Tags

, , , , , ,

Title : Home 1

Charas : Siwon, Jaejoong, Kibum, Minho, Others later

Genre : Romance, Family

Disclaimer : all casts are belong to their self and God

Warning : Un-betaed, BL, OOC, AU

Summary : Being a father is a hard work, but I realize being children are also a hard work. Am I capable to understand them and help them with the cruelty of world? Am I capable to be called home for them?

( 。・_・。)(。・_・。 )

Seorang pria menatap seorang wanita paruh baya yang sedang menggendong seorang balita di tangan kanannya dan menggenggam tangan seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun ditangan kirinya. Pria tersebut lalu mengalihkan pandangannya kepada bocah lainnya yang digandeng oleh bocah di samping sang wanita.

Bocah berusia lima tahun yang sedari tadi hanya memandang datar kepada sang pria meski terlihat ada sedikit kesedihan di matanya. Mata bocah tersebut mulai berkaca-kaca dan benar saja, sedetik kemudian sang bocah menangis dengan keras membuat bocah yang paling tua langsung berusaha menghiburnya meski dia sedikit kewalahan menenangkan bocah yang menangis tersebut. Kelihatannya kedua anak laki-laki itu bersaudara.

Sang pria yang ternyata adalah ayah dari ketiga anak tersebut menurunkan tubuhnya menjadi sejajar dengan kedua bocah yang tidak digendong. Dia lalu merentangkan tangannya, mengisyaratkan kepada putra-putra mungilnya untuk memberikan dia sebuah pelukan.

Melihat gegalat sang ayah, sang bocah yang terus menangis segera menghambur ke pelukan sang ayah. Sedangkan bocah yang berusaha menenangkan adiknya itu meraba keadaan sekitar sebelum tangan kecilnya diraih oleh sang ayah dan dibawanya ke dalam pelukan hangat sang ayah. Bocah berumur tujuh tahun tersebut memang tidak sesempurna kedua adiknya. Sejak kecil, dia sudah kehilangan pengelihatannya.

Pria itu memeluk dua dari anaknya itu dengan erat seakan tak rela harus berpisah dengan mereka. Tapi keadaannya saat ini tidak memungkinkan baginya untuk merawat mereka berdua terlebih lagi dengan kehadiran balita berumur empat tahun yang ada dalam gendongan sang nenek.

Pria itu harus memperbaiki hidupnya terlebih dahulu sebelum dia mampu membawa ketiga putranya dan hidup bersama dengan dirinya. Pria itu masih dilanda kesedihan yang dalam sejak ditinggal oleh istri tercinta yang meninggal dunia akibat sakit kanker yang diderita selama dua tahun terakhir ini.

“Siwon-ah, sudah saatnya.” Sahut sang wanita dengan lembut namun terdengar sedikit sedih karena dia paham apa yang sedang dirasakan oleh menantunya tersebut. Choi Siwon, nama pria tersebut, melepaskan pelukannya dan mencium kening masing-masing putranya tersebut. Lalu dia bangkit dan mendekati putra bungsunya yang masih tertidur dengan nyenyak dalam gendongan mertuanya. Siwon mencium pipi gembil putranya tersebut dengan lembut agar tidak membangunkannya.

“Aku titip mereka umma. Aku janji aku akan mengambil mereka lagi dua tahun dari sekarang.” Ucap Siwon sungguh-sungguh. Sang mertua hanya mengangguk dan membelai pipi menantunya itu dengan sayang. Siwon melihat sekali lagi ketiga anaknya sebelum mengambil tas punggungnya dan berbalik pergi. Siwon langsung melangkah cepat agar tidak merasa berat karena perpisahan dengan anak-anaknya itu.

“Appa!! Huwa!! Appa!!” bocah yang tidak pernah lelah untuk menangis itu, memanggil Siwon dengan keras. Namun Siwon tidak berpaling, dia tidak sanggup untuk berbalik. Karena jika dia berbalik dan menatap wajah putra-putranya, Siwon pasti tidak akan tega untuk pergi. Tapi ini harus dia lakukan. Kepergiannya adalah untuk kebaikan anak-anaknya.

Tunggu appa, sayang. Appa pasti kembali untuk kalian. Appa pasti kembali. Appa janji.

Dua Tahun Kemudian

Sebuah sedan putih terparkir rapi di sebuah rumah berukuran sedang tapi tertata dengan indah. Dari mobil putih tersebut keluar seorang pria tinggi membawa berbagai macam mainan dan makanan untuk anak kecil. Pria itu memasang senyum lebar tatkala dia melihat seorang wanita paruh baya yang merupakan mertuanya menyambutnya bersama tiga orang anak laki-laki.

“APPA!!” dua bocah dari tiga langsung berlari ke arah sang pria yang ternyata adalah Siwon dan menubrukkan diri mereka ketika Siwon menurunkan tubuhnya, melepas semua barang bawaan dan merentangkan tangannya sama seperti yang dia lakukan dua tahun yang lalu. Perbedaannya dulu pelukan mereka adalah pelukan perpisahan sedangkan yang ini adalah pelukan rindu antara ayah dan anak.

“Appa! Appa!” keduanya memanggil Siwon dengan antusias membuat senyuman di wajah Siwon berubah menjadi tawa yang lebar.

“Jagoan appa! Appa rindu sekali sama kalian! Kalian tidak nakal dan membuat repot halmoni bukan?!”

“Tentu saja tidak appa. Bummie dan Minho-ah selalu menuruti kata halmoni.”

“Pintar. Itu baru anak appa.” Puji Siwon sambil mengacak surai kedua putranya itu. Sedangkan bocah yang satunya yaitu anak tertua Siwon, baru datang dengan dituntun oleh sang nenek. Ketika dia sampai, Siwon dengan hati-hati menarik tangannya dan memeluk bocah berumur sembilan tahun itu dengan sayang.

“Joongie.” Sahut Siwon pelan. Siwon tahu bahwa anak pertamanya ini berusaha tegar demi adik-adiknya tapi pada kenyataannya Choi Jaejoong adalah yang paling rapuh hatinya. Perpisahan mereka dua tahun yang lalu begitu menyakitkan bagi Jaejoong karena dia selalu merasa kepergian Siwon adalah karena ketidak sempurnaannya menjadi beban bagi Siwon.

“Appa.” Lirih Jaejoong ketika merasakan dekapan hangat Siwon. Matanya yang gelap menjadi berkaca-kaca dan dalam sekejap tumpahlah airmata yang dibendungnya selama ini.

“Hiks.. hiks..” isaknya sambil melingkarkan tangan kecilnya di leher sang ayah dengan erat. Jaejoong takut jika dia melepaskan tangannya, maka sang ayah akan pergi lagi dan kali ini takkan kembali. Siwon pun menyadari keengganan Jaejoong dan ketakutannya. Dengan perlahan Siwon mencium kening Jaejoong dan membelai surai hitam putra pertamanya itu.

“Oh sayang jangan menangis. Appa disini sekarang. Appa akan selalu bersama kalian. Appa tidak akan pergi lagi.” Ungkap Siwon serius. Jaejoong melonggarkan sedikit pelukannya dan meraba wajah ayahnya dan memastikan apa yang dia dengar tadi adalah kenyataan.

“Be..benarkah appa? Appa tidak akan pergi lagi meninggalkan Joongie, Bummie, dan Minho-ah?” tanyanya polos dengan nada sedikit terbata-bata. Bocah kecil itu masih sedikit takut ayahnya akan pergi lagi meninggalkan dirinya dan juga adik-adiknya. Siwon tersenyum dan membelai pipi mulus Jaejoong. Dia paham benar kecemasan yang melanda putra-putranya. Dengan mantap, Siwon menjawab pertanyaan Jaejoong.

“Benar sayang. Appa tidak akan pergi lagi. Jadi Joongie jangan menangis lagi ya. Nanti cantiknya Joongie hilang.” Goda Siwon lalu mencium sekali lagi kening Jaejoong dan kali ini dia juga mencium pipi mulus Jaejoong, membuat bocah berumur sembilan tahun itu malu namun sedikit tidak terima dikatakan cantik oleh Siwon.

“Appa! Joongie itu laki-laki!” pekiknya tidak setuju dengan pernyataan Siwon. Siwon terkekeh melihat Jaejoong sekarang sudah tidak menangis lagi. Wajahnya menjadi sangat imut dengan bibir yang mengerucut dan pipi yang mengembung. Siwon menjadi gemas dan akhirnya mencubit pipi putih mulus seperti pipi istrinya itu.

“Tapi Joongie sungguh cantik. Seperti mendiang umma.” Jaejoong semakin mengembungkan pipinya sehingga membuat Siwon tertawa terbahak-bahak. Momen ini begitu menyenangkan bagi Siwon dan dia sungguh bersyukur janjinya untuk kembali dalam dua tahun ini bisa dia penuhi.

“Siwon-ah.” Suara mertuanya itu membuat Siwon menyadari kehadirannya. Dengan cepat Siwon kembali berdiri dan membungkuk hormat kepada orang yang terlah berjasa menjaga ketiga buah hatinya dengan baik.

“Umma, aku..”

“Sudahlah. Ayo masuk. Umma sudah membuatkan banyak makanan untuk makan siang kita. Kau bisa menceritakan semuanya didalam nanti.” Potong mertua Siwon karena dia tahu Siwon akan mengucapkan terima kasih dan hal lainnya. Wanita bijaksana itu tidak ingin mendengar kata-kata Siwon karena baginya menjaga cucu-cucunya tersayang ini adalah hal yang menyenangkan dan juga merupakan berkah dalam hidupnya yang kesepian sejak ditinggal oleh suaminya bertahun-tahun yang lalu.

Siwon yang mengerti maksud ibu mertuanya hanya menggangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya kepada ketiga putranya yang ternyata dua diantaranya sedang sibuk dengan mainan dan makanan yang dibawa oleh Siwon. Siwon menggelengkan kepalanya meski ada senyum di wajah tampannya. Dia lalu mendekati kedua putranya yang masih sibuk memilih mainan mana yang mereka suka setelah menggendong si sulung.

“Bummie, Minho-ah, ayo masuk. Appa akan gendong kalian bertiga. Bummie sama Joongie sama appa di depan dan Minho-ah di belakang ya.” Ucap Siwon lalu mengarahkan punggungnya kepada putra bungsunya yang langsung ditanggapi dengan loncatan kecil dan lengan kecil yang melingkari leher Siwon sedangkan putra tengahnya langsung berlari kecil ke arah depan Siwon dan menunggu Siwon mengangkat dirinya.

Setelah memastikan si kecil sudah aman di belakang, dengan sigap Siwon berdiri dengan ketiga putranya lalu membawa mereka sekaligus ke dalam rumah mertuanya tersebut. Terdengar suara tawa bahagia dari mereka semua karena memang saat ini adalah saat yang paling membahagiakan bagi mereka meski hidup tidak selalu memberikan kebahagian yang sejati pada manusia.

TBC

Advertisements