Tags

, , , , , , , , , ,

Title : Home 3

Pairing/Charas : Wonkyu, Yunjae, Kibum, Minho, Others later

Genre : Romance, Family

Disclaimer : all casts are belong to their self and God

Warning : Un-betaed, BL, AU, OOC

Summary : Being a father is a hard work, but I realize being children is also a hard work. Am I capable to understand them and help them with the cruelty of world? Am I capable to be called home for them?

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

“Kau sepertinya ingin agar appa cepat pergi Bummie. Memangnya apa yang kau sembunyikan? Ah, appa tahu. Kau tidak ingin teman-temanmu melihat appa dan terpesona dengan ketampanan appa bukan?!” sahut Siwon percaya diri.

Kibum memutar matanya bosan sedangkan Minho menepuk dahinya sendiri karena sikap ayah mereka yang menurut keduanya terlalu percaya diri. Siwon sendiri akhirnya tertawa geli dengan sikap putra-putranya yang enggan mengakui bahwa dirinya tampan.

Pada akhirnya, Minho memilih berlari meninggalkan Kibum dan Siwon menuju kelasnya daripada harus mendengar ocehan penuh percaya diri dari sang ayah. Kibum sendiri baru akan mengikuti jejak Minho ketika satu suara yang terdengar oleh telinganya dan telinga Siwon membuat raut wajah Kibum terkejut atau bisa dikatakan panik. Satu suara dari sahabatnya sejak kelas 1.

“Selamat pagi Kibummie.” Sapa seseorang yang terlihat berlari kecil menghampiri Kibum. Suara merdunya itu membuat Siwon menoleh ke arah orang tersebut. Kibum juga ikut menoleh meski dalam hatinya dia merutuki dirinya sendiri karena tidak jadi menolak tawaran Siwon.

Kibum sudah bisa menduga seperti apa raut wajah Siwon ketika melihat sahabatnya yang baru saja datang dan sekarang telah berdiri dihadapan Kibum. Mereka berdua pasti terkejut dan seakan melihat hantu. Mengapa begitu? Karena rupa sahabatnya mirip dengan,

“Kyuyoung?!” ucap Siwon memastikan bahwa sosok yang dilihatnya sekarang adalah sosok yang selalu dia rindukan selama ini. Sosok itu memalingkan wajahnya dari Kibum dan menatap Siwon bingung karena Siwon memanggilnya dengan nama orang lain. Merasa Siwon telah salah mengenali dirinya, sosok tersebut akhirnya memberitahu tahu siapa dirinya agar Siwon tidak salah paham.

“Kyuyoung? Maaf ahjussi, tapi nama saya Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”

( 。・_・。)(。・_・。 )

Kantor Choi Group

Di ruangan yang bertuliskan CEO Choi Group itu, tampak seseorang tengah duduk di sebuah kursi kerja yang empuk sambil membaca beberapa berkas dan sesekali menuliskan sesuatu di berkas tersebut. Orang itu cukup serius dengan setiap berkas yang ditanganinya. Namun tidak berselang beberapa menit, orang tersebut melepas kacamata bacanya lalu menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya tersebut. Dia menarik nafas lalu membuangnya perlahan kemudian mengusap wajahnya dengan salah satu telapak tangannya.

Choi Siwon, CEO Choi Group tersebut, kemudian mengarahkan tangannya tadi ke sebuah pigura cantik berisikan sebuah foto lama. Di dalam foto itu tampil seorang pria yang melingkarkan tangannya di pinggang seorang wanita cantik berambut panjang sepinggang yang tengah hamil besar. Sang wanita terlihat tersenyum sambil memangku seorang anak berusia sekitar tahun sedangkan sang pria juga tersenyum dan menggendong dikedua lengannya seorang bayi berusia sekitar satu tahun. Foto tersebut mencerminkan keluarga yang bahagia.

Siwon membelai kaca yang membatasi antara jarinya dan foto tersebut. Mata pria berusia 37 tahun itu berkaca-kaca meski tidak ada satu bulir pun yang keluar. Siwon merasakan kesepian dan kerinduan yang dalam ketika melihat foto tersebut.

“Yeobo. Aku merindukanmu. Kenapa kau harus pergi? Kenapa kau tega meninggalkanku dan anak-anak kita?” lirih Siwon masih membelai pigura itu.

Tok! Tok!

Siwon meletakan kembali pigura itu di tempatnya lalu mengambil tisu untuk sedikit menghapus jejak airmata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Dia lalu bersikap seolah-olah dia masih mengerjakan berkas-berkas perjanjian dan hal lainnya yang sempat dia lupakan tadi sebelum mempersilahkan orang yang mengetuk untuk masuk.

“Ya, masuk.” Setelah Siwon berucap demikian, pintu ganda ruangannya terbuka lebar dan menampakan sosok Jaejoong dan seorang pria yang sedikit lebih tua dari Jaejoong. Pria tersebut menuntun Jaejoong dengan sangat lembut dan penuh perhatian.

“Appa.” Panggil Jaejoong ceria. Ditangan kirinya dia memegang sebuah kotak seperti kotak bekal, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah tongkat titanium meski sekarang tidak terlalu berguna disebabkan tangan pria tadi masih memegang tangan Jaejoong untuk menuntunnya ke arah sofa di ruangan Siwon.

“Joongie? Kenapa kau kemari sayang? Tunggu, kau kesini dengan siapa?” tanya Siwon bertubi-tubi karena dia kaget Jaejoong mendadak datang ke kantornya.

“Sendiri. Joongie bosan dirumah.” Jawab Jaejoong enteng sambil tersenyum kepada Siwon. Siwon melebarkan bola matanya shok karena Jaejoong berani pergi sendiri tanpa ada yang mendampinginya. Dengan segera, Siwon menghampiri Jaejoong yang sudah duduk manis di sofa lalu langsung memeluk Jaejoong dari samping

“Astaga Joongie! Kenapa kau tidak meminta Kang ahjussi mengantarmu. Buat apa ada supir dirumah jika kau kesini sendiri. Oh tidak… Jangan katakan kau naik bus Joongie.”

“Tidak appa. Aku naik taksi. Appa ini kenapa selalu khawatir berlebihan terhadap Joongie. Joongie bisa menjaga diri Joongie dengan baik.” Rajuk Jaejoong tidak terima selalu dianggap seperti anak kecil oleh Siwon. Siwon terkekeh ketika melihat bibir putranya yang itu mengerucut lucu. Siwon lalu membelai rambut Jaejoong dengan lembut dan mengecup puncak kepalanya dengan sayang.

“Appa tahu sayang. Tapi boleh bukan jika seorang ayah khawatir terhadap anak cantiknya.” Mendengar kata cantik keluar dari bibir Siwon, sontak membuat Jaejoong semakin cemberut. Dia sungguh tidak mengerti mengapa ayahnya selalu mengatakan dia cantik. Dia laki-laki sebagai seorang laki-laki, Jaejoong ingin dikatakan tampan dan bukan cantik.

“Appa!! Joongie tidak cantik! Joongie tampan!” gerutu Jaejoong.

“Siapa bilang? Coba kemari Yunho-ah, apa anakku ini cantik atau tampan?” tanya Siwon sambil meminta pria yang mengantar Jaejoong tadi untuk menghampiri mereka berdua. Sementara pria bernama Jung Yunho itu bingung harus menjawab apa. Di satu sisi dia setuju dengan ucapan Siwon bahwa Jaejoong itu terlalu cantik untuk ukuran seorang pria namun di satu sisi Yunho pun merasa tidak ingin membuat Jaejoong marah dengan menyetujui perkataan Siwon.

“Um…”

“Sudah jujur saja. Cantik atau tampan?” desak Siwon lagi yang akhirnya mau tidak mau membuat Yunho berkata dengan jujur.

“Cantik sajangnim.” Siwon yang mendengar panggilan sajangnim yang diarahkan kepadanya, langsung menautkan kedua alisnya dan memandang tidak setuju ke arah Yunho.

“Yunho-ah, sudah berapa kali aku bilang jika hanya ada aku dan keluargaku, kau cukup memanggilku hyung. Mengerti?!” ralat Siwon keras. Yunho sedikit kikuk dan merasa tidak enak. Tetapi, dia mengangguk ketika mata Siwon semakin mendelik ke arahnya.

“Mengerti sajang… ah, hyung.”

“Bagus. Kau dengar itu Joongie. Yunho-ah saja bilang kau cantik, jadi kau itu cantik.” Sahut Siwon kepada Jaejoong setelah mendapat dukungan dari Yunho. Jaejoong mengembungkan pipinya karena kesal dengan Siwon yang terus saja bersikukuh jika dirinya itu cantik. Apalagi Siwon semakin menjadi dengan dukungan dari Yunho.

“Kalian bersekongkol. Lagipula bagaimana aku bisa membantah ucapan appa. Aku saja tidak pernah tahu wajahku seperti apa. Mungkin appa hanya ingin menyenangkan hatiku saja ya.” Sontak Siwon menatap Jaejoong dengan pandangan sendu saat mendengar Jaejoong bicara seperti tadi. Perkataan Jaejoong memang benar adanya karena dirinya buta, tapi Siwon masih saja merasa bahwa tidak seharusnya putra pertamanya itu berbicara demikian. Siwon menghela nafas sebelum kembali membelai surai coklat kemerahan milik Jaejoong.

“Tidak Joongie. Kau itu cantik, sama seperti umma.”

“Appa…”

“Sangat cantik sampai appa merasa appa punya seorang putri.” Candanya agar Jaejoong tidak merasa rendah diri dengan ketidak mampuannya itu. Dan itu berhasil, karena Jaejoong kembali bersemangat dengan memukul pelan dada bidang sang appa dengan keras walau tidak terlalu terasa sama sekali oleh Siwon.

“Appa!!” pekiknya kesal.

“Sudahlah, ada apa kau tiba-tiba kemari sayang?” tanya Siwon mengalihkan pembicaraan mereka seputar kecantikan wajah Jaejoong. Jaejoong sendiri kembali teringat bahwa dia memang ada niat datang ke kantor Siwon.

“Oh ya, ini appa. Tadi aku sudah bilang kalau aku bosan berada dirumah appa. Jadi, aku membuatkanmu makan siang.”

“Makan siang?”

“Ya. Ini.” Ucap Jaejoong sambil menunjukkan bekal makanan yang sudah dia bawa.

“Wah, kau tahu saja appa sedang lapar.”

“Tentu saja aku tahu. Ayo kita makan appa.” Siwon tersenyum lalu mengambil bekal itu dari Jaejoong dan membukanya di meja. Siwon menatanya sendiri agar Jaejoong tidak perlu repot. Siwon kemudian ingat bahwa di ruangan itu ada Yunho dan segera saja, dia mengundang Yunho untuk ikut makan siang bersama. Apalagi setelah Siwon lihat, bekal makan siang yang dibuatkan Jaejoong terlalu banyak untuk dihabiskannya berdua dengan Jaejoong.

“Oh, Yunho-ah. Kau juga ikut makan bersama kami. Joongie membuat banyak, kami tak mungkin menghabiskan ini berdua.”

“Tapi hyung…”

“Tidak ada tapi. Kau. Makan. Disini.”

“Baiklah hyung.” jawab Yunho akhirnya mengalah dan menuruti keinginan dari atasannya tersebut. Siwon tersenyum puas lalu kembali mengarahkan perhatiannya kepada putra cantiknya.

Siwon menatap Jaejoong yang sibuk mengambilkan makanan untuknya dan juga Yunho. Memperhatikan Jaejoong dari dekat membuat Siwon tersenyum pilu. Dia tidak berbohong ketika mengatakan Jaejoong mirip dengan mendiang istrinya. Tapi ketika dia mengatakan hal tersebut, pikirannya langsung melayang kembali ke peristiwa tadi pagi saat dia mengantar kedua putranya yang lain ke sekolah. Peristiwa yang juga menguak ingatannya akan mendiang istrinya dengan memandang foto lama mereka berdua.

Siwon teringat dengan pemuda itu. Pemuda yang membuat jantungnya berdebar kala melihat paras manisnya. Siwon tidak tahu harus berpikir apa. Dalam benaknya, dia terus bertanya bagaimana bisa di dunia ini ada dua orang yang bergitu mirip layaknya anak kembar? Siwon seakan Kyuyoungnya, mendiang istri yang begitu dia cintai, hidup kembali dalam raga yang berbeda.

Siwon tidak tahu mengapa dia terus saja memikirkan teman anaknya itu. Yang pasti Siwon merasakan debaran jantungnya semakin berpacu kala mata coklat itu menatapnya. Siwon seperti merasakan rasa yang sama saat dia bersama Kyuyoung. Entah bagaimana rasa itu bisa muncul. Padahal dia sudah bersumpah bahwa dia tidak akan jatuh cinta lagi terhadap siapa pun. Namun dia, pemuda itu telah membuatnya merasakan sesuatu yang sudah lama terkubur dalam lubuh hatinya yang terdalam.

Siwon berpikir mungkin karena kemiripannya dengan Kyuyoung, Siwon menjadi merasakan perasan itu lagi tapi satu hal yang harus Siwon camkan baik-baik dalam dirinya, dia harus melupakan rasa itu dan juga pemuda itu. Siwon tahu apa yang akan terjadi jika dia mengikuti perasaannya. Pemuda itu bukan Kyuyoung dan itu yang harus Siwon ingat.

Meskipun begitu, meskipun Siwon sekuat tenaga mengukukuhkan dirinya untuk tidak mengingat lagi pemuda berkulit putih pucat itu, Siwon tanpa sadar tersenyum, menunjukkan kedua lesung pipi kebanggaannya itu ketika bayangan wajah manis dengan pipi gembil itu muncul lagi. Senyum yang tanpa Siwon ketahui menimbulkan raut wajah penasaran dari seorang Jung Yunho.

“Hyung.” Siwon tidak mendengar panggilan yang ditujukan kepadanya. Dia terus melamunkan pemuda teman putra keduanya.

“Hyung.” sekali lagi suara Yunho memanggil Siwon, namun Siwon seakan tuli dan terus saja melihat ke arah pandangan awalnya yaitu Jaejoong meski pikirannya tidak lagi tertuju kepada putra sulungnya itu.

“Hyung!!” kali ini Yunho memanggil Siwon lebih keras dari sebelumnya. Panggilan Yunho itu membuat Siwon tersentak dan langsung menoleh kepada Yunho. Pria berumur tiga puluh lebih itu tergagap menanggapi panggilan Yunho.

“Eh? Ya Yu..Yunho-ah?”

“Hyung kenapa? Kenapa tersenyum seperti itu?”

“Eh? Aku tersenyum?”

“Ya. Apa ada sesuatu yang menyenangkan yang sedang hyung ingat?” tanya Yunho dengan senyumnya yang juga sama mempesona seperti Siwon. Siwon sendiri termangu saat Yunho menanyakan hal tersebut. Menyenangkan? Tersenyum? Siwon membulatkan matanya ketika dia menyadari bahwa dia sudah bertingkah seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.

Siwon langsung berdiri dan menghampiri gantungan jas untuk mengambil jasnya. Siwon terlihat terburu-buru ingin melakukan sesuatu karena dia menyadari hal yang penting. Siwon bergegas bersiap untuk pergi. Akan tetapi dalam ketergesaannya, Siwon tak lupa menitipkan pesan kepada Yunho untuk membatalkan dan mengatur ulang janji temunya hari ini dengan semua kliennya lalu meminta pemuda berwajah kecil itu untuk mengantar Jaejoong pulang. Setelah itu semua, Siwon langsung pergi dari ruangannya, menimbulkan tanda tanya besar bagi Yunho dan juga Jaejoong yang sadar bahwa ayahnya telah pergi secara tiba-tiba.

Saphire Blue High School

Siwon terus memandangi gerbang sekolah kedua putranya, Kibum dan Minho, dari kaca depan mobil mewahnya. Siwon sudah sejak satu jam yang lalu berada tak jauh dari sekolah putra-putranya itu, berusaha mencari kehadiran seseorang.

Dia tahu persis jam berapa sekolah itu menyudahi kegiatan belajar mengajar mereka dan juga karena ini masih awal tahun, Siwon cukup yakin jika belum ada kegiatan ektrakurikuler yang wajib diikuti oleh para siswanya.

Mata hitam Siwon terus memandang gerbang itu secara intens seolah dia takut kehilangan sosok yang ditunggunya sejak tadi. Siwon bukan menunggu Kibum dan Minho, meski seharusnya begitu. Tidak, Siwon sedang menunggu teman Kibum yang sudah dia ingat namanya. Ya, Siwon menunggu Kyuhyun.

Siwon akhirnya kalah juga dengan perasaannya sendiri. Walau ayah tiga anak itu belum yakin apakah rasa ini adalah cinta, walau pertemuan mereka baru terjadi satu kali, tapi Siwon tidak bisa menutupi keinginannya untuk mengenal lebih dekat teman Kibum bernama Kyuhyun itu.

Katakan dia gila, katakan dia aneh, bahkan jika orang lain tahu apa yang dirasakan oleh Siwon, mereka pasti akan menyebutnya sebagai seorang pedophilia karena memang jarak usianya yang terpaut dua puluh tahun itu dengan Kyuhyun. Akan tetapi, untuk saat ini bukan itu yang menjadi pikiran utama Siwon. Sekarang dia hanya ingin melihat sekali lagi wajah Kyuhyun dan mungkin berkenalan dengannya lebih dekat.

Tuhan sepertinya mendengar doa Siwon karena lima menit kemudian Kyuhyun terlihat di depan gerbang bersama dengan Kibum. Hanya mereka berdua, tanpa adanya Minho. Siwon pun segera keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Kyuhyun dan Kibum, walau dia penasaran tentang mengapa Minho tidak ikut keluar bersama sang kakak.

Kibum dan Kyuhyun sendiri terlihat sedang seru membahas sesuatu sehingga tidak menyadari kehadiran Siwon tepat dibelakang mereka. Mereka baru sadar kala suara Siwon memanggil nama Kibum dengan lembut.

“Kibummie.”

“Appa? Sedang apa disini? Bukankan appa seharusnya berada di kantor?” tanya Kibum kaget dengan kehadiran Siwon di sekolahnya. Walaupun begitu, Kibum dengan santainya melingkarkan kedua lengannya di sekeliling dada Siwon sampai ke punggung pria tinggi tersebut. Siwon pun tersenyum ketika mendapati Kibum yang tak malu memeluknya seperti sekarang. Padahal baru tadi pagi Kibum menolaknya saat Siwon berusaha merapikan seragam Kibum dan Minho. Tanpa banyak bicara, Siwon membalas pelukan Kibum singkat lalu melepaskan tubuh putra keduanya itu meski lengan kekarnya masih merangkul bahu Kibum.

“Appa tadi ada urusan di sekitar sini Bummie. Lalu appa pikir kenapa appa tidak sekalian menjemputmu dan Minho saja dan makan siang bersama.” Ajaknya sambil tersenyum manis kepada Kibum sedang ekor matanya terus memperhatikan Kyuhyun yang hanya menatap Kibum dan dirinya datar.

“Urusan? Disekitar sini? Tapi wilayah ini bukan wilayah bisnis appa. Appa punya urusan dengan siapa?”

“Um… Itu…” Siwon tergagap untuk menjawab pertanyaan Kibum. Siwon bingung harus mengatakan alasan apa karena pada dasarnya dia berbohong soal ada urusan di daerah sekitar sekolah Kibum dan Minho. Beruntung, ada Kyuhyun yang menyadari kepanikan Siwon. Tampaknya pemuda manis itu tahu bahwa Siwon tadi hanya beralasan kepada Kibum.

“Sudahlah Bummie, bagus bukan ahjussi menjemputmu dan mengajakmu makan siang.”

“Aku tahu Kyu tapi bagaimana denganmu? Aku janji akan menemanimu pulang hari ini.”

“Kau ini. Aku ini laki-laki. Aku tak butuh diantarkan olehmu. Aku bisa pulang sendiri.”

“Tapi Kyu…”

“Bagaimana jika temanmu ini ikut bersama kita makan siang Bummie dan setelahnya kita antar dia pulang?” tanya Siwon menawarkan bantuannya. Dalam hatinya dia berharap Kyuhyun akan menyetujui tawarannya. Sementara itu Kibum yang memang cerdas, mengetahui maksud ayahnya menawarkan bantuan itu. Kibum tahu maksud dibalik tawaran itu.

Sebenarnya tawaran Siwon tidaklah aneh hanya saja Siwon jarang, mungkin hampir tidak pernah menawarkan bantuan seperti itu kepada teman-teman Kibum maupun teman-teman Minho. Kesibukan sang ayah membuatnya jarang menjemput Kibum dan Minho. Siwon hanya mempunyai waktu untuk mengantar mereka saja karena sekaligus pergi menuju kantornya. Tapi, sekarang. Sekarang Siwon menjemputnya seperti sekarang, meninggalkan pekerjaannya dan mengajak Kibum untuk makan siang. Bahkan Siwon sampai berbaik hati menawarkan untuk mengantar Kyuhyun yang notabene baru dikenalnya tadi pagi.

Kibum menatap Siwon dengan seksama. Dia tahu bahwa ayahnya tidak memiliki maksud buruk, tapi Kibum khawatir akan apa yang akan menimpa ayah dan juga Kyuhyun jika Kibum membiarkan ayahnya seperti ini hanya karena kehadiran Kyuhyun yang mirip dengan mendiang ibunya. Kibum mengerti bahwa ayahnya merasa sangat kesepian sepeninggalan ibu mereka namun Kibum merasa tak rela jika ayahnya berusaha mendekati Kyuhyun. Bukan karena Kibum menyimpan perasaan kepada Kyuhyun tapi lebih kepada Kibum ingin menghindarkan Siwon dan juga Kyuhyun dari kesedihan nantinya.

“Appa, rumah Kyuhyun cukup dekat dari sekolah. Kita tak perlu mengantarnya. Lagipula Kyuhyun juga harus membantu ummanya menjaga restoran mereka.” Balas Kibum yang sedikit membuat Kyuhyun dan Siwon terkejut dengan penolakannya. Kyuhyun yang menyadari bahwa sepertinya ada sesuatu yang membuat Kibum tidak menyukai jika ayahnya berbuat baik kepadanya akhirnya ikut menimpali.

“Benar ahjussi. Aku harus segera pulang untuk membantu umma. Mungkin lain kali.” Tolak Kyuhyun halus. Siwon merasa kecewa dengan penolakan Kyuhyun dan juga dari Kibum. Siwon hanya tersenyum dengan terpaksa sambil menjawab.

“Oh, begitu… Baiklah, mungkin lain kali.”

“Kalau begitu, aku permisi dulu. Sampai besok Bummie.” Pamit Kyuhyun dan melambaikan tangan kepada Kibum lalu membungkuk sedikit kepada Siwon. Kibum pun hanya setengah hati membalas lambaian tangan Kyuhyun sambil berujar,

“Hm.”

Siwon menatap dengan pandangan bingung kala menyaksikan bagaimana Kibum yang tiba-tiba saja menjadi dingin setelah dirinya mencoba menawarkan bantuan kepada Kyuhyun. Siwon bisa merasakan bahwa Kibum tidak suka dengan sikapnya tadi lantas menumpahkannya kepada Kyuhyun. Dalam hal ini, Siwon merasa tidak enak kepada Kyuhyun. Gara-gara perasaannya, anaknya menjadi kesal dengan Kyuhyun.

Selepas kepergian Kyuhyun, Kibum dengan kasar melepaskan rangkulan Siwon lalu memandang wajah pria tinggi itu dengan sengit. Kibum merasa sangat marah dengan sikap Siwon yang seakan tidak kenal umur dan statusnya sendiri.

“Appa. Mengapa appa menawarkan bantuan seperti itu kepada Kyuhyun? Selama ini appa tidak pernah melakukannya kepada teman-temanku yang lain?” desak Kibum langsung tanpa basa-basi.

“Appa hanya bersikap seperti biasa saja Bummie. Appa pikir kenapa tidak sekalian saja mengajaknya, kita juga akan pulang setelah itu bukan?!” pandangan Kibum terhadap Siwon semakin tajam saat Siwon mengemukakan alasannya. Kibum benar-benar marah dan tak rela jika ayahnya berbaik hati kepada Kyuhyun. Karena menurutnya, Siwon baik karena Kyuhyun mirip dengan ibunya. Kibum akan lebih tidak senang jika Siwon ternyata benar-benar memiliki perasaan yang lain terhadap Kyuhyun karena Kibum tidak mau Siwon di nilai yang aneh-aneh oleh semua orang. Dengan nada yang dingin yang tidak pernah Kibum utarakan kepada Siwon sebelumnya, Kibum mengatakan sesuatu.

“Appa dengarkan aku baik-baik. Kyuhyun bukan umma. Kyuhyun bukan seseorang yang pantas untuk appa. Kyuhyun itu temanku appa. Usianya berbeda jauh denganmu. Jangan membuatku malu dengan menjadi orang yang memuakan karena perasaan sementara appa!” bentak Kibum marah, tak sadar bahwa ada beberapa siswa dan siswi yang juga baru keluar dari sekolah melihat mereka berdua. Siwon sendiri terperangah dengan teriakan Kibum dan tanpa sadar juga membentak Kibum karena dirasa Kibum sudah berlaku kurang ajar terhadapnya.

“Choi Kibum!!!”

“Appa? Kibum hyung? Kenapa berdiri disini? Wow, tumben appa menjemput kita hyung.” sahutan Minho langsung memudarkan aura keras dan penuh amarah di sekitar Kibum dan Siwon. Siwon langsung menatap ke arah suara Minho dan seketika itu juga menyadari bahwa dia baru saja berteriak kepada Kibum. Perasaan bersalah sekaligus kecewa mewarnai hati Siwon saat ini. Dia memilih diam dan hanya tersenyum kecut kepada Minho.

“Eh? Kenapa semua diam?” tanya Minho yang bingung karena keduanya hanya memandanginya saja tanpa menanggapi dirinya. Mendengar pertanyaan Minho, Siwon menghela nafas panjang. Dia lalu mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang. Siwon tahu bahwa percuma dia mengajak Kibum untuk pulang bersama disaat putra keduanya itu sedang tidak ingin bersamanya.

“Yoboseyo, Kang ahjussi. Apa ahjussi sedang menuju sekolah Kibum dan Minho?” tanya Siwon ketika sambungan telepon yang dia tuju tersambung.

“…”

“Lima menit lagi sampai? Baiklah kalau begitu. Kibum dan Minho sudah menunggu, tolong antar mereka pulang. Ya. Terima kasih Kang ahjussi.” Sahut Siwon menutup sambungan tersebut ketika apa yang ingin dia sampaikan telah dia utarakan. Siwon kemudian menatap Kibum dan Minho, terlebih lagi kepada Kibum dengan serius masih dengan senyum sedih dan pilunya. Dia lalu mengacak rambut Kibum yang ternyata terus menuduk sejak Siwon membentaknya. Tampaknya pemuda putih itu juga merasa bersalah karena telah meneriaki sang ayah dan juga berkata hal yang tidak sepantasnya.

“Maafkan appa Bummie, Minho-ah. Kalian pulang dengan Kang ahjussi saja ya. Appa harus pergi ke suatu tempat.”

“Appa… Bummie tidak bermaksud untuk…” sergah Kibum yang merasa Siwon tidak jadi menjemput mereka karena marah atas perbuatannya. Siwon mungkin lembut dan baik hati kepadanya tapi Kibum tak ingin Siwon marah terhadapnya karena jika Siwon marah, dia lebih memilih untuk diam dan menjauh ketimbang marah secara langsung. Seperti sekarang, Siwon memilih untuk pergi ke tempat lain karena pasti ingin menjauh dari Kibum. Kibum tidak mau itu terjadi. Kibum tidak mau Siwon marah kepadanya.

Akan tetapi pemikiran Kibum ternyata salah besar. Siwon tidaklah marah, dia justru merasa bahwa Kibum lah yang marah kepadanya. Dan agar tidak ada kata-kata yang menyakitkan terlontar diantara keduanya, Siwon memilih membiarkan Kibum sendiri dulu.

Terlebih lagi Siwon juga ingin sendiri memikirkan ulang hati dan perasaannya yang mungkin terlalu terburu-buru. Ucapan Kibum tadi membuat hatinya yang mantap untuk mendekati Kyuhyun kembali gundah. Siwon sekali lagi mempertanyakan apakah benar dia untuk mengenal Kyuhyun lebih dari yang seharusnya? Siwon menghela nafas lagi lalu kembali mengacak rambut Kibum dan kali ini juga rambut Minho.

“Maafkan appa sudah membentakmu seperti tadi sayang. Kau benar, appa hanya memalukan kalian jika appa seperti ini.”

“Appa, jangan bicara seperti itu. Bummie hanya…”

“Appa pergi dulu.” Potong Siwon cepat lalu bergegas kembali ke mobilnya, meninggalkan Kibum yang semakin merasa besalah dan sedih karena telah menyakiti hati Siwon dan Minho yang kebingungan dengan apa yang sudah terjadi dengan Siwon dan Kibum.

“Hyung, appa kenapa? Memangnya appa membentak hyung tadi? Masa sih?” tanya Minho beruntun setelah Siwon pergi melaju dengan mobilnya ke suatu tempat. Semua pertanyaan Minho tadi tidak dijawab satu pun oleh Kibum karena sekarang Kibum sedang menyesali tindakan dan ucapannya yang telah membuat sang ayah bersedih. Kibum tahu seharusnya dia tidak terbawa emosi seperti tadi. Seharusnya dia lebih berhati-hati dan tidak menyangkut pautkan ibunya.

“Hyung!”

“Diamlah Min. Hyung sedang berpikir!” seru Kibum kesal dengan rengekan Minho yang ingin tahu masalah antara dirinya dan juga appa mereka. Kibum menghela nagas sembali meremas rambutnya sendiri berharap bisa sedikit mengurangi perasaan yang tidak mengenakan itu.

Appa, maafkan Bummie. Seharusnya appa dengar dulu Bummie bicara.

TBC

Advertisements