Tags

, , , , ,

Title : Tapi Bukan Aku

Pairing : Yunjae, Brothership!Wonyun, Yunkyu, Wonkyu

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, Kerispatih and their label company

Inspired : Tapi Bukan Aku by Kerispatih

Warning : Un-betaed, GS, Angst, AU,OOC

Summary : Seseorang pasti akan bersama dengan pasangannya, tapi maafkan aku jika aku bukanlah orang itu. Aku bukanlah orang yang tepat untukmu menyerahkan hati dan cintamu.

WonKyu YunJae TIS Series : Cinta Sendiri

( 。・_・。)(。・_・。 )

Seorang gadis cantik dengan mata bulat dan bibir merah yang penuh dan seorang pemuda tampan dengan tatapan mata yang tajam sedang berdiri saling berhadapan di pinggir sungai Han. Keduanya terlihat seperti sedang berbicara satu sama lain atau mungkin lebih tepatnya bertengkar. Lalu tanpa bisa dihindari lagi, sang gadis yang sudah tersulut emosi, menampar pipi sang pemuda. Keduanya masing-masing terpaku, tidak tahu harus berbuat apa sampai akhirnya sang gadis dengan linangan airmata memutuskan pergi meninggalkan sang pemuda yang tanpa sepengetahuan sang gadis juga sudah menitikan airmatanya. Sang pemuda bergumam lirih sambil menatap sayu punggung sang gadis yang semakin menjauh. Gumaman yang sama dia terus ucapkan.

“Maafkan aku Boojae. Maafkan aku.”

Yunho P.O.V. – Lima Tahun Kemudian

Aku membuka mataku setelah terbangun oleh mimpi yang sama setiap hari dalam hidupku. Mimpi yang selalu terbayang bahkan sampai aku terbangun dari tidurku seperti ini. Mimpi yang sebenarnya adalah ingatan masa laluku dengan seorang gadis yang sangat aku cintai namun tak mungkin aku jadikan sebagai pendamping hidupku.

Kenapa tak mungkin? Hal itu bukan karena dia tidak mencintaiku atau aku yang tidak mencintainya. Sebaliknya, seperti yang sudah aku katakan bahwa kami berdua saling mencintai. Tapi permasalahannya tertuju kepada diriku. Aku begitu mencintainya sampai aku harus mengambil keputusan terberat dalam hidupku untuk melepaskan dirinya. Aku tahu dia tidak akan bahagia jika terus bersamaku. Aku juga tahu bahwa dia akan mendapatkan cinta sejatinya dan itu bukan aku.

Kim Jaejoong, nama gadis itu adalah kekasihku sejak aku masih memakai seragam SMA. Walau kami masih belia, kami sudah saling mencintai dan berjanji kelak saat kami dewasa, kami akan menikah. Klise dan tipikal cinta monyet, tapi kami yakin dengan perasaan kami dan kami tahu bahwa kami akan selalu bersama.

Kenyataannya adalah kami memang bersama sampai kami berdua menginjak bangku perkuliahan. Kami bahkan benar-benar akan merealisasikan rencana kami untuk menikah karena meski aku masih kuliah, aku sudah mulai menapaki dunia kerja dengan bergabung bersama beberapa orang sahabatku membuat sebuah perusahaan kecil di bidang komputer. Jadi jangan salahkan kami jika kami berangan-angan suatu saat kami bisa bahagia selamanya seperti cerita dongeng. Setidaknya itu yang ada dalam benakku sampai kejadian itu menimpa keluargaku.

Perceraian. Satu kata itu yang membuat semua pemikiranku tentang cinta dan kebahagiaan abadi dengan orang yang dicintai hacur berkeping-keping. Perceraian kedua orang tuaku mungkin sama saja dengan perceraian yang ada di belahan dunia manapun. Alasan kedua orang tersebut berpisah biasanya antara tidak adanya kecocokan lagi atau adanya orang ketiga. Alasan selain itu mungkin hanya pelengkap saja. Untuk kasus kedua orang tuaku, alasan orang ketigalah yang menjadi retaknya hubungan pernikahan mereka berdua. Perceraian tanpa adanya anak yang terlibat menurut sebagian besar orang, tidak akan terlalu rumit. Lain soal jika ada anak yang harus menanggung akibat perceraian tersebut. Seperti aku dan adikku, Siwon.

Awalnya aku tidak terlalu perduli akan ikut siapa. Aku menganggap diriu sudah dewasa dan mandiri serta aku mampu menghidupi diriku sendiri. Tapi lain halnya dengan adikku yang baru saja merasakan kesenangan sebagai siswa SMA. Dia masih perlu kasih sayang dari kedua orang tuanya. Aku benar-benar tidak masalah akan ikut dengan siapa bahkan aku sempat berpikir aku akan hidup sendiri saja.

Akan tetapi betapa tercengangnya aku ketika tahu bahwa kedua orang tuaku sama sekali tidak mau membawa kami berdua. Mereka membuat kami berdua seperti bola ping-pong yang dioper kesana kemari. Mereka berdua tidak mau mengasuh kami berdua karena mereka ingin memulai hidup baru dengan pasangan selingkuh mereka masing-masing.

Aku sempat ingin mencibir keduanya saat aku tahu alasan lontarkan kepada kami mengapa mereka tidak mau mengajak kami berdua. Mereka dengan santainya mengatakan bahwa kami berdua sudah cukup dewasa untuk bisa hidup sendiri dan mereka tetap akan bertanggung jawab dengan menyokong kami dengan biaya untuk kehidupan kami.

Demi Tuhan, aku tidak percaya aku memiliki orang tua paling tidak manusiawi dan egois seperti mereka. Dewasa? Mereka menganggap kami berdua dewasa? Jika itu aku, aku tidak akan perduli. Tapi Siwon, dia masih berusia 15 tahun. Dia belum bisa dikatakan dewasa. Di mata hukum Negara pun Siwon masih dibawah umur. Bagaimana mungkin kedua orang tua egois itu mengatakan bahwa Siwon sudah dewasa dan mampu mengurus dirinya sendiri. Biar Siwon termasuk anak yang mandiri dan penurut, tetap saja dia masih membutuhkan asuhan dari kedua orang tuanya.

Kedua orang tua kami bertengkar lagi dan saling menumpahkan tanggung jawab atas Siwon dan aku. Jengkel dan geram dengan pertengkaran mereka, aku mengambil keputusan bahwa Siwon akan hidup denganku. Aku yang akan mengurus Siwon dan aku meminta bantuan dokter Park agar beliau menjadi wali kami berdua.

Sejak saat itu aku tidak bisa lagi memandang kedua orang tuaku seperti dulu. Yang aku rasakan kepada mereka adalah kecewa, sakit hati, kesal, marah, bahkan mungkin aku membenci mereka. Mereka jugalah yang membuatku berubah. Aku tidak percaya lagi dengan hubungan yang dilandasi oleh cinta. Lihat saja kedua orang tuaku sekarang. Mereka yang dulunya saling mencintai, saling menyayangi, saling menghargai, bisa berubah begitu saja dan meski keduanya selalu mengatakan bahwa mereka baik-baik saja, bahwa mereka akan lebih bahagia tanpa satu sama lainnya, aku bisa melihat dari mata keduanya bahwa mereka begitu terluka dengan semua ini. Mereka hanya mementingkan ego masing-masing dan lebih memilih untuk menderita daripada mencoba membicarakan dan menyelesaikan apapun permasalahan mereka dulu. Dalam benakku, perilaku mereka ini menimbulkan begitu banyak pertanyaan yang sampai saat ini aku tak tahu jawabannya.

Apakah perpisahan mereka menjadi terasa begitu menyakitkan karena mereka sebenarnya saling mencintai? Apakah mereka tidak mau mengambil kami berdua karena kami mengingatkan mereka akan indahnya cinta mereka dulu? Bahwa kami berdua adalah bukti kebersamaan keduanya setelah sekian lama? Entahlah, aku tak tahu. Hanya saja semua pertanyaan itu membuatku berpikir dan pada akhirnya mengambil keputusan mengenai hubunganku dengan Jaejoong.

Aku memutuskan mengakhiri hubunganku dengan Jaejoong karena aku takut. Aku takut jika kami berdua menikah nanti, kami juga akan berpisah seperti orang tuaku. Konyol memang, tapi aku benar-benar takut. Aku tak ingin berpisah dengan Jaejoong seperti kedua orang tuaku. Aku tidak ingin kami berdua merasakan sakit hati yang sangat dalam karena perpisahan kami. Aku tahu semakin kami mencintai maka akan semakin perih luka yang ditorehkan dan aku tidak yakin waktu mampu memulihkan luka itu.

Katakan aku egois, katakan aku jahat, katakan aku bodoh, katakan aku apa saja, tapi aku tidak ingin Jaejoong mengalami kepedihan seperti itu. Aku ingin dia bahagia dengan orang yang sanggup membahagiakan dirinya. Bukan seperti aku yang terlalu takut untuk memulai sesuatu, terlalu takut untuk merasakan sakit ketika suatu saat Jaejoong memilih meninggalkanku seperti umma. Untuk itu, biarlah kami berpisah sekarang. Biarlah Jaejoong menangis sekarang. Biarlah dia membenciku. Semua ini kulakukan demi dirinya. Demi kebahagiaannya. Demi Jaejoong.

Aku masih merasakan sakitnya tamparan Jaejoong kala aku mengatakan hubungan kami berakhir. Aku masih merasakan betapa pedihnya melihat airmata Jaejoong dan airmata itu mengalir karena aku. Namun aku yakin, meski kisah cinta kami berakhir, suatu saat Jaejoong akan melupakan aku dan mendapatkan penggantiku. Seperti aku yang mendapatkan penggantinya. Aku menemukan gadis yang aku anggap cocok untuk diriku dan sebagai pendamping hidupku.

Kenapa aku katakan cocok? Karena aku tidak mencintainya. Ya, aku tidak mencintai gadis itu seperti aku mencintai Jaejoong. Mungkin aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi selain dengan Jaejoong. Meskipun aku tidak mencintainya, bukan berarti aku tidak menyayanginya. Aku menyayangi gadis itu seperti adikku sendiri, seperti seorang sahabat, dan bagiku itu cukup untuk membina hubungan dengannya.

Cho Kyuhyun, nama gadis itu, adalah sahabat Siwon di SMA. Waktu itu aku sama sekali tidak terlalu perduli dengan gadis mana pun karena hatiku masih hanya akan aku berikan kepada Jaejoong. Namun ketika aku melihat Kyuhyun yang manis, Kyuhyun yang lucu, Kyuhyun yang dekat dengan adikku, aku merasa telah menemukan seseorang untuk membantuku menjaga Siwon. Aku menemukan orang yang mampu untuk bersama denganku dan ketika suatu saat kami diharuskan berpisah maka perpisahan itu tidak akan terlalu menyakitkan.

Ya, sekali lagi aku memang jahat. Tapi itulah aku. Hatiku telah mati sejak aku berpisah dengan Jaejoong. Satu-satunya orang yang aku anggap tidak akan pernah pergi dariku hanyalah Siwon. Walau nantinya dia akan mempunyai kehidupan sendiri, tapi Siwon tetaplah adikku. Dia tidak mungkin mengkhianatiku. Ya, Siwon tidak akan mungkin mengkhianatiku.

End Yunho P.O.V

Sebulan Kemudian

Plak!! Tamparan keras di pipi Siwon itu mendarat dengan mulus tanpa bisa Yunho hentikan. Kegeramannya mendengar Siwon memilih tinggal bersama dengan umma mereka adalah hal yang paling tidak ingin Yunho dengar. Dalam benaknya Yunho terus bertanya, apakah Siwon sudah tidak betah lagi tinggal bersamanya? Apakah Yunho berbuat suatu kesalahan sehingga Siwon memilih pergi meninggalkannya? Atau apakah Siwon tidak bahagia bersama dengan dirinya? Apapun itu, Yunho sudah terlanjur terbakar api kemarahan dan kekecewaan karena orang yang dia anggap tidak akan pernah berkhianat ternyata menorehkan luka yang lebih dalam.

“Adik tak tahu diri!! Tega sekali kau melakukan ini kepada hyungmu sendiri! Hyung yang telah membesarkanmu seorang diri selama lima tahun ini! Kau tahu bagaimana perasaan hyung terhadap orang tua kita dan tetap saja kau memilih mereka! Mereka yang telah membuang kita Siwon!”

“Maafkan aku hyung! Aku hanya…”

“Simpan saja alasanmu itu! Aku tidak mau dengar! Aku kecewa padamu Siwon! Sangat kecewa!” bentak Yunho yang langsung membuat Siwon menatapnya sendu. Namun Yunho sama sekali tidak terenyuh dengan tatapan adiknya itu. Baginya semua yang Siwon lakukan tidak ada artinya lagi. Yunho memalingkan wajahnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Siwon tidak sanggup lagi menatap wajah Yunho.

“Mulai hari ini kau bukan adikku lagi. Pergilah kemanapun kau mau. Aku tak perduli lagi.” Tegas Yunho sambil beranjak pergi meninggalkan Siwon yang terus menundukkan kepalanya. Pria itu pergi ke arah ruang makan, namun berhenti ketika dia berada di dinding pembatas antara ruang keluarga dan ruang makan. Yang dirasakan oleh Yunho sekarang adalah hatinya seperti dicabik oleh kuku tajam binatang buas.

Pria yang jarang menangis itu, akhirnya kalah oleh airmatanya sendiri. Dia bersandar dan jatuh terduduk di dinding pembatas tersebut. Yunho tak sanggup lagi menahan sakit di hatinya karena keputusan Siwon untuk pergi darinya. Rasa sakit ini sama seperti ketika Jaejoong juga pergi setelah Yunho memutuskan hubungan dengan gadis bermata bulat itu.

Dalam pikirannya, apakah ini hukuman dari Tuhan untuknya karena telah menyakiti hati seorang gadis yang tulus mencintainya? Apakah ini karma untuknya? Yunho tak mengerti meski dia beragumen dengan logikanya sendiri bahwa dulu dia melakukan hal itu kepada Jaejoong demi kebaikan gadis itu. Jadi mengapa sekarang hal ini terjadi kepadanya. Mengapa perpisahan ini terjadi padanya dan mengapa harus Siwon yang melakukannya?

Siwon adalah keluarganya. Siwon adalah adiknya. Jika Tuhan memutuskan bahwa Siwon lebih baik pergi daripada bersamanya, apakah ini artinya Yunho bukan kakak yang baik untuk Siwon? Apakah ini artinya Yunho pun bukan seseorang yang patut disayangi oleh Siwon? Semua hal tersebut berkecamuk di dalam diri Yunho. Dia tak mampu berpikir logis lagi. Yang ada sekarang adalah luka hati dan penyesalan. Yunho tak tahu apakah dia bisa mengatasinya kali ini. Yunho benar-benar tidak tahu.

END

Advertisements