Tags

, , , , , , , ,

Waterfall Poster

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Waterfall 4

Pairing/Charas : Wonkyu, Kangmin, Leeteuk, Heechul, Sibum, Yewook, more to come

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster were made by @SuciiCho

Warning : Un-betaed, GS, Attempt humor, OOC, AU, Family, Angst

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

Selama diperjalanan, Kyuhyun terus bertanya untuk apa mereka bertiga pergi ke rumah sakit, sampai-sampai Kyuhyun dan Kibum harus membolos hari ini. Kyuhyun terus bertanya tapi dia harus merengut menahan kesal karena Ryeowook sama sekali tidak memberikan jawaban meski dia tahu jawabannya. Kyuhyun pun melirik ke arah Kibum meminta bantuan agar Kibum bisa membujuk umma mereka untuk memberitahukan alasan mereka pergi ke rumah sakit.

Kibum tersenyum penuh arti sebelum menjawab keingin tahuan Kyuhyun. Ya, Kibum tahu alasan mengapa dia tiba-tiba diminta tidak sekolah dan pergi menemani Ryeowook menjenguk seseorang di rumah sakit. Awalnya dia sempat bingung, namun begitu Ryeowook menyebut satu nama, wajah Kibum berbinar senang dan dia langsung mempersiapkan diri agar terlihat menarik bagi orang yang akan dia kunjungi itu.

Ya, Kibum memang senang karena dia akan bertemu dengan,

“Kyunnie sayang, kita ke rumah sakit karena akan menjenguk Siwon oppa, tunangan eonnie semasa kecil dulu.”

( 。・_・。)(。・_・。 )

Tunangan. Kata seakan menjadi kata baru bagi Kyuhyun. Terlebih lagi dia mendengarnya dari kakak perempuannya sendiri. Gadis yang selalu bersikap dingin terhadap lawan jenis dan tidak sungkan-sungkan membeberkan kelemahan orang tersebut langsung di hadapannya. Gadis pintar, cantik, dan berkarakter yang selalu Kyuhyun kagumi. Gadis yang sekarang sedang menangis sambil memeluk seorang pemuda yang wajahnya tidak asing bagi Kyuhyun.

Choi Siwon. Nama itu yang Kyuhyun tahu setelah diperkenalkan oleh Heechul, sepupu ibunya, Ryeowook. Nama yang menjabarkan sosok pemuda yang pernah dia berikan mantelnya di melam bersalju itu. Nama pemuda yang saat itu Kyuhyun pikir adalah pemuda yang meskipun menyebalkan namun sempat membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat walau Kyuhyun sendiri langsung bisa mengendalikan jantungnya yang seenaknya itu. Pemuda yang sekarang menjadi objek pengganti boneka teddy oleh kakaknya. Pemuda yang diakui kakaknya, Kim Kibum, sebagai tunangan masa kecil.

“Siwonnie… Aku rindu sekali…” ucap Kibum senang setelah melepaskan pelukannya di tubuh Siwon yang tidak bergerak sama sekali sejak dipeluk oleh Kibum. Siwon tidak memberikan reaksi apapun ketika Kibum tiba-tiba memeluknya, bahkan ketika gadis itu sempat mengusap rambut di belakang kepalanya. Siwon hanya memberikan tatapan datar kepada Kibum yang masih tersenyum meski dia sibuk menghapus bulir-bulir airmata kebahagiaan yang masih setia untuk terus mengalir.

“Bagaimana kabarmu Wonnie? Kemana saja kau selama ini? Mengapa kau tidak pernah memberitahu keberadaanmu? Apa…”

“Kim Kibum! Bisakah kau diam dan tidak bertanya macam-macam?! Siwon butuh istirahat!” tegur Heechul sedikit risih dengan sikap Kibum yang menurutnya sedikit berlebihan kepada Siwon.

“Tapi…” Kibum tampak keberatan dengan teguran Heechul. Akan tetapi sebelum Kibum sempat meneruskan ucapannya, Ryeowook sudah terlebih dulu memotongnya. Dia takut jika Kibum kelepasan maka akibatnya Heechul akan lebih marah lagi dan Ryeowook tidak mau hal itu terjadi.

“Sudahlah Bummie. Kau menunggu diluar saja bersama dengan Kyunnie, oke?! Baby Kyu, tolong ajak kakakmu keluar sebentar.” Perintah Ryeowook pelan kepada Kyuhyun yang diangguki oleh gadis berambut ikal itu.

“Baik umma. Ayo eonnie.” Kyuhyun menarik lengan Kibum perlahan. Kibum sendiri masih enggan untuk pergi, namun satu tatapan dari Ryeowook membuatnya mau tidak mau akhirnya mengikuti Kyuhyun keluar dari ruangan Siwon tersebut.

Setelah Kibum dan Kyuhyun keluar dari kamar tersebut, Ryeowook kembali menatap Heechul yang sedang membantu Siwon membenarkan posisinya di ranjang rumah sakit agar pemuda tersebut lebih nyaman. Ryeowook terdiam sampai akhirnya wanita mungil tersebut membuka mulutnya, memanggil Heechul.

“Chulie eonnie…”

“Jangan bicara apapun Kim Ryeowook atau aku juga akan membuatmu menyesal!” sergah Heechul tidak memberikan kesempatan kepada Ryeowook untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan. Heechul bisa menduga arah pembicaraan Ryeowook dan dia tidak mau mendengar hal itu keluar dari mulut sepupunya. Terlebih lagi ada Siwon disampingnya. Ya, Heechul tahu bahwa Ryeowook pasti akan membahas masalah Siwon dan Kangin dan Heechul juga tahu jika dia membiarkan Ryeowook bicara bahkan sampai membujuknya untuk tidak ikut campur dalam masalah ayah dan anak itu, Heechul pasti akan luluh. Untuk saat ini, Heechul tidak bisa, dia tidak mau sampai itu terjadi. Heechul tidak mau mengingkari janjinya kepada mendiang Leeteuk.

Ryeowook sendiri mengerti keberatan Heechul. Dia paham begaimana perasaan Heechul sekarang ini. Terluka, marah kepada Kangin, kepada Sungmin, kepada dunia. Tapi hati Heechul lebih terasa berat karena perasaan bersalahnya kepada Leeteuk, kepada Siwon. Untuk itu, Ryeowook sama sekali tidak merasa tersinggung ketika Heechul membentak dan menyelanya tadi. Dengan menghela nafas, Ryeowook mendekati sisi lain dari ranjang Siwon, membuatnya berhadapan dengan Heechul dan kembali mencoba bicara kepada wanita cantik namun terkesan susah didekati itu.

“Hhh… Baiklah eonnie, aku mengerti. Kau sedang marah, kau sedang tidak mau dipusingkan dengan masalah Kangin oppa dan juga Sungmin eonnie. Tapi menghalangi Kangin oppa untuk mendapatkan hak asuhnya atas Siwon bukan jalan terbaik. Dia ayah kandung Siwon eonnie, dia berhak atas Siwon.”

“Ayah kandung katamu? Kangin ayah kandung Siwon? Ayah mana yang bisa dengan gampangnya melepas putranya sendiri? Ayah mana yang sama sekali tidak mau mencari keberadaan putranya, tidak memperdulikan bagaimana hidup putranya itu? Ayah mana yang sanggup menelantarkan darah dagingnya sendiri Ryeowook? Kau katakan sekarang! Karena kalau kau tidak punya jawabannya, maka aku punya! Orang itu Jung Kangin!”

“Kau tahu bahwa semua itu tidak benar eonnie. Kangin oppa bersusah payah mencari Siwon dan Leeteuk eonnie. You can’t judge him like this. Kau…”

Stop it! Just stop Kim Ryeowook! Daripada kau buang waktu dan tenagamu membela si Jung itu, lebih baik kau tanya sendiri kepada Siwon, siapa yang dia pilih sebagai walinya.” Sekali lagi Heechul menyela ucapan Ryeowook disaat Ryeowook mencoba membuka hati Heechul. Heechul benar-benar tidak ingin mendengar satu kata pun yang berujung pembelaan atas Kangin. Sungguh, Heechul tidak mau.

Ryeowook pun hanya bisa terpaku ketika mendengar ucapan Heechul tadi. Bukan karena nada Heechul yang keras kepadanya dan juga bukan karena sikap Heechul yang sama sekali tidak mau mengalah dan terus menyelanya. Bukan itu. Ryeowook terperangah karena ucapan Heechul yang memintanya bertanya kepada Siwon.

Dengan ucapan itu, Ryeowook pun akhirnya sadar bahwa mereka tidak hanya berdua. Ada Siwon yang sejak tadi mendengar perdebatan mereka. Ryeowook merutuki kebodohannya sendiri sampai tidak menyadari Siwon yang terus memperhatikan dia dan Heechul.

“Em… Siwon-ah… Eonnie! Kenapa aku harus menanyakan hal ini kepada Siwon?!” Ryeowook menjadi kesal sendiri karena merasa dibodohi oleh Heechul. Bagaimana mungkin sepupunya itu memintanya bertanya hal seperti itu kepada Siwon. Hal seperti ini adalah hal yang sensitif.Ryeowook tidak mau bertanya mengenai hal sepenting ini kepada Siwon seakan-akan pertanyaan tersebut pertanyaan tentang cuaca atau semacamnya.

Sementara Heechul sendiri, mulai jengah dan kesal kepada Ryeowook yang terus saja bersikeras membela Kangin dan secara tidak langsung Sungmin. Meski dia tahu kenapa Ryeowook bersikap demikian tetap saja Heechul merasa bahwa sepupunya ini tidak adil kepada Leeteuk.

Heechul paham bahwa Ryeowook begitu sengit membela Kangin dan Sungmin karena Sungmin adalah teman sekelas semasa SMA dan juga sahabat dekat Ryeowook. Heechul juga tahu betapa terkejutnya Ryeowook ketika dia mengetahui kabar bahwa Sungmin ternyata adalah istri simpanan Kangin. Walaupun begitu, sebagai sahabat, Ryeowook hanya mampu mendukung meski saat itu Ryeowook tidak memungkiri jika dia merasa tindakan Sungmin menjadi istri simpanan Kangin menorehkan luka yang dalam kepada Leeteuk.

Heechul mengerti, didalam hatinya, Ryeowook mengerti benar bahwa Sungmin salah. Namun yang tidak bisa Heechul mengerti adalah betapa mudahnya Ryeowook menerima Sungmin dan berbalik mendukungnya. Perkataan Ryeowook tentang apa yang telah terjadi tidak mungkin bisa diulang kembali, selalu membuat darah Heechul bergejolak marah. Apalagi ketika Ryeowook menambahkan dengan masa lalu pahit itu hanya bisa terobati dengan tindakan yang benar di masa depan dan Heechul bertambah murka ketika Ryeowook mengatakan bahwa dia ingin membantu mewujudkan keinginan Sungmin agar bisa merawat dan membesarkan Siwon seperti anaknya sendiri.

Ryeowook merasa bahwa ini adalah tindakan yang benar untuk Sungmin agar dia bisa menebus dosanya terhadap mendiang Leeteuk dan juga Siwon. Maka dari itu, Ryeowook berjuang agar Siwon bisa merasakan kembali hangatnya keluarga karena bagi Ryeowook, Kangin sama sekali tidak pernah melupakan Siwon bahkan Leeteuk. Ryeowook pernah mengatakan bahwa dia sering melihat Kangin menangis, mencurahkan isi hatinya kepada Yesung, suaminya.

Sayangnya, semua perkataan Ryeowook selalu diacuhkan oleh Heechul. Kemarahannya terhadap Kangin dan Sungmin menutup hatinya. Perlakuan Kangin dan Sungmin yang membuat Leeteuk sahabatnya menderita tidak akan pernah hilang begitu saja. Jadi walau semua orang memohon padanya, memintanya agar tidak ikut campur dalam urusan antara Siwon dan Kangin, Heechul aka tetap pada pendiriannya. Siwon akan tetap dalam asuhannya. Siwon, satu-satunya harta berharga milik Leeteuk, akan dia jaga sampai akhir hayatnya nanti. Itu janjinya kepada Leeteuk.

“Eonnie…” lirih Ryeowook membuat Heechul kembali memperhatikan wanita dia anak itu.

“Eonnie, please don’t be stubborn. Siwon masih butuh kasih sayang seorang ayah. Dia masih bu…”

“Aku memilih Heechul-ssi untuk menjadi waliku nyonya.” Suara berat itu yang terdengar datar itu memotong ucapan Ryeowook. Wajah manis wanita mungil itu menampakkan keterkejutan. Terbukti dari kedua bola matanya yang membesar dan mulutnya sedikit terbuka.

“Apa?!”

“Kau dengar sendiri bukan Ryeowook. Siwon memilihku daripada Jung sialan itu. Jadi kau dan suamimu itu, jangan ikut campur.”

“Tapi…”

“Aku lelah. Tolong biarkan aku sendiri.” Dua kalimat singkat dari Siwon tadi memutuskan perdebatan antara Ryeowook dan Heechul. Keduanya saling berpandangan sesaat sebelum Heechul memanglingkan wajahnya untuk membantu Siwon berbaring. Ryeowook pun akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang dan meninggalkan ruang rawat Siwon tersebut. Dia hanya bisa menunggu sampai Siwon benar-benar pulih sekaligus memastikan apakah benar pemuda itu lebih memilih Heechul daripada ayah kandungnya sendiri. Ryeowook berharap semoga Siwon hanya ragu dan tidak membuat situasi semakin rumit dengan memilih tinggal bersama dengan Heechul. Ya, semoga saja.

Sementara itu di sebuah kantin rumah sakit, tampak dua orang gadis sedang berbincang-bincang sambil sesekali menyesap minuman hangat mereka masing-masing. Kedua gadis yang ternyata Kibum dan Kyuhyun itu terlihat akrab karena perbincangan mereka diiringi gelak tawa dan senyum yang sama-sama menawan setiap orang yang melihat kedua gadis tersebut.

Keduanya membicarakan banyak hal sambil menunggu kabar dari ibu mereka yang masih berada di ruang rawat Siwon. Banyak hal sampai mereka membicarakan soal pertunangan masa kecil antara Kibum dan Siwon. Kyuhyun tampaknya masih penasaran dan entah mengapa, ada sedikit perasaan tak rela ketika mengetahui bahwa orang yang menajdi tunangan kakaknya itu adalah Siwon. Kyuhyun berpikir mungkin dia tak rela kakaknya menajdi tunangan seorang pemuda yang terlihat acuh saja kepada kakaknya. Ya, Kyuhyun berpikir demikian meski di sudut hatinya dia sendiri tidak yakin.

“Pemuda itu tunangan eonnie semasa kecil? Eonnie masih menganggapnya sebagai tunangan bahkan sampai sekarang?” tanya Kyuhyun masih tak percaya jika kakaknya itu ternyata terus menyimpan janji semasa kecilnya sampai saat ini. Bagi Kyuhyun, Kibum bersikap seperti gadis yang percaya akan keajaiban cinta seperti yang tertulis dalam dongeng-dongeng pengantar tidur.

Kibum tersenyum manis menanggapi pertanyaan Kyuhyun yang terlihat terperangah kalau dirinya masih menyimpan janji manis antara dia dengan Siwon, teman masa kecilnya. Janji yang terucap saat mereka masih berusia tujuh tahun, janji bahwa saat mereka dewasa nanti, mereka akan menikah dan memiliki keluarga yang bahagia. Janji polos yang terucap dari bibir anak kecil namun begitu berarti bagi seorang Kim Kibum.

“Tentu saja Kyunnie manis. Memang dia pergi tiga tahun setelah janji kami berdua, namun aku yakin, kami pasti bisa bertemu lagi dan mewujudkan janji kami itu dan ternyata hal itu benar terjadi. Siwonnie kembali.” Jelas Kibum sambil terus memasang killer smile-nya.

“Apa eonnie yakin dia masih mengingat eonnie? Tadi saja dia begitu dingin dan sama sekali tidak mengenali eonnie. Bisa saja dia juga sudah memiliki kekasih bukan?! Eonnie jangan terlalu naïf.” ucap Kyuhyun tanpa disaring. Kyuhyun yang menatap wajah kakaknya berubah sendu setelah kata-kata itu keluar melalui bibirnya pun langsung membekap mulutnya sendiri karena dia baru sadar telah mengatakan hal yang mampu menghancurkan impian kakaknya sendiri.

Sedangkan Kibum hanya tersenyum pilu dan langsung membelai rambut Kyuhyun lembut, seakan mengatakan bahwa dia tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Kyuhyun. Namun wajah Kyuhyun yang terlihat bersalah, membuat Kibum harus mengatakan secara gamblang agar Kyuhyun tidak lagi terlihat sedih.

“Kyu, aku tidak marah. Justru kau benar. Aku harus memikirkan kemungkinan itu juga. Jika memang Siown sudah memiliki orang lain Kyu, maka aku akan mengalah asalkan Siwon bahagia.” Sahut Kibum yang mendapat tatapan kagum dari Kyuhyun. Dalam hati gadis menggemaskan itu, dia berjanji akan membuat pangeran kecil dambaan kakaknya ini tetap memegang janji mereka dulu. Kyuhyun akan membantu kakaknya sebisa mungkin agar pertunangan ini tetap berjalan. Kyuhyun berjanji seperti itu tanpa tahu takdir akan mempermainkan mereka bertiga. Dirinya, Kibum dan calon tunangan Kibum yaitu Siwon.

Kantor Pengacara Shin

Kangin dan Yesung tampak tidak tenang duduk ditempatnya sekarang. Ya, wajar saja jika pengusaha tersebut terlihat gelisah. Pasalnya, Kangin saat ini sedang menunggu kabar dari pengacara keluarganya berkenaan dengan masalah hak asuh Siwon.

Setelah mengusai dirinya sendiri yang kacau ketika mengetahui Heechul telah mengambil hak asuh Siwon, Kangin langsung menghubungi Yesung dan meminta bantuannya untuk mempersiapkan perlawanan terhadap Heechul. Kangin tidak mau menyerah begitu saja. Siwon adalah anaknya. Meski pemuda itu sekarang membencinya, tapi Kangin masih memiliki hak untuk merawat dan membesarkan Siwon. Kangin yakin suatu saat Siwon mau memaafkannya dan jika dia terpisah begitu saja dengan putranya tersebut, maka pupuslah harapan Kangin untuk bisa menjaga harta satu-satunya yang dia miliki bersama dengan Leeteuk.

Lamunan Kangin buyar ketika pintu ruang kerja pengacara Shin terbuka dan menampilkan pria yang umurnya lebih tua beberapa tahun darinya itu. Pengacara yang sudah mengikuti Kangin hampir sama lamanya dengan Yesung itu menghela nafas panjang. Mendapati reaksi pengacara sekaligus teman dekatnya seperti itu, hati Kangin semakin tidak tenang. Dia bangkit dari tempat duduknya dan mendekati pengacara dengan nama lengkap Shin Donghee itu dan menatapnya nanar.

“Apa Siwon bisa kembali padaku hyung?”

“Kangin…”

“Hyung… Jawab. Apa anakku bisa kembali bersamaku?” tanya Kangin putus asa. Pengacara Shin hanya menghela nafas sekali lagi lalu menggeleng. Gelengan kepala itu cukup menjadi jawaban untuk Kangin dan disaat bersamaan gelengan kepala itu sudah cukup menghancurkan hidupnya.

“Hyung… Kenapa bisa seperti ini hyung?! Aku appanya! Aku ayah kandungnya!! Aku hyung!!!” teriak Kangin tidak terima dengan kenyataan pahit yang harus dia terima saat ini. Dia sungguh-sungguh tidak menyangka bahwa kekuasaan dan kekuatan Heechul begini besar. Sahabat Leeteuk itu benar-benar ingin menghancurkan dirinya.

“Kangin tenanglah dulu. Dengarkan aku. Masih ada cara agar hak asuh Siwon kembali kepadamu.”

“Apa?! Benarkah itu hyung?!” pengacara Shin mengangguk, membuat harapan Kangin kembali tumbuh.

“Apa itu hyung?! Katakan!” ujar Kangin tidak sabar. Baginya, jika benar ada cara yang mampu membuatnya bisa bersama dengan Siwon lagi, maka apapun cara itu akan dia lakukan. Pengacara Shin tersenyum sebelum menjelaskan cara yang dia maksud.

“Hukum sudah menyatakan bahwa Kim Heechul yang akan menjadi wali Siwon sampai Siwon berusia 21 tahun atau pemuda itu cukup mandiri untuk hidup sendiri. Tapi Siwon pun boleh memilih sendiri walinya jika dia mau.”

“Apa?!”

“Surat mendiang Choi Leeteuk berbunyi demikian. Dia menuliskan bahwa hak asuh Siwon dia berikan kepada sahabatnya Kim Heechul, namun jika Siwon sendiri memilih orang lain dalam hal ini keluarga atau orang terdekatnya, maka Kim Heechul tidak bisa menahan anak itu.”

“Siwon boleh memilih? Teukie menulis demikian? Lalu kenapa Chulie noona hanya berkata bahwa Teukie tidak mau menyusahkan aku saja? Kenapa Chulie noona…” Kangin memutus sendiri perkataannya. Tanpa dia teruskan, dia sudah tahu apa maksud Heechul memperdayanya seperti itu. Wanita licik itu telah mempermainkannya, wanita itu telah menggunakan rasa bersalah Kangin untuk membuat pria itu terpuruk dengan harapan Kangin menyerah atas hak asuh Siwon.

“Wanita itu…!” geram Kangin marah. Selama ini Kangin berusaha bertahan dengan sikap Heechul yang suka seenaknya. Tapi kali ini, Heechul dianggap sudah keterlaluan.

“Kau tahu sendiri betapa lembutnya hati Leeteuk, Kangin. Meski dia menyinggung tidak mau membebanimu dengan Siwon, tapi Leeteuk jelas menuliskan jika kau bisa merawat Siwon jika anak itu menginginkannya.” Lanjut pengacara Shin. Mendengar perkataan pengacaranya tadi, Kangin langsung menoleh dan memasang raut wajah frustasi.

“Tapi hyung, itu sama saja dengan aku sudah kalah. Siwon itu membenciku karena dia menganggap aku yang sudah membuat Teukie meninggal.”

“Kau tidak yakin bisa membuat Siwon memaafkanmu?”

“Yesung hyung…” Kali ini wajah Kangin beralih kepada Yesung yang menatapnya datar. Yesung menghela nafas sebentar lalu menepuk dan meremas bahu Kangin.

“Ini kesempatanmu Kangin. Kau harus mampu membuat Siwon memaafkanmu meski dia tidak tinggal denganmu. Hukum tidak akan melarangmu menemuinya karena bagaimana pun kau itu masih ayah kandung Siwon. Benar bukan apa yang tadi aku katakan hyung?” tanya Yesung memastikan asumsinya kepada pengacara Shin.

“Ya, kau benar Yesung. Aku sudah bicara dengan hakim dan pengacaranya nyonya Kim Heechul. Mereka tidak akan melarangmu untuk bertemu dengan Siwon meski nyonya Kim Heechul menginginkannya.”

“Benarkah? Aku masih bisa menemui Siwon?”

“Ya Kangin. Maka dari itu, berjuanglah sobat. Kau pasti bisa mendapatkan hati dan kata maaf dari putramu tersebut.”

“Ya hyung. Aku akan berjuang. Aku pasti akan berjuang untuk Siwon. Terima kasih.”

Rumah Sakit

“Apa katamu?!! Lelaki bajingan itu bisa kapan saja bertemu Siwon?!! That is bull shit!! Aku membayarmu mahal agar Jung sialan itu tidak bisa mendekati Siwon dan sekarang kau bilang aku tidak bisa melarangnya menemui Siwon?!!”

“…”

DAMN IT!!!” dengan kemarahan yang meluap-luap, Heechul berteriak sambil melemparkan ponselnya ke lantai koridor rumah sakit dekat dengan kamar Siwon dengan kuat sampai benda kecil itu hancur berkeping-keping. Namun, Heechul sama sekali tidak perduli, baik dengan ponselnya yang sudah hancur, tatapan pengunjung rumah sakit, maupun tatapan bengis dari suster dan dokter yang melintas.

“Jung Kangin sialan! Kau menggunakan posisimu sebagai ayah kandung Siwon untuk merampas anak Leeteuk dariku. Kita lihat saja siapa yang akan menang.” Gumam Heechul sinis. Wanita tegas itu berjalan cepat ke arah lobby rumah sakit. Heechul bermaksud menemui Kangin untuk memintanya tidak mendekati Siwon lagi. Tampak wanita elegan itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat sampai tangannya memutih ketika dia berjalan cepat karena Heechul menahan amarahnya agar tidak meledak saat itu juga. Wanita cantik namun keras hati itu bersumpah bahwa dia tidak akan membiarkan Kangin menyakiti Siwon lagi dan jika dia harus bermain kotor untuk itu, maka biarlah. Demi janjinya kepada Leeteuk dan demi kebahagiaan Siwon, Heechul sanggup melakukan apapun. Ya dia sanggup.

Sedangkan di dalam kamar, Siwon yang memang tidak tidur, mendengar dengan jelas teriakan kemarahan Heechul. Dia tahu penyebab mengapa sahabat ibunya itu begitu murka pasti tak lain dan tak bukan adalah ayahnya sendiri. Pemuda berambut sedikit panjang itu menutup matanya, mencoba menghilangkan semua permasalahan yang sampai detik ini terus mengganggunya.

Siwon belum dapat menentukan jalan yang akan dipilihnya. Setiap keputusan yang dia ambil selalu berdasar dari kemarahannya dan kekecewaannya akan sang appa. Namun, entah karena dia terus berdiam diri di rumah sakit atau karena tatapan sendu dan airmata yang terakhir kali dia lihat dari wajah Kangin, membuat hatinya mulai merasa iba kepada sang ayah. Siwon tahu dan dia tidak pernah memungkiri bahwa jauh didalam lubuh hatinya, dia masih mendambakan sosok seorang ayah.

Siwon terkadang merasa aneh dengan perasaannya sendiri yang hanya dalam waktu yang terbilang sangat singkat, satu hari, dia bisa begitu cepatnya berubah-ubah pikiran. Di satu menit dia mencaci, begitu membenci pria yang berjasa atas kelahirannya. Dan di menit selanjutnya, Siwon langsung merasa bersalah dan iba ketika melihat raut wajah penuh penyesalan terpancar jelas dari seorang Jung Kangin.

Hanya saja perasaan iba dan sayang yang dia rasakan kepada Kangin akan menguap setiap kali Siwon mengingat tindakan sang appa yang selalu saja memupus harapan Siwon untuk mendapatkan kasih sayang seorang appa. Terlebih lagi tindakan Kangin yang mendorong Leeteuk sampai ke batas terakhir sampai wanita cantik dengan senyum malaikat itu memutuskan berjalan di takdir hitam yang berakhir dengan kematian tragis. Siwon tak akan pernah lupa itu. Apalagi ketika Siwon mendengar dari Heechul bahwa Kangin sudah hidup bahagia dengan Sungmin dan putra mereka berdua.

Bahagia. Kata yang jauh dari diri seorang Choi Leeteuk dan Choi Siwon. Mengingat itu semua, Siwon merasa tidak sepantasnya dia merusak kehidupan Kangin. Semarah-marahnya Siwon kepada Kangin, tetap saja Siwon tidak punya hak mengacaukan kehidupan sang appa. Tidak, dia bukanlah orang seperti itu. Baginya, dendam hanya akan menambah rasa sakit dan melukai dirinya lebih jauh. Bagi pemuda itu, Kangin sudah cukup melukai hatinya dan ibunya, maka dia tidak mau menjerumuskan dirinya lebih dalam di prahara keluarganya ini. Lebih baik dia tinggal bersama Heechul atau bahkan mencoba mandiri seperti yang sudah dia lakukan beberapa tahun terakhir ini. Siwon lebih memilih hidup di jalanan daripada dia harus menjadi penonton yang menyaksikan drama kebahagiaan keluarga utuh ketika bukan dia salah satu pemainnya.

Memikirkan semua itu, membuat hati keras Siwon tiba-tiba saja terenyuh. Kini dia mengerti mengapa sang umma memilih pergi dari kehidupan sang appa saat dia masih kecil. Mengapa Leeteuk membiarkan mereka hidup menderita pada saat Kangin mau memberikan mereka kehidupan yang layak. Mengapa Leeteuk lebih memilih menyerah ketika dia sudah tak sanggup dengan keadaan dirinya. Semua itu karena Leeteuk, sang umma, begitu dalam mencintai Kangin. Begitu dalam sampai Leeteuk terkadang melupakan cintanya kepada Siwon. Begitu dalam sampai demi tidak menghancurkan kebahagiaan Kangin, Leeteuk memilih menitipkan dirinya kepada sahabatnya sendiri.

Siwon mulai merasakan pipinya basah dan dadanya sesak. Dalam hitungan detik, pemuda yang terus bersikap tegar itu menangis dengan keras. Siwon meratapi hidupnya yang terus saja terombang ambing karena orang tuanya sendiri. Siwon tidak akan pernah mengerti perasaan kedua orang tuanya yang sama sekali tidak memikirkan akibat perbuatan mereka berdua akan berdampak pada dirinya. Namun, Siwon adlaah anak baik, anak yang berbakti. Meski dia yang harus menanggung semuanya, tapi Siwon tidak akan pernah membenci umma dan appanya. Ya, kedua orang tuanya, termasuk Kangin. Kini dia sadar, bahwa percuma dia merasakan amarah yang membuatnya tersiksa ini. Amarah ini tidak akan membuat hatinya tenang. Siwon akan selalu merasa kosong. Kosong karena tidak ada satu pun yang memikirkan dirinya karena pribadinya. Dia akan terus menjadi perdebatan, bahkan ketika sang umma sudah tidak ada lagi.

Siwon memutuskan dia tidak akan menjadi perdebatan orang lain. Dia bisa melakukan semua sendiri. Keputusan awalnya untuk tinggal dengan Heechul pasti akan berakibat pertengkaran tanpa akhir antara Kangin dan Heechul. Siwon tahu kepergian dirinya akan membuat semua orang lebih tenang. Siwon memutuskan hal itu sepihak tanpa tahu bahwa semua orang begitu menyayanginya. Namun, kehidupan keras dan perhatian Leeteuk yang tanpa disadari oleh wanita itu sepenuhnya telah membuat Siwon menganggap dirinya tidak memiliki arti untuk siapapun juga. Apalagi perebutan hak asuh atas dirinya, bagi Siwon terlihat seperti dia seperti barang yang sedang diperebutkan oleh dua orang pengujung toko. Tidak ada yang bisa menyalahkan Siwon untuk ini. Situasi dan sikap egois semua orang yang membuat Siwon berasumsi demikian, membuat Siwon untuk kedua kalinya mencabut jarum infus, dan dengan sedikit tenaga, mengendap-endap keluar dari kamar rawatnya ketika dia sadar Heechul tidak berada lagi di dekat kamarnya. Dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya, Siwon berjalan tertatih menuju tangga darurat dan berusaha pergi dari rumah sakit tersebut.

Taman Rumah Sakit

Kyuhyun duduk sendiri di bangku taman dekat sebuah pohon rindang, menanti sang kakak yang sedang menemani ibu mereka, Ryeowook untuk membeli makan malam mereka bertiga. Ya, mereka sudah berada disini cukup lama sampai waktunya makan malam.

Sebenarnya, Kyuhyun sudah diperbolehkan oleh Kibum untuk pulang sejak sore tadi, namun Ryeowook melarangnya dengan alasan, takut terjadi sesuatu dengan Kyuhyun jika dia pulang sendiri. Kyuhyun langsung keberatan dengan alasan Ryeowook dan beragumen bahwa dia sudah besar dan Ryeowook tidak usah khawatir dengannya. Akan tetapi semua argumen Kyuhyun diacuhkan begitu saja oleh Ryeowook. Ibu rumah tangga itu justru menarik lengan Kibum dan mengajaknya untuk membeli makan malam sementara dia menyuruh Kyuhyun untuk menunggu mereka di rumah sakit.

“Dasar umma cerewet, over protective, menyebalkan! Aku bosan!” sungut Kyuhyun sambil mengerucutkan bibirnya imut. Dia menggerutu sambil mengacak-acak rambut ikalnya sendiri, kesal dengan kelakuan sang umma.

Kyuhyun terus saja menggerutu sendirian di tempat itu sampai iris coklatnya melihat siluet seseorang yang dia kenal berada dekat pagar rumah sakit yang cukup pendek untuk bisa dilalui jika orang itu berani melompat. Kyuhyun memincingkan matanya, mencoba mengingat-ingat siapa orang tersebut sampai akhirnya kedua bola mata Kyuhyun membulat karena dia ingat siapa orang tersebut.

“Kamu!! Aduh siapa tadi namanya?! Miwon, Won… SIWON!!” teriak Kyuhyun lantang dan bergegas berlari mendekati orang yang dipanggil Siwon tersebut. Sedangkan Siwon sendiri, dia langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan kedua matanya ikut membulat karena terkejut bisa bertemu dengan gadis yang pernah menolongnya di malam bersalju itu. Apalagi gadis ini ada hubungannya dengan wanita yang tadi sempat berdebat dengan Heechul.

“Sial! Kenapa bisa ketahuan secepat ini?! Aku harus segera pergi.” Umpat Siwon sambil bermonolog seorang diri. Tanpa menggubris teriakan Kyuhyun, Siwon memutar tubuhnya dan langsung berusaha menaiki pagar rumah sakit tersebut. Sebenarnya mudah saja bagi tubuh setinggi Siwon untuk melompati pagar rendah itu, namun karena tubuhnya masih lemah pasca siuman, maka Siwon kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya secara bebas. Yang ada, pergerakkannya menjadi lambat dan dengan cepat Kyuhyun bisa mengejarnya lalu menahan tubuh Siwon dengan mencekal lengan pemuda berkulit agak kecoklatan itu.

“Hei! Kau mau apa?!” tanya Kyuhyun setelah dia sampai dan berhasil menahan Siwon. Kyuhyun bertanya-tanya, mengapa Siwon bisa berasa disini tanpa ada seorang pun yang menemaninya? Bukankah pemuda tersebut baru saja siuman dan masih dalam tahap recovery. Sedang apa Siwon di taman ini, tanpa infus, dan hanya dengan pakaian rumah sakit tanpa sepatu. Kyuhyun mulai mengumpulkan semua pecahan puzzle menjadi satu kesatuan utuh dan kesimpulan yang dia dapat,

“Kau mau lari ya?!” tuduhnya dan langsung membuat tubuh Siwon menegang karena panik.

“Lepaskan!” seru Siwon berusaha melepaskan cekalan tangan Kyuhyun.

“Tidak! Kau pasti mau kabur! Tidak akan aku biarkan! Kau harus ada disini demi kakakku, dasar pemuda liar!”

“Kakakmu?! Apa yang kau bicarakan?! Sekarang lepaskan aku!”

“Aish! Tentu saja kakakku Kim Kibum. Gadis yang tadi memelukmu! Masa kau sudah lupa?!”

“Kibum?”

“Ya, Kibum! Sudahlah! Sekarang kau ikut aku, kembali ke kamarmu!”

“Kau…”

“Apalagi?! Ayo cepat!”

“Kumohon biarkan aku pergi. Biarkan aku pergi nona. Aku mohon…” Siwon memohon sambil menatap wajah Kyuhyun dengan lekat. Matanya mulai sayu dan pandangannya mengabur. Siwon berpikir dia harus segera pergi sebelum dia kehilangan kesadarannya. Siwon tidak mau sampai pingsan di tempat ini dan kembali ke kamarnya lagi. Siwon benar-benar harus segera pergi dari tempat ini.

Kyuhyun terpaku mendengar permohonan Siwon tadi. Suara Siwon terdengar begitu putus asa, begitu berbeda dengan waktu dia menolong pemuda ini. Waktu itu, meskipun Siwon tak berdaya di tengah hujan salju, namun Siwon masih begitu tegar. Tapi sekarang, suara Siwon terkesan begitu lelah, begitu sedih. Terlalu kaget mendengar seseorang memohon seperti itu kepadanya sampai membuat gadis manis itu tidak sadar telah melepaskan pegangannya di lengan Siwon.

“Kau mau kemana?” hanya pertanyaan itu yang terpikirkan oleh Kyuhyun. Siwon hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kyuhyun. Dalam hatinya, entah kenapa begitu hangat ketika dia mendengar pertanyaan Kyuhyun tadi. Umum, pertanyaan itu sangatlah umum diutarakan. Tapi Siwon merasa nada suara Kyuhyun yang terkesan begitu cemas akan dirinya membuat Siwon merasa masih ada yang mengkhawatirkannya, meski ironisnya orang itu adalah orang yang asing untuknya.

“Entahlah. Aku juga tak tahu.” Jawab Siwon sekenanya. Kepala yang pusing dan kesadaran yang semakin menipis. Ditambah sakit yang dia rasakan di sekujur tubuhnya membuat Siwon tidak fokus lagi. Kyuhyun pun mulai merasakan kepanikan ketika dia melihat betapa pucatnya wajah Siwon.

“Aku tidak tahu harus kemana lagi. Aku tidak tahu harus bersandar kepada siapa lagi. Aku sendirian di dunia ini. Sendiri.” Gumam Siwon meracau. Dia mengutarakan apa yang dia rasakan kepada gadis penolongnya. Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh Kyuhyun sehingga mampu membuat Siwon jujur begitu saja di depannya. Kyuhyun sendiri tidak tahu harus berbuat apa ketika mendengar ucapan pelan Siwon tadi. Yang dia tahu, pemuda di depannya ini sekarang sedang bersedih. Meski dia tidak tahu apa penyebabnya, namun Kyuhyun merasa bahwa dia harus menenangkan Siwon.

Tanpa ada perintah, tubuh Kyuhyun bergerak maju mendekati tubuh Siwon sampai mereka berhadapan satu sama lain. Kyuhyun pun langsung menggerakkan tangannya dan secara perlahan mulai melingkarkan tangan rampingnya itu di bahu Siwon, menarik pemuda tinggi itu ke dalam dekapannya. Membawa kepala Siwon untuk bersandar di bahu Kyuhyun, bahkan Kyuhyun sampai berani meletakan salah satu telapak tangannya di rambut Siwon, membelainya dengan lembut seakan menyatakan bahwa ada seseorang yang masih ada disisi pemuda tersebut.

“Kau tidak sendiri, ada aku. Ada aku.” Entah darimana kata-kata itu berasal, yang pasti Kyuhyun tidak mau Siwon berpikir bahwa dia sendirian di dunia ini. Kyuhyun hanya ingin Siwon tahu bahwa jika memang tidak ada tempat lagi bagi Siwon untuk bersandar, maka Kyuhyunlah yang akan untuk Siwon. Gila, aneh dan tidak logis karena keduanya baru saja mengenal. Tapi itulah yang dirasakan Kyuhyun. Gadis itu bahkan melupakan bahwa pemuda dalam pelukannya tersebut adalah tunangan masa kecil sang kakak tersayang.

Sementara Siwon, untuk pertama kali sejak dia mengalami kehidupan yang sulit, merasakan ada seseorang yang membuat dirinya merasa berarti. Ada seseorang yang memberikan kehangatan dan kenyamanan seperti sekarang. Siwon bahkan mulai menitikan airmatanya lagi, menangis di bahu gadis penolongnya. Siwon pun mulai membalas pelukan Kyuhyun dengan melingkarkan lengannya di pinggang dan punggung Kyuhyun. Dalam dekapan hangat Kyuhyun, Siwon menumpahkan seluruh beban dihatinya. Siwon seakan melupakan tubuhnya yang berteriak ingin segera berbaring dan mendapat perawatan. Yang dipikirkan oleh pemuda berlesung pipi itu hanya terus ingin mendapat kehangatan dari Kyuhyun.

“Aku disini oppa. Aku disini.” Kata yang sama terulang berkali-kali, mencoba meyakinkan Siwon bahwa dia tidak sendiri. Keduanya terus berpelukan, tanpa sadar ada sepasang mata yang memandang mereka dengan tatapan tak percaya dan nanar. Orang itu sampai menjatuhkan kantong belanjaan berisi kotak makan yang sengaja dia bawa demi sang adik. Kyuhyun dan Siwon tidak sadar mereka telah membuat sepasang mata hitam itu mengeluar cairan bening karena melihat mereka berpelukan.

Di Lain Tempat – Kediaman Keluarga Jung

“Umma, mengapa appa belum pulang juga? Bukankah umma bilang, umma akan pulang bersama appa?” tanya seorang pemuda berusia 15 tahun. Pemuda berwajah kecil nan tampan dengan tatapan mata tajam setajam tatapan musang, bergelayut manja, memeluk tubuh kecil sang umma yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarganya.

“Yunnie sayang, appamu sedang sibuk sayang. Jadi mungkin hari ini dia tidak pulang.” jelas sang umma, Jung Sungmin kepada sang putra semata wayang, Jung Yunho.

“Memangnya appa sedang sibuk apa umma? Tidak biasanya appa tidak pulang seperti sekarang?” tanya Yunho lagi. Pertanyaan Yunho tadi disambut dengan senyum pilu terlebih dahulu oleh Sungmin sebelum wanita manis itu menjawab pertanyaan Yunho tadi.

“Appa sedang berusaha mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya sayang.”

“Haknya?”

“Ya Yun, hak appamu sejak dulu.”

TBC

Advertisements