Tags

, , , , ,

Title : Sky

Pairing : Wonkyu, YunJae, KangTeuk, GTop, and more

Genre : Romance, Family, Angst

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Inspired : Just based on my bad mood

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, AU, OOC, several OCs

( 。・_・。)(。・_・。 )

Sinar matahari pagi yang menembus tirai kamar berukuran kecil tersebut membuka sepasang mata hitam seorang pemuda. Pemuda dengan rambut hitam yang sedikit menyentuh lehernya itu mengerjapkan matanya beberapa kali sampai akhirnya mata itu terbuka sepenuhnya. Tatapan kosong dia arahkan ke tirai putih yang menjadi pembatas dirinya dengan sinar matahari yang begitu terang.

Pagi masih baru memulai kegiatannya kala pemuda itu justru menghela nafas panjang, seolah dia berharap tidak bertemu lagi dengan indahnya suasana pagi. Pemuda itu menghela nafas seolah-olah sinar yang menyapanya hanya suatu hal buruk yang ingin dia singkirkan.

“Pagi umma.” Gumamnya seorang diri, memanggil wanita yang melahirkan dirinya meski kenyataannya pemuda itu hanya seorang diri di kamar tersebut.

Pemuda itu kemudian bangkit dari peraduannya, duduk sesaat di kasur tipis tersebut sebelum berdiri dan beranjak menuju kamar mandi yang tak jauh dari ranjangnya. Pemuda itu hanya mengenakan celana olahraga kusam tanpa atasan sama sekali, menunjukkan tubuhnya yang kurus walau bisa terlihat otot-otot perutnya karena pekerjaan kasar yang dia lakukan untuk bertahan hidup.

Pemuda itu memasuki kamar mandi dan melakukan rutinitas paginya. Setelah selesai, pemuda itu langsung keluar dan berjalan menuju sebuah lemari kecil. Dia mengeluarkan sebuah kaos oblong abu-abu dan sebuah celana panjang dengan warna senada lalu bersiap untuk pergi dari kamarnya yang sempit itu, kamar yang hanya cukup untuk sebuah kasur, lemari dan beberapa benda yang menurutnya penting. Kamar yang hanya terdiri dari dapur kecil, kamar mandi satu ruangan itu sudah menjadi tempat tinggalnya selama tujuh tahun ini.

Sesudah bersiap diri, pemuda itu lalu mengambil tas punggungnya dan topinya lalu memakai sepatu bututnya. Pelan namun pasti, pemuda itu meninggalkan kamar tersebut dan sekali lagi memulai hari yang tidak berarti untuknya.

.

.

.

“Siwon-ah! Angkat karung-karung ini! Kita harus segera pergi ke tempat lain!” teriak seseorang keras kepada pemuda bernama Siwon sementara dia kembali menghitung semua barang yang telah dikeluarkan dari truk pembawa barang itu.

Siwon, tanpa banyak bicara segera mengerjakan perintah bosnya tersebut. Dengan sigap dan cepat, Siwon mengangkat semua karung berisi beras dan kebutuhan lainnya. Tubuhnya yang walau kurus itu, cukup kuat untuk mengangkat semua beban tersebut. Siwon sudah terbiasa karena memang inilah pekerjaannya, menjadi kuli pembawa barang dari toko penyedia barang kebutuhan ke restoran yang menjadi langganan tempatnya bekerja.

Brugh!

Karung terakhir telah Siwon angkat dan letakan di tempat yang seharusnya. Siwon mengusap peluh di sekitar dahinya sebelum berjalan ke arah sahabatnya, sesama kuli pembawa barang, Seunghyun.

“Hyung.” Panggil Siwon pelan. Akan tetapi panggilannya itu cukup membuat Seunghyun menoleh.

“Apa?”

“Sudah selesai. Bos menyuruh kita untuk segera pergi.” Ucap Siwon datar. Seunghyun melihat ke belakang Siwon dan benar adanya bahwa semua barang telah dipindahkan oleh pemuda tinggi itu. Seunghyun menautkan kedua alisnya, heran kenapa Siwon bisa begitu cepat menyelesaikannya? Padahal Seunghyun tidak membantunya sama sekali.

“Kau melakukannya sendiri?” tanya Seunghyun memastikan dugaannya.

“Ya hyung.” Jawab Siwon singkat. Seunghyun terdiam sesaat menatap Siwon sebelum mengangguk beberapa kali.

“Kau mengangkat dua karung sekaligus lagi ya.” Ujar Seunghyun lebih kepada penyataan daripada pertanyaan. Kali ini Siwon hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Siwon-ah. Aku tahu kau kuat dan mampu untuk melakukan semua ini sendiri tapi kau harus memperhatikan dirimu. Bahumu baru sembuh dari kecelakaan waktu itu, jika kau langsung bekerja seperti sekarang, aku khawatir lukamu bisa terbuka lagi.” Ucap Seunghyun cemas dengan keadaan Siwon.

Siwon sendiri hanya tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Seunghyun sebelum masuk ke dalam truk, tak berniat menanggapi lebih jauh omelan sahabat sekaligus orang yang dia anggap sebagai kakak itu. Sementara Seunghyun, pemuda yang sama tingginya dengan Siwon hanya mampu menatap sendu sosok pemuda yang dia anggap adik tersebut. Seunghyun tidak habis pikir dan tidak akan pernah mengerti mengapa Siwon tidak lagi memiliki hasrat untuk hidup untuk dirinya sendiri meski dia tahu apa alasan dibalik sikap Siwon tersebut.

Alasan yang menurut Seunghyun sangatlah tidak masuk akal. Seunghyun hanya bisa berharap bahwa suatu saat Siwon bisa melihat bahwa selama ini dia telah salah mengambil keputusan dan mau menjalani hidup untuk dirinya sendiri, untuk kebahagiaannya sendiri.

.

.

.

Pernahkah kau merasakan bahwa kau tidak seharusnya ada di dunia ini?

Pernahkah kau merasakan bahwa kau tidak seharusnya dilahirkan di dunia ini?

Pernahkah kau merasakan merasakan kebencian yang sangat dalam dari orang yang justru begitu kau cintai?

Pernahkah kau merasakan kesepian yang membuatmu sesak padahal kau berada di antara begitu banyak orang?

Pernahkah kau merasakannya?

Aku pernah.

Aku pernah dan tetap merasakannya sampai detik ini.

Aku ini anak yang tidak diinginkan semenjak aku berada dalam rahim ibuku.

Aku ini anak yang dibenci oleh ibuku sendiri karena dosa yang tidak pernah aku perbuat.

Aku adalah anak yang dianggap sebagai pembawa petaka bagi kehidupan ibuku.

Aku adalah anak yang harus menelan pahitnya hidup sebatang kara disaat kau memiliki orang tua yang seharusnya ada untukmu.

Aku adalah anak yang harus hidup sendiri, tanpa bisa merasakan kasih sayang ibuku, tanpa bisa merasakan cinta.

.

.

.

Usiaku lima tahun ketika tamparan ibuku mendarat di pipiku. Kala itu aku tak mendapatkan lima bintang dalam lukisanku di taman kanak-kanak. Saat itu aku hanya mendapatkan empat bintang dan hal itu membuat ibuku yang prefeksionis marah besar.

Aku masih merasakan perihnya kulit telapak tangan ibuku ketika menamparku dengan seluruh tenaganya. Dan aku tidak menyukai rasa itu. Karenanya, aku selalu berusaha agar mendapat hasil terbaik dalam segala hal agar aku bisa merasakan belaian tangan ibu.

Walau…

Walau tampaknya semua itu percuma.

Usiaku sepuluh tahun ketika ibu memukulku di kepala dengan sebuah blender. Saat itu aku tidak sengaja memanggilnya ibu di depan semua rekan kerjanya dan hal itu menyebabkan ibuku dibicarakan oleh mereka.

Oh, aku lupa mengatakan bahwa ibuku tidak pernah mengakui aku sebagai anaknya. Dia selalu membuatku memanggilnya noona dan mengatakan bahwa aku adalah anak yang dititipkan oleh sepupunya.

Aku masih ingat dan merasakan bagaimana nyeri dan dengung akibat pukulan itu di telingaku.

Mengapa telinga kau bertanya?

Bukankah aku dipukul di kepala?

Jawabannya karena pukulan ibuku membuat salah satu telingaku rusak. Gendang telingaku pecah dan aku menjadi tuli di telinga kananku secara permanen.

Tapi aku tak menyalahkan ibuku, karena jelas akulah yang bersalah. Aku sudah berjanji kepadanya untuk tidak memanggilnya ‘umma’ namun terkadang aku melupakan janji itu jika aku melihat senyum manisnya. Lesung pipi itu membuatku selalu merasa bahagia sehingga aku lupa diri.

Senyum itu membuatku menderita cacat ini seumur hidupku. Namun aku baik-baik saja. Aku tidak mendendam karena dengan peristiwa itu, pertama kali dalam hidupku, aku mendengar ibu mengatakan,

“Cepat sembuh.”

Usiaku lima belas tahun kala seluruh duniaku hancur.

Ibuku mengatakan bahwa aku tidak boleh bersamanya lagi.

Ibuku mengatakan bahwa aku adalah beban dan memori buruk yang ingin dia hilangkan dalam kehidupannya.

Ibuku mengatakan bahwa aku adalah anak yang tak sekali pun dia inginkan.

Ibuku mengatakan bahwa dia tidak pernah mencintaiku.

Aku masih mengingat jelas malam ketika aku diusir dari apartemen tempat tinggalku bersama dengannya. Aku ditendang keluar bersama dengan satu tas punggungku yang sudah diisi dengan barang-barang pribadiku. Ibu meneriakan semua yang ada dalam benaknya dan aku tidak akan mengulang kata-kata itu.

Aku hanya bisa bergeming di tempatku, menatapnya sendu, memohon dengan mataku agar dia tidak membuangku, agar dia tetap bersamaku karena hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Hanya dia satu-satunya yang membuatku bertahan dengan semua kesengsaraan yang hadir dalam hidupku. Hanya dia cahaya dalam kegelapanku.

Namun…

Ibuku merampasnya karena baginya aku adalah pengganggu. Aku adalah penghalang kebahagiaannya.

Aku ingin marah, aku ingin berteriak; bagaimana dengan kabahagiaanku sendiri? Akan tetapi semuanya tercekat di tenggorokanku. Begitu pemikiran itu datang, dengan segera pemikiran itu lenyap tak berbekas karena dia ibuku. Apapun yang membuatnya bahagia adalah kebahagiaanku.

Biarlah aku menjadi sebatang kara jika dengan hal itu ibuku bisa bersama dengan orang yang dia cintai.

Biarlah aku bertahan seorang diri dalam kejamnya hidup ini jika dengan hal itu ibu bisa selalu memasang senyum indah diwajahnya yang cantik.

Biarlah aku kehilangan cahayaku jika dengan hal itu ibu mampu mendapatkan tujuan hidupnya lagi.

Biarlah aku mengalah dan menjadi anak baik agar ibu bisa bahagia.

Seorang anak harus membuat orang tuanya bahagia bukan?

Meski taruhannya adalah hidupnya sendiri.

.

.

.

“Apa yang kau lihat sayang?” tanya Jung Kangin membuyarkan perhatian Jung Leeteuk. Pria berusia 45 tahun itu bingung melihat istrinya tersebut sejak tadi hanya menatap ke satu arah. Leeteuk terhenyak mendengar pertanyaan Kangin tadi. Dia segera menoleh dan tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.

“Tidak ada apa-apa yeobo.” Jawab Leeteuk yang tidak menyurutkan rasa ingin tahu Kangin. Pria itu justru mencoba melihat ke arah yang dilihat Leeteuk tadi. Kangin sempat melihat sosok dua orang pemuda tinggi seusia putranya, Jung Yunho. Dahi Kangin berkerut, curiga dengan sikap Leeteuk yang seperti tidak ingin dia mengetahui apa yang sedang Leeteuk lihat.

“Kau yakin sayang? Sepertinya kau sedang melihat kedua pemuda yang ada disana?” tebak Kangin yang lagi-lagi hanya ditanggapi dengan senyum oleh Leeteuk.

“Kau cemburu?” tanya Leeteuk balik untuk menghindari menjawab pertanyaan Kangin.

“Untuk apa? Mereka bukan tandinganku. Mereka bahkan bukan tandingan Yunho.” Jawab Kangin arogan dengan senyum penuh kebanggaan atas putranya.

“Aku tahu. Maka itu aku bilang tidak ada apa-apa bukan? Sudahlah, kita pulang. Bukankah kita akan merayakan kelulusan Yunho.” Ajak Leeteuk. Kangin mengangguk dan menggandeng tangan Leeteuk memasuki mobil mewah mereka.

Ketika Leeteuk yakin Kangin tidak memperhatikannya lagi, Leeteuk kembali memanglingkan wajahnya ke arah dua pemuda, Siwon dan Seunghyun. Tatapannya terarah langsung hanya kepada satu pemuda.

“Siwon-ah…”

.

.

.

“Ini yang terakhir bos.” Sahut Siwon setelah meletakan karung terakhir di gudang restoran terakhir mereka untuk hari itu. Bos Siwon tadi mengangguk dan tersenyum puas dengan hasil kerja anak buahnya yang satu ini. Bos Siwon menepuk bahu Siwon sebelum mengambil beberapa lembar uang dari kantung celananya dan menyerahkannya kepada Siwon.

“Ini tip untukmu Siwon-ah. Kau sudah bekerja dengan baik.” puji bos Siwon tersebut.

“Tapi bos, aku…”

“Sudah terima saja.” Tegas bos Siwon tidak menerima kata penolakan dari Siwon. Siwon sendiri hanya tersenyum dengan kebaikan hati bosnya tersebut. Sangat jarang Siwon menerima kebaikan hati seperti ini dari orang lain. Namun bos dan Seunghyun adalah pengecualian. Kedua orang itu adalah orang-orang yang berarti untuk Siwon. Tanpa mereka Siwon benar-benar seorang diri.

Siwon menerima uang itu kemudian membungkuk dalam kepada bosnya. Dia lalu beranjak menuju Seunghyun yang sudah menunggunya di dalam truk untuk kembali ke toko mereka. Bos Siwon tidak ikut karena akan langsung pergi ke restoran lain untuk rapat mengenai kerjasama dengan tokonya.

“Bos memberimu uang lagi?” tanya Seunghyun langsung ketika Siwon memasuki truk. Siwon mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Apa akan kau berikan lagi ke orang itu?” tanya Seunghyun lagi sembari menyalakan mesin truk tersebut dan memasukan gigi persenelingnya sebelum membawa truk itu ke jalan raya.

Siwon hanya terdiam tidak menjawab sama sekali. Dia hanya memandangi jalan dari kaca truknya dan Seunghyun membiarkan sahabatnya seperti itu. Tanpa menjawab pun, Seunghyun sudah tahu jawabannya.

.

.

.

“Terima kasih. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?”

“Tidak, terima kasih.”

“Baik. Selamat siang.” Perkataan yang selalu diucapkan berulang oleh teller bank itu kepada setiap nasabahnya ditanggapi dengan anggukan oleh Siwon. Setelah menyetorkan uang yang tadi diberikan oleh bosnya, Siwon meninggalkan counter teller bank tersebut. Seunghyun yang menunggunya tak jauh dari counter tersebut, segera berdiri dan mendekati Siwon.

“Sudah kau setorkan?”

“Sudah hyung. Kali ini bos kita memberikan cukup banyak.”

“Kau ini. Kenapa kau buang uangmu untuk dia? Aku yakin dia tidak akan menyadari kalau kau memberikan uang kepadanya. Uangnya sudah lebih banyak daripada kau Siwon.”

“Meski begitu hyung, aku tetaplah anaknya. Aku harus tetap berbakti kepadanya. Aku hanya membalas segelintir dari apa yang sudah dia berikan kepadaku.”

“Memangnya apa yang sudah dia berikan kepadamu selain penderitaan? Memangnya apa yang sudah dia berikan kepadamu sampai kau terus menyayanginya seperti ini? Fuck!”

Dengan makian itu, Seunghyun pergi begitu saja meninggalkan Siwon. Dengan amarahnya, dia masuk ke dalam truk dan pergi tanpa menunggu Siwon.

Siwon menghela nafas panjang sambil menatap truk yang pergi dari hadapannya. Dia sudah terbiasa dengan amarah Seunghyun yang meluap jika sudah berurusan dengan Siwon dan ibunya. Seunghyun tidak mengerti dan tidak akan pernah mau mengerti, mengapa Siwon sampai sekarang masih menyayangi ibunya yang telah membuangnya. Bagi Seunghyun, Siwon hanya membuang waktunya, membuang masa depannya hanya untuk wanita yang bahkan tidak mengharapkan Siwon ada.

Seunghyun marah kepada Siwon, marah sekali. Namun Seunghyun lebih marah kepada dirinya sendiri karena dia tidak bisa demikian kepada mendiang ibunya sendiri semasa beliau masih hidup. Seunghyun yang dulunya adalah anak yang bermasalah, tidak pernah punya kesempatan untuk membalas semua kebaikan ibunya. Dia justru menjadi penyebab kematian ibunya secara tidak langsung ketika ibunya tersebut berusaha menghalangi ayah Seunghyun yang hendak menusuk Seunghyun ketika mereka berkelahi.

Peristiwa itu terjadi ketika Seunghyun dan ayah Seunghyun sama-sama mabuk dan memulai pertengkaran. Ibu Seunghyun yang melihat suaminya hendak menusuk Seunghyun, langsung berdiri di depan Seunghyun dan menerima tusukan di perutnya. Perempuan paruh baya itu sempat dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong karena pendarahan yang cukup parah.

Seunghyun ingat bagaimana hancurnya dia saat itu. Usianya baru lima belas tahun ketika dia kehilangan ibunya. Perasaan bersalah selalu menghantui Seunghyun. Sesal tak berujung adalah teman Seunghyun. Sakit dan rasa kehilangan akan selalu menyertai langkah Seunghyun seumur hidupnya. Semua itu adalah hukuman untuk Seunghyun karena telah menyiakan kasih sayang ibunya selama ini.

Karena itu batin Seunghyun bergejolak ketika bertemu dengan Siwon. Siwon adalah kebalikan dari dirinya. Seunghyun anak durhaka sedangkan Siwon anak berbakti. Ibu Seunghyun adalah malaikat yang tak pernah dianggap sedangkan ibu Siwon adalah iblis berwajah malaikat. Seunghyun tidak bisa menerima kenyataan bahwa takdir begitu senang mempermainkan manusia.

Siwon melangkah kakinya selangkah demi selangkah. Toko tempatnya bekerja tidak jauh dari bank tersebut. Hanya membutuhkan waktu selama sepuluh menit untuk sampai ke toko jadi bukan masalah jika Seunghyun meninggalkannya. Hanya saja, langkah Siwon selalu berat jika Seunghyun berbuat demikian. Bagi Siwon, membuat Seunghyun marah adalah kesalahan besar. Dia tidak ingin sahabatnya marah, dia tidak ingin kakaknya marah, akan tetapi Siwon tak bisa menuruti perkataan Seunghyun yang menginginkannya untuk membenci ibunya sendiri. Siwon tak bisa melakukannya karena,

“Dia sudah memberikan lebih dari apa yang aku inginkan hyung. Dia memberikan aku kehidupan.”

.

.

.

“Kami pergi dulu sayang. Ingat, kau harus menuruti apa perkataan Choi ahjumma ya. Kami akan kembali dua bulan lagi. Kami mencintaimu.”

Cinta.

Kata itu tak berarti apapun untuk kalian, umma, appa.

Kata itu hanya kata biasa yang sering terlontar dari bibir kalian berdua jika diucapkan kepadaku.

Kalian tidak mencintaiku.

Kalian membenciku.

Tapi karena aku anak yang dihasilkan dari pernikahan resmi kalian, mau tidak mau kalian harus menjadi orang tua yang paling sempurna di mata masyarakat. Walau kenyataannya, aku hanyalah boneka pajangan demi menjaga nama baik kalian berdua, agar kalian terlihat seperti pasangan yang sempurna, terlihat sebagai orang tua yang baik.

Cinta.

Kata itu akan bermakna untuk kalian jika diucapkan kepada selingkuhan kalian berdua. Kata itu berarti yang sesungguhnya jika terucap untuk buah hati kalian masing-masing, untuk saudara-saudariku.

Aku anak tunggal, tapi aku memiliki saudara.

Aku bergelimpang harta, tapi aku tak memiliki kasih sayang sama sekali.

Aku dikelilingi oleh banyak orang, teman, tapi aku sebatang kara.

Aku benci orang tuaku.

Aku benci hidupku.

Aku benci diriku.

.

.

.

“Siwon-ah, mungkin sebaiknya kau membeli baju baru. Bajumu terlihat kusam dan lusuh.” Usulan itu keluar dari mulut Seunghyun setelah dia mengamati penampilan Siwon yang seadanya.

“Aku yakin jika kau mau merapikan rambutmu dan mengganti pakaianmu, kau bisa menjadi model Siwon-ah.”

“Tidak mungkin hyung. Aku terlalu kurus untuk itu dan aku tidak tampan. Semua model itu tampan hyung.”

“Kau boleh tuli di sebelah telingamu Wonnie, tapi aku yakin kau tidak buta. Apa kau tak pernah melihat dirimu sendiri di kaca?”

“Setiap hari saat aku mandi hyung.”

“Bukan itu maksudku! Apa kau tidak sadar bahwa kau tampan Wonnie? Dan apa tadi? Kurus? Yah, sedikit tapi kau berotot kawan. Kau seksi.”

“Hentikan hyung. Aku merinding mendengarnya.”

Plak!

“Bocah sial. Aku sedang memujimu! Sudah! Kau diam saja. Kalau kau tidak mau mengeluarkan uangmu untuk membeli baju, aku yang akan bayar.”

“Tidak usah hyung. Aku tidak perlu baju baru. Yang sekarang masih bisa aku pakai. Lagipula sayang uangmu dipergunakan untuk kebutuhanku hyung. Kau sendiri sedang menabung untuk uang jaminan demi ayahmu bukan hyung? Kau lebih memerlukan uang itu daripada aku.” Ujar Siwon panjang lebar untuk menolak tawaran Seunghyun. Pemuda itu tahu bahwa Seunghyun juga tidak seberuntung dirinya dalam masalah keuangan.

Mereka berdua harus berjuang keras hanya untuk hidup dan memenuhi kebutuhan lain. Itulah sebab Siwon selalu berhemat dan dia juga tak ingin Seunghyun menghamburkan uangnya hanya untuk dirinya padahal Seunghyun masih membutuhkan uang tersebut.

Mendengar penuturan Siwon tentang ayahnya, wajah Seunghyun menjadi muram. Benar yang dikatakan Siwon tadi, Seunghyun sedang menabung untuk uang jaminan kebebasan ayahnya. Pengadilan memutuskan bahwa ayahnya mendapat keringanan hukuman penjara karena tidak sengaja membunuh ibu Seunghyun. Namun Seunghyun ingin segera bersama dengan ayahnya karena hanya tinggal dia satu-satunya keluarga Seunghyun. Dan untuk bisa bersama, Seunghyun harus melakukan banyak hal. Mulai dari surat jaminan bahwa ayah Seunghyun tidak akan melakukan tindakan kriminal lainnya dan uang jaminan.

Untuk yang terakhir itu, Seunghyun belum dapat memenuhi dengan segera. Maka dari itu Seunghyun bekerja siang dan malam untuk bisa menabung dan segera menjamin ayahnya.

Keduanya berdamai sejak kematian tragis ibu Seunghyun. Baik ayah dan anak tersebut sadar bahwa kesalahan mereka telah merengut wanita yang mereka cintai dan menorehkan luka mendalam di diri masing-masing. Keduanya tidak mau merasakan hal yang sama lagi sehingga mereka berjanji akan mulai memahami satu sama lain dan hidup rukun demi mendiang ibu Seunghyun.

“Aku masih ada sedikit uang Siwon, jadi…”

“Tidak hyung. Aku baik-baik saja. Apa yang masih bisa aku pakai akan aku pakai. Aku tahu kapan harus menggantinya dan saat ini, aku tidak memerlukan itu semua.” Sela Siwon kala Seunghyun masih bersikeras untuk membelikannya baju baru.

Seunghyun menghela nafas berat sebelum mengangguk pelan. Percuma membujuk Siwon jika dia sudah kukuh pada pendiriannya. Sama saja bicara dengan batu. Karena itu Seunghyun hanya kembali melanjutkan langkahnya, menjauh dari sebuah butik yang sempat menjadi perhatiannya tadi sampai dia mencetuskan ide untuk membeli pakaian baru bagi Siwon.

Terkekeh, Siwon menggelengkan kepalanya. Dia geli dengan sikap Seunghyun yang dia yakini sedang merajuk karena keinginannya tidak tercapai. Siwon mulai menyusul langkah Seunghyun dan sempat meninju lengan pemuda yang sudah seperti kakaknya tersebut.

Mereka berdua baru berjalan sejauh seratus meter ketika Seunghyun mendengar panggilan yang terarah kepada mereka. Seunghyun menahan lengan Siwon agar pemuda itu ikut berhenti berjalan. Seunghyun tahu bahwa Siwon tidak mendengar jelas panggilan itu.

“Kenapa hyung?”

“Dengar dengan telinga kirimu. Ada yang memanggil kita.” perintah Seunghyun yang diikuti oleh Siwon. Dan memang benar, sayup-sayup, dia mendengar suara perempuan memanggil mereka.

Keduanya lantas menoleh ke belakang dan menemukan seorang gadis dengan rambut pendek seleher berwarna biru, jelas hasil pengecatan, memanggil Seunghyun dan Siwon. Mereka tahu karena gadis itu melambaikan tangan ke arah mereka dan berteriak,

“Hei! Kalian berdua! Yang memakai jaket hitam lusuh! Ya! Kalian! Tunggu aku!!”

Baik Seunghyun maupun Siwon sama sekali tidak tersinggung karena apa yang dikatakan gadis itu adalah fakta.

“Hah…hah…hah… K-ka…K-kalian jalan cepat sekali.” Ucapnya tersengal karena menarik nafas sehabis berlari untuk mendekati Seunghyun dan Siwon. Seunghyun memandang sebelah mata gadis yang menurutnya lemah itu. Dalam benak pemuda dengan sorot mata dingin itu, gadis ini sudah kelelahan padahal hanya berlari sebentar.

“Ada yang bisa kami bantu nona?” tanya Seunghyun datar dan terkesan dingin. Gadis berambut biru itu terlihat mulai bisa mengatur nafasnya dan mendengar pertanyaan Seunghyun tadi, wajahnya langsung berbinar dan dia tersenyum dengan lebar.

“Tentu ada. Aku ingin kalian menjadi modelku.”

.

.

.

Leeteuk baru saja selesai memasak ketika gendang telinganya mendengar suara langkah kaki berjalan ke arah dapur. Leeteuk mematikan kompor dan menata masakannya dalam wadah saji sebelum meletakannya di meja makan. Langkah kaki yang di dengar oleh Leeteuk ternyata adalah langkah kaki dari Kangin. Pria itu langsung berseri melihat istri tercintanya sudah menunggunya beserta dengan makan malam yang menggugah selera.

Lain Kangin, lain lagi dengan pemuda di belakang Kangin. Pemuda itu justru memandang Leeteuk dengan tatapan tajam yang menusuk dan jika boleh dikatakan, sedikit meremehkan wanita cantik tersebut. Terlihat jelas bahwa pemuda itu tidak menyukai Leeteuk namun tidak ingin berbuat sesuatu kepada ibu tirinya tersebut karena dia masih sangat menyayangi sang ayah. Pemuda tersebut tidak mau menghilangkan binar-binar kebahagiaan dari matanya karena sejak kehadiran Leeteuk, Kangin tampak lebih hidup. Begitu bahagia seperti saat ibunya masih hidup dulu.

“Yeobo, Yunho. Kalian pulang lebih cepat.” Sapa Leeteuk membuyarkan lamunan Yunho, pemuda di belakang Kangin tadi. Buyarnya lamunan Yunho, membuatnya menyaksikan adegan yang tidak ingin dilihatnya, Kangin yang mencium sayang kening Leeteuk dan memeluk dari belakang ibu tirinya tersebut.

“Rapatku selesai lebih cepat karena Yunho begitu cemerlang menjelaskan proposal kerjanya. Dewan direksi lainnya dan para pemegang saham begitu terpukau dengan argumentasinya sehingga mereka setuju dengan rencana Yunho untuk melebarkan sayap di industri fashion.”

“Benarkah? Kau hebat sekali Yun.” Puji Leeteuk tulus setelah mendengar penjelasan Kangin, berharap Yunho senang akan pujian darinya. Namun bukan senyuman manis yang Leeteuk dapatkan melainkan seringai sinis terukir dari bibir tebal Yunho. Ditambah pandangan meremehkan yang terarah kepadanya dari anak tirinya tersebut.

“Sudah sewajarnya umma. Aku anak appa, jadi tentu saja aku sehebat appa.” Cibir Yunho menekankan kata umma dan appa seolah-olah dia ingin menyatakan dengan tegas bahwa ada perbedaan antara Leeteuk dengan Kangin.

Leeteuk menjadi salah tingkah dengan ucapan Yunho tadi. Dengan gelisah, dia memaksakan senyum dan berkata,

“Y-ya… T-tentu saja.” Ujarnya terbata membuat Yunho semakin muak dengan ibu tirinya tersebut. Dengan tatapan tajam Yunho memandangi Leeteuk, berharap tatapan bisa menghilangkan jejak ibu tirinya tersebut dalam kehidupannya. Akan tetapi, sekali lagi Yunho teringat dengan sang appa yang sangat dia sayangi.

Yunho berusaha mengendalikan emosinya sendiri hanya demi Kangin yang terlihat bingung dengan sikap Yunho dan Leeteuk. Yunho pun ikut memaksakan senyum yang lebih bersabahat agar Kangin tidak curiga dengan dirinya yang membenci kehadiran Leeteuk.

“Appa, aku pergi dulu.”

“Eh? Kita baru saja sampai Yun. Kau tidak makan dulu.”

“Maafkan aku appa, tapi aku tidak ikut makan hari ini. Jiyong sudah menungguku untuk membicarakan koleksinya untuk pergelaran busana nanti.”

“Ah! Jiyongie yang akan membantu kita ya Yun?”

“Ya appa. Maka dari itu aku harus pergi. Appa tahu sendiri bagaimana sibuknya Jiyong. Sangat sulit untuk bertemu dengannya jika bukan dia sendiri yang mengundang.”

“Baik, baik. Pergilah. Hhh… Tampaknya kita hanya makan berdua sayang tapi tenang, perutku sanggup menampung semua masakanmu.” Canda Kangin yang diikuti dengan tawa lepasnya. Yunho pun tersenyum tulus melihat Kangin tertawa bahagia seperti itu. Begitu pun Leeteuk, dia sangat suka dengan tawa Kangin. Apapun yang dilakukan suaminya tersebut membuatnya merasakan kehangatan dan bahagia.

Tapi sekali lagi kebahagiaan kecil Leeteuk terusik dengan tatapan kebencian dari Yunho. Perlahan dia melirik ke arah Yunho dan menemukan pemuda itu membuka mulutnya bermaksud mengatakan sesuatu meski tak ada suara yang keluar.

Leeteuk mampu menangkap bahasa bibir yang dilakukan oleh Yunho dan dia tak terlalu terkejut dengan perkataan Yunho. Leeteuk hanya menunduk semakin dalam, tidak lagi memperhatikan Yunho yang sudah keluar dari rumah. Leeteuk terus menunduk, berusaha mengendalikan kepanikannya sampai Leeteuk sendiri tak sadar bahwa airmatanya sudah turun karena perkataan Yunho.

Aku tahu rahasia busukmu. Suatu saat kau akan menderita ketika rahasia itu terbongkar. Kau akan menderita.

.

.

.

“Apa pakaian ini cocok denganku hyung?” tanya Siwon setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang disodorkan oleh perempuan yang memaksa dia dan Seunghyun menjadi modelnya.

Seunghyun sendiri yang sudah berganti pakaian, menoleh dan matanya terbelalak lebar. Sesaat Seunghyun hanya diam sampai beberapa detik kemudian dia tertawa keras. Sangat keras sampai pegawai butik dan sang pemilik sekaligus perempuan pemaksa tadi serta Siwon sendiri terkejut karena suara tawanya.

“Ya Tuhan! Aku tahu kalau kau memang tampan Siwon-ah, tapi aku tidak menduga kau akan setampan ini!” puji Seunghyun terlihat senang dengan penampilan Siwon.

Dengan kaos putih bertuliskan ‘think different’, dipadu dengan hoodie berwarna abu-abu serta jaket kulit untuk bikers, ditambah dengan balutan celana jeans hitam di kaki panjangnya, penampilan Siwon memang terlihat seperti model. Pakaian kasual itu sangat cocok dengan potongan rambut Siwon yang sedikit panjang dan agak berantakan.

“Kau bercukur Siwon?”

“Hm. Dipaksa nona itu.”

Seunghyun semakin tersenyum lebar. Baginya, bercukur atau tidak, sahabatnya itu sudah tampan. Tapi dengan bercukur, Siwon terlihat lebih segar dan bersih.

“Kau masih tetap tidak mau potong rambut? Kau akan semakin tampan jika sedikit saja merapikan rambutmu itu.”

“Sebenarnya aku ingin memotongnya pendek hyung. Tapi aku tak punya uang untuk ke tempat cukur rambut dan aku terlalu lelah untuk melakukannya sendiri.”

Jawaban Siwon membuat Seunghyun mengangguk paham. Dia menatap Siwon dan kembali memikirkan tawaran dari perempuan aneh yang memaksa mereka berdua untuk ke butiknya ini.

“Aku bersedia membayar mahal jika kalian mau menjadi modelku.” Tawar perempuan itu tiba-tiba sehingga sedikit mengagetkan Siwon dan Seunghyun. Seunghyun tampak memikirkan baik-baik tawaran gadis berambut biru tersebut dan tanpa sadar menggumamkan sesuatu.

“Tampaknya tawaran perempuan aneh itu boleh juga.”

“Apa hyung?” tanya Siwon tak sengaja mendengar gumaman Seughyun karena pemuda itu berdiri di sebelah kirinya. Seunghyun tidak serta merta menjawab pertanyaan Siwon, pemuda Choi itu hanya menatap dalam Siwon sampai dia menganggukan kepalanya sendiri, seakan-akan telah memutuskan sesuatu hal yang penting dan meremas bahu Siwon.

“Siwon-ah.” Tegasnya kepada Siwon.

“Ya?” balas Siwon sedikit cemas akan kelanjutan ucapan Seunghyun. Dia merasakan firasat buruk dengan apa yang akan disampaikan oleh Seunghyun nanti.

“Kau jangan komentar apa-apa dan ikuti saja apa yang aku katakan oke?” lanjut Seunghyun secara tidak langsung memaksa Siwon untuk menyetujui apapun yang akan dia lakukan.

“Maksud hyung?” tanya Siwon penasaran. Namun sekali lagi Siwon tidak mendapatkan jawaban apapun dari Seunghyun. Siwon hanya bisa memandang bingung punggung Seunghyun yang berjalan ke arah sang pemilik butik sambil berteriak memanggilnya.

“Hei nona!”

.

.

.

“Tentu saja kalian boleh mengambil cuti selama 2 minggu. Kalian jarang mengambil libur. Ah! Salah. Kalian justru tidak pernah mengambil libur. Jadi kalau kalian ingin libur, silahkan saja, aku tidak keberatan.”

“Benarkah bos? Wah! Terima kasih banyak bos! Kami akan segera kembali bekerja setelah 2 minggu. Jika bos ingin memotong gaji kami, kami tidak keberatan.”

“Sudahlah. Tidak usah seperti itu. Aku tetap akan menggaji penuh kalian berdua. Tenang saja. Yang penting kalian menikmati liburan kalian ya. Selamat bersenang-senang.”

“Sekali lagi terima kasih bos!”

Klik!

Seunghyun tersenyum lebar ketika dia selesai menghubungi bos-nya dan Siwon. Seunghyun tahu bahwa dia akan menyetujui langsung permintaan Seunghyun dan Siwon karena memang apa yang dikatakan bosnya tadi benar adanya. Seunghyun dan Siwon tidak pernah libur, tidak seperti rekan kerja mereka yang lain.

“Bagaimana hyung? Pasti bos tidak mengizinkan bukan? Sudah aku bilang kita tidak usah menerima tawaran nona itu. Sekarang bos pasti marah besar dan akan memecat kita hyung.” Cemas Siwon berlebihan tanpa menunggu balasan Seunghyun atas pertanyaannya. Seunghyun memutar matanya malas dengan sikap Siwon yang mudah panik itu jika sudah menyangkut pekerjaannya. Kepanikannya itu datang karena alasan yang mudah Seunghyun tebak.

Ibu Siwon.

Seunghyun menghela nafas kasar sebelum tangannya mengambil tindakan dengan memukul belakang kepala Siwon, sehingga pemuda dengan marga yang sama dengannya tersebut, memanglingkan wajahnya sekali lagi menghadap ke arah Seunghyun.

“Bisakah kau tenang sedikit? Bos mengizinkan kita untuk libur selama 2 minggu. Jadi kau tidak usah berlebihan seperti itu!” jelas Seunghyun sembari memegang lengan atas Siwon.

“Eh?” Benarkah?” tanya Siwon memastikan.

“Kau mau menyebutku sebagai pembohong Choi ‘bodoh’ Siwon?” gusar Seunghyun karena Siwon seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dia katakan.

“B-bukan begitu hyung… Tapi benarkah bos tidak keberatan?” kilah Siwon sambil bertanya lagi dan kali ini dengan hati-hati agar Seunghyun tidak tersinggung.

“Dia mengerti bahwa kita membutuhkan liburan Siwon dan jangan khawatir soal bayaranmu. Bos tetap akan menggaji kita secara penuh.” jelas Seunghyun lagi. Siwon membelalakan matanya begitu mendengar dia akan menerima gaji tanpa bekerja.

“Serius hyung?” tanya Siwon yang kali ini dijawab dengan tepukan di belakang kepalanya dan sedikit ancaman dari Seunghyun.

“Sekali lagi kau mempertanyakan ucapanku, aku pukul kau lebih sakit dari yang tadi!” ancam Seunghyun yang ditanggapi gerutuan dari Siwon yang sibuk mengusap bagian kepalanya karena tepukan Seunghyun.

“Seunghyun-ssi, Siwon-ssi. Nona Jiyong meminta anda untuk menemuinya.” Debat singkat Siwon dan Seunghyun berakhir oleh suara salah satu staf dari gadis berambut biru yang dipanggil dengan nama Jiyong tersebut. Staf Jiyong itu membungkuk hormat sebelum memberikan gestur kepada Seunghyun dan Siwon untuk mengikutinya. Akan tetapi Seunghyun dan Siwon tidak bergerak sama sekali. Terutama Seunghyun yang justru menatap dingin staf tersebut sehingga dia tidak berani memandang Seunghyun lebih lama dan memilih menunduk.

“Untuk apa? Bukankah tadi sudah aku bilang bahwa kami berdua setuju untuk menjadi modelnya?” tuntut Seunghyun kepada staf Jiyong tersebut.

“N-nona Jiyong ingin mengenalkan… I-ingin mengenal a-anda dengan tuan muda Yunho. B-beliau adalah… Beliau a-adalah penanggung jawab pergelaran busana u-untuk kali ini, jadi n-nona… Jadi n-nona Jiyong ingin anda berdua berkenalan dengannya m-mengingat anda a-adalah model baru nona Jiyong.” Jawabnya terbata-bata.

Siwon memanglingkan wajahnya ke samping dan menutup mulutnya, berusaha menahan tawa yang akan keluar. Melihat dan mendengar staf malang tersebut begitu ketakutan dengan tatapan Seunghyun membuat Siwon geli sendiri. Siwon tidak heran jika setiap orang yang berhadapan dengan Seunghyun akan bersikap sepertinya karena aura Seunghyun yang begitu kuat dan mengintimidasi.

Yang membuat Siwon geli adalah raut wajah Seunghyun yang selalu berubah cemberut karena kesal dengan sikap orang-orang yang takut dengannya hanya karena wajah dan auranya. Padahal menurut Seunghyun, dia adalah orang yang cukup bersahabat. Bukan salahnya jika wajahnya begitu keras dan tegas. Bukan maunya jika auranya memberikan isyarat bahwa dia adalah orang yang menakutkan.

Seunghyun melirik ke arah Siwon yang masih berusaha menahan tawanya. Dengan delikan matanya, Seunghyun mengisyaratkan Siwon untuk diam dan tidak berbuat sesuatu yang membuatnya semakin kesal atau Seunghyun akan memukulnya lagi. Siwon mengerti maksud Seunghyun dan berdeham beberapa kali sebelum menguasai dirinya sendiri meski sangat sulit.

“Apakah pertemuan ini akan memakan waktu yang lama? Aku masih ada urusan lain.” Lanjut Seunghyun lagi.

“T-tergantung S-seunghyun-ssi. T-tuan muda… T-tuan muda Yunho biasanya akan mengajak makan malam s-setelah pertemuan ini dan… D-dan kemungkinan anda berdua harus ikut serta.” Jelas si pekerja masih dengan kegagapannya. Seunghyun menghela nafas panjang. Terlalu lelah dan malas untuk menanggapi sikap staf dihadapannya ini. Biarlah dia beranggapan Seunghyun orang yang dingin. Seunghyun tidak peduli lagi. Yang jadi masalah sekarang adalah,

“Kalau begitu aku tidak ikut. Biar Siwon saja.” Seunghyun tidak bisa ikut dalam pertemuan tersebut dan dia terpaksa meninggalkan Siwon seorang diri. Ini bisa berakibat dengan Siwon yang,

“Huh? Hyung! Kau tidak berpikir untuk meninggalkan aku sendiri bukan?” tukas Siwon keberatan untuk ditinggal sendiri. Seunghyun menatap Siwon yang menatapnya dengan tatapan memelas untuk tidak di tinggal sendirian. Tapi apa daya Seunghyun, dia memang ada urusan yang tidak bisa ditinggal sedangkan bertemu dengan orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan tambahan mereka yang menghasilkan banyak uang juga hal penting yang harus dijalani. Maka dari itu, mau tidak mau Seunghyun harus,

“Ya, aku memang berpikir demikian. Aku harus pergi ke kantor pengacara Yoo, Siwon-ah. Ada yang harus aku urus dengannya.” Jelas Seunghyun sekaligus meminta pengertian dari Siwon.

“Tapi hyung?” ujar Siwon masih keberatan dengan keputusan sepihak Seunghyun tapi melihat tatapan memohon dari Seunghyun membuat Siwon urung menyampaikan keberatannya lebih lanjut.

“Kau akan baik-baik saja Siwon-ah. Lagipula meski nona itu sedikit aneh, dia tampak baik. Jadi kau tak perlu cemas.” Bujuk Seunghyun sekaligus meyakinkan Siwon bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“…”

“Tolong aku sekali ini Siwon-ah. Tawaran ini bagus untuk kita berdua jadi aku mohon berusaha dan bersabarlah sedikit.” Ulang Seunghyun lagi kala Siwon hanya diam membisu.

Semanit kemudian, Siwon menghela nafas panjang sebelum mengangguk dan berkata,

“Baiklah hyung, aku akan tetap disini.”

“Itu baru adikku. Aku pergi dulu.” Lega Seunghyun lalu membereskan barang-barangnya dan berpamitan dengan Siwon.

“Hati-hati hyung.” Ucap Siwon yang dibalas dengan senyuman oleh Seunghyun sebelum pemuda itu meninggalkan butik milik Jiyong.

“Mari Siwon-ssi.” Ucapan si pekerja butik menyadarkan Siwon bahwa masih ada orang lain selain dirinya dan Seunghyun. Dengan enggan, Siwon mengangguk sebelum mengikuti pekerja tersebut.

.

.

.

“Kau yakin akan mengunakan orang biasa untuk project kali ini Jiyong-ah? Apa tidak terlalu beresiko?” tanya Yunho ragu dengan keputusan Jiyong untuk menggunakan 2 orang biasa yang tidak memiliki pengalaman sama sekali sebagai model untuk pergelaran busana Jiyong. Terlebih lagi pekerjaan Jiyong kali ini menyangkut reputasi dirinya dan kesuksesan program kerja yang sedang ditangani oleh perusahaan Yunho.

Menanggapi keluhan Yunho, Jiyong hanya tersenyum dan memberi isyarat kepada Yunho untuk mengikutinya ke keluar dari kantor Jiyong. Yunho berdiri dan berjalan mengikuti Jiyong keluar dan menuju ke tempat fitting di butik tersebut.

“Kau akan lihat bahwa kedua modelku ini sangat cocok dengan koleksi kali ini. Aku seperti menemukan inpirasiku ketika bertemu dengan mereka. Well, mereka memang amatir tapi postur tubuh, ekspresi dan cara jalan mereka sempurna untuk model runaway Yun. Kau boleh menusuk mataku jika menurutmu aku berbohong setelah melihat keduanya.”

“Lalu dikejar dan dihajar habis-habisan oleh Jae noona karena sudah berani melukai seujung kulit indah dari sang adik? Tidak terima kasih Jiyong-ah. Aku masih sayang hidupku dan aku masih mengincar kakakmu itu. Jadi apapun keputusan anehmu, aku akan tutup mata saja. Jika ada yang keberatan, mereka akan pikir panjang untuk mengutarakannya karena mereka tahu akan berhadapan dengan siapa.”

“Kau masih menyukai gadis barbar itu? Yun, kau tahu sendiri Jae eonnie tidak menyukai lelaki yang lebih lemah darinya. Lalu apa tadi? Para pengganggu tak penting yang tak menyukai keputusanku akan takut denganmu? Mereka sudah lebih dulu menciut nyalinya jika tahu bahwa aku sendiri yang memilih model-modelku kali ini.”

“Aku lebih berkuasa blue-head. Dan untuk pertanyaanmu tadi, tenang saja Jiyong-ah. Aku berlatih terus agar suatu saat aku bisa membalas uppercut Jae noona.”

“Ya, ya… Aku hanya bisa berdoa semoga nanti ketika Jae eonnie meninjumu, kau masih bisa bernafas. Aku tak mau kau mati karena kau masih punya hutang 500 won kepadaku.”

“Kau benar-benar teman sejati Jiyong-ah.”

I know.”

Gurauan dua sahabat itu diakhiri dengan tawa kecil keduanya. Yunho dan Jiyong memang sudah bersahabat sejak keduanya mengenyam pendidikan di sekolah menengah pertama yang sama. Awalnya keduanya sangat membenci satu sama lain, namun saat Yunho jatuh cinta kepada kakak Jiyong, Kim Jaejoong, sikap Yunho berubah drastis terhadap Jiyong. Jiyong sendiri yang awalnya ingin memanfaatkan Yunho yang terkenal kaya dan cukup berkuasa di sekolah karena merupakan anak pemilik yayasan penyokong dana sekolah, menjadi benar-benar berteman dengan Yunho.

Keduanya berpikir bahwa ternyata mereka memiliki banyak kesamaan sehingga lambat laun persahabatan yang didasari oleh keinginan individu menjadi tulus karena saling membutuhkan.

“Nona Jiyong, Siwon-ssi telah siap.” Baik Jiyong dan Yunho langsung mengarahkan pandangan mereka kepada salah satu staf Jiyong yang memanggil nama Jiyong.

Mendengar perkataan stafnya tadi, wajah Jiyong langsung berbinar dan dia pun menarik Yunho untuk menemui Siwon. Sedangkan Yunho, telinganya terasa gatal karena penasaran setelah mendengar nama ‘Siwon’. Nama itu mengingatkan dia akan satu nama yang selalu menjadi perhatiannya karena terkait dengan masa lalu sang ibu tiri, Leeteuk.

Nama dari anak laki-laki yang dibuang oleh Leeteuk ketika usia anaknya tersebut baru menginjak lima belas tahun.

Belum selesai Yunho menerka-nerka ‘Siwon’ yang dimaksud oleh Jiyong, dia sudah berhadapan dengan yang bersangkutan. Mata Yunho terbelalak lebar, terperangah dengan keberuntungannya sendiri. Saat dia baru akan mencari, Tuhan memberikan jalan yang lebih mudah dengan membawanya sendiri ke hadapan Yunho.

Pemuda yang akan menjadi bukti betapa busuknya Leeteuk, sekarang sedang berdiri di depannya.

“Yunho-ya. Kenalkan ini Choi Siwon-ssi. Model baruku. Siwon-ssi, Kenalkan ini Jung Yunho, sahabatku sekaligus penanggung jawab pekerjaanku.” Sahut Jiyong mengenalkan Siwon kepada Yunho dan sebaliknya.

Yunho menyeringai tipis. Sudah dapat dibayangkan bagaimana wajah Leeteuk ketika Yunho menghadirkan sosok Siwon di hidupnya.

Pasti akan sangat menarik. Batin Yunho sebelum mengulurkan tangan kepada Siwon dan mengenalkan dirinya secara langsung.

“Jung Yunho. Panggil saja aku Yunho hyung. Sepertinya kau lebih muda daripada aku. Senang berkenalan denganmu Siwon-ssi.”

“Salam kenal juga Yunho-ssi. Aku Choi Siwon. Panggil saja Siwon.” Balas Siwon dengan senyum lesung pipinya. Yunho semakin melebarkan seringainya lalu menjabat tangan Siwon.

“Aku tahu Siwon-ssi. Aku tahu.”

.

.

.

Jaejoong memandang sosok yang tengah memasang berbagai macam pose di hadapan kamera fotografer majalah fashion terkenal itu. Pose yang mengagumkan dengan ekspresi wajah sesuai dengan keinginan sang fotografer membuat pengambilan gambar untuk majalah tersebut selesai lebih cepat.

Okay. Thank you Kyu. You’re amazing. That’s a wrap.” Ucap sang fotografer kepada modelnya yang dipanggil dengan nama Kyu.

Kyu atau Cho Kyuhyun adalah model sekaligus penyanyi terkenal yang sedang naik daun. Dengan suara emas dan kelihaiannya di depan kamera, membuatnya menjadi model dan penyanyi paling di cari baik di negara asalnya sendiri maupun asia bahkan dunia.

Hanya saja, entah karena pertimbangan apa, Kyuhyun memiliki berkarir di negerinya sendiri walau tawaran demi tawaran pekerjaan membanjiri agensi tempatnya bernaung. Jika ditanya alasannya, Kyuhyun hanya menjawab.

Aku malas bepergian jauh.”

Kyuhyun membungkuk hormat kepada sang fotografer yang berlalu dengan asistennya untuk membahas foto-foto Kyuhyun yang akan dipakai di majalah. Begitu fotografer itu pergi, manajer dan Jaejoong mendekati Kyuhyun.

Sang manajer membawakan sebuah bubble tea, minuman favorit Kyuhyun dan menyerahkan ponsel Kyuhyun, mengisyaratkan kepada Kyuhyun bahwa ada seseorang yang menunggunya menjawab sambungan telepon di ponsel tersebut. Sedangkan Jaejoong hanya berdiri di depan Kyuhyun menunggu Kyuhyun menyelesaikan semua urusannya.

Kyuhyun menerima bubble tea di tangan kirinya dan ponsel di tangan kanannya. Gadis manis itu lalu menempelkan ponselnya di telinga kanannya sembari sesekali menyeruput bubble teanya.

“Kau sudah dapat informasi pemuda itu?” tanya Kyuhyun langsung tanpa basa basi. Orang di seberang sambungan Kyuhyun itu pun tampaknya tidak terkejut sama sekali dengan sikap Kyuhyun. Orang tersebut justru langsung menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Sudah Kyuhyun-ssi.”

“Dimana dia sekarang?”

“Berada dekat dengan anda Kyuhyun-ssi.”

“Apa maksudmu?”

“Pemuda itu menjadi model untuk pargelaran busana koleksi terbaru Kim Jiyong.” Jawaban orang yang ternyata detektif sewaan Kyuhyun itu membuat Kyuhyun membulatkan matanya. Dia langsung menoleh ke arah Jaejoong yang menatapnya balik dengan tatapan datar.

Kyuhyun terdiam sesaat, berusaha memahami informasi yang dia terima hari ini sampai akhirnya Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum menutup sambungan telepon itu. Kyuhyun kemudian memusatkan perhatiannya kepada Jaejoong setelah menyerahkan ponselnya kepada manajernya sembari memintanya untuk pergi karena dia ingin bicara empat mata dengan Jaejoong.

“Jelaskan kepadaku eonnie, kenapa pemuda yang aku cari selama ini tiba-tiba bisa menjadi model dari Jiyong eonnie?” tanya Kyuhyun langsung. Jaejoong menghela nafas panjang, tahu bahwa dia akan ditanya seperti ini oleh Kyuhyun karena ulah sang adik.

“Aku juga baru tahu kemarin Kyu, saat Yunho dan Jiyongie membawa dia ke restoranku. Aku sama terkejutnya denganmu.” Jelas Jaejoong agar Kyuhyun tidak salah paham kepadanya.

Kyuhyun menghela nafas untuk kesekian kalinya.

Sebenarnya dia sangat senang akhirnya dapat menemukan orang yang telah menyelamatkannya namun di satu sisi Kyuhyun juga merasa takut untuk berhadapan dengan orang tersebut.

Apakah orang itu benar tidak akan menuntutnya karena kabur setelah menabraknya?

Ya, Kyuhyun adalah orang yang menyebabkan Siwon celaka beberapa waktu lalu. Kyuhyun yang mabuk karena permasalahan kedua oprang tuannya, memacu mobil sedan mewahnya dengan cepat sampai melanggar rambu lalu lintas. Saat itu Siwon baru saja pulang dari bekerja dan bermaksud menyebrang. Siwon melihat ada mobil yang melaju sangat kencang.

Siwon bisa menduga pengendara mobil itu  sedang mabuk sehingga mengendarai mobilnya secara ugal-ugalan sehingga Siwon memutuskan tidak jadi menyebrang. Akan tetapi Siwon melihat seorang ibu dengan anak dalam gendongannya menyebrang jalan tanpa melihat mobil yang dikendarai oleh Kyuhyun. Tanpa pikir panjang, Siwon bergerak maju dan mendorong ibu tersebut ke trotoar. Siwon sendiri sedikit terlambat menyelamatkan dirinya sendiri sehingga tubuhnya terserempet oleh mobil Kyuhyun menyebabkan bahunya terhantam kaca spion mobil dan Siwon sendiri terjerembab ke jalan beraspal.

Kyuhyun terkejut dengan peristiwa itu. Dia sempat menghentikan mobilnya dan mengeluarkan kepalanya melalui jendela untuk melihat kondisi pemuda yang baru saja dia tabrak. Kyuhyun bermaksud menolong Siwon yang berusaha berdiri meski sebelah tangannya berlumuran darah dan keningnya juga terluka akibat jatuh ke jalan beraspal. Namun melihat Siwon yang menurutnya terluka parah dan kerumunan orang-orang yang berada di sekitar daerah tersebut membuat Kyuhyun ketakutan sehingga memilih untuk melarikan diri, meninggalkan Siwon yang terluka.

Kyuhyun baru menyadari kesalahannya ketika dia sampai di rumahnya. Kyuhyun tahu bahwa dia akan menjadi tajuk utama berita di berbagai media karena tabrak lari yang dia lakukan. Kyuhyun yakin bahwa Siwon akan mengadukan dirinya karena Kyuhyun sempat melihat Siwon yang memandangi plat mobilnya sebelum menatap wajahnya dengan seksama.

Kyuhyun bisa memiliki keyakinan tersebut karena dia berpikir siapa yang tidak mengenal dirinya di negara ini. Dia yang merupakan anak dari seorang pengusaha dan aktris ternama, seorang model dan penyanyi pendatang baru yang sama terkenalnya dengan kedua orang tuanya, adalah mangsa empuk untuk dijadikan bahan berita dan sumber dana untuk orang-orang busuk yang mengincar kehidupan mudah.

Kyuhyun berpikir pasti Siwon akan mengambil kesempatan itu dan membocorkan identitasnya sebagai penabarak lari waktu itu. Baginya, semua orang sama saja. Pasti mereka akan memanfaatkan siapapun dan apapun demi keuntungan diri mereka.

Hanya saja…

Sampai beberapa hari berlalu, Kyuhyun sama sekali tidak menemukan berita semacam itu. Tidak ada telepon yang masuk kepadanya untuk meminta uang tutup mulut.

Tidak ada satu pun.

Seolah-olah kejadian itu tidak pernah terjadi.

Kebingungan Kyuhyun bertambah ketika tidak sengaja Kyuhyun bertemu dengan Siwon yang sedang mengangkat beberapa kerat minuman soda ke dalam sebuah restoran. Restoran milik Jaejoong lebih tepatnya. Siwon terlihat kepayahan mengangkat kerat-kerat itu dan sesekali memegangi bahunya, membuat Kyuhyun yakin bahwa Siwon adalah pemuda yang sama dengan korban tabrak larinya. Kyuhyun lalu mendekati Siwon dengan dalih bertanya alamat. Kyuhyun ingin tahu apakah pemuda itu mengenalinya sebagai penabrak lari waktu itu.

Alangkah terkejutnya Kyuhyun ketika dengan ramah Siwon memberikan petunjuk kepada Kyuhyun. Siwon sama sekali tidak terlihat curiga kepada Kyuhyun. Melihat reaksi Siwon begitu berbeda dengan dugaannya, Kyuhyun memberanikan diri mengatakan jati dirinya sendiri.

Awalnya Siwon terdiam meski senyumnya masih terpasang. Mendapati reaksi seperti itu dari Siwon membuat Kyuhyun bertanya,

“Mengapa kau tidak melaporkanku? Mengapa kau tidak datang kepadaku dan meminta uang tutup mulut? Apa karena kau tidak mengenalku?”

“Aku memang tidak mengenal nona walau aku bisa saja melaporkan tindakan berbahaya nona karena aku sempat melihat plat mobil nona.”

“Lalu kenapa kau tidak melaporkan aku? Aku ini model dan penyanyi terkenal. Aku memiliki uang. Dan jika kau ingin uang, aku bisa memberikannya.”

Jawaban Siwon membuat Kyuhyun mulai meragukan persepsinya sendiri akan orang lain. Kyuhyun mulai ragu dengan keyakinannya sendiri. Semua itu karena jawaban dari Siwon.

“Aku tidak mau uang dari cara seperti itu nona. Aku masih sanggup mencarinya sendiri. Lagipula alasan saya tidak melapor adalah saat saya menatap mata nona waktu itu, saya bisa melihat betapa kesepiannya nona. Mata yang sama seperti saya. Jadi saya tidak ingin menambah beban nona dengan kejadian itu sementara saya baik-baik saja.”

“Bahumu…”

“Hanya bergeser sedikit. Terima kasih karena nona sepertinya mencemaskan saya.”

“T-tapi…”

“Siwon-ah! Kita harus pergi!” panggilan itu menghentikan perkataan Kyuhyun ditambah Siwon yang langsung membungkuk dan berpamitan kepada Kyuhyun karena mendengar panggilan Seunghyun.

Kyuhyun bergeming di tempatnya, memikirkan semua yang sudah terjadi. Perlahan senyuman yang jarang terlihat karena luka dihatinya tersebut mulai menampakan keindahnya. Sudut-sudut bibir Kyuhyun tertarik dan membentuk sebuah senyuman manis.

Kyuhyun ingat dengan jelas bahwa senyuman itu adalah pertanda bahwa dia masih bisa mempercayai orang lain selain Jaejoong, bahwa di dunia ini masih ada orang yang begitu bodoh sehigga tidak tahu bagaimana memanfaatkan orang lain.

Orang bodoh yang tulus dan terlalu baik hati.

“Jadi bagaimana Kyuhyun-ah?” pertanyaan Jaejoong mengenyahkan semua ingatan masa lalu Kyuhyun. Gadis itu menatap Jaejoong dan memberikan senyum indahnya kepada Jaejoong.

“Tentu saja aku akan menemui calon kekasihku eonnie.” Jawab Kyuhyun yang ditanggapi oleh gelengan kepala dari Jaejoong meski sebuah senyum simpul diam-diam menghiasi wajah Jaejoong.

“Kejarlah pangeranmu itu Kyu.”

END

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Hihihi… Besok adalah WK Day jadi Nao mau ikut meramaikan. Hanya sebuah fanfic biasa yang Nao buat disela kesibukan Nao dan bad moodnya Nao karena suntuk di kantor. Ini sudah pernah Nao spoilerkan jadi kalo amazing readers sempat baca announcementnya Nao pasti ‘ngeh’.

Ceritanya aneh tapi tipikal Nao lah ya… Nao kan emang suka buat yang aneh2 \_~(˘▾˘~)

Banyak typos (I know for sure), namun lumayan panjang kan…

Cliff hanger? You know me so well ┌(“˘o˘)┐ Nao sengaja sih, soalnya Nao mau nyoba minta review mumpung lagi WK Day (‾▿‾”)

Kalo reviewnya banyak, Nao lanjutin dalam waktu cepat. Kalo sedikit, Nao lupa2in untuk lanjut. Oh yes, dear… Ini ada lanjutannya… Jadi silahkan tinggalkan jejak yak (づ ̄ ³ ̄)づ

Udah itu aja ya. Seperti biasa, gomen untuk typos dan kegajean FF ini.

Oh ya, jangan lupa bagi para WKS berlokasi di Jakarta dan sekitarnya, bakalan ada gathering WKS untuk merayakan WK Day pada hari Rabu, 14 Oktober 2015 bertempat di Kota Kasablanca – Jakarta. Janjiannya jam 11 yak.

Be there my amazing readers.

Happy WK Day

Keep Calm and Ship WonKyu (for this special day)

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements