Tags

, , , , , , , ,

Waterfall Poster

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Waterfall 3

Pairing/Charas : Wonkyu, Kangmin, Leeteuk, Heechul, Sibum, Ryeowook, more to come

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster were made by @SuciiCho

Warning : Un-betaed, GS, Attempt humor, OOC, AU, Family, Angst

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

Rasa sakit hati itu masih terlalu dalam untuk bisa disembuhkan hanya dengan airmata pria tersebut. Terlalu lebar untuk bisa direkatkan kembali hanya karena dia masih memiliki rasa sayang meski sedikit kepada pria itu. Tidak, dia masih belum mampu melupakan betapa pria ini begitu mudahnya melepas seseorang yang sangat dia cintai.

Bagi pribadi di ranjang itu, perjuangan Kangin untuk bisa menemukan dan membawa kembali dirinya dan juga ibundanya sama sekali tidak berarti apapun juga. Baginya, Kangin sudah salah sejak awal ketika dia menerima begitu saja kata cerai yang terucap dari bibir Leeteuk.

Baginya, Kangin membiarkan dirinya menjadi anak yang dicap sebagai anak broken home, membiarkan dirinya harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya tidak akan lengkap seperti dulu.

Kanginlah yang membuatnya merasa dia tidak pernah memiliki seorang ayah. Kanginlah yang membuatnya membenci pria besar itu. Kanginlah yang membuat dia tidak mau berurusan dengannya apalagi sampai disentuh seperti sekarang. Ya semua karena Kangin. Semua karena pria berstatus sebagai appa kandungnya itu.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Siwon memiringkan sedikit lehernya agar dia bisa melihat jelas pria yang sedang tertunduk kepalanya itu. Siwon menatap ke arah Kangin lekat sebelum akhirnya membuka mulutnya dan mengucapkan sesuatu.

“Tuan Jung.” Sahut Siwon datar. Tidak ada nada kemarahan di suara pemuda berusia 17 tahun itu meski dalam hati Siwon ingin sekali berteriak kepada Kangin. Akan tetapi, Siwon tahu hal itu hanya akan merugikan dirinya sendiri. Dia tahu dirinya masih lemah dan percuma saja jika dia menggunakan tenaga untuk menghadapi Kangin. Sekarang satu hal yang bisa dia lakukan adalah mematikan semua perasaan yang dia miliki dan Siwon ahli setelah sekian lama hidup dengan ketidak perdulian orang lain kepadanya.

Sedangkan Kangin, pria yang telah menginjak usia 42 tahun itu, langsung mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Walau senyum itu belum sepenuhnya terkembang karena Siwon masih saja memanggilnya dengan sebutan tuan Jung, tapi paling tidak dia tidak merasa Siwon keberatan dengan kehadirannya. Oh, betapa salahnya pikiran pimpinan perusahaan Jung tersebut. Kangin sebentar lagi mau tidak mau harus menelan pil pahit kekecewaan karena kalimat selanjutnya dari Siwon adalah,

“Lepaskan tanganku tuan Jung. Kau membuat tanganku sakit. Lagipula apa hakmu untuk menyentuhku.” Ujar Siwon sinis.

“Siwon-ah…” lirih Kangin langsung melepaskan tangan Siwon karena terlalu terkejut dengan perkataan Siwon yang terkesan jijik ketika Kangin memegang tangannya. Hati Kangin menjerit ketika mata hitam itu mulai menunjukkan sinar kebencian yang teramat dalam. Tatapan kebencian dari darah dagingnya tersebut membuat rasa perih dan tertusuk di hati pria kepala empat itu semakin menjadi. Kangin tahu Siwon membencinya, tapi sampai detik ini, Kangin masih belum sanggup menerima rasa benci itu terlebih lagi dari putra pertamanya yang sangat dia sayangi itu. Kangin tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika Siwon juga memberikan kesan seolah-olah dirinya adalah orang asing maka dari itu Siwon harus waspada jika saja Kangin bermaksud menyakitinya.

“Lepaskan tuan. Apa tuan tuli sehingga tuan tetap saja meremas tanganku?!” hardik Siwon. Dia mulai berusaha untuk bangkit dari ranjang rumah sakitnya, bermaksud menarik tangannya dari genggaman Kangin. Tapi genggaman Kangin terlalu kuat untuk dirinya yang masih lemah sehingga usahanya sia-sia belaka.

“Siwon-ah, kau belum boleh bangun nak. Kau masih lemah. Istirahatlah dulu. Biar appa yang menjagamu.” Bujuk Kangin sekali lagi, berusaha agar Siwon mau kembali berbaring. Akan tetapi, Siwon yang sama keras kepalanya seperti Leeteuk, tidak mau mendengar bujukan Kangin. Pemuda itu justru melepas jarum infus yang tertusuk di punggung tangannya dengan kasar sehingga bekas tusukan tersebut mengeluarkan darah. Dia bahkan mengerahkan semua kekuatannya untuk menyentakan genggaman Kangin sehingga tangannya bebas dari genggaman tangan Kangin.

“Siwon!” teriak Kangin panik saat Siwon terus saja berusaha bangkit dari ranjangnya meski tubuhnya berontak untuk tetap berbaring. Akibatnya, begitu kaki Siwon menjejakan telapaknya di lantai rumah sakit yang dingin dan mencoba berdiri, kaki-kaki tersebut tidak kuat menahan beban tubuh Siwon. Siwon pun langsung terjatuh dan kepalanya mengenai meja dengan laci rumah sakit yang dekat dengannya.

Dahi Siwon terluka sedikit, namun luka itu tidak menyurutkan niat Siwon untuk segera menjauh dari Kangin. Dia tidak tahan berada satu ruangan dengan ayah kandungnya itu. Tidak sekarang dan tidak juga nanti.

“Siwon-ah, appa mohon. Kembalilah ke ranjangmu. Appa tahu kau membenci appa, tapi sekarang kau perlu dirawat. Tubuhmu lemah dan kau kekurangan gizi. Kau bissa mati jika kau memaksakan diri untuk pergi.”

“Kalau begitu biarkan aku mati. Itu lebih baik karena aku bisa bertemu dengan umma. Itu lebih baik karena akhirnya aku tidak lagi menderita. Itu lebih baik daripada aku harus melihatmu tuan Jung.”

Plak!!!

Tamparan itu terjadi begitu saja tanpa bisa dicegah oleh Kangin. Ayah Siwon tersebut menatap nanar telapak tangannya sendiri yang telah dia pakai untuk menampar putranya sendiri. Putra yang sedang dia usahakan untuk bisa kembali bersamanya. Putra yang sekarang justru terduduk menyandar pada dinding sambil tersenyum menatapnya. Hanya saja senyum itu terlihat sangat sedih dan hati Kangin semakin diremas tatkala bulir airmata jatuh membasahi pipi Siwon.

“Ayo tampar aku lagi tuan Jung. Tampar. Bahkan pukul saja aku. Pukul aku sampai mati. Pukul aku sampai kau puas menyakitiku. Memang hanya itu bukan yang membuatmu puas. Ayo pukul aku. Pukul aku!!” teriak Siwon diakhir perkatannya. Airmatanya memburamkan pengelihatannya sehingga Siwon tidak mampu menghindar ketika Kangin dengan cepat memeluk tubuh kurus itu dengan erat.

“Maafkan appa, nak… Maafkan appa… Appa tidak bermaksud menamparmu…”

“Lepaskan aku… Jangan sentuh aku… hiks… hiks… Umma… Bawa Siwon umma, bawa Siwon…”

“Ya Tuhan, Siwon-ah… Jangan seperti ini nak… Appa mohon…”

Kedua lelaki tersebut menangis tersedu-sedu. Yang lebih muda, menangis karena dia sudah tidak sanggup lagi menanggung beban hidup yang terlalu berat untuk remaja seusianya. Sedangkan yang lebih tua, menangis karena rasa bersalah, marah kepada dirinya sendiri dan sedikit kepada Leeteuk yang telah memisahkan dirinya dengan putranya sendiri. Meski dia tahu Leeteuk melakukan itu karena dia juga. Kangin menangis karena dia juga tidak tahan melihat putranya sendiri begitu ingin menyusul sang umma.

Kangin terus memeluk Siwon di lantai rumah sakit yang dingin itu. Tak memperdulikan pukulan-pukulan Siwon di punggungnya. Bagi Kangin pukulan itu tidak seberapa sakit ketimbang pukulan ke hatinya yang diberikan oleh Siwon ketika dia menatap Kangin dengan kebencian.

“Appa salah nak, appa tahu itu. Maka dari itu, appa mohon Siwon mau memberikan appa kesempatan untuk memperbaiki kesalahan appa.” Ucap Kangin setelah dia merasakan Siwon sudah mulai tenang. Tangan Siwon yang sedari tadi memukulnya sudah terjatuh di sisi tubuhnya. Siwon sendiri sudah terlalu lelah karena emosi dan tubuhnya yang memang sedang tidak fit. Pemuda itu membiarkan saja Kangin terus memeluknya dan membisikan kata-kata penyesalan.

“Siwon-ah… Siwon-ah…” kata itu yang terus dilantunkan Kangin, mengiringi Siwon yang lambat laun mulai kehilangan kesadarannya kembali. Di saat terakhir Siwon menutup matanya, pemuda itu masih sempat mengucapkan satu kata yang membuat Kangin membulatkan kedua bola matanya dan semakin mengencangkan pelukannya di tubuh Siwon. Kata itu adalah,

“Appa…”

Kantin

Sungmin sedang menunggu pesanan makanan untuk Kangin ketika bahunya ditepuk seseorang. Sungmin langsung berbalik dan ketika iris matanya melihat siapa yang sudah menepuk bahunya, segera Sungmin membungkuk sedikit menunjukkan rasa hormatnya dan menyapa orang tersebut.

“Heechul eonnie.” sapa Sungmin sopan membuat wanita cantik yang masih terlihat anggun walau usianya sudah mencapai empat puluhan tahun itu mengangguk pelan, menerima sapaan dari Sungmin.

Kim Heechul, wanita karir yang sangat sukses melebihi kesuksesan Kangin, sekarang menatap istri kedua Kangin tersebut dengan tatapan datar. Heechul tahu benar seperti apa kisah antara wanita mungil dihadapannya ini dengan Kangin dan bagaimana mereka berdua membuat Leetek sahabatnya menderita karena hubungan keduanya.

Sampai saat ini Heechul belum bisa memaafkan Jung Kangin dan Lee Sungmin karena telah membuat sahabatnya harus menanggung hal menyedihkan dalam kehidupannya tersebut. Namun Heechul bukanlah wanita yang mudah terhanyut dengan emosi dan perasaan pribadinya. Meski dia membenci Kangin dan juga Sungmin, Heechul tidak secara langsung menunjukkan ketidak sukaannya tersebut. Heechul lebih memilih membalaskan dendam Leeteuk dengan menggunakan seluruh kekuatannya dan kekuasaanya dan menekan keluarga Jung sampai ke titik terendah mereka.

Heechul sudah bersumpah sejak Leeteuk mendatanginya sambil menangis dan menceritakan semua sebelum dia pergi setelah bercerai dengan Kangin tujuh tahun yang lalu, bahwa dia akan menghancurkan Kangin dan keluarganya. Heechul akan membuat Kangin dan Sungmin menyesal karena melukai hati sahabatnya yang menjadi penompang Heechul ketika kedua orang tuanya mengusirnya dari rumah karena memilih menikah dengan lelaki biasa. Sahabatnya yang terus mendukungnya saat lelaki yang dia anggap cinta sejati dan akan selalu bersamanya, pergi meninggalkan dirinya karena wanita lain. Sahabatnya yang kini telah tiada meninggalkan luka mendalam di hati Heechul dan rasa bersalah karena tidak mampu membalaskan dendam Leeteuk sampai saat terakhir Leeteuk ada di dunia ini.

Heechul bersumpah bahwa dia tidak akan membiarkan Kangin hidup tenang demi Leeteuk. Heechul akan memastikan bahwa hal terakhir yang Leeteuk miliki tidak akan pernah jatuh ke tangan Kangin dan Heechul sudah memastikan hal itu terjadi. Choi Siwon, anak dari Choi Leeteuk tidak akan pernah menjadi milik seorang Jung Kangin apalagi sampai diasuh oleh wanita perebut suami orang yang masih berdiri dihadapannya ini dengan gelisah.

Heechul tersenyum sinis melihat kegelisahan Sungmin. Bagi Heechul sudah sepantasnya dia bersikap tidak tenang seperti itu jika berhadapan dengannya. Biar bagaimana pun Heechul adalah orang terdekat dari Leeteuk. Terlebih lagi Heechul tahu hubungan seperti apa antara dirinya, Kangin dan juga Leeteuk.

Meski Sungmin selalu bersikap hormat kepadanya dan memanggilnya dengan sebutan ‘eonnie’, tapi tidak pernah satu kali pun Heechul menganggap dirinya sebagai kakak untuk Sungmin. Dia bersikap biasa saja kepada Sungmin hanya karena dia bukan orang yang lemah dan bersikap seperti wanita gila yang histeris karena sahabatnya telah meninggal karena Sungmin. Heechul adalah wanita bermartabat yang tahu bagaimana bersikap terhadap musuh sekalipun. Lagipula sikap Heechul yang datar, selalu membuat Sungmin salah tingkah dan Heechul puas dengan itu. Baginya, biar wanita itu selamanya tidak tenang dan selalu cemas jika harus berhadapan dengannya.

“Kau membeli apa?” tanya Heechul tiba-tiba, membuat Sungmin sedikit tersentak dan mengangkat kepalanya.

“Eh? Oh. Han…hanya… Makan siang untuk Kangin oppa, eonnie.”

“Oh.”

“Um, eonnie mau aku belikan juga?”

“Apa aku tampak seperti orang yang tidak sanggup membeli sendiri makan siangku Lee Sungmin?”

“Ah… bu…bukan begitu eonnie… aku… aku…”

“Sudah. Tidak perlu kau jelaskan. Sekarang dimana kamar Siwon?”

“Um… Si…Siwon-ah dikamar 407 eonnie. Eonnie lu…lurus saja. Kamarnya ada disebelah kanan.”

“Terima kasih. Oh, satu lagi Lee Sungmin. Siwon bukan siapa-siapamu, jadi jangan memanggilnya seakrab itu. Kau hanya mempunyai hubungan dengan si Jung itu. So, keep it that way.”

Sungmin menatap punggung wanita yang baru saja mengatakan hal yang paling menyakitkan kepadanya. Airmata Sungmin mengalir begitu saja karena ucapan Heechul yang meski terdengar biasa saja namun Sungmin bisa merasakan kebencian dan amarah di setiap katanya.

Sungmin tahu dia bukan siapa-siapa dari Siwon. Sungmin tahu selamanya putra suaminya dari Leeteuk itu membencinya dan tidak pernah menganggapnya ada. Tapia pa hal itu harus diperjelas dengan ucapan Heechul?! Mereka tidak tahu betapa tersiksanya Sungmin ketika dia disebut sebagai perebut suami orang padahal dialah yang pertama memiliki hubungan dengan Kangin. Mereka semua tidak tahu betapa menderitanya Sungmin ketika harus melihat orang yang dia cintai mulai membagi hatinya kepada orang lain tapi tidak mau melepaskan dirinya.

Sungmin menghela nafas berat. Jika dia boleh memilih, dia tidak mau mencintai Kangin. Dia tidak mau berada diantara Leeteuk dan Kangin. Bahkan Sungmin sempat ingin menyerah setelah dia tak sanggup melihat raut bahagia Leeteuk dan buah cintanya yang waktu itu berusia satu setengah tahun, saat diam-diam Sungmin berkunjung ke rumah keluarga Jung. Sungmin ingin melepas Kangin sepenuhnya jika saja, di rahimnya tidak ada seorang Jung kecil yang juga mempunyai hak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Sungmin pernah hampir bunuh diri karena dilemma memilih antara kebahagiaan Leeteuk dan anaknya atau kebahagiaan buah hatinya sendiri.

Sungmin pun memilih tetap bersama dengan Kangin karena pria itu juga menolak berpisah dengannya. Dia seorang ibu dan baginya anaknya adalah hal pertama yang akan menjadi prioritasnya. Karena itu, Sungmin selamanya akan menanggung dosa ini. Dosa karena membuat seorang wanita dan seorang anak harus berpisah dengan suami dan ayahnya.

Namun sekarang, Sungmin ingin memperbaiki itu semua. Tuhan telah memberikan kesempatan itu dengan mempertemukan mereka semua dengan Siwon. Sungmin ingin memperbaiki semua kesalahannya dengan merawat Siwon seperti dia merawat anak kandungnya sendiri. Biarpun Siwon anak Leeteuk, tapi Sungmin tulus menyayangi putra pertama Kangin tersebut. Sungmin ingin agar Siwon mau memaafkannya dan menerimanya. Akan tetapi, jalan itu tidak akan pernah mulus baginya. Terlebih lagi Heechul juga sepertinya akan memakai segala cara agar Kangin dan dirinya menderita seperti Leeteuk.

Sungmin hanya bisa berdoa bahwa Tuhan masih berbaik hati agar semua benag kusut ini bisa terurai dengan baik dan hubungan diantara semua orang yang terlibat tidak menyisakan duka dan sakit hati yang mendalam. Ya, Sungmin hanya bisa mendoakan agar semuanya baik-baik saja.

Sementara itu, Heechul yang sudah sampai di kamar Siwon, terkejut melihat beberapa orang perawat pria mengangkat tubuh lemas Siwon. Dengan cepat, wanita berambut merah bata itu memasuki ruangan luas itu dan segera berdiri di samping ranjang Siwon tatkala tubuh pemuda tinggi itu sudah terbaring dan sudah tersambung lagi dengan alat-alat kedokteran yang diperuntukkan untuk memantau kondisi Siwon.

“Apa yang terjadi?!” tanya Heechul tegas sambil memberikan tatapan tajam ke arah Kangin. Heechul menduga pasti yang terjadi dengan Siwon saat ini ada hubungannya dengan Kangin. Kangin sendiri tidak langsung menjawab. Dia justru kembali duduk di tempatnya semula sebelum Siwon memberontak tadi dan melanjutkan menggenggam tangan Siwon.

“Jawab aku Jung Kangin! Apa yang sudah terjadi?!”

“Siwon pingsan lagi setelah dia mencoba pergi dari sini.” Jelas Kangin singkat. Heechul mengepalkan kedua tangannya karena jelas mengapa Siwon ingin pergi dari rumah sakit ini. Alasannya hanya satu, Kangin.

“Kalau begitu lebih baik kau pergi saja Jung. Biar aku yang menjaga Siwon. Jelas kau tidak diinginkan disini.”

“Dia anakku Chulie noona. Aku berhak berada disampingnya.”

“Dan membahayakan dirinya karena histeris ketika melihatmu?” sindir Heechul yang langsung membuat Kangin bungkam. Heechul tersenyum menang karena dia tahu Kangin akan memikirkan kata-katanya untuk pergi dari sisi Siwon. Lagipula, jika Kangin masih menolak, Heechul punya sesuatu yang lebih kuat agar pria bermarga Jung itu tidak mendekati Siwon lagi.

“Siwon putraku Chulie noona… Siwon putraku…” ucap Kangin seperti kaset rusak. Berulang kali terus menerus mengatakan bahwa Siwon adalah putranya, seakan memohon kepada Heechul agar tidak berbuat apapun yang bisa memisahkan dia dengan Siwon. Tapi Heechul adalah wanita yang selalu menepati janji dan sumpahnya. Dia sudah berjanji kepada Leeteuk untuk menjaga Siwon dari Kangin dan dia akan melakukannya.

“Aku tahu dia putramu Jung. Tapi dia juga putra Choi Leeteuk, orang yang memegang hak asuh penuh atas Siwon dan sayangnya setelah dia pergi, hak asuh itu tidak langsung jatuh kepadamu.”

“Apa?!”

“Hak asuh itu jatuh ke tanganku.”

“Kim Heechul!!”

“Kenapa Jung? Tidak suka? Tidak terima? Maaf saja. Pengadilan sudah mensahkan hak asuh jatuh kepadaku. Tampaknya pengacaraku cukup lihai juga membuat juri dan hakim memihakku dengan membeberkan bagaimana acuhnya kau dengan keadaan Siwon. Kau dengan sengaja membiarkan publik mengira Siwon sudah tiada bahkan ketika kau tahu itu tidak benar.” Tukas Heechul bertubi-tubi menyerang Kangin. Wanita cerdik itu tahu bagaimana menggunakan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya. Kali ini Heechul mampu membuat Kangin tidak mampu berbuta apapun bahkan hanya untuk berjuang mendapatkan hak asuh atas Siwon. Senyum kemenangan itu terus menghiasi wajah cantik Heechul, membuat Kangin mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya menahan amarahnya terhadap Heechul.

“Kau…” Heechul tidak menghiraukan sama sekali gumaman Kangin. Dia justru mengalihkan pandangannya ke arah Siwon dan mengulurkan tangannya menyingkirkan rambut Siwon dari dahi pemuda tersebut. Keduanya terdiam, menunggu reaksi dari masing-masing lawan dihadapan mereka. Sampai, Heechul membuka mulutnya lagi.

“Para juri dan hakim itu sepakat kau dianggap tidak mampu mengasuh Siwon, Jung. Jadi mereka menunjukku sebagai wali sah Siwon sampai dia berusia 21 tahun. Mereka memutuskan demikian karena alasan tersebut dan… Oh tentu saja karena surat dari Teukie.”

“Surat? Surat apa?!”

“Oh kau tak tahu Jung? Tentu saja surat yang menunjuk aku, Kim Heechul, sebagai wali Siwon jika terjadi sesuatu dengan Teukie.” Sahut Heechul terus menerus memprovokasi kemarahan Kangin. Suatu kepuasan tersendiri bagi Heechul melihat pria yang membuat sahabatnya itu menderita, kini terpuruk tak mampu melakukan apapun demi putranya sendiri. Heechul berpikir, ini adalah hukuman yang pantas untuk pria tak setia seperti Kangin dan Heechul begitu menikmati raut wajah memelas Kangin yang sekarang terpampang jelas di hadapannya.

“Tidak… Oh tidak… Tidak noona! Teukie tidak mungkin sekejam itu memisahkan aku dengan putraku sendiri! Kau berbohong noona!” hardik Kangin tidak terima Leeteuk sampai berbuat sejauh itu demi memisahkan dia dengan putranya sendiri.

“Tapi itulah kenyataannya tuan Jung Kangin yang terhormat. Dan… Karena kau sudah tahu, aku minta kau pergi dari kehidupan Siwon. Selamanya.” Tekan Heechul tanpa ada rasa iba sedikit pun untuk Kangin. Hatinya sudah beku untuk orang yang sudah merampas sahabatnya itu.

“Tolong noona… Aku mohon jangan lakukan ini. Aku mohon…” mata Kangin pun kembali berkaca-kaca kala dia dihadapkan kepada kenyataan pahit ini. Kangin tidak mengira bahwa takdir begitu kejam kepadanya. Di saat dia sudah menemukan kembali buah hatinya, di saat dia merasa bisa memberikan segalanya untuk putranya tersebut, Kangin harus dihadapkan kepada kehidupan nyata bahwa semua yang dia idamkan, semua yang dia harapkan, musnah oleh satu orang.

“Seharusnya kau memohon pada Leeteuk, Kangin. Aku hanya melaksanakan permintaan terakhir darinya.” Ujar Heechul dingin, tidak menunjukkan rasa kasihan kepada Kangin yang sudah putus asa dan mulai terisak, menangis karena dia tahu tak mungkin melawan seorang Kim Heechul meski dia seorang Jung, pengusaha sukses dan disegani baik rekan maupun saingan kerja.

Kangin menangis karena dia mengerti jika Heechul turun tangan seperti ini, jika Heechul menginginkan dia berpisah dengan Siwon, maka hal itu pasti akan terjadi. Kangin benar-benar tidak tahu harus berbuat apa agar bisa mengubah keputusan Heechul yang terkenal keras kepala dan sulit untuk digoyahkan jika sudah memutuskan sesuatu.

Kangin merasa seperti orang yang kalah. Kalah dalam segala hal terhadap Leeteuk. Wanita itu telah menang. Dia telah mengambil sebagian hatinya yang akan terus mencintai Leeteuk meski wanita dengan senyum malaikat itu telah tiada. Leeteuk telah membuatnya merasakan penyesalan seumur hidupnya karena Kangin tak mampu menjaganya. Dan sekarang, meski dia tidak ada di dunia ini lagi, Leeteuk telah memutuskan hubungannya dengan putra pertamanya. Tidak hanya untuk tujuh tahun tapi untuk seterusnya.

Apakah sebegitu dalamnya kebencian Leeteuk terhadapnya? Apakah sama sekali tidak ada kata maaf untuknya? Apakah dia tidak diberikan kesempatan sama sekali untuk memperbaiki semua kesalahannya?

“Kau selalu memikirkan dirimu sendiri Jung.” Komentar pahit itu membuat Kangin kembali menatap Heechul. Sepertinya Kangin tidak sadar bahwa pikirannya tadi dia ucapkan begitu saja.

“Apa maksudmu?”

“Hah! Kau memang hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau pasti mengira Teukie memberikan hak asuhnya kepadaku karena dia membencimu. Untuk itu kau salah besar.” Kangin menatap Heechul bingung. Memang apa yang mendasari Leeteuk sampai dia menyerahkan ha asuh Siwon kepada Heechul dan bukan dirinya yang notabene ayah kandung Siwon? Sedangkan Heechul yang tahu arti pandangan Kangin kepadanya, berdecak kesal sebelum mengatakan alasan yang pernah diutarakan Leeteuk tujuh tahun lalu sebelum dia pergi. Pesan yang sampai sekarang membuat darah Heechul mendidih karena marah terhadap kebodohan Leeteuk.

“Leeteuk terlalu mencintaimu sampai dia berpikir bahwa Siwon hanya akan menambah bebanmu saja. Dia tidak ingin Siwon menjadi orang asing dalam keluargamu yang baru.” Jelas Heechul yang langsung membuat kedua mata Kangin yang berair, terbelalak dan semakin deras mengucurkan airmata.

“Teukie…” lirihnya pilu, tak menyangka Leeteuk masih memikirkan dirinya sampai seperti itu.

“Ya, dia memikirkan kebahagiaanmu sampai akhir hayatnya. Tapi kau! Kau terus berpikir Teukie membencimu. Kau berpikir bahwa Teukie begitu keras hati sehingga dia tidak akan memaafkanmu. Padahal dia sudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf kepadanya!” teriak Heechul sembari mengeluarkan bulir-bulir kristal miliknya sendiri. Hati Heechul seperti teriris jika dia mengingat betapa Leeteuk dengan bodohnya terus mencintai Kangin padahal hanya penderitaan dan sakit hati yang selalu Kangin berikan kepadanya.

“Aku tidak mengerti apa yang Teukie lihat dari bajingan sepertimu, tapi untuk menghormati keinginan terakhirnya, aku akan menjaga Siwon sampai Siwon bisa bahagia suatu saat nanti. Aku akan menjaga harta terkahir Teukie agar dia tenang di alam sana.”

“Noona… Heechul noona… Aku mohon… Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku noona… Tolong biarkan aku yang menjaga Siwon sekarang… Aku… aku…”

“Maaf Kangin, tapi aku tidak bisa.”

“Noona…”

“Keluar.”

“Heechul noona…”

“KELUAR!!” Kangin menutup matanya mendengar Heechul berteriak mengusir dirinya. Kangin tak mengerti mengapa Tuhan begitu tak adil kepadanya. Dia sudah mengambil Leeteuk darinya tanpa sempat Kangin mengucapkan selamat tinggal dan menebus dosanya kepada Leeteuk. Sekarang, Tuhan mengambil Siwon dari sisinya melalui Heechul.

Apa dosanya begitu besar sehingga ini hukuman yang sesuai untuknya? Apa Tuhan harus begitu kejamnya mengambil dua orang yang dia sayangi dalam waktu yang berdekatan? Apa yang harus Kangin perbuat agar Tuhan pun mau berbelas kasih kepadanya dan memberikan Siwon untuknya?

Semua pertanyaan yang tidak kunjung jelas jawabannya, teringang di kepala Kangin. Pria itu pun akhirnya beranjak dari tempatnya dan melangkah meninggalkan ruangan putih itu. Pandangan pria itu ketika dia membuka matanya hanya tatapan kosong. Kangin merasa hdupnya hampa. Saat itu, tidak sedikit pun Kangin memikirkan sosok Sungmin maupun anaknya dari Sungmin. Yang ada di pikirannya hanya Siwon, Leeteuk, Siwon, Leeteuk, dan hanya itu.

Kangin terus berjalan keluar dari kamar itu dan ketika dia sampai di depan pintu kamar yang dia tutup sendiri, Kangin tidak mampu lagi menopang tubuh besarnya sendiri. Dia terduduk di depan pintu, menekuk kedua lututnya dan menompang kepalanya dengan kedua tangannya. Tak lupa, Kangin menjambak sendiri rambutnya, melampiaskan amarah, kecewa, dan kesedihan yang mendalam karena kehilangan Siwon tanpa bisa berbuat apapun.

Kangin menangis keras, tidak memperdulikan orang-orang yang lalu lalang memperhatikan dirinya dengan tatapan bingung. Bahkan Kangin seakan tidak menyadari pelukan lembut Sungmin di tubuhnya. Kangin tidak merasakan airmata yang membasahi rambutnya kala Sungmin meletakkan kepalanya diatas kepala Kangin. Kangin juga tidak merasakan getaran dari Sungmin ketika mulutnya membisikkan kata-kata yang menyayat hati Sungmin. Kangin tidak sadar dia terus bergumam,

“Teukie… Mengapa kau pergi… Aku mencintaimu Teukie… Teukie…”

Kediaman Keluarga Kim

“Kyuhyun, mengapa kau tidak memakai mantel yang umma belikan untukmu?”

Pertanyaan Kim Ryeowook, ibu dari seorang Kim Kyuhyun, membuat gadis berusia 15 tahun itu terpaku sesaat. Dia sedikit bingung bagaimana menjelaskan kepada sang umma jika mantel itu dia berikan kepada seorang tuna wisma muda yang dia temui di malam bersalaju. Tuna wisma yang bagi Kyuhyun cukup tampan. Kyuhyun menarik nafas sebelum menghembuskannya perlahan dan memberikan umma kesayangannya itu dengan senyum paling manis yang pernah dia berikan.

“Mantel itu hilang umma. Aku lupa menaruhnya waktu aku pergi dengan Sooyeon dan Miyoung. Maafkan aku ya umma sayang.” Rajuk Kyuhyun manja. Ryeowook hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah manja putri bungsunya ini, namu meski Kyuhyun manja dan terkadang membuat Ryeowook pusing dengan tingkahnya, ibu dua orang putri itu tetap mencium kening Kyuhyun dengan penuh kasih sayang dan merapikan rambut ikal Kyuhyun yang sedikit berantakan.

“Ya sudah umma maafkan. Sekarang dimana eonniemu? Heechul eonnie sudah menghubungi umma terus. Kau tahu betapa tidak sabarannya Heechul eonnie.”

“Sebentar umma, aku lihat dikamarnya dulu.” Ucap Kyuhyun yang langsung berlari kecil menuju kamar kakak perempuan satu-satunya. Ketika sampai, Kyuhyun bermaksud mengetuk pintu kamar kakaknya tersebut, hanya saja pintu itu terbuka lebih dulu dan menampakkan seorang gadis cantik dengan kulit putih seputih salju, bibir merah merekah dan rambut panjang hitam legam yang dikepang menyamping. Kecantikannya semakin terlihat dengan balutan dress selutut berwarna peach yang terkesan anggun dan menawan.

“Wah eonnie cantik sekali!” puji Kyuhyun lantang sambil memeluk kakak kesayangannya itu. Kim Kibum, gadis cantik itu tersenyum dan sedikit bersemu mendengar pujian sang adik. Dia pun membalas pelukan Kyuhyun sejenak sebelum melepaskan diri agar dia bisa melihat adiknya yang tak kalah cantik dengannya dengan balutan blus putih ditutupi dengan cardigan biru dan dipadu celana jeans sebetis dengan warna senada dengan cardigan Kyuhyun. Rambut sebahu Kyuhyun hanya dihiasi dengan satu jepit rambut yang dia sisipkan di rambut dekat telinga kanannya.

“Kau juga manis sekali Kyunnie.”

“Tapi tidak secantik eonnie.”

“Kau bisa saja.”

“Kibum! Kyuhyun! Ayo lekas turun! Kita sudah ditunggu sayang!” teriak Ryeowook dari bawah tangga dan langsung disahuti dengan teriakan pula oleh kedua gadis manis nan cantik itu.

“Ya umma!”

Kibum dan Kyuhyun lalu langsung menuruni tangga untuk bertemu dengan Ryeowook. Mereka bertiga lalu pergi ke rumah sakit, tempat dimana Heechul sedang menunggu mereka bertiga.

Selama diperjalanan, Kyuhyun terus bertanya untuk apa mereka bertiga pergi ke rumah sakit, sampai-sampai Kyuhyun dan Kibum harus membolos hari ini. Kyuhyun terus bertanya tapi dia harus merengut menahan kesal karena Ryeowook sama sekali tidak memberikan jawaban meski dia tahu jawabannya. Kyuhyun pun melirik ke arah Kibum meminta bantuan agar Kibum bisa membujuk umma mereka untuk memberitahukan alasan mereka pergi ke rumah sakit.

Kibum tersenyum penuh arti sebelum menjawab keingin tahuan Kyuhyun. Ya, Kibum tahu alasan mengapa dia tiba-tiba diminta tidak sekolah dan pergi menemani Ryeowook menjenguk seseorang di rumah sakit. Awalnya dia sempat bingung, namun begitu Ryeowook menyebut satu nama, wajah Kibum berbinar senang dan dia langsung mempersiapkan diri agar terlihat menarik bagi orang yang akan dia kunjungi itu.

Ya, Kibum memang senang karena dia akan bertemu dengan,

“Kyunnie sayang, kita ke rumah sakit karena akan menjenguk Siwon oppa, tunangan eonnie semasa kecil dulu.”

TBC

Advertisements