Tags

, , , , , ,

Title : You’re My All 3

Pairing :  Friendship!KyuJaeChulGD, a little bit Wonkyu, Yunjae, GTop, Hanchul

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, and a bit to their respective agency (because of the contracts)

Warning : Un-betaed, BL, Mpreg, AU, OOC

Summary : Every things that stand in our way will be nothing when we face them together.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Jiyong P.O.V

“Terima kasih. Silahkan datang kembali.” Ucapku sambil membungkukan badanku kepada pengunjung kedai kopiku yang terakhir. Ya, walau sepertinya hanya kepalaku saja yang menunduk. Mana bisa aku membungkukkan badanku seperti dulu, tidak dengan perut yang besar seperti ini. Aku tersenyum sambil menghela nafas lega. Hari ini kedai kopi milikku ini lumayan ramai.

Semoga besok bisa seperti sekarang atau bahkan lebih baik lagi. Aku benar-benar membutuhkan keuntungan yang banyak dari usahaku ini untuk persiapan melahirkanku nanti. Aku tidak mau merepotkan suamiku yang saat ini sedang bekerja keras agar usahanya tidak mengalami kebangkrutan. Aku juga tidak mau merepotkan kedua orangtuaku terlebih lagi sahabat-sahabatku dengan keadaanku ini. Mereka sudah mempunyai banyak masalah dalam kehidupan mereka sendiri.

“Bos, kami pulang dulu.” Sahut dua pekerjaku yang secara tidak langsung mengejutkanku dengan suara merka yang tiba-tiba itu. Aku menoleh kepada kedai kopi yang ternyata sudah rapid an bersih. Melihat semua sudah beres, aku pun tersenyum kepada mereka dan mengangguk, membiarkan mereka pulang. Setelah keduanya pulang, aku melihat ke arah jam dinding. Waktu ternyata sudah menunjukkan pukul 9 malam. Masih belum begitu larut. Segera aku membereskan barang-barangku dan menutup kedaiku.

Aku berjalan santai ke halte bus yang tidak jauh dari kedai kopiku. Sesekali aku membelai lembut perutku. Aku benar-benar tidak sabar untuk segera menimang bayiku. Dia pasti akan lucu sekali. Hhh.. Namun ada satu ganjalan dalam hatiku. Mengapa bayiku harus mengalami cobaan dengan keterbatasan orangtuanya sekarang.

Jika saja Seunghyun tidak mendapatkan masalah seperti itu, pasti anakku tidak harus ikut susah seperti kami. Seharusnya malaikat kecilku mendapatkan yang terbaik bukan seperti sekarang. Untuk masuk rumah sakit saja, aku harus menunggu sampai saat-saat terakhir.

Hanya saja, sepertinya si kecil mengerti benar keadaan orangtuanya. Di masa kehamilanku, dia tidak pernah bertingkah. Aku tidak pernah mengalami morning sickness seperti kebanyakan orang hamil lainnya. Aku tidak pernah mengidam yang aneh-aneh. Aku jarang merasa lelah dan dia selalu tahu kapan waktunya menendang perutku. Aku sempat khawatir ketika bayiku tidak seaktif bayi lainnya, tapi semua itu terjawab dengan tendangan-tendangannya saat aku sedang bersantai dirumah.

Aku tersenyum lagi ketika membayangkan betapa patuhnya bayiku ini kepada orangtuanya. Semoga dia bisa selalu seperti sekarang, mengerti akan kondisi orangtuanya. Terlalu larut dalam pikiranku sendiri, aku tidak menyadari ada beberapa pemuda yang berjalan ke arahku. Mereka sepertinya mabuk karena dengan santainya mereka menabrakku yang sedang hamil ini hingga terjatuh dan pergi begitu saja.

“Aduh! Hei kalau jalan lihat-lihat!” teriakku tapi mereka seolah tidak mendengarku dan berlalu begitu saja. Aku berusaha bangkit namun rasanya sakit sekali sampai aku merasakan basah pada celanaku. Aku melihat ada darah yang mengalir dari kedua kakiku. Seketika itu aku langsung panik dan berteriak minta tolong.

“Jiyong!” Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku itu. Aku melihat Jaejoong berlari ke tempatku dan langsung membantuku untuk berdiri.

“Jae! Bayiku Jae!” seruku panik dan sambil menangis. Aku benar-benar cemas setelah melihat darah itu. Jae memegang kedua bahuku dan langsung memanggil supirnya untuk segera mendekatkan mobilnya ke arah kami. Tampaknya Jaejoong langsung keluar dari mobil begitu saja ketika melihat aku yang terduduk di trotoar.

“Kau dan bayimu akan baik-baik saja Yongie. Kau tenanglah. Kita akan ke rumah sakit.” Sahut Jaejoong berusaha menenangkanku sambil sesekali menyeka airmataku dan mengusapkan telapak tangannya pada rambutku. Setelah supir Jaejoong memarkirkan mobilnya di dekat kami, Jaejoong langsung menuntunku masuk ke mobil tersebut. Begitu dia yakin aku nyaman, kami segera melaju ke rumah sakit terdekat.

Rumah Sakit

“Jiyong-ssi dan bayinya baik-baik saja Jaejoong-ssi. Beruntung anda segera membawanya kemari. Tapi melihat Jiyong-ssi sudah hampir melahirkan, lebih baik beliau tetap dirawat disini agar kami bisa memantau keadaannya dan bayinya.” Saran dokter kandungan itu pada Jaejoong yang berdiri disamping ranjangku.

Aku sedikit tidak nyaman dengan saran itu. Aku berpikir darimana aku harus mendapatkan uang jika aku harus masuk rumah sakit sekarang juga. Tapi yang lebih membuatku tidak nyaman karena dokter tersebut berbicara kepada Jaejoong. Pasti setelah ini Jaejoong akan langsung menyetujui saran dokter itu.

“Baik Dok. Tolong rawat Jiyong. Soal lainnya serahkan kepada saya.” Benar dugaanku. Hhh.. Padahal aku tidak mau merepotkan dia.

Aku melihat dokter tersebut tersenyum dan mengangguk lalu beranjak keluar. Sedangkan Jaejoong membungkuk hormat dan mengucapkan terima kasih kepada sang dokter. Setelah dokter itu pergi, Jaejoong langsung menatapku tajam. Oh, habis sudah aku. Dia sudah tahu bahwa aku akan segera melahirkan dan tidak masuk kerumah sakit secepatnya.

“Sekarang bisa kau jelaskan mengapa kau tidak mau dirawat di rumah sakit Yongie?” tanyanya tenang, tapi aku bisa menangkap nada tidak sukanya akan tindakanku ini. Aku memaksakan senyumku kepadanya, mencoba mencairkan situasi. Tapi raut wajah Jaejoong yang serius membuatku gugup. Aku sedikit cemas dengan reaksinya jika aku mengucapkan apa yang aku katakan pada Heechul tadi siang.

“Oh itu. Iya, begini Jae. Eh, tapi kenapa kau bisa berada di daerah sekitar kedai kopiku Jae? Apakah kau sedang ada urusan di sana?” tanyaku masih mencoba mengalihkan perhatian Jaejoong dari situasiku sekarang.

“Aku hanya ingin bertemu denganmu, maka dari itu aku menuju ke kedai kopimu. Tapi apa yang aku dapatkan?! Kau menangis minta tolong dan terduduk dengan bercak darah di trotoar. Dan kau tidak menjawab pertanyaanku Choi Jiyong!” Aku tahu aku dalam masalah besar ketika Jaejoong sudah meninggikan suaranya seperti itu. Ah, sepertinya kutukan Heechul tadi siang terjadi juga. Awas kau Heechul!

“Bukan salahku jika aku terjatuh gara-gara para pemuda itu Jae. Aku juga tidak mau jadi seperti ini.” Kelitku masih tidak mau mengalah. Jaejoong mengusapkan salah satu tangannya ke wajah cantiknya itu. Dia menghela nafas dan menatapku dengan tatapan penuh kekecewaan. Aku mengalihkan wajahku, menghindari tatapan itu.

“Bukan itu yang ingin aku dengar Yongie. Yang aku ingin tahu, kenapa kau tidak menjaga dirimu dan bayimu sendiri? Kau seharusnya sudah masuk rumah sakit.” Ucapnya. Aku mendengar nada suara Jaejoong yang mulai merendah. Sepertinya dia sudah tidak marah lagi kepadaku. Walau begitu, aku masih tidak tahu harus menjelaskan apa kepada Jaejoong.

“Aku, aku..” lidahku kelu dan terasa berat hanya untuk menyelesaikan satu kalimat.

“Kau kenapa?” potong Jaejoong. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk mendengar apa alasanku. Aku menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan. Mau tidak mau aku harus menceritakan apa yang aku katakan pada Heechul ke Jaejoong. Semoga reaksinya tidak berlebihan.

“Aku hanya sanggup membayar biaya rumah sakit jika aku masuk rumah sakit bertepatan dengan kelahiran calon bayiku Jae. Aku tidak bisa mengeluarkan uang lebih banyak dari itu. Kau tahu sendiri jika Seungie sedang kesulitan.” Aku baru mau melanjutkan penjelasanku, tapi suara Jaejoong yang kembali meninggi dan memotong perkataanku, membuatku terdiam.

Stop! Stop it Jiyong! Kau membahayakan jiwamu dan bayimu hanya karena masalah uang?! Kau bisa meminta bantuanku, atau Kyuhyun, atau Heechul. Mengapa kau tidak berpikir bahwa kami akan ada untukmu saat kau membutuhkan kami Yongie!” serunya marah.

Aku menutup mataku sesaat, mencoba menerima setiap ucapan Jaejoong. Aku tahu dia akan bersikap seperti ini. Aku hanya bersyukur dia tidak bersikap berlebihan dengan tiba-tiba memindahkanku ke rumah sakit nomor satu di Negeri ini saat dia mengetahui alasanku tadi. Aku membuka mataku lagi dan menatapnya, memohon dengan mataku agar dia mau mengerti kondisiku.

“Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain, Jae. Suamimu dan suami Kyuhyun sudah banyak membantu keluargaku. Akan sangat tidak tahu diri jika aku meminta lebih darimu atau dari sahabat-sahabat kita. Lagipula Jae, aku baik-baik saja. Anakku juga baik-baik saja. Jadi kau tidak perlu khawatir. Biarkan aku mengurus ini sendiri.” Ucapku sekali lagi berusaha meyakinkan Jaejoong tapi tampaknya usahaku sia-sia.

“Apa katamu? Kau baik-baik saja? Anakmu juga baik-baik saja? Apa telingamu sudah tuli sampai kau tidak mendengar apa kata dokter tadi hah?! Sedikit saja aku terlambat, kau bisa kehilangan bayimu! Kau bisa kehilangan malaikat kecilmu! Apa kau tidak pernah berpikir kesana?!” Kata-kata Jaejoong tadi menusuk hatiku.

Aku tahu, aku sadar akan konsekuensi untukku dan bayiku. Tapi aku juga sebisa mungkin menjaga kami berdua agar tidak menyusahkan orang lain. Apa aku salah jika aku ingin melakukan apa yang aku bisa dengan usahaku sendiri. Apa aku salah jika aku tidak ingin mengganggu kehidupan orang lain terlebih lagi kehidupan sahabat-sahabatku?

“Aku tahu Jae! Tapi apa yang bisa kuperbuat? Memohon padamu dan juga Kyuhyun serta Heechul untuk menanggung semua keperluanku?! Aku tidak bisa Jae. Sudah aku bilang aku tidak mau membebani orang lain. Sudah cukup aku menyusahkan orang lain.” Kataku sengit. Aku tidak tahu apakah aku marah karena Jaejoong yang terus saja menegurku atau karena aku lelah dengan situasiku sendiri, dengan tidak menggunakan otakku, aku mengucapkan hal yang langsung aku sesali begitu kalimat itu terlontar dari mulutku.

“Lagipula, seharusnya kau tidak usah terlalu ikut campur soal bayiku. Ini bayiku bukan bayimu.” Sahutku. Dan benar saja melihat raut kesedihan di wajah Jaejoong, aku langsung menyesali perkataanku tadi. Tidak seharusnya aku berucap demikian.

“Oh Jae, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk..”

“Iya kau benar. Dia memang bayimu. Bayi yang dititipkan Tuhan untukmu.” Potong Jaejoong lagi sebelum aku sempat menyelesaikan ucapanku.

“Jae..” Aku menggenggam tangan Jaejoong dan menariknya kesampingku lebih dekat lagi. Aku sedikit lega karena Jaejoong tidak menolak sentuhanku. Dia memposisikan dirinya duduk di ranjangku. Jaejoong menggenggam balik tanganku.

“Apa kau tahu? Jika aku memiliki kesempatan untuk bisa seperti dirimu, aku akan menyerahkan segalanya. Tapi Tuhan lebih memilihmu untuk bisa menjaga malaikat kecilnya.” Perkataan Jaejoong yang menyiratkan secara pasti kesedihan dirinya akan situasinya sekarang seakan menamparku, membuatku sadar bahwa aku adalah orang yang beruntung.

Aku menatap Jaejoong sebentar sebelum pandanganku menjadi buram karena airmata yang mengalir deras dari mataku. Bagaimana ungkin aku bisa membuat sahabatku sendiri menjadi sesedih itu. Jaejoong yang melihat aku menangis hanya mengusapkan jemarinya dipipiku, menghapus airmata yang masih saja bersikeras untuk terus mengalir.

“Karena itu, aku mohon Jiyong, berhentilah menanggung semua ini sendirian. Bersandarlah padaku, pada Kyuhyun, pada Heechul, pada suamimu. Berhentilah berpikir bahwa kau akan menyusahkan orang lain hanya karena kau memerlukan bantuan. Setiap orang butuh orang lain Jiyong. Kau tidak bisa melakukan semuanya sendiri.” Sahutnya lembut.

“Aku, aku..”

“Kumohon Yongie, biarkan aku dan yang lainnya membantumu. Lakukan demi suamimu agar dia bisa menatap bayinya. Lakukan demi bayimu agar dia bisa melihat dunia.” Aku memegang tangan Jaejoong yang ada di pipiku seakan mencari kekuatan dari tangan itu. Jaejoong tersenyum lembut dan meneruskan ucapannya.

“Jiyong, kali ini kau tidak boleh keras kepala. Turuti dokter dan tinggallah disini sampai kau melahirkan. Kehamilan pria itu lebih berisiko daripada kehamilan wanita dan kau tahu itu. Jadi, biarkan aku membantumu kali ini ya. Jangan buat aku cemas karena bisa saja aku ini tidak bisa menatap keponakanku.” Ujarnya sambil masih memasang senyum manisnya.

Kemudian Jaejoong menarikku dan memeluk tubuhku dengan perlahan dan lembut. Aku pun membalas pelukannya. Pelukan yang membuatku sangat nyaman dan menyadari bahwa aku memang tidak sendiri. Oh Jaejoong, bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu ini. Bagaimana aku harus berterima kasih padamu. Kau membuatku sadar bahwa aku telah bersikap egois hanya karena aku tidak mau merepotkan orang lain padahal dengan sikapku sekarang, aku justru membuat semua orang yang menyayangiku cemas. Airmataku tumpah lagi ketika semua pertahananku luruh sudah.

“Lho? Kenapa umma yang satu ini menangis lagi? Eh aegya, ummamu kenapa? Kok menangis. Apa ahjussi nakal ya?” Aku tertawa kecil walau airmataku masih setia membasahi kedua pipiku. Aku merasa geli sekaligus sedih melihat sikap Jaejoong yang setelah melepas pelukannya dariku lalu mulai membelai perutku dan meletakkan telinganya diperutku, mencoba mendengar reaksi dari si kecil. Jaejoong memperlakukan calon bayiku dengan lembut seakan dialah ibunya.

Oh Tuhan, mengapa kau masih belum menunjukkan keajaibanmu kepada Jaejoong. Dia sangat menginginkan seorang anak dikehidupannya. Dia yang juga Kau karuniai rahim dalam tubuh prianya itu masih belum menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan mengandung. Kumohon Tuhan, berikanlah Jaejoong kesempatan, dia sudah siap menjadi seorang ibu. Mungkin lebih siap daripada aku.

Aku melihat ke arah Jaejoong yang masih membelai perut besarku ini. Aku terkadang menanyakan pada diriku sendiri, mengapa Jaejoong bisa begitu tegar menghadapi masalahnya. Mengapa dia begitu mudah membuatku yang terkenal keras kepala ini bisa langsung menuruti kemauannya.

Apa karena sifat lemah lembut namun terkadang tegas itu yang membuatku tidak bisa berkata tidak untuknya? Atau karena pertemanan kami yang cukup lama, lebih lama dibandingkan dengan Heechul dan Kyuhyun, yang membuatku merasa bahwa setiap perkataanya adalah hal yang benar? Yang pasti, aku tahu bahwa karena Jaejoonglah aku tahu bahwa setiap orang memerlukan orang lain. Hidup ini akan lebih indah jika kita mau berbagi, bukan hanya kesenangan semata namun saat dihadapan pada masa sulit seperti yang aku alami sekarang.

“Hei, Jiyong, aku keluar dulu. Aku harus membeli segala keperluan selama kau dirawat disini. Kau tunggu ya. Aegya, jaga umma ya.” Sahutnya lalu beranjak keluar dari kamarku. Aku masih memandang Jaejoong sampai dia menghilang setelah pintu tertutup. Aku menghela nafas sebelum aku menggantikan Jaejoong membelai perutku sendiri.

“Sayang, kau tahu, kau itu sungguh beruntung mempunyai ahjussi sebaik Jaejoong ahjussi. Dia baik dan akan sangat menyayangimu saat kau tiba di dunia ini nak.” Ucapku sambil tersenyum. Ya, bayiku sangat beruntung. Aku beruntung. Terima kasih Jae, hanya itu yang bisa aku berikan sekarang. Hanya itu.

End Jiyong P.O.V

TBC

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Another… Enjoy!! 😀

Sankyu and peace all

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, and Krisho 😀

^^n4oK0^^

Advertisements