Tags

, , , , , , , ,

Waterfall Poster

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Waterfall 8

Pairing/Charas : Wonkyu, Kangmin, Leeteuk, Heechul, Yunjae, Kibum, a bit Kangchul, more to come

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, the poster were made by @SuciiCho

Warning : Un-betaed, GS, OOC, AU, Family, Angst

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

Otak Kyuhyun membeku sesaat. Logikanya berteriak, Baru tadi dia berpikir untuk tidak mengungkapkan rasa sukanya kepada Siwon demi Kibum, tapi sekarang dia justru melakukan hal yang lebih jelas daripada pengakuan cinta. Kyuhyun terus berteriak dalam hari bahwa dia harus melepaskan diri dari jerat cinta Siwon. Tapia pa daya, logika Kyuhyun akhirnya menyerah kepada hatinya dan membiarkan pangeran berkuda putihnya itu menciumnya. Kyuhyun merapatkan kelopak matanya dan mulai membalas ciuman Siwon.

Ciuman sederhana namun mampu menyampaikan berjuta kata cinta kepada masing-masing pasangannya. Ciuman manis yang membuat keduanya sadar bahwa mereka tak bisa berpaling ke lain hati. Ciuman yang juga mampu menghancurkan hati orang lain seperti hati seorang gadis yang melihat Siwon dan Kyuhyun dari kejauhan.

“Tampaknya aku memang sudah tidak ada di hatimu lagi Siwon oppa.” Gumamnya miris dengan ditemani butiran kristal yang terus terjatuh mengalir di pipinya. Gadis itu pun pergi tanpa banyak bicara lagi, meninggalkan Siwon dan Kyuhyun yang telah melepaskan ciuman mereka dan sekarang menautkan kedua dahi mereka sambil tersenyum. Tidak mengetahui bahwa keduanya sudah membuat seseorang kini harus menelan pil pahit penolakan sebelum dia mengatakan keinginannya.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Sebulan Kemudian – Kediaman Keluarga Jung

Rumah megah yang hampir menyerupai istana itu adalah bangunan yang sedang dilihat dengan seksama oleh Siwon saat ini. Pemuda berusia 17 jalan 18 tahun itu menghembuskan nafasnya kasar sembari membetulkan letak tas punggungnya yang disampirkan di bahu kanannya. Siwon lalu menekan intercom rumah tersebut, menunggu jawaban dari dalam rumah.

“Kediaman keluarga Jung.” Sahut satu suara yang tidak dikenal oleh Siwon.

“Um… Pagi. Aku Siwon. Aku…”

“Ah! Tuan muda Siwon. Silahkan tunggu sebentar. Pintu akan saya bukakan.” Sela suara tersebut sebelum Siwon sempat mengatakan apapun. Dia sempat terkejut juga dengan selaan orang tersebut terlebih lagi dengan panggilan tuan muda. Sangat aneh di telinganya karena dia tidak pernah mendengar sebutan itu lagi semenjak dia pergi meninggalkan rumah ini dengan Leeteuk. Namun Siwon berusaha untuk tidak ambil perduli dan menunggu pintu gerbang yang tinggi menjulang itu terbuka.

Tidak sampai lima menit, pintu gerbang terbuka dan menampakan sosok seseorang. Siwon sedikit memincingkan mata sampai dia bisa melihat dengan jelas siapa yang menjemputnya. Siwon merasa sedikit canggung karena Siwon mengenal orang tersebut. Ketika orang itu hanya berjarak beberapa meter darinya, Siwon lantas membungkukan tubuhnya sedikit dan menyapa orang itu.

“Hai. Kau Yunho-ssi bukan?! Maaf aku mengganggu pagi-pagi begini. Um… Itu… Appa… Ah, maksudku tuan Jung mengundangku kemari.” Ucap Siwon sedikit salah tingkah. Siwon tak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan saudara beda ibunya tersebut.

Jika dia masih Siwon yang lama, yang terus berjuang demi kelangsungan hidupnya di jalan seorang diri, mungkin Siwon akan bersikap dingin bahkan cenderung kasar karena biar bagaimana pun Yunho adalah darah daging seseorang yang mungkin secara tidak langsung telah membuat dirinya dan ibunya sengsara selama ini.

Akan tetapi dia bukanlah Siwon seperti itu. Meski sikapnya masih terkadang dingin dan juga sedikit kasar serta memberontak, pengaruh dari tinggal di jalanan selama bertahun-tahun, Siwon mulai kembali seperti saat dia belum meninggalkan Kangin. Siwon mulai terbiasa tersenyum, terbiasa untuk bisa membagi bebannya, dan terbiasa untuk mempercayai orang lain.

Untuk yang terakhir tadi, Siwon akan selalu berterima kasih kepada Kyuhyun, pacarnya. Ya, pacar. Pasca ciuman mereka dan pengakuan cinta masing-masing sebulan yang lalu, Siwon resmi meminta Kyuhyun untuk menjadi pacarnya. Walau Kyuhyun baru menerima cintanya minggu kemarin entah karena alasan apa, namun Siwon bahagia akhirnya dia memiliki seseorang yang mencintai dan dicintai olehnya.

Hal serupa juga dia rasakan kepada Heechul dan Jaejoong. Kedua orang tersebut sekarang sudah menjadi bagian terpenting dari hidupnya. Heechul sudah seperti ibunya, Leeteuk dan Jaejoong, gadis ceroboh, centil dan cerewet itu adalah adiknya. Adik yang tak pernah Siwon miliki.

Jaejoong membuatnya merasakan bagaimana indahnya persaudaraan. Keduanya dan juga Kyuhyun membuat Siwon merasakan bahwa keluarga adalah yang sesuatu yang tak tergantikan.

Keluarga. Siwon kembali memperhatikan Yunho yang belum juga membalasnya. Tampaknya pemuda itu juga bingung harus bersikap seperti apa kepada Siwon. Maklum saja, Yunho baru mengetahui jika dia memiliki kakak baru-baru ini. Kikuk, gugup, dan merasa tak enak hati bisa terlihat dengan jelas dari gelagat Yunho. Siwon pun menyadarinya meski Siwon tidak ingin berasumsi apapun. Walau demikian, melihat tingkah Yunho yang sungguh canggung terhadapnya membuat Siwon ingin tertawa

Siwon merasa takdir betul-betul senang sekali mempermainkan dirinya dan juga keluarga kandungnya. Siwon merasa miris di kala orang asinng lebih bisa mendekatinya dan lebih bisa mengakrabkan diri mereka kepadanya daripada keluarganya sendiri. Lihat saja Jaejoong, gadis itu lebih bisa bersikap terbuka dibandingkan dengan Yunho sekarang. Padahal notabene, Yunho lah yang berbagi darah dengan Siwon. Yunho lah yang seharusnya bisa bersikap layaknya seorang adik.

“Hei.” Panggil Siwon akhirnya jengah dengan sikap Yunho yang terlalu hati-hati dengannya. Siwon ingin segera memutuskan ketegangan dan kecanggungan di antara mereka. Siwon berharap Yunho bisa langsung bereaksi atas panggilannya tapi harapan Siwon tinggalah harapan saat Yunho tetap setia pada kebisuannya.

“Hei!” ulang Siwon sekali lagi, lebih keras dari sebelumnya. Namun hasilnya sama saja. Yunho tetap terpaku sampai Siwon menduga bahwa jangan-jangan Yunho tidak menyukai kehadirannya dan sekarang sedang memikirkan bagaimana caranya agar dirinya tak berdekatan lagi dengan Kangin. Siwon menduga jika Yunho sengaja bersikap seakan-akan Siwon orang asing agar dirinya tak betah dan pergi.

Lalu, apakah benar itu yang dipikirkan oleh Yunho? Pemuda itu ternyata hanya bingung untuk merangkai kata-kata dan berbicara dengan kakak yang sudah terpisah lama dengannya itu. Yunho mengakui bahwa dirinya sangat senang karena akhirnya dia memiliki saudara meski berbeda ibu, tetapi Yunho juga tidak menutupi ketakutannya akan kehilangan kasih sayang sang ayah dikarenakan kehadiran Siwon di tengah keluarga mereka. Yunho takut berkata yang mungkin saja terkesan dia tidak senang dengan kehadiran Siwon sekaligus dia juga tidak ingin terdengar palsu saat dia mengungkapkan bahwa dia senang akhirnya bisa bertemu dengan Siwon.

Dilema. Yunho dilema karena selain hal tersebut, Yunho masih berpikir apakah keputusan sang appa untuk mengakrabkan Siwon dengan Yunho dan Sungmin adalah yang keputusan yang terbaik. Dia masih ragu apakah benar dengan membuat Siwon kembali ke keluarga Jung maka semua masalah akan selesai? Bagaimana dengan ibunya nanti? Apakah Siwon bisa menerima Sungmin yang Yunho tahu sangat dibenci oleh Siwon? Dan apakah Siwon sendiri menerima dirinya sebagai adik? Apakah mereka benar-benar bisa menjadi keluarga yang utuh seperti yang diharapkan oleh Kangin?

Begitu banyak pertanyaan di benak pemuda berusia 15 tahun itu tapi Yunho belum menemukan jawabannya. Yunho merasa pusing karena harus berhadapan dengan masalah pelik ini di saat dia merasa belum cukup pengalaman untuk memikirkan solusi dari masalah seberat ini.

Entahlah. Hanya satu yang dia tahu sekarang bahwa Yunho mau tidak mau harus mendukung keputusan sang appa. Bukan karena tidak ingin melihat lagi betapa dinginnya sang appa tetapi juga karena Yunho telah berjanji akan mencoba menyatukan keluarga mereka lagi.

