Tags

, , , , , , , ,

Title : Hear Me 4

Pairing : StepBrother!KiHyun, Yunjae, Heechul, WonKyu, HaeBum

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Genre : Romance, Angst, Family

Warning : Un-betaed, BL, AU, MPreg

Summary : Apapun akan aku lakukan untukmu asalkan kau bahagia. Namun, apakah kebahagiaanmu harus dengan penderitaanku? Biar bagaimana pun aku akan tetap menyayangimu.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Kangin P.O.V

“Kyuhyun-ssi hanya mengalami guncangan hebat saja tuan Kim. Mungkin karena stress yang berlebihan. Anda mungkin harus mengurangi beberapa jadwal Kyuhyun-ssi agar dia bisa beristirahat.” Sahut dokter Kang, dokter keluarga kami. Sejak tadi malam hingga pagi ini dia berada di kamar ini setelah di panggil oleh Shindong atas perintahku saat Kyuhyun pingsan tadi malam. Aku bersikeras dia terus berada di sini semalaman karena aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Kyuhyun.

Mendengar sarannya tadi aku hanya mengangguk, menyetujui perkataannya walau aku tahu benar bahwa bukan jadwal Kyuhyun yang banyak yang menyebabkan dia stress. Akulah yang menyebabkan Kyuhyun stress.

Aku menggerakan jariku, mengisyaratkan kepada Shindong untuk mengantar dokter Kang keluar. Shindong membungkuk lalu langsung mengantar dokter ke pintu keluar setelah dia membereskan peralatannya. Begitu mereka berdua meninggalkan kamar Kyuhyun, aku mendekat ke ranjang Kyuhyun dan duduk di tepi ranjang tersebut.

Aku membelai rambut keponakanku yang ikal namun lembut. Aku terus membelainya sampai tanganku berhenti di pipi gembil tapi pucat miliknya. Pipi yang baru beberapa saat tadi aku tampar. Setitik airmata jatuh membasahi pipiku namun aku tidak perduli untuk menghapusnya. Setitik demi setitik terus berjatuhan sampai akhirnya aku menangis dalam diam. Tanganku yang tadinya masih di pipinya kini telah menggenggam erat tangan Kyuhyun. Aku mencium tangan keponakanku itu berkali-kali.

Oh Tuhan, apa yang sudah aku lakukan padanya? Setan apa yang merasukiku sehingga aku menamparnya seperti tadi. Emosiku tersulut kala Kyuhyun menyebutkan nama lelaki brengsek itu. Aku tidak ingin Kyuhyun kembali terluka karena orang itu. Aku tidak ingin Kyuhyun menelan pil pahit kekecewaan seperti Heechul karena kasih sayangnya tak berbalas.

Tuhan, mengapa Kyuhyun harus Kau pertemukan dengan Yunho. Dia sudah lebih baik saat aku berhasil memisahkan mereka berdua. Mengapa Kau tidak membuatnya membenci pria itu? Mengapa Kau tidak membuatnya lebih mencintaiku? Aku ini pamannya.

“Maafkan ahjussi Kyu, maafkan ahjussi.” Lirihku masih menggenggam tangan Kyuhyun. Dia segalanya untukku sekarang. Bagaimana mungkin aku bisa menyerahkan pada lelaki tidak tahu diri itu yang sudah pasti akan membuatnya menderita.

“Tuan.” Aku tersentak sedikit ketika mendengar panggilan Shindong. Dengan cepat aku menghapus airmataku meski aku sadar terlambat untuk melakukan itu semua. Shindong pasti sudah mengetahui bahwa aku baru saja menangis.

“Ada apa?” tanyaku datar tanpa berbalik untuk melihat Shindong.

“Donghae sudah datang. Apa saya suruh dia untuk kembali kemari nanti?”

“Tidak. Suruh dia menghadapku sekarang.”

“Baik tuan. Saya permisi.” Pamit Shindong kemudian keluar dari kamar Kyuhyun. Sementara aku terus menatap Kyuhyun. Jujur, sekarang aku bimbang dengan langkahku selanjutnya. Keputusanku tadi malam melarang Kyuhyun untuk bertemu dengan Yunho dan keluarganya sudah mengakibatkan Kyuhyun seperti sekarang. Apalagi jika keputusan itu benar-benar aku lakukan. Bisa-bisa Kyuhyun justru membenciku. Tapi aku tidak mau dia meninggalkanku dan kembali kepada Yunho.

“Tuan.” Sahut Donghae pelan ketika dia memasuki kamar Kyuhyun bersama dengan Shindong. Aku berdiam diri sesaat sebelum akhirnya berdiri dan membalikan tubuhku menghadap Donghae dan Shindong. Aku menatap pemuda yang aku tahu terpaksa bekerja denganku karena ancamanku untuk menghabisinya jika dia berani keluar dari organisasiku.

Dia terlihat gugup akan sesuatu namun mencoba untuk bersikap tenang dihadapanku. Tapi aku bukan anak kemarin sore yang bisa dia perdaya begitu saja. Aku bisa menduga dia memiliki keterkaitan dengan Kyuhyun dan juga keluarga Jung. Tampaknya informasi dari Shindong mengenai kedekatannya dengan anak pertama Yunho itu benar adanya.

“Apa kau tahu kenapa kau dipanggil kemari Donghae?” tanyaku pelan namun dengan tekanan yang cukup membuat Donghae menyurut nyalinya. Aku bisa melihat meneguk salivanya sendiri mencoba menjawa pertanyaanku.

“Aku.. aku tidak tahu tuan.”

“Oh. Begitu.” Ucapku mengulur waktu. Aku berjalan ke arahnya dan langsung bertatapan empat mata dengan Donghae. Aku tersenyum sinis pada pemuda di depanku ini sebelum mengacungkan pistol yang tersampir di punggungku ke kepalanya. Aku bisa melihat dengan jelas raut ketakutan dan keringat dingin mengalir dari dahinya.

“Kau tahu aku tidak suka dibohongi bukan Donghae?” tanyaku bermain dengannya. Donghae mengangguk pelan sebagai jawaban. Aku mengangguk-angguk pelan sambil mengetuk-etuk moncong pistolku ke kepalanya.

“Jadi..” aku sengaja menggantungkan perkataanku dan membiarkan Donghae menjelaskan apa yang ingin aku dengar.

“Aku.. aku..”

“Cepat bicara atau peluru ini akan menghiasi kepalamu Donghae! Apa yang kau lakukan dengan Kyuhyun tadi malam?! Katakan padaku dimana bajingan itu tinggal sekarang?! JAWAB AKU!!”

“Maafkan aku tuan, tapi kumohon jangan paksa aku untuk bicara. Aku mohon jangan siksa keluarga Jung lagi. Aku mohon jangan siksa Kibum lagi. Aku mohon.”

Dak!

Kakiku menendang wajah Donghae sehingga di tersungkur di lantai kamar Kyuhyun yang beralaskan karpet. Belum puas rasa marahku padanya aku tending perutnya berkali-kali sampai dia mengeluarkan darah dari mulutnya. Beraninya dia memohon padaku seperti itu tentang keluarga Jung.

Aku mendengar erangan kesakitan dari pemuda di bawah kakiku ini. Aku melihatnya sesaat lalu merunduk dan berjongkok di depannya. Aku menjambak rambutnya kasar agar menatapku sekali kali. Namun ternyata pemuda ini masih terlalu kesakitan karena dia masih memegangi perutnya dan tidak mengangkat wajahnya untuk menatapku.

Door!

“Argh!!” erangnya lagi dan kali ini dia memegangi pahanya yang baru saja aku tembak. Aku memandang pemuda ini dengan pandangan datar. Aku ingin sekali membunuhnya, tapi dia masih berguna untukku.

“Urgh..” Tampaknya suara tembakanku tadi membangunkan Kyuhyun. Aku kembali berdiri lalu berjalan menjauhi Donghae. Entah apa yang merasukiku tapi pikiran bimbangku tadi lenyap berganti dengan pemikiran awalku. Yunho dan Kyuhyun tidak boleh bertemu lagi. Aku tidak mengerti pengaruh apa yang dimiliki keluarga Jung sialan itu sehingga tidak Kyuhyun, tidak Donghae, mereka semua membela mereka. Aku bodoh bersikap lemah hanya karean Kyuhyun jatuh sakit. Biarlah Kyuhyun sakit sekarang daripada dia menderita nantinya.

“Shindong!”

“Ya tuan.”

“Kirim Donghae ke organisasi kita yang ada di Cina. Biarkan dia menyelesaikan sekolahnya disana. Urus semuanya dengan baik termasuk dengan orang tuanya. Jangan biarkan Donghae berhubungan lagi dengan Kibum.”

“Baik tuan. Ada lagi?”

“Kau mengerti aku Shindong. Bawa Donghae pergi dari sini dan segera cari tahu dimana lokasi keluarga Jung sekarang beserta semua informasi mengenai mereka. Tampaknya mereka sudah bosan untuk hidup tenang karena sudah berani berhubungan lagi dengan Kyuhyun.”

“Baik tuan. Saya permisi.”

“Oh satu lagi Shindong.”

“Ya tuan?”

“Aku tarik perintahku tadi malam. Mulai sekarang Kyuhyun tidak boleh pergi kemana pun. Kebetulan kita akan ada urusan yang cukup lama di Jepang dan aku akan membawanya ke sana. Dia akan home schooling sampai tiba waktunya kita berangkat. Lalu..” aku mengisyaratkan Shindong untuk mendekat kepadaku. Pria besar itu segera menghampiriku dan ketika dia sudah di sampingku aku langsung membisikan sesuatu di telinganya.

Shindong tampak terkejut dengan apa yang telah aku bisikan padanya, namun dia hanya menganguk dan melangkah pergi dengan memapah Donghae yang tak henti-hentinya memohon agar aku tidak mengirimnya ke Cina. Namun sekali lagi aku tidak perduli. Dia pantas menerima itu karena sudah berani mengkhianatiku.

Biasanya aku langsung membunuh siapa pun yang berani berbuat demikian, akan tetapi anak itu berguna bagiku untuk menambah kesedihan keluarga Jung karena aku yakin dengan laporan Shindong bahwa dia menjalin hubungan khusus dengan Kibum. Berbicara soal Kibum, dia dan kedua orang tuanya tidak tahu apa yang akan menimpa mereka. Ya, biar waktu yang menjawab itu semua. Sekarang aku ada urusan yang lebih penting. Kyuhyun-ku sudah bangun dari tidurnya.

End Kangin P.O.V

.

.

.

Prang!

Jaejoong tersentak karena piring yang dia jatuhkan sendiri. Dia memandag piring yag hancur berantakan di lantai dapur. Tiba-tiba saja perasaan Jaejoong tidak enak, seakan ada hal buruk yang akan menimpa keluarganya. Jaejoong merasa tidak tenang dan menjadi cemas. Dia melihat ke arah jam dinding dan semakin menjadi khawatir karena pasalnya sekarang sudah jam sebelas malam dan Kibum belum juga kembali. Kibum tidak pernah pulang selarut ini tanpa memberitahu Jaejoong dan Yunho. Tanpa membereskan sisa pecahan piring, Jaejoong segera menghubungi Yunho yang kebetulan hari ini lembur kerja.

“Yoboseyo Yunnie.”

“…”

“Tidak, aku hanya ingin memberitahumu mengenai Kibum.”

“…”

“Kibum belum pulang sampai sekarang Yun. Aku cemas.”

“…”

“Baik. Aku menunggumu.” Ucap Jaejoong lalu memutuskan sambungan telepon dengan Yunho. Dia lalu segera kembali ke dapur untuk membereskan pecahan piring yang tadi dia tinggalkan.

Ketika Jaejoong sedang sibuk membereskan pecahan piring tersebut, seseorang mengetuk pintu apatemennya. Kelihatannya tamu tersebut tidak sabaran dari cara dia mengetuk pintu Jaejoong berkali-kali tanpa jeda. Jaejoong segera berjalan menuju pintu depan setelah dia membuang pecahan piring itu ketempat sampah.

Sesampainya dia di pintu depan, Jaejoong langsung membuka pintu dan melihat dua orang pria berpakaian rapi dengan jas hitam beserta dasi yang terselip rapi di depan kemeja putih mereka. Jaejoong sedikit takut denngan kehadiran mereka karena untuk apa tamu seperti mereka ada di depan pintu apartemennya.

“Ada yang bisa saya bantu tuan-tuan?” tanya Jaejoong pelan namun cukup untuk bisa didengar oleh kedua pria tersebut.

“Anda Jung Jaejoong?” tanya balik salah seorang dari kedua pria tersebut. Jaejoong mengangguk sebagai jawaban. Mengetahui yang dihadapannya adalah orang yang dia cari, pria yang bertanya kepada Jaejoong memberikan sebuah amplop putih yang sepertinya berisikan surat.

Walau Jaejoong merasa curiga, dia menerima surat tersebut. Dengan perlahan dia mengambil surat tersebut dari tangan si pria dan membukanya. Jaejoong mengeluarkan isi amplop tersebut yang benar ternyata merupakan sebuah surat dengan beberapa surat penting. Jaejoong melihat surat penting tersebut terlebih dahulu sebelum dia membaca surat yang ada.

Jaejoong cukup terkejut ketika mengetahui bahwa surat penting itu ternyata merupakan surat kepemilikan perusahaan milik Yunho. Jaejoong memandang bingung kepada pria-pria di depannya, namun wajah datar yang di tunjukkan oleh mereka membuat Jaejoong tidak banyak bertanya dan kembali memeriksa surat penting lainnya.

Semua surat penting itu adalah semua surat yang menyatakan mengembalikan semua harta benda milik Yunho dan juga beberapa miliknya. Jaejoong sungguh tidak mengira bahwa semua ini terjadi kepada keluarganya. Jaejoong bersyukur bahwa pria-pria ini membawa berita baik untuknya dan Yunho.

Akan tetapi, Jaejoong merasa sedikit curiga. Mengapa hal ini sepertinya begitu mudah. Apa hubungan para pria ini dengan masalah dan surat penting yang mereka bawa ini. Jaejoong menatap kembali ke arah mereka dan menanyakan perihal surat-surat ini.

“Anda akan tahu setelah anda membaca surat yang satunya lagi tuan Jung.”

“Oh, kalau begitu apa tidak sebaiknya anda sekalian masuk dulu agar kita bisa berbicara dengan lebih tenang. Tidak baik berdiri seperti sekarang.”

“Maaf tuan Jung. Kami hanya disuruh mengirimkan surat itu dan memastikan anda membacanya. Tidak ada yang perlu di diskusikan dengan kami.”

“Oh. Baiklah. Sebentar, saya baca dulu.” Ucap Jaejoong semakin curiga, tetapi dia sementara ini hanya bisa mengikuti keinginan para pria ini dengan membaca surat yang satunya. Jaejoong membacanya dengan seksama agar tidak terlewat saru kata pun dan ketika dia selesai membacanya, betapa terkejutnya Jaejoong. Dia meremas surat itu dan berteriak kepada para pria tersebut,

“Dimana kalian bawa Kibum?!!”

.

.

.

Kibum P.O.V

Aku membuka mataku dan mencoba beradaptasi dengan sinar yang ada di ruangan ini. Walau sinarnya tidak begitu silau namun retina mataku masih belum bisa menyesuaikan cahaya yang masuk. Aku sedikit menyipitkan kedua mataku sambil berusaha bangkit. Kepalaku masih sedikit pusing namun aku tetap berusaha untuk tidak terlalu lama berdiam diri disini. Saat aku berusaha untuk bangun, aku menyadari bahwa kedua tanganku terikat dan mulutku di tutup oleh isolasi plastik yang lebar. Aku panik karena aku pernah merasakan kejadian ini dulu. Hal ini sama persis dengan kejadian saat penculikanku dengan Kyuhyun.

Dengan sekuat tenaga aku mencoba berdiri dengan bantuan dinding di belakangku. Aku melakukan ini karena aku sadar kakiku tidak diikat oleh mereka sehingga aku masih sedikit bebas untuk bergerak dengan kakiku. Setelah bersusah payah akhirnya aku bisa berdiri dengan tegak. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari pintu keluar dan menemukannya di ujung ruangan ini di sebelah kiriku.

Aku berjalan tertatih menuju pintu keluar itu. Aku berdoa bahwa orang yang melakukan hal ini padaku ceroboh dan membiarkan pintu itu terbuka. Namun, siapa yang kubodohi, belum sempat aku sampai ke pintu tersebut, pintu itu sudah terbuka dan menampilkan beberapa pria berjas hitam yang aku tahu adalah orang yang tidak baik. Di antara mereka aku mengenali seseorang, sepertinya dia adalah orang kepercayaan dari Kim Kangin, paman kandung Kyuhyun, namun aku tidak tahu siapa namanya.

“Oh, kau sudah bangun tuan muda Jung. Mohon maaf atas ketidak nyamanan anda. Tapi kami takut anda akan langsung melarikan diri.” Ucap orang itu sopan. Akan tetapi aku bisa merasakan ketegasan dan nada dingin yang menusuk dari suaranya. Aku hanya bisa menggeleng dan mengangguk. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa atau bagaimana menjawab dia karena mulutku masih ditutup oleh isolasi plastik ini.

Pria besar itu mendekati diriku. Sepertinya dia pemimpinnya untuk orang-orang di belakangnya itu karena mereka semua terlihat tunduk dan hormat padanya. Aku terus mundur ketika dia mendekatiku sampai aku terjatuh ke belakang karena tersandung sebuah kotak di bawah kakiku.

Aku memandangnya dari bawah dengan pandangan takut. Aku tidak bisa bersikap kuat seperti saat aku diculik pertama kali karena kali ini aku sendirian. Saat itu aku bisa tenang karena ada Kyuhyun bersamaku. Entah pengaruh apa yang dimiliki adikku itu tapi saat bersamanya aku merasa bahwa aku harus bersikap kuat dan tegar. Namun sekarang, Kyuhyun tak ada disini. Aku sendirian menghadapi entah apa yang akan terjadi padaku.

Pria itu menyamakan tinggi tubuhnya denganku dengan berjongkok. Dia masih menampakan senyumnya walau senyum itu terlihat menakutkan bagiku. Dia mengulurkan tangannya ke arah wajahku. Aku memejamkan mataku erat, takut dia akan memukulku. Akan tetapi ternyata dia melepaskan isolasi plastik ini dari mulutku dan begitu aku bisa berbicara lagi aku berteriak kepadanya.

“Kenapa kalian membawaku kemari?! Kenapa kalian menculikku?!” teriakku. Marah, takut, gugup, dan segala macam perasaan tak menentu berkecamuk di hatiku. Aku benar-benar tak habis pikir. Mengapa mereka tak henti-hentinya menggangu keluargaku. Apa tidak cukup dengan memisahkan kami dengan Kyuhyun. Kyuhyun. Oh Tuhan, semoga ini tidak berdampak apa pun terhadap Kyuhyun. Kemarin dia pulang larut malam dari apartemen kami. Aku menjadi cemas akan keadaannya. Semoga Kim Kangin tidak menghukumnya.

“Maafkan saya tuan muda Jung, tapi saya hanya mengikuti perintah. Saya mohon anda tidak melakukan hal yang membuat anda sendiri susah nanti. Demi anda dan juga keluarga anda.” Perhatianku kembali kepada pria besar ini. Aku terpaku karena mendengar perkataannya. Dia mengancamku, dia mengancam keluargaku. Oh Tuhan, semoga mereka baik-baik saja.

“Kau apakan keluargaku?! Appa, umma. Kenapa kalian masih mengganggu kami hah?! Apa salah kami kepada kalian?!” seruku kepada pria itu. Airmataku mengalir karena rasa takut dan juga marah. Pria itu hanya menatapku datar lalu berdiri.

“Saya rasa anda tahu jawaban atas pertanyaan anda tadi.” Ucapnya datar. Apa? Apa maksudnya? Kenapa dia berkata seperti itu. Aku semakin bingung dan cemas.

“Kalian berdua.” Aku mengangkat kepalaku ketika pria itu berteriak memanggil anak buahnya. Aku melihat dua orang datang dan membungkukan tubuhnya di depan pria ini.

“Ya tuan Shindong.” Aku ingat. Namanya Shindong. Dia memang orang kepercayaan Kim Kangin. Jadi ini benar-benar berhubungan dengan paman Kyuhyun itu. Berarti bisa jadi Kyuhyun juga mengalami masalah seperti aku. Tidak, dia tidak boleh menderita lagi.

“Tuan Shindong, Kyuhyun gimana? Apa Kyuhyun baik-baik saja? Tuan Shindong, kumohon jawab aku.” Pintaku memelas. Aku benar-benar cemas dengan keadaan adikku itu. Tapi pria ini tidak mau menjawabku. Dia justru memerintahkan anak buahnya untuk membawaku ke suatu tempat.

“Segera bawa tuan muda Jung ke mobil. Jangan terlalu kasar. Kita sudah terlambat.”

“Baik tuan.” Kedua anak buahnya itu segera memegang lenganku dan membawaku keluar dari ruangan itu. Aku memberontak sekuat tenaga untuk bisa lepas dari mereka sekaligus berteriak dengan kencang.

“Lepaskan! Lepaskan aku!!” Namun apa dayaku, kedua orang ini terus membawaku tanpa kesulitan walau aku memberontak. Di saat aku di bawa pergi oleh mereka, aku masih bisa mendengar suara Shindon-ssi yang berbicara dengan seseorang di ponselnya.

“Yoboseyo tuan.” Tuan? Apakah itu Kim Kangin? Pasti dia. Aku berusaha mendengarkan, tapi jaraknya terlalu jauh. Aku mencoba menajamkan telingaku sekali lagi, berharap masih bisa mendengar pembicaraan mereka.

“…”

“Semua sudah beres tuan. Kami akan segera berangkat sesuai rencana.” Berangkat? Kemana?

“…”

“Baik tuan. Saya mengerti.” Dia menutup ponselnya. Hanya itu? Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mau dibawa aku? Aku masih terus berusaha melawan tapi tenagaku sudah habis dan jelas bukan tandingan tenaga orang-orang ini. Aku semakin takut dengan apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Ditambah kesadaranku mulai berkurang karena salah seorang dari mereka menutup mulutku dengan kain yang beroma sedikit manis. Tuhan, tolong aku. Appa, umma, tolong aku. Siwon, tolong aku. Donghae, tolong aku. Kyunnie, tolong hyung. Kyunnie.. Kyunnie..

End Kibum P.O.V

.

.

.

“Hyung!!” teriak Kyuhyun begitu dia bangun dari tidurnya. Dari dahi dan seleuruh tubuhnya keluar keringat yang cukup banyak sehingga membuat kaos tidurnya basah. Kyuhyun mencoba menarik nafas dan membuangnya perlahan untuk menenangkan hatinya. Kyuhyun bermimpi buruk, walau hatinya tidak merasa bahwa tadi adalah mimpi buruk. Hati Kyuhyun tidak tenang dan selalu terbayang-bayang oleh Kibum.

Hal ini wajar karena sejak tadi pagi, Kyuhyun sudah memiliki firasat buruk saat Kangin mengatakan bahwa Kyuhyun tidak perlu bertemu lagi dengan keluarga Jung. Kyuhyun takut pamannya itu akan melakukan tindakan yang lebih ekstrem daripada mengambil alih perusahaan milik Yunho. Kyuhyun tahu pamannya sanggup melakukan apa saja tanpa terjerat hukum. Pengaruh Kangin sungguh besar sehingga dia mampu memanipulasi setiap orang.

Kyuhyun yang mulai tenang segera bangun dan berjalan ke pintu kamarnya. Tapi seperti tadi pagi, Kyuhyun tidak bisa keluar kamar tanpa seijin Kangin. Kyuhyun seperti tahanan yang terpenjara di kamarnya sendiri. Kyuhyun mencoba berkali-kali membuka pintu itu tapi tidak bergerak juga sehingga dia menyerah. Tapi dia ingat bahwa dia masih diberikan kebebasan untuk menggunakan ponselnya. Kyuhyun langsung berjalan lagi ke ranjangnya dan mengambil ponsel yang terletak di atas meja nakasnya. Dengan tergesa-gesa dia lalu menghubungi Yunho.

“Ayo angkatlah appa.” Gusar Kyuhyun tak sabar. Kyuhyun terus menunggu sampai Yunho mengangkat teleponnya tapi yang Kyuhyun dengar hanya nada sambung lalu mesin penjawab yang menjawab panggilannya. Kyuhyun mendengus kesal. Dia lalu kembali menekan nomor telepon Jaejoong berharap dia bisa menggapai Jaejoong. Namun harapan tinggal harapan.

Kondisi yang sama dengan Yunho membuat Kyuhyun frustasi. Dia mencoba nomor Donghae lalu terakhir Kibum, tapi dia mendapatkan hasil yang sama. Akhirnya Kyuhyun mencoba menghubungi Siwon. Beruntung dia sempat mendapatkan nomor Siwon dari Kibum, walau Siwon sendiri mungkin tidak memiliki nomornya. Kyuhyun menunggu sambungan teleponnya lagi sampai,

“Yoboseyo.” Suara Siwon yang menjawab telepon Kyuhyun membuat hatinya lega. Karena terlalu senang, Kyuhyun sampai berteriak keras kepada Siwon dan tidak menyadari suara Siwon yang mengantuk. Jelas telepon Kyuhyun telah membangunkan Siwon.

“Siwon!”

“Tolong jangan berteriak seperti itu. Aku tidak tuli. Siapa ini?” tanyanya dengan sedikit nada kesal. Kyuhyun menutup mulutnya sendiri, merasa tidak enak karena telah berteriak di telinga Siwon seperti tadi.

“Oh, maafkan aku. Ini Kyuhyun.” Jelas Kyuhyun.

“Kyuhyun?! Ada apa Kyu? Mengapa kau menelepon malam-malam begini?” tanya Siwon sudah sepenuhnya bangun. Nada bicara Siwon langsung berubah ketika dia mendengar Kyuhyun yang meneleponnya. Siwon sendiri tidak mengerti mengapa dia jadi begitu senang kala mendengar lagi suara Kyuhyun. Terlebih lagi Kyuhyun sendiri yang menghubunginya terlebih dahulu.

“Umm.. Maaf mengganggumu malam-malam begini, Siwon. Aku.. aku butuh bantuanmu.” Pinta Kyuhyun gugup. Kyuhyun baru sadar bahwa sekarang dia sedang menghubungi orang yang dia sukai. Ternyata perasaan cemas akan Kibum dan kedua orang tuanya membuatnya lupa akan perasaannya sendiri terhadap Siwon.

“Bantuanku? Boleh. Bantuan seperti apa?” tanya Siwon antusias. Dia merasa senang Kyuhyun membutuhkan bantuannya. Membutuhkan dirinya.

“Umm.. Bisakah.. Bisakah kau ke tempat Yunho appa dan memeriksa keadaan mereka?” pinta Kyuhyun lagi. Dia mengigit bibirnya sendiri menunggu reaksi Siwon akan permintaan anehnya itu.

“Huh? Memeriksa? Well, aku tadi siang baru dari sana Kyu. Ada titipan dari appaku untuk Yunho-ssi.  Namun aku hanya bertemu dengan Jaejoong-ssi karena Yunho-ssi lembur. Sepertinya mereka baik-baik saja. Memang kenapa kau memintaku demikian?” tanya Siwon penasaran.

Kyuhyun merutuki kebodohannya sendiri. Dia berpikir sudah pasti Siwon akan curiga dengan permintaannya. Untuk apa dia meminta Siwon seperti itu, jika dia kahawatir seharusnya dia bisa berkunjung sendiri. Permintaannya ini hanya membuat Siwon curiga bahwa ada masalah dengan keluarga Jung.

“Oh tidak. Umm.. Aku.. Aku hanya cemas saja. Bukan hal penting.” Kilah Kyuhyun. Bisa terdengar nada gugup dari dirinya.

“Kau yakin?” tanya Siwon. Dia tidak yakin dengan perkataan Kyuhyun tadi. Siwon menjadi semakin penasaran, namun dia akan diam saja jika Kyuhyun tidak mau bercerita.

“Ya. Aku yakin.” Jawab Kyuhyun. Siwon hanya menghela nafas pelan. Dia tidak akan memperpanjang masalah ini jika memang Kyuhyun yakin dengan perkataannya.

“Baiklah kalau begitu, jika kau yakin.”

“Aku yakin. Lalu.. umm.. satu lagi Siwon. Apakah Kibum hyung ada di rumahnya?” tanya Kyuhyun pelan. Dalam hati, dia berdoa semoga Siwon tidak semakin curiga.

“Kibum? Tadi aku tidak melihatnya. Sepertinya dia belum pulang.”

“Belum pulang?”

“Itu yang dikatakan Jaejoong-ssi, Kyu. Kau kenapa dari tadi menanyakan soal mereka terus? Kau mau aku kesana lagi untuk memeriksa keadaan mereka?” kata Siwon menawarkan untuk membantu Kyuhyun. Siwon merasa bahwa Kyuhyun cemas akan keadaan keluarganya pasti karena suatu alasan yang kuat. Dan jika Siwon memang bisa membantu, dia akan melakukannya.

“Eh? Maukah kau melakukannya Siwon? Ini sudah malam sekali. Apa kau tidak akan dimarahi oleh orang tuamu?” tanya Kyuhyun.

Mendengar tawaran Siwon tadi, Kyuhyun merasa senang dan sedikit berharap Siwon akan bisa membantunya karena sekarang hanya Siwon satu-satunya yang bisa Kyuhyun andalkan. Hati Kyuhyun semakin menyukai Siwon walau dia tahu kecil kemungkinan Siwon akan membalas perasaannya karena Kyuhyun tahu Siwon masih menyimpan rasa kepada Kibum. Kyuhyun tidak tahu bahwa Siwon mulai merasakan sesuatu terhadap dirinya.

“Tentu saja, Kyu. Aku juga jadi cemas karena kau bertanya terus. Kalau soal orang tuaku, tidak masalah. Kau tak perlu cemas soal mereka.” Jelas Siwon. Kyuhyun bernafas lega ketika Siwon bersedia melakukan itu. Kyuhyun benar-benar bersyukur dia mengenal Siwon.

“Terima kasih Siwon. Aku benar-benar berhutang padamu.” Sahut Kyuhyun sambil tersenyum sendiri.

“Apa kau mau ikut Kyu? Aku bisa menjemputmu.” Kyuhyun terdiam sesaat.Dia tidak mengira Siwon akan mengajaknya. Jika saja situasinya berbeda, Kyuhyun pasti akan langsung menyetujui ajakan Siwon itu. Namun, kali ini Kyuhyun tidak bisa. Dia tidak mau menjerumuskan Siwon dalam masalahnya, apalagi sampai terlibat dengan Kangin.

“Aku ingin sekali, tapi aku tidak bisa. Kangin ahjussi menghukumku untuk tidak keluar rumah karena aku telat pulang kemarin. Maaf Siwon.” Tolak Kyuhyun halus.

“Kau tidak perlu minta maaf. Baiklah, aku pergi dulu. Nanti akan aku kabari ya Kyu. Bye.”

Bye.” Kyuhyun menutup ponselnya. Dia menghela nafas berat. Kyuhyun menatap ke meja nakasnya dan melihat foto dirinya bersama dengan Kangin. Mereka berpose di depan rumah mereka sehari setelah mereka pindah ke rumah ini.

Di foto itu keduanya saling berangkulan dan tersenyum lebar. Kyuhyun melihat sisi lain pamannya yang terlihat ramah dan penyayang. Namun, sekarang Kyuhyun merasa sedih karena secara tidak langsung, dirinya menyebabkan pamannya kembali menjadi Kangin yang dingin dan kejam.

Kyuhyun bingung bagaimana caranya agar Kangin mau mengerti bahwa dia sangat menyayangi dirinya sama halnya kepada Yunho, Jaejoong dan Kibum. Bagi Kyuhyun, mereka adalah keluarganya dan Kyuhyun selalu tertekan jika keluarga yang sangat dia cintai harus tercerai berai seperti ini.

Kyuhyun menghela nafas lagi. Dia akan berpikir nanti untuk masalah Kangin. Sekarang baginya yeng terpenting adalah keadaan Yunho, Jaejoong dan Kibum. Terlebih lagi Kibum. Mimpi buruk tadi masih terus menghantuinya. Kyuhyun merasakan firasat buruk bahwa telah terjadi sesuatu dengan Kibum. Kyuhyun berdoa semoga firasatnya tidak benar dan Siwon membawa kabar baik untuknya.

Kibum hyung. Semoga kau baik-baik saja.

.

.

.

Kangin berjalan bolak balik di depan pintu kamar Kyuhyun. Dari raut wajahnya terlihat Kangin sangat cemas. Bahkan Kangin sampai meremas rambutnya sendiri ketika dia tidak bisa mengendalikan rasa cemasnya akan keadaan Kyuhyun yang saat ini sedang di tangani oleh dokter keluarga Kim. Rasa cemas Kangin mengalahkan rasa amarah dan rasa kecewa karena tindakan Kyuhyun yang menyebabkan pemuda manis itu berada dalam situasi seperti sekarang ini. Kangin masih belum percaya bahwa Kyuhyun mampu melakukan hal menakutkan itu. Kangin tidak percaya Kyuhyun berani untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Flashback

Kyuhyun menjatuhkan ponselnya ketika dia mendengar kabar dari Siwon bahwa Kibum sudah tidak ada lagi bersama dengan Yunho dan Jaejoong. Siwon mendapatkan informasi tersebut ketika dia berkunjung ke apartemen Yunho dan Jaejoong sesuai permintaan Kyuhyun.

Siwon menceritakan ketika dia sampai di sana, dia menemukan Jaejoong yang terus menangis dalam pelukan Yunho yang raut wajahnya juga tampak cemas sekaligus sedih. Tampak raut wajah pria itu juga terlihat lelah dan sedikit ada ketakutan di matanya. Siwon yang melihat itu semua menjadi bingung dan langsung menanyakan kepada keduanya apa yang sudah terjadi.

Jaejoong menceritakan dari para pria datang ke apartemennya dan menyerahkan surat kepadanya sampai informasi yang di dapatkan Jaejoong bahwa Kibum ada di tangan Kangin sebagai ganti semua properti milik Yunho dikembalikan kepada Yunho. Jaejoong sampai saat ini tidak percaya bahwa Kangin bisa begitu saja menukar Kibum anaknya dengan harta benda.

Jaejoong tidak bisa mengerti mengapa Kangin ingin sekali memisahkan Kibum dengannya dan juga Yunho. Menurut Jaejoong, Kangin seperti belum puas membalas dendamnya kepada Yunho sehingga Kangin melakukan semua ini. Kangin merasa apa yang sudah dia lakukan seperti ketika dia membuat Yunho harus memilih antara Kyuhyun dan Kibum padahal dia tahu keduanya adalah anak yang sangat disayangi oleh Yunho, masih belum cukup untuk Kangin.

Jaejoong tidak tahu bahwa alasan utama Kangin adalah karena dia jengah dengan keluarga Jung yang selalu saja bisa membuat Kyuhyun merasa bahagia. Jaejoong tidak tahu bahwa Kangin melakukan ini karena dia tidak mau keluarga Jung dekat kembali dengan Kyuhyun.

Mendengar penjelasan Jaejoong di sela-sela isakannya, Siwon hanya bisa terperangah. Dia juga tidak percaya jika Kibum yang baru saja dia temui tadi dan baru saja berbahagia karena bisa bersama lagi dengan Kyuhyun, mendadak harus mendapatkan kejadian seperti ini. Dalam hatinya, Siwon bingung bagaimana cara menyampaikan semua ini kepada Kyuhyun. 

Akan tetapi, Siwon harus menyampaikan semua ini. Mau tidak mau, Siwon harus menguatkan tekadnya dan memberitahu Kyuhyun mengenai masalah ini. Siwon merasa bahwa Kyuhyun berhak tahu. Maka dari itu, Siwon langsung menghubungi Kyuhyun dan menceritakan kembali apa yang sudah di sampaikan oleh Jaejoong.

Dan di sinilah sekarang Kyuhyun berada, meringkuk di samping ranjangnya sambil menangis pilu, tidak menghiraukan panggilan-panggilan Siwon yang khawatir karena tiba-tiba saja Kyuhyun tidak lagi menjawabnya. Kyuhyun sendiri terlalu sedih, takut, dan kecewa dengan semua ini.

Dia tahu Kangin sangat membenci keluarga Jung, tapi Kyuhyun tidak mengira bahwa pamannya itu akan bertindak sekejam ini dengan memisahkan Kibum dari Yunho dan Jaejoong dan menawannya entah dimana. Kyuhyun terus menangis karena dia merasa bahwa semua ini salahnya. Seandainya dia mengikuti perkataan Kangin untuk tidak bertemu lagi dengan keluarga Jung, pasti Kibum masih bersama dengan Yunho dan juga Jaejoong.

Kyuhyun terus menangis sampai iris matanya tidak sengaja melihat pisau buah di meja nakasnya. Kyuhyun memandangi pisau itu seakan pisau itu memiliki solusi atas semua permasalahan yang dialaminya. Seperti di bisiki oleh sesuatu, Kyuhyun dengan perlahan mengambil pisau itu. Dilihatnya terus benda kecil namun tajam itu dengan lekat dan tanpa peringatan apapun Kyuhyun menyayatkan mata pisau itu ke arah pergelangan tangannya tepat dia atas urat nadinya.

Darah segar langsung mengucur dari tangan itu. Tapi sakit dan perih luka di pergelangan tangan Kyuhyun sama sekali tidak dirasakan olehnya. Kyuhyun justru terus memandangi luka dan darah yang terus keluar itu sampai akhirnya dia kehilangan kesadaran dirinya dan pingsan di lantai dekat tempat tidurnya. Dalam keadaan seperti itulah Kyuhyun di temukan oleh salah satu pelayan di rumah Kangin ketika dia hendak memeriksa keadaan Kyuhyun.

End Flashback

Kangin masih belum percaya Kyuhyunnya mampu melakukan itu semua. Apa Kyuhyun benar-benar tertekan hidup bersamanya selama ini? Tapi Kangin tidak pernah melihat Kyuhyun mengeluh atau pun menunjukkan bahwa dia tidak betah tinggal bersama Kangin. Kyuhyun justru bersikap sangat baik, penurut, dan tidak banyak permintaan terhadapnya. Kangin sama sekali belum sadar bahwa Kyuhyun melakukan itu semua karena tindakannya yang terpicu oleh emosi dan rasa tidak rela karena Kyuhyun kembali dekat dengan keluarga Jung.

Kangin langsung memalingkan wajahnya ke arah dokter yang baru saja keluar dari kamar Kyuhyun. Kangin menghampiri dokter tersebut dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan tentang keadaan Kyuhyun. Dokter tersebut tersenyum sebelum menjawab bahwa Kyuhyun baik-baik saja. Mungkin sedikit lemas karena kehilangan darah tapi nyawanya masih bisa terselamatkan. Dokter itu berkata jika terlambat sedikit saja pelayan Kangin menemukan Kyuhyun, mungkin saat ini Kyuhyun sudah tidak bersama dengan mereka lagi.

Kangin menghela nafas lega lalu berterima kasih atas bantuan dokter tersebut. Dia lalu menyuruh anak buahnya untuk mengantar sang dokter pulang kemudian masuk ke kamar Kyuhyun untuk melihat keadaan Kyuhyun. Di dalam, Kyuhyu terlihat terbaring lemah dan sedikit pucat. Sesuai kata dokter, Kyuhyun memang kehilangan darah namun tidak sampai mengharuskan Kyuhyun untuk ke rumah sakit. Kangin mendekati ranjang Kyuhyun dan duduk di pinggirannya sambil membelai lembut pipi bulat Kyuhyun yang sekarang lebih pucat dari biasanya.

Kyuhyun terusik dengan sentuhan lembut dari Kangin sehingga perlahan dia mulai membuka matanya. Saat bola mata coklatnya melihat Kangin, Kyuhyun langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Kyuhyun merasa enggan bertemu muka dengan Kangin sekarang. Terlebih lagi dengan situasinya saat ini yang membuatnya canggung dan semakin takut dengan Kangin.

Takut pamannya itu akan membentaknya dan memarahinya dan semakin bertindak di luar dugaan Kyuhyun. Sedangkan Kangin yang mendapat perilaku Kyuhyun seperti itu semakin yakin bahwa Kyuhyun telah membencinya. Kangin yakin bahwa Kyuhyun sudah mengerahui bahwa dia telah membawa pergi Kibum dari kedua orang tuanya dan hal tersebut membuat Kyuhyun tertekan.

Kangin memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Sepertinya Kangin tidak punya pilihan lain selain memberikan apa yang Kyuhyun inginkan. Dengan pemikiran itu, Kangin beringsut mendekati Kyuhyun lalu dengan pelan dan lembut meraih tubuh pemuda itu dan memeluknya dengan erat.

Kyuhyun sedikit terkejut dengan perbuatan Kangin ini, namun pemuda itu tidak menolak ketika lengan kekar Kangin memeluk bahu dan pinggangnya. Hanya saja Kyuhyun tidak berkeinginan untuk membalas pelukan Kangin. Hati pemuda itu masih terlalu sakit akibat perbuatan Kangin yang menurutnya tidak memiliki hati.

“Apa kau membenciku Kyunnie?” tanya Kangin lirih. Kyuhyun sedikit terkejut dengan nada suara Kangin yang seperti orang kalah. Kyuhyun terdiam sesaat walau akhirnya dia menggelengkan kepalanya.

Kyuhyun memang membenci tindakan Kangin yang menurutnya keterlaluan tapi dia tidak membenci Kangin sama sekali. Justru Kyuhyun sangat sayang dengan pamannya itu dan karena itu Kyuhyun sangat sedih melihatnya selalu memendam perasaan benci kepada Yunho dan keluarganya.

“Kalau begitu kenapa kau tidak pernah mau mengerti bahwa aku hanya ingin kau bahagia Kyu?! Aku hanya ingin kau tidak bernasib sama seperti ibumu Heechul.” Ucap Kangin lagi. Mendengar Kangin berbicara seperti itu, Kyuhyun mulai mengerti bahwa Kangin sebenarnya trauma dan takut kehilangan anggota keluarganya lagi. Kyuhyun merasa Kangin hanyalah kesepian.

Kyuhyun mulai melingkarkan lengannya di punggung Kangin. Tangannya meremas baju Kangin dengan erat. Kyuhyun terisak dan membenamkan wajahnya di dada Kangin. Isakan itu akhirnya berubah menjadi tangisan. Tangisan itu sebagai pelampiasan Kyuhyun yang tak tahan lagi dengan semua kebencian ini. Kyuhyun tak tahan dengan keluarganya yang terus terombang-ambing dalam perseturuan. Kyuhyun hanya ingin semua orang yang dicintainya bisa rukun dan bersama.

Kangin membelai lembut rambut Kyuhyun dan semakin mengeratkan pelukannya. Kangin sedikit lega karena Kyuhyun sepertinya tidak marah lagi kepadanya. Kyuhyun mau membalas pelukannya menjadi signal baginya bahwa Kyuhyun mau mendengarkannya. Masih dengan membelai rambut Kyuhyun, Kangin mulai berbicara. Dia sudah tahu bahwa tampaknya rencana yang sudah dia susun karena emosinya tadi tidak akan terwujud, tidak dengan keadaan Kyuhyun yang labil seperti sekarang ini.

“Kyu, dengarkan aku. Aku minta maaf untuk semuanya. Aku minta maaf karena telah membuatmu terpojok sampai berani melakukan hal bodoh itu. Aku akan menuruti keinginanmu, apapun itu asalkan kau tidak meninggalkanku. Tetaplah bersama denganku sampai aku yakin bahwa kau bahagia Kyu. Sampai aku yakin bahwa kau bisa berdiri sendiri tanpaku. Sampai aku yakin bahwa aku bisa berdiri tanpamu Kyu.” Pinta Kangin.

Dia rela mengesampingkan harga diri dan egonya demi Kyuhyun. Kangin rela jika Kyuhyun menginginkan untuk terus mengunjungi dan berinteraksi dengan Yunho dan keluarganya. Kangin tidak perduli tentang itu, asalkan Kyuhyun tetap bersamnya dan mau tetap menjadi keluarganya. Kangin tidak sanggup jika Kyuhyun, satu-satunya keluarga yang tersisa, membencinya bahkan meninggalkannya. Kangin tidak sanggup jika Kyuhyun pergi darinya seperti Heechul dulu.

“Aku tidak kemana-mana. Aku akan terus disini bersama ahjussi. Aku sayang ahjussi. Sayang sekali. Maka dari itu, aku sedih jika ahjussi terus melakukan hal yang merugikan orang lain. Ahjussi tahu bagaimana sakitnya ditinggal oleh orang yang paling dicintai bukan?! Sama halnya dengan Yunho appa dan Jaejoong umma. Mereka pasti sedih karena ahjussi mengambil Kibum hyung anak mereka. Kumohon, kembalikan Kibum hyung.” Kyuhyun memohon dengan sangat kepada Kangin. Kyuhyun memohon sambil mengeratkan pelukannya dan semakin membenamkan wajahnya dia di dada Kangin.

“Jika ahjussi mengembalikan anak itu kepada orang tuanya, apakah kau bersedia pindah dengan ahjussi ke Jepang?” tanya Kangin. Kangin sebenarnya tidak bermaksud untuk kembali memaksa Kyuhyun.

Dia bisa menduga bahwa Kyuhyun tidak akan mau pindah selagi seluruh keluarga Jung masih berada disini, namun Kangin hanya ingin tahu bagaimana perasaan Kyuhyun. Kangin hanya ingin tahu apakah Kyuhyun mau mengorbankan dirinya lagi demi keluarga itu. Apapun jawaban Kyuhyun, Kangin sudah berjanji bahwa dia akan mengembalikan semua ke keadaan normal. Kangin tidak mau mengambil resiko dengan kejadian seperti hari ini.

Sedangkan Kyuhyun terdiam ketika dia mendapat pertanyaan itu dari Kangin. Jujur, Kyuhyun tidak mau berpisah dengan Yunho dan Jaejoong. Dia juga tidak mau berpisah dengan Kibum. Dia tidak mau berpisah dengan Siwon. Tetapi ada satu hal yang Kyuhyun mengerti dan dia seakan mendapat bisikan bahwa keputusannya akan mengembalikan semua menjadi baik bahkan kedepannya semua peristiwa selama ini akan seperti mimpi panjang. Maka dari itu, Kyuhyun melepaskan pelukannya dari Kangin dan menatap mata Kangin dengan lekat.

“Apa ahjussi tidak dengar perkataanku tadi? Aku akan terus bersama dengan ahjussi karena aku sayang ahjussi. Jadi mau ke Jepang atau kemana pun, aku akan menemani ahjussi sampai ahjussi bosan kepadaku.” Ucap Kyuhyun sambil sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.

Kangin terperangah sampai dia membulatkan kedua bola matanya membuat Kyuhyun tertawa geli dan tiba-tiba saja menyentil kening Kangin. Kangin tersentak karena sentilan Kyuhyun, lalu dia ikut tertawa dan menyentil hidung Kyuhyun. Keduanya sudah melupakan bahwa Kyuhyun hampir saja kehilangan nyawanya tadi. Tapi sepertinya Kyuhyun dan Kangin memang tidak perduli lagi. Mereka berdua seperti memang ingin melupakan semua hal buruk yang sudah terjadi. Kedua terus tertawa sampai telapak tangan Kangin menyentuh pipi bulat Kyuhyun. Kangin menarik pergelangan tangan Kyuhyun yang terbalut perban putih dan menciumnya.

“Ahjussi tidak akan membuatmu menderita lagi Kyu. Ahjussi akan memastikan kau bahagia.”

“Aku tahu ahjussi. Aku tahu.” Ucap Kyuhyun sambil menggenggam tangan Kangin yang memegang pergelangan tangannya.

“Kyu.” Panggil Kangin pelan.

“Hm?” tanggap Kyuhyun.

“Kau disini saja.” Perkataan itu membuat Kyuhyun bingung. Dia tidak mengerti arah pembicaraan Kangin.

“Maksud ahjussi?” tanya Kyuhyun kebingungan. Kangin tersenyum miris dengan mata yang berkaca-kaca. Kangin tidak mengira bahwa perpisahan dengan Kyuhyun akan seberat ini.

“Kau disini saja bersama dengan kedua orang tuamu. Ahjussi akan menyuruh orang untuk membawa Kibum pulang, juga Donghae. Ahjussi juga tidak akan menggangu lagi keluarga kalian. Ahjussi akan pergi jauh agar kalian bisa bahagia.” Kyuhyun membulatkan matanya mendengar hal tersebut.

Dia terkejut karena Kangin mau mengalah dan akan membawa kembali Kibum untuk bisa bersama lagi dengan Yunho dan Jaejoong. Tapi perkataan terakhir Kangin tadi membuat Kyuhyun juga bersedih. Kyuhyun tidak mengerti mengapa pamannya berbicara seperti itu padahal baru saja dia meminta Kyuhyun untuk selalu di sisinya. Sedangkan Kangin, seakan mengetahui isi hati Kyuhyun membelai pipi pemuda manis itu sekali lagi dan masih menampilkan senyum pahit itu di wajahnya.

“Kau tidak perlu khawatir tentang aku Kyu. Aku bahagia jika kau bahagia dan jika kebahagiaanmu bersama dengan mereka, aku mengerti.” Kyuhyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bukan ini yang diinginkan oleh Kyuhyun. Bukan ini yang Kyuhyun mau. Kyuhyun tidak mau salah satu dari mereka yang dia sayangi harus berkorban demi yang satunya.

“Tidak. Ahjussi, jangan bicara seperti itu.”

“Sudahlah Kyu, tidak apa-apa. Sekarang kau tidurlah. Kau perlu istirahatmu.” Setelah berkata begitu, Kangin langsung bangkit dari ranjang Kyuhyun dan berjalan menuju pintu kamar Kyuhyun. Sebelum Kangin berlalu dari kamar itu, dia membalikkan tubuhnya dan memberikan senyum tulusnya kepada Kyuhyun sambil mengucapkan,

“Selamat tidur Kyu.” Kyuhyun tidak tahu mengapa hatinya sakit sekali ketika Kangin mengucapkan selamat tidur kepadanya dan berlalu dari hadapannya.

Kyuhyun menatap punggung Kangin sampai punggung itu menghilang di balik pintu. Setelah Kangin keluar, Kyuhyun melipat lututnya ke arah dadanya. Kyuhyun menyembunyikan wajahnya dan menangis terisak. Entah kenapa, Kyuhyun merasakan bahwa tadi adalah terakhir kalinya dia akan melihat Kangin lagi. Kyuhyun bisa merasakan itu dan yang paling menyedihkan adalah dia tidak mampu untuk menghentikan Kangin. Kyuhyun tidak punya kekuatan untuk mengejar Kangin dan mengatakan padanya bahwa semua baik-baik saja.

Sementara di luar kamar Kyuhyun, Kangin yang bersandar di pintu kamar keponakannya itu menutup matanya sambil mencengkram dadanya sendiri seolah-olah ingin meredamkan rasa sakit yang terus melanda hatinya. Kangin tahu dia harus segera berpisah dengan Kyuhyun dan itu benar-benar membuatnya sedih dan terluka. Kangin ternyata menyadari bahwa dia sudah benar-benar menyayangi keponakannya itu.

“Tuan..” Panggilan seseorang di samping Kangin tidak lantas membuat Kangin membuka matanya. Dia justru tetap seperti itu tanpa menghiraukan panggilan orang tersebut sampai beberapa menit kemudian. Kangin memalingkan kepalanya kea rah suara yang memanggilnya lalu membuka matanya perlahan.

“Shindong, ternyata aku bersalah selama ini.” Ucapnya sambil terkekeh meremehkan dirinya sendiri. Orang yang ternyata Shindong itu menggelengkan kepala tidak setuju dengan penyataan Kangin.

“Tidak tuan, anda hanya mencintai tuan muda Kyuhyun secara tulus.”

“Benarkah? Mungkin.” Kangin semakin menertawakan dirinya sendiri. Dia tahu bahwa rasa sayangnya terhadap Kyuhyun memang dalam, namun Kangin telah salah bertindak sehingga sekarang dia sendiri yang harus menahan pedihnya di tinggalkan oleh orang di kasihinya.

Kangin merasa dirinya memang bodoh. Dulu Heechul yang lepas dari dirinya dan akhirnya hidup menderita. Sekarang anak Heechul juga mendapatkan penderitaan yang sama dari dirinya. Mungkin karena itu Tuhan menghukumnya dengan beban hati ini yang dia rasakan sekarang dan mungkin selamanya.

“Shindong.” Panggilnya pelan.

“Ya tuan.”

“Kembalikan Kibum kepada orang tuanya. Batalkan semua rencana kita. Aku sudah berjanji kepada Kyuhyun bahwa tidak aka nada lagi orang yang terluka karena aku.” Perintah Kangin tegas.

Shindong menatap datar orang yang telah menjadi atasannya itu selama ini. Dalam hati Shindong lega karena Kangin mengambil keputusan yang benar. Shindong yakin walau berat bagi Kangin melupakan rasa dendam dan amarahnya kepada keluarga Jung, namun dengan memaafkan mereka, Kangin akhirnya bisa melanjutkan hidupnya. Dan hal itu akan membuat Shindong bahagia. Sudah lama Shindong tidak melihat Kangin bahagia dan tersenyum tulus. Shindong tahu benar meski Kangin kejam sebagai kepala organisai mereka, namun di balik itu semua, Kangin adalah orang yang kesepian.

“Baik tuan. Segera saya laksanakan.” Jawab Shindong singkat. Kangin mengangguk lalu kembali memerintahkan sesuatu kepada Shindong.

“Oh, jangan lupakan Donghae. Bawa dia pulang lalu keluarkan dia dari organisasi kita. Kita tidak butuh orang lemah seperti dia.”

“Baik tuan. Ada lagi yang bisa saya lakukan untuk tuan?”

“Ada. Persiapan kepindahan kita ke Jepang. Urus semua dokumen tentang kekayaan kita yang ada di sini atas nama Kyuhyun dengan wali Jung Yunho. Jika anak itu sudah cukup umur, dia yang akan mewarisi semuanya. Lalu buat agar Kyuhyun dan keluarga Jung tidak memiliki hubungan apapun dengan kita. Anggap kita tidak pernah ada dalam kehidupan mereka. Dan aku mau itu semua selesai besok.” Perintah Kangin lagi dengan tegas. Sama seperti sebelumnya Shindong mengangguk untuk menanggapi semua perintah Kangin.

Setelah yakin Kangin tidak akan memberi perintah lagi, Shindong membungkuk dan membalikkan tubuhnya untuk segera melaksanakan semua perintah Kangin. Namun langkahnya terhenti ketika Kangin memanggilnya lagi.

“Shindong.” Shindong berbalik lagi dan menatap Kangin.

“Ya tuan.” Tanyanya. Kangin menatapnya dan tersenyum.

“Terima kasih kau selalu bersamaku.” Ucap Kangin tulus. Shindong tersenyum simpul namun dari matanya bisa dilihat bahwa Shindong terharu dengan ucapan Kangin tadi.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk bisa selalu menemani anda tuan Kangin.” Ucap Shindong kemudian membungkuk lagi dan benar-benar meninggalkan Kangin seorang diri di depan kamar Kyuhyun. Kangin menatap pintu kamar keponakannya itu sebelum berjalan menjauhi kamarnya menuju ruang kerja Kangin.

Sesampainya di ruang kerjanya, Kangin langsung menghampiri meja kerjanya dan mengambil sebuah bingkai foto. Pria itu terus melihat foto tersebut dan tanpa di sadarinya airmata yang tadi terus dia tahan akhirnya keluar juga. Dalam hati dia mengatakan sambil membelai kaca yang membatasi dirinya dengan foto di dalam bingkai itu.

Heechul, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga anakmu yang sangat kau cintai. Maafkan aku yang justru semakin membuatnya terluka dan tertekan sehingga hampir saja dia menyusulmu.. Aku tahu aku salah selama ini. Aku mengerti sekarang kenapa kau selalu saja menyangkal bahwa Jung Yunho menyakiti dan bersikukuh jika kau bahagia.

Tentu saja kau bahagia, Chulie. Jung Yunho memberikanmu hadiah terbaik seumur hidupmu. Kyuhyun adalah permata yang berharga. Anak itu memiliki hati seperti malaikat, bahkan untuk orang sepertiku.

Heechul, sekali lagi maafkan hyungmu ini. Hyung akan lakukan hal yang benar. Hyung akan memberikan apa yang selama ini diinginkan oleh Kyuhyun. Hyung akan pastikan Kyuhyun bisa merasakan kebahagiaan yang tak pernah kau dapatkan selama ini. Hyung janji Chulie. Hyung janji.

TBC

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Again repost!! Chappy 4. \(´▽`)/ Dengan chapter ini maka selesainya repost untuk FF Hear Me. Sekarang nambah PR Nao lagi yaitu update… ┌(“˘o˘)┐

Anyway, gomen lagi untuk typos and mistake. Nao masih dan masih tidak menyaring FF ini sama sekali. (‾▿‾”)

Keep Calm and Ship WonKyu, YunJae and KrisHo 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements