Tags

,

Title : Things Will Get Better Indo Ver.

Pairing : Wonkyu

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Inspired : A song ‘Things Will Get Better’ by AGNEZMO

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, Attempt Romance, AU, OOC

( 。・_・。)(。・_・。 )

I’m the one that’s always been here
Even thru the darkest nights
And brave the tide for you
And me

Aku menatap dan meneliti satu per satu semua tagihan yang aku beberkan di atas meja dapur. Melihat itu semua membuat aku berpikir satu hal bahwa kekasihku sangat membutuhkan bantuan. Aku paham jika kekasihku itu sedang berada dalam situasi yang sulit sekarang ini, dari bisnisnya yang semakin hari semakin menurun angka profit dan begitu banyak klien yang mencabut investasinya sampai kakak laki-lakinya yang terjerat hukum karena tertangkap memiliki obat-obatan terlarang. Akan tetapi aku tidak mengira masalahnya akan sampai serumit dan separah ini. Tagihan-tagihan ini benar-benar akan semakin menyulitkan hidup kekasihku.

Bagaimana bisa kekasihku, Choi Siwon, memiliki hutang sampai setengah juta lebih hanya untuk tagihan tidak penting seperti dan tidak memberitahukan aku?! Apa dia tidak pernah membayarnya karena keadaan keuangannya begitu memprihatinkan?! Atau jangan-jangan karena dia merasa belum bisa membayar bantuan yang pernah aku berikan dulu?! Aku pikir jika itu alasannya, maka menurutku alasan tersebut tidak masuk akal. Siwon seharusnya bicara kepadaku. Terkadang dia terlalu keras kepala sampai aku pusing sendiri memikirkannya.

Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan sambil mengumpulkan semua tagihan-tagihan Siwon dan menaruhnya kembali ke dalam kaleng tempat Siwon biasa menyimpan semua benda yang menurutnya tidak patut aku lihat. Dia tidak tahu jika aku mengetahui dimana dia menyimpannya karena jika dia tahu, dia pati marah besar. Siwon tidak suka jika aku turut campur dalam urusannya.

Pernah sekali dia memergoki aku melihat surat peringatan atas jatuh tempo hutang perusahaannya terhadap bank dan dia marah kepadaku. Aku tidak mau dia marah kepadaku karena jika dia marah, Siwon pasti akan lebih memlih diam seribu bahasa dan mengacuhkan aku dan aku tidak suka itu. Rasanya jika tidak berbicara dengannya satu hari saja, aku sudah sangat merindukannya. Aku terlalu mencintainya sampai aku tak bisa jauh darinya.

“Baby, maafkan aku. Kopi kesukaanmu sudah habis di toko langganan kita. Sebagai gantinya aku membei bubble tea saja. Kau suk…”

Argh! Aku merutuki diriku sendiri karena tidak cepat membereskan tagihan-tagihan Siwon dan kembali tertangkap basah oleh Siwon. Aduh… Bagaimana ini?! Pasti Siwon akan marah lagi.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Siwon bertanya dengan nada curiga kepadaku padahal dia tahu benar apa yang sedang aku lakukan. Aku berdiri dari tempat dudukku dan berbalik untuk menatapnya. Aku menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah dan takut, aku benar-bebanr takut dia akan marah dan mengacuhkan aku lagi.

“Cho Kyuhyun, aku bertanya kepadamu. Apa yang sedang kau lakukan?” Siwon beertanya lagi dan kali ini aku merasakan nada suaranya meninggi menandakan dia benar-benar merasa kesal kepadaku.

“Siwon… Ak…aku…” Aku tak dapat mengeluarkan satu kalimat lengkap tanpa tergagap. Lidahku kelu dan otakku sulit sekali merangkai sebuah penjelasan untuk Siwon karena aku takut dengan apa reaksinya nanti.

“Apa kau baru saja melihat ke barang-barang pribadiku tanpa izin Kyu?!” tanya Siwon tegas. Di telingaku pertanyaan Siwon tadi lebih merujuk kepada pernyataan karena aku tahu dia memang tidak memerlukan aku untuk menjawabnya. Tuhan, bagaimana ini?! Siwon benar-benar marah. Aku bisa menebaknya dengan cara Siwon memandangku, tajam dan dingin.

Aku meremas tanganku sendiri, mencoba menahan sekuat tenaga agar airmataku tidak keluar walaupun aku ingin sekali untuk menangis. Ekspresi Siwon sekarang membuat bulu kudukku berdiri. Aku sungguh-sungguh ketakutan sekarang. Aku takut dia akan membenciku karena ini. Akan tetapi aku terus berusaha agar airmata yang sudah menggenang ini tidak sampai turun karena aku tidak mau membuat Siwon menjadi resah. Aku tahu aku salah dan aku tidak mau keluar dari masalah ini karena Siwon melihatku menangis.

“Ak…aku… Aku minta maaf Wonnie. Aku benar-benar minta maaf. Tapi kau harus tahu, aku melakukannya karena aku khawatir dengan keadaanmu. Kau begitu sibuk belakangan ini dan aku selalu menemukan diriku harus bersusah payah hanya untuk bisa sekedar bersamamu. Aku merindukanmu dan saat kau tak ada disisiku, hal itu sungguh menyakitkan.” Sahutku mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal kepadanya atas perbuatanku tadi. Semua yang aku katakan tadi itu benar adanya. Aku memang sangat merindukannya. Beberapa waktu terakhir ini, Siwon sangat sulit untuk ditemui. Untuk kami bisa bertemu beberapa saat saja, Siwon tak bisa.

Aku mengerti jika selama satu setengah tahun terakhir ini Siwon sedang berusaha menyelesaikan permasalah peliknya, tetapi saat itu kami masih bisa bertemu sesekali bahkan kami sempat berkencan sampai larut malam. Namun dua minggu setelah kakak laki-lakinya itu tertangkap, Siwon sudah seperti hantu.

Aku tahu dia ada, aku bisa merasakan perhatiannya karena Siwon sering meninggalkan pesan jika aku tidak sempat menjawab teleponnya atau dia yang menghubungiku tapi aku sama sekali tidak bisa melihatnya secara langsung. Hal terus terjadi sampai aku merasa Siwon seperti menghindariku. Tadinya aku bingung dengan perubahan sikapnya, tapi sekarang aku tahu jawabannya. Semua ini terjadi karena Siwon menyembunyikan kesulitan keuangannya dan juga mungkin permasalahan yang lain.

“Kyu, kau tahu benar kenapa aku sibuk sekali beberapa waktu terakhir ini. Aku sedang berusaha untuk bangkit Kyu. Aku sedang berusaha menyelesaikan semua masalah yang entah kenapa selalu datang dan pergi. Belum lagi masalah hyungku. Dia butuh bantuanku Kyu dan seberapa besar aku ingin memukulnya karena masalah sialan itu, dia tetap hyungku. Aku tidak akan pernah meninggalkannya.” Jelas Siwon menanggapi keluhanku padanya akan waktu bersama kami yang semakin kurang. Aku bisa melihat betapa Siwon menahan emosinya karena dia mengepalkan tangannya sendiri sampai memutih saking eratnya.

Aku menghela nafas sebelum aku berjalan mendekatinya. Aku meraih tangannya tersebut lalu membuka jari-jari yang bisa saja melukai tangan besar namun hangat itu. Aku menggenggam tangan Siwon dan mencium punggung tangannya lembut. Aku berharap dengan tindakanku ini Siwon dapat lebih tenang dan aku sangat bersyukur karena caraku berhasil. Siwon terlihat lebih tenang.

Dia lalu menghilangkan jarak diantara kami dengan menautkan kening kami berdua. Siwon mengambil kembali tangannya dari genggamanku dan meletakkannya di kedua pipiku.

“Aku minta maaf sayang, jika selama ini aku jarang memperhatikanmu. Aku berusaha Kyu, aku berusaha agar semuanya kembali seperti dulu, saat semuanya baik-baik saja. Aku berusaha agar sebisa mungkin, jika kau membutuhkan aku, aku akan ada disisimu. Aku hanya minta pengertianmu sayang. Aku ingin kau mengerti situasiku sekarang memang tidak memungkinkan bagi kita untuk sering bertemu. Kau pernah berjanji bahwa kau akan memahamiku bukan?! Apa kau lupa?”

“Bukan begitu Wonnie! Aku tidak akan pernah melupakan janjiku padamu tapi saat aku tahu masalahmu lebih berat dari yang aku duga, aku tidak mungkin berpangku tangan saja. Hatiku sakit jika melihatmu kesusahan seperti sekarang. Aku ingin membantumu.” Kelitku ketika Siwon menyatakan bahwa aku melupakan janji yang pernah aku berikan untuk bisa memahami kondisi dan situasi Siwon sekarang. Aku mengira dia akan mengerti, namun ternyata aku salah. Setelah aku mengucapkan kata-kata itu, Siwon justru melepaskan pipiku dan mengambil dua-tiga langkah ke belakang. Matanya menatapku sendu, membuatku semakin merasa bersalah.

“Membantuku? Dengan melihat tanpa izin ke barang-barang pribadiku. Kyu, aku tidak butuh bantuanmu, tidak lagi. Kau sudah cukup membantuku selama ini. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri Kyu.”

“Mengapa kau begitu keras kepala?! Aku bisa membantumu. Aku bisa meminjamkan uang kepadamu, atau… atau appaku bisa memberikan projek atau mungkin pekerjaan yang lebih baik dan stabil, atau…”

“CUKUP! Cukup Kyu… Hentikan… Jangan bicara lagi…” teriak Siwon dengan lantang sampai membuatku tersentak dan menghentikan perkataanku sendiri. Aku terkejut dengan teriakannya itu. Tidak pernah seumur hidupku, Siwon berteriak marah seperti tadi, terlebih lagi kepadaku. Meski dia sedang marah sekali pun, Siwon tidak pernah mengeluarkan suaranya sampai sekeras tadi. Jika marah, Siwon biasanya hanya diam atau sesekali menegur dengan pelan dan mengingatkan kesalahanku. Tapi pria ini, pria dihadapanku ini seperti pria keras yang sebentar lagi akan meledak karena amarah.

Siwon juga sepertinya terkejut dengan teriakannya sendiri. Dia tidak mengira bahwa dia akan lepas kendali dan berteriak kepadaku. Siwon menghela nafas berat sebelum mengusap wajahnya dengan satu tangan. Dia menutup kedua matanya sejenak, seolah-olah mencari ketenangan. Semenit, dua menit, Siwon masih menutup matanya sampai tiba-tiba dia membuka kedua matanya tersebut kemudian menundukkan kepalanya. Tindakannya itu membuatku semakin gelisah akan aku merasa Siwon sedang berpikir untuk meninggalkan aku.

“Wonnie?” Aku mencoba memanggil namanya untuk mendapatkan perhatiannya tapi yang dia lakukan hanya mengambil bubble tea yang tadi dia letakkan di meja dapur lalu menyimpannya di lemari pendingin tak jauh dari kami berdua. Siwon lalu mengabil kunci sepeda motornya dan seketika itu juga berbalik dan melangkah pergi. Oh Tuhan, apa Siwon benar-benar akan meninggalkanku?!

“Wonnie?!” Aku kembali memmanggilnya tapi Siwon hanya berhenti berjalan tanpa menoleh sedikit pun kepadaku.

“Tetaplah disini. Aku akan mengantarmu pulang nanti. Aku perlu mendinginkan kepalaku dulu.” Sahutnya lalu pergi begitu saja.

Melihat Siwon bersikap seperti itu kepadaku membuat airmataku jatuh begitu saja. Aku memandang punggung Siwon yang menghilang di sudut ruangan dengan hati yang berat karena aku merasa sangat bersalah telah menyinggungnya seperti tadi. Aku pasti telah menyakiti hatinya, harga dirinya. Kyuhyun bodoh! Kenapa mulutmu selalu saja mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Kekasih macam apa sih kau ini?!

Aku duduk terkulai lemas dengan airmata yang setia menemaniku. Aku meletakkan kepalaku di atas kedua tanganku yang terlipat, berusaha menutupi wajah menangisku. Aku menangis untuk mengurangi kepedihan hatiku akibat melukai orang yang aku cintai. Tapi tampaknya menangis pun sia-sia karena kepedihan itu tetap terasa.

Aku memang bodoh. Seharusnya aku tidak berkata demikian jahatnya kepada Siwon. Hanya saja maksudku baik. Aku hanya ingin menolong Siwon, sedikit mengurangi bebannya. Aku ingin berada disampingnya baik dalam keadaan senang maupun susah. Kenapa Siwon tidak mau mengerti?! Bukankah seharusnya kita berdua menghadapi semua permasalahan berdua?! Bukankah seharusnya dia membagi kesedihan dan kesulitannya denganku?! Tetapi mengapa dia selalu berjuang sendirian?! Mengapa Wonnie?!

Aku terus menangis sambil menyerukan pertanyaanku di dalam hati. Aku selalu bertanya tanpa ada seorang pun yang mampu menjawabnya.

All I ever needed was you
You never have the worry at all
What happen to us
What happen to love

Aku melihat ke jam tanganku dan setelah aku melihat waktu yang ditunjukkan oleh alat itu aku hanya bisa menghela nafas panjang. Sudah tengah malam tapi Siwon belum juga kembali. Aku menunggunya seperti yang dia suruh tadi. Aku tak ada keinginan atau pun kekuatan untuk meninggalkan dapur ini untuk sekedar menunggu Siwon di ruang tamu. Aku sudah terlalu lelah dengan tangisan dan beban yang menumpuk di hatiku akibat pertengkaran kami tadi.

Menunggu Siwon membuatku bisa lebih memikirkan apa yang telah terjadi dengan Siwon dan juga kehidupannya. Aku mulai paham mengapa Siwon merasa harus mengatasi semua kendala dalam hidupnya seorang diri. Bukan karena ego melainkan karena Siwon ingin menunjukkan kepadaku dan mungkin seisi dunia jika dia adalah pria yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan.

Aku paham benar harga dirinya sebagai seorang lelaki, namun aku pun tidak mau hanya diam saja melihat dia bekerja keras dan kesusahan sendirian seperti sekarang. Jika Siwon bisa memutuskan sesuatu, maka aku pun bisa memutuskan apa yang menurutku harus aku lakukan.

Aku mencintai Siwon. Aku mencintainya, sangat mencintainya dan ketika kau mencintai seseorang, kau pasti selalu ingin membantu mereka. Kau tidak akan peduli dengan apapun juga asal orang yang kau cintai aman, sehat, dan bahagia. Itulah yang aku rasakan dan hal itu juga yang akan kupastikan selalu menyertai Siwon.

Aku tidak peduli jika Siwon akan murka jika aku bersikeras membantunya, aku tetap akan melakukannya. Aku akan membantunya dengan segala kemampuanku agar bisa mengurangi beban Siwon.

Aku tidak peduli apapun selain Siwon. Hanya dia yang aku pikirkan. Hanya dia yang aku butuhkan dan aku yakin hanya aku juga yang dia butuhkan sekarang dan seterusnya. Aku yakin karena Siwon selalu berusaha sekuat tenaga agar dia mendapatkan pengakuan dari kedua orang tuaku, mendapatkan pengakuan dari semua orang bahwa dia adalah pria yang bisa diandalkan. Bahwa dia mampu melindungiku, menyayangiku, mencintaiku. Siwon ingin menunjukkan kepada semuanya bahwa dia adalah pria yang tepat untukku.

Aku pun memiliki alasan yang sama dengan Siwon. Aku juga ingin agar semua orang tahu bahwa aku bukan gadis manja yang tidak mampu melakukan apapun disaat orang yang aku cintai, kesulitan seperti ini. Aku ada untuknya dan dengan itu, aku percaya cinta kami akan kuat. Aku ada untuknya dan dia ada untukku.

A mirrors now would’ve been so clear
Every shadow like a broken glass
Can we mend the past with me
And you

Maybe I should face the truth
I need you to be what I know you can be
Don’t give up on us
Don’t give up on love

Jam dinding menunjukkan bahwa matahari akan segera terbit ketika aku mendengar pintu depan terbuka. Aku terbangun dari tidurku yang sangat tidak nyaman. Aku memang tertidur dengan posisi duduk dan kepalaku kurebahkan di meja dapur ketika aku menunggu Siwon pulang. Suara pintu dibuka tadi membuatku terjaga dan aku langsung berusaha menghilangkan rasa kantukku karena aku ingin menumui orang yang baru masuk itu. Aku yakin dia Siwon.

“Siwonnie…” Aku mencoba memanggil namanya. Sayup-sayup aku mendengar langkah kaki mendekati dapur dan satu suara yang sudah aku hafal dimana pun aku mendengarnya.

“Ya baby, ini aku. Apa aku membangunkanmu?” jawab Siwon. Aku tersenyum ketika aku menatap wajah lelah namun masih terlihat tampan. Sepertinya Siwon sudah merasa lebih baik daripada saat dia keluar rumah tadi. Aku berdiri dari tempatku sekarang dan perlahan tapi pasti, aku berjalan menghampiri Siwon. Aku mengulurkan tanganku dan aku semakin tersenyum senang karena dia menggapai tanganku.

Siwon meremas tanganku lembut sampai akhirnya Siwon menarikku dan memeluk pinggangku dengan kedua lengan kekarnya. Aku pun membalas pelukan kekasihku itu dengan melingkari bahunya dengan kedua lenganku sampai tanganku mencapai tenguknya. Aku membelai rambut belakangnya, membiarkan Siwon merasakan cinta yang aku miliki hanya untuknya. Aku ingin Siwon juga bisa merasakan betapa aku menyesal telah melukai harga dirinya dan membuatnya sedih.

Siwon memelukku semakin erat dan dia juga memberikan kecupan-kecupan ringan dari bahuku sampai ke leherku. Tangan Siwon merambat ke punggungku dan membelainya dengan lembut. Siwon terus membuaiku dengan sentuhan-sentuhan sayangnya dan membuatku merasa geli namun senang dengan menciumi seluruh wajahku mulai dari kening, kedua kelopak mataku, hidungku, kedua pipi gempilku, dan yang terakhir, bibirku.

Kami berciuman tanpa adanya tekanan dan nafsu. Bibir kami hanya sling menempel namun ciuman ini begitu manis karena kami membagi rasaksih sayang kami, permintaan maaf kami, cinta kami, tanpa kami harus mengucapkan satu patah kata pun. Ciuman ini adalah bukti kami bahwa kami berdua memang ditakdirkan untuk bersatu, bahwa kami saling memiliki. Ciuman ini adalah pelindung kami dari bayangan yang akan selalu berusaha memisahkan kami berdua. Ciuman ini adalah tautan dari perasaan kami yang selalu ingin bersama.

Ciuman ini juga adalah alasanku untuk terus berjuang bersama dengan Siwon. Aku akan berjuang demi dirinya dan juga demi hubungan kami, membuat menyadari tentang kenyataan bahwa seorang pria akan menjadi kuat jika orang yang dicintainya percaya kepada pria tersebut. Siwon juga pasti seperti itu. Karena itu, aku harus percaya padanya.

Aku harus percaya bahwa Siwon memang bisa menghadapi semua cobaan dan masalah di dalam hidupnya. Aku harus percaya jika Siwon tidak akan pernah menyerah karena Choi Siwon yang aku kenal adalah pria yang tegar, kuat, dan dapat diandalkan. Choi Siwon-ku adalah pria seperti itu karena dia percaya aku pun akan selalu mendampinginya dan itulah yang akan aku lakukan.

Every step seems just a lil better
Lil mistakes don’t really seem to matter
I want that going ok
As long as I got you, and you got me

I’ve been saying to myself be stronger
Like work it out; its gonna take a lil bit longer
As long as I got you, you got me, you say
Things will get better

Kami duduk di sofa empuk di ruang tamu sambil menonton acara televisi meskipun kami sama sekali tidak memperhatikan jalan cerita acara tersebut. Kami berdua berpelukan, dengan Siwon memelukku dari belakang, meletakkan dagunya di bahunya, sementara aku merebahkan kepalaku di bahunya dengan sedikit memiringkan kepalaku agar Siwon leluasa mengecup leherku. Aku sendiri juga tidak tinggal diam, aku membelai jari-jari tangan Siwon yang memeluk pinggangku.

Kecupan-kecupan Siwon di leherku dan beberapa kali di pipi dan telingaku, membuatku kegelian. Aku menolehkan wajahku untuk memandang wajah tampannya, lalu tanpa diduga oleh Siwon, aku mengecup hidung mancungnya. Siwon sedikit terkejut namun dia tersenyum dan kami pun akhirnya tertawa kecil bersama-sama.

Kami sudah menyelesaikan masalah kami tanpa perlu membicarakannya. Dalam hati, kami berdua tahu bahwa pertengkaran kami adalah kerikil kecil dalam hubungan dan hidup kami. Kami hanya perlu berusaha lebih baik lagi untuk bisa memahami satu sama lain dan kami masih punya banyak waktu untuk itu.

“Baby.” Momen kami berdua sedikit terganggu dengan panggilan Siwon.

“Hm?”

“Maafkan aku.” Ucapnya. Aku memandang wajahnya tak mengerti. Aku tidak mengerti mengapa Siwon meminta maaf kepadaku. Bukankah kami sepakat bahwa tidak ada satu pun yang disalahkan dalam pertengkaran kami tadi. Dan kenapa harus dia yang meminta maaf? Jika ada orang yang harus meminta maaf, itu seharusnya aku bukan Siwon. Lalu kenapa Siwon mengatakan hal itu kepadaku?

“Maaf untuk apa Wonnie?”

“Karena aku sudah membentakmu tadi. Aku tidak bermaksud seperti itu baby. Jadi maafkan aku ya.” Aku tersenyum mendengar penjelasannya tadi. Aku meraih wajah tampannya lalu membelai pipi kirinya dengan ibu jariku.

“Tidak ada yang harus aku maafkan Wonnie. Aku tahu kau tidak bermaksud membentakku. Lagipula, aku jusa salah sayang. AKu terlalu egois dan tidak mau memahami jika kau sedang banyak pikiran. Ucapanku waktu kita bertengkar hanya membuat bebanmu semakin bertambah.”

“Tidak sayang, itu tidak benar. Aku tahu kau hanya cemas dengan keadaanku. Aku menghargainya sayang, hanya saja aku…”

“Kau dapat menjaga dirimu sendiri. Aku tahu Wonnie dan aku mau untuk mengerti. Aku hanya ingin meminta satu hal darimu Wonnie.”

“Apa itu baby?”

“Jika kau tidak sanggup lagi menanggung bebanmu seorang diri, aku ingin kau membaginya denganku. Bahkan jika kau mengira seluruh orang di dunia ini mengasingkanmu, ingatlah bahwa masih ada aku. Aku disini Wonnie. Selama kau memilikiku dan aku memilikimu, maka semuanya akan baik-baik saja. Aku akan terus berada disisimu disaat kau membutuhkan aku dan aku yakin kau pun begitu. Jadi aku mohon Siwon jangan kau simpan masalahmu sendiri, sertakan aku. Bisakah kau berjanji hal itu padaku?”

“Tentu saja sayang. Aku bisa berjanji kepadamu.” Ucap Siwon tegas sambil memberikan aku senyum berlesung pipinya yang sangat aku rindukan. Lesung pipi yang membuatku tertarik kepadanya. Lesung pipi yang hanya menjadi milikku seorang. Kami melanjutkan momen kemesraan kami lagi sampai Siwon kembali mengganggu momen itu dengan memanggilku.

“Baby.”

“Apa? Kau ini berisik sekali. Bisakah kau diam dan membiarkan aku menikmati kehangatan kekasihku?!” rajukku karena Siwon selalu saja mengganggu. Aku mendengar kekehan Siwon sebelum aku merasakan Siwon mencium pucuk kepalaku dan mengatakan hal yang ingin aku dengar.

“Aku mencintaimu Kyu.” Kata-kata itu. Kata-kata itu membuat kedua bibirku bergerak ke samping membentuk sebuah senyuman. Akhirnya aku mendengar lagi Siwon mengucapkan tiga kata itu. Semenjak kabar buruk mengenai kakaknya, Siwon jarang mengucapkan kata ‘aku mencintaimu Kyu’ kepadaku. Padahal dulu, Siwon tidak pernah lupa mengatakannya meski hanya satu hari. Aku benar-benar merindukan suara lembutnya ketika dia mengatakan kata-kata itu.

Airmata menggenang di pelupuk mataku. Aku membiarkannya turun karena ini adalah airmata kebahagiaan. Aku menangis karena aku senang. Perasaanku memuncah, membuatku meremas tangan Siwon yang masih setia melingkari pinggangku. Aku ingin dia tahu betapa bahagianya aku dengan ucapannya tadi.

“Aku juga mencintaimu Wonnie. Aku mencintaimu.” Aku membalas ungkapan cintanya dengan tulus, berharap Siwon bisa merasakan ketulusanku. Siwon semakin mengeratkan pelukannya membuatku semakin senang karena dia tahu bagaimana perasaanku kepadanya.

Pada akhirnya, Siwon and aku menyadari bahwa setiap kesalahan, setiap masalah, setiap kata-kata menyakitkan, adalah salah satu cara yang secara tidak langsung membuat kami lebih dekat. Kami perlu melihat sisi buruk dari diri kami masing-masing agar kami bisa berusaha untuk saling melengkapi dan menutupi sisi buruk kami dan kekurangan kami tersebut.

Selama kami bersama, maka kami bisa mengatasi setiap masalah yang akan menghadang nanti. Kami hanya perlu saling percaya, percaya kepada diri kami sendiri, percaya kepada cinta kami. Aku tahu selama Siwon ada disisiku dan aku disisi Siwon, maka semua akan baik-baik saja. Ya, semua akan baik-baik saja.

Things will get better

END

Advertisements