Tags

, ,

Title : One Year Of Love

July : Love Is… Hello Goodbye

Pairing/Charas : WonKyu, SasufemNaru, Menma, Suho

Genre : Romance (I think). A bit Angst

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Inspired : My own interpretation and imagination

Warning : Un-betaed, GS, AU, OOC, A Collection of One-Shot or even Drabble, Crossover

Series : January – Is It New Love? | February – Shortcut To Love | March – Beginners Love | April – A Fool’s Love | May – Love, Me, And Family | June – Love & Marriage. Which One?

( 。・_・。)(。・_・。 )

“Baby Kyu, would you do the honor of being my wife? Kyuhyunnie… Would you marry me?”

.

.

.

“Siwon melamarmu?”

Satu anggukan.

“Tunggu, tunggu… Biar aku perjelas lagi. Siwon melamarmu?”

Satu tatapan malas lalu sebuah anggukan.

“Siwon? Siwon yang playboy, urakan, berandalan, pemuda kurang ajar yang tak mengenal pasangan tetap itu… MELAMARMU? Melamar seorang gadis yang sama-sama tak sopan dengan orang lain, pendiam, dan judesnya minta ampun?”

“Kau sudah bosan hidup rupanya Choi Junmyeon.” ujar Kyuhyun terhadap gadis belia Choi Junmyeon yang duduk di hadapannya sekarang.

Gadis yang mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda itu tersenyum lebar sampai memperlihatkan giginya. Senyum itu pula seolah mengatakan permintaan maaf karena sudah berlaku tidak sopan kepada Kyuhyun yang notabene lebih tua darinya.

Calm down eonnie, aku hanya bercanda. Eonnie jangan marah ya, ya, ya…”

“Berhentilah menggangguku Suho-ya. Aku sedang pusing karena ulah oppamu itu!”

“Kenapa juga eonnie harus pusing? Eonnie tinggal menjawab ya saja atas lamaran oppa.”

“Tidak semudah itu Suho-ya. Aku…”

“Ih! Eonnie ini aneh sekali. Eonnie dan oppa saling mencintai, wajar jika suatu saat kalian menikah bukan? Kalau oppa merasa siap menjadi suami eonnie seharusnya eonnie senang. Eonnie…” Suho tiba-tiba menghentikan ucapannya sendiri ketika dia melihat ekspresi gelisah, ragu dan sedih terpancar dari wajah cantik Kyuhyun. Gadis manis itu menangkap ada yang tidak beres dengan calon kakak iparnya tersebut. Atau jika memang Suho bisa memanggilnya demikian karena tak lama setelah dia berucap, Kyuhyun mengatakan sesuatu yang membuat Suho terdiam karena terkejut.

“Aku tidak yakin Suho-ya.”

.

.

.

Aku mencintai Siwon. Aku tidak memungkiri itu. Aku pun tidak menolak untuk menikah dengannya karena aku tahu aku akan bahagia jika bersamanya. Aku juga merasa sangat senang ketika mendengar lamarannya saat itu. Rasanya aku seperti diterbangkan ke langit ketujuh karena pria yang sangat aku cintai memintaku menjadi pendamping hidupnya.

Hanya saja…

Melihatnya sekarang, melihat Siwon yang sedang berusaha menggapai mimpinya menjadi pemusik profesional menahanku untuk menerima tawaran menjadi istrinya. Terlebih lagi aku tahu apa yang akan menimpa Siwon jika dia menikah disaat dia sedang meniti karir seperti saat ini.

“Kau sudah datang Kyuhyun-san?” suara ceria itu mengalihkan pandanganku dari Siwon dan teman-teman bandnya yang sedang berlatih.

“Naruto-san.” Sapaku setelah bertemu dengan sang pemilik suara.

Uchiha Naruto, istri dari Uchiha Sasuke sang vokalis dan leader dari band tempat bernaung Siwon menyalurkan cintanya kepada musik. Begitu aku melihatnya menggendong bayinya, aku langsung mempersilahkan wanita berambut pirang tersebut untuk duduk di disebelahku.

“Mmm…” suara bayi berusia hampir dua tahun itu membuyarkan perhatianku dari Naruto. Bayi perpaduan antara Naruto dan Sasuke tersebut menatapku dengan mata birunya dan tertawa imut.

“Hai Menma-kun.” Sapaku kepada Uchiha Menma yang semakin terlihat riang karena aku menggeliti perutnya yang chubby itu.

“Bolehkah?” aku meminta izin kepada Naruto untuk memangku Menma. Ibu muda itu pun mengizinkannya sehingga aku langsung mengangkat Menma dari pelukan sang bunda dan memangkunya di kedua pahaku.

“Kau suka anak-anak Kyuhyun-san?” tanya Naruto tiba-tiba membuatku menatapnya sejenak sebelum kembali memusatkan perhatianku kepada Menma, masih mengajkanya bermain. Namun aku masih bisa menjawab pertanyaan Naruto dengan satu anggukan kecil.

“Begitu.” Selepas Naruto mengatakan hal tersebut, aku mengangkat kepalaku kembali, menghentikan bercanda dengan Menma karena bayi mungil itu terlihat fokus menatap sang ayah yang sedang bernyanyi, dan tersenyum kepada Naruto.

Kami saling menatap meski dalam kebisuan yang cukup lama, sebelum kembali menatap penggila musik di hadapan kami lalu menikmati alunan musik yang mereka bawakan serta mendengarkan alunan tawa renyah dari Menma yang sesekali keluar dari bibir bayi tersebut karena sang ayah menggodanya dari kejauhan. Sampai keheningan diantara kami sirna karena aku yang membuka bibirku dan memanggil Naruto.

“Naruto-san.”

“Hm?”

“Kenapa kau memutuskan untuk menikah muda?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku. Aku tidak tahu apa yang membuatku berani bertanya pertanyaan yang mungkin tidak sopan dan diluar batas dari privasi orang lain akan tetapi aku ingin tahu mengapa wanita muda seperti Naruto mampu untuk memikul tanggung jawab sebagai seorang istri dan seorang ibu di usianya yang masih 20 puluh tahun.

“Kau bimbang Kyuhyun-san?” tanya Naruto balik kepadaku. Pertanyaan itu membuatku heran sekaligus kaget karena dia bisa mengetahui kegundahan hatiku.

“Tak usah kaget begitu. Aku sudah mendengar dari Sasuke mengenai Siwon yang melamarmu. Asal kau tahu saja Kyuhyun-san, Siwon sempat kacau saat dia bercerita niatnya untuk melamarmu kepada suami temeku itu.”

“Kacau?” tanyaku tak mengerti maksud ucapan Naruto. Siwon kacau dengan niatnya untuk melamarku? Lalu mengapa dia tetap melamarku?

“Aku rasa bukan hanya kau yang bimbang Kyuhyun-san.” Jawab Naruto yang semakin membuatku penasaran dan heran.

“…”

“Entah kau tahu atau tidak Kyuhyun-san, dulu Siwon adalah pria muda yang begitu bebas. Dia tidak peduli dengan sekitarnya kecuali keluarga, teman dan musik. Baginya, 3 hal itu cukup membuatnya bahagia.”

“…”

“Sampai dia bertemu denganmu.”

“Maksudmu?”

“Kyuhyun-san, aku mengenal Siwon cukup lama sehingga aku tahu mengenal wataknya. Dia menyukai kebebasan dan ingin terus seperti itu. Siwon sempat membuat Sasuke marah besar karena Siwon pernah membuat gadis muda hampir bunuh diri karena Siwon tidak mau berkomitmen dan sembarang memutuskan gadis tersebut. Yah, meski masalah itu terselesaikan dengan baik tapi Siwon menjadi semakin yakin jika kebebasan yang dia pilih adalah jalan yang benar.” Ucap Naruto menjelaskan hal yang tidak pernah aku dengar tentang Siwon sebelumnya. Jujur saja aku sedikit terkejut dengan cerita Naruto tadi.

Aku baru tahu jika Siwon pernah begitu mengerikan terhadap perempuan. Hanya saja, aku menenangkan diriku sendiri karena bukan pria itu yang aku kenal sekarang. Siwon yang aku kenal adalah laki-laki yang bertanggung jawab.

“Kyuhyun-san.” Suara Naruto memutus lamunanku sehingga aku menatapnya kembali. Aku membiarkan ibu muda tersebut melanjutkan ceritanya.

“Siwon sempat memutuskan untuk melajang seumur hidupnya karena dia merasa tidak akan merasa sendirian dengan keluarga disisinya. Walau pada dasarnya memang begitu dengan bagaimana harmonisnya keluarga Choi tapi aku yakin dilubuk hatinya Siwon merasa iri kepada Sasuke karena sahabatnya itu memiliki aku, memiliki Menma, buah hati kami. Di dalam hatinya Siwon menginginkan seseorang untuk menemaninya dan berbagi suka dan duka selama mereka mampu.”

“Naruto-san…”

“Dan setelah sekian lama akhirnya Siwon menemukan orang tersebut. Dia adalah kau Kyuhyun-san.”

“Naruto-san, aku…” aku mencoba mengutarakan pendapatku tapi sentuhan di lenganku membuat aku menghentikan apapun yang ingin aku katakan. Aku menatap mata biru yang cerah itu lalu seolah terhipnotis dengan pandangan teduhnya, aku membiarkan Naruto berbicara.

“Aku paham dengan kebimbanganmu Kyuhyun-san. Kau masih sangat muda, cantik, dan berpendidikan. Masih banyak yang ingin kau lakukan, ingin kau capai dalam hidupmu dan menurutmu cinta bisa saja menjadi penghalang itu semua.”

“Aku…”

“Aku bisa mengatakan hal tersebut karena pemikiran itu yang sempat singgah dalam benakku ketika Sasuke melamarku.” Lanjut Naruto yang membuatku tersentak dan kaget. Saking kagetnya, kedua bola mataku terbuka lebar.

Jika memang Naruto sempat ragu untuk menikah muda, lalu apa yang membuatnya yakin?

“Begitukah? Lalu mengapa kau memutuskan untuk menikah muda Naruto-san?” tanyaku mengulang pertanyaan yang sedari tadi memang belum dijawab oleh Naruto.

Naruto tersenyum lebar lalu tiba-tiba mengambil Menma dari pangkuanku. Bayi lucu itu langsung memeluk leher bundanya dan menggesekan hidungnya di leher sang bunda. Tampaknya itu kebiasaan Menma kalau dia ingin tidur karena tidak lama setelah dia melakukan itu ditambah dengan tepukan lembut di bokong Menma yang empuk karena popok, Menma pun tertidur pulas.

Naruto terus menepuk-nepuk bokong Menma dan sesekali mengusap punggung kecil sang bayi lucu sebelum beralih kepadaku dan menjawb pertanyaanku.

“Aku menerima lamaran Sasuke karena aku mencintainya. Klise memang namun itulah kenyataannya. Aku bersedia menikah dengannya karena aku ingin dia bahagia, menikah denganku, bersama denganku adalah kebahagiaan untuk Sasuke dan jika demikian berarti aku akan berikan apa yang Sasuke mau karena aku yakin dan aku tahu pasti, Sasuke pun mampu membahagiakanku.”

“…”

“Kyuhyun-san, jika kau bimbang karena usia mudamu, maka dengarkan aku. Usia memang berpengaruh dalam pertimbangan untuk mengambil keputusan tapi itu tidak menjamin kebenaran dari keputusan tersebut. Berusia muda tidaklah terlalu buruk untuk menjalani keputusan tersebut yang kau ambil jika kau yakin kau mampu.”

“…”

“Aku harap aku bisa membantumu mengikis kebimbanganmu Kyuhyun-san karena aku berharap kau segera memberi jawaban kepada Siwon. Apapun keputusanmu nanti, aku yakin itu adalah yang terbaik bagimu.” Ucap Naruto sebelum berdiri, membungkuk sedikit kepadaku dan meninggalkan aku untuk pergi ke arah Sasuke yang terlihat menghampiri kami.

Aku bisa melihat Sasuke yang dengan sigap mengambil alih Menma dari pelukan Naruto dan membawa bayi kecil mereka ke ruangan yang khusus dibuat untuk tempat beristirahat anggota keluarga band yang datang berkunjung.

Melihat Sasuke dan Naruto membuatku berpikir dengan ucapan Naruto tadi. Ada rasa iri melihat kemesraan dan kebersamaan mereka, melihat keduanya memancarkan aura terang yang mempesona.

Hubungan Sasuke dan Naruto membuatku bertanya,

Apakah aku dan Siwon bisa seperti mereka?

Aku memejamkan kedua mataku dan menarik nafas sedalam mungkin. Lalu aku menghembuskannya perlahan dan membuka kedua mataku. Aku kemudian mengalihkan pandanganku kepada Siwon yang ternyata juga memandangku sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku. Aku membalas lambaian tangan itu dan tersenyum kepadanya, meski senyum itu luntur kala Siwon tak melihatku lagi.

Aku menatap Siwon lama sebelum aku bergumam sendiri, mengatakan apa yang tadi tidak sempat aku katakan kepada Naruto karena dia terlanjur pergi.

Aku berkata,

“Terima kasih Naruto-san. Tampaknya aku sudah bisa mengambil keputusanku sekarang.”

.

.

.

Kyuhyun termangu menatap gelas berisi penuh minuman mocha latte yang sudah dingin karena belum tersentuh sama sekali. Tatapan Kyuhyun sendu dan salah satu tangannya terlihat bergetar. Kyuhyun sudah seperti itu sejak tiga puluh menit yang lalu, sejak Siwon meninggalkannya sendirian di café langganan mereka berdua.

Kyuhyun menutup matanya ketika dia tak sanggup lagi merasakan perih karena airmata yang sudah membasahi kedua matanya. Buliran-buliran kristal tersebut akhirnya jatuh juga, membuat sungai yang mengalir deras karena si empunya mata tak berniat menghentikan aliran tangisan itu.

Tangan Kyuhyun yang bergetar, sedikit demi sedikit mengarah ke bibirnya dan membekap mulutnya tersebut. Kyuhyun melakukan itu agar isakannya tidak terdengar pengunjung lain walau sulit karena beberapa pengunjung sudah terlanjur mendengar isakan Kyuhyun.

Kyuhyun tidak mendengar bisik-bisik dari pengunjung yang terlihat iba dan prihatin dengan keadaan Kyuhyun. Yang dirasakan oleh Kyuhyun hanya pedihnya hati yang telah hancur akibat ulahnya sendiri. Rasa sakit yang Kyuhyun rasakan sekarang lebih sakit daripada ketika dia berpisah dengan Changmin.

Rasa itu ditambah rasa sesak karena telah menyakiti hati seseorang yang begitu berarti baginya dan tidak ada yang bisa dia salahkan untuk perasaan-perasaan yang akan terus menggelayutinya kecuali dirinya sendiri. Dulu saat berpisah dengan Changmin, Kyuhyun bisa menyalahkan Changmin, Kyuhyun bisa menyalahkan siapa saja yang membuatnya sesakit saat itu, akan tetapi sekarang…

Kyuhyun terus menangis dan menangis. Tangannya yang bebas menggenggam erat sebuah kotak kecil beludru biru. Dalam tangisannya yang pilu itu, Kyuhyun hanya mengucapkan satu kata.

“Maaf…”

.

.

.

“Apapun keputusanmu nanti, aku yakin itu adalah yang terbaik bagimu.”

END

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Okay, pertama2 Nao cuma mau bilang… Please don’t kill me!! T^T Karena idenya datang dari Hello July, Goodbye June, jadi Nao buatnya begindang. So… mohon diterima dulu yak amazing readers yang paling kece sedunia…

Anyway busway, berhubung Nao hardcore fans SasuNaru, jadi mohon bagi yang tidak suka anime di cross dengan screenplays… Please Back Off!! Nao sedikit sendi (ampe typo)… Ehem! Maksudnya sensi, kalo ada yang wara-wiri sendiri, bingung kenapa harus ada Naruto and the genk di cerita screenplay Nao.

Basically, it’s just a story, a fiction made by a fan (that’s why they called fanfiction). Jadi ini hanya imajinasi aneh Nao sendiri yang kebetulan bisa dituangkan dalam kata-kata meski rada absurd. Nao bahkan pasang warningnya! Jadi kalau masih dibaca juga, terus complain karena ada Naruto dan Sasuke, well… I think you should check your eyes (or your brain maybe, just to be sure – no heart feelings, pure concern on your health).

Sipo, itu aja. As usual, gomen untuk typos yang bergelimpangan kayak pakaian kotor Nao. Gomen juga untuk kegajean FF ini.

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, and Krisho 😀

Sankyu and Peace all

^^n4oK0^^

Advertisements