Tags

, ,

munch_2014_09_28_122939

( 。・_・。)人(。・_・。 )

Title : Suho and Kris – Haru Wo Matsukoro

Chapter 1 : Autumn Wind

Pairing : Krisho, a bit of Wonkyu and appreance of EXO members

Disclaimer : All casts are belong to their self and God also to the amazing mangaka, Kyoko Hikawa sensei and her publishing company

Inspired : Shoujo Manga Chizumi and Fujiomi – Haru wo Matsukoro by Kyoko Hikawa sensei

Warning : Un-betaed, GS, OOC, AU, Change of Surnames and Ages for the Story

( 。・_・。)(。・_・。 )

Suho P.O.V

Kakak perempuanku satu-satunya kemarin baru saja pergi untuk berbulan madu. Namun sebelum dia pergi, kakakku, Cho Kyuhyun, ah bukan. Dia sudah bukan lagi seorang Cho sejak dia menikah dengan kakak iparku, Choi Siwon. Ya, namanya sudah berganti. Oh, sampai mana tadi aku? Ah ya, sebelum kakakku Kyuhyun pergi, dia sempat memberikan aku sebuah topi dengan pinggiran bundar berhiasakan hiaan buah ceri. Sungguh cantik.

Topi yang diberikan oleh kakakku sebagai kenang-kenang, topi yang begitu indah sehingga aku langsung memakainya ketika aku pulang dari mengantarnya ke bandar, topi yang sore itu juga direbut oleh angin yang berhembus.

End Suho P.O.V

.

.

.

SM High School – Kelas Suho

“Kris sunbae dari kelas 2 mencariku?!!” pekik seorang gadis terkejut bukan main sambil menundingkan jari telunjuknya ke wajahnya sendiri, ketika salah satu sahabatnya mengatakan seorang kakak kelas mencarinya.

“Apa Kris sunbae yang kau maksud adalah kakak kelas kita yang terkenal dingin, arogan, memiliki wajah menakutkan dan gemar berkelahi itu?” tanya gadis itu mulai merapatkan dirinya ke jendela kelas dan tanpa dia sadari, tangannya meremas tirai jendela itu. Gadis itu bingung sekaligus takut dengan jawaban yang akan diberikan oleh sahabatnya tersebut.

“Benar Suho-ah. Itu sudah pasti dia!” tegas Oh Sehun, sahabat gadis dengan panggilan Suho-ah itu, sambil memukul meja belajar yang ada di depannya.

Suho-ah atau Cho Suho, langsung membulatkan kedua bola matanya. Tubuhnya mulai bergetar karena semakin ketakutan dengan kenyataan bahwa sunbae yang terkenal garang itu sedang mencarinya.

Memangnya aku salah apa? Batinnya ingin menangis saat itu juga.

“Memangnya kau sudah melakukan apa sampai dia mencarimu Myeonie?” tanya satu lagi sahabat Suho, Byun Baekhyun, seakan dia bisa membaca pikiran Suho dengan baik. Suho menggeleng kuat-kuat untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. Suho panik karena memang dia tidak ingat pernah melakukan suatu kesalahan sampai dia menjadi target dari orang yang paling ditakuti di sekolah bahkan oleh sekolah lain.

Dalam kepanikannya, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di pintu kelas mereka. Ketiga gadis itu langsung melihat ke sumber suara ketukan itu dan sontak ketiganya menahan nafas.

Disana, di depan pintu kelas yang terbuka, berdiri orang yang sedang dibicarakan oleh Suho, Sehun dan Baekhyun. Wu Yifan atau sering dipanggil dengan sebutan Kris, memandang ketiga gadis di depannya secara seksama sampai irisnya itu menangkap sosok yang dicarinya sejak pagi tadi.

“Kau disini rupanya.” Ujar Kris datar dan dingin seperti es.

“Kris sunbae!” seru Suho kaget dengan suara berat Kris. Suho menatap balik sorot mata Kris yang tajam yang mengarah lurus kepadanya, sehingga membuat semakin erat memegang tirai jendela. Suho bahkan mencoba menutupi dirinya yang memang mungil di balik tirai tersebut.

Perlahan namun pasti, Kris melangkah mendekati Suho. Kedua sahabat Suho, Sehun dan Baekhyun hanya mampu terpaku di tempat mereka masing-masing meski mereka sudah mengambil ancang-ancang membawa kabur Suho jika situasi akan menjadi buruk.

Sedangkan Suho, tubuhnya terus bergetar karena takut akan dipukul oleh Kris. Suho menutup matanya rapat, menanti apa yang akan dilakukan oleh sunbaenya tersebut. Namun Suho tidak pernah mengira bahwa dia hanya merasakan satu sentuhan ringan di kepalanya.

Suho memberanikan diri membuka kedua matanya dan heran karena Kris sudah tidak lagi berada di dekatnya. Suho melihat Kris yang sudah berjalan menuju pintu kelas mereka walau dia semat berbalik dan berkata,

“Itu milikmu bukan?” kemudian berlalu begitu saja. Suho yang masih tak mengerti apa yang baru saja terjadi hanya mampu diam seribu bahasa dan meraih sesuatu yang berada di atas kepalanya.

Topi eonnie. batin Suho ketika dia melihat topi yang kemarin dicuri oleh sang angin telah kembali ke tangannya berkat Kris. Suho memandang kembali pintu kelasnya berharap bahwa Kris masih ada disana karena dia ingin menyampaikan sesuatu. Namun, Suho hanya bisa menghela nafas karena Kris sudah sejak tadi pergi dari kelasnya.

“Dia mencarimu ke seluruh kelas satu hanya untuk memberikan benda itu.” Ucap Sehun sedikit curiga dengan kejadian yang baru saja terjadi. Dalam diri gadis yang lemayan tinggi itu, adalah mustahil seorang seperti Kris mau bersusah payah mencari Suho hanya karena ingin mengembalikan sebuah topi. Benar-benar mencurigakan. Tetapi Sehun memilih untuk menutup mulutnya selagi Kris tidak berbuat macam-macam kepada Suho.

Sementara itu, Suho sendiri juga masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Apakah benar Kris mau berbaik hati kepadanya padahal dia terkenal tidak punya belas kasihan jika sudah berkelahi. Suho mengingat kembai kejadian saat dia kehilangan topi tersebut. Masih sangat jelas ketika topi tersebut terbang di tiup angin, Suho berteriak kencang memanggil nama Kyuhyun seolah-olah dengan perginya topi itu berarti Kyuhyun pun meninggalkan Suho selamanya. Suho juga masih mengingat betapa kerasnya dia menangis karena insiden itu.

Apa dia melihatku menangis saat itu ya? Tanya Suho lagi dalam hatinya. Suho memegang topi pemberian Kyuhyun, memikirkan Kris yang mungkin saja memergokinya sedang menangis.

Suho terus berpikir meski pada akhirnya dia mengambil keputusan bahwa tetap saja Kris sudah membantunya mengembalikan topi kenangan dari Kyuhyun. Untuk itu, Suho harus mengucapkan terima kasih. Ya, dia ingin berterima kasih kepada Kris.

.

.

.

SM High School – Lorong untuk Kelas 2

Suho berjalan sambil tertunduk ketika dirinya diperhatikan semua kakak kelas yang berada di lorong tersebut. Mungkin mereka bingung dengan kehadiran seorang anak kelas satu di lorong khusus untuk kelas 2 itu.

Merasa terus diperhatikan, Suho kembali panik dan ketakutan sendiri. Dia tidak menyangka bahwa di akhir pergantian jam pelajaran, masih banyak anak kelas dua yang berkeliaran dan keluar dari kelas masing-masing. Suho tidak terbiasa dengan situasi ini karena di bagiannya, semua siswa kelas satu pasti sudah berada di kelas masing-masing lima menit sebelum pergantian jam pelajaran.

Suho takut namun dia menguatkan dirinya, kembali kepada tujuan awal mengapa dirinya ke lorong kelas dua. Dia ingin mencari Kris dan mengucapkan terima kasih kepada sunbaenya itu.

Suho beranjak ke salah satu kelas yang pintunya terbuka. Disana dia melihat tiga orang siswa pria yang terlihat seperti anak berandalan. Melihat siswa-siswa itu Suho pun mendekat karena dia merasa sunbae-sunbaenya tersebut pasti mengenal Kris dan mengetahui keberadaannya.

Perlu diketahui mengapa Suho berani mendekati berandalan-berandalan itu adalah karena pola pikirnya sebagai berikut.

Kris, siswa yang terkenal suka berkelahi sama dengan siswa berandalan

Didepan Suho ada beberapa siswa yang terlihat sangar sama dengan berandalan

Sesama berandalan pasti mengenal satu sama lain berarti mereka mengenal Kris

Mengenal Kris berarti mereka tahu dimana Kris

Jadi, dengan polosnya, Suho mendekati mereka dan bertanya,

“Permisi sunbae. Maaf jika saya mengganggu, tapi apa sunbae tahu dimana Kris sunbae?”

Ketiga siswa tersebut menghentikan canda dan tawa mereka untuk melihat siapa yang berani mengganggu mereka. Ketika ketiganya melihat seorang gadis mungil dan manis menyapa mereka, otak mesum dan nakal mereka mulai bekerja.

“Kau mencari Kris, kecil?” tanya salah seorang siswa berandalan tersebut sambil menyeringai, membuat Suho memundurkan tubuhnya sedikit. Namun Suho masih bisa mengangguk pelan sebagai jawaban.

“kalau begitu ikut kami manis. Kami akan membawamu kepada Kris.” Ujar siswa itu lagi sambil menarik tangan Suho tanpa seizin gadis mungil itu. Mereka berjalan cepat sehingga membuat Suho kesulitan mengikuti ketiganya. Suho sedikit meronta untuk dilepaskan, tetapi pegangan siswa tadi terlalu kuat dan akhirnya Suho hanya bisa pasrah mengikuti mereka bertiga.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak gerik mereka sejak Suho mulai mendekati dan bertanya kepada ketiga berandalan itu. Orang itu pun langsung mengikuti Suho dan ketiganya tanpa banyak bicara.

.

.

.

Taman Belakang Sekolah

“Um… maaf sunbae, tapi dimana Kris sunbae?” tanya Suho takut-takut kepada ketiga sunbae yang sudah membawanya ke salah tempat terasing di taman belakang sekolah mereka. Wajar Suho ketakutan saat ini karena sekarang dia sedang dikelilingi oleh ketiga sunbae yang dia pikir akan membantunya. Ketakutan Suho bertambah ketika salah satunya terus saja mencoba menyentuh bagian tubuh Suho yang seharusnya tidak boleh terjamah sembarang. Beruntung Suho selalu bisa menghindar meski lambat laun pergerakannya semakin terbatas karena tubuhnya mulai tersudut di tembok di belakangnya.

“Sudahlah manis. Tidak usah mencari anak nakal itu. Lebih baik kau bermain dengan kami saja.” Ujar salah satu sunbae yang berad didepan Suho. Suho meringkuk bagaikan anak kucing yang dibuang. Panik mulai melanda gadis manis nan polos itu.

“Ta…tapi…”

Buagh!!

Belum selesai Suho bicara, sunbae yang ada di depannya sudah terpental dan sekarang tergeletak di tanah sambil memegang hidungnya yang berdarah. Suho membelalakan kedua matanya dan tubuhnya semakin bergetar ketakutan ketika dia melihat darah terus mengalir dari sang sunbae yang malang tersebut.

“Pergi.” Satu kata namun disertai dengan nada dingin yang mengandung ancaman serta merta langsung membuat ketiga siswa berandalan itu lari terbirit-birit. Mereka tidak mengira Kris, yang meninju wajah salah satu dari mereka, bisa berada di tempat tersebut.

Sedangkan yang bersangkutan langsung menatap penuh amarah kepada Suho. Kris tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan gadis yang sekarang menatap balik ke arahnya dengan matanya yang lucu itu meski tubuhnya terus bergetar ketakutan sambil meremas kedua tangannya.

“DASAR BODOH!!!” teriak Kris kesal kepada Suho, membuat gadis mungil itu beringsut ke tembok di belakangnya, berharap tembok itu mau menelannya sekarang. Suho benar-benar takut dan panik sampai dia rasanya dia ingin menangis. Matanya sudah berkaca-kaca sejak Kris membentaknya seperti itu. Suho bahkan sedikit kesulitan bernafas karena ketakutan yang berlebihan. Namun Kris tidak menyadari itu dan kembali memarahi Suho.

“Mengapa kau mengikuti begundal-begundal itu?! Kau bisa celaka kalau tadi aku tidak mengikutimu!!” marah Kris masih dengan teriakan demi teriakan. Sementara itu Suho sendiri hanya mampu diam karena tidak tahu harus menjawab apa. Namun sedetik kemudian dia ingat bahwa dia ingin berterima kasih kepada Kris. Walau situasinya sangatlah tidak mendukung ditambah Suho yang sudah ketakutan setengah mati, akhirnya gadis kelas satu itu membuka mulutnya.

Eonnie, aku takut. Aku takut sekali. Batin Suho berkali-kali ketika dia melihat wajah marah Kris. Namun sekali lagi, Suho mencoba bertahan dan akhirnya suaranya keluar juga meski terbata-bata karena Suho juga sedang berusaha menahan agar dia tidak menangis di depan Kris. Suho takut jika Kris akan tambah marah dengannya.

“Ma…maafkan ak…aku Kr…Kris sun… Kris sunbae. Ak… ak… aku hanya, aku hanya ingin meng… mengucapkan terima kasih atas to… topi…” Suho tak sanggup lagi menyelesaikan ucapannya. Airmatanya turun dan dia lalu membungkuk dalam sebelum berlari meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Kris yang termangu karena melihat airmata Suho.

Eonnie… Eonnie… Kyu eonnie… lirih gadis itu dalam hatinya terus menerus. Suho memanggil nama sang kakak, Kyuhyun. Suho selalu merasa tenang dan kuat jika berada bersama sang kakak. Namun Suho ingat bahwa sekencang apapun dia berteriak memanggil nama sang kakak, Kyuhyun tidak akan mendengarnya sekarang.

Suho menghentikan larinya dan terpaku. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya dengan panjang. Suho lalu menghapus airmatanya dan mencoba mengendalikan emosinya. Suho tahu dia tidak boleh lemah seperti ini. Dia sudah berjanji kepada sang kakak bahwa dia akan menjadi gadis yang kuat dan mandiri. Suho sudah berjanji seperti itu agar Kyuhyun tidak lagi cemas akan dirinya yang ceroboh.

“Kau kuat. Kau harus kuat Cho Suho.” Gumam Suho kemudian berjalan menuju kelasnya.

.

.

.

Rumah Keluarga Cho

“Eonnie, aku pulang.” sahut Suho ketika dia memasuki rumah kecilnya itu. Rumah yang sudah ditinggalinya sejak dia lahir.

Hening menyelimuti rumah itu setelah Suho mengucapkan salam itu. Suho mendesah perlahan sebelum mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Dengan gontai, Suho berjalan ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamarnya.

Suho membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam. Suho meletakkan tasnya di meja belajar lalu dia duduk di pinggir ranjang. Tangannya menggenggam sebuah topi cantik. Topi yang sempat hilang dan berhasil diketemukan seseorang yang tidak disangka-sangka oleh Suho.

Suho menatap topi itu lalu memeluknya. Airmatanya kembali mengalir kala pikirannya menerawang kepada Kyuhyun. Suho tahu dirinya tidaklah kuat dan tegar seperti yang dia janjikan kepada Kyuhyun. Dia ceroboh, terlalu polos dan mudah panik. Bagaimana bisa dia hidup sendiri tanpa sang kakak disampingnya.

Namun, semua itu tidak membuat Suho menjadi anak yang egois. Kebahagian Kyuhyun adalah nomor satu untuknya seperti Kyuhyun terhadapnya. Suho tahu betapa berat kehidupan yang dijalani oleh Kyuhyun ketika kedua orang tua mereka meninggal karena kecelakaan. Saat itu, Kyuhyun terpaksa putus sekolah demi mencari penghasilan untuk biaya hidup keluarga kecil mereka. Walaupun begitu, keduanya sangat menyayangi satu sama lain dan merasa mereka bisa mengatasi permasalahan apa saja jika mereka selalu bersama.

Itu yang menjadi pemikiran Suho sampai Kyuhyun jatuh cinta kepada Choi Siwon, atasan Kyuhyun. Suho melihat sisi lain dari Kyuhyun. Sisi lain yang tidak akan pernah bisa diperlihatkan oleh kakaknya itu selain dengan Siwon. Pancaran bahagia dan cinta yang begitu indah selalu Suho lihat ketika Kyuhyun bersama dengan Siwon.

Namun, Kyuhyun masih mengingat Suho. Kyuhyun pernah hampir membatalkan pernikahannya sendiri karena khawatir dengan keadaan Suho jika dia menikah dan meninggalkan Suho.

Suho-ah adikku satu-satunya Wonnie. Dia itu ceroboh dan cengeng. Suho membutuhkan aku untuk ada disampingnya. Aku tak mungkin meninggalkannya karena dia bergantung kepadaku. Itu adalah ucapan kakaknya kepada Siwon ketika Kyuhyun ingin membatalkan pernikahannya karena Siwon mengajaknya pergi ke kota lain. Saat itu Siwon sedang mengembangkan usaha dan dia perlu berpergian demi tujuannya tersebut.

Suho ingin Kyuhyun bahagia. Dan jika kebahagiaannya terletak pada Siwon, maka Suho akan memberikannya. Maka dari itu, Suho meyakinkan Kyuhyun dan berjanji bahwa dia akan baik-baik saja setelah kakaknya pergi nanti. Suho sudah berjanji untuk menjadi gadis yang lebih kuat. Janji demi sang kakak.

Suho melepaskan pelukannya dari topi tersebut. Dia lalu menghapus airmatanya dan menatap lekat topi tersebut. Cukup lama Suho memperhatikan benda mati itu sampai dia mengambil sebuah kotak dan menyimpan topi tersebut di dalamnya lalu menaruh kotak tersebut di atas meja nakas di samping ranjangnya. Suho kemudian mengganti pakaiannya dan merebahkan dirinya di ranjang menghadap kepada kotak berisi topi itu.

“Eonnie, untuk sementara biarkan topi eonnie berada dekat dengan Suho. Suho janji Suho akan lebih kuat dari sekarang. Suho sayang eonnie.” gumamnya sebelum menutup matanya dan tertidur.

.

.

.

Ruang Guru

Suho menekan tombol bertuliskan copy lalu membiarkan mesin itu bekerja sementara dia kembali melanjutkan memberikan warna di secarik kertas dengan sebuah kuas.

Setelah bel pulang berbunyi tadi, Suho yang kebetulan belum pulang, diminta oleh Park Seongsaenim untuk membantunya membuat selebaran untuk festival olahraga di sekolahnya. Jadi disinilah dia, mengerjakan selebaran tersebut sedangkan sang guru sedang mencari bala bantuan lain karena dia tidak mau Suho bekerja sendiri dan pulang terlalu malam.

“Hei. Kau Suho bukan.” Suho sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya ketika satu suara berat menyapanya. Suho membalikan tubuhnya dan matanya langsung terbelalak ketika melihat Kris berdiri tak jauh darinya. Dengan cepat, Suho sudah berdiri di sudut ruangan, meringkuk ketakutan sambil menggenggam erat kuas ditangannya.

“Aku diminta Park seongsaenim untuk membantu menyelesaikan selebaran.” Lanjut Kris pelan sambil melangkah mendekati Suho. Suho sendiri masih terdiam dan terus memperhatikan Kris, khawatir tiba-tiba saja pemuda tinggi itu akan memukulnya seperti saat dia memukul berandalan kemarin.

“Jadi… Apa yang harus aku lakukan?” tanya Kris ketika dia sudah berdiri tepat dihadapan Suho. Suho bertambah panik kala Kris hanya berjarak beberapa sentimeter dari tempatnya berada. Suho ingin melarikan diri namun dia sadar bahwa Kris berada disini karena permintaan gurunya. Jika Kris datang untuk membantu, berarti pekerjaan akan cepat selesai, dan jika pekerjaannya cepat selesai maka dia bisa segera berpisah dengan Kris.

Jadi dengan sedikit keberanian yang masih tersisa di dalam diri Suho, gadis mungil itu beranjak menjauhi sudut ruangan dan berjalan perlahan ke meja kerjanya sebelum Kris memanggilnya.

“I…ini… To…tolong sunbae warnai selebaran yang sud… sudah selesai diper… di perbanyak.” Sahut Suho terbata-bata karena panik. Dia menyerahkan beberapa lembar kertas dan kuas yang belum terpakai kepada Kris sebelum kembali meneruskan pekerjaannya. Suho bermaksud bersikap acuh tak acuh dengan kehadiran Kris.

Kris menghela nafas sembari iris matanya terus memperhatikan gerak gerik Suho. Kris menyadari bahwa Suho bekerja tanpa menggunakan celemek. Kris berpikir, gadis itu ceroboh sekali bekerja dengan tinta tapi tidak menggunakan celemek. Kris lalu melihat celemek yang ada di dekatnya dan bermaksud memberikannya kepada Suho.

“Suho.” Entah karena Kris yang memanggil nama Suho hanya dengan nama kecilnya atau karena suara berat Kris itu sendiri, Suho terlonjak kaget dibuatnya. Dan ketika Suho kaget, Suho cenderung menjadi panik dan terburu-buru sehingga sifat cerobohnya datang kembali.

Suho berbalik dengan cepat untuk berhadapan dengan Kris. Tapi karena Suho berbalik terlalu cepat, dia menjadi kehilangan keseimbangan dan akhirnya menabrak dan terjatuh di atas tubuh Kris. Beruntung, tidak ada yang terluka. Akan tetapi ketika Suho sadar dengan apa yang baru saja terjadi, dia langsung menahan nafasnya. Matanya membesar menatap sebuah noda di seragam Wushu Kris. Kris memang baru saja selesai latihan Wushu ketika dirinya dimintai bantuan oleh Park seongsaenim.

“Maafkan aku!!” seru Suho meminta maaf.

Aduh, bagaimana ini? Dia pasti marah dan akan membentakku lagi. Panik Suho dalam hati. Saking paniknya, Suho menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya yang sudah berurai airmata karena takut dibentak dan dimarahi lagi oleh Kris.

Kris yang melihat Suho menangis sedemikian rupa merasa bersalah. Dia tidak menyangka jika tindakannya kemarin akan berdampak seperti ini. Ah, tidak. Kris seharusnya tahu bahwa seroang gadis pasti akan takut dibentak oleh orang sepertinya. Kris menghela nafas panjang sebelum meletakkan satu tangannya di kepala Suho.

“Kumohon jangan menangis lagi. Semua salahku. Tidak seharusnya aku membentakmu kemarin.” Ucap Kris lembut. Suho terkejut dengan penuturan Kris. Dia juga mengakui kesalahannya.

Perlahan, Suho mengangkat kepalanya dan memandang Kris dengan matanya yang berair. Suho tidak menduga Kris akan berucap sedemikian lembut kepadanya. Apalagi saat Kris memberikan celemek untuk kepadanya, membuat Suho semakin terkejut sekaligus merasa tidak enak karena sudah salah duga terhadap Kris. Bahkan Kris tidak marah oleh kecerobohan Suho yang sampai membuat seragam Wushunya kotor.

Semua itu membuat Suho berpikir bahwa Kris ternyata tidak seburuk yang dia kira. Kris tidak menakutkan jika Suho mau membuka mata dan hatinya. Setelah Suho pikir lebih dalam lagi, Kris membentaknya pun karena dia mencemaskan Suho. Kris bahkan mau bersusah payah mencarinya hanya untuk mengembalikan topi pemberian Kyuhyun.

Kris sunbae sepertinya memang orang yang baik. Batin Suho terus bergumul dengan pemikirannya sendiri sampai dia tidak sadar bahwa dia sudah ikut dengan sang guru berserta Kris ke sebuah restoran Cina. Park seongsaenim mengajak keduanya makan malam di restoran tersebut sebagai tanda terima kasih karena sudah membantunya. Namun sedari tadi, sang guru memperhatikan Suho terus melamun sehingga dia harus memanggil namanya berkali-kali.

“Suho-ah, Suho-ah. Kau mau makan apa?” tanya Park seongsaenim yang dijawab oleh Suho dengan,

“Kue coklat.” Sontak saja, Park seongsaenim menggelengkan kepalanya meski tawa kecil terdengar dari bibirnya kala dia membalas Suho

“Suho-ah. Kita berada di restoran Cina.”

“Eh?” Suho bingung dengan jawaban sang guru. Tetapi sedetik kemudian dia menyadari keadaan sekelilingnya dan juga tatapan heran dari pelayan restoran yang menunggu pesanannya. Wajah Suho langsung memerah bagaikan kepiting rebus. Dia malu sekali apalagi dia ditertawakan oleh Park seongsaenim.

Akan tetapi, rasa malunya berganti dengan keterpukauan melihat sesuatu yang mustahil. Karena terlalu terpukau Suho sampai berteriak,

“DIA TERSENYUM!!!” dan membuat semua pengunjung menoleh ke meja mereka. Park seongsaenim memukul pelan dahinya sendiri melihat tingkah anak didiknya yang polos dan ceroboh itu. Sedangkan Kris, dia sedang kaget karena teriakan Suho namun setelahnya, dia kembali tersenyum. Baginya, gadis manis di depannya ini begitu lucu dan menggemaskan.

“Aduh kau ini Suho-ah. Kris itu manusia. Wajar jika dia tersenyum. Kau buat malu saja.”

“Maafkan aku.” Cicit Suho semakin menenggelamkan wajahnya di tangannya sendiri. Semburat merah muda masih setia mewarnai wajahnya yang putih bersih itu karena Kris masih terus memperhatikannya dengan seksama. Suho merasa malu karena sudah berbuat bodoh namun satu hal yang membuat Suho sedikit senang.

Dia senang karena bisa melihat senyum Kris.

Senyumnya indah. Wajahnya jadi semakin tampan. Pikir Suho di dalam benaknya. Dan segera setelah pikiran itu mencuat, Suho pun semakin merasa malu. Malu karena berpendapat seperti itu kepada seorang laki-laki.

“Omong-omong Suho-ah, aku dengar kau tinggal berdua saja dengan kakak perempuanmu. Aku dengar juga dia sudah menikah.” Sahut Park seongsaenim memulai pembicaraan lagi. Suho memanglingkan wajah dari Kris untuk menanggapi perkataan sang guru.

“Ya. Eonnieku orangnya suka cemas berlebihan sehingga dia sempat tidak mau meninggalkan aku sendiri dan karena eonnie akan datang di festival olahraga tahun ini, maka aku akan mengikuti beberapa kegiatan olahraga di festival tersebut agar eonnie yakin aku baik-baik saja.”

“Hm begitu.” Setelah Park seongsaenim berkata demikian, pesanan mereka pun datang. Semuanya menikmati makan malam itu walau tak jarang Suho melakukan kecerobohan lagi. Suho terlalu memikirkan keadaanya sendiri sampai dia tak sadar Kris terus memperhatikan gerak geriknya.

Pemuda tinggi itu terus berpikir sejak Suho mengatakan dia sudah tidak tinggal dengan sang kakak. Ingatannya kembali saat dia menemukan topi Suho.

Jadi itu alasannya kenapa dia menangis dan berteriak memanggil nama kakaknya saat topi itu terbang. Batin Kris saat dia ingat wajah menangis Suho. Kris sekarang tahu mengapa gadis itu selalu berusaha terlihat tegar padahal kenyataannya berbanding terbalik.

Gadis ini memang tidak bisa dilepas sendirian. Batin Kris lagi sambil tersenyum dan kembali memperhatikan Suho yang sedang membungkuk meminta maaf pada seorang pengunjung. Tampaknya Suho tidak sengaja menyenggol orang itu dan membuatnya terkena kuah sup.

Setelah mereka selesai makan malam, Park seongsaenim bermaksud mengantar Suho pulang karena sudah larut malam. Namun tawaran tersebut ditolak halus oleh suho karena dia merasa rumahnya hanya beberapa blok saja dari restoran Cina tersebut.

Suho pun akhirnya pulang sendiri. Sepanjang jalan menuju rumahnya, dia berkali-kali jatuh, menabrak tiang listrik, bahkan sampai di gonggongi oleh anjing sekitar. Meski membutuhkan waktu, akhirnya Suho selamat sampai dirumah. Gadis mungil itu tidak menyadari bahwa dia sudah diikuti oleh Kris sejak mereka berpisah di restoran. Kris hanya ingin memastikan Suho kembali ke rumahnya dengan selamat dan ketika Suho sudah masuk ke dalam rumah, Kris pun pergi.

Benar-benar tak bisa ditinggal sendiri.

.

.

.

Festival Olahraga SM High School

“Suho-ssi! Kemarilah! Semua sudah berkumpul!”

“Ya.” Sahut Suho sambil mengatur nafasny yang memburu. Dia baru saja ikut serta lari 100 meter. Suho sudah lelah karena sebelumnya dia sudah mengikuti pertandingan lainnya sebelum ini. Masih ada satu lagi lomba yang harus dia ikuti sebelum semuanya selesai.

Suho melirik ke arah penonton dan iris matanya menangkap sosok sang kakak, Kyuhyun, berdiri dengan sang suami, Siwon. Kyuhyun melambaikan tangannya agar Suho dapat menyadari kehadirannya. Suho tersenyum lebar, berusaha terlihat kuat di hadapan Kyuhyun agar kakaknya itu tidak khawatir dengannya walau sesungguhnya Suho sudah tidak kuat lagi untuk berdiri apalagi berlari.

“Kau baik-baik saja?” Suho mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun ke arah suara berat yang menyapanya. Senyum manis diperlihatkan kepada Kris dan Suho mengangguk sebagai jawaban.

Kris sunbae keren sekali. Batin Suho mencoba menutupi debaran jantungnya kala melihat Kris yang memakai seragam olahraga dan ikat kepala. Padahal semua seragam siswa pria di sekolahnya sama, tapi mengapa Kris terlihat tampan dan keren di mata Suho.

“Kalau kau lelah, istirahat saja.” Bujuk Kris yang iba melihat tampang Suho yang sedikit pucat. Namun lagi-lagi Suho menjawab bahwa dia baik-baik saja. Suho lalu membungkuk dan berlari ke tampat pertandingan selanjutnya yaitu lari estafet sedangkan Kris hanya mampu memandang punggung Suho sambil menggelengkan kepalanya dan beranjak pergi ke tempat pertandingannya sendiri.

Sementara dengan Suho, dia sebenarnya tidak ingin ikut pertandingan lari estafet ini karena lari estafet di sekolahnya agar terkesan menarik, selalu dibumbui dengan misi-misi kecil yang aneh-aneh. Seperti yang sedang dialami oleh Suho saat ini.

Ketika dia membuka secarik kertas dan melihat misi yang harus dia lakukan, jantungnya seakan mau lepas. Di dalam kertas itu tertulis,

Larilah ke garis finish dengan pacarmu.

“PACAR!!!” Kontan saja Suho kebingungan dan panik dengan misi yang diberikan kepadanya. Jadi dia hanya berdiri terpaku sambil menundukan kepalanya menutupi wajahnya yang memerah sempurna. Ditambah MC yang dengan semangat mengkomentari dirinya seperti ini,

“Pemirsa, aku baru saja dapat informasi kenapa Cho Suho-ssi dari kelas 1-3 berdiam diri seperti patung. Tampaknya Cho Suho-ssi harus membawa pacarnya ikut berlari agar bisa memenangkan pertandingan lari estafet ini! Bagaimana kelanjutan dari drama ini, mari kita tunggu dan saksikan bersama!” seru MC itu ketika dia mendapat informasi misi apa yang membuat Suho berdiam diri terus. Sepertinya sang MC terobsesi menjadi penyiar televisi.

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Panik Suho sampai hampir menangis. Dia sungguh malu.

“Aduh! Kenapa Suho polos sekali sih?! Kenapa dia tidak menarik sembarang orang saja?!” gemas Sehun yang menyaksikan sahabatnya menjadi ajang tontonan gratis seluruh siswa SM High School.

Tiba-tiba saja seorang pemuda meloncat dan mendarat sempurna di lapangan atletik tersebut. Dengan cepat dia berlari ke arah Suho dan langsung menarik tangan mungilnya. Namun Suho terlalu shok dengan apa yang terjadi sehingga kakinya lemas.

“Apa yang kau lakukan?! Ayo lari!” seru pemuda itu yang ternyata Kris.

“Ta… tapi… kakiku lemas.” Lirih Suho. Selain dia shok dengan keadaannya, Suho juga terkejut dengan kehadiran Kris yang datang membantunya lagi.

“Aish!” Karena gemas Suho tak juga berlari, Kris akhirnya mengangkat tubuh mungil nan ringan Suho di satu tangan dan langsung berlari menuju garis finish. Tentu saja aksi Kris tersebut menimbulkan keriuhan dari seluruh siswa yang menyaksikannya. Dan sekali lagi sang MC menambah sedikit bumbu agar aksi Kris itu terkesan dramatis.

“APA INI?!! APA INI?!! Ternyata pacar Cho Suho-ssi dari kelas 1-3 adalah Kris Wu-ssi. Ini baru berita!!! Berita baru ini!!!”

Kris terus berlari sambil membawa Suho yang tidak tahu harus bereaksi seperti apa dengan kejadian ini. Wajahnya bingung meski semburat merah masih setia bertahan di pipi putihnya yang mulus. Dengan tenaga dan keatletisan sempurna yang dimiliki oleh Kris, Suho akhirnya menajdi juara 1 untuk lomba lari estafet ini.

Kris pun akhirnya berhenti dan menurunkan Suho yang bingung harus berkata apa kepada Kris. Terlebih lagi semua orang membicarakan mereka berdua yang ternyata dianggap sebagai sepasang kekasih.

“Kris sunbae… Sem… semua orang membicarakan kita.” Sahut Suho panik. Gadis itu benar-benar mudah sekali panik.

“Kenapa? Kau tak suka kalau kita berpacaran?” tanya Kris seakan apa yang baru saja terjadi bukan masalah besar untuknya.

“Bukan begitu! Aku… aku… Eh? Kris sunbae tidak…”

“Aku tidak keberatan jika kau juga tidak keberatan.”

“Tapi… pacar… aku… Kris sunbae…”

“Bagaimana, kau setuju?” tanya Kris lagi memastikan bahwa Suho tidak keberatan menjadi pacarnya. Sebuah anggukan kecil menjadi jawaban bagi Kris sehingga pemuda tinggi itu tersenyum tulus sambil menepuk pucuk kepala Suho lembut.

“Kalau begitu ayo buat kakakmu untuk tidak perlu mencemaskanmu lagi.” Sahut Kris sambil menarik tangan Suho untuk menemui Kyuhyun dan Siwon.

Singkat cerita, Suho hanya bisa diam, menundukkan kepala seperti biasanya, dan menahan malunya ketika Kris dengan jantan mengatakan kepada Kyuhyun,

“Mulai hari ini, aku yang akan menjaganya.”

END

Advertisements