Tags

, , , , , , , ,

Title : Home 2

Charas : Wonkyu, Jaejoong, Kibum, Minho, Others later

Genre : Romance, Family

Disclaimer : all casts are belong to their self and God

Warning : Un-betaed, BL, AU, OOC

Summary : Being a father is a hard work, but I realize being children is also a hard work. Am I capable to understand them and help them with the cruelty of world? Am I capable to be called home for them?

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

“Umma, aku..”

“Sudahlah. Ayo masuk. Umma sudah membuatkan banyak makanan untuk makan siang kita. Kau bisa menceritakan semuanya didalam nanti.” Potong mertua Siwon karena dia tahu Siwon akan mengucapkan terima kasih dan hal lainnya. Wanita bijaksana itu tidak ingin mendengar kata-kata Siwon karena baginya menjaga cucu-cucunya tersayang ini adalah hal yang menyenangkan dan juga merupakan berkah dalam hidupnya yang kesepian sejak ditinggal oleh suaminya bertahun-tahun yang lalu.

Siwon yang mengerti maksud ibu mertuanya hanya menggangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya kepada ketiga putranya yang ternyata dua diantaranya sedang sibuk dengan mainan dan makanan yang dibawa oleh Siwon. Siwon menggelengkan kepalanya meski ada senyum di wajah tampannya. Dia lalu mendekati kedua putranya yang masih sibuk memilih mainan mana yang mereka suka setelah menggendong si sulung.

“Bummie, Minnie, ayo masuk. Appa akan gendong kalian bertiga. Bummie sama Joongie sama appa di depan dan Minnie di belakang ya.” Ucap Siwon lalu mengarahkan punggungnya kepada putra bungsunya yang langsung ditanggapi dengan loncatan kecil dan lengan kecil yang melingkari leher Siwon sedangkan putra tengahnya langsung berlari kecil ke arah depan Siwon dan menunggu Siwon mengangkat dirinya.

Setelah memastikan si kecil sudah aman di belakang, dengan sigap Siwon berdiri dengan ketiga putranya lalu membawa mereka sekaligus ke dalam rumah mertuanya tersebut. Terdengar suara tawa bahagia dari mereka semua karena memang saat ini adalah saat yang paling membahagiakan bagi mereka meski hidup tidak selalu memberikan kebahagian yang sejati pada manusia.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Sepuluh Tahun Kemudian

“Appa! Bangun!” teriak Choi Minho kepada Choi Siwon yang masih terlelap di ranjangnya yang empuk. Anak ketiga dari keluarga Choi itu memandang tubuh kekar appanya dengan tatapan kesal. Permasalahannya adalah sudah lebih dari lima menit Minho berteriak memanggil, mengguncang bahkan sesekali menendang pinggang sang ayah, Siwon masih saja tertidur.

Minho sangat tidak menyukai aktifitasnya membangunkan sang ayah yang jika sudah tidur seperti orang mati saja. Minho merasa punya kegiatan lain yang lebih bermanfaat baginya seperti bermain game atau mungkin ikut membaca buku seperti kakaknya Kibum daripada bergulat dengan ayahnya yang sampai detik ini masih tidak bergerak sama sekali.

“Hyung! Appa tidak mau bangun juga!” teriak Minho sambil menyembulkan kepalanya dari kamar Siwon. Choi Jaejoong, anak pertama keluarga Choi yang berada di bawah, masih sibuk dengan aktifitas memasaknya dibantu oleh Choi Kibum si anak kedua, menyahut sama kerasnya.

“Gulingkan saja appa sampai jatuh Minho-ah! Pasti appa bangun!” teriaknya lalu melanjutkan lagi kegiatan masak memasaknya. Kibum menatap kakak tertuanya itu dengan sedikit tawa. Kibum sungguh tidak mengerti mengapa untuk membangunkan Siwon harus dengan sedikit kekerasan.

“Hyung, bukahkah lebih mudah jika appa disiram air dingin saja?” tanya Kibum sambil menyerahkan potongan sayur yang sudah siap kepada Jaejoong. Sebenarnya Kibum sudah bisa menduga jawaban dari Jaejoong karena kejadian seperti ini sudah berlangsung sejak dulu. Hanya saja Kibum merasa lucu dengan alasan Jaejoong tersebut.

“Bisa saja Bummie, tapi itu artinya pekerjaan menyuciku bertambah. Seprei appa baru aku ganti kemarin sore. Jika kita menyiram appa, itu berarti aku harus menyuci seprei yang sebenarnya baru akan aku cuci besok.” Kibum langsung terkikik mendengar alasan Jaejoong tapi dia tidak berkomentar apa-apa lagi.

“HUWA!!” Gubrak!! “SAKIT!!”

“Appa sudah bangun.” Ucap Jaejoong dan Kibum bersamaan lalu diikuti dengan tawa dari keduanya.

Dua puluh menit kemudian, seluruh keluarga Choi sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan yang dibuat oleh Jaejoong dengan bantuan Kibum. Kebutaan yang dialami Jaejoong tidak lantas membuat dirinya tidak melakukan apapun untuk membantu pekerjaan rumah di keluarga kecil itu. Justru semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Jaejoong dengan baik meski beberapa hal dia masih membutuhkan bantuan kedua adiknya dan juga Siwon.

Memasak bagi Jaejoong adalah bisa dikatakan sebagai sesuatu yang membuatnya merasa berguna bagi keluarga kecil ini. Meski buta, namun indera lainnya terutama indera pengecap dan penciumannya sangat berguna ketika dia memasak. Tidak ada yang meragukan kemampuan si sulung ini.

Terbukti dengan pekerjaan Jaejoong sebagai koki di salah satu restoran milik sahabat Siwon. Satu-satunya restoran yang mau menerima Jaejoong yang buta sebagai salah satu pegawainya. Jaejoong pun membuktikan bahwa dirinya layak dipekerjakan karena semenjak Jaejoong bergabung, omset restoran tersebut terus menanjak dan selalu dipadati oleh pelanggan baik pelanggan setia maupun pelanggan baru yang mendengar kabar kelezatan masakan Jaejoong.

Jaejoong sungguh bersyukur meski dengan keterbatasannya sekarang, dia masih memiliki keluarga yang mendukungnya meski jauh di lubuk hati Jaejoong yang terdalam, dia tak memungkiri seandainya dia mampu untuk melihat. Pasti keluarganya akan lebih bahagia dan dirinya tidak akan menyusahkan banyak orang orang. Keluarga bagi Jaejoong adalah mutiara berharga dan Jaejoong akan melakukan apapun demi mereka.

Sementara itu, tampak Kibum sedang memandang Jaejoong yang tersenyum sendiri sambil sesekali menyuap makanan ke dalam mulutnya. Kibum tahu bahwa kakaknya tersebut bahagia karena meski dia buta namun Jaejoong menemukan sesuatu yang membuatnya merasa berarti dan Kibum lega karenanya. Kibum memang selalu merasa cemas sebelum Jaejoong mendapatkan pekerjaan di restoran milik sahabat ayah mereka itu. Kibum sering melihat raut wajah sedih Jaejoong yang hanya bisa berdiam diri di rumah tanpa bisa melakukan apapun jika tidak ada orang lain yang menjaganya.

Tidak seperti dirinya dan Minho yang bersekolah di sekolah biasa, Jaejoong harus puas dengan home schooling. Bahkan dua tahun yang lalu ketika Jaejoong dinyatakan lulus materi kelas tiga SMU dan disarankan untuk mengikuti kuliah, dirinya tak kuasa menahan kesedihannya ketika Jaejoong dengan senyum sendu memilih untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Kakaknya itu memilih memperdalam kemampuannya memasak dan memusatkan diri untuk berdiri sendiri dalam pekerjaan di rumah dan hal lainnya untuk mengurusi dirinya, Minho dan Siwon.

Tak ada yang dapat diungkapkan Kibum selain perasaan kagum dan sayang kepada Jaejoong. Kibum yang saat ini sedang menginjak tahun terakhirnya di SMU berusaha sekuat tenaga untuk bisa diterima di universitas dengan fakultas kedokteran nomor satu di negeri tersebut.

Kibum ingin mencoba mencari cara agar bisa memberikan cahaya bagi Jaejoong selain ingin berguna bagi mereka yang membutuhkan pengobatan dan membanggakan sang ayah. Saat ini tak ada yang Kibum inginkan selain mencapai cita-cita tersebut demi keluarganya yang selalu mendukungnya dalam hal apapun. Senyum indah Kibum terkembang dengan sempurna ketika dia membayangkan jika suatu saat cita-cita itu bisa terwujud.

Senyum itu terlihat jelas di mata si bungsu Minho yang sedari tadi memperhatikan Jaejoong dan Kibum. Berbeda dengan kedua kakaknya, Minho masih belum bisa mengartikan perasaannya sendiri. Di satu sisi dia merasa bahwa tidak ada yang salah dengan keluarganya namun di satu sisi Minho menginginkan kesempurnaan normal seperti orang pada umumnya.

Minho ingin mempunyai orang tua lengkap dan bukan hanya ayah. Minho ingin mempunyai kakak laki-laki yang sehat jasmani dan kuat bukan kakak laki-laki dengan ketidak mampuan dari segi fisik dan terlihat lemah lembut seperti perempuan. Satu-satunya yang mampu Minho terima di keluarga ini hanya Kibum sang kakak yang pintar meski tak begitu banyak bicara namun berpikiran logis dan dapat diandalkan. Selebihnya, Minho selalu membandingkan keluarganya dengan keluarga orang lain.

Dulu saat dia masih kecil, Minho tidak mempermasalahkan hal tersebut meski terkadang Minho suka memendam kekesalan sekaligus rasa malu ketika teman sekelasnya mengejek Jaejoong. Tetapi dengan berjalannya waktu, Minho semakin tidak bisa menulikan telinga dan menutup matanya kala teman-temannya memandang Jaejoong dengan pandangan iba bahkan ada yang memandang rendah Jaejoong karena keterbatasannya.

Minho juga tidak bisa menutupi kekecewaannya sedari kecil ketika setiap ada acara yang memperingati hari ibu disekolahnya, yang datang selalu saja Siwon beserta neneknya. Dan ketika sang nenek meninggal dunia lima tahun lalu karena sakit, tidak ada sosok perempuan yang menyayanginya. Hanya ada ayah dan kakak-kakaknya.

Mungkin ada yang mengatakan wajar saja Minho memiliki perasaan tersebut, mengingat usianya masih 16 tahun. Meski hanya berbeda satu tahun dengan Kibum yang memang pemikirannya dewasa, di usia yang labil itu, Minho pasti memiliki keinginan seperti remaja lainnya tapi yang dia dapat adalah keluarga yang menurutnya jauh dari kata sempurna.

Berulang kali Minho ingin mengutarakan keinginannya kepada sang ayah untuk mencari ibu untuknya. Berulang kali Minho mencoba mengatakan idenya agar sang ayah membawa Jaejoong pergi ke luar negeri dan memeriksakan matanya dengan kemungkinan siapa tahu Jaejoong bisa melihat lagi.

Hanya saja Minho selalu mengurungkan niatnya tersebut karena takut jika Siwon marah besar padanya. Minho takut Siwon menganggapnya tidak mau menerima keluarga mereka apa adanya walau itulah yang dirasakan oleh Minho saat ini. Maka dari itu, yang bisa dilakukan Minho saat ini hanya bertoleransi dengan keadaan keluarganya sekarang. Minho hanya bisa berharap bahwa suatu saat dia bisa menyuarakan isi hatinya atau lebih baik lagi, menerima kondisi keluarga kecilnya dengan lapang dada.

“Appa sudah selesai. Kibum, Minho, appa antar ke sekolah ya. Appa hari ini ada meeting di perusahaan klien appa dan kebetulan letaknya dekat dengan sekolah kalian.” Ucap Siwon tiba-tiba membuyarkan pikiran masing-masing dari Jaejoong, Kibum dan Minho. Kibum dan Minho saling pandang sebelum akhirnya Minho mengangguk setuju dan buru-buru menghabiskan sarapannya. Sementara Kibum seperti ingin menolak tawaran sang appa untuk mengantarnya.

Kibum memang tidak ingin Siwon mengantar dirinya dan Minho ke sekolah karena suatu alasan. Semenjak menginjak bangku SMU, Kibum memang selalu menolak jika Siwon ingin mengantarkan dirinya ke sekolah. Siwon sempat heran dengan keengganan Kibum tapi dia tidak pernah menanyakan alasannya. Siwon berpikir mungkin Kibum ingin mandiri atau bisa saja malu karena diantar oleh orang tuanya.

Kibum baru saja akan mengatakan keberatannya kepada Siwon tapi lelaki itu sudah terlanjur pergi sambil membawa piring dan gelas kotornya ke tempat cuci piring lalu mencucinya. Siwon memang tidak mau menyusahkan Jaejoong untuk hal-hal kecil seperti mencuci bekas peralatan makan sendiri dan tidak menggubris Kibum sama sekali yang memandangnya dengan raut wajah yang tidak bisa dipahami. Apa itu takut, cemas, entahlah.

Sementara itu, Jaejoong yang mendengar bunyi keran air menyala langsung berdiri sambil membawa piring dan gelasnya sendiri. Dia berjalan perlahan menuju tempat cuci piring yang sudah dihafalnya di luar kepala. Dengan lembut, Jaejoong memegang lengan ayahnya yang masih sibuk mencuci, mematikan keran air, lalu mengeringkan tangan ayahnya dengan handuk kecil yang selalu tersedia di dapur.

“Appa, biarkan Joongie saja yang mencuci. Appa lekaslah pergi bekerja.” Ingat Jaejoong pelan masih sambil mengeringkan tangan Siwon yang basah.

“Tapi appa sudah mau selesai Joongie. Tak apa-apa.”

“Joongie tidak terima penolakan dari appa. Sekarang cepatlah pergi sebelum appa terlambat. Bummie, tolong bawa semua piring dan gelas kotor itu kemari ya. Biar hyung cuci.” Pinta Jaejoong sekaligus memotong bantahan dari Siwon. Siwon hanya bisa menghela nafas dan mencium kening putra sulungnya itu lalu pergi ke ruang kerjanya mengambil tas kerja sebelum keluar rumah dan menunggu Kibum dan Minho di mobil.

Kibum sendiri menuruti permintaan Jaejoong dan membereskan meja makan sementara Minho bersiap-siap sedikit sebelum akhirnya mengikuti Siwon keluar rumah tanpa berpamitan kepada Jaejoong. Kibum yang mengerti situasi Minho hanya menggelengkan kepalanya. Sejenak dia melupakan tentang keberatannya akan Siwon yang ingin mengantar dirinya dan Minho ke sekolah. Kibum lalu menatap Jaejoong yang masih sibuk dengan kegiatan mencuci peralatan makan yang kotor.

“Hyung.” tiba-tiba Kibum memanggil Jaejoong.

“Hm.” Jaejoong hanya membalas singkat tanpa menghentikan kegiatannya tadi.

“Maafkan Minho.” Sontak, tangan Jaejoong yang sedang membilas piring terhenti. Dia tahu maksud perkataan Kibum tadi. Jaejoong tersenyum sembali menghembuskan nafas perlahan. Dimatikannya keran air itu sekali lagi sebelum menanggapi Kibum.

“Untuk apa?”

“Karena tingkah lalu Minho beberapa bulan belakangan ini. Aku tahu kau berpura-pura tidak tahu dan menyembunyikan kesedihanmu sendirian hyung. Kau sedih karena beberapa waktu terakhir ini Minho seperti tidak menganggapmu meski dia masih bicara seperti biasanya terhadapmu, tapi…”

“Sudahlah Bummie. Tidak usah dibahas lagi. Aku mengerti dan aku tidak marah dengan Minho. Dia hanya sedang melalui masa-masa sulit. Dia remaja dan aku tahu dengan memiliki kakak buta sepertiku hanya akan mempermalukan dia saja.” Potong Jaejoong langsung. Pria cantik itu tidak mau mendengar adiknya meminta maaf untuk sesuatu yang menurutnya wajar untuk remaja seusia Minho.

Jaejoong tahu Minho juga saat ini mengalami dilema dengan dirinya sendiri karena dia ingin seperti remaja lain pada umumnya namun kenyataan yang dia terima, keluarganya tidak bisa memberikan itu. Sedangkan Kibum yang mendengar Jaejoong tidak marah dan justru memaklumi sikap Minho, menjadi sedikit kesal. Kibum takut jika hal seperti ini dibiarkan begitu saja, maka lambat laun Minho akan semakin tidak bisa diberitahu dan dampaknya akan sangat buruk untuk keluarga mereka.

“Hyung! Tolong jangan bicara seperti itu! Kami sama sekali tidak keberatan dengan keadaan hyung.” sanggah Kibum. Jaejoong menanggapi ucapan adiknya tersebut dengan senyum.

“Tidak apa-apa Bummie. Memang kenyataannya seperti itu. Lambat laun Minho akan mengerti.”

“Dan jika tidak?”

“Maka aku yang akan mengalah.”

“Maksud hyung?”

“Sudahlah. Kau harus cepat pergi. Appa dan Minho sudah menunggumu. Kau tidak mau terlambat ke sekolah bukan?!” ingat Jaejoong mengakhiri perdebatan kecil mereka. Jaejoong tidak akan memberitahu apapun kepada Kibum maupun Siwon jika pada saatnya tiba, jika memang mereka semua terbebani dengan kehadiran Jaejoong, maka Jaejoong akan memilih untuk pergi. Jaejoong sudah lama memikirkan kemungkinan ini dan dia sanggup untuk berdiri sendiri dan meninggalkan keluarga kecilnya jika memang itu yang harus dia lakukan demi kebahagiaan mereka semua.

“Ya sudahlah. Aku berangkat dulu hyung.” pamit Kibum lalu mencium pipi Jaejoong. Jaejoong mengantar kepergian adiknya masih dengan senyum meski senyum itu terlihat sendu.

Aku akan mengalah Bummie, demi Minho, demi kau, dan demi appa. Jika suatu hari kalian menyadari kehadiranku sebagai beban kalian, maka aku akan menghilangkan perasaan itu dari benak kalian. Aku berjanji.

Saphire Blue High School

Siwon memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gerbang sekolah putra-putranya. Begitu mobil itu terparkir sempurna, Siwon membuka kunci mobil dan keluar diikuti oleh Kibum dan juga Minho.

“Ingat ya, pulang sekolah langsung pulang. Jangan main kemana-mana. Kasihan hyungmu sendiri dirumah. Hari ini restoran tempatnya bekerja libur jadi semua pegawai juga ikut libur.” Pesan Siwon sambil merapikan sedikit seragam Kibum dan Minho. Keduanya serta merta langsung menepis tangan sang ayah yang bermaksud merapikan dasi mereka berdua. Siwon langsung menautkan kedua alisnya dan memberikan tatapan bingung dengan sikap kedua putranya tadi.

“Kenapa?”

“Appa! Malu dilihat siswa lain! Memang kami berdua anak TK?!” sungut Minho tidak terima diperlakukan seperti anak kecil oleh Siwon.

“Apa salahnya? Appa hanya ingin membantu putra appa biar terlihat lebih tampan.”

“Tapi tidak seperti itu juga appa. Sudahlah appa jangan berlama-lama disini. Appa sebaiknya segera berangkat. Nanti appa terlambat.” Sahut Kibum menengahi sebelum Siwon dan Minho berdebat hal yang tidak penting. Walau sesungguhnya ada niat tersendiri mengapa Kibum ingin agar Siwon segera pergi dari sekolahnya. Siwon sendiri merasa heran dengan sikap Kibum yang sepertinya ingin agar dirinya segera pergi dari tempat tersebut dan dia menyuarakan hal tersebut.

“Kau sepertinya ingin agar appa cepat pergi Bummie. Memangnya apa yang kau sembunyikan? Ah, appa tahu. Kau tidak ingin teman-temanmu melihat appa dan terpesona dengan ketampanan appa bukan?!” sahut Siwon percaya diri.

Kibum memutar matanya bosan sedangkan Minho menepuk dahinya sendiri karena sikap ayah mereka yang menurut keduanya terlalu percaya diri. Siwon sendiri akhirnya tertawa geli dengan sikap putra-putranya yang enggan mengakui bahwa dirinya tampan.

Pada akhirnya, Minho memilih berlari meninggalkan Kibum dan Siwon menuju kelasnya daripada harus mendengar ocehan penuh percaya diri dari sang ayah. Kibum sendiri baru akan mengikuti jejak Minho ketika satu suara yang terdengar oleh telinganya dan telinga Siwon membuat raut wajah Kibum terkejut atau bisa dikatakan panik. Satu suara dari sahabatnya sejak kelas 1.

“Selamat pagi Kibummie.” Sapa seseorang yang terlihat berlari kecil menghampiri Kibum. Suara merdunya itu membuat Siwon menoleh ke arah orang tersebut. Kibum juga ikut menoleh meski dalam hatinya dia merutuki dirinya sendiri karena tidak jadi menolak tawaran Siwon.

Kibum sudah bisa menduga seperti apa raut wajah Siwon ketika melihat sahabatnya yang baru saja datang dan sekarang telah berdiri dihadapan Kibum. Mereka berdua pasti terkejut dan seakan melihat hantu. Mengapa begitu? Karena rupa sahabatnya mirip dengan,

“Kyuyoung?!” ucap Siwon memastikan bahwa sosok yang dilihatnya sekarang adalah sosok yang selalu dia rindukan selama ini. Sosok itu memalingkan wajahnya dari Kibum dan menatap Siwon bingung karena Siwon memanggilnya dengan nama orang lain. Merasa Siwon telah salah mengenali dirinya, sosok tersebut akhirnya memberitahu tahu siapa dirinya agar Siwon tidak salah paham.

“Kyuyoung? Maaf ahjussi, tapi nama saya Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”

TBC

Advertisements