Tags

, , , ,

munch_2014_09_28_122939

( 。・_・。)人(。・_・。 )

Title : Suho and Kris – Haru Wo Matsukoro

Chapter 3 : Triangle Trouble

Pairing : Krisho, KaiHo, possible Kaihun and a bit appreance of EXO members and Wonkyu

Disclaimer : All casts are belong to their self and God also to the amazing mangaka, Kyoko Hikawa sensei and her publishing company

Inspired : Shoujo Manga Chizumi and Fujiomi – Haru wo Matsukoro by Kyoko Hikawa sensei

Warning : Un-betaed, GS, OOC, AU, Change of Surnames and Ages for the Story

( 。・_・。)(。・_・。 )

Kris P.O.V

Semua berawal dari datangnya siswa baru di sekolahku bermana Kim Jongin atau lebih dikenal dengan nama Kai.

“Yo Kris! Merindukanku?” tanya Kai ketika aku baru saja akan melangkah memasuki kelasku. Aku berdiri terpaku, terkejut karena ini pertama kalinya aku bertemu lagi dengannya setelah dia dipindahkan ke sekolah lain karena terlalu banyak berkelahi.

“Wah, wah… Kau semakin tinggi saja. Sudah kelas tiga huh?!” cibirnya sambil memandangku dengan tatapan penuh tantangan.

“Kai.” Sahutku menyebut nama panggilannya. Dia terkekeh lalu mendekatiku dan tiba-tiba saja, dia menarik kerah baju seragamku dengan kuat dan mengatakan,

“Kau tunggu saja Kris. Aku pasti akan menantangmu lagi untuk menentukan siapa yang paling kuat di antara kita.” Ujarnya menantangku. Oh tuhan, ini buruk.

End Kris P.O.V

.

.

.

SM Highschool Kelas 2-E

“Anak-anak, diam dulu sebenar. Kita kedatangan teman baru di kelas kita. Kim Jongin, masuklah.” Sahut wali kelas 2-E memanggil Kai setelah dia melihat kelasnya yang tadi gaduh menjadi lebih tenang sedikit. Kai masuk dengan gayanya yang angkuh dan mengintimidasi semua siswa-siswi di kelas 2-E tersebut. Semuanya saling berbisik, membicarakan Kai yang memang terkenal karena keganasannya dalam berkelahi. Obrolan mereka banyak yang mencakup hal ini,

“Apa kau tahu, seharusnya Kim Jongin itu sudah kelas 3. Tapi karena dia terlibat perkelahian, jadi dia tidak naik kelas.”

“Aku dengar dia itu masuk ke dalam sebuah gang loh. Ih, serem kalau ada siswa seperti itu di kelas kita.”

“Kim Jongin itu pernah membuat seniornya yang waktu itu terkenal sangat kuat sampai dirawat dua bulan di rumah sakit. Pokoknya dia benar-benar menyeramkan.” Dan berbagai pernyataan lainnya yang terus terdengar sayup-sayup sampai akhirnya,

Bruagh!!

Kelas menjadi hening setelah Kai menendang meja guru dengan sangat keras. Dia mengamati keadaan sekeliling kelasnya sebelum berujar,

“Kelasnya berisik sekali seosaengnim. Telingaku jadi sakit.” Sontak semua siswa menjadi diam dan kaku. Tidak ada satu pun yang bersuara, termasuk Sehun yang terkenal suka bicara apa adanya tanpa mengenal tempat dan orang, menjadi diam seribu bahasa karena ulah Kai yang terlihat menakutkan.

“Apa sudah selesai perkenalannya?! Mau sampai kapan kau menyuruhku berdiri disini hah?!!” bentak Kai lagi membuat sang wali kelas pun tidak berani bertindak karena dia sudah mendengar kabar tentang siswa disebelahnya tersebut. Tidak ingin dirinya babak belur oleh seorang siswa, akhirnya dengan tubuh gemetaran, wali kelas 2-E tersebut mempersilahkan Kai untuk menuju ke bangku yang masih kosong.

Kai baru saja akan melangkah ke kursinya ketika tiba-tiba pintu kelas 2-E terbuka dengan keras dan seorang gadis bermaksud memasuki kelas. Hanya saja, gadis tersebut kehilangan keseimbangannya dan jatuh dengan sukses mencium lantai.

Splat!!

Tubuh mungil itu terbaring di lantai beberapa saat sampai dia terbangun sendiri lalu mengelus-elus hidungnya yang memerah.

“Aduh… Aku kesandung lagi.” Gumamnya pada diri sendiri dan melihat ke sekelilingnya. Suho, gadis yang terjatuh tadi, menatap ke suatu arah yang menunjukkan bekal makan siangnya terendam di dalam air kotor bekas membersihkan lantai. Dengan pandangan memelas, Suho mengambil bekalnya tersebut.

Bekalku. Batinya mengeluh sedih. Suho terus memandang bekal tersebut sampai iris matanya menangkap sepasang kaki panjang di depannya. Suho mendongak dan melihat wajah Kai untuk pertama kalinya. Keduanya saling berpandangan sampai wali kelas mereka berdua menegur Suho.

“Suho-ah, apa kau baik-baik saja?” tanyanya cemas. Suho hanya mengangguk sebagai jawaban sementara matanya masih menatap ke arah Kai.

“Kalau begitu lekas duduk. Oh ya Suho. Ini teman baru di kelas kita. Namanya Kim Jongin.”

“Salam kenal.” Sapa Suho pada akhirnya. Sedangkan Kai, pemuda itu hanya menatap balik Suho seolah-olah Suho seperti serangga kecil yang tidak perlu diperdulikan.

Wajahnya menyeramkan. Batin Suho lagi ketika dia mendapati Kai menatapnya sedemikian rupa. Suho menundukkan kepalanya bermaksud menghindari bertatapan langsung dengan Kai, tetapi matanya menangkap bekas cipratan air di celana Kai. Mata Suho membulat melihat bekas itu.

“Oh tidak! Kim Jongin-ssi, maafkan aku. Karena aku, celanamu jadi basah terkena cipratan air. Sebentar ya, sebentar. Mana ya sapu tanganku…” heboh Suho sendiri membongkar tasnya sendiri mencari sapu tangan. Kai yang melihat Suho sibuk sendiri semakin menatap gadis mungil itu dengan pandangan aneh. Dia beranjak menuju ke kursinya, ingin meninggalkan gadis yang menurutnya tidak penting itu dan tidur di kursinya. Namun, malang untuk Kai karena begitu Suho menemukan sapu tangannya gadis itu langsung,

“Ah ketemu!” memegang kaki Kai dan membuat pemuda berandalan akut itu kehilangan keseimbangan dan… Ya, pasti kalian tahu apa yang terjadi.

Bruagh!!

.

.

.

Istirahat Siang

“Suho-ah, aku dengar ada siswa baru dikelasmu?” tanya Kris langsung begitu dia berhadapan dengan Suho dan sahabat-sahabatnya, Sehun dan Baekhyun. Kris memang langsung menemui Suho di kelasnya saat jam istirahat saat dia mendengar bahwa Kai masuk ke kelas 2-E. Bisa dikatakan pemuda dingin itu khawatir jika terjadi sesuatu dengan Suho karena gadis itu kekasihnya.

“Woah! Cepat sekali berita menyebar sampai kelas tiga ya. Benar Kris sunbae. Namanya Kim Jongin tapi dia biasa di panggil dengan Kai. Dia itu sungguh menyeramkan, tidak ada yang berani mendekatinya. Namun, si mungil ini sudah membuatnya jatuh tadi pagi. Ya ampun… tadi itu lucu sekali.” Gelak Sehun ketika membayangkan Kai yang jatuh dengan tidak elitnya.

“Sehunna…” tegur Beakhyun membuat keduanya kembali berdebat dan melupakan keberadaan Suho dan Kris. Mendengar penjelasan Sehun tadi, Kris seperti terkejut. Dia tidak menduga ada kejadian seperti itu di antara Kai dan Suho. Kris mendekati Suho yang terlihat lemas sepertinya tidak memiliki energi. Kris paham pasti kekasih manisnya itu merasa dirinya sudah berbuat hal yang merepotkan orang lain lagi.

Kris tersenyum sebelum bergerak lebih dekat ke arah Suho. Telapak tangan Kris pun kini sudah berada diatas kepala bulat Suho. Dengan penuh kasih sayang, pemuda yang jarang tersenyum kepada orang lain itu, membelai rambut Suho beberapa kali.

“Kau tak salah.” Kalimat singkat itu langsung menimbulkan sebuah senyum manis dari wajah yang tak kalah manis dari senyum itu. Suho selalu merasa setiap ucapan Kris mampu menumbuhkan semangatnya. Suho pun mengangguk beberapa kali sebelum mengambil tangan Kris dan menggenggamnya erat.

Sebenarnya Kris masih khawatir jika Kai akan berbuat yang tidak-tidak kepada Suho demi memprovokasinya untuk berduel dengan Kai. Akan tetapi setelah melihat wajah Suho yang polos itu, rasa khawatir itu perlahan mulai memudar. Kris tahu Kai orang yang mudah marah dan tidak segan-segan menghajar siapa pun yang menghalangi langkahnya. Tapi Kris juga pernah dengar bahwa Kai adalah orang yang berhati lurus. Kai tidak pernah bermain di belakang. Jika dia tidak suka dengan seseorang, pasti Kai akan langsung menantang orang itu secara langsung.

Mungkin Suho terlalu manis bagi Kai. Hm, tampaknya Suho akan baik-baik saja. Jadi aku bisa tenang sekarang. Batin Kris sambil memandang Suho dan menggenggam balik tangan Suho sama eratnya. Mata tajamnya terarah kepada Suho dan dia sedikit tersenyum kepada Suho, namun dalam hatinya Kris berpikir,

Suho akan baik-baik saja karena aku akan menjaganya. Menjaganya dari siapa pun.

.

.

.

Tiga Hari Kemudian

“Lihat Suho-ah. Persiapan untuk acara kebudayaan sekolah sudah dimulai.” Ucap Baekhyun antusias.

“Ya Baekkie dan kelas kita juga sedang siap-siap untuk membuat café bukan?!” timpal Suho sambil tersenyum.

“Semoga café kita sukses.” Ucap Sehun juga ikut dalam perbincangan Baekhyun dan Suho.

Tiba-tiba seseorang dengan sengaja menabrak bahu Suho cukup keras sehingga Suho bisa saja tersungkur ke lantai jika tidak dipegang oleh Sehun. Sehun menatap seseorang yang ternyata siswi kelas sebelah mereka. Sehun mengenal gadis itu karena Sehun sering memergoki dia memandang Suho dengan sinis.

“Hei! Pakai matamu jika berjalan!” tegur Sehun keras.

“Sudah Sehunnie. Aku tidak apa-apa.” Ucap Suho berusaha menenangkan Sehun yang kesal.

“Ck!” decak Sehun lalu beranjak meninggalkan tempat itu. Namun sebelum dia pergi, Sehun dan tak terkecuali Suho dan Baekhyun yang mengikuti Sehun, mendengar olokan dari gadis tersebut.

“Apa sih bagusnya gadis pendek itu?! Kenapa Kris sunbae mau berhubungan dengannya?! Dia biasa sekali. Tak ada yang istimewa darinya.”

“Apa katamu?!” marah Sehun yang ingin menjambak rambut coklat gadis itu. Namun aksi beringas gadis tangguh itu bisa dihentikan tepat waktu oleh Baekhyun yang sudah menyeretnya pergi.

“Sudah Sehun-ah. Dia hanya tidak mampu menandingi keimutan Suho makanya dia iri. Jadi jangan terpancing dengan ucapannya.”

“Awas kau gadis sialan! Meski ucapanmu setengah benar tapi hanya aku yang boleh mengatakannya!!” teriak Sehun membela Suho. Atau kebalikannya. Entahlah, yang menulis ini juga bingung mau memilih yang mana. Yang pasti teriakan Sehun tadi membuat Baekhyun ikut berteriak tetapi sekarang ditujukan kepada Sehun.

“Oh Sehun! Kau ini sebenarnya membela Suho atau tidak sih?!” teriaknya sambil terus menyeret Sehun membiarkan Suho dengan alam pikirannya sendiri.

Hhh… Mereka masih saja membicarakan aku. Ya… Tapi mereka ada benarnya juga sih. Aku memang biasa saja, menyusahkan lagi. Pasti aku menjadi beban Kris oppa. Ya Tuhan! Aku benci diriku. Batin Suho lagi-lagi merasa rendah diri. Gadis mungil itu sungguh tidak paham bahwa karena dialah, Kris menjadi lebih hangat dan terbuka sehingga sekarang Kris memliki banyak penggemar yang antipati terhadap Suho.

Sementara itu di belakang lapangan tenis yang tertutup dari pandangan siswa-siswi SM Highschool, tampak Kai berdiri dengan satu kaki di jejakkan ke sebuah bangku dari batu menghadap ke arah 3 orang siswa berandalan yang menatap dirinya dengan perasaan kagum.

“Akhirnya Kai-ssi mau datang juga menemui kami.” Ucap salah seorang siswa berandalan itu yang sepertinya pemimpin dari temannya yang lain.

“Ya, aku sedikit mendapat gangguan. Jadinya baru bisa datang.” Jawab Kai sambil memikirkan gadis mungil nan ceroboh yang sudah membuatnya kesal setengah hidup namun untuk alasan tertentu membuatnya tak bisa membalas gadis itu. Padahal dulu dia tidak pernah pandang bulu dengan orang yang mengganggunya.

“Lalu bagaimana Kai-ssi?” pertanyaan siswa tadi membuat Kai menatapnya dengan bingung.

“Apanya yang bagaimana?” tanya Kai balik.

“Kau akan bertarung dengan Wu sialan itu bukan?!”

“Cih itu. Tak perlu kau bilang pun aku akan menantangnya hari ini.” Jawaban Kai tadi serta merta mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari ketiganya. Kai hanya tersenyum remeh menanggapi reaksi tiga orang tersebut. Kai tahu ketiganya pasti memiliki dendam tersendiri kepada Kris sehingga mereka terlihat antusias sekali ketika Kai mengatakan akan menantang Kris berkelahi hari ini. Kai tidak mempermasalahkan hal itu karena dia pun memang memiliki hal yang harus dia selesaikan dengan Kris.

Kris Wu. Sosok pemuda tinggi itu adalah rivalnya sejak dulu. Semasa junior high, keduanya memang sering berseteru untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Tetapi perseteruan itu harus berakhir tanpa adanya kepastian karena Kris pindah sekolah dan Kai yang terkena masalah serius sehingga harus tinggal kelas.

Karena itulah, kali ini Kai akan menyelesaikan semuanya dan membuktikan bahwa dia yang terbaik dan lebih unggul dari Kris.

“Kai-ssi. Kami senang sekali anda datang ke sekolah ini. Wu sialan itu memang sudah terlalu lama bertingkah di sekolah ini. Kami yakin anda pasti akan memenangkan pertarungan ini dan anda jangan sungkan untuk meminta bantuan kami jika anda butuh.” Kata siswa itu lagi masih dengan antusias yang sama. Dia mengira Kai akan senang dengan ucapannya tadi namun sial baginya saat Kai justru menunjukkan raut wajah yang mengerikan.

“Maksudmu aku tak mungkin menang jika tidak di bantu oleh kalian, hah?!”

“Bb… Bukan be… Bukan begitu Kai-ssi…”

“Pergi kalian!!!” teriak Kai lantang yang disusul dengan larinya ketiga orang itu karena ketakutan oleh tampang Kai yang begitu mengerikan.

“Sial! Seenaknya saja mereka bicara seperti itu. Tanpa mereka pun aku bisa menangani Kris seorang diri.” Gerutu Kai sambil berjalan meninggalkan tempat tersebut.

Kai kembali memikirkan masa-masa junior high-nya, terlibat perkelahian dan berbuat onar. Namun yang paling diingatnya adalah perseteruannya dengan Kris. Kai berpikir bahwa dia tidak mau terus menjadi orang nomor dua dan dibandingkan dengan Kris. Hari ini siapa yang lebih kuat harus diputuskan.

“Dan yang paling kuat harus aku!!!” teriak Kai tiba-tiba sambil mengacungkan tinjunya ke depan tanpa melihat situasi bahwa akan ada seseorang yang lewat seperti,

“KYAA!!! Aku mohon jangan pukul aku Jongin-ssi! Aku tidak sengaja membuatmu jatuh! Aku mohon maafkan aku!”

Siapa? Batin Kai bingung dan kaget dengan teriakan Suho yang kebetulan lewat. Kai menggelengkan kepalanya agar segera fokus dan menemukan Suho sedang membungkuk meminta maaf lalu menatapnya takut dan kembali membungkuk meminta maaf.

Dia lagi. tukas Kai dalam hati.

“Maafkan aku. Maafkan aku. Maafka…”

“Sudah kecil! Aku pusing melihatmu. Aku tidak akan memukulmu. Dan jangan pangil aku dengan Jongin.” Timpal Kai keras sambil menegakkan tubuh Suho. Sedangkan Suho langsung berdiri kaku mendapati tangan Kai memegang lengan atasnya. Suho ketakutan namun lama kelamaan tubuhnya kembali normal. Kenapa? Karena Suho merasakan kehangatan yang sama saat Kris memegangnya. Suho memandang lekat Kai sambil memiringkan kepalanya sedikit sehingga menampilkan kesan imut alami dan bertanya,

“Sungguh kau tidak akan memukulku?” Kai menatap balik Suho dan mendadak jantungnya berdetak lebih cepat di tambah dengan wajahnya yang mulai memanas. Sontak saja, Kai langsung melepaskan tangannya dari lengan Suho.

Apa itu tadi? Kenapa dengan jantungku? Dan kenapa tiba-tiba aku merasa gadis ini lucu dan menggemaskan?! Batin Kai lagi.

“Jongin-ssi?” panggil Suho membuat Kai tersentak dan secepat itu pula kesadarannya kembali.

“Aish! Sudah aku bilang jangan panggil aku dengan Jongin-ssi. Kai saja. Dan ya, aku tidak akan memukulmu.” Jawab Kai yang tentu saja membuat Suho sedikit merasa lega dan tanpa sadar tersenyum kepada Kai sambil mengucapkan,

“Terima kasih, Kai-ssi.”

Kai yang sudah sepenuhnya sadar kembali lagi terpesona dengan Suho. Apalagi gadis mungil itu tersenyum dengan tulus layaknya senyum malaikat.

Ada apa dengan diriku?! Teriak Kai dalam hati dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Suho yang heran dengan tingkah Kai.

.

.

.

Seminggu Kemudian – Kai P.O.V

Gila! Ini benar-benar gila! Sudah satu minggu dan aku tidak bisa mengenyahkan bayang-bayang gadis itu dari benakku. Kim Jongin! Sadarlah! Kau disini untuk menentukan siapa yang paling kuat di antara kau dan Kris. Bukan untuk mencari pacar.

Pacar. Gadis itu… Pacarku. Tiba-tiba saja otakku merekam kembali kejadian saat gadis mungil itu tersenyum bagaikan malaikat dan berterima kasih kepadaku karena tak memukulnya. Aku pun tak sadar tersenyum sendiri sampai aku dengar beberapa siswa bergumam atas tingkahku.

“Apa lihat-lihat?! Mau kubunuh hah?!” ancamku yang langsung membuat semua siswa-siswi yang melihatku memanglingkan wajah mereka. Cih. Dasar tidak punya kerjaan.

Kembali lagi ke masalahku tadi. Bagaimana aku bisa menantang Kris kalau diriku seperti ini. Aku harus bisa konsentrasi. Lupakan di imut itu dan segera tantanglah Kris. Ya, aku harus segera menantang Kris dan menentukan siapa yang kuat. Dan setelah itu, mungkin aku baru bisa mendekati si mungil itu.

End Kai P.O.V

.

.

.

Kai berjalan ke arah kelas Kris bermaksud mencari pemuda keturunan Cina itu. Disaat dia sampai ternyata Kris sedang keluar membuat Kai kembali berjalan dan mencari keberadaan Kris sampai dia menemukan Kris sedang berjalan menuju gedung kelasnya.

Tanpa menunggu lagi, Kai berlari ke arah Kris dan menghadang Kris yang tinggal selangkah lagi memasuki gedungnya. Kai pun langsung berteriak menantang Kris untuk duel.

“Kris! Ayo kita duel!” Kris yang terkejut hanya menatap Kai dengan wajah datarnya. Dia menatap Kai yang sudah siap menerjangnya sebelum dia menghela nafas dan menjawab,

“Tidak Kai. Aku rasa kita tidak perlu berduel.”

“Apa?!”

“Aku tidak punya alasan untuk berkelahi denganmu.”

“Kau takut?!” cibir Kai yang hanya ditanggapi senyum oleh Kris. Kai merasa terbakar amarahnya karena menganggap Kris meremehkan kemampuannya. Dengan cepat Kai menyerang Kris dengan tinjunya sementara Kris sendiri bersiap akan serangan Kai.

Seharusnya dengan serangan Kai tadi, maka mau tidak mau akan terjadi perkelahian sengit antar dua orang kuat tersebut. Akan tetapi sebuah insiden kecil membuat Kai mengurungkan niatnya karena tiba-tiba saja,

Poof!

Sebuah kantung kecil berisi tepung terigu mendarat pas di kepala Kai dan sebuah suara gadis yang panik membuat keduanya menengadahkan kepala mereka ke atas dan menemukan wajah cemas nan ketakutan milik Suho.

“Wah! Kai-ssi! Maafkan aku! Aku tidak sengaja! Sebentar! Aku akan ke bawah!” ucap Suho bergegas turun ke bawah dan berharap kecerobohannya tadi menjatuhkan kantung terigu ke kepala Kai tidak akan berdampak buruk.

Sementara itu Kai dan Kris, yang masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi, hanya berdiam menanti kedatangan Suho. Tak lama, gadis manis itu datang dan langsung buru-buru mengambil sapu tangannya untuk membersihkan tepung terigu dari kepala Kai sambil terus meminta maaf.

Sedangkan Kai, pemuda itu hanya diam membiarkan Suho bekerja. Dia masih belum mengerti apa yang sudah terjadi sampai dia melihat Kris yang memandangi dirinya dan Suho, baru dia sadar bahwa tadi dia hampir saja berkelahi dengan Kris.

Merasa Suho lagi-lagi mengganggu niatnya, Kai merasa kesal. Hanya saja dia masih saja tak sanggup melakukan tindakan fisik kepada gadis itu. Yang bisa dia lakukan hanya berteriak kepada Suho yang tentu saja membuatnya kembali takut kepada Kai.

“KAU INI!! SELALU SAJA MENGGANGGUKU!!”

“Maaf Kai-ssi! Aku tidak sengaja!!”

“Kau…” Kai tidak bisa melanjutkan teriakannya kepada Suho karena dia tercengang dengan apa yang dilihatnya.

“Maafkan dia.” Ujar Kris yang ternyata sudah menarik tubuh mungil Suho ke dalam dekapannya dan menyembunyikan kekasih manisnya itu dari amarah Kai. Kai sendiri kaget melihat kedekatan Kris dengan Suho dan berusaha mencerna kejadian ini.

“Maafkan dia Kai. Aku yang akan bertanggung jawab menggantikannya jika kau ingin membalas.” Ulang Kris lagi karena melihat Kai yang diam. Mendengar pernyataan itu membuat Kai sadar bahwa Kris dan Suho adalah,

“Dia… Dia pacarmu?” tanya Kai sambil berharap Kris akan menjawab tidak meski kecil kemungkinannya melihat betapa posesifnya Kris memeluk Suho yang terlihat bergetar ketakutan karena teriakan awal Kai tadi, walau sekarang Suho terlihat nyaman berada dalam kungkungan lengan kekar Kris.

Kembali ke pertanyaan Kai tadi. Kai masih menunggu jawaban dari Kris dan ketika senyum simpul menghiasi wajah tampan Kris, maka terjawab sudah. Kai terkejut dan saat ini tak berselera untuk menantang Kris.

Tanpa banyak bicara, Kai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Suho dan Kris yang heran dengan sikap pasif Kai yang tiba-tiba. Keduanya saling berpandangan sebelum kembali menatap punggung Kai sampai Suho membuka mulutnya terlebih dahulu.

“Oppa.”

“Hm?”

“Apa oppa mengenal Kai-ssi?” Tanya Suho penasaran. Kris menanggapi pertanyaan Suho dengan kecupan ringan di rambut Suho lalu mendekap kekasihnya itu semakin erat.

“Dia temanku saat aku masih di junior high. Kami cukup dekat juga.”

“Oh ya? Begitu rupanya.”

“Kenapa kau bertanya Suho-ah?”

“Tidak ada apa-apa oppa, hanya saja entah kenapa aku selalu takut dengannya kecuali satu kali.”

“Hm? Kapan itu?”

“Saat dia mengatakan tidak akan memukulku. Dia juga sempat memegang lenganku. Saat itu, aku merasa dia seperti oppa. Terlihat menyeramkan tapi hangat.”

“Oh?! Lalu apa aku masih menyeramkan Suho-ah?”

“Tidak. Oppa terlihat tampan.” Pujian Suho tadi membuat senyum Kris mengembang lagi. Kris pun kembali mencium pucuk kepala dan kening Suho dengan lembut.

“Terima kasih Suho-ah. Dan kau benar, Kai memang bukan orang jahat. Meski dia suka berkelahi tapi dia memiliki hati yang baik.”

“Hm.” Tanggap Suho datar. Suho masih menikmati perlakuan manis Kris sehinga tidak terlalu menyimak pendapat Kris tentang Kai. Tetapi lambat laun pikiran gadis manis itu mulai mencerna ucapan Kris dan dia berpikir bahwa ada sesuatu diantara Kris dan Kai yang tidak di ceritakan oleh Kris.

Mungkin benar kata Kris oppa. Kai-ssi mungkin bukan orang jahat tapi tetap saja… Dia membuatku takut!

.

.

.

Beberapa Saat Kemudian – Di Tempat Lain

Sial! Sial!! Sial!!! Belum sempat mengutarakan perasaanku, aku sudah patah hati lebih dulu. Sialan si Wu itu! Kenapa selalu dia yang selangkah di depan?! Argh!! Aku jadi semakin ingin menghajar wajahnya tapi aku juga tidak mau si mungil membenciku karena sudah melukai pacarnya. Batin Kai kesal karena mengetahui gadis incarannya sudah dimiliki lebih dulu oleh Kris. Kai semakin kesal karena dengan kenyataan ini akan semakin sulit baginya untuk kembali menantang Kris karena Suho. Jika begini adanya, sampai kapan pun dia tidak akan tahu siapa yang lebih kuat antara mereka berdua.

Sebenarnya bisa saja Kai menantang Kris berkelahi untuk menentukan juaranya sekaligus berusaha mendapatkan Suho sebagai kekasihnya. Namun bagi Kai, dia tidak akan merebut gadis yang jelas-jelas sudah memiliki seorang kekasih meski itu adalah musuh besarnya sendiri. Maka jadilah sekarang Kai uring-uringan sendiri karena tidak tahu harus melakukan apa dan itu membuat jiwa bertarungnya menjadi resah.

Selagi Kai gelisah dengan dirinya sendiri, tampak Suho berjalan perlahan mendekatinya. Wajah Suho sedikit tegang karena sesuatu. Sesuatu yang penting dan itu adalah,

Flashback

“Lho Suho-ah? Kau disini? Kami mencarimu sejak tadi.” Ucap Sehun ketika dia akhirnya menemukan Suho yang masih dalam dekapan Kris. Kedua sejoli itu menoleh ke arah suara Sehun dan melepaskan pelukan mereka walau lengan Kris masih bertengger di pinggang ramping Suho.

“Kenapa Sehunnie? Ada perlu apa denganku?”

“Kami hanya ingin menyampaikan pesan teman-teman satu kelas mengenai acara kebudayaan sekolah. Mereka ingin meminta bantuanmu.” Jawab Sehun dengan raut wajah penuh misterius sedangkan Baekhyun, gadis itu terlihat menyesal akan sesuatu. Bahkan dia mengatakan kata maaf kepada Suho tanpa suara.

“Memangnya teman-teman ingin bantuan apa dariku?” cicit Suho mulai khawatir dengan niat teman-temannya itu. Pasti ada maksud terselubung mengapa sampai mereka sepakat meminta bantuan dirinya yang ceroboh ini. Kris pun juga curiga dengan hal ini sehingga dia mengeratkan pegangannya di pinggang Suho.

“Oh sederhana saja Suho-ah. Mereka dan juga kami tentunya ingin kau memberitahu Jongin-ssi bahwa dia kebagian peran sebagai pelayan untuk café kita.”

“Oh. Hanya itu.”

…..

3

2

1

“APA?!!! KENAPA HARUS AKU?!!!”

End Flashback

Dan disinilah Suho. Harus berhadapan dengan Kai sekali lagi untuk menyampaikan berita pembagian tugas acara kebudayaan kelas mereka.

Aduh. Bagaimana ini?! Kai-ssi sepertinya masih kesal. Aku takut. Eonnie, Kris oppa… Huwe…

“Kau mau apa?” tanya Kai kesal dan langsung menciutkan nyali Suho. Walau demikian, demi kelasnya Suho kembali mengumpulkan keberanian kecilnya yang entah sudah tinggal berapa itu.

“Um… Itu… Aku…” mulainya terbata-bata.

“Aish! Cepatlah Suho! Kau mau apa?!” desak Kai tak sabar sampai dia tidak sadar sudah memanggil nama kecil Suho dan tentunya tak luput dari pendengaran Suho.

“Eh?! Kau tahu namaku Kai-ssi?” Kepergok memangil Suho dengan nama kecilnya tanpa embel-embel ‘ssi’ membuat Kai kelabakan sendiri. Namun sebagai salah seorang ‘gangster’ terkenal, mana mungkin Kai terlihat gugup. Dengan gayanya yang dibuat se’cool’ mungkin, Kai menjawab Suho.

“Tentu saja bodoh! Kau itu selalu menggangguku. Jadi mana mungkin aku tidak ingat namamu!”

“Hihihi. Aku kira kau tidak tahu namaku, Habis kau selalu saja memanggilku dengan ‘kecil’.”

“Kau memang kecil Suho-ah.” Tegas Kai yang membuat Suho mengerucutkan bibirnya, tanpa diketahui oleh gadis mungil itu bahwa tingkahnya mengakibatkan jantung Kai berdebar tak karuan lagi.

“Sudah. Jangan membahas tentang aku. Aku kesini ingin menyampaikan pesan teman-teman sekelas mengenai acara kebudayaan. Jadi itu… Um… Kau bisaka…” Suho mulai lagi dengan kegugupannya menghadapi Kai. Padahal tadinya Kai pikir gadis ini sudah mulai terbiasa dengannya tapi pikirannya itu salah.

Merasa gemas sendiri dengan tingkah Suho, Kai bermaksud menggodanya dengan menakutinya seperti biasa.

“Jjadii… Begini… Kai-ssi…”

“GRRRR!” raung Kai keras membuat Suho terperanjat dan berteriak sambil melarikan diri beberapa meter, hanya untuk kembali lagi menuju Kai dan berbicara kepadanya.

“Ahhh! Ka…Kai-ssi… Jangan begitu… Ja…jadi… Bbb… Begini Kai-ssi…”

“GRRR!!” raung Kai sekali lagi dan Suho pun lari lagi hanya untuk berjalan kembali perlahan mendekati Kai.

“Kyaaa!! Jj… Jangan me…menyela uu…ucapanku Kai-ssi. Jadi acara kebudayaan…”

“GRR!!!” dan lagi.

“GYA!!” begitu terus sampai Kai menatap Suho yang sekarang semakin jauh darinya, menutupi dirinya sendiri di sebuah pohon namun sesekali mengintip ke arah Kai.

Ya ampun dia imut sekali seperti hamster. Beruntung benar si Wu itu. Batin Kai tersenyum sendiri.

Lalu bagaimana dengan Kris sendiri? Pemuda jangkung itu ternyata sedang mencari Suho yang sejak di daulat oleh Sehun menjadi pembawa berita kepada Kai pergi begitu saja tanpa pamit kepadanya.

Kris mencari Suho di berbagai tempat sampai mata elangnya mendapati Suho yang sepertinya tengah mengajak bicara Kai. Kris baru saja ingin memanggil Suho tetapi diurungkannya niat tersebut ketika dia melihat Kai yang terlihat begitu lepas berbicara dengan gadisnya.

Dahi Kris berkerut. Seumur dia mengenal Kai, pemuda galak nan seram itu tak pernah sebebas itu berbicara dengan seorang gadis. Terlebih lagi ini Suho yang menurut Kris bukan merupakan tipe gadis kesukaan Kai. Pemuda bernama lengkap Kim Jongin itu terkenal menyukai gadis-gadis cantik nan tinggi dan bukan gadis mungil nan imut macam Suho.

Kris bingung. Sangat bingung dengan sikap Kai, akan tetapi dia pun tersenyum simpul. Jika Kai tidak keberatan dengan keberadaan Suho berarti dugaannya tepat bahwa Suho akan baik-baik saja. Masalah antara dirinya dengan Kai tidak akan melibatkan kekasih manisnya itu. Walau, dalam hati kecil Kris, dia was-was dengan sikap Kai terhadap Suho.

Apa Kai menyukai Suho?

.

.

.

Beberapa Hari Kemudian

“Oh thanks God, ada kau Suho-ah! Jongin-ssi yang super menakutkan itu akhirnya mau mengikuti pembagian tugas kelas kita.” Ucap Baekhyun antusias karena semua berjalan dengan baik. Kekhawatiran kelas mereka bahwa Kai tidak akan mau membantu mereka ternyata tidak terbukti. Pemuda berkulit coklat itu tidak menolak untuk menjadi pelayan café mereka nanti. Meski mereka tidak mengerti dan penasaran setengah hidup dengan bagaimana caranya Suho bisa membujuk Kai, namun yang penting Kai sudah mau.

“Ya Baekkie. Aku juga senang Kai-ssi mau membantu kita.” Kata Suho sambil tersenyum senang.

“Kita beruntung Suho-ah walau aku tidak mengerti sihir apa yang kau punya sampai Jongin-ssi saja mengikuti apa yang kau mau. Bahkan kau memanggilnya dengan Kai. Hhh… Tidak Kris sunbae, tidak Jongin-ssi, keduanya seakan takluk kepadamu.” Ujar Sehun datar.

“Sehunnie!” tegur Baekhyun merasa ucapan Sehun bisa membuat Suho terlihat buruk di mata siswa-siswi lain dengan pernyataannya tadi. Apalagi ketika Baekhyun melihat Suho yang menjadi murung setelah Sehun berucap demikian. Sehun sendiri menyadari ucapannya sedikit keterlaluan. Dia lalu mendekati Suho dan merangkul bahu sahabatnya tersenyum sebelum tersenyum manis kepada Suho.

“Hei. Aku hanya sembarang bicara saja. Kau tahu mulutku memang pedas seperti cabai. Jangan diambil hati ya Suho-ah. Biar bagaimana pun kau, aku tetap menyayangimu sebagai sahabatku.” Baekhyun dan Suho tersenyum menanggapi ucapan tulus Sehun. Suho pun membalas rangkulan Sehun dengan pelukan di pinggang gadis tinggi itu. Baekhyun pun tidak mau ketinggalan. Dia ikut memeluk Sehun dan jadilah ketiganya berpelukan seperti teletubies.

Momen indah persahabatan mereka terganggu dengan hardikan keras dari gadis yang pernah menyenggol Suho waktu itu. Gadis yang sama yang hampir saja menjadi sasak tinju Sehun.

“Bisa-bisanya kau santai disini selagi kekasihmu menanggung akibat dari perbuatan cerobohmu itu?!”

Sehun, Baekhyun dan Suho menoleh ke arah suara keras gadis itu. Sehun dan Baekhyun merasa kesal sementara Suho bingung kenapa gadis itu tiba-tiba menghardiknya seperti tadi.

“Ap… Apa maksudmu?!”

“Kau masih tak paham?! Kau itu ceroboh dan menyebalkan! Kau yang membuat Jongin-ssi kesal! Tapi karena dia tak mungkin melampiaskannya kepadamu, jadi dia melampiaskan kepada kekasihmu, Kris sunbae! Mereka akan berkelahi dan itu semua karena salahmu! Masih mau menyangkal?!”

“EH?! Gara-gara aku?!”

“Cih… Gadis ini. Ya! Gara-gara kau! Tadi saja aku lihat anak buah Jongin-ssi menantang Kris di belakang gedung olahraga. Pasti sebentar lagi Jongin-ssi akan kesana!” seruan terakhir gadis itu membuat Suho gugup sekaligus panik. Segera saja dia berlari, tidak menghiraukan pangilan cemas dari Sehun dan Baekhyun, menuju ke belakang gedung olahraga, berdoa dia bisa mencegah Kai dan Kris berkelahi.

.

.

.

SM Highschool Kelas 2-E

“APA KAU BILANG TADI?!!!” bentak Kai sambil mencengkram kerah seragam seorang siswa malang yang hanya disuruh menyampaikan berita kepada Kai dari ketiga berandalan yang menyatakan diri mereka sebagai anak buah Kai.

“Ak…Aku hhanya… menyampaikan saja Jongin-ssi bahwa kau diminta datang ke belakang gedung olahraga.”

“Ya sudah. Pergi sana.” Ujar Kai dan melepas siswa malang itu. Kai berpikir bahwa ini adalah ulah dari ketiga orang yang dulu pernah menginginkan dia duel dengan Kris. Tampaknya ketiga orang itu benar-benar menyimpan dendam kepada Kris sampai mereka bertindak terlebih dahulu.

Kai menyeringai lebar. Beberapa hari ini semangat bertarungnya seolah-olah lenyap. Namun dengan peristiwa ini, jiwa petarungnya kembali bangkit. Tampaknya ini saat yang tepat untuk menyudahi semuanya.

Dengan pemikiran itu Kai segera berlari menuju tempat yang diarahkan oleh siswa tadi. Kai terus berlari sampai dia melihat sebuah jendela yang nampaknya bisa dia loncati dan menjadi jalan pintas baginya pergi ke belakang gedung olahraga.

Kai mengambil ancang-ancang dan bersiap untuk loncat. Dia sudah siap melompat sampai telinganya mendengar teriakan keras seorang gadis memanggil namanya,

“KAI!!!” dan langsung membuatnya terkejut dan tersandung kusen jendela menyebabkan Kai terjerembab ke bawah.

Kai mendudukan dirinya ketika dia mengusai keterkejutannya dan rasa sakit akibat jatuh tadi. Dia mulai mencari suara yang berteriak kepadanya tadi. Suara yang dia kenal dimana pun dia berada. Dan ketika dia merasakan pemilik suara tadi berada di belakangnya, Kai segera bangkit dan bermaksud memarahi gadis itu,

“SUHO! KAU LAGI!”

“YA! INI AKU!” hanya dibuat terkejut lagi dengan teriakan marah Suho dan wajahnya yang kesal sekali.

“Suho?”

Sementara itu di belakang gedung olahraga, tampak Kris tengah menghadapi tiga siswa berandalan yang mengaku-aku diri mereka adalah anak buah Kai.

“Yah!! Rasakan ini Wu sialan!” serang salah satu dari ketiga siswa berandalan itu dengan sebuah kayu yang entah didapat darimana. Kris dengan mudah menghindari serangannya. Dengan wajah datar, Kris memandangi satu per satu siswa berandalan itu sebelum berkata,

“Apa mau kalian?”

“Diam Wu! Kami sudah lama ingin menghajarmu demi membalaskan dendam kami karena kau pukul. Dan kali ini ini kami tidak sendiri. Ada Kai yang membantu kami. Kau akan segera hancur! Namun sebelum dia datang kami akan membuatmu lelah! Ayo hajar dia!” perintah ketua dari ketiga orang tak punya kerjaan itu. Kris sendiri bersiap dengan serangan mereka.

Dan dalam waktu singkat terjadi perkelahian meski jelas Kris lebih unggul dari ketiganya. Ketiga orang itu mungkin akan lebih babak belur lagi jika bukan karena suara Kai yang menggelegar.

“HEI!”

“KAI-SSI!!” sambut meriah ketiga siswa tersebut ketika mereka melihat kedatangan Kai. Ketiganya langsung beringsut ke samping tembok memberikan ruang kepada Kris dan Kai. Ketiganya begitu senang dengan kehadiran Kai karena mereka akan melihat dua orang ini bertarung. Niat mereka, siapa pun yang menang pasti akan kelelahan luar biasa dan jika itu terjadi, mereka bertiga akan langsung menyerang yang menang dan mereka lah yang akan jadi penguasa di sekolah bahkan ditakuti sekolah lain.

Niat yang mungkin saja terjadi. Sayangnya, Kai memiliki pemikiran lain karena dia,

“Sambutan yang meriah boys. Hanya saja, aku sedang malas untuk adu tinju.” Menolak untuk berkelahi dengan Kris. Kontan ketiganya terkejut sampai wajah mereka memucat. Bahkan Kris pun sama terkejutnya. Padahal dia sudah siap jika Kai memulai pertarungan mereka.

Kris berdiri tegap menanti tindakan Kai selanjutnya dan ketika Kai datang ke hadapannya, dia berkata.

“Hhh… Setiap gadis ceroboh itu menggangguku, aku selalu kehilangan jiwa bertarungku. Benar-benar merepotkan.” Kai lalu tersenyum simpul dan menepuk pipi Kris beberapa kali dan melanjutkan ucapannya.

“Berterima kasihlah kepada si mungil itu Kris.” Kris paham apa yang sebenarnya terjadi. Kris pun membalas senyuman Kai dan pergi begitu saja, mencari si ‘mungil’ dan mengucapkan terima kasih sesuai ucapan Kai.

Kai melihat punggung Kris yang berlari, bermaksud mencari Suho. Dia mengusap wajahnya dan tersenyum paksa. Kai menghela nafas panjang dan mengingat lagi alasan mengapa dia tak begitu tertarik lagi dengan perseteruaan antara dirinya dengan Kris.

Flashback

“Kai-ssi… hik…hik… Aku mohon maafkan aku… Sse…semuanya salahku… Aku mo…mohon… Jangan lampiaskan kepada Kr… Kris oppa… Bukankah kalian te…teman dekat… Kris oppa yang mengatakannya kep…kepadaku… Jja..jadi…”

Kai terus menatap wajah Suho yang basah karena airmata dan mendengar celotehan non-stop Suho. Kai mengedipkan matanya beberapa kali mencoba menelaah perkataan Suho sampai akhirnya dia mengerti bahwa sekali lagi gadis ini telah salah paham kepadanya.

Oh Tuhan. Gadis ceroboh ini pasti salah paham lagi. Batin Kai gusar. Kai tahu benar, pasti Suho termakan gosip entah darimana mengenai dirinya yang bermasalah dengan Kris. Terlebih lagi, mereka sempat terlibat sesuatu bertiga yang membuat Suho beranggapan bahwa dialah penyebab Kai ingin berkelahi dengan Kris.

Walau bukan karena Suho, Kai memang ingin berkelahi dengan Kris. Namun semenjak Kai selalu dihadapan dengan tingkah ceroboh Suho yang membuatnya tak berkutik, niat itu hilang begitu saja. Dan sekarang, ketika dia mendengar ada tiga orang yang menggunakan namanya untuk sesuatu yang belum dia setujui, Kai ingin menyusul Kris, melihat situasi dan jika Kai menganggap dia perlu turun tangan membantu Kris maka dia akan melakukannya. Baginya, lumayan untuk gerak tubuhnya jika dia menghajar ketiga pengecut yang membawa-bawa namanya itu.

Itulah yang ada di otaknya. Tak ada niat untuk mencelakai Kris sama sekali. Tetapi Suho keburu salah paham dan disinilah dia sekarang, dihadapkan dengan Suho yang terisak, meminta maaf dan meminta agar dia tidak berkelahi dengan Kris. Lelaki mana yang sanggup melihat gadis yang disukainya menangis seperti ini. Sekejam apapun Kai, pasti dia merasakan pedih di hatinya. Apalagi gadis tersebut menangis karena mencemaskan lelaki lain.

Kai mengusap wajahnya kasar sesaat sebelum tangan besarnya menepuk pucuk kepala Suho yang sekarang menunduk.

“Kau salah paham kecil.”

“Huh?” ucap Suho sambil menengadahkan kepalanya memandang lekat Kai.

“Kau salah paham aku bilang.”

“Tap…tapi…”

“Sudah. Kau kembalilah ke kelas. Tak usah cemas dengan kekasihmu itu.” Ujar Kai lalu pergi begitu saja meninggalkan Suho yang bingung dengan sikap Kai yang menurutnya sangat lembut itu.

Suho tak tahu jika dalam hati Kai, pemuda berkulit sedikit gelap itu sedang kesal sekaligus sedih karena harus mengalah kepada Kris untuk urusan asmara.

End Flashback

Kai menggelengkan kepalanya lalu tertawa sendiri. Ya, dia memang patah hati namun dia menemukan sesuatu hal yang penting dalam hidupnya yaitu dia ternyata bisa juga benar-benar menyukai seseorang dan orang itu bukan tipenya sama sekali. Berarti ke depannya nanti, Kai yakin dia bisa mendapatkan seseorang yang mampu membuatnya lebih ‘jinak’ dari sekarang.

Selagi Kai termenung dengan dirinya sendiri, ketiga orang yang jelas kecewa dengan akhir pertarungan ini mulai melampiaskan kekecewaan mereka kepada Kai. Tampaknya mereka lupa mereka berhadapan dengan siapa karena dengan bodohnya ketiganya berteriak sambil mengancungkan kayu yang dibawa oleh mereka tadi ke arah wajah Kai.

“Kai! Kau ini bagaimana bung? Tadi adalah waktu yang tepat untuk menumbangkan Wu sialan itu! Kenapa kau jadi pengecut begitu?!” protes salah satu dari mereka.

“Ya, ya! Jangan takut begitu Kai!” timpal sisanya.

Ctik!

Ketiga orang itu benar-benar cari mati dengan perkataan mereka. Seharusnya mereka bisa memahami bahwa rencana mereka sudah hancur berantakan. Tidak ada lagi Kai yang akan berkelahi dengan Kris demi mereka. Yang ada sekarang adalah Kai yang sudah berubah seperti iblis karena ucapan mereka tadi, namun siswa-siswa itu terlalu bodoh atau apa karena tidak menyadari aura hitam menguar dari Kai. Mereka justru semakin memanasi-manasi Kai.

“Ayo Kai! Kejar Kris dan habisi dia!”

“Benar, benar!” seru ketiganya sampai mereka terdiam sendiri ketika Kai mengambil sebatang kayu itu dari mereka. Kai memperhatikan kayu itu sebelum menyeringai iblis kepada ketiga orang bodoh itu.

“Kalau kalian tidak pergi dari hadapanku dalam hitungan ketiga, aku pastikan nasib kalian akan berakhir seperti kayu ini.”

Krak!

“GYAA!!” melihat kayu yang cukup tebal itu terbelah menjadi dua oleh Kai, ketiga orang bodoh itu langsung lari terbirit-birit.

“Dasar bodoh.” Umpat Kai lalu melangkah pergi mengikuti arah yang dilalui Kris tadi. Kai terus berjalan sampai dia tiba di kelasnya. Kai lalu melangkah menuju ke sebuah sudut di kelas yang sedang di tata sedemikian rupa agar terlihat seperti café. Dia kemudian duduk bersila di lantai sambil memperhatikan semua teman sekelasnya bekerja.

Kai yakin tidak akan ada yang berani mengganggunya karena merasa takut kepadanya. Satu-satunya orang yang berani atau lebih tepatnya terpaksa mendekatinya sedang tidak ada di kelas ini, jadi Kai bisa santai dan melamun tentang Suho.

Hei. Walau Kai patah hati, tapi dia masih boleh melamun tentang Suho. Patah hati tak membuat Kai terus menerus bersedih. Baginya, bisa bertemu dengan Suho sudah lebih dari cukup. Ya, paling tidak sampai Kai menemukan gadis yang bisa membuatnya tak berkutik seperti Suho. Tak perlu sama persis, cukup gadis yang berani untuk,

“Jongin-ssi. Bantu kami. Kami kekurangan orang.” menyapanya.

Tunggu dulu. Tadi bukan sapaan melainkan titah.

Siapa yang berani memerintah aku?! Gadis sialan! Berani benar dia. Batin Kai kesal dan menengadahkan kepalanya hanya untuk bertemu muka dengan sosok gadis tinggi berambut panjang sebahu yang dikuncir seperti buntut kuda dan di cat coklat terang.

Kai memincingkan kedua matanya untuk mengenali gadis yang sudah berani memerintahnya seperti itu dan akhirnya dia tahu siapa gadis tersebut. Gadis itu adalah salah satu teman sekelasnya dan juga sahabat Suho, namanya…

“Sehunnie! Sedang apa? Kami butuh bantuanmu untuk menata meja-meja ini. Yang lain sedang sibuk!” panggil Baekhyun membuat Sehun memanglingkan wajahnya sesaat kepadanya sebelum kembali menatap Kai.

“Percuma kau menatapku tajam seperti itu. Bagiku kau sudah tidak menakutkan lagi jika kau sudah bergaul dengan Suho-ah. Jadi Jongin-ssi, sekarang bantu aku.” Titah Sehun

“Yah! Berani benar kau memerint…Mph…” hardikan Kai terhenti ketika Sehun dengan tidak elitnya memasukkan sebuah fried chicken stick ke mulut Kai yang tentu saja langsung dimakan oleh Kai. Kebetulan Sehun baru saja mampir dari kantin dan membeli makanan ringan itu untuk sekedar camilan saat dia bekerja menata café kelasnya.

“Kau suka ayam bukan?! Jika kau membantuku maka aku akan mentraktirmu makan ayam sepuasmu. Bagaimana?” tawar Sehun.

“Baik Sehunnie.” Sahut Kai menurut begitu saja. Tingkah Kai yang sungguh bertolak belakang ini di tambah dengan dia yang memanggil Sehun dengan ‘Sehunnie’ tanpa sadar, membuat Sehun terkikik geli. Ternyata benar apa kata Suho, Kai bukan orang yang jahat. Dia hanya perlu didekati dan lihat saja, sikapnya sama saja konyolnya dengan orang lain.

Mungkin Sehun bisa mengakrabkan diri dengan Kai. Beside, Sehun tidak pernah menampik, kalau dia tertarik dengan Kai sejak pertama kali bertemu dengan pemuda itu. Sebut saja seorang Oh Sehun menyukai tipe lelaki yang sedikit eksentrik seperti Kai. Dan rupanya Tuhan begitu menyayangi Kai sehingga dia cepat diberikan pengobat rasa patah hatinya. Ya, kita lihat saja perkembangan hubungan mereka berdua.

.

.

.

UKS

Kris membantu Suho yang masih terhuyung karena sakit kepala dan demam yang dideritanya. Suho kelelahan akibat terus berlari mencari Kai dan akhirnya dia terkena demam. Suho bahkan sempat pingsan setelah dia ditinggal oleh Kai dan ditemukan oleh teman sekelas Kris yang mengenal dirinya.

Kris yang tahu kekasihnya di rawat di UKS, segera berlari menuju ruang kesehatan sekolah tersebut. Begitu Kris sampai, Kris hanya melihat Suho tanpa adanya dokter jaga disana. Kris pun melihat Suho sudah siuman dan tanpa banyak bicara pemuda berdarah Cina itu langsung menghampiri Suho dan menangkup pipi Suho di kedua tangannya. Kris bertanya apa Suho baik-baik saja dan anggukan kepala lemah menjadi jawabannya.

Kris tersenyum menanggapi reaksi gadisnya tersebut. Kris lalu mengusap kepala bulat Suho dan mencium rambut gadis itu sebelum menjelaskan semua hal yang berhubungan dengan Kai. Menjelaskan bahwa semua hanya salah paham dan Suho tak perlu mengkhawatirkan dirinya dan juga Kai.

Wajah Suho menunduk, berusaha menutupi merah di kedua pipinya karena malu sudah menegur Kai dengan asumsinya sendiri. Suho semakin sebal kepada dirinya yang ceroboh itu. Sedangkan Kris, pemuda dingin itu hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Dia paham bahwa Suho kembali meragukan dirinya sendiri dan merasa rendah diri.

Dengan lembut Kris meraih tubuh Suho dan memeluk gadis itu. Keduanya terdiam tanpa ada yang mau memulai pembicaraan terlebih dahulu. Namun dalam kebisuan itu, Suho bisa merasakan Kris yang mencoba menenangkan dirinya dan berusaha menyemangati dirinya.

Suho tersenyum simpul sebelum membalas memeluk pinggang Kris. Keduanya terus begitu sampai dokter jaga datang dan secara tidak langsung mengganggu kemesraan keduanya.

Begitu dokter tersebut mengatakan Suho sudah boleh pulang, Kris dengan hati-hati membantu Suho seperti yang dia lakukan sekarang. Seperti biasanya, Kris pasti akan mengantar Suho pulang. Dalam perjalanan mereka ke kelas Suho untuk mengambil tasnya, Kris berkata.

“Suho-ah. Tak usah cemas dan berpikir macam-macam. Semua sudah selesai.”

“Ya Kris oppa.” Sahut Suho mengerti maksud Kris yang menekankan bahwa tidak ada lagi masalah dengan Kai. Kris kembali memamerkan senyumnya yang jarang dia perlihatkan kepada orang lain khusus kepada Suho kemudian sekali lagi mengusap kepala Suho.

“Ayo pulang.” Ajak Kris sambil menggandeng tangan mungil Suho.

.

.

.

Tiga Hari Kemudian – Acara Kebudayaan SM Highschool

“Hei! Kau mau pesan apa?! Cepat!” bentak Kai kepada tamu café kelasnya. Sehun memutar matanya jengah dengan sikap kasar Kai sedari tadi kepada pengunjung café mereka. Beruntung pengunjung café yang sebagian besar siswa sekolah mereka, mengenal benar siapa Kai. Karena jika tidak, pemuda kecoklatan itu sudah dilaporakan ke polisi.

Sehun berjalan cepat ke arah Kai dan tanpa peringatan langsung menepuk belakang kepala Kai dengan keras.

Plak!

“AWW! Sialan! Siapa yang berani memu…”

“Aku yang berani! Sudah kau bantu di dapur sana! Disini kau hanya buat tamu-tamu kita takut.”

“Oh Sehun jelek! Jangan sembarangan memerintahku! Kau akan tahu akibatnya jik…”

“Jatah ayammu akan aku gandakan jika kau ke dapur sekarang.”

“Siap bos.” Dan dengan begitu saja, Kai tunduk kepada sang ratu Oh Sehun. Sehun menghela nafas meski satu senyuman manis menghiasi wajah cantiknya.

“Apa Kai-ssi berulah lagi Sehunnie?” tanya Suho bingung dengan mengedipkan matanya dan memiringkan kepalanya imut, membuat Sehun gemas dan ingin mencubit Suho. Akan tetapi niat itu diurungkannya dan Sehun hanya menjawab dengan,

“Kau tidak usah cemas Suho-ah. Serahkan urusan Kai kepadaku.”

END

Advertisements