Tags

, , , , , , , ,

Waterfall Poster

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Waterfall 7

Pairing/Charas : Wonkyu, Kangmin, Leeteuk, Heechul, Yunjae, Sibum, more to come

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster were made by @SuciiCho

Warning : Un-betaed, GS, Attempt humor, OOC, AU, Family, Angst

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

“Aku ikut appa.”

“Untuk apa kau ikut? Lebih baik kau pulang dan menunggu dengan umma. Appa juga takut nanti kehadiranmu akan membuat Siwon tidak nyaman. Dia belum mengenalmu jadi lebih baik kalian tidak bertemu dulu.” Ucap Kangin dingin dan lalu masuk ke dalam mobil, menyalakannya dan menyetir ke arah pintu keluar parkiran rumah sakit, meninggalkan Yunho tanpa menunggu balasan dari Yunho.

Putra kedua Kangin itu menatap mobil sedan mewah sang appa dengan nanar. Yunho sadar benar bahwa matanya memanas dan airmata sudah membasahi pipinya, tetapi dia tidak perduli. Yang dia perdulikan adalah bagaimana caranya agar Kangin tidak bersikap sedingin itu kepadanya. Yunho tidak paham jika Kangin hanya sedang kesal dengan Heechul. Namun memang tidak seharusnya kepala keluarga Jung itu melampiaskan kekesalannya kepada Yunho.

Yunho menundukkan kepalanya agar orang-orang yang berada di sekitar parkiran rumah sakit tidak melihat wajahnya yang basah. Dia berbalik ke arah yang berlawanan dengan Kangin dan meninggalkan rumah sakit tersebut. Yunho meremas dadanya yang sakit karena kejadian tadi. Dalam hatinya, pemuda berusia 15 tahun yang masih labil itu berpikir,

Appa tidak menyayangiku lagi. Appa lebih menyayangi Siwon hyung. Ini pasti karena aku anak yang dihasilkan dari hubungan gelap. Aku anak yang sebenarnya tidak diinginkan.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Kediaman Keluarga Kim Heechul

Heechul sedang serius membaca dan memeriksa laporan perusahaannya ketika dia mendengar suara pria membentak marah di teras depan rumahnya. Ruangan kerja Heechul di desain agar bisa dia bisa melihat keadaan teras depan rumahnya. Heechul memincingkan matanya untuk melihat dengan jelas siapa pria yang berani datang ke rumahnya dan membuat onar. Ketika iris matanya mampu mengenali siapa pria tersebut, kedua bola mata Heechul menatap sosok pria itu dengan tajam.

“Ck. Ternyata Kangin. Dia datang juga akhirnya. Cih. Katanya dia menyayangi Siwon tapi baru datang sekarang.” Desis Heechul sinis kemudian beranjak dari kursi empuknya dan berjalan keluar dari ruang kerja untuk menemui Kangin di luar.

Saat Heechul sampai di lantai satu rumahnya, dia berpapasan dengan Siwon yang berdiri terpaku sambil membawa dua wadah kecil yang berisi es krim di kedua tangannya. Heechul menghentikan langkahnya sesaat dan menepuk bahu pemuda yang sudah resmi tinggal di rumahnya itu sejak beberapa jam yang lalu. Kening Heechul berkerut heran memandang kea rah Siwon. Mengapa dia berdiri mematung di bawah tangga?

“Kau sedang apa Wonnie? Lihat es krimmu meleleh.” Tegur Heechul sambil tersenyum kepada Siwon. Siwon menoleh ketika gendang telinganya menangkap suara lembut Heechul. Siwon menggeleng pelan sebelum berbalik dan menuju ruang keluarga tempat dia harus membawa es krim ini untuknya dan juga Jaejoong.

Jaejoong dan Siwon secara menakjubkan mudah sekali beradaptasi satu sama lain hanya dalam hitungan jam. Mungkin rasa kesepian yang dirasakan oleh Siwon yang sudah hidup sendiri sejak meninggalnya Leeteuk dan Jaejoong yang juga sering ditinggal sendiri oleh Heechul karena pekerjaan. Rasa kesepian itu ditambah dengan keduanya sangat menginginkan saudara, maka Siwon dan Jaejoong bisa langsung akrab dan dekat. Seperti saat ini, Jaejoong dan Siwon bermaksud menonton film bersama sambil menikmati es krim dan makanan kecil yang sudah terlebih dahulu Siwon bawa. Setelahnya, keduanya akan pergi berbelanja kebutuhan Siwon sehari-hari serta keperluan Siwon untuk masuk sekolah yang sama dengan Jaejoong.

Mengapa Siwon bias begitu mudah masuk ke sekolah tanpa ada tes dan kenyataan dia sudah tidak bersekolah sejak di tinggal pergi Leeteuk? Jawabannya sederhana. Pengaruh Heechul yang kuat dan juga fakta bahwa Heechul yang notabene adalah pemegang saham terbesar dari yayasan sekolah tempat keduanya menuntut ilmu, mampu membuatnya memasukkan Siwon untuk bersekolah disana. Tak sulit bagi Heechul untuk melakukan semua itu dalam waktu singkat.

Keadaan inilah yang sedang Siwon usahakan untuk bias dia nikmati. Siwon sedang berusaha untuk menikmati apa yang Tuhan berikan untuknya saat ini. Meski Siwon ragu apa semua ini akan berlangsung lama, namun Siwon tetap bersyukur bahwa di salah satu lembaran hidupnya, dia masih diberikan kesempatan untuk merasakan kasih sayang sekali kali dari seorang ibu dan pengalaman baru memiliki seorang adik. Siwon pun bisa kembali mengenyam bangku pendidikan sekali lagi serta merasakan hidup seperti pemuda lainnya.

Siwon selalu tersenyum kala memikirkan akan jadi apa hidupnya sekarang jika dia tetap keras kepala dan memilih pergi. Pasti dia akan kembali ke kehidupan kerasnya, berjuang demi bertahan hidup, seorang diri dan merasa kesepian. Mengingat itu, dalam hati, Siwon selalu berterima kasih kepada Kyuhyun yang sudah mengingatkannya bahwa apa yang akan terjadi nanti, yakinlah hal tersebut memiliki alasan. Karena itulah, Siwon yakin bahwa penderitaannya selama ini adalah agar dirinya menemukan kebahagiaan seperti sekarang.

Siwon juga berpikir, hidupnya mungkin akan lebih lengkap jika sang ayah ada disampingnya juga. Meski Siwon berkata bahwa dia tidak akan memilih tinggal bersama dengan Kangin karena Siwon tahu Heechul tidak akan suka ide tersebut, namun Siwon masih ingin merasakan kembali bagaimana bahagianya dia dulu ketika memiliki soerang ayah. Setelah Siwon berdamai dengan hatinya sendiri, dia ingin sekali mengenal kembali Jung Kangin yang secara darah adalah ayah kandungnya tersebut.

Disaat Siwon sedang memikirkan Kangin itulah, dia mendengar kegaduhan dari teras depan. Siwon yang saat itu baru melangkah keluar dari dapur menuju ruang keluarga, mendengar dengan jelas teriakan lantang Kangin. Pemuda itu mendengar Kangin memanggil namanya dan juga nama Heechul. Siwon ingin sekali keluar, tapi larangan keras Heechul yang tidak memperbolehkannya bertemu Kangin sementara waktu terngiang di benaknya. Bukan larangannya yang membuat Siwon menuruti permintaan Heechul tapi lebih kepada mata memelas Heechul yang ingin agar dia bisa menikmati waktunya sebagai ibu Siwon, menggantikan tugas Leeteuk tanpa adanya campur tangan Kangin.

Siwon tahu bahwa dia akan sulit memenuhi permintaan Heechul sepenuhnya karena biar bagaimana pun Kangin tetap ayahnya. Akan tetapi Siwon adalah orang yang tahu caranya berterima kasih terlebih lagi kepada orang yang sudah banyak membantunya dan juga merupakan sahabat dekat ibu kandungnya. Maka dengan berat hati, Siwon menyanggupi permintaan Heechul untuk tidak menemui dulu Kangin sampai Heechul memberinya ijin. Karena itulah, ketika Siwon mendengar suara Kangin, dia hanya bisa berdiri mematung sampai Heechul menegurnya.

Heechul sendiri tahu bahwa Siwon ingin bertemu dengan Kangin atau paling tidak sekedar memberitahu pengusaha itu bahwa dirinya berada bersama Heechul dan dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja, Heechul juga tahu Siwon tidak akan melakukan itu karena dia sudah berjanji kepadanya saat perjalanan pulang ke rumahnya tadi.

Maafkan aku Siwon-ah. Tapi akan lebih baik jika kau tidak bersama dengan Kangin dulu. Biarkan aku yang membahagiakanmu demi Leeteuk. Batin Heechul lalu menghela nafas panjang dan berjalan kembali menuju teras depan menemui pria yang begitu dibencinya.

Teras Depan

“Biarkan aku lewat! Aku ingin menjemput putraku! Siwon!! SIWON!!”

“Bisakah kau bersikap sopan di rumah orang lain? Kau mengganggu ketenanganku dan mungkin saja ketenangan tetanggaku.” Cibir Heechul membuat Kangin berhenti berteriak. Heechul berdiri dengan angkuhnya sambil menatap Kangin dan memberikan senyum remeh kepada pria bermarga Jung itu.

Kangin sendiri menatap Heechul tak kalah sengit. Dengan sekali sentak, dia membebaskan dirinya dari pegangan penjaga rumah Heechul. Ketika kedua orang penjaga itu hendak memegang lengan Kangin sekali lagi, Heechul memberi isyarat kepada mereka untuk melepaskan Kangin dan kembali ke pos jaga mereka.

Sepeninggalan penjaga-penjaga berbadan besar itu, Heechul berjalan perlahan ke arah Kangin. Dia masih mempertahankan adu tatap dengan Kangin, semakin lama semakin tajam seakan jika tatapan bisa membunuh, keduanya mungkin sudah tidak bernyawa lagi.

“Dimana Siwon?” tanya Kangin tegas dan dingin. Tampaknya Kangin benar-benar sudah sangat marah sampai dia tidak perduli jika Heechul lebih memiliki kuasa daripadanya saat ini. Bagi Kangin, kesabarannya untuk menghadapi tingkah Heechul yang terlalu ikut campur urusan keluarganya sudah habis.

“Ada.” Jawab Heechul singkat, sama sekali tidak gentar dengan aura kemarahan yang dikeluarkan oleh Kangin. Heechul tahu bahwa bagaimana pun marahnya Kangin, dialah yang masih memegang kendali disini.

“Aku ingin bertemu dengannya Heechul.” Ucap Kangin terdengar seperti perintah. Heechul tertawa sinis kala gendang telinganya mendengar perkataan Kangin tadi.

“Kau? Bertemu dengan Siwon? Kangin, Kangin, kau mimpi ya?! Siwon secara sah sudah menjadi tanggung jawabku. Aku berhak menghindarkan dia dari ancaman dan bahaya orang yang mau menyakitinya. Dan kau, Jung Kangin yang terhormat, adalah ancaman terbesar di mataku.”

“Kim Heechul!!” teriak Kangin membahana membuat Heechul sedikit mengerutkan keningnya karena benar-benar terganggu dengan suara keras Kangin. Namun hal itu hanya berlangsung sebentar karena detik berikutnya, Heechul lebih lantang berteriak ke wajah Kangin, menantang ayah kandung dari Siwon tersebut.

“Apa?! Kau mau menantangku?! Silahkan tuan Jung! Silahkan! Aku ingin lihat sampai sejauh mana kau bisa bertindak.” Tantangnya lalu kembali tersenyum remeh ke arah Kangin. Heechul bukan hanya sesumbar ketika menantang Kangin. Dia tahu bahwa sekuat apapun Kangin melawannya, Heechul akan selau satu langkah lebih dulu daripada Kangin. Dan Heechul juga tahu bahwa Kangin menyadari situasinya sekarang.

“Kau…!” geram Kangin tak terima ditantang sedemikian rupa oleh Heechul. Kangin merasa, Heechul benar-benar sudah keterlaluan. Heechul mengerti bahwa Kangin akan membutuhkan semua yang dimilikinya untuk melawan Heechul dan kenyataannya bahwa Kangin masih saja kalah dari Heechul meskidia melakukan hal tersebut. Wanita berhati es itu tahu persis hal tersebut dan dengan sadisnya menggosokan kenyataan kejam itu ke wajah Kangin.

“Siwon mungkin telah memaafkanmu, Kangin bahkan Leeteuk pun sudah memaafkanmu. Tapi dengarkan dengan baik Jung Kangin. Aku, Kim Heechul, tak akan pernah memaafkanmu yang telah membuat sahabatku menderita. Aku. Akan. Menghancurkanmu. Dan itu dimulai dari putra kandungmu sendiri.” Ujar Heechul. Kangin yang mendengarnya dengan jelas, langsung membulatkan kedua matanya.

“Kau… Kau memanfaatkan Siwon… Kau kejam Heechul!”

“Kau boleh mengatakan aku kejam atau memanfaatkan Siwon, tapi aku benar-benar menyayangi anak itu. Dia akan bahagia bersamaku, lebih bahagia karena dia tak perlu melihat bahkan mengingat perselingkuhan appanya dengan wanita jalang itu.”

Plak!!!

Tamparan Kangin yang tepat mengenai pipi Heechul membuat Heechul sedikit terhuyung. Wajar saja, Heechul adalah seorang wanita, tenaganya mungkin tak sebanding dengan tenaga Kangin. Namun wanita keras itu berusaha tidak terlihat lemah. Dengan perlahan dia mengusap pipinya yang merah karena tamparan Kangin lalu menatap kembali kepada Kangin.

“Puas Kangin? Jika kau puas, silahkan tinggalkan kediamanku sebelum aku memanggil polisi dan menuntutmu karena sudah masuk ke rumahku tanpa ijin.” Ucap Heechul dingin. Dia sudah tak perduli lagi dengan pipinya yang nyeri, yang dia perdulikan sekarang adalah Kangin segera pergi dari hadapannya dan jika Tuhan memihaknya, Kangin juga menjauh dari Siwon.

Sedangkan Kangin, pria itu menatap telapak tangannya terkejut. Dia tak menyangka bahwa dia telah menampar pipi Heechul, pipi seorang wanita. Kangin merasa bersalah namun di satu sisi, dia mencari pembenaran atas sikapnya dengan menyalahkan sikap Heechul yang terlalu memprovokasinya dengan mengatakan Sungmin, meski secara tak langsung, adalah wanita jalang.

“Heechul aku…”

“Pergi.” Satu kata itu cukup membuat Kangin mengusap wajahnya kasar dan pergi bergitu saja dari rumah Heechul. Namun keduanya tahu, bahwa kejadian hari ini bukan yang terakhir. Kejadian hari ini adalah awal dari perseturuan antara Heechul dan Kangin dalam memperebutan perwalian atas Siwon.

Seminggu Kemudian – SM Highschool

Seminggu telah berlalu dan sesuai dengan dugaan Heechul, Kangin beberapa kali kembali ke kediamannya. Namun, sama seperti hari pertama, Kangin tidak bisa menemui Siwon. Keinginannya selalu terbentur dinding tinggi bernama Kim Heechul. Oleh sebab itu, satu-satunya kesempatan Kangin hanya pada saat Siwon mulai memasuki sekolah dan Kangin masih bersyukur kepada Tuhan bahwa Heechul memasukkan Siwon ke sekolah yang sama dengan Jaejoong dan juga putranya sendiri, Yunho. Kangin sedikit terkejut karena Heechul menyekolahkan Siwon di sekolah yang terjangkau olehnya. Dia bertanya dalam hati, apa maksud Heechul sebenarnya. Namun untuk saat ini, Kangin tidak perduli. Yang penting baginya, dia bisa bertemu dengan Siwon.

Kangin begitu larut dengan tujuannya sendiri sampai dia melupakan dua orang yang memandangnya pilu. Keduanya menatap Kangin dengan pandangan sedih dan terluka. Sungmin dan Yunho, kedua orang yang memandang Kangin tersebut, merasa sedih karena sejak Kangin begitu memikirkan Siwon, kepala keluarga Jung itu seperti tidak menganggap mereka berdua ada di dekatnya, seperti sekarang ini.

Kangin bahkan tidak menyahut panggilan Sungmin. Kangin benar-benar menutup telinganya karena saat ini, pandangan dan otaknya hanya terpusat kepada dua orang muda mudi yang baru saja keluar dari sebuah mobil mewah. Keduanya terlihat seperti pasangan kekasih jika dilihat dari bagaimana lengan sang gadis yang bergelayut manja di lengan sang pemuda. Nampak sang pemuda sedikit risih dengan pandangan dari siswa-siswi sekolah tersebut ketika mereka melintas tapi apa daya, sang pemuda tak tega jika menolak keinginan sang gadis untuk bermanja-manja dengannya.

Kangin sendiri, sejak dia mengenal kedua sosok tersebut, tanpa ragu pria bermarga Jung itu segera keluar dari mobil, meninggalkan Yunho dan Sungmin yang hanya bisa menghela nafas panjang. Sungmin lalu menatap Yunho dan tersenyum kepada putra semata wayangnya tersebut. Dengan lembut Sungmin mengusap pipi lalu rambut Yunho.

“Kau pergilah Yun. Nanti kau terlambat.”

“Tapi umma…?!”

“Pergilah sayang. Biar umma disini menunggu appamu. Dia hanya menemui hyungmu sebentar.” Sahut Sungmin mencoba membujuk Yunho untuk bergegas memasuki sekolahnya. Sungmin mengerti Yunho ingin di mobil bersamanya, menunggu sampai Kangin kembali. Namun Sungmin ingin Yunho tidak bersamanya agar Sungmin tidak menampakan airmata yang sudah akan keluar sejak sikap Kangin yang seperti tidak menganggapnya lagi.

Mungkin Sungmin terlalu emosional atau paranoia dengan keadaan ini namun Sungmin merasa bahwa Kangin memang berubah. Awalnya, pria itu hanya ingin agar Siwon kembali kepadanya, menjalani hidup bersama dengan pemuda itu sembari mendekatkan Siwon dengan Sungmin dan Yunho. Akan tetapi, semua berubah ketika Heechul masuk dalam drama keluarga ini. Sikap dan tindakan Heechul yang selalu menjegal keinginan Kangin membuat pria besar itu terobsesi akan hak wali asuh Siwon dan melupakan dirinya dan Yunho. Hal itu dan ditambah dengan kecemburuannya terhadap Leeteuk.

Konyol memang jika Sungmin cemburu kepada orang yang sudah pergi untuk selamanya, tetapi wanita mana yang tidak cemburu ketika mendapati suami mereka sering menangis seorang diri ketika mengenang mendiang mantan istrinya. Terlebih lagi sang suami mengucapkan kata cinta berkali-kali, kata menyesal, dan kata seandainya. Sejak itu, Sungmin merasa Kangin menganggap dirinya dan mungkin juga Yunho adalah sebuah kesalahan.

Sungmin menghela nafas sekali lagi dan melambai tangannya kepada Yunho, mengantar kepergian putra tersayangnya itu. Begitu Sungmin yakin Yunho tidak melihat ke arahnya lagi, Sungmin langsung menatap ke arah lain dan meminta supir pribadi keluarga mereka untuk segera mencari tempat parkir di sekolah tersebut.

Sungmin masih menahan bulir airmatanya untuk turun. Sungmin berusaha sekuat tenaga meski satu-dua bulir memaksa keluar. Sungmin segera menghapus mereka sebelum mengalir melewati dagu. Sungmin berpikir dirinya harus kuat. Bukan hanya untuk kewarasannya sendiri tapi juga untuk Yunho. Sungmin tak ingin Yunho sampai mengalami rasa kesepian dan merasa terbuang seperti yang pernah dirasakan oleh Siwon.

Sungmin tiba-tiba tertawa miris seorang diri, membuat bingung supir mereka. Sungmin merasa lucu betapa takdir bisa dengan mudah membalikkan nasib mereka. Sungmin kini bisa merasakan apa yang Leeteuk rasakan ketika Kangin memilih dirinya. Mungkin hukum karma berlaku untuknya sekarang.

Teukkie eonnie, apa ini yang kau rasakan ketika Kangin oppa memilihku? Maafkan aku eonnie. Maafkan keegoisanku dulu dan sekarang. Maafkan aku… Jadi aku mohon… Kembalikan Kangin oppa kepadaku. Jangan kau ambil hatinya seperti sekarang. Aku mohon eonnie… Kembalikan suamiku dan ayah putraku… Batin Sungmin, berharap Tuhan bisa menyampaikan doa dan permohonannya kepada mendiang Leeteuk.

Sementara itu, di lorong sekolah depan pintu tata usaha SM Highschool, tampak Siwon dan Jaejoong sedang mendebatkan sesuatu. Keduanya terlihat serius sampai Kangin yang berdiri tak jauh dari keduanya, masih menyembunyikan dirinya sampai Jaejoong meninggalkan Siwon seorang diri atau paling tidak saat waktunya tepat bagi Kangin untuk menemui Siwon.

“Joongie, kau yakin oppa adalah siswa kelas 3?” pertanyaan Siwon yang tampak ragu-ragu kepada Jaejoong, membuat gadis yang rambutnya dikuncir kuda itu menghela nafas untuk kesekian kalinya pagi itu.

“Ya ampun oppa. Ya betul. Joongie yakin, seratus persen, ah bukan, seribu persen jika oppa adalah siswa kelas 3.” Jawab Joongie yang mulai gerah dengan pertanyaan Siwon yang kerap kali terucap sejak mereka keluar dari rumah sampai saat ini keduanya berada di depan ruang tata usaha SM Highschool.

“Tapi oppa selama ini tak pernah sekolah Joongie. Bukankah sebaiknya oppa mengulang dari kelas 1 dulu.”

“Memangnya oppa tidak malu mengulang kelas 1 lagi. Nanti oppa bisa saja di olok-olok oleh teman sekelas oppa yang pasti usianya di bawah oppa.”

“Kenapa harus malu Joongie? Oppa disini ingin belajar. Oppa tak perduli jika mereka mengejek oppa. Biarkan saja karena kenyataannya oppa harus sekelas dengan mereka meski usia oppa rata-rata lebih tua 2 tahun dari teman sekelas oppa.”

“Memang, tapi aku yang akan sangat kesal jika ada orang yang mengejek oppa. Jadi, beruntung oppa tidak akan mengalami hal itu karena umma. Lagipula, oppa memang berhak masuk ke kelas 3 karena oppa lulus tes.”

“Oppa lulus tes hanya kebetulan saja Joongie.”

Kebetulan bagaimana?! Tes masuk ke sekolah ini adalah tes masuk tersulit! Itu artinya kau pintar oppa. Batin Jaejoong kaget dengan tanggapan Siwon tadi. Namun Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya sambil memutar matanya malas.

“Terserah oppa mau bilang apa. Pokoknya, oppa sekarang di kelas 3. Sekarang aku mau ambil jadwal oppa dulu, jadi oppa tunggu disini. Jangan pergi kemana-mana.” Ingat Jaejoong seperti ibu kepada anaknya yang masih berumur lima tahun. Siwon terkekeh dengan sikap Jaejoong. Siwon mengangguk tapi tak lupa dia mencubit gemas hidung adik perempuannya itu. Siwon betul-betul bersyukur bisa menikmati bagaimana rasanya menjadi seorang kakak.

Jaejoong pun akhirnya masuk ke ruang tata usaha meninggalkan Siwon sendiri. Melihat peluang untuk bertemu dengan Siwon secara langsung, Kangin langsung keluar dari persembunyiannya.

“Siwon-ah.” Panggil Kangin perlahan namun cukup jelas terdengar oleh Siwon. Pemuda tinggi itu menoleh dan wajahnya tersenyumnya berubah menjadi keterkejutan. Siwon tidak mengira bahwa Kangin akan menyusulnya sampai ke sekolah.

Ah! Seharusnya aku tahu appa tidak akan semudah itu menyerah dengan tekanan Chulie umma. Batin Siwon beropini ketika melihat Kangin disini. Siwon sedikit khawatir jikalau ada orang suruhan Heechul yang mungkin dikirim oleh ibu angkatnya itu namun Siwon juga cukup senang bisa bertemu dengan Kangin lagi.

Dirinya sudah benar-benar tak menaruh dendam apapun kepada pria besar itu. Mungkin yang ada sekarang hanya canggung karena Siwon cukup lama tak berhubungan dengan ayahnya sendiri apalagi sebelumnya sikapnya dan sikap mendiang sang ibu sangat tak bersahabat meski semua itu bisa dikatakan wajar.

“Appa.” Balas Siwon. Mendengar Siwon terbiasa memanggilnya appa seperti dulu, Kangin hanya mampu tersenyum bahagia. Dia menatap Siwon dengan penuh kerinduan. Kangin memacu langkahnya dan begitu dia dekat dengan Siwon, Kangin langsung memeluk Siwon dengan erat.

Siwon tersentak dengan pelukan Kangin, tapi pemuda itu dengan cepat mengendalikan dirinya dan memeluk balik tubuh Kangin. Perasaan bahagia yang dirasakan Kangin semakin memuncah ketika dia merasakan lengan Siwon memeluknya.

Keduanya berpelukan sesaat sampai Kangin dan Siwon masing-masing melepaskan pelukan mereka. Tangan Kangin masih betah untuk berada di bahu Siwon dan menepuk pelan bahu tersebut. Sedangkan Siwon hanya memandang Kangin dengan senyum terpatri di wajahnya.

“Bagaimana kabarmu Siwon-ah?” Tanya Kangin langsung.

“Aku baik-baik saja appa. Appa tidak usah cemas, Chulie umma menjagaku dengan baik.” Jawab Siwon lugas.

“Oh.” Mendengar jawaban Siwon tadi, secara tidak langsung menampar Kangin. Siwon seakan mengatakan bahwa Heechul lebih becus menjaganya daripada dirinya sendiri dan walau Kangin enggan mengakuinya, semua itu benar adanya.

Perasaan bersalah kembali menyelimuti hati Kangin. Dia kembali dilema dan berpikir ulang. Apa benar tindakannya dengan terus bersikeras mengambil hak asuh atas Siwon itu benar padahal jelas Heechul lebih mampu menjaga putra sulungnya itu?

Ah! Tidak! Aku juga mampu! Aku ayah kandung Siwon. Aku lebih berhak mengasuh Siwon daripada Heechul. Pikir Kangin dalam hati. Biar bagaimana pun keinginannya untuk bisa kembali bersama putranya yang sudah lama terpisah darinya lebih besar daripada apapun juga.

“Oppa! Ini jadwal oppa! Oppa di kelas 3-B. Aku akan mengant… Eh? Kangin ahjussi? Ahjussi ada disini? Sedang apa?” pertanyaan Jaejoong membuat kedua ayah dan anak itu mengalihkan perhatian mereka dan mengarahkannya kepada Jaejoong. Jaejoong menatap Kangin dengan tatapan bingung.

“Aku…” Kangin kehabisan kata untuk menjawab Jaejoong. Dalam benaknya, pria itu cemas jika Jaejoong akan menghubungi Heechul dan memberitahu wanita besi itu jika Kangin sedang bersama dengan Siwon. Kangin takut keleluasaannya menemui Siwon di sekolah juga akan terbatas karena Heechul pasti akan mengawasi dia lebih ketat.

“Joongie. Sebaiknya kau ke kelas saja. Oppa bisa cari kelasnya sendiri.” Ucap Siwon langsung ketika dia melihat raut kekhawatiran Kangin. Siwon paham jika Kangin sedikit waspada dengan Jaejoong karena gadis itu adalah putri Heechul.

“Tapi oppa…”

“Tidak apa-apa. Joongie pergi lebih dulu saja.” Sela Siwon begitu dia merasa Jaejoong keberatan meninggalkannya sendiri. Jaejoong sendiri sebenarnya tidak ingin meninggapkan Siwon karena takut kakak angkatnya itu akan tersasar di sekolah mereka yang luas ini, akan tetapi melihat Siwon yang terlihat bersikeras ingin ditinggal sendiri, Jaejoong pun mau tak mau menuruti permintaan Siwon.

Gadis itu mengangguk pelan, lalu membungkuk kepada Kangin sebelum meninggalkan Siwon dan Kangin. Kangin menghela nafas lega dengan kepergian Jaejoong. Dia bersyukur sepertinya Jaejoong tidak seperti Heechul yang menentang kebersamaannya dengan Siwon.

“Appa.” Panggil Siwon membuyarkan lamunan Kangin.

“Ya Siwon-ah.”

“Sebaiknya appa pulang sekarang. Aku harus segera masuk kelas.”

“Hhhh… Baiklah. Appa pulang. Tapi apakah appa bisa bertemu denganmu lagi?” tanya Kangin berharap bahwa Siwon akan mengatakan ‘ya’. Senyum manis Siwon menjadi jawaban pertanyaan itu.

“Tentu saja appa. Selama Chulie umma tidak tahu, appa bisa bertemu denganku di sekolah saat sekolah sudah selesai.”

“Benarkah?”

“Benar. Aku dititipi oleh Chulie umma untuk menunggu Jaejoong selesai dengan kegiatan klub memasaknya. Jadi kita bisa bertemu saat itu.”

“Kau benar-benar sudah memaafkan appa nak? Setelah semua tindakan appa kepadamu dan juga umma? Kebaikan apa yang appa perbuat sampai appa memiliki putra sebaik kau?”

“Semua itu masa lalu appa, tidak perlu diingat lagi. Aku berusaha melupakan semuanya dan memulai lagi dari awal. Jadi appa juga harus melakukan hal yang sama.” Begitu perkataan itu terucap, Kangin kembali memikirkan semua tindakannya selama ini.

Memulai hidup baru. Hidup baru yang lebih baik dari sebelumnya. Kangin memandang wajah Siwon yang sekarang lebih cerah, sehat dan semakin tampan dari sebelum dia menemukan Siwon di taman waktu itu. Siwon yang sekarang lebih baik daripada Siwon yang hampir kehilangan nyawanya karena udara dingin.

Tuhan… Apa yang sebaiknya aku lakukan? Kenapa aku selalu saja ragu akan diriku sendiri? Apa memang sebaiknya aku melepas Siwon? Apa seharusnya aku membiarkan Heechul noona yang membesarkan putraku? Batin Kangin lagi. Dia tak mengerti mengapa dia selalu saja plin-plan dengan keputusannya sendiri. Kangin semakin merasa dirinya adalah pria paling bodoh dan kejam karena sikapnya ini, dua hati wanita tersakiti dan sekarang dua putranya juga harus tersakiti. Dua putranya, Siwon dan Yunho.

“Yunho…” lirih Kangin tak sadar dia menyebut nama Yunho.

“Yunho?/Appa.” Suara Siwon dan satu suara lagi terdengar bersamaan. Siwon pun menoleh ke arah sumber suara dan dia melihat seorang pemuda yang seumuran dengan Jaejoong berdiri tidak jauh dari mereka.

“Yun…”

“Appa masih disini? Umma menunggu appa.” Ucap Yunho yang langsung membuat Siwon membelalakan kedua matanya.

Siwon memandang Yunho dengan seksama dan dia mulai mengerti bahwa pemuda di depannya itu adalah putra Kangin atau bisa disebut adiknya dari ibu yang berbeda. Wajah Siwon langsung berubah sendu. Dia jadi ingat kembali penyebab Leeteuk memilih pergi dari Kangin.

Saat mengingat masa-masa itu, bukan kebencian yang dia rasakan kini melainkan kesedihan yang mendalam ketika mengingat betapa menderitanya hidup Leeteuk dan dirinya. Kesedihan dan satu perasaan lagi yang menghinggapi Siwon. Dia merasa bahwa dia akan menjadi orang yang paling bersalah jika sampai Yunho dan ibunya mengalami apa yang dia dan Leeteuk rasakan jika Kangin memilih dirinya saat ini.

Siwon tahu benar seperti apa ayahnya itu. Meski terpisah sekian lama, sifat Kangin yang keras kepala masih sama seperti dulu. Siwon takut jika Kangin yang begitu ingin bersamanya akan mulai menelantarkan Yunho dan ibunya, sama seperti saat Kangin memilih Sungmin dan Yunho lalu meninggalkan dirinya dan Leeteuk.

Siwon memandang wajah Yunho sekali lagi dan rasa bersalah itu semakin menguat. Siwon tersenyum sendu. Ternyata pilihannya benar saat dia memilih Heechul. Kangin mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dari dirinya. Walau Siwon harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk bisa bersama dengan sang ayah, namun Siwon yakin hal itu akan lebih baik daripada Yunho dan Sungmin kehilangan sosok Kangin sebagai kepala keluarga mereka.

Siwon tahu meski kecil kemungkinan dirinya menyandang marga Kangin lagi tetapi akan lebih baik bagi semuanya. Siwon hanya perlu menjalani hidupnya sekarang dan mendoakan Kangin berbahagia dengan Sungmin dan Yunho. Siwon sudah cukup puas jika masih bisa bertemu dengan Kangin dan ayahnya tersebut sudah mengakuinya sebagai bagian dari keluarganya lagi.

Siwon menutup matanya sesaat sebelum memanglingkan wajahnya dari Yunho untuk menatap Kangin.

“Appa. Pulanglah. Keluarga appa menunggu appa.” Ucap Siwon tulus dan dia pun masih memanggil Kangin appa meski dengan keberadaan Yunho di dekat mereka. Namun bagi Kangin, ucapan Siwon itu bagaikan gigitan ular berbisa yang menyakitkan bagi hatinya.

“Siwon…”

“Istri appa menunggu appa. Tidak baik membuatnya menunggu.”

“Tapi…”

“Tidak apa-apa appa.”

“Appa…”

“Namamu Jung Yunho-ssi bukan?! Salam kenal. Namaku Choi Siwon. Senang berkenalan denganmu.” Sapa Siwon dan memperkenalkan dirinya sebagai Choi Siwon dan bukan seorang Jung apalagi mengaku bahwa dirinya adalah kakak Yunho.

Yunho terbelalak mendengar perkenalan Siwon. Yunho tidak mengira Siwon menyandang nama lain selain Jung. Yunho pikir Kangin sudah melakukan semua hal sehingga kakaknya itu menjadi bagian dari keluarga mereka. Yunho mengira Siwon akan segera menjadi putra kesayangan Kangin dan menggeser kedudukannya di hati ayahnya tersebut. Akan tetapi dengan perkenalan ramah Siwon tadi, menghancurkan pikiran Yunho tersebut.

“Sal…salam kenal…”

“Tak perlu kaku begitu. Santai saja. Ah! Lihat, sudah pukul berapa ini?! Lebih baik aku segera mencari kelasku. Kau juga sebaiknya masuk ke kelasmu Yunho-ssi. Appa, aku pergi dulu.”

“Siwon-ah. Appa…” Kangin tak mampu menyelesaikan perkataannya karena Siwon sudah berlari ke arah yang berlawanan dengan berdirinya Yunho. Yunho pun hanya bisa melihat punggung Siwon yang berlari meninggalkan mereka sampai tak terlihat lagi ketika Siwon berbelok.

“Appa…” panggil Yunho perlahan kepada Kangin.

“Yun.”

“Ya appa?”

“Maafkan appa.”

“Huh?”

“Maafkan appa karena appa sudah membuatmu dan ummamu bersedih. Appa memang ayah dan suami yang buruk.”

“Tidak appa. Appa tidak seperti itu.”

“Kau anak baik Yun. Sama seperti kakakmu.”

“Appa.”

“Hm?”

“Kenapa hyung tidak memakai marga appa?”

“Itu karena dia anak yang baik Yun. Hyungmu tidak ingin menyusahkan appa dengan kehadirannya sehingga dia memilih untuk menjadi orang lain. Hyungmu tidak ingin kau merasakan kesepian yang sama sepertinya dulu karena ulah jahat appa. Dia tidak ingin kau menderita karena dia tahu bahwa jika dia mengaku dia seorang Jung maka appa akan mengulang tindakan buruk yang pernah appa lakukan kepada hyungmu dan ummanya kepadamu dan ummamu.”

“Apa…”

“Hyungmu memilih untuk tidak terlibat lagi dengan appa karena di…dia…” Kangin tak mampu meneruskan kalimatnya karena dia sudah terisak, menangisi kebodohannya selama bertahun-tahun. Adalah kesalahannya, Siwon harus memilih jalan itu. Adalah ketidak mampuannya sebagai seorang pria, suami dan ayah sehingga keluarganya menjadi seperti sekarang.

Kangin terus menangis sampai Yunho memeluknya erat dan ikut menangis bersama sang ayah. Melihat Kangin begitu terpuruk dengan keadaan mereka sekarang, membuat YUnho mulai memahami bahwa bukan hanya dirinya dan Sungmin yang menderita saat ini. Semua orang juga mengalami hal yang sama. Terlebih Siwon yang selama ini harus hidup sendiri, berjuang hidup tanpa adanya seseorang baginya untuk bisa bersandar.

Yunho menjadi malu hati karena sudah cemburu kepada Siwon yang beberapa hari ini merebut perhatian Kangin. Seharusnya dia sadar bahwa Siwon sudah selayaknya mendapat perhatian dari Kangin karena selama bertahun-tahun Siwon tak pernah mendapati sosok seorang ayah, tidak seperti dirinya.

Yunho mengeratkan pelukannya ke tubuh Kangin, berharap bisa mengurangi kesedihan hati sang ayah sambil berjanji kepada dirinya bahwa dia akan membantu Kangin agar bisa bersama lagi dengan Siwon. Yunho mengerti bahwa dia tidak akan kehilangan sang appa, dia hanya akan berbagi kasih saying dengan Siwon yang notabene adalah kakaknya sendiri.

Aku janji appa, aku janji hyung akan bersama kita lagi. Aku janji.

Skip Time – Usai Sekolah

Siwon terlihat berbaring di tanah yang tertutup rumput dibawah sebuah pohon besar yang rindang. Pemuda berlesung pipi itu tampak menikmati suasana sejuk sembari menunggu Jaejoong selesai dengan kegiatan klubnya. Siwon yang menutup matanya dan memakai earplug karena mendengarkan musik tidak menyadari kehadiran seseorang didekatnya sampai satu kaleng minuman dingin menyentuh kulit pipinya.

“Dingin!” serunya dan langsung terduduk. Siwon memegangi pipinya dan langsung menoleh ke sumber suara yang tertawa lepas karena responnya tadi. Tawa manis seorang gadis yang sudah merebut hati seorang Choi Siwon.

Siwon sempat terkejut dengan kehadiran Kyuhyun, namun pemuda itu dengan cepat mengendalikan dirinya dan ikut tertawa dengan Kyuhyun. Bahkan Siwon berani mencubit hidung Kyuhyun gemas dan langsung mendapat reaksi Kyuhyun yang mengembungkan pipi bulatnya dan mengerucutkan bibirnya.

“Sakit!” gerutu Kyuhyun sambil memegang hidungnya. Sedangkan Siwon, dia semakin tertawa dan sekali lagi berani mengelus pipi bulat Kyuhyun yang mengembung walau pada akhirnya mencubit pipi itu.

“Ih! Oppa! Sakit!” keluh Kyuhyun berusaha melepaskan tangannya Siwon di pipinya.

“Itu hukuman buat gadis nakal yang berani mengagetkan tuan Choi tampan ini.”

“Ih! Oppa narsis!” cibir Kyuhyun meski gadis itu tersenyum kepada Siwon. Keduanya lalu duduk berdampingan di bawah pohon yang sama. Siwon dan Kyuhyun sama-sama terdiam, meresapi angin semilir yang menyentuh wajah mereka sampai Kyuhyun membuka mulutnya.

“Oppa.”

“Hm.”

“Bagaimana kabar oppa?” tanya Kyuhyun sambil menatap Siwon yang masih menutup matanya. Siwon membuka matanya perlahan lalu memanglingkan wajahnya menghadap ke Kyuhyun.

“Baik.” Jawab Siwon singkat. Tetapi Kyuhyun seakan tahu bahwa ada yang salah dengan jawaban itu. Entah karena apa, Kyuhyun selalu bisa membaca perasaan Siwon. Kyuhyun tahu ada sesuatu yang mengganjal pikiran pemuda yang mulai dia sukai itu.

Ya. Kyuhyun akhirnya mau mengakui bahwa dia menyukai Siwon. Awalnya Kyuhyun mengira bahwa dia hanya bersimpati dengan Siwon, namun selama tidak bertemu dengan Siwon, di pikiran gadis manis itu tak pernah lepas dari wajah tampan Siwon. Kyuhyun sempat bad mood karena pikirannya selalu diganggu bayang-bayang Siwon. Namun pada akhirnya Kyuhyun benar-benar sadar bahwa dia menyukai Siwon saat dia merasa cemburu dengan kedekatan Siwon dan Jaejoong yang dia lihat pagi tadi di gerbang masuk sekolah.

Kyuhyun menyukai Siwon. Gadis itu tak akan menyangkal lagi. Hanya saja, Kyuhyun tak bisa mengungkapkan perasaannya. Bukan karena Jaejoong karena dia tahu Jaejoong hanya memandang Siwon sebatas adik kepada kakaknya. Dia tahu tadi saat Jaejoong dengan antusiasnya menceritakan kegiatannya dengan Siwon selama seminggu belakangan ini. Bukan, bukan karena Jaejoong. Kyuhyun tak bisa mengungkapkan perasaannya karena kakaknya sendiri, Kibum.

Kyuhyun tahu benar bagaimana perasaan sang kakak kepada Siwon. Meski Kyuhyun tak tahu bagaimana perasaan Siwon kepada Kibum, Kyuhyun tak mungkin menyakiti hati Kibum dengan mengutarakan isi hatinya kepada Siwon. Kyuhyun juga tak mungkin mengatakan kepada Kibum atau kepada orang lain bahwa dia menyukai orang yang sama dengan kakaknya.

Kyuhyun hanya bisa menyembunyikan rasa suka ini, berharap suatu saat rasa ini akan pudar dan dia bisa berbahagia untuk Siwon dan Kibum.

“Hei.” Panggilan Siwon membuat Kyuhyun sadar bahwa dia sedang melamun. Kyuhyun memusatkan perhatiannya lagi kepada Siwon yang sekarang tengah memandangnya dengan jarak yang sangat dekat. Sangat dekat sampai jika Kyuhyun maju sedikit saja, bibir mereka berdua bisa menyatu.

“Kau kenapa?” pertanyaan Siwon yang dihiraukan oleh Kyuhyun. Yang Kyuhyun perhatikan sekarang adalah deru nafas Siwon ketika dia berbicara. Kyuhyun merasakan pipinya panas dan dia tahu pasti pipinya sekarang memerah.

Sementara Siwon, pemuda itu terpesona dengan wajah cantik nan manis Kyuhyun. Dengan mata yang membulat lucu karena kaget, pipi putih yang sekarang memerah, dan bibir yang sedikit terbuka, membuat Kyuhyun begitu menggemaskan. Siwon terus memperhatikan Kyuhyun terutama ke arah bibir merah alami itu.

Entah dorongan apa yang membuat Siwon memajukan tubuhnya, namun hal yang terjadi adalah bibir joker Siwon menyentuh lembut bibir penuh Kyuhyun. Hanya menyentuh tanpa adanya nafsu, akan tetapi sentuhan lembut itu cukup membuat jantung Kyuhyun bekerja lebih cepat dari seharusnya. Kyuhyun pun begitu tecengang dengan kejadian tak terduga ini sehingga dia tak mampu bergerak.

Baru ketika Siwon melepas bibirnya dari bibir Kyuhyun, memandangnya lagi kemudian tersenyum, dan kembali mencium bibir Kyuhyun meski kali ini dengan sedikit tekanan, Kyuhyun sadar bahwa pemuda yang disukainya tengah menciumnya.

Otak Kyuhyun membeku sesaat. Logikanya berteriak, Baru tadi dia berpikir untuk tidak mengungkapkan rasa sukanya kepada Siwon demi Kibum, tapi sekarang dia justru melakukan hal yang lebih jelas daripada pengakuan cinta. Kyuhyun terus berteriak dalam hari bahwa dia harus melepaskan diri dari jerat cinta Siwon. Tapia pa daya, logika Kyuhyun akhirnya menyerah kepada hatinya dan membiarkan pangeran berkuda putihnya itu menciumnya. Kyuhyun merapatkan kelopak matanya dan mulai membalas ciuman Siwon.

Ciuman sederhana namun mampu menyampaikan berjuta kata cinta kepada masing-masing pasangannya. Ciuman manis yang membuat keduanya sadar bahwa mereka tak bisa berpaling ke lain hati. Ciuman yang juga mampu menghancurkan hati orang lain seperti hati seorang gadis yang melihat Siwon dan Kyuhyun dari kejauhan.

“Tampaknya aku memang sudah tidak ada di hatimu lagi Siwon oppa.” Gumamnya miris dengan ditemani butiran kristal yang terus terjatuh mengalir di pipinya. Gadis itu pun pergi tanpa banyak bicara lagi, meninggalkan Siwon dan Kyuhyun yang telah melepaskan ciuman mereka dan sekarang menautkan kedua dahi mereka sambil tersenyum. Tidak mengetahui bahwa keduanya sudah membuat seseorang kini harus menelan pil pahit penolakan sebelum dia mengatakan keinginannya.

TBC

Advertisements