Tags

, , , , , ,

Exceptional Poster

( 。・_・。)人(。・_・。 )

Title : Exceptional 1

Pairing/Charas : Siwon, Kangteuk, Yunho, Yesung

Genre : Family, Romance, Angst, Drama

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, Poster by the lovely and talented @SuciiCho

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos everywhere, GS, AU, OOC

( 。・_・。)(。・_・。 )

Pesta yang dibuat megah dan mewah itu berlansung dengan sukses. Setiap hiburan dan hidangan seakan tidak pernah habis dan membosankan. Semua terlakasana dengan baik sehingga banyak tamu yang datang puas dengan jamuan tuan rumah penyelenggara pesta. Senyum dan tawa gembira menghiasi setiap orang yang hadir di pesta tersebut, semua kecuali satu orang. Satu orang yang berdiri di samping pilar tinggi, setengah menutupi tubuhnya. Matanya terus terarah ke suatu titik yang menampakan sebuah keluarga bahagia sedang bercengkrama dengan tamu yang menyapa mereka.

Ayah, ibu dan anak lelaki yang sangat dibanggakan karena prestasinya yang gemilang. Belum lagi seorang gadis cantik yang terus berada di samping pemuda tersebut. Keempatnya terlihat begitu mempesona, begitu bercahaya, begitu bahagia. Kebahagiaan yang terlihat dari keluarga seolah-olah akan hancur jika ada sesuatu atau seseorang yang masuk diantara mereka.

Kebahagiaan yang ada sekarang hanya akan terasa jika hanya mereka berempat yang menjadi pemeran utamanya. Keharmonisan keluarga itu tidak akan bisa menerima satu orang lagi untuk masuk dalam lingkaran kebahagiaan mereka. Meski orang itu merupakan anggota keluarga kandung, meski orang itu adalah anak kedua dari pasangan suami istri yang sedang menepuk-nepuh bahu sang putra kebanggaan di depan koleganya dengan senyum yang merekah.

Sebuah tepukan pelan di bahu orang di dekat pilar tersebut membuatnya sadar akan kehadiran seseorang di sampingnya. Orang tersebut mengalihkan sebentar pandangannya dari potret keluarga bahagia tersebut ke arah seseorang yang menepuknya tadi. Ketika iris hitamnya mengenal siapa sosok tersebut, senyum manis dengan dua lesung pipi yang dalam seolah sebagai sapaan bagi orang tersebut.

“Tuan muda Siwon? Sedang apa anda disini? Mengapa anda keluar dari kamar?” pertanyaan itu terlontar dari orang tersebut sekaligus dengan beberapa gerakan tangan yang diperlihatkan kepada orang yang dipanggil dengan tuan muda Siwon itu.

Orang yang dipanggil Siwon itu masih tersenyum dan menjawab pertanyaan orang tadi dengan gelengan kepala terlebih dahulu sebelum dia mengangkat tangannya dan memberikan beberapa gerakan isyarat.

“Aku hanya sedang melihat-lihat saja. Tidak perlu cemas. Setelah ini aku akan segera kembali ke kamarku. Pergilah. Kelihatannya appa membutuhkanmu.” Itulah maksud gerakan tangan Siwon tadi.

Jika ada yang bertanya mengapa Siwon tidak mengeluarkan suaranya dan hanya bisa berkomunikasi dengan gerakan tangan atau bahasa isyarat? Jawabannya sederhana. Siwon atau lebih tepatnya Jung Siwon, putra kedua pasangan suami istri yang terkenal dan terpandang Jung Youngwoon atau lebih dikenal dengan Kangin dan Jung Jungsoo atau Leeteuk, memiliki kekurangan pada dirinya. Siwon tidak dapat berbicara dan mendengar.

Sebuah kecelakaan mobil saat dia masih berusia empat tahun membuatnya kehilangan dua kemampuan tersebut secara permanen. Dan sejak saat itu, Siwon harus menerima takdirnya disembunyikan atau bahasa kasarnya dikucilkan oleh kedua orang tuanya sendiri karena mereka berdua takut kekurangan Siwon akan menjadi aib bagi keluarga.

Siwon harus mau menerima jika dirinya tidak pernah dianggap ada oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya benar-benar menyembunyikan fakta bahwa dirinya masih menjadi bagian dari keluarga Jung. Tidak ada yang satu pun kolega atau sahabat-sahabat baik dari Kangin dan juga Leeteuk yang mengetahui jika Kangin dan Leeteuk memiliki putra selain Jung Yunho. Mereka berdua dengan kejamnya mengatakan bahwa Siwon tidak selamat dalam kecelakaan yang membuatnya cacat setelah mereka berdua mengetahui kondisi Siwon saat itu.

Bahkan Siwon harus merubah namanya menjadi Choi Siwon, mengikuti marga dari neneknya agar tidak ada yang tahu jika pasangan Jung itu memiliki putra kedua. Kejam? Tentu saja, meski Siwon masih diperbolehkan tinggal bersama dengan mereka dan mendapatkan pendidikan walau harus menjalani program home schooling namun Siwon dianggap seperti orang asing.

Dengan kehidupannya yang seperti itu, wajar saja jika Siwon menaruh benci dan dendam kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, hal itu tidak pernah terbersit sekali pun di pikiran Siwon. Sedih, kecewa, mungkin itu yang dirasakan oleh Siwon tapi tidak pernah dia membenci atau mendendam kepada kedua orang tuanya. Karena walau mereka menganggapnya tidak ada dan tidak memberikan kasih sayang selayaknya orang tua kepada anaknya, mereka masih mau memberinya tempat untuk berlindung, mereka tidak membiarkan dia kelaparan, mereka masih memberikan pendidikan yang layak dan itu semua cukup bagi Siwon.

Siwon menganggap semua yang diberikan oleh kedua orang tua Siwon adalah bentuk kasih sayang mereka kepadanya. Siwon masih bersyukur kedua orang tuanya masih memperbolehkan dia untuk bisa bersama dengan mereka dan kakaknya dan tidak mengirimnya ke tempat lain.

Satu tepukan lagi di bahunya membuat Siwon tersadar dari lamunannya. Dia sekali lagi menatap orang kepercayaan ayahnya itu. Kim Jongwoon atau lebih dikenal dengan Yesung. Siwon memandang orang yang sudah begitu berjasa kepadanya selama ini. Orang yang sudah berjasa merawat dan membesarkannya seolah Siwon adalah anak kandungnya sendiri saat orang tua kandungnya justru tidak menganggap dirinya ada.

“Tuan muda tunggu disini saja. Nanti saya antar kembali ke kamar tuan muda.” Sahut Yesung sambil menggerakan tangannya. Siwon menggeleng lalu menjawab.

“Tidak perlu. Aku sudah besar. Aku bisa kembali sendiri.”

“Dengarkan saya tuan muda. Tetap disini dan tunggu saya.” Tegas Yesung tanpa menunggu jawaban balik dari Siwon dan langsung bergegas pergi ala mi Kangin dan Leeteuk berada.

Siwon menghela nafas dan hanya bisa menuruti perkataan Yesung dengan menunggu di tempat tadi dia berdiri. Siwon menyandarkan tubuhnya di pilar sambil terus memandang ala mi keluarganya yang sekarang berbincang dengan Yesung. Siwon terus menyaksikan interaksi mereka sampai matanya mendadak membulat ketika Yunho tiba-tiba berpamitan dengan semua orang yang ada disana dan berlari kecil menghampiri Siwon.

Siwon sedikit panik karena dia tidak mau jika sampai Yunho terlihat berdekatan dengannya apalagi sampai berbicara. Siwon sudah diperingatkan dengan jelas oleh Kangin bahwa dirinya tidak boleh terlihat akrab dengan anggota keluarga Jung yang lain terutama dengan Yunho. Kangin tidak ingin seorang pun tahu bahwa Siwon itu ada dan Kangin cukup tegas dengan keputusan itu.

Maka dari itu, Siwon tidak mau sampai Yunho terlihat bersamanya karena dia tahu konsekuensinya. Dia tahu apa yang akan terjadi dengannya jika sampai Kangin melihat Yunho berbicang dengan Siwon dan hal itu sangat dihindari oleh Siwon. Siwon baru saja akan berbalik dan segera pergi ke kamarnya ketika Yunho memegang bahunya dan memutar tubuh Siwon agar berhadapan dengannya. Siwon tampak terpaku karena panik dan jika boleh dibilang sedikit ketakutan karena Yunho benar-benar berada didekatnya.

Bagaimana ini?! Kenapa hyung harus kesini?! Semoga appa tidak melihat kami?! Batin Siwon masih dirundung kecemasan.

“Hei. Kenapa kau keluar kamar? Kembalilah cepat, sebelum appa melihatmu Siwon.” Siwon terperanjat dengan peringatan Yunho tadi. Dia mengerti perkataan Yunho dari gerakan bibirnya. Hatinya merasa senang karena ternyata Yunho datang untuk memperingatinya. Itu berarti Yunho masih perduli kepadanya dan jika perduli berarti Yunho pun masih menyayanginya.

Mengapa Siwon berpikir demikian? Karena Yunho pun tak jauh berbeda dengan Kangin dan Leeteuk. Hanya saja Yunho masih sedikit berbaik hati karena terkadang pemuda berwajah kecil itu masih mau berbicara dengan Siwon meski perbincangan mereka terkesan kaku dan terlalu formal. Mungkin hal itu disebabkan karena Yunho pun kesulitan berkomunikasi dengan Siwon. Yunho tidak bisa bahasa isyarat. Sama halnya dengan Kangin dan Leeteuk. Komunikasi Yunho lebih banyak menggunakan tulisan dan juga karena Siwon mampu membaca gerakan bibir.

Tapi apakah keduanya dekat? Tentu saja tidak. Yunho pun tidak ingin dirinya terlihat bersama dengan Siwon. Dia tidak ingin teman-temannya apalagi kekasihnya tahu jika dia memiliki adik yang cacat. Menurut pemuda yang sedang mengenyam pendidikan sarjananya itu, jika teman-teman dan kekasihnya tahu keberadaan Siwon sebagai adiknya, bisa-bisa Yunho akan diperolok dan reputasinya sebagai pemuda sempurna hancur begitu saja.

Dan sekarang, Siwon berada disini. Di pesta perayaan kemenangan tim basket kampusnya dan terpilihnya Yunho sebagai pemain terbaik. Tentu Yunho tidak mau pestanya hancur hanya karena dia harus menjelaskan siapa Siwon jika ada seseorang yang melihat keberadaannya. Tapi apakah benar seperti itu?

“Tunggu apalagi Siwon?! Pergilah!” seru Yunho. Suara Yunho semakin meninggi menandakan kekesalan Yunho. Siwon memang tak mampu mendengarnya tapi raut wajah Yunho yang mengeras dan kerutan kekesalan di wajah tampan kakaknya itu membuat hati Siwon yang tadinya senang karena mengira Yunho memperingatinya karena khawatir jika Kangin memergoki dirinya lalu menghukumnya, berubah menjadi sedih. Siwon salah sangka dengan maksud peringatan Yunho.

Dengan senyum pilu, Siwon mengangguk pelan lalu berjalan cepat kembali menuju kamarnya. Dia melupakan janjinya untuk menunggu Yesung karena Siwon ingin secepatnya kembali ke kamarnya. Siwon tidak ingin orang lain melihat dirinya bersedih apalagi sampai menangis. Siwon sudah terlalu sering menangis ketika dia masih kecil dulu. Setelah dia dewasa, Siwon terbiasa dengan perilaku keluarganya tersebut. Baginya menangis pun tidak akan membuatnya diakui oleh keluarganya sendiri. Yang bisa Siwon lakukan sekarang hanya menjalani hidupnya meski harus dia jalani sendiri.

Siwon berlalu tanpa berbalik sehingga dia tidak melihat bagaimana raut wajah Yunho setelah mengatakan hal itu kepadanya. Yunho menatap punggung adiknya yang sekarang sudah hampir menyamai tingginya itu dengan sendu.

Maafkan hyung Siwon-ah. Maafkan hyung. batin Yunho lirih. Ternyata sikap tak bersahabat Yunho hanya terlihat di permukaan saja. Dia memiliki alasan tersendiri kenapa dia mengikuti perlakuan kedua orang tuanya kepada Siwon.

Sementara itu dengan Yesung, Kangin dan Leeteuk, ketiganya masih serius berbicara. Mereka sengaja menyingkir dari kerumunan pesta dan memilih tempat yang cukup sepi. Mereka bahkan sampai meninggalkan kekasih Yunho seorang diri demi pembicaraan mereka.

“Apa kau sudah menyiapkan semuanya hyung?” tanya Kangin langsung. Yesung memandang sejenak atasan sekaligus sahabatnya itu. Matanya mencoba mencari jawaban dari ketidak adilan yang dilakukan Kangin terhadap buah hatinya sendiri.

“Sudah tuan. Tuan muda Siwon sudah resmi menjadi putraku. Sesuai dengan perintah anda. Saya sudah meminta beberapa kenalan saya untuk merekayasa agar Siwon terkesan berasal dari panti asuhan dan saya mengadopsi anak itu.”

“Mengapa kau formal sekali hyung? Seharusnya kau sudah mulai membiasakan dirimu untuk memanggil anak itu dengan namanya dan bukan lagi dengan sebutan tuan muda. Tapi ya sudahlah. Bagus, bagus. Kerja bagus hyung. Dengan ini kita bisa tenang yeobo. Kapan kau akan membawa Siwon, hyung?” tanya Kangin senang. Yesung menatap miris pasangan didepannya ini. Yesung tidak percaya ada orang tua seperti mereka yang tega membuang darah dagingnya sendiri dengan cara memberikan anak tersebut untuk diadopsi. Yesung menghela nafas panjang sebelum dia menjawab pertanyaan Kangin.

“Aku akan membawanya malam ini.” Jawaban Yesung sontak saja mengejutkan Kangin maupun Leeteuk. Mereka tidak mengira bahwa Yesung akan langsung membawa Siwon. Mereka pikir, mereka berdua harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum anak itu pergi. Mereka juga terkejut karena Yesung seperti tidak sabar ingin membawa Siwon keluar dari ruamh mereka.

“Apa?! Malam ini? Tapi oppa, apa itu tidak terlalu cepat? Aku belum…”

“Lebih cepat dia pergi dari rumah ini bukankah akan lebih baik nyonya. Lagipula Siwon-ah bukan siapa-siapa di rumah ini, jadi tidak masalah jika dia pergi malam ini bukan?” sela Yesung langsung memotong ucapan Leeteuk yang mempertanyakan keputusan Yesung untuk membawa Siwon secepat ini. Sedangkan Yesung, mengerutkan keningnya karena ucapan Leeteuk. Yesung heran dengan perkataan Leeteuk tadi yang sepertinya enggan untuk berpisah dengan Siwon dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Berbagai pertanyaan dan asumsi berkecamuk di kepala Yesung, namun pria bermarga Kim itu langsung mengenyahkan pemikiran-pemikiran tak berdasar itu. Yesung tidak mau terlalu berharap Leeteuk atau Kangin masih memiliki hati nurani dan insting sebagai orang tua terhadap Siwon.

“Tapi…”

“Sudahlah yeobo. Yesung hyung berkata benar. Lebih cepat Siwon pergi maka lebih baik untuk keluarga kita. Oke hyung. Nanti aku akan siapkan semua keperluan kepindahan Siwon ke rumahmu dan aku akan…”

“Tidak perlu tuan Jung Kangin. Saya bisa atasi semuanya sendiri.” Yesung kembali memotong perkataan orang-orang dihadapannya dan kali ini korbannya adalah Kangin. Yesung tidak mau mendengar satu patah kata pun keluar dari mulut Kangin apalagi untuk menerima bantuan pria tersebut.

“Huh? Tapi…” Kangin tersentak dengan ucapan sinis dan dingin yang terlontar dari orang kepercayaannya itu. Belum pernah sekali pun Kangin mendapat balasan setajam itu dari Yesung. Terlebih lagi, dengan tegasnya Yesung menolak bantuannya. Keterkejutan Kangin tak berhenti sampai disitu karena Yesung kembali mengatakan sesuatu yang lebih mengagetkan.

“Oh satu lagi. Mulai hari ini saya mengajukan pengunduran diri saya sebagai sekretaris anda. Saya rasa akan lebih baik bagi anak saya, Siwon, jika ayahnya tidak berhubungan dengan orang tua kandungnya yang telah membuangnya. Saya ingin Siwon mengawali hidup barunya tanpa masa lalu yang menyedihkan. Permisi.” Cibir Yesung dan tanpa berpamitan langsung meninggalkan Kangin dan Leeteuk yang tercengang dengan apa yang baru saja terjadi. Apalagi Kangin yang amarahnya sudah sampai di ubun-ubunnya.

Tangannya terkepal erat menahan dirinya agar tidak menghajar Yesung. Kangin masih ingat dimana dia berada sekarang. Kangin tidak mau mempermalukan dirinya sendiri karena bertindak radikal. Tapi bukan itu yang membuat Kangin berusaha menahan dirinya. Bukan karena pandangan orang lain. Bukan itu.

Kangin menahan amarahnya karena dia tidak mau melampiaskan kemarahannya kepada orang lain. Ya, Kangin bukan marah kepada Yesung. Kangin marah kepada dirinya sendiri. Mungkin setiap orang bahkan Yesung akan berpendapat jika Kangin adalah orang tua yang kejam karena berbuat memperlakukan darah dagingnya sendiri seperti hantu yang tak terlihat, membesarkannya tapi tidak pernah menyayanginya, membuangnya di saat yang dirasa tepat. Namun semua itu ternyata hanyalah kedok dari seorang Jung Kangin dan Leeteuk. Mereka memiliki alasan sendiri mengapa mereka harus mengasingkan Siwon.

Karena itu, Kangin sebenarnya tidak mau melakukan semua ini. Hatinya menjerit ketika dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Siwon berjuang agar bisa diakui oleh dirinya meski Kangin selalu menampik usaha itu. Kangin ingin berlaku yang sama seperti yang dia lakukan kepada kakak Siwon, Yunho. Akan tetapi, sekali lagi, keadaan membuatnya harus menelan kesedihan dan kepedihan kala harus memperlakukan anaknya sendiri seperti orang yang terbuang.

“Yeobo.” Suara Leeteuk membuyarkan lamunan Kangin. Pria besar itu menoleh ke arah Leeteuk yang ternyata sudah hampir menumpahkan airmatanya. Mata ibu dua anak itu sudah berkaca-kaca dan mungkin hanya memerlukan beberapa detik sebelum airmata itu meluncur dengan deras.

“Apa?” tanya Kangin datar.

“Apakah keputusan kita sudah benar?”

“Maksudmu?”

“Apa keputusan kita sudah benar dengan menyerahkan Siwon kepada orang lain? Biar bagaimana pun dia anak kita Kangin. Siwon itu darah daging kita. Aku tidak mau berpisah dengannya.” Sahut Leeteuk mendesak Kangin agar memikirkan lagi rencana mereka. Leeteuk sudah tidak tahan lagi membiarkan Siwon dalam kesendiriannya. Dia sudah tidak mau jauh dari anaknya. Leeteuk ingin memeluk, mencium dan mengucapak beribu kata maaf kepada Siwon. Namun gelengan kepala Kangin menghancurkan keinginan itu.

“Bukankah kita sudah terlambat untuk mengatakan itu semua Teukie.”

“Apa maksudmu? Ini bukan sekedar ucapan dan tentu kita belum terlambat. Kita bisa memulai hidup baru seperti kata Yesung oppa tadi. Kita bisa…”

“Kita sudah terlambat Teukie! Kita sudah terlambat selama 14 tahun hidupnya! Yang bisa kita lakukan sekarang hanya membuat Siwon membenci kita dan menghilangkan kehadiran kita dari hati dan hidupnya!”

“Tapi dia anakku Kangin. Dia anak yang aku lahirkan dengan susah payah. Aku… aku…”

“Seharusnya kita tidak mendengarkan perkataan appaku untuk mengucilkan Siwon. Seharusnya kita lebih kuat sebagai orang tuanya. Seharusnya kita menjaganya Teukie.”

“Kangin…”

“Semua ini salahku sayang. Salahku. Kau boleh membenciku tapi kita tetap harus melakukan ini. Kau tahu sendiri ancaman appa jika kita berani mengatakan bahwa Siwon anak kita bukan. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadanya Teukie. Sudah cukup penderitaannya selama ini. Kau tahu bahwa hanya ini satu-satunya jalan.”

“Aku tak tahan Kangin. Aku tak bisa jika tidak melihat wajah Siwon.”

“Bertahanlah sayang. Kita harus bertahan demi Siwon. Demi Siwon.” Sahut Kangin berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua yang sudah dia lakukan kepada Siwon adalah demi kebaikan putra bungsunya tersebut. Ya, semua demi kebaikan Siwon.

Sementara itu di kamar Siwon, nampak pemuda itu sedang serius membaca beberapa buku yang berhubungan dengan fotografi. Siwon sedang berusaha memahami beberapa tehnik fotografi dan melihat beberapa hasil foto yang memenangkan penghargaan. Dia masih tenggelam dengan bukunya ketika satu elusan lembut di rambutnya membuat Siwon sadar ada seseorang telah masuk ke kamarnya. Siwon memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya karena dia takut tidak bisa tahu jika ada seseorang yang ingin memanggilnya.

Siwon menoleh sedikit ke belakang dan menemukan Yesung berdiri di belakangnya dengan senyum terpatri di wajahnya. Siwon menemukan keganjilan dari senyum Yesung tersebut tapi dia tidak mau menanyakan kepada orang yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.

“Ada apa ahjussi? Tumben ahjussi masih disini? Appa memberi tugas lagi ya?” tanya Siwon setelah Yesung duduk disampingnya. Pria berkepala besar itu masih tersenyum meski jelas terlihat kesedihan di matanya. Yesung mengacak rambut Siwon sebelum menjawab pertanyaan pemuda itu.

“Ya Siwon-ah dan kali ini tugasnya sungguh berat namun ahjussi merasa terhormat melakukannya.”

“Tugas apa?” tanya Siwon lagi. Yesung terdiam sesaat sampai tangannya yang berada di kepala Siwon beralih ke bahunya. Yesung menepuk bahu itu beberapa kali sebelum kembali bersuara.

“Menjadi appamu.” Jawab Yesung singkat. Jawaban singkat itu sungguh mengejutkan bagi Siwon. Rahangnya terbuka dan matanya membuka lebar. Raut tidak percaya mendominasi di wajah tampan pemuda berlesung pipi itu. Namun, beberapa saat kemudian, raut wajah Siwon menunjukkan bahwa dia mengerti maksud perkataan Yesung. Siwon menatap langsung kepada Yesung sebelum berkata,

“Appa mengusirku ya.” Yesung hanya mampu mengangguk sebagai tanggapan bahwa secara tidak langsung itulah yang dilakukan Kangin kepada Siwon.

Siwon sendiri, ketika melihat anggukan Yesung, merasa dunianya hancur berkeping-keping. Airmatanya turun dan membasahi pipinya. Pemuda itu menangis dalam diam.

“Siwon-ah.” Lirih Yesung saat dia melihat airmata yang turun dari kedua bola mata hitam itu. Yesung merasakan kesedihan yang mendalam dari Siwon dan pria itu tidak sanggup untuk tidak memeluk Siwon. Hanya saja ketika Yesung ingin memeluknya, niatnya terhenti karena Siwon sudah menggerakkan tangannya terlebih dahulu.

“Tidak apa-apa ahjussi. Aku tahu cepat atau lambat mereka akan melakukan ini. Kesabaran manusia itu ada batasnya bukan. 14 tahun mungkin waktu yang cukup lama untuk terus bersama denganku yang cacat ini.” Ungkap Siwon mencoba tersenyum meski Yesung tahu senyum itu hanya untuk menutupi betapa sakit hatinya Siwon saat ini. Siwon lalu mengalihkan pandangannya dari Yesung sambil menghapus airmatanya. Siwon tidak ingin orang yang sudah begitu baik padanya itu melihatnya rapuh seperti sekarang. Siwon menghela nafasnya panjang sebelum menatap ke arah bukunya lagi.

Melihat Siwon menganggap dirinya seperti tidak memiliki arti dan hanya menjadi benalu di keluarga Jung yang dikatakan sempurna itu, Yesung menjadi geram. Dia geram dengan Kangin, dengan Leeteuk, dengan Yunho, dengan semua orang yang mengucilkan Siwon. Yesung geram dan merasa bahwa dunia tidak adil kepada Siwon. Namun, dunia memang tidak pernah adil dan untuk itulah, Yesung akan berusaha semampu yang dia bisa untuk membuat dunia lebih bersahabat dengan Siwon.

Yesung memegang kedua pipi Siwon dan membuat pemuda itu bertatapan langsung dengannya. Mata Yesung menyiratkan keyakinan akan sesuatu dan sesuatu itu adalah dia akan membuat anak sahabat sekaligus atasannya itu menjadi seseorang yang mampu hidup mandiri dan mampu berhadapan dengan keluarga Jung nantinya.

“Siwon-ah, ahjussi mohon jangan berkata seperti itu. Siwon-ah anak baik, hanya saja sudah waktunya Siwon-ah hidup mandiri.” Ucap Yesung tanpa menggunakan bahasa isyarat. Yesung yakin Siwon bisa membaca bibirnya. Siwon hanya diam dan terus menatap Yesung.

“Kau anak baik dan kau akan menjadi lebih baik ketika kau pergi dari rumah ini. Percayalah Siwon-ah. Percaya padaku, percaya pada dirimu sendiri.” Lanjut Yesung yang ditanggapi dengan anggukan dari Siwon. Pemuda itu lalu memegang tangan Yesung dan melepaskan tangan itu dari pipinya. Siwon melepaskan tangan Yesung sebelum dia menggerakkan tangannya lagi.

“Kapan aku pergi ahjussi?” tanya Siwon. Yesung menghela nafas panjang sebelum menjawab.

“Malam ini.”

“Kalau begitu ayo kita pergi ahjussi. Ah, mungkin aku harus membiasakan diri memanggilmu appa. Yesung appa.”

“Siwon-ah…”

“Aku tidak perlu membawa banyak barang karena semua ini bukan milikku. Ini milik keluarga Jung.” Ucap Siwon terus tanpa memberi waktu Yesung untuk berbicara sedikit pun. Siwon kembali mengalihkan pandangannya dari Yesung dan tersenyum sendiri sembari melihat buku yang masih ada dalam genggamannya.

Siwon tersenyum karena hanya itu senjata yang dia miliki untuk bertahan dari kepedihan yang dirasakannya setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detiknya selama 14 tahun. Siwon hanya mampu tersenyum karena dengan senyuman, Siwon berharap keluarganya akan merasa tentram. Dengan senyuman, Siwon berharap mereka akan luluh dan mau bersikap baik kepadanya.

Senyumannya juga yang selama ini membuat keluarganya tidak pernah lepas kendali kepadanya. Siwon kerap kali mendapatkan perilaku buruk bukan secara fisik, bukan secara langsung dari Kangin, Leeteuk atau pun Yunho, melainkan dari anggota keluarga Jung lainnya yang tidak suka dengan keberadaan Siwon. Senyumannya yang selalu menyelamatkan Siwon dari mereka karena ketika Siwon menanggapi dengan senyum, keluarganya memilih pergi meninggalkan Siwon. Menurut mereka Siwon membosankan karena tak pernah sekali pun menangis di hadapan mereka.

“Aku akan merindukan keluarga ini. Mereka sudah berbaik hati menampungku yang cacat ini selama 14 tahun.” Lanjut Siwon lagi usai membayangkan masa-masa saat dia ‘bercengkrama’ dengan keluarganya sendiri. Senyum itu masih senantiasa menghiasi wajahnya sampai Yesung memegang tangannya dan memanggil namanya.

“Siwon-ah.” Siwon menoleh kepada Yesung, menunggu pria itu mengucapkan sesuatu. Yesung mengangkat tangannya dan mulai mengatakan apa yang ingin disampaikan kepada Siwon.

“Menangislah. Menangislah untuk terakhir kali, Siwon-ah. Menangislah dan setelah kau puas, aku ingin kau melupakan semuanya. Aku ingin kau mulai mencari kebahagiaanmu.”

“Aku akan selalu bersamamu. Aku akan menjadi appa sekaligus umma untukmu. Meski kita hanya berdua tapi itu sudah cukup bukan. Kita akan memulai hidup baru. Hidup yang lebih baik untukmu. Untuk itu, kau harus melepaskan semua kesedihan di tempat ini. Jadilah Siwon yang baru. Jadilah Kim Siwon, putraku. Putra appa.”

Mendengar ucapan Yesung tadi, terlebih lagi Yesung sudah menganggp dirinya sebegai appa Siwon, airmata pemuda itu kembali mengalir. Kali ini Siwon tidak berusaha membendung atau menutupinya lagi. Siwon terlalu terharu dengan ucapan Yesung. Dia merasa bahwa masih ada orang yang mau menyayangi dirinya seperti apapun keadaannya.

Tanpa suara, pemuda itu menangis, mengeluarkan semua kesedihannya, kekecewaan hatinya, semua penderitaannya. Siwon memeluk erat tubuh Yesung yang dengan setia merengkuh Siwon, berusaha menenangkan pemuda yang menjadi anaknya itu. Dalam hati Yesung berjanji bahwa ini adalah terakhir kali dia membiarkan Siwon menangis karena keluarga Jung. Yesung berjanji jika Siwon harus menangis, itu adalah airmata kebahagiaan.

TBC

Advertisements