“Hei! Kau kenapa sih?! Mau sampai kapan aku dibiarkan berdiri disini terus?!” teriakan kekesalan Siwon membuat Yunho tersadar dari lamunannya. Dia sedikit gelagapan menanggapi Siwon.

“A…aa… Apa?”

“Aish! Aku tanya mau sampai kapan kau membiarkan aku berdiri disini?! Atau mungkin kau sebenarnya ingin mengusirku?!” tuduh Siwon sengit. Siwon benar-benar merasa kesal dengan sikap pasif Yunho.

Siwon menganggap Yunho sungguh-sungguh tidak menginginkan keberadaannya di rumah Kangin. Amarahnya timbul begitu saja karena sikap Yunho mengingatkan dia akan penolakan-penolakan yang selalu dia terima saat dia hidup di jalanan.

“Bbb… Bukan… Bukan beg…”

“Aku pulang.” Potong Siwon tak memberikan Yunho kesempatan sama sekali untuk menjelaskan sikapnya. Siwon segera berbalik dan melenggang pergi begitu saja membuat Yunho panik. Yunho tidak mau menimbulkan kesalah pahaman antara dirinya dan Siwon.

“Ttt… Tunggu… Hyung!” seruan Yunho hanya masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan Siwon. Pemuda keras itu tetap berjalan menjauhi rumah megah milik Kangin, meninggalkan Yunho yang bingung harus bagaimana. Kepanikan Yunho bertambah ketika dia mendengar suara Kangin dari belakang yang menanyakan keberadaan Siwon.

“Yunho-ah. Dimana kakakmu? Kenapa kalian tidak segera masuk ke dalam rumah?” tanya Kangin begitu dia sampai di samping Yunho. Yunho langsung kaku mendengar pertanyaan Kangin. Yunho tak tahu harus menjawab apa sehingga dia hanya bisa berdiri terpaku sambil menundukkan kepalanya.

“Yun?” tanya Kangin lagi sampai pria itu melihat Yunho mengarahkan jari telunjuknya ke arah perginya Siwon tanpa mengangkat kepalanya. Kangin mengikuti arah jari Yunho dan matanya menangkap siluet Siwon yang berjalan menjauhi rumahnya.

Sontak saja Kangin langsung membulatkan matanya terkejut dan tak percaya, menatap Yunho lekat.

“Apa kau mengusir kakakmu?” pertanyaan penuh tekanan itu membuat Yunho menengadahkan kepalanya dan pemuda itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Tidak appa! Tidak! Aku tidak mengusir hyung!” bantah Yunho keras.

“Lalu kenapa kakakmu pergi begitu saja tanpa masuk ke dalam rumah?!”

“Itu… Ak…aku…” Kangin menghela nafas panjang mendengar Yunho yang tak bisa langsung menjawab. Dia menggelengkan kepalanya perlahan sebelum pergi meninggalkan Yunho, bermaksud mengejar Siwon. Namun sebelum dia pergi, Kangin mengatakan sesuatu yang membuat Yunho ingin menangis meski tak dilakukan oleh pemuda tersebut. Kangin mengatakan,

“Appa pikir kau akan membantu appa Yun. Appa pikir kau mau menerima kakakmu, tapi ternyata appa salah. Tampaknya memang tidak ada yang mau menerima Siwon di keluarga ini.”

“Appa, bukan begitu. Aku hanya…”

“Sudahlah. Kau masuklah. Katakan pada umma, appa menemui kakakmu.” Potong Kangin lagi dan segera berlari mengejar Siwon. Sedangkan Yunho, pemuda itu sekuat tenaga menahan laju airmatanya. Sumpah demi Tuhan, Yunho tidak memiliki niat ingin mengusir Siwon. Yunho tidak mengerti mengapa susah sekali menjelaskan itu kepada Kangin dan juga Siwon.

Yunho menunduk, memandangi sepatunya. Mengapa dia tak bisa berkata apapun tadi? Jika dia bisa bersikap normal kepada Siwon, pasti semua kesalah pahaman ini tidak akan terjadi. Mengapa otaknya terlalu keras berpikir sehingga membuat dirinya lupa akan situasi? Mengapa susah sekali untuk bisa mengatakan ‘Hai, hyung. Aku Yunho. Senang berkenalan dengan hyung.’? Kenapa sikapnya justru seperti seorang pem-bully yang tak senang dengan kehadiran orang baru? Kenapa?

Sementara itu Siwon yang sudah sampai di halte bus terdekat tampak berdiri terpaku, memikirkan kejadian tadi. Siwon merasa bahwa tadi sepertinya dia sedikit emosional dengan Yunho. Seharusnya Siwon tak bersikap kasar kepada Yunho hanya karena Yunho terlihat tak menanggapinya.

“Hhh… Aku kekanak-kanakan sekali.” Aku Siwon pada akhirnya. Siwon menoleh ke belakang dan hendak kembali lagi, namun niat itu langsung dia singkirkan mengingat pasti sekarang Yunho sedang kesal dengannya dan tak mau menemuinya. Siwon mengacak rambutnya kasar karena telah berbuat bodoh dan merasa kesal pada diri sendiri.

“Aish!! Susah sekali sih hanya untuk memiliki keluarga utuh!!”

“Siwon-ah!!” teriakan lantang dari seseorang membuat Siwon mencari suara tersebut. Iris hitamnya melihat Kangin sedang berlari ke arahnya.

“Appa?” gumam Siwon pada dirinya sendiri. Siwon heran mengapa sang appa bisa berada disini.

“Hosh… hosh… Siwon-ah…”

“Appa. Sedang apa appa disini?” tanya Siwon.

“Hhh… hhh… tentu saja mengejarmu.” Jawab Kangin setelah menetralkan nafasnya. Kangin tersenyum begitu memandang wajah Siwon. Kangin lega bahwa sikap Siwon kepadanya sudah benar-benar melunak. Siwon tak lagi berubah sikap dan memandangnya sinis dan penuh kebencian. Ternyata tinggal bersama dengan Heechul memang adalah pilihan terbaik meski Kangin masih tak rela terpisah dengan Siwon. Namun dengan situasi sekarang ini, sepertinya memang jalan yang terbaik bagi Siwon dan Kangin agar tidak terlalu bertemu agar Siwon bisa sedikit demi sedikit bisa menerima dirinya kembali.

“Siwon-ah, kenapa kau pergi begitu saja nak. Padahal kau janji akan berkunjung ke rumah appa.”

“Ah, itu. Aku…”

“Jika ini karena Yunho, appa mohon maafkan dia. Yunho masih labil Siwon-ah. Dia masih butuh waktu untuk bisa menerima dirimu sebagai kakaknya.” Meski appa tak yakin akan hal itu Siwon-ah. Lanjut Kangin dalam hati.

“Ah… Sebenarnya aku juga yang salah. Aku terlalu emosi tadi. Sikap Yunho tadi wajar karena baginya aku memang orang asing. Aku seharusnya tahu diri dan tidak seenaknya datang ke rumah appa. Seharusnya kita memang bertemu di luar rumah appa saja. Pasti istri dan anak appa tidak nyaman dengan kehadiranku.”

“Appa mohon jangan berkata demikian Siwon-ah. Appa akan berusaha agar mereka bisa menerimamu. Kau anak appa itu berarti kau bagian dari keluarga appa.”

“Hal seperti itu tidak bisa dipaksakan appa.”

“Siwon-ah…”

“Sudahlah appa, tidak usah dibahas lagi. Ah! Bagaimana kalau seharian ini kita jalan-jalan? Hanya appa dan aku.” tawar Siwon berusaha mengalihkan perhatian Kangin dari masalah keluarga mereka. Siwon tak ingin hanya karena dirinya, Kangin terlihat menyedihkan dengan perasaan bersalah.

Melihat wajah muram Kangin membuat Siwon akhirnya mengerti maksud Leeteuk pergi meninggalkan Kangin. Pasti rasa cinta yang dimiliki sang bunda begitu besar sehingga Leeteuk tidak mau melihat Kangin bersedih hanya karena dirinya. Bagi Leeteuk, lebih baik dia yang menderita daripada orang yang dia cintai.

Lalu bagaimana dengan Kangin? Tawaran pertama kali dari Siwon tadi tentu saja langsung disetujui olehnya. Kangin lalu meminta Siwon untuk menunggunya di halte bus tersebut sementara dia mengambil mobil untuk membawa mereka kemana saja yang mereka mau.

Kangin berlari lagi menuju rumahnya. Begitu sampai, Kangin langsung masuk ke dalam rumah, mengambil dompet, jaket dan kunci mobil kemudian berlari menuju pintu depan rumah. Namun baru saja Kangin hendak membuka pintu itu, suara Sungmin menghentikannya.

“Yeobo. Kau mau kemana? Bukankah kau akan seharian di rumah dengan Siwon?” tanya Sungmin. Kangin memanglingkan wajahnya ke arah Sungmin dan mengulas senyum kecil.

“Ada sedikit perubahan rencana sayang.” Jawab Kangin singkat.

“Perubahan rencana? Oh, Siwon tidak jadi datang?” tanya Sungmin. Tidak ada maksud apapun dari pertanyaan itu, namun bagi Kangin pertanyaan itu memiliki arti yang berbeda. Wajah Kangin langsung berubah menjadi datar bahkan terkesan dingin.

“Kau senang jika putraku tidak jadi datang ke rumah ini?” cibir Kangin yang langsung membuat Sungmin membulatkan matanya kaget. Dia menangkap maksud sang suami dengan pertanyaannya itu.

“Yeobo! Bukan begitu, aku hanya bertanya jika Siw…”

“Sudahlah Sungmin. Kau tidak perlu berkata apapun. Keinginanmu sudah terkabul. Siwon memang tidak jadi datang. Aku yang akan pergi dengannya. Mungkin aku akan pulang larut malam. Tidak usah menungguku.” Dengan itu Kangin meneruskan langkahnya dan keluar dari rumah, meninggalkan Sungmin yang masih terkejut dengan sikap Kangin.

Mata Sungmin berkaca-kaca menahan kepedihannya. Sungmin tak mengerti mengapa Kangin sekarang selalu berprasangka buruk kepadanya. Memang, Kangin tidak lagi bersikap acuh tak acuh kepadanya dan Yunho, Kangin tidak lagi bersikap kasar kepada mereka jika sedang marah karena persoalan Siwon, namun sekarang sikap Kangin begitu sensitif. Kerap kali Kangin memandang dirinya dan Yunho dengan tatapan kecewa, membuat Sungmin dan Yunho menjadi orang yang paling jahat di dunia.

Sungmin terduduk di tempatnya berdiri sekarang. Ibu satu anak itu menyembunyikan wajahnya di kedua pahanya, menutupi airmatanya yang selalu jatuh karena masalah dalam rumah tangganya. Sungmin hanya mampu berdoa bahwa semua ini akan segera berakhir dan dia bisa mendapatkan suaminya kembali seperti dulu.

N Department Store

“Umma! Lihat! Kemeja-kemeja ini bagus untuk oppa!” jerit Jaejoong antusias ketika iris matanya melihat beberapa model kemeja pria yang menurutnya akan terlihat sangat keren di tubuh oppa barunya tersebut a.k.a. Siwon.

“Ya ampun Joongie, umma pikir belanjanya sudah cukup. Baju-baju pilihanmu sudah terlalu banyak untuk Siwon. Umma juga sudah memilihkan beberapa baju dan jika ditambah dengan pilihanmu, umma sepertinya harus membeli lemari pakaian yang lebih besar untuk oppamu.” Keluh Heechul kepada anak perempuannya tersebut.

Heechul menghembuskan nafasnya kasar melihat nafsu belanja Jaejoong yang benar-benar fantastis itu. Heechul mengakui dirinya juga gila belanja, tapi tampaknya kegilaannya akan shopping itu lebih parah dialami oleh Jaejoong. Heechul sudah tidak sanggup lagi jika Jaejoong masih akan berbelanja lebih dari ini.

Mereka berdua sudah mengelilingi mall terbesar di lingkungan mereka lebih dari lima jam dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Heechul sudah merasa kelaparan karena mereka belum makan sejak mereka menginjakan kaki di mall tersebut.

“Ih, umma bagaimana sih?! Apanya yang banyak?! Ck… Ini masih belum seberapa. Oppa masih butuh t-shirt, celana bahan, topi, jaket, jeans, syal, tas, kaos dalam, boxe…mpht…”

“Aish! Kenapa kau segamblang itu bicaranya, dasar gadis nakal. Apa kau tidak malu mengucapkan hal seperti itu disini?!” tegur Heechul sambil membekap mulut Jaejoong.

“Memangnya aku bicara apa sih?” Tanya Jaejoong polos setelah berhasil lepas dari bekapan sang bunda. Mendengar pertanyaan Jaejoong tadi, Heechul ingin menepuk dahinya namun diurungkan olah ibu tunggal itu. Sekarang yang terpenting adalah membujuk Jaejoong untuk segera pulang setelah mengisi perut mereka terlebih dahulu.

“Bukan apa-apa Joongie sayang. Umma salah bicara. Kita cari makan dulu ya. Setelah itu kita pulang. Kau bisa melanjutkan belanja keperluan Siwon dengannya nanti.”

“Umma lapar? Ya sudah kita cari tempat makan dulu.” Ucap Jaejoong menarik tangan Heechul ke kasir. Selesai membayar semua belanjaannya, Jaejoong dan Heechul bergegas menuju sebuah restoran Jepang yang tak jauh dari toko tadi.

Keduanya memasuki restoran Jepang tersebut lalu memilih tempat duduk yang nyaman bagi keduanya. Heechul dan Jaejoong terlihat berbincang-bincang seru sampai mata bulat Jaejoong menangkap sosok Siwon dengan Kangin, memasuki restoran yang sama dengannya. Tanpa basa-basi, Jaejoong mengangkat tangannya tinggi dan berteriak,

“Siwon oppa! Kangin ahjussi!” mendengar teriakan putri kesayangannya itu, Heechul segera mendongak dari buku menu dan menoleh ke arah pandangan Jaejoong. Disana dia juga melihat Kangin dan Siwon yang tampak terkejut karena kebetulan bertemu dengan Jaejoong dan Heechul di restoran tersebut. Keduanya lalu menghampiri Jaejoong dan Heechul meski Kangin terlihat enggan untuk bergabung namun tidak memiliki banyak pilihan karena dipaksa oleh Siwon.

“Chulie umma, Joongie.” Sapa Siwon senang melihat keduanya. Jaejoong dan Heechul pun senang melihat Siwon, terutama Jaejoong. Gadis cantik itu langsung berdiri dan menarik tangan Siwon keluar dari restoran secara mendadak.

“Joongie! Mau kau bawa kemana Siwon?!”

“Ke toko tadi umma. Hanya sebentar saja, nanti kami kembali. Umma disini saja sama Kangin ahjussi. Ayo oppa.”

“Yah! Jae-jae! Jangan tarik-tarik tangan oppa seperti ini! YAH!!” teriakan demi teriakan Siwon terdengar sampai akhirnya menghilang setelah keduanya meninggalkan restoran tersebut.

Heechul menggelengkan kepalanya, menyerah dengan sikap kekanakan Jaejoong. Namun Heechul juga tersenyum lega karena Siwon dan Jaejoong sangat akrab bagaikan saudara kandung.

“Noona.” Heechul mengalihkan pandangannya ke arah pria yang duduk di hadapannya. Raut muka datar dan tak terlalu perduli dengan kehadiran Kangin itu menghiasi wajah cantik Heechul.

“Apa?!” tukas Heechul acuh tak acuh.

“Terima kasih.” Mendengar dua kata itu keluar dari mulut Kangin terlebih lagi ditujukan kepadanya, membuat dahi Heechul berkerut.

“Untuk?”

“Menjaga Siwon dan membuatnya bisa menerimaku kembali.” Jawab Kangin. Heechul mendengus mendengar perkataan Kangin tadi.

“Bukan aku yang membuatnya seperti itu Kangin. Putramu itu memang anak yang baik. Sayang ayahnya seorang yang brengsek sepertimu.”

“Noona masih marah kepadaku?” tanya Kangin dengan senyum memilukan. Kangin sampai saat ini masih merasa bersalah kepada Heechul karena semua hal yang menimpa Leeteuk. Kangin tahu bahwa di saat Leeteuk pergi meninggalkan mereka untuk selamanya, Heechul lah yang paling terpukul disamping Siwon tentunya.

Persahabatan mereka begitu kuat dan kematian Leeteuk yang dianggap Heechul menjadi kesalahan Kangin, tentu membuat wanita kuat itu membencinya. Hanya saja, Kangin tak bisa balik membenci Heechul. Meski mereka berdua sempat bersitegang, namun Kangin ingin sekali mendapatkan maaf dari Heechul.

Heechul sendiri memilih diam dan tak menjawab pertanyaan Kangin. Karena jujur, Heechul pun tak tahu apakah dia masih marah dan membenci Kangin setelah hubungannya dengan Siwon membaik. Heechul bisa merasakan ketulusan Kangin dan kasih sayangnya yang besar kepada Siwon. Heechul tahu Kangin berusaha menebus semua kesalahannya dan ketika Siwon memaafkan Kangin, Heechul hanya bisa menerima meski masih sulit untuk melupakan total semua perbuatan Kangin. Oleh karena itu, ketika pertanyaan itu terlontar dari Kangin, Heechul lebih bungkam. Heechul tidak memberikan reaksi berarti kepada Kangin. Dia lebih memilih memanggil pelayan dan memesan makanan untuknya, Jaejoong, Siwon dan…

“Kau mau makan apa?” dan untuk Kangin. Kangin terlihat terkejut dengan sikap Heechul yang meski masih datar dan dingin seperti es, terlebih lagi wanita itu baru saja memakinya dengan kata brengsek, namun ternyata Heechul masih memberikan perhatiannya kepada Kangin.

Kangin tersenyum lega sebelum memberitahu makanan yang diinginkannya kepada Heechul lalu diulang kembali oleh Heechul kepada pelayan tadi. Selesai memesan, tercipta kesunyian di antara keduanya. Meski tidak ada satu kata terucap dari bibir keduanya, tapi aura di sekitar Kangin dan Heechul mulai mencair dan tidak setegang dulu. Heechul bahkan mulai tersenyum ketika matanya melihat Jaejoong dan Siwon dari kejauhan sedang berdebat akan sesuatu.

Senyum indah Heechul membuat Kangin merasakan sesuatu yang lain. Dulu saat masih ada Leeteuk, Kangin tidak terlalu memperhatikan Heechul. Mereka saling mengenal hanya saja tidak sedekat Leeteuk terhadap Heechul. Mereka juga bertemu sekedarnya saja. Terlebih lagi sejak masalah pelik membelit dirinya, Leeteuk dan Siwon dulu, Kangin sama sekali tak pernah memandang Heechul dengan seksama.

Sekarang, Kangin baru sadar jika Heechul begitu mempesona. Kulitnya yang putih mulus bercahaya, bibirnya yang seksi, matanya yang indah dengan bulu mata yang lentik, dan garis wajahnya yang begitu tegas namun menawan. Kangin kini mengerti mengapa Jaejoong bisa secantik itu. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya bukan.

“Mengapa kau melihatku seperti itu Kangin?” tegur Heechul membuat Kangin kelabakan dan malu karena ketahuan memperhatikan Heechul. Pria berusia 40 tahunan itu tidak mampu merangkai kata dan hanya bisa mengusap tenguknya sambil memberikan senyum tak jelasnya.

Heechul sendiri geli dengan tingkah Kangin yang mirip tingkah anak remaja dimabuk asmara, kikuk ketika sedang bersama pacar pertamanya. Heechul tertawa renyah sambil menggelengkan kepalanya. Sikap dan tawa Heechul kembali membuat Kangin terpesona dengan keindahan maha karya Tuhan di hadapannya ini.

Kangin tahu perasaan apa ini dan demi Tuhan, seharusnya dia tak merasakan rasa ini kepada Heechul. Dia sudah memiliki seorang istri dan dua orang putra. Istri yang dia cintai sampai harus mengkhianati Leeteuk. Istri yang juga sekarang terasa jauh karena pertikaian mereka mengenai Siwon.

Kangin terhenyak. Apakah perasaan ini timbul karena Kangin begitu berterima kasih kepada Heechul yang telah merawat Siwon atau memang ini perasaan yang timbul dengan sendirinya? Entahlah. Kangin tidak tahu apa jawabannya sekarang. Yang dia tahu, saat ini Kangin hanya ingin merasa kembali bahagia meski hanya dengan momen singkat dengan orang lain selain istrinya, selain dengan Sungmin.

Kangin ikut tertawa bersama dengan Heechul dan keduanya tiba-tiba saja seakan melupakan semua masalah dan pertengkaran mereka. Keduanya terlihat akrab meski masih ada jarak di antara keduanya. Namun semua orang yang lalu lalang, pasti akan beranggapan bahwa keduanya memiliki suatu hubungan. Keduanya pun terlalu larut dengan suasana baru di sekeliling mereka sampai tidak menyadari pandangan nanar dan terluka dari sepasang mata indah yang saat ini dipenuhi dengan bulir-bulir kristal yang siap jatuh kapan saja.

Di tempat lain, tepatnya di seberang dari restoran Jepang tersebut, tampak Jaejoong dan Siwon masih beradu mulut karena kekeras kepalaan masing-masing.

“Sudah oppa bilang Joongie, stop belanjanya. Lemari oppa sudah penuh dengan pakaian darimu dan juga Chulie umma.”

“Masa segitu banyak sih oppa?! Lemari oppa masih satu bukan?! Joongie saja punya dua lemari.”

“Oppa itu laki-laki Joongie. Cukup t-shirt dan celana jeans saja bagi oppa cukup.”

“Ih, oppa! Modis sedikit tidak akan membunuh oppa bukan?!”

“Pokoknya oppa menolak dibelikan baju lagi. Titik.”

“Oke, oke. Joongie mengalah.”

“Begitu baru adik oppa yang paling cantik.” Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal hanya selama beberapa detik sebelum senyum lebar menghiasi wajah cantiknya. Siwon pun ikut tersenyum lalu menggandeng tangan Jaejoong, bermaksud kembali ke restoran. Hanya saja, Siwon dan Jaejoong melihat dua orang yang mereka kenal dan tentu saja, Joongie harus menyapa mereka.

“Eh?! Kibum eonnie! Kyu-kyu!” Dua gadis bersaudara itu kompak menoleh ke arah suara yang memanggil mereka. Kibum, tersenyum ketika matanya mendapati Jaejoong dan lebih melebar lagi ketika dia melihat ada Siwon di dekat Jaejoong. Sementara Kyuhyun, dia tampak gelisah karena bertemu dengan Siwon dan Jaejoong di mall ini. Kyuhyun wajar jika merasa gundah karena dia belum memberitahu Kibum jika dia sedang menjalin hubungan dengan Siwon.

Kyuhyun sengaja menunda memberitahu Kibum karena takut kakaknya akan marah kepadanya karena dianggap merebut Siwon. Itu pula alasan Kyuhyun mengapa dia baru mau menerima Siwon minggu kemarin. Kyuhyun akhirnya menyerah kepada hatinya dan memilih Siwon. Hanya saja, masalahnya bagaimana cara memberitahu Kibum tanpa terlalu melukainya?

“Joongie. Siwonnie.” Sapa Kibum lembut. Jaejoong melepas genggaman tangan Siwon untuk memeluk Kibum sesaat sementara Siwon hanya menundukkan kepala sedikit.

“Kalian habis belanja?” tanya Kibum.

“Ya eonnie. Habis membeli beberapa pakaian untuk Siwon oppa. Eonnie sendiri?”

“Sama denganmu Joongie. Eonnie sedang mencari gaun untuk Kyunnie.” Ujar Kibum sambil menunjukkan kantong belanjaannya dengan Kyuhyun.

“Gaun? Kau pasti akan terlihat sangat cantik baby.” Timpal Siwon tiba-tiba yang langsung membuat Kibum membulatkan matanya. Bukan pujian Siwon yang membuat Kibum terkejut, melainkan panggilan sayang yang ditujukan Siwon kepada Kyuhyun.

“Kyunnie…” Kyuhyun terlihat pasrah sekarang. Mau tidak mau, semuanya akan terungkap juga. Kyuhyun menatap Kibum dengan tatapan menyesal dan bermaksud menjelaskan semuanya kepada Kibum.

Akan tetapi Kibum lebih cepat dari Kyuhyun. Dia sudah mengerti arti tatapan Kyuhyun ditambah dengan panggilan sayang tadi. Sekarang semua jelas bagi Kibum. Siwon memang sudah tidak bisa dia gapai lagi. Kibum sudah benar-benar kehilangan Siwon.

Kibum berusaha bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Namun rasa sakit di hatinya membuat Kibum tak sanggup menahan airmatanya. Kibum segera berlari meninggalkan Siwon, Jaejoong dan Kyuhyun. Kyuhyun panik melihat kakaknya lari sambil menangis. Kyuhyun bermaksud mengejar Kibum, namun lengannya di cekal oleh Siwon.

“Oppa lepas! Aku harus mengejar eonnie.”

“Lalu kau mau bilang apa?! Yang ada setiap penjelasan darimu terdengar seperti omong kosong baginya. Biarkan kakakmu sendiri dulu sayang. Nanti kita bersama akan menjelaskan kepadanya. Oke?!” ucap Siwon lembut sembari menangkup wajah Kyuhyun di kedua telapak tangannya yang lebar. Ibu jari Siwon membelai pipi putih Kyuhyun yang saat ini basah karena airmata.

Siwon lalu menarik tubuh Kyuhyun dan mendekapnya. Tangan Siwon mengusap lembut rambut Kyuhyun berusaha menenangkan Kyuhyun yang kini lepas menangis. Siwon tidak memperdulikan airmata Kyuhyun membasahi kemejanya terlebih lagi dengan pandangan heran pengunjung mall itu karena yang terpenting baginya adalah menenangkan kekasihnya.

Siwon tidak mengira bahwa akan ada peristiwa mendadak seperti ini. Tetapi, apa yang sudah terjadi tidak bisa diulang kembali. Justru lebih baik jika Kibum tahu dalam waktu dekat sehingga mereka berdua, Kyuhyun dan Siwon, tidak perlu menyembunyikan hubungan mereka dari Kibum.

Siwon hanya ingin hubungannya dengan Kyuhyun tidak akan membuat gadis itu menderita terlalu dalam karena perasaan sang kakak kepadanya, walau sedikit mustahil. Pasti hubungan ini akan membuat luka di hati Kibum.

Siwon tahu tentang perasaan Kibum. Dia bukan orang bodoh maupun buta. Siwon pun tahu semua perhatian yang diberikan gadis itu karena dia menaruh hati kepada Siwon dan berharap hubungan keduanya akan terjalin lagi seperti saat mereka masih kecil dulu. Ya, Siwon sudah mengingat bahwa dulu dia sempat berjanji akan menjadi pendamping Kibum. Dan jika Siwon tidak pergi dari rumah Kangin waktu itu, mungkin janji itu akan terlaksana. Hanya saja, hati Siwon terjerat pesona seorang Kyuhyun yang tidak lain adalah adik Kibum sendiri. Hati Siwon sudah berlabuh kepada Kyuhyun dan tidak ada yang bisa merubah itu.

Siwon mengecup pucuk kepala Kyuhyun dan mengeratkan pelukannya. Siwon akan mempertahankan hubungan ini apapun yang akan terjadi nanti. Siwon berharap bahwa Kibum akan mengerti dan menerima kenyataan ini.

“Semua akan baik-baik saja baby Kyu. Semua akan baik-baik saja.” Ucap Siwon lagi. Siwon begitu larut dengan usahanya menenangkan Kyuhyun, sampai dia lupa satu orang yang sedang kebingungan dengan semua kejadian tadi. Siwon barusadar karena Jaejoong mengguncang sedikit lengan Siwon dan berkata,

“Oppa, jangan nakal sama Kyu-kyu dan Kibum eonnie! Mereka jadi menangis karena oppa tuh.”

TBC

Advertisements