil Siwon tadi.

“Aku butuh bantuanmu untuk memeriksa daftar buku baru yang akan datang minggu depan. Tadi saat aku cek di computer, banyak data yang tidak cocok. Padahal kemarin masih cocok. Apa komputernya rusak ya sensei?” tanya Oga membuat kening Siwon berkerut tidak menyukai berita yang baru saja disampaikan oleh Oga.

“Komputer? Rusak? Kalau benar, nanti kau hubungi bagian IT saja Oga-san. Sementara kita cek secara manual dulu. Mana daftarnya? Biar aku yang kerjakan. Kau jaga disini.” Perintah Siwon tegas. Dalam hatinya dia sedikit kesal karena hal ini akan membuat pekerjaannya yang lain tertunda. Memeriksa begitu banyak buku tanpa bantuan computer pasti akan sangat memakan waktu. Sedangkan Oga yang juga tahu betapa rumitnya masalah ini, membuka matanya lebar-lebar. Dia tidak percaya bahwa Siwon sendiri yang akan melakukan tugas tersebut. Padahal dia bisa saja menyuruh orang lain untuk melakukannya.

“Tapi sensei, kau bisa semalaman disini kalau mengerjakan sendirian. Bulan ini akan banyak buku yang datang. Belum lagi kita harus memeriksa daftar buku yang keluar masuk. Terakhir kali aku cek, banyak buku yang hilang atau belum kembali sensei. Biarkan aku membantumu. Masih ada Ishiyama-san yang bisa menggantikan pekerjaanku.” Sanggah Oga agar Siwon mau mempertimbangkan lagi keputusannya.

“Ishiyama? Dia sudah pulang duluan tadi. Dia izin karena istrinya tiba-tiba sakit. Sudahlah Oga-san. Kau disini saja. Nanti setelah jam kerjamu selesai, kuncinya kau berikan kepadaku di ruang data ya. Biar aku yang akan mengunci perpustakaan.” Ujar Siwon bersikukuh. Oga hanya dapat menghembuskan nafasnya kuat-kuat sambil mengeluh.

“Ya ampun. Kenapa disaat seperti ini kita justru kekurangan orang sih? Sensei, sebaiknya kau meminta kampus untuk menambah orang saja. Kalau bisa cari yang penampilannya menarik. Jangan kutu buku seperti Ishiyama-san.” Saran Oga yang hanya ditanggapi oleh tawa kecil oleh Siwon.

“Um, sumimasen. Sepertinya kalian sedang membutuhkan bantuan.” Siwon dan Oga memalingkan wajah mereka ke arah suara itu berasal dan mereka melihat Kyuhyun berdiri di balik meja counter perpustakaan. Oga yang mengenali Kyuhyun sejak awal pertemuan mereka dua hari yang lalu, langsung tersenyum dan membalas ucapan Kyuhyun.

“Oh teman Siwon sensei. Apa kabar? Aku perhatikan anda sering datang ke perpustakaan ini.”

“Ya, perpustakaan ini membuatku tenang.”

“Oh begitu.” Sahut Oga sambil menganggukan kepalanya mengerti. Kyuhyun tersenyum simpul lalu mengulang ucapan awalnya.

“Lalu, apakah kalian membutuhkan bantuan? Aku bebas, jadi mungkin aku bisa membantu sedikit.”

“Tentu saja, um…”

“Cho. Cho Kyuhyun. Panggil saja aku Kyuhyun.”

“Oh ya, Kyuhyun-san. Jika memang kau tidak keberatan, mungkin kau bisa membantu Siwon sensei di ruang data.”

“Aku bersedia un…”

“Kyuhyun-san itu orang luar Oga-san. Jangan merepotkan orang lain. Aku bisa melakukannya sendiri.” Potong Siwon langsung dan beranjak meninggalkan Kyuhyun dan Oga menuju ruang data.

“Tapi Siwon sensei…” Oga mencoba menghentikan Siwon tapi Siwon tidak bergeming sama sekali. Dia terus saja berjalan seakan Kyuhyun dan Oga tidak ada disana. Kyuhyun sendiri memandang sendu punggung Siwon yang semakin menjauh darinya.

“Ah maafkan Siwon sensei, Kyuhyun-san. Sepertinya moodnya sedang buruk karena masalah pekerjaan kami di perpustakaan ini.” Sahut Oga mencoba menetralisir situasi yang canggung akibat sikap Siwon.

“Tidak apa-apa. Aku mengerti.”

“Baiklah kalau begitu. Aku permisi Kyuhyun-san. Aku masih ada pekerjaan.” Pamit Oga sebelum dia kembali ke belakang meja perpustakaan. Kyuhyun sendiri kembali ke tempatnya semula sebelum dia menginterupsi pembicaraan antara Siwon dan Oga tadi.

Kyuhyun menghela nafas sambil memegang dadanya yang terasa sakit ketika dia mendapatkan penolakan dari Siwon. Selama ini Siwon tidak pernah berkata seperti itu kepadanya, mengatakan bahwa dia orang seolah-olah dia tidak pernah mengenal Kyuhyun. Siwon tidak pernah bersikap sedatar bahkan sedingin itu kepadanya. Kyuhyun merasakan benar rasanya diacuhkan dan tak dianggap. Kyuhyun berpikir, apakah ini yang dirasakan oleh Siwon ketika dia sama sekali tidak menganggap Siwon berharga lebih dari apapun? Apakah ini rasanya ketika perhatian dan cintanya diacuhkan?

Airmata Kyuhyun sudah menggenang di pelupuk matanya, namun wanita manis itu tidak ingin menangis. Jika Siwon melihatnya menangis, hal itu hanya akan menambah bebannya saja. Kyuhyun tidak mau merasa bersalah ataua kasihan padanya karena melihat dirinya menangis. Kyuhyun menyusul Siwon karena dia ingin minta maaf dan jika masih ada kesempatan, Kyuhyun ingin agar Siwon bisa menerima dirinya. Menerima cinta dan kasih sayangnya.

Kyuhyun menutup matanya dan menarik nafas sebelum menepuk-nepuk pipinya sendiri sambil berkata,

“Cho Kyuhyun! Semangat!”

Beberapa Saat Kemudian

Siwon mencatat kode buku terakhir di dalam daftar yang akan disebutkan oleh Oga-san tadi. Ternyata benar yang dia katakan tadi, sebagian besar data ini tidak tersusun dengan rapi. Wajar saja banyak buku yang tidak tercatat telah kembali. Siwon berpikir bahwa dia harus mengadakan pertemuan dengan semua petugas perpustakaan. Menurutnya ada beberapa orang yang keliru dalam melaksanakan pekerjaannya.

Siwon menghembuskan nafas berat karena sebenarnya jika komputer perpustakaan tidak rusak, pekerjaannya akan lebih mudah. Namun lagi-lagi komputer tua itu berulah. Tampaknya hal tersebut juga harus masuk dalam daftar pertemuan yang akan diadakannya nanti dan juga akan dia sampaikan ke pihak kampus. Sulit jika mereka harus melakukan pekerjaan perpustakaan secara manual seperti ini.

Siwon tersenyum puas karena pekerjaannya akhirnya selesai juga. Beruntung jadwal mengajarnya besok ada di siang hari, jadi Siwon bisa meminta izin untuk datang lebih siang besok. Dia merasa membutuhkan istirahat setelah pekerjaan mendadak ini. Siwon lalu segera membereskan semua berkas dan buku-buku yang sudah dia cek kelengkapannya. Siwon pun langsung beranjak keluar dari ruang data menuju meja perpustakaan untuk mengambil kunci. Dia sempat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan dia cukup terkejut dengan waktu yang ditunjukkan. Pukul sepuluh, itu berarti Siwon sudah berada di dalam ruang data selama empat jam setelah waktu kerja berakhir. Siwon berharap semoga kereta terakhir masih ada.

Siwon bergegas mengambil kunci dan berjalan menuju pintu keluar perpustakaan setelah memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. Pria tinggi itu segera mengunci pintu perpustakaan lalu berjalan menuju gerbang kampus. Siwon sempat berpapasan dengan petugas keamanan yang dengan ramah menyapanya dan dibalas oeh Siwon sebelum akhirnya dia benar-benar keluar dari kampus. Namun belum tiga langkah Siwon menjauh dari gerbang kampus, Siwon membalikkan tubuhnya.

Matanya menangkap bayangan seseorang duduk berjongkok sambil bersandar di dinding pagar batu disamping gerbang kampus. Siwon memincingkan mata untuk melihat secara jelas siapa yang masih berada di kampus semalam ini. Dalam benaknya, Siwon bertanya apa orang tersebut sedang menunggu seseorang di kampus ini? Tapi mengapa menunggu di luar sini saat angin musim semi masih terasa dingin terlebih lagi malam seperti ini. Apa dia orang luar sehingga tidak bisa menunggu didalam setelah jam kerja usai?

Siwon semakin penasaran dan akhirnya memutuskan mendekati orang tersebut. Dia tak bisa melihat wajahnya karena orang tersebut terus menunduk dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut. Siwon memberanikan diri mengguncang tubuhnya karena dia ingin agar orang tersebut segera pulang. Mungkin orang yang ditunggunya masih lama jadi sebaiknya menurut Siwon, orang tersebut pulang saja atau menunggu di sebuah café di dekat kampus ini.

“Permisi.” Sahut Siwon sambil mengguncang tubuh orang itu perlahan. Siwon tidak mau mengagetkannya karena sepertinya orang ini mengantuk dan tertidur. Siwon mengguncang lagi karena dia tidak memberikan reaksi sama sekali.

“Permisi. Apa yang anda lakukan disini? Anda tidak seharusnya disini.” Ujar Siwon sekali lagi dan sedikit membuahkan hasil. Orang tersebut sedikit mengangkat kepalanya meski Siwon masih belum bisa melihat wajahnya. Penutup kepala yang tersambung dengan jaketnya juga menghalangi Siwon untuk melihat wajah dan rambutnya.

Lalu tanpa peringatan, tiba-tiba orang itu berdiri kemudian membungkukan tubuhnya. Sepertinya dia mengira Siwon adalah petugas keamanan kampus atau polisi yang ingin mengusirnya karena berada didepan kampus. Siwon bisa menduganya karena dia terus saja membungkuk sambil meminta maaf.

“Ah, maafkan aku. Maafkan aku. Aku hanya sedang menunggu seseorang. Biarkan aku disini sampai orang tersebut keluar. Kumohon jangan usir aku. Sekali lagi maafkan aku.” Sahutnya terus. Siwon mengerutkan keningnya dan mempertajam pendengarannya karena dia merasa mengenal suara orang tersebut. Sedetik, dua detik, dan mata Siwon langsung membulat karena suara orang tersebut adalah,

“Kyuhyun?” panggil Siwon memastikan dan ketika orang itu mengangkat wajahnya, perkiraan Siwon tepat sasaran. Dia memang Kyuhyun dan dia juga sempat kaget melihat Siwon meski sedetik kemudian Kyuhyun tersenyum lebar. Siwon dapat melihat bibir Kyuhyun yang sedikit membiru dan bergetar. Dalam benaknya, sudah berapa lama Kyuhyun berada diluar sini?

“Siwonnie/Siwon-ah.” Siwon dan Kyuhyun terperanjat karena mereka mendengar nama Siwon dipanggil oleh suara lelaki. Keduanya mengalihkan pandangan mereka ke arah suara tersebut dan terkejut menemukan seseorang yang kedua sudah sangat kenal.

“Yunho hyung…” lirih Siwon tak percaya bisa menatap kakaknya lagi. Dia tidak mengira akan ada saat dia bisa melihat wajah Yunho lagi.

“Siwon-ah…” Yunho memanggil Siwon sekali lagi. Dia sendiri tidak mengira bahwa dia masih begitu beruntung bertemu Siwon seperti ini. Yunho sempat menyerah untuk bisa bertemu Siwon hari ini karenasaat dia mampir ke apartemen Siwon dan menunggunya, Siwon tak kunjung pulang. Yunho bermaksud untuk kembali ke hotel dan mencoba besok hari namun Yunho mengurungkan niat itu dan mampir ke kampus Siwon. Yunho tidak tahu alasan apa yang mendesaknya agar mencoba melihat tempat kerja Siwon karena dia yakin kampus sudah tutup. Tetapi, Yunho tetap datang ke kampus ini dan Yunho tidak menyesal melakukannya. Yunho akhirnya melihat wajah Siwon,wajah adiknya yang tiga tahun pergi meninggalkannya.

“Siwon-ah…” sahut Yunho lagi. Airmatanya sudah turun sejak panggilan kedua dan Yunho bergerak perlahan mendekati Siwon. Sementara Siwon hanya berdiri mematung, tidak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi dia mulai sadar sejak Yunho memanggilnya tadi dan tanpa banyak bicara, pemuda tinggi itu langsung berlari menghampiri Yunho dan memeluk tubuh kakaknya tersebut. Pelukan Siwon begitu erat, mungkin terlalu erat. Tapi Yunho tidak perduli, adiknya memeluknya. Siwon memeluknya. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Yunho sekarang karena bisa merasakan kehangatan Siwon.

“Hyung…”

“Oh Siwon-ah… Siwon-ah, adikku.” Keduanya terus berpelukan dan tidak menyadari seseorang yang memandang mereka berdua dengan airmata yang juga mengalir. Meski begitu ada seulas senyum di wajah cantiknya. Perasaan lega itu tumbuh di hati Kyuhyun melihat reuni antara Siwon dan Yunho. Dalam hatinya, Kyuhyun berharap bahwa ini bukan terakhir kalinya Siwon mau membuka hatinya. Dia berharap, Siwon juga mau memeluknya seperti dia memeluk Yunho sekarang. Ya, Kyuhyun berharap demikian.

Siwon P.O.V

Aku mencintaimu Kyu. Sangat mencintaimu. Seluruh hidupku mampu aku serahku untukmu jika kau ingin. Hanya, aku tahu bukan aku yang kau mau. Aku tidak bisa menggapai hatimu. Aku sempat menyesali mengapa kau harus hadir di hidupku Kyu. Mengapa harus kau yang aku cintai. Tapi aku segera sadar bahwa memang hanya kau yang mampu menggetarkan hatiku. Hanya kau yang mampu membuatku merasakan cinta seperti ini. Hanya kau yang mampu membuatku bertahan mencintaimu meski aku tahu cinta ini adalah cinta yang tak mungkin berbalas.

Kyu, apa kau tahu? Kehadiranmu sekarang ini hanya mengingatku akan semua itu. Harapan hampa yang akan selalu ada dalam hatiku seumur hidupku. Harapan untuk bisa bersama denganmu meski kenyataan itu tak mungkin terjadi karena kau bukan untukku. Ada sesuatu yang mengingkari kita untuk bisa bersama.

Jadi kumohon Kyu, biarkan keadaan seperti ini. Biarkan aku dengan cintaku dan mencoba hidup dengannya. Seharusnya kita menjalani kehidupan kita masing-masing. Seharusnya kau berbahagia Kyu karena aku akan berbahagia jika itu terjadi. Aku akan bahagia karena aku mencintaimu.

End Siwon P.O.V

.

.

.

Kyuhyun P.O.V

Aku mencintaimu Wonnie. Sangat mencintaimu. Aku terlalu bodoh dan buta karena tidak menyadari itu sebelumnya. Kau yang selalu ada disisiku. Kau yang selalu memberikan dukungan dan kasih sayangmu hanya untukku. Dan aku tidak pernah mau tahu. Aku selalu membuatmu menderita.

Apakah tak mungkin bagiku untuk memilikimu Wonnie? Apakah aku terlalu egois jika aku ingin kau menerimaku kembali setelah semua yang aku lakukan kepadamu? Aku hanya ingin kita bersama. Terserah apapun hubungan kita, aku tak perduli. Aku hanya ingin kau mengizinkan aku ada disisimu.

Aku tak mampu untuk melepaskanmu kali ini Siwonnie. Aku tak mampu. Hatiku tak akan sanggup menahan rasa pedih ini jika kau pergi lagi. Jadi aku mohon biarkan aku mencintaimu. Biarkan aku mencintaimu selama aku masih bisa.

End Kyuhyun P.O.V

.

.

.

Jaejoong P.O.V

Aku mencintaimu Yunnie. Sangat mencintaimu. Cintaku begitu dalam sampai aku tak sanggup menghadapi semua rasa sakit ketika kau memutuskan untuk berpisah denganku. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kesalahanku sehingga kau meninggalkan aku. Tapi satu hal yang pasti, aku tahu kau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu.

Berulang kali aku berdoa, berharap kau hanya bergurau denganku. Lalu kau akan menertawakan wajah jelekku karena bersimbah airmata karena kejahilanmu. Tapi itu tak mungkin terjadi. Kau memang pergi dan memilih seseorang yang menurutmu lebih pantas daripada aku.

Apa itu alasanmu pergi dariku? Karena aku bukan dia? Karena aku ternyata bukanlah orang yang kau inginkan? Jika benar, seharusnya kau tidak menemuiku lagi. Seharusnya kau tetap berada disampingnya dan membiarkan aku dengan diriku sendiri. Kehadiranmu saat ini hanya membuka luka lamaku yang aku kira sudah terkubur dalam. Kehadiranmu hanya memberitahuku bahwa kita tak mungkin bersama dan itu menyakitkan Yun. Sakit.

Jadi kumohon Yun, biarkan aku dengan cintaku. Biarkan aku mengenangmu dengan kenangan manis saat kita masih bersama. Itulah yang bisa aku lakukan untuk terus menjaga cintaku untukmu.

End Jaejoong P.O.V

.

.

.

Yunho P.O.V

Aku mencintaimu Boojae. Sangat mencintaimu. Tak ada orang lain dihatiku selain dirimu. Selalu dan selamanya. Aku terlalu bodoh dan egois karena menganggap semua hubungan sama. Aku bodoh karena aku tak bisa mempercayai cintamu, cinta kita, cintaku kepadamu. Semua hubungan bagiku akan berakhir sama seperti hubungan kedua orang tuaku. Padahal seharusnya aku paham, kita tidak akan seperti itu. Kita akan menjaga satu sama lain.

Kenapa otakku baru menyadari hal tersebut ketika kau sudah tak disisiku Jae? Mengapa aku bisa begitu buta dan memilih meninggalkanmu? Jae, kali ini aku hanya bisa berharap pertemuan kita bisa membuka kembali jalan cinta kita. Meskipun itu sulit tapi biarkan aku yang menunggumu, menanti semua janji yang pernah kita ucapkan sampai batas waktu mengakhiri.

Karena Jae, setelah ini, aku tidak akan mungkin bisa melepasmu lagi. Kau segalanya untukku Jae. Hanya ada kau, kau, dan kau.

End Yunho P.O.V

Dan tak mungkin bila ku melepasmu

Sungguh hati tak mampu

Mengertilah cintaku

Semestinya tak ada yang memisahkan cinta ini

Karena hanya dirimu satu cintaku

END

Advertisements