Tags

, , , , , ,

Title : Life Is Beautiful 3

Pair / Charas : Krisho, Minho, Wonkyu, Yunjae

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Warning : Un-betaed, Family, Angst, GS, OOC, OC, AU

Summary : Hardship of a relation between people is part of life to make you understand its meaning. What’s make it beautiful is when you could take what life is offer to you and not taken it for granted.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

Kris tahu bahwa Soojung memang memiliki saudari kembar. Hanya saja, Kris tidak tahu jika saudari Soojung itu kembar identik dengannya. Saat melihat senyum Suho tertuju kepadanya, Kris seakan dimaafkan oleh Soojung. Batin Kris semakin lega meski dia tidak memungkiri rasa bersalah itu masih terus menghantuinya, mungkin akan terus begitu seumur hidupnya. Kris kemudian membalas senyum Suho juga dengan sebuah senyuman. Senyuman yang baru kali ini mampu Kris sunggingkan setelah mala petaka ini terjadi.

Minho yang sedari tadi diam memperhatikan Kris dengan aura penuh kebencian, menyadari tatapan antara Suho dan pemuda itu. Amarah Minho semakin memuncak saat Suho memberikan senyum untuk Kris dan dibalas serupa oleh Kris. Sontak, Minho bergegas mendekati Kris, menghadang jalan para polisi yang membawa Kris. Tanpa peringatan apapun, Minho melayangkan pukulannya tepat di rahang Kris sehingga pemuda itu tersungkur di lantai. Minho segera dipegang oleh Siwon dan Jaejoong ketika mereka sadar bahwa Minho baru saja memukul Kris. Siwon, Kyuhyun dan Jaejoong serta Suho tampak terkejut dengan perbuatan Minho tadi. Sementara Minho sendiri terlihat tidak perduli dengan tindakannya tadi. Dia justru menatap nyalang kepada Kris dan berteriak marah kepada pemuda yang sedang menyeka darah yang keluar sedikit dari bibirnya karena cincin yang dikenakan oleh Minho saat memukulnya tadi.

“Dengar aku bajingan! Jangan kira kau bisa lepas begitu saja setelah ini! Akan aku pastikan kau menyesal telah membuat Soojung seperti itu! Akan aku pastikan itu!!” teriak Minho tak terkendali.

Kris hanya bisa menerima perlakuan Minho tadi dengan berdiam diri. Dia tahu dia tidak memiliki hak apapun untuk melawan. Hanya saja, tampaknya Kris masih harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan kata maaf dari keluarga Choi karena Minho dengan terang-terangan menyatakan kebenciannya yang sangat dalam kepadanya.

Kris berharap Tuhan masih berbaik hati untuk membantunya. Ya, hanya itu harapannya sekarang.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Tiga Tahun Kemudian

“Baik-baiklah di luar sana Kris.”

“Terima kasih pak. Saya pergi dulu.”

“Ya. Aku harap aku tidak bertemu lagi denganmu di tempat ini. Jalani hidupmu dengan baik.”

“Saya pun berharap demikian. Kita bertemu lagi ketika saya sudah menjadi pria yang bisa diandalkan pak.”

“Aku berdoa untukmu Kris. Nah, pergilah.” Dengan ucapan terakhir tersebut, sang sipir penjara menutup pintu keluar dan meninggalkan Kris Wu seorang diri di luar pagar tinggi berkawat duri itu. Kris melihat sekali lagi tempat yang selama tiga tahun terakhir ini menjadi tempat tinggalnya. Kris menghela nafas panjang sebelum tersenyum lalu membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhi bangunan tinggi nan kokoh bernama penjara tersebut. Dia tersenyum karena masih tidak percaya bahwa kini, dia telah bebas.

Namun senyum itu tidak berlangsung lama ketika dia mengingat keadaan keluarganya sekarang. Keluarganya benar-benar hancur sejak kejadian di pengadilan tiga tahun silam. Ayah Kris tewas tertusuk narapidana lain ketika terjadi perkelahian masal di dalam penjara dua tahun lalu. Sedangkan ibunya tak kuasa menahan beban karena malu dan kesedihan akan situasi keluarga mereka, memutuskan bunuh diri sebulan setelah sang ayah tiada.

Kris bisa dikatakan sebatang kara sekarang karena kerabatnya tidak ada yang mau menolongnya. Seluruh kerabat yang Kris kenal lebih memilih menganggap Kris bukan bagian dari keluarga besar mereka lagi dan mengucilkannya. Bukan hanya itu, Kris bahkan mau tak mau harus berjuang hidup untuk dirinya sendiri karena semua harta peninggalan ayah dan ibunya diambil alih oleh kerabatnya tersebut tanpa menyisakan apapun untuknya.

Hidupnya kini bisa dibilang berbalik 180 derajat. Kris bukan siapa-siapa lagi. Kini dia harus bisa hidup sendiri, memulai semuanya dari awal.

Dari awal.

“Hwaiting Kris!” serunya memberi semangat kepada dirinya sendiri sebelum dia kembali melangkah, menapaki lembaran baru hidupnya dan Kris hanya bisa berharap kali ini dia bisa memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik.

.

.

.

“Tolong es kopinya dua Chanyeol!” sahut Kris sedikit keras agar koki bernama Park Chanyeol itu mendengarnya.

“Oke Kris.” jawabnya sambil memamerkan senyumnya yang manis itu. Kris tak bisa melihat dengan jelas senyum Chanyeol karena terbatas sekat antara ruang depan café dan dapur cafe tetapi mengenal siapa Chanyeol, orang yang tampak selalu bahagia itu, Kris bisa menebak selebar apa senyum Chanyeol sekarang.

Setelah memberikan pesanan salah satu pelanggan café tersebut, Kris kembali melakukan pekerjaannya sebagai pelayan. Dia membersihkan meja setelah pelanggan selesai makan dan minum di café itu, menghampiri pelanggan yang belum memesan, menyapa pelanggan yang baru datang dan banyak lagi. Kris melakukan tugasnya dengan senang hati karena walau hanya sebagai pelayan, pekerjaan ini yang membuatnya bisa bertahan hidup.

Kris mendapatkan pekerjaan ini setelah beberapa kali di tolak karena statusnya yang mantan narapidana. Setiap tempat yang Kris datangi enggan dan menolak langsung lamaran kerja dari Kris sampai dia bertemu dengan Chanyeol. Pemuda yang tingginya hampir menyamai tinggi Kris itu merasa iba dengan keadaan Kris sehingga menawarkan bantuan berupa pekerjaan di café milik orang tuanya. Bahkan Chanyeol membiarkan Kris tinggal di salah satu kamar kost yang juga milik orang tuanya dengan harga sewa setengah dari harga yang biasanya diberlakukan oleh kedua orang tuanya.

Orang tua Chanyeol sendiri tidak keberatan dengan status Kris. Bagi mereka setelah berbincang cukup lama dengannya, mereka tahu bahwa sebenarnya Kris adalah pemuda yang baik. Situasi dan kondisi yang membuatnya seperti itu sehingga mereka menerima Kris di antara keluarga mereka. Terlebih lagi Chanyeol merasa senang dengan kehadiran Kris yang sepertinya dianggap sebagai kakak oleh pemuda murah senyum itu.

Kris pun merasa sangat beruntung bertemu Chanyeol dan keluarganya. Kris berpikir bahwa Tuhan tidak meninggalkannya sehingga masih diberi kesempatan berkenalan dengan orang sebaik Chanyeol dan keluarganya. Kris berjanji akan membayar balas budinya kepada keluarga Park suatu saat nanti.

Kris begitu larut dalam ingatan masa lalunya sampai dia tidak mendengar satu suara memanggilnya sampai tangan putih nan halus itu menepuk punggungnya karena posisinya yang berada di belakang Kris.

“Permisi, apakah masih ada tempat kosong untukku?” tanya suara itu yang ternyata adalah suara seorang gadis.

Kris berbalik setelah sadar sepenuhnya bahwa dia sedang bekerja. Merutuki kebodohannya sendiri, Kris langsung membungkuk hormat dan baru saja akan menjawab pertanyaan gadis itu ketika matanya membulat sempurna kala melihat wajah sang gadis.

“So…Soojung… Soojung-ah…” lirih Kris terbata-bata kala dia menatap langsung sepasang mata berbentuk bulan sabit kala tersenyum itu dengan perasaan rindu sekaligus bersalah dan takut.

“Eh?! Kau mengenal mendiang eonnieku?” tanya gadis itu balik namun tidak ditanggapi apapun oleh Kris. Dia masih bergeming di tempatnya dengan tatapan yang terkejut luar biasa.

“Tunggu dulu. Rasanya aku pernah melihatmu sebelumnya.” Ucap gadis itu yang berusaha mengingat siapa Kris sebenarnya. Sedang seriusnya sang gadis memikirkan siapa Kris, tiba-tiba pintu café berbunyi dan masuk seorang pemuda tampan seumuran Kris.

“Suho-ah, Jae noona sudah kembali. Kau tak perlu menunggunya disini.” Ucap pemuda itu begitu mata yang seperti mata kodok itu melihat adik cantiknya.

“Ah, benarkah? Sayang sekali. Padahal Kyungsoo bilang, parfait disini enak sekali.” Gerutu gadis yang ternyata Suho itu kepada sang kakak, Minho. Minho terkekeh karena melihat wajah cemberut Suho yang justru menambah keimutan adiknya tersebut. Dengan gemas, Minho mengacak rambut sebahu Suho lalu tanpa sungkan, mengecup pucuk kepala Suho dengan sayang dan terakhir melingkarkan lengannya di bahu Suho.

“Lain kali kita kemari lagi dan akan oppa temani Suho baby memakan sebanyak apapun parfait yang kau inginkan.”

“Benarkah? Oppa janji ya?”

“Tentu sayang, oppa janji.”

“Oke. Ah, kamu! Aku tak jadi makan disini ya. Maaf sudah merepotkan.” Pamit Suho kepada Kris ketika hendak meninggalkan café itu bersama dengan Minho. Saat itulah, Minho menyadari bahwa adiknya tidak berdiri sendiri dan saat itu juga Minho menatap Kris yang menjadi pusat kebenciannya tiga tahun lalu sampai sekarang.

“Kau…!” geram Minho sambil mengepalkan salah satu telapak tangannya dan tanpa sadar meremas bahu Suho dengan keras, membuat gadis itu meringis kesakitan.

“Auch! Oppa! Sakit!” pekik Suho kesal namun kekesalan itu berganti dengan rasa takut karena melihat tampang Minho yang seakan ingin membunuh pelayan café yang terlihat tak asing itu.

Kris sendiri tidak mengira akan bertemu dengan Minho secepat ini. Baru tiga bulan dia keluar dari penjara dan sekarang sudah bertemu dengan orang yang begitu membencinya. Akan tetapi, Kris sudah berjanji kepada dirinya bahwa jika dia bertemu dengan keluarga Choi maka dia akan berusaha untuk mendapat maaf mereka seperti yang dia lakukan saat ini, membungkuk dalam dan mengucapkan kata maaf kepada Minho.

“Minho-ssi. Maafkan aku. Maa…” belum selesai Kris berbicara, dia merasa seseorang menegakan tubuhnya dengan kasar lalu tanpa peringatan sebuah tinju melayang ke arah wajahnya, disusul dengan tinju lainnya, dan tinju lagi sampai Kris tidak lagi menghitung berapa banyak kepalan tangan itu menyentuh kulitnya. Dia membiarkan saja Minho menghajarnya tanpa berniat membalas sama sekali.

“Astaga! Oppa!” teriakan Suho dan lengan mungilnya yang mencoba menghentikan tindakan brutal sang kakak adalah yang menjadi perhatian Kris saat ini. Dia terus menatap Suho meski sedikit sulit dengan pukulan demi pukulan yang mendarat di wajahnya.

“OPPA!” teriakan Suho yang lantang akhirnya membuat Minho berhenti. Dia melepaskan cengkramannya dari kerah baju Kris sebelum berdiri dan memberikan satu tendangan ke perut pemuda malang itu.

“Ya ampun oppa! Ada apa denganmu?!” teriak Suho lagi dan kali ini sambil menghampiri Kris dengan sapu tangan di tangannya.

“Jangan menolongnya Suho! Biarkan dia! Ayo!” cegah Minho kepada Suho yang hendak membantu Kris dan mengancam Kris juga. Setelah dia melemparkan ancaman itu, Minho menarik tangan Suho dan bermaksud membawanya pergi meninggalkan café tersebut. Akan tetapi Minho dibuat tercengang kala Suho menarik kembali tangannya dengan kasar dan menatap Minho balik dengan tatapan kesal.

“Oppa pergilah lebih dulu. Aku mau membantunya.” Ujar Suho berani menantang Minho dan tanpa menunggu persetujuan dari Minho, Suho kembali menghampiri Kris dan berjongkok di depan lelaki yang berusaha untuk bisa duduk itu.

“CHOI SUHO!!!” teriak Minho namun tidak dihiraukan sama sekali oleh Suho.

Suho membantu Kris untuk bisa berdiri meski dengan susah payah. Tubuh mungilnya tidak sebanding dengan tubuh tinggi dan tegap milik Kris, namun gadis itu tetap berusaha untuk membantu Kris, paling tidak sampai Kris bisa duduk di salah satu kursi.

Akhirnya beberapa pengunjung membantu Suho dan Kris sebelum Kris sedikit menundukkan kepalanya kepada mereka yang melihat kejadian memalukan itu, meminta maaf atas ketidak nyamanan mereka. Para pengunjung tersebut mengangguk sebelum kembali ke aktifitas mereka masing-masing meski ada beberapa orang yang masih mencuri pandang ke arah Kris, Suho dan Minho yang masih berdiri dengan penuh amarah.

Suho mengeluarkan lagi sapu tangannya dan mulai menghapus noda darah di sudut bibir Kris yang sedikit sobek, mungkin tergores cincin yang dipakai oleh Minho, dan darah di pelipis kiri Kris. Suho membersihkan luka-luka Kris dengan sangat lembut, khawatir gerakannya akan semakin melukai Kris.

Disaat itulah, keduanya berpandangan lurus ke kedua bola mata masing-masing.

Suho menatap Kris, masih berusaha mengingat dimana dia pernah melihat Kris sebelumnya. Suho tahu dia mengenal lelaki di depannya tersebut dan begitu pun sebaliknya. Suho tahu jika Kris seseorang yang memiliki hubungan dengannya karena dia merasakan debaran jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Debaran ini berbeda dengan yang Suho rasakan dengan lelaki lain.

Suho menatap Kris sesaat sebelum tersenyum manis sampai membuat matanya membentuk bulan sabit yang lucu lalu kembali memusatkan perhatiannya kepada luka-luka Kris.

Sedangkan Kris sendiri, pemuda itu menatap rindu ke arah Suho. Matanya berkaca-kaca, tak percaya jika dia bisa melihat wajah cantik itu sekali lagi. Rasa penyesalan itu masih ada, rasa bersalah itu masih terus menghantuinya, namun melihat wajah putih nan cantik yang telah dia renggut hidupnya itu, tersenyum manis kepadanya, Kris merasa seolah-olah Soojung datang dan memaafkannya, sama seperti saat Kris melihat Suho tersenyum kepadanya di persidangan dulu.

“Maafkan oppaku ya. Aku tidak tahu mengapa dia bertindak demikian namun aku yakin ada alasannya.” Ucap Suho sambil menempelkan plester luka yang selalu dia simpan di tas tangannya. Suho menempelkan satu di sudut bibir Kris dan pelipisnya yang terluka.

“Selesai.” Sahut Suho lagi setelah selesai memasang plester luka tersebut. Suho kembali tersenyum kepada Kris membuat Kris ikut tersenyum meski detik berikutnya dia mengerang kesakitan karena perih di bibirnya. Tapi Kris tidak menggubris rasa perih itu dan kembali menatap Suho.

“Terima kasih nona.” Ucapnya berterima kasih.

“Tak perlu mengucapkan terima kasih. Kau terluka karena oppaku jadi aku harus bertanggung jawab. Meski aku masih penasaran ada apa di antara kalian.”

“Kami…”

“Sudah selesai Suho?!” tanya Minho tiba-tiba, memutus pembicaraan antara Kris dan Suho.

“Oppa kenapa sih? Kenapa kau beg…”

“Oppa tanya apa kau sudah selesai?!” ulang Minho kali ini dengan nada serius dan tidak bisa terbantahkan lagi. Suho menghela nafas perlahan sebelum mengangguk. Dia tahu Minho benar-benar marah kepadanya kali ini dan Suho tidak ingin kemarahan Minho menjalar ke orang lain.

“Sudah.” Jawab Suho singkat.

“Kalau begitu kita pergi. Kau pergilah ke mobil lebih dulu. Aku menyusul sebentar lagi.” Perintah Minho.

“Oppa…”

“Sekarang Choi Suho dan jangan membuatku lebih marah dari ini!” tegas Minho yang kembali hanya bisa diikuti oleh Suho. Suho mengalihkan pandangannya dari Minho ke arah Kris dan tersenyum terakhir kali sambil melambaikan tangan. Kris membalasnya dengan senyuman dan lambaian singkat sebelum akhirnya Suho keluar dari café tersebut.

Sekarang hanya ada Minho dan Kris. Kedua pemuda seumuran itu saling menatap. Yang satu dengan pandangan marah walau akhirnya pandangan itu berubah menajdi pandangan meremehkan. Sementara Kris menatap Minho dengan tatapan meminta maaf yang sayangnya diabaikan begitu saja oleh Minho.

“Hei.” Panggil Minho kasar kepada Kris walau Kris menanggapinya dengan senyum.

“Ya?”

“Jangan kau pikir kau bisa mengambil hati adikku Suho seperti kau memperdaya Soojung. Dia memang polos tapi kali ini aku tidak akan membiarkan bajingan sepertimu mendekatinya.”

“Minho-ssi, aku tidak akan melakukan apapun terhadap adikmu. Aku… Aku memang bersalah dan aku minta maaf…”

“Maafmu tidak akan menghidupkan adikku kembali. Jadi aku tidak akan pernah memaafkanmu. Membusuklah dengan rasa bersalahmu itu di neraka.” Potong Minho sambil menepuk-nepuk pipi Kris, tak peduli tepukannya itu menyentuh lebam di wajah Kris.

Minho menatap Kris sekali lagi lalu berdecih dan meninggalkannya menuju pintu keluar café. Namun selangkah kemudian, Minho diam dan mengucapkan sesuatu untuk Kris.

“Ini adalah terakhir kalinya aku melihat wajah busukmu itu. Jangan sampai kau menampakan batang hidungmu lagi di hadapanku, Suho dan keluargaku atau aku akan benar-benar membunuhmu! Dasar sampah!” ancam Minho kemudian melanjutkan langkahnya. Minho tidak peduli bahwa dia baru saja memukul dan mengancam akan membunuh seseorang di tempat umum yang tentunya di dengar jelas oleh pengunjung disana. Kemarahan dan dendam Minho menutupi akal sehat pemuda itu.

Kris sendiri tidak menyangka jika Minho akan langsung menyerangnya seperti tadi. Kris tahu Minho akan menjadi gunung yang akan sulit dia daki hanya untuk mendapatkan maaf. Kris menghela nafas panjang. Perjuangannya akan berat namun Kris sudah bersumpah akan malakukan apapun agar keluarga Choi mau memaafkannya.

Kris kembali menghela nafas. Mungkin seumur hidupnya akan dia dedikasikan hanya untuk meminta maaf dan mendapatkan maaf. Bukan hanya dari keluarga Choi namun juga dari Chanyeol. Peristiwa ini pasti akan berdampak negatif untuk usaha sahabatnya tersebut. Berbicara tentang Chanyeol, Kris bisa melihat pemuda tinggi bertelinga besar itu datang menghampirinya.

“Ya Tuhan! Kris! Kau kenapa?!” teriakan panik Chanyeol terdengar oleh Kris dan itu membuatnya semakin tidak enak kepada Chanyeol. Chanyeol sendiri bingung dengan keadaan Kris yang babak belur seperti ini, langsung bertindak dengan memanggil salah satu pelayan café itu untuk mengambil alih cafénya lalu Chanyeol juga memerintahkan untuk menutup café mereka lebih cepat karena Chanyeol akan langsung mengantar Kris pulang.

Kris menurut saja dengan keinginan Chanyeol karena percuma saja dia membantah, Chanyeol pasti akan keras kepala seperti biasanya.

Tampaknya Kris harus menceritakan kejadian tadi kepada Chanyeol. Lagipula, Chanyeol sudah tahu masa lalunya dan Kris tidak pernah mau berbohong kepada Chanyeol.

TBC

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Huehehe… Pendek lagi yak… Ini udah 2K loh, tapi emang seharusnya bisa lebih panjang sih… Ya sutralah ¬o( ̄- ̄メ)

Mulai dari sini, Krisho akan mendominasi. Wonkyu in next chappy of course… Jadi stay tuned please…

Walau ini bukan FF majority tentang WonKyu, Nao tetap akan bilang tanjoubi omedetou Kyumom… Happy Belated Birthday (telat sehari). Mudah2an FF ttg WonKyu kelar sebelum ultah Wondad di Februari ini ya. (rempong kalo Siwonnie yg ultah. Double cin…)

Udah gitu aja. Moga suka n jangan lupa tinggalkan jejak my amazing readers.. Luv u so muach..

Keep Calm and Ship WonKyu, YunJae, and KrisHo 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements