Tags

, ,

munch_2014_09_28_122939

( 。・_・。)人(。・_・。 )

Title : Suho and Kris – Haru Wo Matsukoro

Chapter 2 : Once In A Spring

Pairing : Krisho, Zhoumi and a bit appreance of EXO members and Wonkyu

Disclaimer : All casts are belong to their self and God also to the amazing mangaka, Kyoko Hikawa sensei and her publishing company

Inspired : Shoujo Manga Chizumi and Fujiomi – Haru wo Matsukoro by Kyoko Hikawa sensei

Warning : Un-betaed, GS, OOC, AU, Change of Surnames and Ages for the Story

( 。・_・。)(。・_・。 )

Suho P.O.V

Pacarku, Kris Wu adalah seorang yang kuat, tidak banyak bicara, dan memiliki tatapan tajam yang seakan mengintimidasi orang lain. Tidak ada satu pun yang berani menentangnya karena itu. Seperti yang terjadi sekarang.

Brugh!!

“Pergi.” Satu ucapan darinya terhadap siswa berandalan yang sejak tadi menganggu siswi-siswi sekolah kami yang memasuki gerbang, mampu membuat mereka lari terbirit-birit.

Begitulah Kris oppa kekasihku yang meski terlihat menakutkan namun tetap tampan. Aku pikir hanya aku yang cukup berani berada di dekatnya, menjadi pacarnya karena dulu, tidak ada satu gadis pun yang mau dekat dengannya karena statusnya yang terkenal suka berkelahi. Namun, belakangan ini sepertinya hal itu berubah.

“Pagi Kris oppa.” Sapaku ceria ketika aku berhasil mengejarnya sehingga bisa berdiri di sampingnya. Kris oppa pun menoleh dan melempar senyumnya yang jarang dia perlihatkan kepada orang lain.

“Suho-ah.” Sapanya balik. Aku baru mau melangkah agar lebih dekat kepada Kris oppa ketika tiba-tiba saja,

“Pagi Kris-ssi.”

“Ah, pagi oppa. Kau sudah disini.”

“Kris! Pagi!”

Begitu banyak gadis-gadis seangkatan Kris oppa bahkan dari angkatanku yang menyapanya. Apalagi mereka sangat cantik meski sedikit agresif. Sekarang sangat sulit bagiku untuk hanya berdekatan dengan Kris oppa. Gadis-gadis itu benar-benar mengerubunginya bagaikan semut mengitari gula.

Aku berdiri sendiri sambil menggigit jariku, tak mampu menembus pagar yang dibuat oleh mereka. Aku berdiri memandangi mereka dengan perasaan tak menentu. Ingin rasanya memisahkan mereka dari Kris oppa tapi aku terlalu gugup dan juga takut. Takut jika aku salah bertindak maka aku bisa saja membuat Kris oppa menjadi malu di depan teman-temannya tersebut.

Aku terus saja berdiri seperti orang bodoh sampai aku melihat uluran tangan Kris oppa ke arahku dan tidak memperdulikan tatapan keberatan dari gadis-gadis itu karena tidak diperdulikan sama sekali oleh Kris oppa.

Aku sedikit kaget dengan tindakannya tersebut. Namun aku segera sadar dan menatap kedua mata Kris oppa. Dia tidak mengatakan apapun, tapi dari gerak tubuhnya aku mengerti Kris oppa ingin agar aku menyambut uluran tangannya. Terlebih lagi ketika aku melihat senyum kecil di wajah tampannya, membuatku tanpa sadar ikut tersenyum lalu meletakkan tangan kecilku di tangannya yang lebar.

Kris oppa langsung menarik tanganku dan segera pergi menjauhi para gadis itu yang kini menatapku dengan garang. Hhh… Kenapa sih sejak aku menjadi pacar Kris oppa, semua gadis seperti tidak senang melihatku?

End Suho P.O.V

.

.

.

“Jadi itu pacarnya Kris. Cukup cantik, ah lebih tepatnya dia lucu. Lumayan juga seleranya Kris.” Ucapan itu terlontar dari seorang lelaki tinggi berpenampilan modis denga rambut merah menyala. Dia menghisap rokoknya dengan perlahan sambil terus memperhatikan Kris yang menarik tangan Suho sedangkan yang bersangkutan hanya mengikuti tarikan Kris. Lelaki itu tersenyum penuh arti ketika dia melihat kedekatan antara Kris dan Suho.

.

.

.

SM Highschool – Kelas 2-E

“Hhh… Kenapa sih semua gadis terlihat begitu membenciku sejak aku berpacaran dengan Kris oppa? Mereka bahkan mengatakan aku jelek, bodoh, dan ceroboh.” tanya Suho kepada kedua orang sahabatnya Baekhyun dan Sehun. Suho juga sedikit bingung dengan tingkah beberapa gadis yang dengan terang-terangan menyebut dia dengan sebutan-sebutan kasar tersebut. Suho memang bisa merasakan aura tak suka dari mereka hanya saja Suho tak habis pikir mengapa mereka sampai mengejeknya seperti itu. Apakah peristiwa tadi pagi penyebabnya? Tapi Suho tidak berbuat apapun kecuali menerima uluran tangan dari Kris.

Kedua gadis teman sekelas garis miring sahabat Suho itu, saling menatap satu sama lain ketika mereka mendengar pertanyaan dan keluh kesah gadis manis nan polos itu. Mereka berpikir, perlukah mereka menjelaskan hal segamblang itu terhadap Suho? Apakah selama ini Suho benar-benar hanya menganggap semua perilaku ‘kejam’ gadis-gadis itu hanya karena mereka tipe seorang bully.

“Mereka berkata seperti itu kepadamu Suho-ah?” tanya Sehun yang langsung diangguki Suho dengan cepat.

“Benar-benar mereka itu! Walaupun apa yang dikatakan mereka adalah kenyataan tapi jangan langsung di depan orangnya bisa tidak sih?!” geram Sehun kesal meski secara tidak langsung dia juga mengolok Suho, sahabatnya sendiri.

Baekhyun menatap horor kepada Sehun karena berbicara apa adanya, ah bukan, maksudnya Sehun yang berbicara terlalu jujur, ah… itu juga bukan. Baekhyun menggelengkan kepalanya mencoba menetralkan pemikiran yang serupa tapi tak sama dengan Sehun.

“Sehunnie! Jangan katakan seperti itu! Suho bukan gadis seperti itu!” protes Baekhyun membela Suho yang sedari tadi menatap Sehun cemberut. Sehun menatap wajah Suho sesaat, lalu tiba-tiba saja Sehun mencubit pipi putih Suho.

“Kau itu tidak jelek Su, kau itu imut. Makanya mereka jadi iri kepadamu.” Sahut Sehun akhirnya kalah telak dengan tatapan ‘tajam’ Suho yang menggemaskan. Mendengar pujian Sehun, Suho pun langsung mengembangkan senyumnya dan membuat Baekhyun juga bernafas lega. Baekhyun tidak mau jika Suho sampai marah kepada Sehun, ya meski hal tersebut tidak mungkin terjadi mengingat hati Suho yang lembut dan baik hati seperti malaikat, namun tetap saja Baekhyun lebih memilih melihat senyum indah dari gadis bermarga Cho tersebut daripada tampangnya yang murah apalagi sampai bersedih.

“Lalu?” suara Suho membuyarkan lamunan Baekhyun dan membuat Sehun melepas pipi Suho.

“Apa?” tanya keduanya.

“Kalian tahu mengapa mereka mengejekku seperti itu? Mengapa mereka begitu membenciku?” tanya Suho lagi polos. Sehun menepuk dahinya sendiri sementara Baekhyun hanya menatap Suho aneh seperti Suho memiliki dua kepala.

“Kau sungguh tidak tahu atau kau hanya berpura-pura bodoh?” tanya Sehun lagi dengan gayanya yang memang sinis dan apa adanya.

“Ya ampun Oh Sehun!! Kenapa kau selalu saja begitu?! Jangan dengarkan gadis sinis itu Suho-ah.” Sela Baekhyun agar Suho tidak menghiraukan ucapan Sehun. Namun sepertinya kecemasan Baekhyun akan Suho yang kembali kesal dengan Sehun menjadi sia-sia belaka karena Suho sepertinya terlalu ‘manis’ untuk bisa mengerti bahwa dia baru saja dikomentasi pedas oleh Sehun. Mengapa demikian? Karena detik berikutnya setelah Baekhyun berucap demikian, Suho bertanya kembali kepada Sehun.

“Memangnya kenapa aku harus berpura-pura Hunnie?” See. Dan sekali lagi seorang Oh Sehun menepuk dahinya dan kali ini dia tidak sendiri. Byun Baekhyun ikut menemaninya. Suho benar-benar membuat keduanya temannya frustasi.

“Ya tuhan, kenapa kau berikan aku teman yang polos seperti dia? Pekerjaanku jadi bertambah dua kali lipat karena harus mengurusi anak ini.” Doa Sehun yang langsung mendapat tepukan cukup keras di belakang kepalanya dari Baekhyun.

“Kau diam saja!” tegas Baekhyun sambil mendelikkan kedua matanya membuat Sehun memutar matanya malas. Walau diantara mereka, dialah yang paling muda namun Sehun cukup berani kepada kedua temannya itu.

“Suho-ah, dengarkan aku. Benar kata Sehunna sebelumnya. Mereka itu iri karena kau pacarnya Kris sunbae. Mereka tidak bisa mendapatkan hati Kris sunbae jadi mereka melampiaskan kekesalan mereka kepadamu. Jadi jangan perdulikan mereka. Kau cukup bersama dengan Kris sunbae dan semua gangguan itu akan menghilang dengan sendirinya.” Nasihat Baekhyun perlahan berusaha menjelaskan sedemikian rupa kepada Suho bahwa dirinya tak perlu ambil pusing dengan tingkah gadis-gadis kurang kerjaan tersebut.

“Benar kata Baekkie, Suho-ah. Kau harus tetap bersama dengan Kris sunbae. Jangan pernah lepaskan pemuda sekeren dia. Sekarang coba kau bayangkan, Kris sunbae itu pemuda yang tampan, tinggi, kapten klub Wushu sekolah kita walaupun sebentar lagi akan lengser karena dia sudah kelas tiga, dan dia cukup pintar. Walau tatapan matanya yang tajam dan sikapnya yang dingin itu membuatnya sedikit menakutkan, tapi dia sangat cocok menjadi pelindung gadis ceroboh seperti dirimu.” Tambah Sehun mendukung namun tetap dengan komentar-komentar tanpa sensornya.

“OH SEHUN!!” teriak Baekhyun tak tahan dengan tingkah Sehun yang sangat kontradiktif. Disatu sisi dia membenarkan ucapan Baekhyun namun di sisi lain, Sehun seakan belum puas kalau belum mengingatkan kecerobohan Suho. Baekhyun tak pernah mengerti mengapa Sehun senang sekali ikut-ikutan membuat gadis manis nan polos itu semakin merasa kikuk dengan dirinya sendiri. Dan karena sikap Sehun yang seperti itu, Baekhyun pun mulai mewejangi Sehun dengan nasihat-nasihat bijaksana ala orang tua.

Sementara Suho sendiri, gadis mungil itu sedang mencerna perkataan Sehun dan juga Baekhyun. Suho mulai mengerti bahwa kekasihnya itu memang bisa dikatakan sempurna. Seharusnya dulu Kris bisa saja menjadi idola sekolah jika bukan karena reputasinya yang terkenal tukang berkelahi itu. Suho berpikir dan berpikir sampai dia menyimpulkan sesuatu yaitu,

Kris oppa tidak pernah digandrungi oleh gadis-gadis ini sebelum dia menjadi kekasihku. Kris oppa tidak pernah terusik ketenangannya selama di sekolah sebelum dia bertemu denganku. Jadi apa semua ini salahku?

.

.

.

Ruang Guru

Suho terlihat sedang berdiskusi dengan seorang guru yang bertugas sebagai ketua acara study trip untuk kelas dua. Guru itu sedang menjelaskan beberapa hal kepada Suho yang ditunjuk kelasnya sebagai bendahara dan karena saat rapat Suho berhalangan hadir, Suho baru mendapat penjelasan sekarang.

“Jadi dikelasmu tinggal berapa siswa lagi yang belum membayar Suho-ah?” tanya guru itu. Suho mencoba mengingat dan menghitung dengan jarinya, siapa saja yang belum membayar. Ketika dia sudah ingat, Suho menatap gurunya itu dan menjawab.

“Tinggal tiga siswa lagi seosaengnim.”

“Bagus. Nanti jangan lupa kau tagih ya. Ini, kau peganglah uang study trip kelasmu. Kemarin ketua kelasmu yang mengumpulkan lalu memberikannya kepadaku dan karena kau sudah ada, kini aku serahkan kepadamu. Kau yang bertanggung jawab.” Ucap guru itu lagi sambil menyerahkan amplop berisi sejumlah uang kepada Suho.

Suho menerima uang tersebut lalu membungkuk hormat dan meninggalkan guru tersebut. Suho menggenggam amplop uang itu dengan erat, takut jika dia lengah sedikit saja, uang itu akan lenyap dari tangannya. Suho terlalu berkosentrasi pada amplop itu sampai dia berjalan tanpa melihat kedepan. Hampir saja dahinya berciuman dengan tembok jika tidak dicegah oleh sebuah tangan yang langsung mendarat lembut di dahi Suho.

“Hati-hati Suho-ah.” Ucap suara itu pelan. Tangan itu masih berada di dahi Suho sebelum akhirnya memilih pucuk kepala Suho, menelusuri sambil membelai kepala bulat bermahkotakan rambut ikal tersebut sampai ujungnya yang terletak di bahu Suho. Tangan itu akhirnya menetap di bahu mungil itu.

“Kris oppa!” seru Suho senang melihat Kris setelah beberapa hari ini jarang bertemu dengannya karena jadwal mereka yang sedikit berbeda, dengan Suho yang kelas dua dan Kris yang sudah kelas tiga.

“Kau jadi bendahara kelas?” tanya Kris setelah dia melihat amplop uang yang dipegang oleh Suho.

“Ya oppa. Aku sedikit gugup karena ini uang yang sangat banyak. Tapi aku pasti bisa menyimpannya dengan baik.” Ungkap Suho mencoba terdengar yakin dengan dirinya sendiri meski nyatanya tidak. Suho hanya tidak ingin Kris cemas terhadapnya. Suho tidak mau menambah beban Kris yang telah menjadi siswa kelas tiga. Terlebih lagi, Kris pasti sibuk sekali dengan semua persiapannya untuk ujian penerimaan universitas.

“Aku tahu kau pasti bisa Suho-ah.” Dukung Kris yakin gadis mungilnya itu mampu melaksanakan tugasnya sebagai bendahara. Dukungan dari Kris membuat Suho tersenyum lebar dan merasa senang. Dia memang suka sekali jika Kris yakin dengan dirinya seolah-olah keyakinan Kris itu menjadi sihir ajaib bagi Suho untuk bisa melakukan sesuatu dengan baik.

“Kau mau pulang?” tanya Kris membuat Suho tersadar dari pikirannya. Dia mengangguk.

“Ayo, aku antar. Mana tasmu?” tanya Kris lagi ketika dia tidak melihat Suho memegang tasnya. Suho kelabakan sendiri ketika ditanya soal tas sekolahnya. Dia tak sadar telah meletakkannya di suatu tempat.

“Ah ya! Tas! Mungkin tertinggal di meja Go seosaengnim. Aku kesana dulu oppa.”

“Suho-ah. Tak perlu, tasmu disini.” Ucap Kris lagi ketika tak sengaja dia melihat tas Suho ada di salah satu meja guru yang mungkin masih mengajar kelas tambahan. Kris juga sebenarnya bingung mengapa Suho bisa meletakkan tasnya disana, namun Kris tak bertanya dan hanya mengambilnya.

“Ayo pulang.” ajak Kris setelah tas Suho berada ditangannya. Suho mengangguk lagi dan menundukkan kepalanya, malu karena bisa tak tahu dimana dirinya meletakkan tas sekolahnya sendiri. Tapi karena Suho menundukkan kepalanya, dia jadi tak melihat apa yang berada di depannya sampai,

“Suho-ah! Itu bukan pintu keluar! Itu ruang arsip guru!” seru Kris terkejut karena kekasihnya berjalan menuju ruang arsip guru. Dengan cepat, Kris menarik lengan Suho dan membawanya pergi dari ruang guru tersebut. Namun Suho masih bisa mendengar tawa dari ruang guru tersebut karena kecerobohannya. Mendengar tawa guru-guru dan mungkin beberapa siswa disana, semakin membuat Suho menundukkan kepalanya. Malu sekaligus sedih karena sekali lagi karena sikap cerobohnya itu, Kris menjadi susah.

Kenapa aku selalu saja menyusahkan Kris oppa? Aku sungguh tak berguna. Dasar Suho bodoh!

.

.

.

Rumah Keluarga Cho

“Terima kasih sudah mengantarku oppa.” Ucap Suho di depan pagar rumahnya sambil memaksakan senyum diwajah manisnya. Dia masih mengingat kejadian bodohnya di ruang guru tadi. Kris melihat wajah murung Suho dan menghela nafas perlahan. Dia paham bahwa Suho kembali merasa rendah diri karena kejadian di ruang guru.

“Suho-ah…”

“Um… Oppa, besok jika kau ada waktu, maukah kau mengajakku pergi? Aku sedikit bosan di rumah terus.” Ucap Suho tak menyadari bahwa dia telah memotong ucapan Kris. Suho sedang berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian tadi dengan memberanikan dirinya meminta Kris mengajaknya pergi ke suatu tempat.

Suho menunggu jawaban dari Kris dan ketika Kris hanya menatap lurus ke mata Suho dan menjawab dengan satu kata ‘hm’, membuat Suho menundukkan kepalanya lagi. Suho berpikir bahwa permintannya tadi telah keterlaluan. Suho merasa seharusnya dia tahu diri bahwa Kris sedang sibuk dan waktunya tidak banyak. Mengapa dia dengan gampangnya meminta hal itu kepada Kris.

Sedangkan Kris terus saja menatap kekasih mungilnya yang terus menundukkan kepala. Kris tersenyum sebelum menepuk-nepuk pelan kepala Suho dan rambutnya yang lembut dan puffy, meminta perhatian Suho. Suho menengadahkan kepalanya dan matanya langsung menatap mata Kris yang menatapnya dengan lembut, apalagi Kris sedikit menyamakan tinggi badannya dengan Suho agar bisa menatap lurus mata indah Suho.

“Aku tak bisa besok, tapi hari Minggu aku bisa mengajakmu pergi. Kau tak keberatan?” tanya Kris yang dijawab anggukan oleh Suho. Gadis manis itu tidak bisa berkata apapun karena terlalu malu bertatapan langsung dan sedekat itu dengan Kris. Sementara Kris, memamerkan senyumnya yang jarang terlihat itu lalu mengacak rambut Suho sayang.

“Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh Suho-ah. Nanti cantikmu hilang jika wajahmu murung terus.” Ucap Kris santai lalu kembali membelai rambut Suho sebelum berpamitan dan meninggalkan Suho sendiri dengan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat ketika Kris memujinya cantik. Ditambah dengan perhatian Kris yang tahu tentang kegundahan hatinya dan rasa rendah dirinya. Suho tersenyum, merasa haru dengan semua yang telah Kris lakukan kepadanya.

.

.

.

Esok Hari

Suho menatap ke arah langit yang masih menyiram dunia dengan hujan sejak tadi siang. Suho menghela nafas untuk kesekian kalinya karena dia tidak bisa pulang dengan hujan yang terus turun. Padahal dia sudah sangat lelah setelah tadi dia ikut serta dalam berbagai kegiatan kesiswaan di sekolahnya terkait dengan study trip ditambah dengan beban yang dia bawa setelah berbelanja untuk makan malam. Suho hanya ingin pulang dan tidur. Akan tetapi, Tuhan berkata lain dengan adanya hujan ini. Kini Suho harus berteduh di sebuah café, menunggu sampai hujan ini reda.

Suho tidak menyadari bahwa sejak dia berteduh, dirinya diperhatikan oleh seorang pria modis berambut merah. Pria itu mengikuti segala gerak gerik Suho sampai akhirnya dia memutuskan untuk mendekati Suho dan menyapanya.

“Hai gadis manis. Kau sendirian? Mau aku temani?” sapa pria itu centil. Tubuh Suho langsung menegang karena sapaan pria itu. Suho sebenarnya takut tapi dia berusaha menguatkan hatinya lalu berbalik, ingin menghardik pria tersebut karena sudah berani menggodanya.

“Jangan macam-macam ya! Atau nanti aku lempar dengan teh ini. Ini pahit loh!” seru Suho sambil mengacungkan ke depan sebuah bungkusan berisi teh sebagai perisai dirinya.

Sedetik…

Dua detik…

Tiga detik…

“Buahahaha!!! Ya ampun kau lucu sekali!! Ahahaha!!” tawa keras itu terus terdengar sampai ke dalam café. Suho yang tadinya menunjukkan wajah ‘galak’ berubah menjadi bingung. Dia memiringkan kepalanya menatap heran pria berwambut merah di depannya yang sekarang memegangi perutnya sendiri, mencoba menghentikan tawanya.

Lalu, tanpa tahu siapa yang mengajak, tiba-tiba kini Suho dan pria berambut merah itu berada di dalam café dan menikmati minumannya masing-masing. Suho terus mencuri pandang terhadap pria yang juga ternyata memandang dirinya dengan seksama. Suho merasa risih dipandangi seperti itu namun dia lebih risih dengan pandangan pengunjung café lainnya yang tertuju kepada mereka berdua. Namun wajar saja, karena pria berambut merah itu sangat tampan sekaligus cantik. Dengan tinggi badan yang seperti model, gaya yang fashionable serta senyum yang memikat, tentu saja semua gadis akan berpaling kepada pria itu. Tak terkecuali para pelayan café yang kini berkelahi demi melayani Suho dan pria misterius tersebut.

“Cho Suho-ssi, kau makan makan apa?” tanya pria itu tiba-tiba dan langsung membuat Suho terkejut sehingga tak sengaja dia menjatuhkan sendok gula yang tentu saja berisikan gula.

“Aish!” gerutu Suho mencoba membantu pelayan wanita, yang menang dalam perkelahian kecil diantara pelayan wanita, membereskan tumpahan gula di meja Suho dan pria tersebut. Sebenarnya pelayan wanita itu sedikit kesal karena harus membereskan kekacauan yang ditimbulkan oleh Suho tapi demi bisa lebih lama berdekatan dengan pria misterius nan tampan tersebut, si pelayan wanita pun bersikap manis dan melaksanakan apa yang memang menjadi tugasnya.

“Cho Suho-ssi. Kau mau makan apa? Pesan saja. Aku yang traktir.” Sahut pria itu lagi.

“Aku tidak mau apa-apa darimu. Katakan. Kenapa kau bisa tahu namaku dan…”

“Cho Suho-ssi, Kelas 2-E SM Highschool. Kedua orang tuamu sudah meninggal karena kecelakaan, aku turut berduka by the way. Kau hanya memiliki satu orang kakak perempuan, Cho Kyuhyun, yang sudah menikah dengan pengusaha sukses, Choi Siwon. Kau tinggal sendiri dan kau selalu belanja untuk makan malammu tepat pada pukul…”

Stop! Kau penguntit ya?! Memangnya apa salahku sampai kau menguntitku?!”

“Oh… Salahmu sungguh besar kepadaku Cho Suho-ssi dan aku pastikan kau akan membayarnya.” Ujar pria itu sambil menyeringai penuh arti membuat Suho menatapnya takut. Saking takutnya, Suho sampai menjatuhkan tasnya dan…

“Ah tasku jatuh.” …dia berusaha mengambilnya. Namun, karena sifat cerobohnya yang sudah akut, kepalanya terantuk pinggir meja.

“Aww… Sakit!” erangnya.

“Hmph…” pria berambut merah itu berusaha menahan tawanya melihat betapa ceroboh namun menggemaskannya Suho. Gadis didepannya ini seakan memiliki sesuatu yang membuat orang lain tak bisa berhenti memperhatikannya jika sudah sekali saja berhubungan dengannya.

“Jangan tertawa!” pekik Suho kesal karena sejak tadi dirinya terus saja menjadi bahan tertawaan orang asing di hadapannya ini. Alisnya menjadi satu, bibirnya mengerucut, dan pipinya mengembung sehingga pria asing itu ingin sekali mencubit pipi Suho. Namun, pria itu segera sadar bahwa dia masih memiliki misi yang harus dia laksanakan. Misi yang membuatnya sampai bersusah payah mencari tahu tentang gadis bermarga Cho di depannya ini. Misi untuk mengetahui rahasia apa yang dimiliki Suho sehingga bisa membuat ‘orang itu’ menjadi berubah.

Sementara Suho dan pria itu beradu pandang, ada dua orang gadis yang melihat keduanya dari luar café. Keduanya membelalakkan mata mereka, sungguh mereka sangat terkejut karena Suho bisa bersama seorang pria tampan nan cantik. Mereka berpikir, apa pesona seorang Cho Suho sampai semua pria tampan memperhatikan dirinya.

“Kau lihat itu Tiff?” tanya seorang gadis pirang kepada temannya yang dipanggil Tiff itu.

“Ya. Itu si bodoh Cho, Jess.” Jawab gadis berambut merah kecoklatan itu kepada temannya yang memiliki panggilan Jess itu.

“Dia selingkuh. Cih, mana dengan pria setampan itu lagi.” Gerutu si gadis pirang yang ditimpali dengan anggukan oleh si gadis berambut merah kecoklatan.

“Ayo kita beritahu Kris. Sepertinya dia masih di sekolah karena kegiatan klub.” Usul Tiff atau Tiffany kepada Jess atau juga bisa dipanggil dengan Jessica.

“Ayo. Pasti dia akan segera diputuskan oleh Kris. Rasakan.” Rutuk Jessica berharap Kris akan memutuskan Suho jika mereka memberitahu bahwa Suho sedang berselingkuh.

.

.

.

SM Highschool – Klub Wushu

“Pria berambut merah?” suara Kris yang agak berat membuat kedua gadis penggosip nomor satu dan dua di sekolah mereka itu bersemu merah. Mereka merasakan jantung mereka berdetak lebih cepat hanya karena suara Kris yang terdengar seksi. Sebenarnya wajar saja mereka begitu terpesona hanya karena mendengar suara Kris karena pemuda dingin itu memang sangat jarang berbicara.

“Y…ya Kris. Pria berambut merah.” Jawab Jessica sedikit tergagap tapi dia mampu bersikap biasa lagi dan mulai mencoba menggoda Kris dengan senyum dan bersikap sok imut dihadapan Kris.

“Pria berambut merah.” Gumam Kris seakan dia mengenali ciri-ciri yang diberitahu oleh kedua gadis yang dia ketahui seangkatan dengannya itu namun berbeda kelas.

“Ya, pria berambut merah. Jika kau tidak percaya, kau bisa melihat mereka berdua di café dekat mini market dua blok dari sekolah.” Ujar Tiffany menjelaskan lebih detail informasi yang mereka dapat.

Kris menatap mereka berdua tanpa ekspresi sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam ruang klub dan menutup pelan pintu klub setelah membungkuk sedikit kepada keduanya. Kris tidak begitu perduli ketika Tiffany dan Jessica berteriak memanggil namanya entah untuk apa. Yang ada di pikiran pemuda berdarah campuran Cina-Korea itu adalah semoga Suho baik-baik saja.

Lebih baik aku memeriksa keadaannya setelah kegiatan klub selesai.

.

.

.

Rumah Keluarga Cho

“Hhh… Hari ini sungguh melelahkan.” Gumam Suho pada dirinya sendiri. Dia baru saja selesai mengganti seragamnya setelah tadi meletakkan semua barang belajaannya di dapur. Suho lalu duduk di kursi depan meja belajarnya dan merenungkan kembali pembicaraanya dengan pria misterius tadi. Sampai sekarang Suho masih tidak mengerti apa diutarakan oleh pria itu sampai dia merasa Suho bersalah karena telah menjadi seseorang yang merebut kesenangannya.

Flashback

“Kau harus bertanggung jawab karena sudah merenggut kesenanganku Cho Suho-ssi.”

“Kesenanganmu? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?”

“Kau sudah membuatnya berubah. Biasanya dia akan memberikan reaksi yang menarik kerap kali aku menggodanya dan aku sangat suka menggodanya. Bocah itu tidak pernah bisa diajak bercanda. Namun sejak dia bertemu dengan kau, dia lebih tenang dan tidak mudah terpengaruh. Kau merubahnya gadis kecil. Dan itu membuatku penasaran seperti apa gadis yang sudah merubahnya sedemikian rupa.”

“Dia? Memang siapa yang sudah aku rubah?”

End Flashback

“Memang siapa sih yang sudah aku rubah?” tanya Suho pada dirinya sendiri masih penasaran dengan orang yang dimaksud oleh si pria berambut merah. Suho mencoba mengingat-ingat tapi tak satu pun wajah seseorang yang dia pernah rubah sikapnya.

Suho akhirnya menyerah untuk mengingat siapa kiranya orang yang dimaksud. Dia lalu meraih tas sekolahnya dan bermaksud mengambil amplop uang study trip yang sudah terkumpul semua. Suho ingin menyimpannya dalam laci agar aman. Suho lalu membuka tas dan mencari amplop tersebut. Gadis mungil itu pertama mencari dengan tenang sampai lima menit kemudian dia mengobrak-abrik isi tasnya, tak menemukan juga amplop yang diinginkan. Hati Suho menjadi panik dan ketakutan. Dia tidak mengira bahwa dia akan kehilangan amplop berisi uang yang sangat banyak itu.

Suho mencoba untuk tenang dan tidak panik. Dia mengambil nafas dan menghembuskan perlahan. Suho lalu memutuskan untuk menelusuri kegiatannya hari ini untuk mengetahui dimana sekiranya dia meletakkan tasnya saat amplop itu masih ada. Hanya itu yang terpikirkan oleh Suho saat ini. Maka dengan cepat Suho keluar dari rumah dan menuju satu tempat yang terakhir dia singgahi yaitu café.

Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke café tersebut. Suho bergegas masuk dan tanpa membuang waktu mulai menanyakan apakah ada pelayan di café itu yang menemukan amplop berwarna merah. Suho sangat berharap bahwa di café itulah amplop uang tersebut terjatuh. Namun harapan Suho tinggal harapan ketika pelayan di café tersebut tidak ada satu pun yang mengetahui adanya amplop merah yang tertinggal. Suho menjadi panik kembali tapi dia tidak mau menyerah sampai disini. Dia masih bisa mencoba mencari di sekolah meski waktu sudah menunjukkan setengah tujuh malam.

“Semoga sekolah masih buka.” Harap Suho cemas. Dia lalu beranjak meninggalkan café tersebut. Saat dia keluar, Suho menemukan sebuah telepon umum. Pikirannya melayang kepada Kris, ingin meminta bantuannya. Namun pikiran itu segera ditepis oleh Suho. Dia tidak mau mengganggu Kris. Kehilangan amplop ini adalah keteledorannya. Suho yang akan berusaha menyelesaikan permasalahan ini sendiri. Maka, dengan pemikiran itu Suho langsung pergi menuju sekolah.

Sesampainya di sekolah, Suho pun kembali mencari keberadaan amplop uang tersebut. Dikelas, di lokernya, di sekitar lorong bahkan Suho menelusuri tangga di sekolahnya dengan harapan amplop itu memang terjatuh disana. Namun sekali lagi Suho harus menelan pil pahit harapan hampa. Suho tidak mampu menemukan amplop itu. Kepanikan dan ketakutan bertambah menjadi dua kali lipat. Gadis itu berdiri di salah satu anak tangga, menundukkan kepala, menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai menangis.

Dasar Suho bodoh. Hanya tugas menjaga amplop uang saja kau tidak bisa. Dasar tidak berguna. Pantas saja semua gadis itu mulai mendekati Kris oppa. Mereka pasti berpikir kau sangat tidak pantas untuk Kris oppa. Gadis ceroboh, jelek dan menyusahkan seperti aku memang tidak pantas untuk Kris oppa. Kris oppa…

Suho terus menangis dan merutuki dirinya sendiri. Dia merasa sangat sedih, malu dan kecewa terhadap dirinya. Suho tidak pernah mau seceroboh sekarang, namun semua hal yang dia lakukan selalu saja tidak pernah sesuai dengan keinginannya. Apa yang dia lakukan selalu saja berakhir dengan kekacauan.

Suho terus menangis sampai dia tak sadar dia melangkah maju. Dia hampir saja jatuh dari tangga jika tubuhnya tidak ditahan oleh…

“SUHO-AH!! AWAS!!” …Kris.

Suho terkejut bukan main ketika dia hampir saja jatuh dari tangga. Wajahnya memucat karena takut. Sedangkan Kris, dia menghela nafas lega karena berhasil menyelamatkan Suho. Kris lalu mengeratkan pelukannya di pinggang Suho dan membawa gadis itu dalam pelukannya. Kris menumpukan dagunya di kepala Suho sementara Suho menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kris dan melingkarkn kedua lengan rampingnya di pinggang dan punggung Kris.

“Kau terluka?” tanya Kris setelah dia merasa Suho mulai tenang. Suho hanya menggelengkan kepalanya.

“Kau tadi menangis ya?” tanya Kris lagi. Suho terdiam sesaat sebelum kembali menggelengkan kepalanya. Kris tersenyum dengan kebohongan Suho.

“Jangan bohong Suho-ah. Airmatamu membasahi bajuku.” Mendengar hal tersebut, Suho langsung memberikan jarak antara dirinya dan Kris.

“Ma… maafkan aku op…oppa… Ak… aku…”

“Sshh…” Kris meletakkan jari telunjuknya di bibir Suho agar Suho tidak memberikan alasan lagi. Dia lalu menghapus airmata yang masih berbekas di sudut mata Suho dan pipi putih mulus miliknya.

“Kau pasti sangat ketakutan tadi.” Duga Kris dan tepat sasaran. Wajah Suho memerah karena sekali lagi Kris berhasil membaca pikirannya. Kris tersenyum lalu kembali menarik tubuh mungil kekasihnya itu ke dalam pelukannya.

“Tak perlu cemas. Amplop itu aman.”

“Huh? Bagaimana oppa tahu kalau aku sedang mencari…”

“Hyung.” sela Kris memanggil seseorang yang dia panggil dengan sebutan hyung. Suho berbalik sedikit meski tubuhnya masih dalam kungkungan lengan kekar Kris. Suho mengikuti arah pandang Kris dan menemukan pria berambut merah yang sama dengan yang dia temui di café tadi sedang bersandar di bawah tangga sambil memegang sebuah amplop merah.

“Hai. Kau mencari ini bukan?!” ucap pria itu santai.

“Hyung.” panggil Kris dengan nada yang datar namun cukup tegas dan emnusuk. Kris seakan memperingatkan agar orang tersebut tidak bertindak macam-macam.

“Aku mengerti adikku tersayang.” Ucap orang itu lagi dengan manis meski dari nadanya dia sedikit kesal dengan dirinya sendiri karena merasa takut dengan adik yang seharusnya takut kepadanya dan bukan sebaliknya. Suho sendiri kaget bukan kepalang ketika dia menyadari bahwa pria tersebut adalah kakak Kris.

Pantas saja aku merasa dia mirip dengan seseorang. Batin Suho.

“Berikan amplop itu kepadanya hyung.” ucap Kris penuh dengan tekanan. Kris menuntun Suho menuruni tangga agar bisa berhadapan langsung dengan pria berambut merah tersebut. Sedangkan pria tersebut yang ternyata memang kakak kandung Kris, bernama Zhoumi Wu, masih dengan kekesalan di hatinya memutar matanya, jengah dengan sikap sang adik yang dingin namun mengintimidasi tersebut. Dia segera menyerahkan amplop berisikan uang itu kepada Suho.

Suho menerimanya dengan senang hati. Suho begitu lega karena ternyata amplop ini tidak hilang. Dia memeluk erat amplop itu, berterima kasih kepada Tuhan dan juga kepada Kris dan Zhoumi.

“Terima kasih oppa. Jika tidak ada oppa, mungkin aku akan mencari di sekolah sampai pagi.” Ucap Suho kepada Kris. Kris menatap lekat Suho yang masih terlihat shok dengan kejadian ini. Kris melepaskan pelukannya dari tubuh Suho lalu memberi isyarat kepada sang kakak untuk mengikutinya, meninggalkan Suho yang kebingungan dengan tingkah Kris. Sedangkan Zhoumi, dia hanya mengikuti isyarat Kris.

“Kenapa Kris?”

“Hyung. Semua ini tidak akan terjadi jika hyung tidak berbuat iseng kepadanya.” Tegur Kris tidak senang dengan perbuatan kakaknya yang selalu saja usil.

“Lho? Seharusnya kau senang karena aku sudah membantu kekasih kecilmu itu. Jika bukan karena aku pasti dia akan terus mencari amplop itu. Jadi ini bukan salahk… Ough!!” Zhoumi berteriak kesakitan kala tinju Kris melayang ke perutnya dengan telak.

“Jangan diwajah bukan?!”

“Ka… kau… sang… sangat… penger… pengertian wahai ad…adikku.” Ucap Zhoumi sambil menahan rasa sakit di perutnya. Walau begitu, Zhoumi masih bersyukur karena Kris tidak memukulnya di wajah yang menjadi kebanggaannya.

Lalu bagaimana dengan Suho. Dia tentu semakin kaget dengan perilaku kedua Wu bersaudara itu. Suho tidak mengerti mengapa Zhoumi justru seperti berterima kasih kepada Kris yang sudah memukulnya. Jawabannya,

.

.

.

Minggu Siang

“Karena sejak kecil, bocah tidak tahu diri ini selalu memukulku di wajah saat dia marah.” Jelas Zhoumi di sela kegiatannya mengganggu kencan Suho dan Kris.

“HYUNG!!”

“Setidaknya aku berterima kasih untuk itu kepadamu Suho-ssi. Pengaruhmu sungguh luar biasa.” Itulah perkataan Zhoumi yang membuat wajah Suho memerah sepenuhnya. Terlebih lagi ketika dengan tegasnya Kris menyatakan kepada Zhoumi saat pria itu terus saja berusaha untuk memeluk Suho demi menggoda Kris.

“Jangan peluk-peluk gadisku hyung!! Suho milikku!!!”

END

Advertisements