Tags

, , , , , ,

Title : You’re My All 4

Pairing :  Friendship!KyuJaeChulGD, a little bit Wonkyu, Yunjae, GTop, Hanchul

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, and a bit to their respective agency (because of the contracts)

Warning : Un-betaed, BL, Mpreg, AU, OOC

Summary : Every things that stand in our way will be nothing when we face them together.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Kyuhyun P.O.V

Aku membungkuk kepada wanita di depanku saat ini. Wanita yang akan membantuku untuk menyelesaikan semua hal yang berkaitan dengan rencanaku nanti. Wanita cantik yang mengenakan setelah blazer dan celana kerja ini membalasku juga dengan membungkuk sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam gedung tempat dia bekerja.

Aku memandang punggungnya sampai lenyap dari pandanganku setelah dia menutup pintu yang membatasi aku dengan gedung yang menjulang di hadapanku sekarang. Aku menutup mataku yang tertutup oleh bingkai hitam kacamata, berusaha meyakinkan diriku sendiri akan rencana yang akan aku lakukan pada saatnya tiba nanti.

“Kyuhyun? Evil Kyu? Kaukah itu? Sedang apa kau disini, magnae setan?” tanya suara yang sudah aku hafal di luar kepala ini. Kim Heechul a.k.a. Cinderella sangar. Sahabat sekaligus temanku beradu mulut.

“Yang pasti aku punya urusan, lain denganmu Heechul.”

Plak! Auch! Dasar Cinderella sangar! Dia memukul belakang kepalaku keras sekali. Bukan salahku kalau dia tidak bisa membalas perkataanku tadi. Aku memegang kepalaku sambil menatapnya tajam. Tapi sepertinya tidak ada orang yang bisa membuat Heechul takut. Tidak ada seseorang kecuali orang itu. Seseorang yang sangat Heechul sayangi namun harus pergi selamanya.

“Panggil aku hyung, dasar magnae setan!” serunya kesal. Melihatnya seperti itu, ada kepuasan tersendiri di hatiku. Aku menyeringai kepadanya yang aku tahu persis akan semakin membuatnya kesal. Dan benar saja, sekarang Heechul sudah menatapku dengan tatapan paling tajam yang pernah dia berikan. Kami bertatapan sebentar sebelum Heechul menarik nafas dan membuangnya cepat lalu memutas matanya malas.

“Sudahlah. Aku tidak akan pernah menang melawanmu.” Sahutnya mengalah. Aku tersenyum senang lalu merangkul bahunya sesaat. Dia membalasku dengan senyumannya juga. Setelah aku melepaskan rangkulanku dari Heechul, pria cantik ini mengajakku kesalah satu café yang aku tahu adalah tempat kenangannya waktu dia masih bersama Hangeng. Sepertinya Heechul masih sering datang ke tempat ini walau tidak dengan Hangeng lagi. Aku bisa tahu karena seluruh orang yang bekerja di café ini mengenal baik Heechul.

Kami lalu memesan dua buah chesse cake dan secangkir teh untukku dan secangkir kopi untuk Heechul. Sambil menunggu pesanan, kami berbincang-bincang seputar bisnis butik yang dijalani oleh Heechul, keadaanku setelah melahirkan Dongwook, kehidupanku dengan Siwon, dan masih banyak lagi. Sampai akhirnya Heechul kembali menyinggung soal keperluanku di gedung tadi.

“Apa yang kau lakukan di tempat pengacara khusus perceraian itu Kyu?” tanya Heechul datar. Aku tahu dia serius menanyakan hal tersebut dan menuntutku agar aku juga menjawab dengan jujur atas pertanyaannya tersebut.

Aku tidak heran bagaimana Heechul bisa tahu bahwa tempat tadi adalah tempat pengacara yang terkenal sebagai pengacara khusus untuk kasus perceraian. Park Hwayoung adalah wanita yang tadi baru saja aku temui. Dialah pengacara yang Heechul maksud. Wanita itu yang akan membantuku pada saat aku akan bercerai dengan Siwon.

Ya. Aku ingin bercerai dari Siwon. Bukan karena aku ingin, oh Tuhan, itu tidak mungkin. Aku sangat mencintai Siwon melebihi apapun. Bahkan melebihi diriku sendiri. Namun aku punya alasan kuat melakukan ini semua. Alasan yang kuat.

“Kyu!” Aku tersentak karena panggilan keras dari Heechul. Aku menatapnya dan melihat bahwa Heechul khawatir dengan keadaanku. Melihatnya secemas itu terhadapku, aku berpikir. Apa sebaiknya aku menceritakan keadaanku kepada Heechul? Tapia pa Heechul mau mengerti?

“Kyu!!” panggil Heechul sekali lagi dan kali ini dia sedikit mengguncang tubuhku.

“Aku ingin bercerai dari Siwon, Chulie.” sahutku langsung. Terkejut, sepertinya raut wajah itu yang sekarang terpampang jelas di wajah cantik tersebut. Saking terkejutnya dia bahkan tidak mendengar aku memanggilnya dengan hanya namanya dan bukan dengan hyung. Dia hanya menatapku dengan pandangan tidak percaya, mengharapkan aku akan tertawa karena telah berhasil mengelabuinya. Tapi kali ini aku tidak bergurau. Aku serius dengan langkah yang akan aku ambil ini.

“Apa kau sudah gila Kyu? Kau dan Siwon adalah pasangan paling sempurna. Kalian sangat menyayangi satu sama lain. Memangnya Siwon berbuat kesalahan apa sampai kau mengambil tindakan seekstrem ini?!” Aku menutup telingaku karena teriakan Heechul membuatku sakit kepala. Hanya saja Heechul mungkin terlalu terkejut dan kesal sehingga dia tidak perduli dengan keadaan sekitarnya. Dia bahkan tidak perduli dengan orang-orang yang ada di café tersebut sekarang menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya.

“Bisakah kau tenang dulu?! Kau membuat kita menjadi tontonan orang.” Tukasku setelah aku menurunkan tanganku, yakin Heechul tidak akan berteriak seperti tadi. Heechul menghela nafas sesaat sebelum akhirnya mengangguk.

Dia menatapku dengan pandangan yang seolah mengatakan ‘sekarang kau harus menjelaskan semuanya magnae setan dan alasanmu harus bisa masuk dalam logikaku, dan jika tidak, kau tahu akibatnya.’ Aku memutar mataku malas karena tatapan Heechul benar-benar menggangguku.

“Aku punya alasan kuat untuk melakukan ini semua ini.” Kilahku agar Heechul tidak ikut campur lagi namun seharusnya aku tahu bahwa disamping Jaejoong, Heechul adalah orang kedua yang tidak akan mundur jika rasa keingintahuannya tidak terpenuhi.

“Dan apa itu?” Lihat. Benar kataku. Dia akan bertanya lagi mencoba menguak apa yang ingin dia ketahui tentang permasalahanku. Aku mendesah pelan. Tampaknya aku harus berterus terang kepada Heechul juga. Aku tidak mungkin menutupinya lagi di saat Heechul sudah memergokiku keluar dari kantor pengacara itu.

“Aku..” sangat sulit untuk mengatakan apa yang akan menjadi kekuranganku. Ternyata ucapanku bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna harus aku tujukan untuk diriku sendiri. Kemana keyakinan diriku saat aku dengan tegas mengucapkan kata-kata itu kepada Jaejoong.

Kemana kepercayaan diriku ketika aku yakin aku sanggup bersama dengan Siwon walau dengan kondisiku nanti. Seiring waktu dan seiring kondisi mataku yang mulai memburuk, keyakinan dan kepercayaan diriku memudar. Aku menatap Heechul sekali lagi sebelum mencoba mengatakan apa yang akan terjadi denganku nanti.

“Aku akan buta saat usiaku mencapai 30 tahunan Chulie.” Kali ini aku bisa mengatakannya dengan tenang.

“Apa?!”

“Aku akan menjadi buta.”

“Aku mendengarmu pertama kali. Aku hanya ingin tahu kenapa kau bisa akan menjadi buta?” Aku tertawa kecil mendengar Heechul yang kesal karena aku berbicara seolah-olah dia tidak mendengarkan aku. Aku menatap mata Heechul yang jelas meminta penjelasan dari semua yang aku sampaikan.

“Aku terkena penyakit glukoma dan sayangnya aku terlambat mengetahuinya.” Jelasku singkat tetapi cukup jelas untuk Heechul karena dia tiba-tiba bangun dari tempat duduknya dihadapanku dan duduk disampingku. Salah satu tangannya menggenggam tanganku, menyalurkan dukungannya untukku. Aku hanya tersenyum menanggapi sikap Heechul.

“Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkanmu?” tanya Heechul pelan. Aku tahu dia sekarang cemas padaku dan ingin membantuku sebisanya. Aku menggeleng pelan, menjawab pertanyaan Heechul tadi.

“Lalu kenapa kau mengambil keputusan untuk bercerai dengan Siwon?” tanya Heechul lagi. Aku melepas genggaman tangan Heechul dengan kasar. Pertanyaannya tadi membuat aku kesal.

“Apa kau tidak mendengar apa yang sudah aku katakan sejak tadi Chulie?! Aku akan menjadi buta!” seruku keras namun tidak terlalu keras, aku tidakingin orang lain menoleh kepada kami akibat suaraku. Aku berharap Heechul bisa mengerti namun sekali lagi aku seharusnya mengenal siapa sahabatku ini. Dia justru semakin menekanku dengan pertanyaannya.

“Lalu? Dimana masalahnya?”

“Dimana masalahnya kau bilang?! Tentu itu akan menjadi masalah besar, Chulie! Apa kau tidak sadar, Siwon itu pria yang memiliki segalanya. Dia itu bisa disebut sempurna, dan aku tahu seberapa sempurnanya dia. Apa kau tidak bisa membayangkan apa kata orang saat mereka mengetahui bahwa seorang Choi Siwon memiliki pendamping yang buta.” Tukasku dengan airmata yang mengalir dengan sendirinya.

“Kyu..” sahut Heechul lirih. Aku rasa dia sedikit merasa tidak enak karena aku menangis. Dia mungkin ingin aku tenang dulu sebelum melanjutkan ceritaku, tetapi aku tidak bisa menanggung ini lagi sendirian. Aku butuh mengeluarkan semua bebanku selama ini kepada seseorang dan Heechullah korbanku saat ini. Aku menghapus kasar airmataku sendiri sebelum berbicara lagi.

“Aku ini lelaki Chulie. Sudah cukup sulit ketika Siwon memilihku diantara beratus bahkan beribu wanita yang mengejarnya. Apa kau tahu apa yang harus dia alami ketika dia menikahiku? Bisnisnya menurun, dia sering dibicarakan negatif oleh rekan kerjanya sendiri, keluarga besarnya sempat mengucilkannya. Walau pada akhirnya penderitaan kami berakhir saat semuanya mengetahui aku bisa hamil dan melahirkan Dongwook.” Jelasku masih dengan linangan airmata. Mengapa mereka mudah sekali turun di saat aku tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain. Heechul mengambil lagi tanganku yang sempat menghempas tangannya. Dia lalu menghapus airmataku dengan ibu jarinya tanpa mencoba menghentikanku untuk mengeluarkan isi hatiku.

“Namun, jika sekarang Siwon harus kembali menderita karena aku buta dan akan menjadi beban untuknya, aku tidak sanggup Chulie. Sekarang saja Siwon harus membiasakan dirinya dengan kebutaanku karena terkadang tiba-tiba pengelihatanku hilang begitu saja. Siwon mulai mengatur ulang rumah dan mengganti perabotan rumah kami dengan benda-benda yang tidak tajam agar aku tidak terluka. Dia harus belajar bagaimana memasak, memandikan Dongwook, menyiapkan keperluan Dongwook, dan hal-hal lain yang seharusnya aku yang mengerjakan. Siwon saat ini bekerja dua kali lipat dan itu menyebabkan dia lelah. Siwon segalanya untukku, Chulie dan jika aku hanya mempersulit hidupnya, lebih baik aku mundur.” Sahutku sambil terus menggelengkan lalu menundukkan kepalaku. Kali ini aku menutupi wajahku agar Heechul tidak melihat secara jelas bahwa aku menangis. Heechul membiarkan aku beberapa saat sampai aku mendengar suaranya lagi.

“Sudah selesai?” tanya Heechul pelan namun ada nada ketegasan di suaranya. Aku menarik nafas dan membuangnya perlahan sebelum mengangkat wajahku dan membersihkan dari sisa airmata dengan sapu tanganku. Aku mengangguk menjawab pertanyaan Heechul.

“Bagus. Sekarang kau yang mendengarkan dan jawab pertanyaanku.” Aku menoleh ke arah Heechul dan menatapnya heran. Apa yang ingin dia tanyakan kepadaku? Apakah penjelasanku masih membingungkannya? Begitu banyak pertanyaan di benakku tapi aku mengisyaratkan Heechul untuk melanjutkan ucapannya.

“Apa Siwon pernah bilang kalau dia menyesal telah menikah denganmu?” tanya Heechul datar. Aku menggeleng sebagai jawabanku.

“Apa Siwon pernah sekali saja tidak berkata bahwa dia mencintaimu?” Aku kembali menggeleng.

“Apa sikap Siwon berubah ketika dia tahu bahwa kau akan buta?” Lagi-lagi jawabanku adalah gelengan.

“Apa Siwon pernah mengeluh dengan apa yang dia lakukan sekarang demi meringankan bebanmu jika nanti kau buta?” Aku tidak menggelengkan kepalaku lagi, melainkan aku kembali menangis karena ucapan Heechul yang menyadarkanku bahwa selama ini Siwon tidak pernah menunjukkan bahwa dia keberatan dengan keadaanku.

“Aku tahu kau sudah mengerti apa maksudku, Kyu. Semua kekhawatiranmu tidak beralasan. Kau bilang Siwon itu sempurna. Siwon sempurna karena dia memilikimu. Siwon sempurna karena dia telah menjadi lelaki yang bahagia karenamu. Siwon sempurna karena dia telah menjadi seorang suami dari Kyuhyun. Siwon sempurna karena dia telah menjadi seorang ayah dari malaikat kecil bernama Choi Dongwook, yang dilahirkan dari rahim Kyuhyun. Semua yang Siwon miliki sekarang, itu semua dari dirimu Kyuhyun.” Sahut Heechul sambil membelai lembut rambutku. Aku terus saja menangis merutuki kebodohanu sendiri. Aku selalu bimbang karena permasalahan ini. Terkadang aku tegar, terkadang aku lemah sampai aku memutuskan untuk bercerai dengan Siwon. Kenapa aku bisa seperti ini.

“Sekarang pertanyaan terakhirku. Apa kau bisa membayangkan hidupmu tanpa Siwon? Apa kau sanggup membiarkan Siwon justru semakin menderita ketika kau mengambil kesempurnaannya? Jika kau bercerai, kau akan mengambil kebahagiaannya. Kau akan mengambil istrinya. Kau akan mengambil ibu dari anaknya. Apa Siwon masih bisa dikatakan sempurna jika dia kehilangan itu semua?” kata itu lagi. Sempurna. Kali ini aku mendengar orang lain mengucapkan itu kepadaku. Ironis sekali.

“Di dunia ini tidak ada yang sempurna Chulie.” Nampaknya perkataan itu sudah mendarah daging karena lidahku begitu saja menyampaikan itu tanpa bisa aku cegah.

“Karena tidak ada yang sempurna, maka orang lain akan mencari kesempurnaan itu dari belahan jiwanya sayang. Dan kaulah belahan jiwa Siwon. Kau seharusnya bersyukur kau masih memiliki suami sebaik Siwon. Lihat aku, aku kehilangan belahan jiwaku dan sampai sekarang aku belum bisa melupakannya.” Perkataan Heechul tadi semakin membuatku seperti orang bodoh dan tidak mensyukuri apa yang sudah aku miliki. Aku menatap Heechul dengan perasaan malu yang menyergapku. Heechul hanya tersenyum simpul melihat tampang tidak enakku akan kondisinya. Heechul masih betah untuk membelai rambutku sambil melanjutkan lagi ucapannya.

“Kau hanya merasa khawatir yang berlebihan Kyu. Aku yakin, setelah kau mendinginkan kepalamu, kau akan tahu bahwa masalahmu bisa kau hadapi jika kau bersama dengan Siwon.” Aku hanya diam, memalingkan wajahku menatap gelas kopi di depanku. Aku mulai merasa tenang dan memikirkan kata-kata Heechul barusan. Ya, sepertinya aku memang terlalu terburu-buru. Aku terlalu emosional dalam hal ini. Aku..

“Hei! Kemana magnae setan yang tak kenal menyerah dan selalu menggangguku itu?” aku tertawa kecil mendengar godaan Heechul. Aku memalingkan wajahku lagi menghadap Heechul. Aku menghela nafas pelan.

Aku mulai memikirkan semua pembicaraan kami. Heechul benar. Aku memang tidak bisa tanpa Siwon. Jangan harus berpisah darinya, tidak berbicara dan dekat dengannya seperti saat ini sudah membuatku sakit dan terpuruk. Oh Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku bisa bertindak tanpa memikirkan dulu konsekuensinya. Dan kenapa harus orang lain yang mengingatkan aku akan hal ini? Aku menggelengkan dan menundukan wajahku lagi, berupaya menghilangkan pemikiran bodohku.

“Kau tahu Chulie, aku tak bisa menutupi bahwa aku cemas jika suatu hari nanti Siwon akan sadar bahwa semua yang dia lakukan sia-sia. Bahwa kebutaanku hanya membuatnya terkekang dan pada akhirnya dia akan meninggalkanku.” Sahutku pelan tanpa memandang Heechul.

“Kyuhyun..” keluh Heechul tidak setuju. Tapi aku langsung mengangkat kembali wajahku dengan senyuman sedih dan mengisyaratkan dia untuk membiarkan aku bicara.

“Tidak, tidak. Aku sudah paham Chulie. Aku tidak akan berpikir untuk bercerai dengan Siwon lagi, hanya saja, jika dia benar-benar meninggalkanku, apa aku sanggup terus hidup?” ucapku ragu dan takut jika hal itu benar-benar terjadi. Jika Siwon meninggalkanku suatu hari.

“Kau akan tetap hidup Kyu, kau punya aku, kau punya Jaejoong, kau punya Jiyong, dan kau punya Dongwook.” Aku tersenyum mendengar kata-kata Heechul barusan. Ya, aku memang memiliki mereka, tapi tetap saja, ada ketakutan tersendiri seandainya Siwon tidak berada disisiku lagi. Sepertinya Heechul mengerti kegundahan hatiku karena selanjutnya aku merasakan Heechul menangkupkan kedua tangannya di pipiku dan mengarahkan ke arah luar jendela café ini.

“Tapi sepertinya kau harus terikat lebih lama dengan kuda itu.” Ucap Heechul kemudian melepaskan pipiku.

“Huh?!” aku bingung dengan perkataannya tadi sampai dia menunjuk ke arah luar. Aku mengikuti petunjuknya dan melihat seseorang berdiri di dekat mobilnya yang terparkir rapi. Dia terlihat sedang menghubungi seseorang dan tampak jelas kepanikan di wajahnya. Aku membuka mataku lebar-lebar karena aku tahu siapa dia.

“Siwon?” Aku bisa merasakan senyuman Heechul ketika melihat keterkejutanku yang terus melihat ke arah Siwon yang masih sibuk dengan ponselnya. Aku sadar bahwa dia sedang menghubungiku karena getaran dari ponsel di dalam tasku.

“Tampaknya dia panik sekali Kyu. Sebaiknya kau hampiri dia.” Saran Heechul. Aku agak ragu namun anggukan Heechul membuatku segera mengambil tasku dan bergegas keluar dari café. Tidak lupa aku memeluk Heechul sesaat dan berterima kasih padanya sebelum melangkah keluar. Heechul hanya membalas memelukku sekedarnya dan melambaikan tangannya mengantar kepergianku.

Aku menunggu di bawah lampu merah sampai aku bisa menyebrang sebelum berlari menghampiri Siwon yang masih setia berdiri si samping mobilnya. Aku bisa mendengar gerutuannya serta nada kepanikan dari suaranya ketika aku berdiri dibelakang suamiku ini. Siwon masih tidak menyadari keberadaanku sampai aku memeluknya dari belakang. Aku melingkarkan kedua lenganku pada pinggangnya dan merebahkan kepalaku pada punggung kekarnya. Aku merasakan keterkejutan Siwon karena pelukan mendadakku tapi dia mulai rileks ketika dia bisa merasakan bahwa akulah yang memeluknya.

“Baby?”

“Biarkan aku begini Wonnie. Biarkan aku menikmati kehangatanmu.” Aku tidak tahu seperti apa wajah Siwon sekarang, mungkin tersenyum lembut menampakkan lesung pipi kesukaanku itu. Satu hal yang pasti, Siwon memegang erat lenganku yang melingkari pinggangnya. Sesekali dia membelai lembut lenganku itu.

Aku memang tidak tahu apa yang akan terjadi nanti dan aku juga tidak tahu bagaimana aku harus menghadapi jika apa yang kutakutkan mungkin saja terjadi. Namun aku tahu bahwa yang diucapkan Heechul tadi akan selalu menjadi peganganku untuk bisa menentukan setiap keputusanku. Heechul, yang belahan jiwanya telah diambil oleh Yang Maha Kuasa, telah menyadarkanku bahwa aku harus menghargai apa yang sudah aku miliki. Bahwa belahan jiwaku masih di sini, mendukungku, menemaniku, mencintaiku.

Aku semakin mengeratkan pelukanku dan membenamkan wajahku di punggungnya. Punggung hangat suamiku. Suamiku yang aku cintai. Suamiku. Milikku.

End Kyuhyun P.O.V

END

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Selesai. Hore!! You’re My All end di part ini yak. Moga-moga amazing readers suka, meskipun ada beberapa typo & alur yang ga menentu >.<

Sankyu and peace all

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, and Krisho 😀

^^n4oK0^^

Advertisements