Tags

, , , , , ,

Waterfall Poster

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Waterfall 11

Pairing / Charas : Wonkyu, Kangin, Heechul, Yunjae, Kibum, a bit Kangchul, more to come

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, Poster by @SuciiCho

Warning : Un-betaed, GS, OOC, AU, Family, Romance, Angst

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

Matahari bersinar dengan cerah menembus tirai kamar ruang rawat rumah sakit tempat Siwon berada saat ini. Ruangan itu kosong karena Heechul pulang sebentar untuk mengambil kebutuhannya dan baru dalam perjalanan kembali ke rumah sakit.

Dalam keadaan yang kosong itu, Siwon terbaring seorang diri. Pemuda itu terlihat damai dalam tidur panjangnya. Namun entah karena sinar matahari pagi itu ternyata mengganggu tidur panjang Siwon atau alasan lain, sepasang kelopak mata itu tampak mengerjap beberapa kali sampai terbuka sepenuhnya.

Siwon membuka kedua matanya meski harus dia tutup kembali karena sinar yang terlalu silau bagi kedua matanya yang masih rentan akan cahaya akibat tertutup lama. Siwon mengambil waktu cukup lama sebelum dia mencoba kembali membuka matanya. Kali ini meski dia harus sedikit memincingkan mata, Siwon bisa bertahan untuk terus membuka kedua kelopak matanya tersebut.

Siwon memperhatikan sekelilingnya dan merasa asing dengan tempat tersebut hingga setelah beberapa menit dia sadar dia berada di rumah sakit. Siwon kembali menutup matanya dan mengambil alat bantu pernafasan yang terpasang di hidungnya sebelum menghela nafas panjang. Matanya terbuka kembali dan menatap lurus ke langit-langit kamar luas tersebut.

Lama Siwon menatap langit-langit itu sampai dia bersuara meski dengan suara yang serak dan lirih. Siwon memanggil alasan mengapa dia terbangun dari komanya. Alasan itu adalah…

“Kyunnie…”

( 。・_・。)(。・_・。 )

Pagi itu terasa dingin sekali sehingga membuat sebagian orang malas untuk beraktifitas. Namun karena bulan ini adalah bulan baru bagi semua orang. Mereka yang bekerja, mereka yang menjajaki kelas baru di sekolah, mereka yang memulai kegiatan perkuliahan sebagai mahasiswa baru atau mahasiwa lanjutan, semua harus bergegas mempersiapkan diri agar tidak terlambat ke tempat tujuan.

Begitupun seharusnya yang dilakukan oleh Siwon, jika saja dia tidak harus mendekam di ranjang rumah sakit ini dikarenakan kondisinya yang belum pulih pasca kecelakaan dan koma selama berbulan-bulan.

Siwon menghela nafas panjang kalau mengingat kondisinya saat ini. Siwon tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi hanya saja terkadang dia berpikir mengapa Tuhan memberikan cobaan demi cobaan sedemikian rupa kepada dirinya? Apa Tuhan ingin menguji hatinya yang masih labil atau memang inilah garis takdirnya? Apapun itu, Siwon mencoba menghadapinya, mencoba tegar dan kuat bukan hanya demi dirinya sendiri melainkan demi mereka yang begitu menyayangi dan mengkhawatirkan dirinya.

Siwon menatap jendela kamar rawatnya yang menunjukkan pemandangan taman rumah sakit yang berada di bawah. Siwon melihat pemandangan seorang anak kecil yang menangis sendirian disana sampai datang seorang ibu dan seorang anak yang lebih tua dari anak kecil itu. Anak yang lebih tua itu memandangi sang adik lama tanpa berbuat apapun yang mungkin bisa meredakan tangisannya. Hanya sang ibu yang terlihat mencoba membujuk sang bocah cilik.

Sampai, anak yang lebih tua atau bisa jadi adalah kakak sang bocah, mendadak mengangkat tubuh sang adik dan menggendongnya seperti menggendong anak koala. Kakak bocah itu terlihat kewalahan karena ukuran tubuhnya tidak terlalu berbeda jauh dengan sang adik namun dia tetap berusaha menggendong adiknya tersebut sambil mengelus rambut sang adik. Sang adik pun melekatkan dirinya kedalam pelukan sang kakak dan bermanja-manja disana, melupakan tangisannya dan membuat sang ibu tertawa geli melihat tingkah manis keduanya.

Siwon melihat pemandangan itu dan tersenyum sendiri. Seandainya dia bisa setulus itu kepada Yunho dan Sungmin sedari awal, mungkin keadaan mereka tidak akan seperti sekarang. Mungkin Sungmin masih berada di antara mereka dan Yunho tidak perlu merasa kehilangan seorang ibu seperti Siwon kehilangan Leeteuk.

Seandainya.

Siwon menghapus setetes airmata yang jatuh dari pelupuk matanya. Dia menghela nafas sekali lagi sebelum mencoba mengatakan kepada dirinya bahwa kematian seseorang adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Dia tidak punya kuasa untuk berkata sebaliknya. Jika Tuhan memang menginginkan Sungmin untuk segera berada disisi-Nya, maka yang bisa Siwon lakukan adalah mendoakan Sungmin dan menggantikan tempatnya menjaga Yunho.

Siwon harus bisa mengenyahkan rasa bersalah atau apapun itu demi melanjutkan hidupnya. Siwon yakin semua yang terjadi ada makna di dalamnya.

Bicara soal Yunho, Siwon mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah pintu ruang rawatnya. Siwon mengerutkan kedua alisnya, heran karena Yunho belum juga datang. Biasanya sebelum Yunho berangkat ke sekolah, Yunho akan menyempatkan diri menemuinya terlebih dahulu.

Baru saja Siwon memikirkan adiknya, Yunho muncul sambil membawa bungkusan yang seperti bungkusan makanan dan beberapa tas. Siwon tersenyum geli karena melihat Yunho yang sedikit kesusahan dengan semua barang ditangannya. Dia ingin sekali membantunya namun apa daya, tubuhnya belum mau mengikuti perintahnya untuk bergerak.

“Yun…” lirih Siwon menyadarkan Yunho bahwa sang kaka sudah terjaga. Wajah Yunho langsung bersinar senang karena Siwon sudah bangun sepagi ini. Biasanya Yunho harus membangunkan Siwon terlebih dulu atau bahkan Yunho harus pergi tanpa bisa berbicara dengan sang kakak karena Siwon masih tertidur.

“Hyung sudah bangun? Bagaimana kabar hyung hari ini? Sudah merasa lebih baik dari kemarin hyung?” tanya Yunho bertubi-tubi sambil meletakan sebagian barang bawaannya di sofa dan sebagian lagi di meja dekat ranjang Siwon. Siwon sendiri hanya menanggapi pertanyaan Yunho dengan senyum sebelum mengangguk singkat dan berkata,

“Aku baik Yun. Mungkin sudah saatnya aku ikut terapi.”

“Tidak hyung. Dokter bilang kondisi hyung harus stabil dulu sebelum mengikuti terapi. Hyung baru sadar seminggu yang lalu jadi sabar ya.” Ucap Yunho menolak keinginan Siwon untuk segera melakukan terapi.

Siwon menghela nafas kecewa. Senyumnya hilang berganti dengan wajah muram. Dia ingin secepatnya sembuh dan beraktifitas lagi. Banyak yang harus dia kejar selagi dia terbaring di rumah sakit ini karena koma. Hanya saja keluarganya tidak ada yang mengizinkan Siwon untuk melakukan terapi karena menurut dokter kondisinya belum memungkinkan untuk itu.

Yunho yang melihat kekecewaan terpancar dari mata Siwon merasa iba. Dia tahu bahwa Siwon ingin segera keluar dari rumah sakit ini dan tidak ada keinginan lain dari Yunho pribadi daripada melihat Siwon sembuh. Tetapi Yunho juga tidak ingin jika Siwon terlalu memaksakan diri untuk itu. Yunho ingin Siwon sembuh tanpa ada efek samping lainnya, dia ingin Siwon sehat total.

Yunho mengambil tempat duduk di sebelah ranjang Siwon sebelum menatap Siwon dengan pandangan prihatin. Siwon berusaha tersenyum kembali kepada Yunho berharap Yunho tidak mengetahui kekecewaannya, namun hal itu sudah terlambat karena Yunho sudah tahu lebih dulu.

“Hyung, bersabarlah. Hyung pasti bisa segera sembuh. Yang penting sekarang kita stabilkan kondisi hyung. Jika kondisi hyung sudah memungkinkan, aku sendiri yang akan menemani hyung untuk terapi.” Bujuk Yunho agar Siwon mau mendengarkan perkataan dokter. Siwon terdiam sesaat sebelum menoleh ke arah Yunho dan mengangguk perlahan.

“Baiklah Yun.” Ucap Siwon pada akhirnya setuju dengan semua rencana keluarganya untuk merawatnya secara bertahap. Jawaban Siwon itu ditanggapi cengiran lebar Yunho kemudian diikuti dengan dirinya sibuk menyiapkan sarapan untuk Siwon. Siwon bingung dengan Yunho yang menyiapkan sarapannya. Bukankah rumah sakit akan menyiapkan sarapan untukknya nanti?

“Apa yang kau lakukan Yun?”

“Aku sedang menyiapkan sarapan untuk hyung. Hyung pasti bosan dengan makanan rumah sakit bukan? Jadi aku membawakan makanan untuk hyung.”

“Kau membelinya Yun? Hm… Dari baunya saja sudah membuat air liurku menetes.”

“Hyung salah besar. Aku tidak membelinya. Ini semua masakan Boojae.”

“Boojae?” Yunho berhenti sejenak ketika mendengar nada penuh tanya dari Siwon tadi. Yunho merutuki dirinya yang lupa memberitahu bahwa dia sudah berpacaran dengan Jaejoong.

Semenjak Siwon sadar, fokus utamanya memang hanya kesehatan Siwon sehingga Yunho dan mungkin semua keluarga mereka lupa menginformasikan semua hal yang terlewatkan oleh Siwon selama dia koma.

“Um… Hyung… Boojae itu kekasihku hyung. Boojae… Boojae adalah panggilan sayangku untuk Jaejoong.”

“Jaejoong?”

“Ya, Jaejoong. Kim Jaejoong.”

Keduanya diam seribu bahasa. Hanya kesunyian yang menyelimuti keduanya sampai…

“Astaga! Akhirnya kalian pacaran juga! Syukurlah. Aku turut senang Yun.” Yunho menghembus nafas lega mendengar seruan kebahagiaan dari Siwon. Dia memang yakin Siwon akan senang dengan kabar ini namun melihat kebahagiaan Siwon secara langsung, ternyata dua kali lebih baik.

“Terima kasih hyung.”

“Kenapa kau berterima kasih? Dasar anak aneh. Ah! Kalau memang Jae yang memasak, aku tidak perlu meragukannya lagi. Cepat bawa sini Yun. Aku lapar.” Yunho tertawa melihat betapa antusiasnya Siwon menginginkan masakan Jaejoong. Mungkin lidahnya sudah rindu dengan masakan enak kekasihnya tersebut.

Tanpa membuang waktu, Yunho menyodorkan tray makan kepada Siwon, membantu sang kakak jika Siwon kesulitan mengambil sesuatu dan menemani Siwon makan dengan bekal sarapannya sendiri. Keduanya terlihat begitu akrab seolah-olah perpisahan yang pernah terjadi kepada mereka berdua tidak pernah terjadi.

Pemandangan itu yang sekarang disaksikan oleh Kangin dan Heechul dari balik jendela kecil di bagian atas pintu kamar Siwon. Keduanya tersenyum lembut melihat bagaimana Siwon dan Yunho saling bertukar candaan dan tertawa bersama.

Bagi Kangin, tidak ada yang lebih sempurna dari akurnya kedua putranya tersebut. Akan lebih baik jika Sungmin dan Leeteuk masih bersama dengan mereka, namun harapan itu terlalu berlebihan untuknya dan juga kedua wanita yang sudah berada bersama dengan Tuhan. Kedua wanita yang begitu berharga baginya. Saat ini melihat Siwon dan Yunho akur mampu menyejukan hati Kangin dan sedikit mengurai rasa bersalahnya. Kangin bahagia akhirnya keluarganya bisa utuh kembali.

Sedangkan bagi Heechul, bisa melihat senyum tulus itu kembali ke wajah tampan Siwon bagaikan mengangkat beban besar di bahu Heechul. Pemuda yang disayanginya bagaikan anak kandung itu kini bisa kembali tersenyum. Heechul akan berusaha sekuat yang dia bisa agar senyum itu bisa terus berada disana. Sudah cukup penderitaan yang Siwon alami. Heechul berharap kali ini Tuhan benar-benar mengabulkan doanya.

Kedua orang itu tanpa sadar menoleh satu sama lain lalu tersenyum lebar. Kangin bahkan berani mengusap rambut Heechul dengan lembut dan di balas Heechul dengan tepukan ringan di dada Kangin. Perang sengit antara Kangin dan Heechul seakan lenyap tak berbekas hanya karena melihat keakraban Siwon dan Yunho. Keduanya seperti sudah saling memaafkan satu sama lain dan memutuskan untuk berdamai tanpa perlu mengatakan apapun.

“Noona.” Sahut Kangin memutus kesunyian diantara mereka berdua.

“Hm?”

“Terima kasih.” Ucap Kangin lagi menuai tatapan penuh tanda tanya dari Heechul.

“Untuk?”

“Semuanya. Terima kasih telah merawat Siwon selama ini. Aku berhutang banyak kepada noona.”

“Kau ini… Memanggilku noona jika sedang senang hati. Kalau marah, kau seenaknya memanggil namaku.” Ketus Heechul yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan ucapan terima kasih dari Kangin. Namun Kangin tertawa mendengarnya dan lelaki itu menatap balik Heechul dengan tatapan jahil.

“Habis noona meyebalkan sekali. Selalu saja membuatku kesal.”

“Itu karena kau memang menyebalkan dan kurang ajar. Kau harus diberi pelajaran agar bertobat.”

“Noona…” rengek Kangin pura-pura tak terima dikatakan kurang ajar oleh Heechul. Heechul memutar matanya malas mendengar rengekan tak penting dari Kangin. Dengan entengnya dia memukul belakang kepala Kangin membuat Kangin mendelik kesal.

“Kau mengerikan sekali dengan rengekan jelekmu itu. Jangan sampai aku mendengarnya lagi. Dan apa itu ucapan terima kasih? Aku merawat Siwon karena aku menyayanginya seperti anakku sendiri, jadi wajar kalau aku memberikan semua yang aku miliki untuk kebahagiaannya. Kau tak perlu berterima kasih segala. Membuatku tak nyaman saja.” Omel Heechul panjang lebar. Akan tetapi omelan Heechul itu membuat Kangin sekali lagi merasa lega. Kangin lega karena satu per satu masalah terselesaikan dengan sendirinya.

Begitu pun masalah pribadinya.

Perasaannya terhadap Heechul yang dia tahu adalah cinta.

Kangin memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat rasa cinta ini demi kebaikan semua pihak. Kali ini, Kangin tidak mau membuat kesalahan yang sama hanya karena mengikuti keegoisannya sendiri.

Kali ini biarlah Kangin bahagia hanya dengan melihat Heechul dari jauh, menempatkan dirinya sebagai teman Heechul sekali lagi, memiliki rasa kasih sayang dari seorang adik kepada kakaknya. Itulah sebabnya, Kangin memanggil Heechul dengan sebutan noona. Panggilan itu sebagai pengingat dirinya akan batas hubungan mereka. Pengingat akan siapa yang lebih penting bagi Kangin kini dan nanti. Prioritas utamanya sekarang adalah kedua putranya yang ada di dalam sana.

Ya, semua akhirnya berjalan sebagaimana mestinya.

Walau…

Tersisa satu hal yang belum diselesaikan dengan baik yaitu hubungan antara Siwon dan Kyuhyun.

Bicara soal Kyuhyun…

.

.

.

“Kyunnie.” Kyuhyun yang sedang membuat seribu burung bangau dari kertas menghentikan kegiatannya karena dipanggil oleh Jaejoong. Kyuhyun memanglingkan wajahnya dari kertas origami untuk membalas panggilan Jaejoong.

“Ya Jae?”

“Apa kau sudah selesai membuatnya?” tanya Jaejoong merujuk kepada burung bangau Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum dan mengangguk perlahan.

“Tinggal satu ini dan semuanya selesai.” Jawabnya lalu kembali melipat satu burung terakhir. Kyuhyun lalu mengkaitkannya dengan 999 burung bangau kertas lainnya. Kyuhyun lalu memberikannya kepada Jaejoong.

Jaejoong menatap iba kepada Kyuhyun. Sampai saat ini, baik Yunho, Heechul dan juga Kangin masih tak mengizinkan Kyuhyun untuk bertemu dengan Siwon. Padahal Jaejoong merasa Kyuhyun tak bersalah atas kejadian yang menimpa Siwon.

Memang, awalnya Jaejoong pun tak mau bicara dengan Kyuhyun saat mengetahui Kyuhyun memutuskan hubungan dengan Siwon tapi lambat laun Jaejoong sadar bahwa baik Kyuhyun maupun Siwon, keduanya masih muda. Masih memiliki pertimbangan, labil dan keraguan dalam hati mereka. Kyuhyun yang tak ingin membuat Kibum sedih dan Siwon yang ragu apakah dia harus memperjuangan cinta yang bagi dirinya sendiri apakah patut diperjuangkan.

Jaejoong tidak mau mengatakannya di hadapan Yunho, Heechul dan Kangin, namun dia merasa dibalik kecelakaan Siwon ada hikmah tersendiri yaitu membuka hati Kyuhyun. Kyuhyun kini sadar bahwa dia tidak bisa jika tidak ada Siwon. Jaejoong tidak tahu apakah Siwon cinta pertama Kyuhyun tetapi Jaejoong tahu bahwa cinta Kyuhyun begitu besar kepada pemuda yang dianggapnya kakak itu.

Karena itulah, Jaejoong kembali berbicara dengan Kyuhyun. Dia memahami bagaimana menyesakannya untuk Kyuhyun harus berpisah jauh dari Siwon, harus menahan diri dan kekhawatirannya disebabkan ketidak tahuannya akan keadaan Siwon, harus bisa menerima kenyataan jika saja Siwon tidak mau melihatnya lagi karena persoalan mereka berdua.

“Aku akan membawa ini dan memberikannya kepada Siwon oppa Kyu.” Sahut Jaejoong sambil menyimpan burung bangau kertas itu di dalam tas yang sudah dia siapkan.

“Terima kasih Jae. Aku berhutang satu kepadamu.”

“Tak perlu sampai seperti itu. Aku senang kok melakukannya dan semoga keinginanmu dikabulkan ya Kyu.”

“Ya semoga.”

“Aku pergi dulu. Kau berkunjunglah sore nanti. Aku akan pastikan tidak ada umma, Kangin appa dan Yunnie disana.”

“B-bolehkah Jae?”

“Tentu boleh. Datang ya.”

“T-terima k-kasih Jae.”

“Ih! Sudah aku bilang jangan mengucapkan terima kasih. Aku senang melakukannya. Oke, aku pergi. Sampai nanti Kyu.” Pamit Jaejoong dan berlalu dari hadapan Kyuhyun. Jaejoong memang pulang lebih dulu dengan izin khusus menjenguk Siwon di rumah sakit sementara Kyuhyun harus menunggu sampai sekolah selesai.

Begitu Jaejoong pergi dari hadapannya, Kyuhyun beranjak menuju jendela kelas yang menghadap ke gerbang sekolah. Kyuhyun menatap gerbang itu beberapa menit sampai matanya menangkap sosok Jaejoong yang berjalan berdampingan dengan Yunho. Kyuhyun iri melihat kedekatan Yunho dan Jaejoong. Dia berandai-andai jika pasangan muda di bawah itu adalah dirinya dengan Siwon.

Andai waktu bisa diulang, Kyuhyun akan memberikan segalanya agar dia bisa menarik keputusannya mengakhiri hubungan dengan Siwon. Namun hal itu tidak akan pernah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan selalu datang terakhir. Kyuhyun tahu akan sangat sulit menjalin lagi kisah cinta mereka karena Kyuhyun berpikir Siwon tidak akan mau menemuinya lagi. Terlebih lagi keluarga Siwon melarang keras dirinya menemui Siwon.

Kini yang bisa Kyuhyun lakukan adalah berdoa dan berharap Siwon lekas sembuh dan bisa kembali beraktifitas, bisa kembali ke sekolah dan mungkin Kyuhyun bisa berusaha sekali lagi mendekati Siwon walau mungkin hanya sebagai teman. Paling tidak Kyuhyun bisa berada disisi Siwon meski dengan predikat lain. Harapan dan doa itu yang dia panjatkan setiap waktu saat dirinya melipat kertas origami itu menjadi bentuk burung bangau.

Semoga Siwon oppa cepat sembuh dan bahagia.

.

.

.

“Kau harus rajin untuk terapi Siwon-ssi dan jangan lupa minum obat. Jika kau melakukan dua hal tersebut, aku jamin dalam sebulan kau akan pulih total.” Nasihat dokter yang merawat Siwon selama dia koma dan dalam masa penyembuhannya kepada Siwon yang hanya tersenyum menanggapi nasihat tersebut. Dokter itu lalu mengacak rambut Siwon dan berlalu dari hadapan pemuda berlesung pipi tersebut, sebelum Siwon sendiri berlalu ke arah sebaliknya dari sang dokter.

“Hyung. Kita akan langsung ke rumah appa ya. Aku sudah mempersiapkan kamar hyung.” Ujar Yunho sambil mendorong kursi roda Siwon menuju pintu keluar. Keduanya diikuti oleh Kangin, Heechul dan Jaejoong.

“Yun.”

“Apa?”

“Apa aku harus memakai kursi roda ini? Bisakah aku memakai penyangga saja. Aku baik-baik saja Yun. Aku tidak cacat.” Keluh Siwon yang harus memakai kursi roda beberapa waktu belakangan ini.

“Hm… Tidak. Hyung maih lemah. Hyung baru sadar dari koma dua minggu yang lalu. Jadi Hyung masih harus banyak beristirahat.”

“Tapi tadi kau dengar sendiri dokter menyuruhku untuk segera terapi.”

“Aku mendengarnya juga hyung tapi hyung hanya beranjak dari kursi roda ini jika hyung ikut terapi dan saat dokter mengatakan hyung sudah boleh jalan. Dan tidak ada bantahan lagi hyung! Atau hyung lebih suka aku gendong?” ancam Yunho pada akhirnya membungkam segala protes dan keluhan dari Siwon.

Siwon pun hanya berdecak kesal dan menggerutu sendirian, tak mau sampai Yunho benar-benar melaksanakan ancamannya. Adiknya itu ternyata lebih merepotkan daripada sang appa jika sudah berurusan dengannya.

“Memangnya aku kekasihmu apa? Pakai acara gendong segala. Dasar brother complex. Kau lebih parah dari appa. Menyebalkan. Awas saja nanti jika aku sudah bisa jalan. Akan aku kerjai kau.” Dan gerutuan lainnya yang terus terucap dari bibir joker Siwon. Yunho tersenyum geli dengan omelan kakaknya tersebut. Dalam hati Yunho lega karena Siwon lambat laun mulai terbuka padanya. Tidak ada lagi Siwon yang terlalu tegar, terlalu datar dan beranggapan semua bisa dia lalui seorang diri. Kini Siwon mulai membuka hatinya kepada Yunho dan Kangin. Siwon mulai membagi kepedihannya dan kesedihannya kepada kedua orang tersebut.

Yunho masih ingat saat ketiganya saling bercerita dan membagi beban yang menghimpit mereka. Bagaimana Siwon menangis di bahu Kangin dan appanya tersebut mengelus dengan lembut rambut belakang Siwon sambil terus mengucapkan kata maaf dan kata akan terus bersama dengan Siwon dan Yunho selama dia mampu. Hari itu adalah hari berkumpulnya kembali keluarga mereka yang sempat terpecah selama bertahun-tahun. Semua permasalahan terselesaikan di hari itu dan saat ini hanya tersisa masa lalu yang meskipun menyakitkan namun tetap akan dikenang sebagai pembelajaran akan kedewasaan mereka bertiga.

“Yun, mobilnya sudah siap.” Kata Kangin membuyarkan lamunan Yunho. Dia mengangguk kepada Kangin yang mengangguk balik lalu memasukan barang-barang Siwon ke dalam bagasi mobil dibantu oleh supir keluarga mereka.

“Yun. Kau dan Jae naik bersama Siwon. Kalian akan diantar supir Jang. Appa dan Chulie noona akan naik mobilnya. Kami akan menyusul kalian. Jaga hyungmu baik-baik.”

“Siap appa. Ayo hyung.” Ajak Yunho sembari membantu Siwon masuk ke dalam mobil. Siwon menuruti saja ajakan Yunho dan berusaha masuk ke dalam mobil.

Akan tetapi saat Siwon baru memegang pintu mobil, matanya menangkap sosok seseorang. Seseorang yang selalu dia harapkan untuk menjenguknya namun tak kunjung datang.

“Kyunnie…” lirih Siwon yang ditangkap dengan sangat jelas oleh Yunho. Adik Siwon tersebut mengikuti arah pandang sang kakak dan menemukan Kyuhyun tak jauh dari mobil mereka, berdiri dengan senyum pilu dan mata berkaca-kaca saat memandang ke arah Siwon. Siwon sendiri begitu senang akhirnya bisa bertemu kembali dengan Kyuhyun.

Namun, berbanding terbalik dengan kegembiraan Siwon, Yunho tidak merasakan hal yang sama. Pemuda itu justru menatap tajam ke arah Kyuhyun sesaat lalu kembali membantu atau lebih tepatnya setengah memaksa, Siwon memasuki mobil.

“Yun… Ak…” Yunho tidak memberikan kesempatan kepada Siwon untuk berbicara sepatah kata pun. Dengan perlahan, Yunho menutup pintu mobil penumpang begitu Yunho yakin Siwon nyaman di dalam mobil kemudian mengisyaratkan Jaejoong untuk segera masuk juga ke dalam mobil. Jaejoong menghela nafas panjang sekaligus menggelengkan kepalanya, jengah dengan sikap memusuhi Yunho kepada Kyuhyun. Tetapi, untuk saat ini Jaejoong hanya mampu menuruti keinginan Yunho dan segera masuk ke dalam mobil diikuti oleh Yunho sendiri dan supir Jang.

Kyuhyun hanya diam menatap mobil yang membawa Siwon, Yunho dan Jaejoong pergi dari hadapannya. Sekilas, pandangan Siwon dan Kyuhyun beradu. Masing-masing saling memberikan tatapan penuh kerinduan sebelum akhirnya tatapan itu terputus karena mobil itu melaju meninggalkan lobby rumah sakit.

Kyuhyun memandang mobil itu semakin menjauh dari pandangannya dan menghilang di keramaian jalanan. Airmata Kyuhyun mengalir bulir demi bulir. Maksud hati untuk bisa menjenguk Siwon berakhir dengan Siwon yang ternyata diperbolehkan pulang. Kyuhyun merutuki kebodohannya yang ragu-ragu untuk datang karena takut dengan larangan Yunho untuk bertemu Siwon. Seharusnya dia tidak menghiraukan Yunho dan memaksa untuk bertemu dengan Siwon.

“Kyuhyun.” Suara berat Kangin membuat Kyuhyun segera menghapus airmatanya dan membalikan tubuhnya menghadap Kangin. Gadis manis itu membungkuk hormat kepada Kangin yang dibalas dengan anggukan dan senyum kecil dari Kangin.

“Ikutlah denganku dan Chulie noona. Nanti kau bisa bertemu dengan Siwon di rumahku.” Ajak Kangin tiba-tiba sehingga membuat baik Heechul mau pun Kyuhyun terbelalak karena terkejut.

“Ahjussi/Kangin!” seru keduanya dengan rasa masing-masing, Heechul dengan keberatannya karena dia masih kesal dengan perbuatan Kyuhyun yang memutuskan Siwon dan Kyuhyun yang tak percaya akan bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Siwon dengan mudah.

“Jangan berkata apapun dulu Kyu. Lebih baik kita segera pergi. Noona, aku pinjam kunci mobilmu. Noona menyetir sendiri tadi bukan? Jadi aku mau ambil mobil noona. Noona parkir dimana?” tanya Kangin kepada Heechul tak menghiraukan gurat kekesalan yang tercetak jelas di wajah cantiknya.

“Noona.” Desak Kangin lagi yang akhirnya membuat Heechul mengeluarkan kunci mobil yang dimaksud dan menyerahkannya kepada Kangin.

“Mobilku ada di basement, dekat lift.” Sahut Heechul ketus. Kangin terkekeh dan langsung menerima kunci mobil itu dan bergegas mengambil mobil Heechul. Sepeninggalan Kangin, Heechul dan Kyuhyun terdiam dengan pikiran mereka masing-masing sampai,

“Jangan kau kira karena Kangin mengizinkanmu menemui Siwon, kau bisa berhubungan lagi dengannya. Sudah cukup Siwon merasakan sakit karena tindakanmu. Aku harap kau tahu diri Kyuhyun-ssi.” Sinis Heechul membuat Kyuhyun sedikit gugup. Namun Kyuhyun berusaha menguasai dirinya sendiri. Dia paham benar atas kemarahan Heechul dan juga Yunho kepadanya sehingga dia tidak mau terlalu memikirkan kalimat tajam Heechul tadi. Yang ada dipikirannya sekarang adalah Siwon.

“Aku mengerti ahjumma. Jika memang Siwon oppa tidak mau menemuiku lagi nanti, aku akan menghindarinya tapi biarkan aku mendengar itu langsung dari mulutnya.” Ucap Kyuhyun tenang meski jantungnya berdetak tidak karuan setelah dipandang sengit oleh Heechul akibat perkataannya tadi.

“Terserah.” Sungut Heechul lalu diam seribu bahasa, tak mau sedikit pun melihat ke arah Kyuhyun lagi. Sedangkan Kyuhyun hanya menghela nafas dan ikut membisu.

Kyuhyun bersungguh-sungguh dengan kalimatnya tadi. Jika memang Siwon mengatakan secara langsung tidak ingin menemuinya lagi, maka Kyuhyun akan pergi dari sisi Siwon. Sebaliknya, jika masih ada harapan untuknya, Kyuhyun ingin berjuang untuk mendapatkan harapan itu.

Dia harus berjuang.

TBC

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Okay, okay… Chapter ini agak sedikit hambar… Tapi Nao juga lagi hambar moodnya jadi gomen nee… m(_ _)m #deepbow

Anyway, sepertinya mulai chapter ini ke depan penderitaan nestapa Wonnie akan menghilang (masa menderita mulu) ┌(“˘o˘)┐ Namun berhubung Nao emang lebih sering negatif auranya, jadi jangan bash Nao kalo part2 tentang kebahagiaan orang itu aneh bin ajaib. Tulisan Nao emang begitu adanya dan Nao masih terus belajar \_~(˘▾˘~)

Udinda, itu aja. Gomenasai untuk typos dan kegajean ff ini dari chapter ke chapter. Moga suka ya amazing readers dan jangan lupa tinggalkan jejak.

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, and Krisho 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements