Tags

, , , , , , ,

Title : The Worst 1 – Sequel Teruskanlah

Pairing/Charas : Krisho, a bit Wonkyu, Sehun, Tao, and later many more

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, Jhene Aiko and her label company

Inspired : The Worst by Jhene Aiko

Warning : Un-betaed, GS, OOC, OC, AU, Angst, Romance

( 。・_・。)(。・_・。 )

Kepada Kris Wu yang sangat aku cintai,

Krisku sayang. Ah, mungkin ini akan menjadi kata sayangku yang terakhir untukmu Kris. Aku mungkin tidak bisa lagi memanggilmu demikian karena untuk apa aku memanggilmu begitu jika kau akhirnya hanya menatapku jijik seolah-olah aku ini sampah.

Tapi sudahlah, mungkin memang itu arti diriku bagimu sekarang. Aku tidak tahu sejak kapan kau begitu membenciku tapi aku bersyukur kau tidak pernah ringan tangan kepadaku. Aku bersyukur kau tidak pernah mengusirku secara terang-terangan. Aku bersyukur, karena mungkin kau tidak melakukannya karena kau masih memiliki sedikit rasa cinta kepadaku.

Kris, begitu banyak pertanyaan yang tersimpan di hatiku. Aku tak pernah sempat bertanya kepadamu, tapi sekarang akan aku tanyakan.

Kau siapa Kris? Apa kau kekasihku? Kris kekasihku yang begitu menyayangiku, yang selalu tersenyum dan memanjakan diriku, yang selalu ada untukku saat suka dan duka. Kris yang suka memelukku dengan erat sampai terkadang aku sulit bernafas. Kris yang menciumku terkadang lembut dan juga terkadang penuh gairah, menuntut agar aku menyerah dalam kungkungan cintamu. Kris yang terus mengatakan cintanya kepadaku, Kris yang membuktikan cintanya kepadaku, Kris yang berjanji akan terus mencintaiku sampai maut memisahkan kita.

Kau bukan dia Kris. Kau orang lain yang berada dalam raga kekasihku Kris.

Mungkin akulah yang salah. Mungkin aku yang tak becus mengurusmu. Mungkin aku yang bodoh karena sempat menunda pernikahan kita karena keinginanku untuk menyelesaikan kuliahku. Mungkin karena itu kau merasa aku tak serius denganmu. Mungkin karena itu kau tak menganggapku lagi sebagai kekasihmu. Kau menganggapku sebagai pembantumu, sebagai orang yang menumpang di apartemen yang seharusnya menjadi milik kita berdua. Kau mungkin lebih menganggapku sebagai patung penghias rumahmu.

Kris, kau bukan kekasih yang aku cintai dulu meski entah hatiku yang tolol atau aku yang terlalu keras kepala karena masih menyimpan rasa tersiksa ini. Kau bukan Krisku dan untuk itu, aku akan pergi. Kau bebas Kris. Kau bebas dengan duniamu. Kau bebas bergaul dengan siapa saja. Kau bebas berkencan dengan siapa saja karena aku bukan lagi kekasihmu. Kau bisa teruskan apa yang kau anggap baik untukmu.

Aku dan dia, calon bayiku, akan pergi dari kehidupanmu. Kami akan memulai semuanya dari awal, tanpa kehadiranmu. Kau tak perlu cemas jika dia suatu saat datang dan memintamu mengakuinya sebagai ayah karena bayiku tidak memiliki ayah. Dia hanya memiliki aku, ibunya.

Selamat tinggal Kris. Aku berterima kasih karena kau sempat mengisi hari-hariku dengan kenangan indah. Ini terakhir kalinya kau akan mendengar kabar dariku.

Semoga kau bahagia.

Dari Choi Suho yang pernah, kini dan selalu mencintai Kris Wu di dalam hatinya.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Ruang bersalin itu dipenuhi erangan-erangan kesakitan dan suara dukungan dari setiap orang yang berada di dalamnya. Di ruang antara hidup dan mati itu, terbaring di ranjang persalinan seorang wanita yang sampai saat ini masih bersusah payah untuk menghadirkan buah hatinya ke dunia.

Ditemani seorang wanita cantik berambut ikal kecoklatan yang sayangnya harus tertutup topi untuk operasi, calon ibu muda itu terus berusaha sekuat tenaganya, mengejang, mendorong bayi yang telah dikandungnya selama sembilan bulan lebih.

Dokter dan para suster yang menangani persalinan itu pun masih dengan segenap keahliannya mencoba menyelamatkan keduanya. Mereka semua sudah di ruangan ini selama berjam-jam. Dokter tersebut benar-benar ingin agar keduanya selamat, namun dilihat dari raut wajahnya yang terlihat penuh sesal, dengan berat hati dia mungkin harus melakukan apa yang telah disepakati dengan keluarga calon ibu tersebut sebelum mereka masuk ruang bersalin ini.

Meski pun begitu, meski keadaan sang ibu dan sang bayi tidak terlalu baik, sampai detik ini sang dokter masih bertekad bahwa keduanya harus bisa dia selamatkan. Dokter itu melaksanakan tugasnya dengan memanjatkan doa kepada Tuhan untuk dapat memberikan kekuatan kepadanya demi keselamatan wanita dan juga bayi yang sedang menunggu untuk bisa melihat dunia, seberapa kejamnya dunia itu nanti.

.

.

.

Beberapa Jam Kemudian

“Oek!! Oek!!” Suara tangis bayi perempuan menggema di ruang bersalin tersebut. Semua orang menarik dan membuang nafasnya lega karena satu jiwa telah dilahirkan dengan selamat. Sedangkan sang ibu masih terbaring lemah walau terlihat senyuman manis dan linangan airmata kebahagiaan karena dia bisa melihat buah hatinya hadir di dunia ini.

“Kau hebat baby Su. Kau hebat. Eonnie bangga padamu. Oh sayang, eonnie bersyukur kau selamat. Eonnie menyayangimu.” Ucap wanita yang ternyata Kyuhyun itu kepada Choi Suho, adik iparnya. Mendengar puji syukur dan kata-kata sayang dari Kyuhyun membuat Suho memalingkan sejenak perhatiannya dari sang buah hati dan tersenyum kepada wanita yang telah sangat berjasa kepada dirinya itu. Wanita yang merupakan istri kakaknya yang sudah menyayangi dirinya seperti adik kandungnya sendiri.

“Eonnie… Terima kasih eonnie… Terima kasih eonnie sudah berada bersamaku selama ini. Aku juga menyayangi eonnie.” balas Suho tersenyum dengan linangan airmatanya. Kyuhyun membelai rambut Suho dengan penuh kasih sayang. Wanita cantik itu lalu mengecup kening Suho sebelum berpamitan keluar, ingin memberi tahu Siwon bahwa dia sudah memiliki keponakan perempuan yang begitu cantik dan menggemaskan.

Sementara Suho, kebahagiaannya terus menguar tatkala suster memberikan bayi cantik itu ke dalam dekapannya. Suho lalu mencium pucuk kepala bayi merah itu lama sebelum kembali menyerahkannya kepada suster untuk dibersihkan.

“Nyonya akan bertemu dengannya setelah nyonya dipindahkan ke kamar. Selamat ya nyonya.” Ucap suster itu sambil tersenyum lebar. Suho hanya membalas dengan anggukan sebelum kelelahan membuatnya memejamkan mata. Namun, sebelum mata itu benar-benar menutup, Suho masih sempat menggumamkan sesuatu.

“Kris, dia cantik sekali. Dia cantik.”

.

.

.

Tujuh Tahun Kemudian

“Sehunnie! Sudah umma katakan, jangan berkelahi sayang! Kau itu anak perempuan! Bersikaplah yang manis!” tegur Choi Suho tegas sambil bersedekap memandangi dengan lekat putri semata wayangnya yang sekarang terlihat berantakan dengan seragamnya yang penuh dengan lumpur, rok yang robek di tepi bawahnya dan wajah yang penuh dengan lebam ditambah dengan sudut bibirnya yang berdarah.

Ibu muda itu menggelengkan kepalanya jengah, tak mengerti mengapa putri kecilnya itu senang sekali berkelahi dengan anak laki-laki. Apakah ini pengaruh dari pamannya yang terus mengajarinya olahraga taekwondo? Sepertinya Suho perlu bicara dengan Siwon. Ah, tidak. Mungkin lebih baik dia bicara kepada Kyuhyun biar nanti istri kakaknya itu yang berbicara kepada Siwon. Cara itu lebih ampuh untuk membuat Siwon jera dan tidak terus menerus mengajak putrinya ke tempat latihan taekwondo.

“Tapi Kai yang lebih dulu nakal umma. Sehunnie hanya berusaha membela teman baru Sehunnie.” Kelit bocah perempuan berusia tujuh tahun itu mencoba membela dirinya. Choi Sehun, nama putri tungal Suho tersebut, tidak terima dimarahi oleh sang bunda karena kali ini dia memang merasa tidak bersalah. Sehun memukul dan akhirnya terjadi perkelahian dengan Kim Jongin, atau Kai, karena bocah laki-laki seumurannya tersebut, menjahili seorang siswa baru di sekolah mereka.

Siswa baru tersebut merupakan anak laki-laki keturunan Cina yang baru saja pindah ke Jepang karena pekerjaan ayahnya. Bocah itu sebenarnya sudah seminggu pindah ke sekolah Sehun dan Kai, namun karena sifatnya yang pemalu, bocah bernama Wu Zitao itu baru mau membuka dirinya. Itu pun hanya kepada Sehun karena memang gadis cilik itu yang terlebih dulu mendekati Zitao, atau Tao.

Kedekatan keduanya tentu saja membuat Kai, ketua anak-anak di sekolah tersebut menjadi berang dan marah kepada Tao. Pasalnya, Kai menyukai, sangat menyukai, Sehun yang manis dan baik meski terkadang terlalu tomboy. Kai menjadikan Tao sebagai sasaran empuk pem-bully-an dia dan teman-temannya. Tentu saja Sehun tidak tinggal diam melihat Tao yang sering dikerjai oleh Kai dan kelompoknya. Seperti yang sudah terjadi tadi siang,

Sehun dan Kai akhirnya berkelahi dan menyebabkan kedua wali mereka di panggil oleh pihak sekolah. Suho mewakili Sehun dan seorang kakek tua beserta seorang wanita kelebihan make up, bibi Kai, mewakili Kai karena kedua orang tua Kai sudah meninggal dunia sejak Kai berusia tiga tahun.

“Maafkan putri saya tuan Kim, dia memang nakal tapi saya yakin Sehun tidak bermaksud buruk kepada Kai.” Ucap Suho tidak menggubris pembelaan Sehun dan justru meminta maaf kepada kakek dari Kai. Tuan Kim tersenyum simpul dan mengangguk. Dia menghampiri Sehun yang sedang cemberut karena sang umma tidak menggubris pembelaannya. Tuan Kim lalu meletakan tangan keriputnya di kepala Sehun dan mengelusnya sayang.

“Anda tidak perlu meminta maaf Suho-ssi. Saya tahu seperti apa cucu saya. Saya yakin Sehunnie berkata yang sebenarnya bahwa Kai lah yang memulai pertengkaran ini terlebih dulu.” Sahut tuan Kim memihak Sehun.

Gadis kecil berambut panjang diikat seperti buntut kuda itu tersenyum lebar ketika tuan Kim membelanya. Dia memandang Kai lalu menjulurkan lidahnya ke arah Kai. Kai pura-pura tak peduli dengan tingkah Sehun padahal dia menyembunyikan senyumnya karena setidaknya Sehun memperhatikan dirinya dengan bertingkah seperti itu. Belum lagi Kai berpikir Sehun begitu lucu ketika menjulurkan lidahnya.

“Appa! Kenapa appa jadi membela anak nakal ini?! Sudah jelas dia ini biang masalah! Seharusnya dia di keluarkan saja dari sekolah. Cih, walau aku tak heran kenapa anak urakan ini bertingkah seperti itu. Ayahnya saja tak jelas.” Cemooh bibi Kai, Kim Taeyeon. Dia memandang sebelah mata kepada Suho yang justru tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Meski dia menghela nafas mencoba bersabar menghadapi, sekali lagi, orang yang menilainya buruk.

Suho tidak ambil peduli dengan cemoohan orang mengenai statusnya yang single parent. Yang dia pedulikan hanya kondisi dan perasaan Sehun. Suho ingat bagaimana dulunya Sehun selalu menangis sampai pernah tidak mau bicara dengannya karena tak pernah menceritakan siapa ayah kandungnya. Namun entah kapan, suatu hari Sehun datang kepadanya dan mengatakan bahwa dia merasa bahagia meski hanya dengan Suho seorang sebagai orang tuanya. Dugaan Suho, pasti Kyuhyun dan Siwon yang berbicara dari hati ke hati kepada Sehun. Satu hal lagi yang membuat Suho merasa behutang budi kepada kedua kakaknya itu.

“Diam Taeyeon. Aku tak butuh pendapatmu. Lebih baik kau bawa Kai ke mobil. Aku yang akan urus semuanya disini.” Suara berat tuan Kim membuat Suho memperhatikan kakek bersahaja itu. Suho sedikit terkejut melihat kerasnya raut wajah tuan Kim memandang putrinya sendiri.

“Tapi appa…”

“Kau mau membantahku?” pertanyaan itu atau mungkin lebih tepat sebagai pernyataan tegas dari tuan Kim langsung membungkam mulut Taeyeon untuk membantah. Dengan menghentakkan kaki seperti anak kecil merajuk, Taeyeon menarik tangan Kai lalu berlalu dari kantor kepala sekolah. Taeyeon sempat sengaja menabrak bahu Suho pada saat dia keluar ruangan. Suho sekali lagi hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi tingkah Taeyeon yang tidak bersahabat dengannya.

“Suho-ssi.” Panggilan tuan Kim membuat Suho menoleh ke arahnya dan tersenyum kepada orang yang sebenarnya adalah atasan Suho itu. Ya, tuan Kim adalah atasan Suho di perusahaan tempat Suho bekerja. Suho menyambung hidupnya dengan bekerja sebagai salah satu editor di penerbitan buku milik tuan Kim.

“Ya tuan Kim?”

“Saya minta maaf atas sikap Taeyeon tadi. Dia terlalu aku manjakan sejak kecil sehingga dia seperti itu. Semoga dia tidak menyinggungmu.” Ucap tuan Kim meminta maaf atas kelakuan Taeyeon. Suho tersenyum dan mengelengkan kepalanya, tanda dia tak ambil hati sikap Taeyeon tadi.

“Ah, tidak apa-apa tuan. Saya sudah biasa.”

“Tapi tante make up tebal itu perlu diajari sopan santun umma. Dia menyebalkan sekali.” Celetuk Sehun tiba-tiba, ikut serta dalam pembicaraan Suho dan tuan Kim. Mata Suho membelalak ketika ucapan polos itu keluar dari bibir putri semata wayangnya itu.

“Sehunnie!” tegur Suho keras. Dia tidak suka Sehun bersikap tidak sopan dan menimbrung pembicaraannya dengan orang lain. Namun pendapat itu tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh tuan Kim, karena beberapa saat setelah ucapan itu terucap, kakek tua itu tertawa terbahak-bahak.

“Ahahaha… Putrimu sungguh memiliki karakter yang kuat Suho-ssi. Hei manis, kau mau tidak ikut haraboji makan malam? Ya sebagai penebus kesalahan Kai kepadamu.”

“Makan malam? Dimana? Kebetulan umma, Sehunnie sudah lapar dan waktu makan malam sebentar lagi. Umma pasti tak sempat belanja dan membuatkan Sehunnie makan malam bukan?!”

“Sehunnie, kita tak boleh merepotkan orang lain. Umma masih sempat membuatkanmu makan malam. Tuan Kim terima kasih atas tawarannya, tapi kami…”

“Kau maunya makan dimana manis?” Tanya tuan Kim sengaja tidak mendengarkan perkataan Suho.

“Tuan Kim…”

“Bolehkah aku makan malam di restoran Cina yang baru dibuka itu? Kata Tao-ah, disana makanannya enak dan kita bisa dapat diskon karena restoran itu milik appanya Tao-ah.” Usul Sehun semangat. Gadis kecil itu menoleh ke arah Tao yang sejak tadi diam saja sampai-sampai Suho dan tuan Kim baru menyadari ada seorang anak laki-laki di ruangan kepala sekolah tersebut.

“Oh… Kalau begitu ayo manis, kita makan disana. Hwangsoo-ah. Maaf cucuku jadi merepotkanmu.” Ajak tuan Kim sambil mengucapkan maaf kepada kepala sekolah dasar itu yang merupakan sahabat dekatnya. Kepala Sekolah Kang Hwangsoo tersenyum dan mengangguk sebelum mempersilahkan mereka untuk meninggalkan ruangannya karena masalah mereka sudah selesai.

“Tapi tuan Kim…” Suho yang masih tidak enak karena akan merepotkan atasannya tersebut mencoba menolak tawaran tuan Kim sekali lagi. Hanya saja tatapan yang sedikit mengintimidasi dari tuan Kim, membuat Suho terdiam kikuk.

“Tak ada penolakan Suho-ssi. Kita makan malam bersama.” Tegas tuan Kim sekali lagi dan kali ini, Suho tak mampu menolaknya. Wanita cantik berkulit putih nan mulus itu pun akhirnya mengangguk.

Tuan kim tersenyum senang lalu menggandeng tangan kecil Sehun. Tak lupa dia mengarahkan pandangannya kepada Tao lalu mengajak bocah kecil pemalu itu.

“Ayo nak. Kau juga ikut. Restoran Cina itu milik appamu bukan?! Sekalian haraboji mengantarmu pulang. Tampaknya appamu tidak bisa datang.” Ucap tuan Kim. Tao terlihat sungkan namun anggukan pasti dari Sehun membuat Tao yakin lalu berdiri dari tempat duduknya dan menerima uluran tangan tuan Kim. Kini tangan tuan Kim menggandeng tangan Sehun dan Tao sementara Suho mengikuti dari belakang.

“Maaf saya terlambat. Pekerjaan saya baru seles…” suara berat yang sedikit terengah-engah karena kemungkinan dia berlari ke kantor kepala sekolah tersebut, menyebabkan tiga orang dewasa dan dua orang bocah menoleh ke arahnya.

Suho menatap wajah pria berambut pirang itu dengan seksama dan matanya membulat sempurna ketika dia mengenali siapa pria tersebut.

“Kris…”

TBC

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Hi all! Nao balik lagi dengan sequel Teruskanlah. Bagi yg minta sequel, ini udah ada yak.

Sequel ini akan berchaptered dan sedikit lebih panjang dari dugaan Nao sebelumnya. Ceritanya agak sedikit Nao rombak karena inspirasinya juga berubah tiba-tiba pas Nao denger lagunya Jhene Aiko yang The Worst.

Nah, ini chappy awal dan juga ff pertama yang nao post sendiri sejak memutuskan hiatus. Huehehe… Muup yak amazing readers udah buat gaduh. Nao memang rem to the pong.

Semoga amazing readers suka. Gomenasai untuk typos dan kegajean FF ini. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak my gorgeous amazing readers…

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae and Krisho 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements