Tags

, , ,

Title : Worth Fighting For – Sequel Endeavor

Pairing/Charas : Wonkyu, Joonmyeon

Genre : Family, Romance, Angst, Drama

Disclaimer : All casts are belong to their self, their respective agency and God

Warning : Un-betaed, Angst, GS, AU, OOC, Several OC, Sad, Change of Surname, Broken!Wonkyu (perhaps)

( 。・_・。)(。・_・。 )

“Perkenalkan, nama saya Choi Kyuhyun, umma Joonmyeon.”

.

.

.

Umma. Mother. Okasan. Bunda. Mama.

Satu kata itu. Satu kata yang selalu aku rindukan sejak aku dilahirkan. Satu kata yang mewakili sosok seseorang yang menjadi tempatku untuk berteduh dari hujan, tempatku mengadu semua keluh kesahku, tempatku untuk merasakan kasih sayang selain dari appa.

Satu kata yang baru saja terucap dengan mudahnya oleh seseorang yang telah meninggalkan 17 tahun silam.

Satu kata yang begitu gampang diutarakan oleh dia. Dia yang dulu ingin membunuhku, bahkan sebelum aku bisa merasakan ruh yang ditiupkan oleh Tuhan.

Dia.

Dia.

Cho Kyuhyun.

Dia mungkin bisa mengganti marganya sesuka hati, tapi bagiku, dia hanyalah wanita asing. Wanita asing bernama Cho Kyuhyun. Wanita yang seharusnya menghentikan permainan gilanya. Wanita yang seharusnya melepaskan tangannya dari bahuku, berhenti memelukku, berhenti membuatku merasa kalau aku memiliki seorang umma, berhenti membuatku berharap.

“Nyonya…” lirihku berusaha membuatnya menyadari bahwa aku masih disini. Bahwa bagaimana pun nyamannya pelukannya, bagaimana pun hangatnya tangan yang membelai rambutku, aku masih belum bisa menerima kehadirannya.

Belum. Tidak sekarang.

“Kenapa sayang?” tanyanya setelah mendengar panggilanku.

“Lepaskan aku.” Sahutku singkat namun jelas dan tegas. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang dengan perkataan singkatku tadi, namun aku tidak peduli. Aku ingin lepas darinya sebelum aku terbuai dengan mimpi ini.

“Kau tidak nyaman dipeluk seperti ini ya. Maafkan umma. Seb…”

“Berhenti menyebut dirimu sebagai umma. Kau bukan ummaku!” seruku memotong ucapannya.

Kembali aku merasakan tubuhnya menegang dan kali ini aku merasakan tangan yang membelai rambutku sedikit bergetar.

Apa aku keterlaluan?

.

.

.

“Berhenti menyebut dirimu sebagai umma. Kau bukan ummaku!”

Lagi.

Lagi.

Lagi.

Penolakan itu kembali terlontar dari bibirnya. Penolakan yang membuatku mati rasa. Aku tidak bisa merasakan apapun setiap mendengar penolakannya.

Sedih? Aku tidak berhak untuk itu.

Marah? Apalagi untuk yang satu itu.

Terluka? Sudah sepantasnya bukan?!

Kecewa? Tidak, aku bukan orang yang tepat untuk merasakan itu.

Lalu apa yang kurasakan sekarang? Seperti yang aku bilang tadi. Aku tidak bisa merasakan apapun ketika dia menolakku.

Aku tahu penolakan ini karena kesalahanku. Penolakan ini terjadi karena aku ibu yang kejam, jahat. Aku bukan ibu yang baik. Aku ini monster. Monster yang mencoba memperbaiki hatinya meski aku tahu hal itu jauh dari jangkauanku.

Aku mungkin tidak akan merengkuh kebahagiaan karena harus menebus semua dosa-dosaku di masa lalu. Aku mungkin akan berakhir dalam kesendirianku nanti. Namun, aku tidak mau semua itu terjadi kepada orang-orang yang aku sayangi. Terlebih lagi mereka yang sudah aku sakiti sedemikian rupa.

Mati rasa ini, biarkan aku yang menanggungnya. Aku sudah kosong tanpa tawanya, tawa mereka. Aku sudah hampa ketika yang aku lihat dari wajah mereka setiap bertemu denganku hanyalah kesedihan dan kepedihan. Aku bukan apa-apa lagi tanpa mereka.

Meskipun demikian, aku menginginkan mereka menikmati hidup ini dengan semua keindahannya. Aku ingin senyum itu, senyum sebelum aku tiba-tiba hadir dalam kehidupan damai mereka, tetap ada di wajah putrid an pria yang aku cintai. Aku ingin keduanya bahagia.

Hanya itu.

Hanya ingin mereka berbahagia.

Untuk kebahagiaan mereka, penolakan ini akan aku anggap sebagai cambuk. Aku sendiri sudah katakan bawah aku tidak merasakan apapun karena kekosongan hatiku, sehingga aku hanya bisa tersenyum dan terus melaju untuk memberikan kebahagiaan yang aku bisa berikan. Walau itu bukan aku.

Seperti saat ini.

Salah satu kebahagiaan putriku adalah bisa mengikuti acara ini dengan ibunya. Aku ibunya meski dia tak mau mengakuiku. Tidak apa, yang pasti kini semua orang tahu bahwa putriku memiliki seorang ibu. Semua orang yang mencemoohnya sebagai piatu akan tahu bahwa ibunya adalah orang terkenal, ibunya adalah putri salah seorang yang cukup berpengaruh di negara ini, Cho Donghae.

Senyum. Itu yang harus aku perlihatkan kepadanya. Bukan tampang memelas dan berurai airmata setiap aku bertemu dengannya.

Aku harus kuat demi dirinya. Demi putriku. Demi Choi Joonmyeon.

“Begitukah? Tapi nanti teman-temanmu akan bingung jika aku menyebut diriku ahjumma atau semacamnya?” balasku ketika aku melihat Joonmyeon menanti jawaban dariku atas pernyataan tegasnya.

“Biar saja! Aku…”

“Wah, ini ummanya Joonie. Kenalkan saya Lee Haemin ummanya Soori, gadis manis ini.” Sela seseorang bernama Lee Haemin dan berhasil membuat Joonmyeon tak kuasa melanjutkan ucapannya. Aku menoleh dan mendapati seorang wanita yang sekiranya seusia denganku berjalan kea rah kami.

Aku memandang wanita itu dan entah kenapa aku sudah tidak menyukainya. Mungkin saja dia adalah…

.

.

.

“Wah, ini ummanya Joonie. Kenalkan saya Lee Haemin ummanya Soori, gadis manis ini.” Sela seseorang bernama Lee Haemin dan berhasil membuat Joonmyeon tak kuasa melanjutkan ucapannya. Joonmyeon mengenali suara wanita seumuran dengan Kyuhyun itu. Wanita yang kerap kali merendahkannya karena kesal predikat siswa terpandai di angkatannya diambil oleh Joonmyeon.

Joonmyeon mengepalkan kedua tangannya erat pada tongkat putihnya serta menggigit bibir bawahnya. Dia tahu bahwa Haemin akan memuntahkan bisanya sebentar lagi karena Joonmyeon membawa Kyuhyun dalam acara ini. Haemin sama seperti yang lainnya, tidak percaya bahwa Kyuhyun adalah ibunya karena memang selama ini yang diketahui oleh semua orang, ibu Joonmyeon telah tiada.

Sedangkan Kyuhyun sendiri, dia sebenarnya terkejut dengan kedatangan Haemin yang tiba-tiba. Namun wanita cantik itu dengan segera tersenyum dan bermaksud membalas sapaan Haemin sampai dia melihat Joonmyeon yang gelisah dan resaj dengan kehadiran Haemin. Kyuhyun pun melihat Joonmyeon yang menggigit bibir bawahnya sampai bibir iru memerah dan bisa saja mengeluarkan darah jika Kyuhyun tidak cepat menyentuh bibir Joonmyeon dengan lembut, membuat Joonmyeon tersentak dan melepaskan gigitannya sendiri.

“Jangan digigit. Kalau sampai appamu melihat bibir putrinya terluka nanti umma yang disalahkan.” Ucap Kyuhyun setengah bergurau sebelum meyakini Joonmyeon tidak akan menggigit bibirnya lagi.

Setelah yakin, Kyuhyun mengalihkan perhatiannya kepada Haemin. Bola mata bulat itu menatap datar kea rah Haemin, membuat ibu muda itu sedikit risih karena ditatap sedemikian rupa olah Kyuhyun. Kyuhyun memandang Haemin seperti itu beberapa saat sampai tiba-tiba Kyuhyun tersenyum kemudian membungkuk sedikit. Begitu dia menegakkan tubuhnya, Kyuhyun langsung mengenalkan dirinya kepada Haemin.

“Salam kenal Haemin-ssi. Saya Choi Kyuhyun, ummanya Joonmyeon.” Begitu sapa Kyuhyun masih dengan senyum bisnisnya. Padahal senyum itu adalah senyum palsu. Kyuhyun sebenarnya tidak menyukai kehadiran wanita ini sejak dia melihat ketidak nyamanan Joonmyeon. Kyuhyun yakin, wanita di depannya sekarang adalah wanita bermuka dua. Satu dari sekian banyak orang yang secara tidak langsung sudah menyakiti Joonmyeon dengan sikap dan perkataannya.

“Senang berkenalan dengan anda, Kyuhyun-ssi. Wah! Saya tidak pernah mengira anda umma Joonie. Joonie sayang, kenapa kamu tidak bilang ummamu Kyuhyun-ssi yang terkenal itu?!” balas Haemin terlihat senang karena bisa bertemu dengan Kyuhyun tanpa menyadari bahwa dia sudah masuk dalam daftar orang-orang yang dihindari atau mungkin mereka yang perlu diberikan sedikit ‘peringatan’. Kyuhyun masih menimbangnya, tergantung dari apa yang akan dilakukan Haemin.

“Huh?” ucap Joonmyeon tidak mengerti maksud Haemin. Joonmyeon tahu kalau Kyuhyun adalah orang kaya tapi terkenal? Terkenal seperti apa?

Wajah bingung Joonmyeon membuat Haemin justru terlihat senang. Tampaknya dia ingin mengorek semua informasi untuk bisa dia jadikan bahan bergosip dengan teman-temannya. Apalagi ini menyangkut Kyuhyun yang sangat terkenal sebagai salah seorang wanita karir yang sukses. Ditambah dengan berita mendadak bahwa Cho Kyuhyun mengenalkan dirinya sebagai ibu Joonie dan memakai marga Siwon.

Haemin yakin, Kyuhyun tidak pernah menikah dengan Siwon. Lalu bagaimana cerita yang sebenarnya sampai tiba-tiba Kyuhyun muncul dan membuat gempar sekolah Joonie dengan statusnya sebagai ibu Joonie? Apa mungkin Kyuhyun terlibat sebuah skandal? Haemin harus menguak semuanya meski harus membuat Joonie tidak nyaman dengan pertanyaannya. Haemin tidak peduli karena dia sudah biasa merendahkan Joonmyeon demi melampiaskan kepenatannya di rumah. Yang dia pedulikan hanyalah dia menjadi pusat perhatian karena mengetahui lebih dulu rahasia besar dari seorang Cho Kyuhyun.

“Lho? Kamu ini bagaimana sih Joonie? Umma seorang CFO Cho Corp. kok kamu tidak tahu? Anak aneh.”

“Um itu…”

“Tapi tunggu… Kyuhyun-ssi, anda bukannya dulu menikahi Jung Yunho. Lalu bagaimana anda sekarang adalah umma Joonmyeon?”

“…”

“Ah, saya tahu. Joonmyeon pasti anak adopsi.”

“Umma! Tidak sopan bicara seperti itu!” Soori yang sejak tadi hanya diam akhirnya tak tahan dengan sikap ibunya tersebut. Walau dia tidak menyukai Joonmyeon yang sudah mengambil gelarnya sebagai siswi terpintar namun Soori tidak serendah sang ibu.

“Lho? Kamu kenapa marah? Umma hanya mencoba menarik garis lurusnya saja. Kyuhyun-ssi ini dulunya menikah dengan appanya Kyungsoo sebelum akhirnya appa Kyungsoo itu menikah dengan umma Kyungsoo. Makanya akan sangat aneh jika tiba-tiba Kyuhyun-ssi menjadi umma Joonmyeon. Lagipula usia Joonmyeon itu seusia kamu bukan Soori-ah. Saat umma melahirkanmu, Kyuhyun-ssi sudah bertunangan dengan Yunho-ssi. Jadi, Joonmyeon itu anak pasti adop…”

“Joonmyeon anak kandung saya Haemin-ssi, jadi saya mohon anda menjaga ucapan anda.” Tegur Kyuhyun tegas dan keras. Kyuhyun menatap tajam Haemin seolah dia akan membunuh Haemin dengan tatapan matanya. Seandainya tatapan bisa membunuh, Haemin pasti sudah terbujur kaku sebagai mayat.

“Apa?!”

“Tampaknya anda tekun mengikuti semua pemberitaan tentang saya dan keluarga saya. Hebat sekali. Jadi untuk membalas ketekunan anda, saya sampaikan rahasia besar saya khusus untuk anda.” Cibir Kyuhyun masih dengan tatapannya itu. Haemin berusaha membalas namun nyalinya kalah oleh Kyuhyun yang terbiasa menghadapi tekanan dari pesaing bisnisnya sehingga tatapan wanita biasa seperti Haemin tidak ada artinya. Karena tatapan itu pula, Haemin tidak sanggup untuk membalas perkataan Kyuhyun sama sekali.

“…”

“Anda tak perlu meragukan satus Joonmyeon sekarang. Joonmyeon itu putri saya, putri kandung saya. Kami terpisah karena suatu hal dan jika anda penasaran… Well, dengan keahlian anda sebagai penggosip ulung, anda pasti sanggup mencari tahu sendiri bukan?!”

“…”

So, saya ingatkan untuk mulai sekarang anda tidak usah menganggu putri saya lagi. Karena jika saya mengetahui anda…” tiba-tiba Kyuhyun menghentikan ucapannya sendiri. Sepertinya dia mengingat sesuatu. Mata bulatnya membelalak senang karena menyadari sesuatu yang membuatnya bisa membalas wanita ini.

“Sepertinya saya pernah melihat anda sebelumnya. Hm… Dimana ya? Ah! Tentu saja! Kenapa saya bisa lupa?! Anda istri Lee Hyunseol bukan?! Pastikan anda menghibur suami anda nanti ketika dia tahu usahanya untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan kami di Jepang akan berakhir sia-sia belaka.”

“!!!”

“Itu saja. Kami permisi. Senang berkenalan dengan anda, Haemin-ssi. Ayo Joonie.” Ucap Kyuhyun langsung merubah nada suaranya selembut mungkin ketika menyebut nama Joonmyeon. Joonmyeon sendiri masih kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi.

Joonmyeon tidak tahu harus berkata apa karena ini pertama kalinya dia mendengar seseorang membelanya selain Siwon dan Kyungsoo. Lebih mengejutkan lagi kali ini orang yang menghinanya tersebut tidak mampu untuk membalas pembelaan itu.

“Um…” Joonmyeon ragu-ragu untuk berbicara lebih dulu. Dia sendiri masih belum percaya bahwa ummanya memiliki kekuasaan sebesar ini.

“Beritahu umma siapa saja yang berani menghinamu. Akan umma pastikan mereka akan menyesal telah dilahirkan.” Tukas Kyuhyun tegas dan penuh penekanan. Mendengar ucapan itu, Joonmyeon sedikitnya bisa tersenyum.

Wanita ini, wanita yang dengan keras kepala tetap ada disampingnya meski berbagai penolakan dia berikan untuknya. Wanita yang dengan gamblang mengakui Joonmyeon sebagai anak padahal hal tersebut bisa merusak citra dirinya sendiri. Wanita yang begitu mudah menangis ketika mendengar kata-kata kasar dari Joonmyeon namun begitu kejam ketika membalas orang yang membully dirinya. Wanita yang baru Joonmyeon kenal dalam waktu singkat, wanita yang wajahnya Joonmyeon tidak tahu karena dia baru sadar, Joonmyeon belum pernah meraba dengan seksama lekuk wajah Kyuhyun.

Joonmyeon berhenti mendadak, membuat Kyuhyun ikut berhenti. Kyuhyun menoleh ke arah Joonmyeon, handak bertanya mengapa Joonmyeon berhenti tiba-tiba ketika Kyuhyun merasakan sentuhan tipis di wajahnya.

Penasaran. Joonmyeon penasaran akan wajah sang bunda. Gadis itu ingin tahu seperti apa wajah Kyuhyun. Dan untuk itu Joonmyeon mengesampingkan semua rasa dendam dan sakit hatinya demi menuntaskan rasa penasarannya.

Jemari dan telapak Joonmyeon menyusuri wajah cantik Kyuhyun. Bibir, pipi, hidung, mata, telinga, dahi, sampai ke rambut, Joonmyeon menyentuh semua.

“Anda cantik.” Dua kata singkat itu langsung membuat Kyuhyun tersenyum tulus. Dengan perlahan namun pasti, Kyuhyun meraih kedua tangan Joonmyeon dan mengecup telapak dan jari-jari Joonmyeon.

Joonmyeon terkejut dengan perlakuan Kyuhyun dan bermaksud menarik tangannya, namun Kyuhyun lebih cepat. Dia menahan tangan itu dan menggenggamnya erat di satu tangannya, sedangkan tangan Kyuhyun yang lain membelai wajah dan rambut Joonmyeon.

“Joonie.”

“…”

“Beri umma kesempatan.”

“…”

“Umma memang salah dan kesalahan umma sangatlah fatal. Umma berdosa kepadamu dan juga appamu. Tapi sayang…”

“…”

“Berikan umma kesempatan untuk menebusnya. Umma janji umma akan selalu disisimu.”

“Nyonya, ak…”

“Tidak! Tidak sayang! Jangan panggil umma seperti itu! Umma mohon…”

“…”

“Umma mohon…” dua kata penuh keputus asaan itu membuat Joonmyeon terenyuh. Bohong besar jika dia tidak ingin merasakan kehadiran seorang ibu disisinya. Joonmyeon sangat, sangat ingin seorang ibu sampai dia tidak keberatan jika Siwon menikah lagi.

Namun, rasa sakit itu masih ada. Rasa pedih karena telah dibuang oleh ibu kandungmu sendiri masih menggelayut di hati rapuh Joonmyeon. Tak mungkin hanya dengan waktu singkat, gadis manis itu melupakan begitu saja semua rasa itu. Joonmyeon tidak bisa menerima begitu saja kata maaf dari Kyuhyun. Tidak. Joonmyeon tidak bisa.

Akan tetapi…

Wanita di hadapannya ini.

Wanita cantik ini.

Sekeras apapun Joonmyeon menolak, kenyataan dia adalah wanita yang akhirnya melahirkannya ke dunia ini tidak bisa Joonmyeon tepis.

Wanita ini adalah wanita yang tidak menginginkannya namun tetap berjuang antara hidup dan mati demi membawanya ke dunia.

Wanita ini adalah wanita yang pergi meninggalkannya sebelum dia mengenal sentuhan tangannya namun sekarang menjadi tameng untuknya dari hinaan dan cercaan orang lain, berada di garis paling depan, tidak menghiraukan sama sekali pandangan negaitf orang lain terhadap dirinya hanya karena dia mengakui Joonmyeon.

Wanita yang dulu menyerah untuk hidup dengannya dan Siwon namun sekarang pantang mundur demi mendapat kata maaf dari mereka berdua.

Wanita ini sekarang berjuang demi Siwon.

Wanita ini sekarang berjuang demi dirinya.

Wanita ini sekarang berjuang demi mereka berdua. Demi kebahagiaan mereka.

Dia.

Cho Kyuhyun.

Dia ibu Joonmyeon.

Dia.

Dia ibuku. Umma. Umma kandungku.

.

.

.

Joonmyeon membuka pintu rumahnya perlahan. Gadis itu memasuki rumahnya setelah melepas sepatu dan mengganti dengan sandal rumah. Walau buta, gadis itu sudah hafal letak semua barang di rumah mereka jadi tidak sulit baginya untuk menemukan sandal tersebut.

Joonmyeon menaruh sembarangan tasnya di dekat rak sepatu dan berjalan perlahan memasuki rumah. Dia tidak peduli dengan tasnya karena dia yakin akan ada seseorang yang mengambilnya.

“Appa!” teriak Joonmyeon sedikit keras, memanggil Siwon yang mungkin sedang sibuk melukis di kamarnya.

“Appa! Joonie pulang!” teriak Joonmyeon lagi karena Siwon tidak menyahut panggilannya yang pertama.

Setelah teriakan Joonmyeon yang kedua tadi, Joonmyeon langsung mendengar suara langkah kaki berasal kamar Siwon. Siwon tersenyum senang dengan kepulangan putrinya dari acara sekolah dan bermaksud langsung memeluknya jika bukan karena iris hitamnya melihat seseorang selain putrinya berada di belakang Joonmyeon.

“Kau…!”

“Joonie lapar.” Ucap Joonmyeon singkat, tidak menghiraukan nada suara keterkejutan dari Siwon. Gadis itu sudah menduganya kalau sang ayah karena bersikap demikian karena di belakang Joonmyeon berdiri,

“Kamu lapar sayang? Sebentar ya, umma masakan sesuatu. Walau umma jarang memasak, umma masih sanggup membuatkanmu masakan yang bisa dimakan. Rasanya juga lumayan. Tunggu disini ya.” Sahut Kyuhyun bergegas masuk lebih dalam ke rumah kecil Siwon tersebut.

Kyuhyun tak perlu bertanya dimana letak dapur karena dia langsung melihatnya. Kyuhyun berjalan ke arah dapur setelah meletakan sementara tas Joonmyeon di sofa lalu mulai memasak setelah tanpa izin wanita cantik itu mengobrak-abrik dapur tersebut untuk menemukan alat memasak dan bahan-bahan untuk makan siang mereka.

Siwon yang masih bingung dengan keadaan yang menurutnya tak mungkin terjadi itu, menjadi bergeming saja di tempatnya. Matanya mengikuti gerak-gerik Kyuhyun beberapa saat sampai dia dikejutkan dengan suara langkah dan ketukan tongkat Joonmyeon di sampingnya.

Rupanya Joonmyeon ingin segera masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Gadis itu tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi kepada sang ayah sekarang. Nanti saja jika dia sudah merasa bersih dan kenyang, baru Joonmyeon akan mengatakan apa yang sudah terjadi sehingga Kyuhyun bisa sampai ikut pulang bersamanya ke rumah mereka.

Ya, nanti saja. Sekarang Joonmyeon ingin istirahat. Joonmyeon ingin istirahat dari semua hal yang melelahkan tubuh dan hatinya.

.

.

.

Dia ibuku. Umma. Umma kandungku.

END

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Hi all… Lama tak bersua, Nao sampai lupa mau bilang apa. Sejak insiden pen-delete-an tak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh seseorang, Nao sempat menyerah untuk posting di WP atau blog lainnya. Bukan karena Nao marah, sedih atau apalah itu (well, just a little bit, I mean come on, that person really do something horrible to me), tapi lebih kepada Nao tidak punya waktu dan terlalu malas untuk merepost satu demi satu FF yang sudah ada di WP terdahulu.

Namun berbahagialah Nao karena ada KIRA yang berbaik hati bersedia membantu Nao sampai sekarang dengan membuatkan WP baru, merepost, dan bahkan bersedia mengelola WP ini berdua dengan Nao tentunya.

Anyway, Nao sudah move on. Yang sudah terjadi ga perlu di ratapin lagi karena mau marah kayak apa juga, mau ngambek kayak apa juga, toh WP Nao tidak akan kembali. Ini teguran mungkin bahwa ada kalanya Nao terlalu sombong di mata seseorang sehingga menyakiti hati mereka. Untuk itu Nao minta maaf bagi mereka yang merasa tersinggung dengan sikap dan kata-kata Nao di WP sebelumnya atau di situs lain yang Nao ikutin.

That’s all. Terima kasih sekali lagi untuk para amazing readers yang tidak pernah bosan sama tulisan Nao. Masih banyak kekurangan dan akan selalu ada kekurangan karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Lagipula mengquote kata-kata Tyra Banks : Perfect is boring. And I agree. Karena kekurangan akan selalu membuat seseorang memiliki semangat untuk mencari jalan agar men dekati kata sempurna itu. And it will just repeat over and over again.

Last but not least, gomen untuk typos dan semua kegajean yang ada.

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, and Krisho

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements