Tags

, , , ,

Wish 2( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Wish 1

Pairings : Wonkyu, Yunjae, maybe others later

Disclaimer : All casts are belong to their self and God and manga WISH belong to CLAMP

Inspired : Manga Wish by the amazing mangakas CLAMP

Warning : Un-betaed, BL, OOC, Romance, Fantasy, AU

Summary : Some wishes can’t be fulfilled alone

( 。・_・。)(。・_・。 )

Malam itu tidak seperti malam biasanya. Malam itu langit cerah dipenuhi dengan taburan bintang-bintang. Angin dingin tidak membuat seseorang yang terlihat baru saja pulang dari tempat kerjanya kedinginan dan secepatnya berjalan karena dia masih menikmati indahnya langit di malam hari dan suasana sepinya malam. Orang tersebut sungguh menikmati tenangnya malam tersebut sampai dia mendengar isakan seseorang dari balik pepohonan yang tertutupi setengah oleh pagar tembok. Malam itu memang bukan malam biasa karena sejak orang tersebut mendengar isakan itu dia bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak terbayangkan olehnya.

Siwon P.O.V

Aku baru saja pulang dari rumah sakit setelah melakukan operasi terakhir kepada bocah berumur tiga tahun. Aku tersenyum lega karena operasi tersebut seperti biasa sukses dan bocah tersebut selamat. Aku paling suka jika melihat raut wajah lega dan bahagia dari orang tua setiap anak yang berhasil aku selamatkan nyawanya. Bagiku, senyuman tulus dan pandangan bahagia mereka adalah bayaran terbesar dalam karirku sebagai dokter bedah anak.

Aku melanjutkan langkahku dengan santai menuju rumah yang aku tempati sendiri sambil menikmati suasana malam yang sepi karena memang siapa yang berjalan-jalan larut malam seperti sekarang. Aku senang kesunyian seperti sekarang terlebih lagi langit malam hari ini begitu indah dengan taburan bintang-bintang. Suasana ini melengkapi hariku yang berjalan baik seperti biasanya.

Aku sudah hampir sampai ke rumahku ketika samar-samar aku mendengar suara isakan tangis seseorang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencoba mencari sumber suara itu. Tampaknya suara itu dari atas. Aku menengadahkan kepalaku melihat pepohonan di balik pagar tembok rumah seseorang dan aku sedikit kaget melihat ada sesuatu yang tersangkut di dahan pohon tersebut. Sesuatu itu seperti boneka manusia ukuran anak-anak.

Boneka lucu dengan pipi bulat dan rambut ikalnya yang terlihat fluffy seperti gumpalan awan. Kulitnya putih kontras dengan bibir penuhnya yang berwarna sama seperti buah cherry. Benar-benar lucu dan imut. Terlebih lagi sekarang boneka itu matanya sedikit bengkak dan pipinya memerah mungkin karena menangis lama. Tunggu dulu, memang ada boneka yang bisa menangis sungguhan.

Ah! Dia bergerak. Tangannya yang gempal itu mengusap-usap matanya mencoba menghapus airmata dan bekasnya dari pipi bulatnya itu. Tapi sepertinya airmata itu masih betah mengalir. Aku terdiam saja menyaksikan boneka itu menghapus airmatanya. Aku masih berpikir apakah yang aku lihat sekarang hanya halusinasi apa kenyataan.

“Hiks.. hiks..” isak boneka itu. Oh ternyata benar boneka ini yang menangis. Lupakan dulu apakah ini nyata atau tidak. Sepertinya dia sedang dalam kesulitan.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku pelan. Kali ini boneka itu berhasil menghentikan tangisannya. Dia mencoba tersenyum meski wajahnya masih memerah sehabis menangis.

“Ah manusia. Selamat malam.” Sapanya sopan. Ah! Dia juga bisa bicara. Sepertinya dia bukan boneka tapi dia juga bukan anak-anak. Mana ada anak kecil yang berkeliaran sendirian malam-malam begini? Aku baru saja akan bertanya lagi kepada makhluk kecil ini ketika tiba-tiba ada seekor burung gagak yang terbang ke arah si lucu itu dan berusaha mematuknya. Namun tentu saja aku tidak membiarkan makhluk lucu itu kesakitan karena patukan burung hitam itu.

Aku langsung mengusir gagak tersebut dengan melempar baru kerikil ke arahnya sekaligus melepaskan kaitan baju putihnya dari dahan pohon tersebut. Dia sempat terlepas dari tanganku namun dengan sigap aku menangkap tubuh kecilnya dan menggendongnya dengan satu tangan. Dia lumayan ringan sehingga aku tidak perlu menggunakan tenaga untuk menggendongnya dan tanpa aku duga tubuhnya hangat. Jadi dia sudah pasti mahkluk hidup dan bukan boneka.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku lagi memastikan bahwa burung gagak tadi tidak melukainya. Dia tersenyum lalu tiba-tiba melayang dari tanganku yang membawanya. Mungkin karena aku lelah, aku tidak terlalu terkejut atau panik seperti kebanyakan orang. Aku hanya melihatnya terus dan mencoba menjawab sendiri pertanyaan yang ada dalam benakku. Pertanyaan tentang apa yang ada dipunggung makhluk kecil itu. Apa itu sayap?

“Terima kasih tuan. Anda baik sekali. Siapa nama anda?” tanyanya masih dengan senyum manisnya itu. Dia juga membungkuk hormat kepadaku. Aku menatapnya lalu menjawab singkat.

“Siwon. Choi Siwon.”

“Siwon. Namaku Kyuhyun. Terima kasih karena anda sudah menolongku. Aku tak bisa terbang dengan baik jika malam hari tiba. Aku juga tidak bisa kembali ke wujud asliku pada malam hari.” Jelas makhluk itu masih dengan senyum yang terkembang di wajahnya. Wajahnya berbinar senang dan sepertinya dia senang berada didekatku karena makhluk ini terbang mengelilingiku sambil sesekali mengelus bahuku lembut dan terkikik geli.

Sementara aku, aku tak bisa melepaskan pandanganku dari benda yang seperti sayap yang menempel di punggul si mungil. Tanpa berpikir, tanganku meraih benda seperti sayap itu dan menariknya, memastikan apakah benda itu asli atau tidak.

“Aww!!” pekik si mungil lalu menjauh dariku ketika aku menarik sayapnya. Dia kesakitan, berarti benda itu benar-benar sayap yang menempel di tubuhnya. Aku menatapnya sedikit bingung sedangkan dia merengut, mengerucutkan bibirnya imut membuatku sedikit merasa bersalah karena sudah menarik sayapnya. Aku mengelus rambut coklat madunya itu sebagai tanda permintaan maafku dan dia sepertinya puas dengan tindakanku itu.

“Kau itu apa? Kenapa kau memiliki sayap?” tanyaku penasaran.

“Oh ini. Mungkin aneh untuk manusia ya. Tapi hal ini wajar jika anda selalu bertemu dengan malaikat. Malaikat memang memiliki sayap seperti milikku ini.” Jawabnya lalu tersenyum lagi. Aku berusaha memahami perkataan tadi.

“Apa katamu tadi? Malaikat?” tanyaku lagi memastikan apakah pendengaranku berfungsi dengan benar atau tidak.

“Ya, aku malaikat.” Tegasnya lagi dengan suara yang lembut.

Satu detik…

Dua detik…

Dan detik berikutnya aku sudah berbalik dan melangkah dengan cepat meninggalkan si mungil.

“Eh?!! Tunggu tuan. Jangan pergi! Anda sudah menolong saya, saya harus membalas budi tuan. Tuan!” si mungil itu terus memanggilku namun aku tetap saja berjalan. Tampaknya aku memang terlalu lelah dengan operasi yang aku jalani hari ini. Delapan jam di ruang operasi terus menerus memang bisa membuat seseorang menjadi berhalusinasi.

“Aku harus mulai mengatur jadwal operasiku karena sepertinya aku terlalu banyak menerima kasus dari rumah sakit. Bagus aku memilih untuk pulang berjalan kaki tadi. Jika aku membawa mobil bisa-bisa aku menabrak karena sekarang aku yakin aku sedang berjalan sambil tidur.”

“Tuan, anda sadar sepenuhnya. Anda tidak sedang tidur.” Suara manis itu lagi. Aku berhenti dan berbalik. Aku menemukan si mungil sudah ada disampingku dengan nafas yang terengah-engah. Kelihatannya dia mengejarku sedari tadi.

“Tadi tuan bilang operasi. Tuan dokter?” tanyanya. Tapi aku tidak menjawabnya. Aku justru menatapnya yang sedang mengatur nafas walau setiap melihatku dia selalu meyunggingkan senyum kepadaku. Dia kelihatan lelah sekali. Ah, tadi dia bilang kalau dia tidak bisa terbang dengan baik jika di malam hari. Apa aku yang membuatnya selelah itu?

Aku menatapnya lagi. Si mungil ini masih saja menatapku dengan sorot mata berbinar dengan bola matanya yang bulat itu, membuat wajahnya tampak lebih imut. Melihatnya seperti itu aku jadi tak tega, namun pikiranku masih berputar dengan semua ini. Kenapa makhluk lucu ini muncul dihadapanku? Terlebih lagi, kenapa dia mengikutiku terus? Oh, tunggu dulu. Tadi dia bilang membalas budi. Budi apa?

“Kenapa kau mengikutiku?”

“Aku ingin membalas budi baikmu tuan karena anda terlah menolongku tadi.”

“Menolong apa? Mengusir gagak tadi?”

“Dan melepaskan aku dari dahan pohon tadi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tuan tidak menolongku.”

“Kau tidak usah membalas budi segala. Itu bukan apa-apa.”

“Tapi tuan..” aku tidak mendengar lagi kelanjutan ucapannya. Aku terus berjalan sampai ke rumahku. Aku mengira si mungil akan pergi karena aku tidak menggubrisnya, tapi ternyata dia justru mengikutiku sampai ke rumah sambil terus mengoceh tentang membalas budi dan ketika aku memasuki rumahku, si mungil juga ikut masuk. Aku menghela nafas panjang sebelum berbalik lagi menghadapinya.

“Dengar mungil. Aku sudah lelah. Kau boleh tetap mengikutiku atau pergi.” Sahutku pelan lalu berbalik lagi dan menuju kamarku.

“Apakah aku boleh tinggal di halamanmu. Anda memiliki halaman yang luas dan asri.”

“Terserah. Besok pagi juga aku akan bangun dari mimpi ini.”

“Hihihi.. Anda lucu sekali tuan. Sudah aku bilang anda tidak tidur jadi tidak mungkin anda bermimpi. Tapi terima kasih tuan memperbolehkan aku tinggal disini. Besok pagi aku akan mengabulkan apapun keinginanmu.” Sahutnya lagi lalu terbang ke salah satu pohon dan menhilang dibalik daun-daunnya.

Aku pun segera masuk ke kamar dan mengganti bajuku dengan baju tidur. Sebelum aku merebahkan diriku di tempat tidur aku masih sempat melihat pohon yang menajdi pilihan di mungil untuk tinggal. Apa benar semua ini nyata? Atau memang mimpi aneh karena aku terlalu lelah. Ah, sudahlah. Kita lihat saja besok pagi.

Esok Pagi

Aku terbangun karena mendengar suara kicauan burung dari halaman depanku. Terlebih lagi sinar matahari pagi yang menyilaukan telah masuk ke dalam kamarku dari celah-celah tirai. Aku bangkit dari tempat tidurku dan mengingat peristiwa kemarin malam. Dengan perlahan, aku keluar dari kamar dan menuju halaman depan, tepatnya ingin memeriksa apakah si mungil adalah nyata atau hanya halusinasiku saja.

“Selamat pagi tuan.” Sahur suara merdu seperti yang aku dengar semalam. Aku mengusap kedua mataku, menghilangkan kantuk dan menatap makhluk imut yang sekarang tersenyum dan melayang di depanku.

“Tampaknya aku kurang tidur.”

“Tuan, sampai kapan anda mau tidur. Aku nyata tuan.”

“Kau masih disini?”

“Tentu saja. Tuan, halaman tuan indah sekali. Banyak sekali pohon rindangnya.”

“Kau..”

“Oh, maafkan aku tuan. Aku akan mengenalkan diriku lagi. Mohon tunggu sebentar.” Ucapnya lembut lalu secara tiba-tiba ada sinar yang menyilaukan yang membuatku sedikit memicingkan mata.

Beberapa detik kemudian, didepanku bukan lagi si mungil tetapi sosok seseorang yang bertubuh ramping dengan rambut coklat madu sama seperti si mungil dan wajah yang boleh aku bilang cantik. Sayap si mungil yang lucu dan imut sudah mengembang sempurna dan membuat orang didepanku sekarang melayang.

“Salam kenal tuan. Namaku Kyuhyun. Aku malaikat.” Sapanya lagi seperti kemarin malam. Aku menatap orang bernama Kyuhyun ini dengan datar.

“Aku memang kurang tidur.”

“Tuan! Aku ini benar malaikat. Kenapa anda tidak mau percaya?!” Rengeknya manja kembali mengejarku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap berjalan menuju kamarku walau aku sempat melihat matanya yang berkaca-kaca dan wajahnya yang merengut karena aku tidak mempercayai keberadaannya.

Aku baru akan menutup tubuhku dengan selimut untuk kembali tidur, ketika Kyuhyun tiba-tiba sudah berada di dalam kamarku dan memandangku dengan sorot mata yang sama, berbinar senang. Bagaimana dia bisa masuk lebih dulu ke kamarku? Oh, aku lupa. Dia punya sayap dan ini adalah mimpi.

“Apa aku sebegitu lelahnya sampai mimpi ini tidak pernah berakhir?” tanyaku pada diri sendiri. Saat aku menggumamkan itu, Kyuhyun mendekatiku lalu menarik salah satu tanganku. Dia membuka telapak tanganku dan meletakkan tanganku yang sudah terbuka di pipi bulatnya.

“Anda tidak bermimpi tuan. Aku nyata. Rasakanlah.” Sahutnya. Aku menghela nafas. Tampaknya aku memang tidak bisa lagi mengalihkan pikiranku sendiri dan bersikukuh bahwa ini adalah mimpi. Kyuhyun nyata karena dia hangat. Sehangat mentari pagi.

“Terserahmu saja.” Ketika aku menjawabnya seperti itu, Kyuhyun hanya tersenyum dan terus menggenggam tanganku yang masih berada dipipinya dengan erat. Aku mengambil kembali tanganku dan menatap Kyuhyun lagi. Dia masih saja tersenyum. Kami terus bertatapan sampai Kyuhyun memulai permbicaraan.

“Tuan.” Panggilnya perlahan.

“Hm?” balasku tak terlalu perduli.

“Aku ingin membalas budi tuan dengan mengabulkan satu permintaan tuan.” Sahutnya lagi.

“Permintaan?” tanyaku.

“Ya tuan.” Jawabnya sambil mengangguuk lucu.

“Aku tak punya permintaan apapun.” Ucapku lagi dan kali ini mata bulatnya itu membuka lebar karena terkejut dan tidak mengira aku akan berkata begitu.

“Eh?”

“Biasanya orang yang membuat permintaan atau keinginan adalah mereka yang merasa hidupnya belum lengkap atau mereka yang merasa kurang dalam hidup mereka. Sedangkan aku, aku tak pernah merasa ada yang kurang dalam hidupku sehingga aku tidak mempunyai keinginan apapun.” Jelasku.

“Ta..tapi tuan, aku perlu memberikan sesuatu kepadamu sebagai imbalan karena anda sudah menolongku.”

“Aku tidak perlu kau membalasku jadi kau tidak perlu memberikan aku satu permintaan. Dengar, aku punya pekerjaan yang bagus. Aku tidak terlilit hutang atau masalah dengan keuangan. Hidupku menyenangkan.” Jelasku lagi karena ingin agar dia mengerti bahwa aku tidak merasa membutuhkan apa-apa

“Lagipula, jika aku memiliki suatu keinginan atau apapun itu, bukankah lebih baik aku raih dengan kekuatanku sendiri.” Tegasku sambil menatapnya datar tapi mungkin baginya sedikit tajam karena yang aku tahu dia sedikit menjauh karena gugup.

“Em.. itu memang benar, tapi.. tapi.. Ah! Bukankah ada beberapa permintaan yang memerlukan keajaiban.” Sahutnya lagi. Dia benar-benar keras kepala.

“Benarkah? Seperti apa?”

“Em.. itu.. itu..”

“Sudahlah. Mungkin aku sedang berada dalam masa orang berevolusi sehingga dia bisa mempunyai sayap seperti malaikat.” Ucapku asal. Aku memang masih belum percaya sepenuhnya dengan masalah malaikat ini. Aku manusia, apakah manusia bisa melihat malaikat dengan mudahnya?

“Tapi aku memang benar malaikat tuan.” Ucapnya bersikeras. Aku memandangnya lalu menghela nafas, lagi.

“Sudahlah. Bagiku mengabulkan keinginan itu hanya sesuatu yang tidak penting.”

“Tapi tuan, aku belum membalas budimu.” Sahutnya terus saja mengatakan hal yang sama. Rupanya dia keras kepala juga. Aku tidak menghiraukannya lagi. Aku justru kembali keluar dari kamarku dan menuju halaman lagi. Aku hampir saja lupa untuk menyiram semua tanaman dan pepohonan di halaman rumahku yang terbilang luas itu. Aku baru akan membuka keran yang memang sudah aku hubungkan dengan selang air sehingga setiap harinya aku tidak perlu repot lagi.

“Apa yang anda lakukan tuan?” tanya Kyuhyun sedikit mengagetkanku. Kenapa dia suka sekali mengendap-endap di belakangku.

“Aku mau menyiram halaman.” Jawabku singkat. Dia kembali menangkupkan tangannya senang lalu melayang ke depanku.

“Biarkan aku yang melakukannya tuan.” Lalu tanpa menunggu persetujuanku, Kyuhyun membaca sesuatu, mantra atau doa mungkin, karena beberapa saat kemudian, tubuhnya kembali bersinar dan dalam sekejap selang air yang sudah tersambung dengan keran terlepas sehingga air mengucur keluar seperti biasanya. Bedanya, jika air mengalir kebawah, air ini justru meliuk-liuk seperti pusaran air dan ketika sampai ditengah halaman, air tersebut menyebar ke semua penjuru halaman, membasahi setiap tanaman dan pohon yang ada.

Aku cukup terkesima juga dengan pusaran air tersebut. Cukup indah karena ditambah dengan sinar matahari dan juga sinar dari tubuh Kyuhyun. Saat itu juga aku melihat wajah Kyuhyun yang terlihat semakin cantik dengan aura, yang mungkin boleh aku bilang, aura malaikat. Kyuhyun ternyata memang benar malaikat.

“Sudah tuan.” Aku sedikit tersentak ketika dia memanggilku lagi. Aku tidak memperhatikan bahwa tubuh Kyuhyun sudah tidak bercahaya lagi dan aku juga bahkan tidak sadar bahwa aku basah kuyup karena guyuran airnya. Justru Kyuhyulah yang sadar bahwa aku sudah seperti mandi tanpa melepaskan baju.

“Tuan!”

Dalam Rumah

“Tuan maafkan aku. Aku tidak sengaja. Kumohon maafkan aku..” sahutnya terus menerus meminta maaf kepadaku. Aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca bahkan ada sebulir airmata di sudut matanya. Kyuhyun ternyata cengeng juga.

“Sudahlah. Aku tidak masalah dengan tadi. Aku rasa kita impas karena kau juga sudah membantuku menyiram halamanku yang luas itu.”

“Aku memang ceroboh, tapi aku janji aku akan lebih baik dari ini. Aku pasti akan membalas kebaikanmu tuan.”

“Sudah aku bilang berulang kali, aku tidak membutuhkan apapun.”

“Jika memang begitu, maka aku akan menunggu sampai tuan memiliki keinginan. Tuan, aku tidak bisa pulang ke surga jika aku belum membalas kebaikanmu. Jadi kumohon biarkan aku tinggal disini” pintanya memelas. Aku menatap matanya yang seperti anak kucing yang meminta sesuatu. Lalu tiba-tiba saja Kyuhyun berubah lagi menjadi versi anak-anaknya, menjadi Kyuhyun yang mungil lagi dan meremas bagian bawah celanaku.

“Kau tidak perlu khawatir untuk kebutuhanku. Malaikat tak perlu makanan dan jika aku kecil seperti ini, kau bahkan tidak akan sadar bahwa aku ada. Aku akan menyiram halamanmu setiap hari. Jadi kumohon..” pintanya lagi. Kami saling bertatapan selama beberapa menit sampai akhirnya aku menghela nafas lagi untuk kesekian kalinya sejak semalam.

“Ini negara bebas. Jadi..” aku sengaja menggantung ucapanku karena melihat raut wajahnya yang seperti biasanya, berbinar senang dan mulutnya yang tertarik membentuk senyum dan pada akhinya tawa lucu.

“Terima kasih tuan.” Ucapnya berterima kasih. Aku hanya mengangguk dan kembali mengeringkan rambutku yang masih basah.

“Tuan..”

“Ya?”

“Aku pasti akan mengabulkan permintaanmu.”

“Kau ini keras kepala juga ya. Aku tidak mempunyai permintaan yang bisa kau kabulkan.”

“Anda belum tahu saja tuan. Setiap orang memiliki sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan, setiap orang memiliki keinginan yang tidak bisa diraih seorang diri. Cepat atau lambat, tuan pasti memiliki keinginan itu.” Ucapnya sambil terbang mengelilingi diriku. Aku mengikutinya dengan mataku. Kemudian Kyuhyun terbang ke arah kehadapanku dan mengusapkan tangan gempalnya di pipiku.

“Dan saat tuan memiliki keinginan itu, tuan tidak akan menyesal karena aku yang akan membantu tuan mengabulkannya.”

“Terserahmu saja.” Kyuhyun tertawa geli mendengar jawabanku. Kami terdiam lagi sejenak sampai Kyuhyun kembali membuka suaranya. Tampaknya malaikat satu ini senang sekali berbicara denganku.

“Tuan, bolehkah aku memanggilmu Siwon?” tanyanya penuh harap. Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya dan bisa dipastikan dia gembira. Kyuhyun kembali terbang kesana kemari lalu berhenti di depanku.

“Panggil aku Kyuhyun saja ya. Salam kenal Siwon.” Sahutnya. Kembali aku hanya mengangguk sebelum pergi ke arah dapur untuk membuatkan sarapan. Sedangkan Kyuhyun masih saja mengikutiku kemana pun aku pergi. Kami berdua terlalu terpusat pada diri kami sendiri sehingga tidak menyadari bahwa pusaran air yang telah disihir oleh Kyuhyun masih saja meliuk-liuk di tengah halaman.

TBC

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Ini salah satu manga favorite Nao, so Nao ga habis pikir kenapa FF ini belum Nao repost -__-

Hi, Nao again… Karena masih belum ada mood untuk lanjut FF yang lain, makanya Nao kembali repost (berhubung KIRA belum bisa bantu Nao repost karena long holiday).

Nao sendiri belum nerusin FF ini bukan karena plotnya ga ada tapi karena kena penyakit malezzz >_<

Oke, sampai sini aja dulu, udah kebanyakan ngomong padahal ini Cuma repost. Moga masih ada yang inget dan suka sama FF ini.

Gomenasai untuk typos and all kegajean dari FF ini. Don’t forget to leave a comment…

Oh btw, image diatas itu sedikit image dari manga aslinya.. Bayangin aja kyumom and wondad seperti itu.. Hihihi..

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, Krisho 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements