Tags

, , , , , ,

Title : You’re My All 2

Pairing :  Friendship!KyuJaeChulGD, a little bit Wonkyu, Yunjae, GTop, Hanchul

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, and a bit to their respective agency (because of the contracts)

Warning : Un-betaed, BL, Mpreg, AU, OOC

Summary : Every things that stand in our way will be nothing when we face them together.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Heechul P.O.V

Siang ini cuacanya tidak seterik hari-hari lainnya. Tidak ada sinar matahari yang membakar kulit putihku. Yang ada hanya awan gelap yang menghalangi sang surya dan sepertinya siap menumpahkan air hujannya ke dunia. Ya, aku tidak terlalu peduli. Justru cuaca seperti ini seperti suasana hatiku yang kelabu. Suasana hati yang akan selalu kelabu sejak mentari hatiku telah diambil oleh sang Pencipta.

Mungkin Tuhan terlalu mencintai kekasihku sehingga dia mengambilnya dengan cepat. Mungkin Tuhan tidak mau kekasihku tercemar olehku. Ya, aku tidak bisa menyalahkan Tuhan, karena dulu aku memang tidak percaya padanya. Namun karena kekasihkulah, aku mau mencoba melepas pikiranku bahwa Tuhan itu tidak ada. Karena kekasihkulah aku mau menerima bahwa disudut hatiku aku mengakui aku memerlukan kehadiran-Nya. Dan memang saat kekasihku diambil oleh-Nya, hanya Tuhan dan para sahabatku yang mampu membuatku untuk tidak segera menyusul belahan jiwaku itu.

“Chulie?” aku tersentak ketika mendengar suara Jiyong memanggilku sambil melambaikan tangannya di depan wajahku. Aku segera sadar bahwa aku telah melamun di saat aku sedang bersama dengan Jiyong di salah satu café, yang letaknya dekat dengan kantor Jiyong.

“Oh, eh.. Maaf Jiyong, aku melamun.” Sahutku sambil tersenyum padanya. Aku melihat Jiyong menghela nafasnya dan memberikan pandangan seolah mengatakan ‘kau itu selalu saja melamunkan hal yang sudah lalu’. Aku tertawa kecil melihat pandangan Jiyong itu. Aku meremas tangannya dan berkata,

“Aku baik-baik saja Yongie, kau tidak perlu khawatir.” Ucapku.

“Tidak Chulie, kau tidak baik-baik saja. Sampai kapan kau akan begini? Selalu berpegang pada masa lalu?! Hankyung sudah tiada. Dia sudah tenang di sisi Tuhan. Jika kau seperti ini, kau justru membuatnya sedih.” Ujar Jiyong memberikan nasihat yang sama yang selalu aku dengar tidak hanya dari dirinya melainkan dari Jaejoong dan juga Kyuhyun. Nasihat yang sama yang benar adanya namun sulit untuk bisa aku ikuti.

“Tapi aku benar baik-baik saja. Aku akui aku sedih, tapi aku tidak terpuruk. Kau lihat sendiri aku masih melakukan kegiatan sehari-hariku, aku masih keluar untuk bersenang-senang dengan teman kerjaku, dan aku masih bersantai dengan kalian. Maksudku, aku tidak seperti orang stress yang mengurung diri di rumah dan membiarkan dirinya mati secara perlahan.” Sahutku mencoba meyakinkan sahabatku ini. Namun siapa yang bisa aku bohongi.

Ya mungkin aku bisa membohongi orang lain, tapi tidak dengan Jiyong dan mungkin juga Jaejoong dan Kyuhyun. Mereka seperti saudaraku sendiri. Mereka tahu aku luar dan dalam. Dan melihat pandangan tidak percaya Jiyong sekarang, aku tahu dia akan memberikan wejangan yang sama seperti biasanya.

Tapi sepertinya kali ini aku cukup beruntung (atau mungkin juga tidak) karena Jiyong justru hanya menghela nafas sekali lagi. Dia lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyerahkan kepadaku. Aku sempat heran dengan tindakannya itu, tapi aku mengambil kartu nama yang Jiyong letakkan di atas meja.

“Park Jungsoo. Desain Interior.” Ucapku perlahan membaca nama yang tertera di kartu nama itu. Aku lalu melihat ke arah Jiyong.

“Kau bilang kau butuh orang untuk merancang butik baru yang akan kau buka. Leeteuk orang yang tepat.” Tanggap Jiyong ketika melihat raut kebingunganku.

“Leeteuk?”

“Itu nama panggilannya. Dia senior di kampus tempat Siwon dulu kuliah. Awalnya Kyuhyun dan Siwon merekomendasikan dia kepadaku saat Seungie ingin membuka kantor baru, tapi setelah, ya kau tahu, aku tidak jadi menggunakan jasanya.” Jelas Jiyong. Aku menatap Jiyong sedikit cemas. Ya aku tahu apa yang menimpa kehidupan keluarga Jiyong. Semua sahabatnya tahu. Dan itulah yang membuat kami bertiga cemas. Jiyong harus menanggung beban di saat dia hamil besar seperti sekarang.

“Kau sehat Yongie? Maksudku bagaimana kandunganmu?” tanyaku perlahan. Aku takut pertanyaanku justru membuatnya semakin sedih dan tertekan. Tapi Jiyong tersenyum dengan tulus. Dengan lembut dia mengusapkan tangannya ke perutnya yang membesar.

“Aku sehat Chulie. Bahkan aku tinggal menunggu hari untuk kelahiran si kecil.” Jawabnya antusias. Terlihat sekali Jiyong sangat bahagia dengan kehadiran buah hatinya nanti. Aku tersenyum lega sampai aku sadar dengan ucapannya baru saja.

“Kau ini! Kau akan segera melahirkan tapi kenapa kau masih bekerja?!” tanyaku dengan nada tinggi. Aku tahu ekonomi keluarga Jiyong sedang dalam masalah dan dia beserta suaminya sedang berusaha memulihkan keadaan mereka, tapi tidak harus sampai membahayakan kesehatan Jiyong dan calon bayinya.

“Tidak perlu cemas seperti itu Chulie. Banyak orang hamil yang baru akan cuti bekerja pada bulan terakhir. Aku juga akan cuti bekerja beberapa hari lagi.” Jawabnya tenang.

“Kapan tanggal yang diberikan oleh dokter?” tanyaku curiga. Aku berharap bahwa dugaanku salah.

“Tanggal 21.” Dan benar saja, ternyata pria di depanku ini sudah tidak waras lagi.

“Jiyong! Itu tinggal 4 hari lagi. Kau ini! Jika Jaejoong tahu, kau bisa diseret olehnya ke rumah sakit saat ini juga. Apalagi Kyuhyun. Kau siap mendengarkan kalimat-kalimat sinis dari evil Kyu yang satu itu?! Dia itu sudah merasakan bagaimana sakit dan lelahnya perjuangan saat melahirkan.” Ucapku ingin membuatnya menyadari bahwa waktu dia untuk melahirkan itu sudah sangat dekat dan masa-masa ini adalah masa yang penting untuknya. Dia harus menjaga dirinya sendiri.

“Makanya aku hanya memberitahu dirimu. Rencananya aku akan memberitahu mereka ketika aku sudah melahirkan.” Apa?! Apa telingaku tidak salah dengar? Dia baru akan memberitahu Jaejoong dan Kyuhyun setelah dia melahirkan?!

“Kau gila! Bisa-bisanya kau berpikir seperti itu. Mereka sahabat kita Yongie. Mereka perlu tahu.”

“Aku tahu, tapi aku tidak mau merepotkan orang lain. Kau tahu sendiri, semakin lama aku di rumah sakit, semakin tinggi biayanya. Jaejoong dan Kyuhyun pasti akan langsung membayarkan biaya rumah sakitku jika mereka tahu aku tidak sanggup membayar.” Jelas Jiyong masih dengan senyumnya walau aku tahu senyum itu dipaksakan. Oh Jiyong, mengapa hal itu yang ada dibenakmu. Seharusnya kau memikirkan tentang keselamatan buah hatimu.

“Jiyong..”

“Maka dari itu, aku sudah menghitung semuanya. Jika aku masuk bertepatan dengan tanggal yang diberikan oleh dokter, aku masih sanggup membayarnya.” Mendengarnya berbicara seperti itu, aku menjadi kesal.

“Lalu kau berpikir aku tidak akan membantu untuk membayar biaya rumah sakitmu, begitu?!” tukasku sengit. Aku tidak percaya Jiyong bisa berpikir bahwa aku tidak akan membantunya seperti Jaejoong dan Kyuhyun.

“Paling tidak aku bisa meyakinkanmu untuk tidak melakukannya.” Kilahnya masih dengan senyumnya itu. Tapi kali ini senyum Jiyong terkesan jahil dan bermaksud menggodaku.

“Jiyong!”

“Sudahlah Chulie, aku bisa melakukannya. Aku cukup kuat.” Aku menghela nafas sambil menggelengkan kepalaku. Aku rasa sulit mengubah pendirian pria keras kepala ini. Saat ini aku akan diam saja, tapi jika aku menilai dia sudah tidak kuat lagi menanggung ini semua, maka jangan salahkan aku jika mulutku kelepasan bicara kepada Jaejoong dan Kyuhyun. Aku pun akan memastikan dia di rawat di tempat yang terbaik.

“Baik aku akan diam. Aku ingin lihat bagaimana kau menghadapi kemarahan luar biasa dari Jaejoong dan Kyuhyun jika mereka tahu kau sengaja memberitahu mereka terakhir. Pasti bagus.”

“Heechul! Kau itu sadis sekali. Kau seharusnya membantuku menghadapi mereka nanti.” Keluhnya sambil memajukan bibirnya lucu. Aku hanya tertawa geli melihat tingkahnya itu.

That’s me honey. Get over it.” Mendengar komentarku, Jiyong semakin memajukan bibirnya dan sekarang ditambah dengan pipinya yang mengembung. Aku semakin tertawa melihat kelucuan sehabatku ini. Lalu aku sadar sesuatu dan menanyakan kepada Jiyong.

“Lalu apa kata suamimu? Mengapa dia membiarkanmu menanggung ini sendirian?” tanyaku.

“Seungie tidak setuju. Dia justru ingin aku sudah ada di rumah sakit, tapi aku berhasil meyakinkannya. Saat ini, kami tidak bisa menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang bisa aku atur.” Jelasnya. Hhh.. Lagi-lagi karena masalah uang.

“Jiyong..”

“Sudahlah. Jangan dibahas lagi.” Ucapnya tenang. Jiyong lalu melihat kearah jam tangannya dan sepertinya dia harus pergi ke suatu tempat. Dia langsung berdiri setelah meletakan sejumlah uang untuk pesanannya di café ini.

“Aku pergi dulu Chulie. Aku harus segera bekerja di kedai kopiku.” Sahutnya terburu-buru meninggalkan meja kami.

“Tapi Jiyong..”

“Jangan lupa untuk menghubungi Leeteuk. Bye Chulie.” Dengan itu Jiyong pun berlalu. Aku hanya bisa memandang sahabatku yang ceria itu dengan pandangan miris. Seharusnya Jiyong bisa berbahagia dan menikmati masa-masanya sebagai ibu hamil dan bukannya bekerja keras dengan dua pekerjaan seperti sekarang. Tapi aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.

Bisnis suaminya, Choi Seunghyun, memang sedang dalam masalah karena rekan bisnisnya selama ini membawa kabur uang perusahaan dalam jumlah besar. Saat ini, Seunghyun sedang mencoba mencari jalan keluar dengan mencari berbagai investor dan pinjaman untuk menutupi uang yang dicuri itu sambil menunggu kabar dari kepolisian.

Siwon dan Yunho pun ikut membantu dengan merekomendasikan perusahaan Seunghyun pada beberapa rekan bisnis mereka sembari menanamkan modal di perusahaan Seunghyun. Hanya saja semua itu belum cukup karena masih banyak hal yang harus Seunghyun benahi akibat perbuatan rekan kerjanya yang berkhianat itu.

Walau masalah keuangan keluarga mereka tidak berada diambang kebangkrutan, tapi masalah ini cukup membuat Jiyong harus turun tangan membantu sang suami. Meski dengan berbagai tentangan mengingat Jiyong yang waktu itu masih hamil muda, tapi Jiyong yang terkenal keras kepala, dengan yakin mengambil keputusan dengan bekerja di perusahaan Seunghyun menggantikan posisi rekan kerjanya yang kabur itu. Merasa itu belum cukup, Jiyong juga memaksakan tetap bekerja di kedai kopi miliknya. Kedai kopi itu memang satu-satunya milik Jiyong yang bisa dia banggakan.

Aku menghela nafas mengingat betapa sulit hidup Jiyong. Terkadang aku berpikir apakah aku terlalu manja karena merasa hidupku berakhir dengan kepergian Hankyung yang mendadak itu. Padahal melihat situasi Jiyong yang meskipun tidak kehilangan orang yang dicintainya, tapi dia mampu memandang semua permasalahan sebagai bagian dari pembelajaran dan pendewasaan diri sendiri. Aku tidak pernah mendengar Jiyong mengeluh karena kehidupannya harus berubah 180 derajat karena masalah ini.

Jiyong yang biasanya tidak perlu khawatir soal uang, sekarang justru menghitung biaya rumah sakit padahal itu untuk kepentingannya sendiri. Jiyong yang tidak pernah harus bersusah payah jika ingin keluar dari rumah karena selalu ada supir dan mobil yang siap mengantar, sekarang harus berjalan ke halte bus dan harus mau berdesak-desakan dengan orang lain di dalam bus.

Masih banyak hal yang harus Jiyong lakukan sendiri sejak Seunghyun tidak bisa memberikan fasilitas kepadanya dan Jiyong juga tidak mau harus merepotkan kedua orangtuanya dengan masalah ini karena hal ini adalah masalah dirumah tangganya. Jiyong adalah pria yang kuat dan sekali lagi, aku terkadang iri dengan kekuatan yang dimilikinya. Bisakah aku sekuat dia dan melupakan Hankyung? Bisakah aku memulai hidupku dari awal lagi seperti yang Jiyong lakukan saat ini?

End Heechul P.O.V

TBC

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Nao lagi \(^0^)/ Jangan bosen yah… Nao cuma mau bilang ini part 2-nya. Semoga suka…

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, and Krisho

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements