Tags

, , , , , ,

Title : Fly

Pairing : Wonkyu, YunJae, KangTeuk, GTop, and more

Genre : Romance, Family, Angst

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Inspired : Just based on my bad mood

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, AU, OOC, several OCs

Sequel : Sky, I

( 。・_・。)(。・_・。 )

Siwon berdiri di pinggir sungan Han, menatap jauh ke depan meski pengelihatannya tak fokus karena matanya yang berkaca-kaca. Namun Siwon menolak untuk menangis. Dia menolak untuk menitikan airmata kesedihan karena ini adalah pilihannya.

Menjauh demi kebahagiaan Leeteuk.

Walau…

Rasa sakit itu masih terus membekas di hatinya.

Siwon menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Terus menerus seperti itu, berharap setiap tarikan dan hembusan nafasnya bisa mengurangi rasa sakit dan kesepian yang menderanya.

Akan tetapi…

Siapa yang bisa dia bohongi?

Rasa itu akan tetap ada dan selalu ada.

Siwon menatap ke atas langit yang mendung, seperti hatinya yang menghitam karena kesedihan. Siwon terkadang berpikir apa sebaiknya dia benar-benar lenyap dari muka bumi ini?

Apakah dengan kepergiannya maka semua kepedihan ini akan ikut pergi?

Apakah Leeteuk akan tenang setelah mengetahui bahwa dia sudah tiada?

Siwon memandang sekali lagi sungai Han yang terlihat tenang. Tatapan lurus ke air sungai tersebut, tatapan kosong nan hampa dari seorang pemuda yang ditinggalkan oleh orang terkasihnya.

Selangkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Sampai kedua telapak kaki Siwon yang beralaskan sepatu butut kesayangannya, terendam di air sungai yang dingin itu. Siwon berhenti sejenak, menarik nafas dan menghembuskannya lagi sebelum wajah tampannya menyunggingkan satu senyuman tulus namun sendu dan pilu.

Selamat tinggal umma.

.

.

.

Dia adalah anak yang terlahir ke dunia karena perbuatan terkutuk.

Dia adalah anak yang diberi label sebagai anak haram karena tidak jelas siapa ayahnya.

Dia adalah anak yang harus hidup menderita karena menanggung kesalahan kedua orang tuanya.

Dia adalah anak malang yang tidak diinginkan oleh siapa pun.

Dia adalah Siwon.

Dia adalah anakku.

.

.

.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana perihnya tamparan ayahku saat dia tahu aku hamil di luar nikah. Ayah yang begitu lembut, yang selalu ada untukku di saat aku sedih, menamparku karena sesuatu yang bukan keinginanku.

Aku tidak pernah bermimpi apalagi menginginkan untuk diperkosa oleh pemabuk sial yang pergi begitu saja setelah selesai menikmati tubuhku terlebih lagi sampai aku harus hamil di usiaku yang baru saja menginjak enam belas tahun.

Aku tidak pernah menginginkan aib tersebut.

Namun hidup terkadang tidak sejalan dengan apa yang aku inginkan.

Aku memang tidak mengingkan semua itu, namun…

Namun aku tidak akan lari dari bayiku.

Aku tidak akan membunuh satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup, meski dia ada karena suatu kesalahan.

Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama saat aku menyerah kepada takdir yang membawaku ke jurang tak berdasar ini.

Tidak.

Bayiku tidak bersalah. Dia tidak bersalah hingga aku akan memastikan dia bisa melihat dunia ini.

Walau aku harus melawan kedua orang tuaku sendiri.

Aku tidak akan menyerah dan akan terus berjuang. Itu yang aku janjikan kepada jabang bayiku.

Akan tetapi, sekali lagi janjiku bukanlah apa-apa dimata kedua orang tuaku. Mereka dengan mudah membawaku, menyeretku, mengancamku untuk mengugurkan darah dagingku sendiri.

Aku sempat akan mengalah dengan keinginan mereka berdua demi menjaga nama baik keluarga. Hanya saja, apa kami bisa dikatakan sebagai keluarga ketika kami tega membunuh keluarga kami sendiri? Apa kami bisa menjaga nama baik kami ketika yang kami lakukan hanya berbohong dan terus menerus mencoreng semua hal baik yang kami lakukan dengan melakukan pembunuhan terhadap bayi yang tidak berdosa?

Tuhan membisikan hal yang benar ke telingaku dan membuatku sekali lagi memantapkan hatiku untuk berkata tidak.

Aku memohon, bersimpuh di hadapan kedua orang tuaku agar mereka mau mengerti, agar mereka bisa menempatkan diri mereka di situasiku, agar mereka membiarkan bayiku hidup.

Entah karena mereka terlalu menyayangiku atau karena mereka tersentuh dengan kenyataan mereka berdua akan menjadi kakek dan nenek, keduanya terenyuh dan membiarkan aku mengandung anakku.

Walau dengan satu syarat.

Aku harus memberikannya kepada orang lain ketika dia lahir.

.

.

.

“Apa? Kau sebenarnya tidak tega membuang anakmu sendiri? Lalu apa yang dialami oleh Siwon sekarang? Kau menelantarkannya!”

“Aku terpaksa! Nyawanya terancam jika aku tidak bersikap seperti aku membencinya! Kau tidak tahu betapa sakitnya aku kala melihat dia terluka. Ak…”

“Kau yang membuatnya tuli! Kau katakan kau sakit saat melihatnya terluka, justru pukulanmu dan tamparanmu, membuat telinga kanannya rusak sehingga dia tidak bisa mendengar lagi!”

“A-apa…?”

“Apa? Kau pikir semua tindakanmu tidak akan berdampak kepadanya? Kau itu naïf atau bodoh hah? Kau bahkan pura-pura tidak tahu ketika dia begitu kesakitan. Kau wanita kejam Leeteuk-ssi.”

“A-aku… A-aku benar-benar t-tidak…”

“Sudahlah! Aku akan menyusul Siwon dan setelah aku menemukannya, aku akan membongkar kebusukanmu.”

.

.

.

Tidak akan ada yang percaya dengan perkataanku.

Tidak akan ada yang bersimpati kepadaku.

Tidak akan ada yang tahu bagaimana perasaanku.

Bukan masalah.

Asalkan dia hidup, asalkan aku tahu dia bernafas, asalkan aku tahu dia bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri, aku tidak peduli jika aku disebut sebagai wanita iblis, ibu yang kejam, perempuan sialan, dan sebagainya.

Bagiku, selama dia terhindar dari bahaya yang disebabkan oleh kedua orang tuaku, maka aku akan bersikap seperti seorang yang membencinya.

Agar dia juga bisa membenciku dan menjauh dariku.

Menjauh dari kematian.

.

.

.

“Siwon…” lirihku memanggil nama putraku yang aku lihat sedang mengangkat kerat-kerat minuman keras. Air mataku mengalir begitu saja begitu aku melihat dia yang terlihat baik meski sedikit kurus.

Aku bersyukur bisa melihatnya. Ini berarti ayah menepati janjinya untuk tidak membunuh Siwon jika aku mengusirnya dari rumah. Walau terpaksa, namun harus aku lakukan. Kemarahan ayah tidak terbendung lagi karena kekeras kepalaanku yang ingin hidup bersama Siwon. Meski aku sudah bersikap seolah-olah aku membencinya agar ayah berpikir aku seperti dirinya, namun kali ini kesabarannya sudah habis.

Dia ingin Siwon benar-benar menghilang dari kehidupan keluarga kami.

Aku tidak bisa membiarkan hal itu. Jadi aku sekali lagi menuruti keinginan ayah dengan mengusir Siwon walau usianya masih lima belas tahun.

Aku menatap wajah Siwon yang tersenyum kepada salah satu rekan kerjanya. Melihat senyum itu aku lega karena putraku yang tampan masih hidup.

Siwon-ah… Umma menyayangimu nak. Maafkan umma selama ini. Tapi umma mohon bencilah umma agar kau bisa segera melupakan umma jika terjadi sesuatu dengan umma.

Bencilah umma…

.

.

.

“Maaf, ini uang darimana?”

“Sebentar saya periksa terlebih dahulu.”

“…”

“Terima kasih sudah menunggu. Uang tersebut berupa setoran tunai dari Choi Siwon-ssi.”

“Siapa?”

“Choi Siwon-ssi, nyonya.”

“…”

“Nyonya?”

“Nona, aku ingin membuka rekening tabungan rencana.”

“Baik nyonya. Setoran pertama anda adalah…”

“Nona, tolong uang transfer ini menjadi setoran awal saya.”

“Oh. B-baik nyonya. Lalu karena ini rekening tabungan rencana, maka saya akan masukan nama suami anda sebagai penerima hak waris anda dan…”

“Tolong penerima hak waris saya adalah Choi Siwon.”

“???”

“Dia putra saya nona.”

“Oh!. Baik nyonya. Akan segera saya buatkan.”

Dia putraku.

.

.

.

Apa ini? Siwon-ah… Putra umma…

“Kenalkan umma, appa. Ini Choi Siwon.”

Mengapa anak ini bisa ada disini? Bukankah dia sudah menyelesaikan pekerjaannya sebagai model? Mengapa dia bisa bersama dengan Yunho?

“Saya Choi Siwon. Salam kenal tuan ny-nyonya…”

Apa dia sengaja hadir dalam kehidupanku lagi untuk menguak kebenaran masa lalu gelapku? Bukan! Siwon bukan anak semacam itu. Dia terlalu baik. dia bahkan kelihatan ketakutan melihatku. Siwon-ah… Biarkan umma yang menanggung semuanya. Seharusnya kau tetap menjauh dari umma dan menemukan kebahagiaanmu sendiri.

“Choi? Sama seperti marga gadismu sayang. Selamat datang Siwon-ah. Anggap saja rumah sendiri.”

Tidak! Tidak!! Dia tidak boleh berada disini! Dia tidak boleh menghancurkan kebahagiaan yang sudah aku bangun susah payah! Kebahagiaan semu hanya untuk mengelabui keluargaku. Dia harus menjauh dari kepalsuan yang aku buat.

“T-terima kasih tuan. T-tapi saya pamit dulu.”

Ya. Benar. Pergilah. Pergi Siwon. Walau kakek dan nenekmu sudah tidak ada, tapi masih ada orang-orang picik itu yang menginginkan kau pergi.

“Lho? Kenapa? Makan siang dulu dengan kami. Ah! Bahkan, menginaplah. Sudah lama sekali aku tidak melihat Yunho membawa temannya ke rumah ini sejak Jiyong dan Jaejoong. Dan karena sepertinya Yunho menganggapmu seperti saudaranya, maka aku akan lebih senang lagi jika kau bisa mengenal keluarga kami lebih jauh. Rasanya aku seperti memiliki dua putra. Hahaha… Bukan begitu sayang?”

Jangan! Yeobo, jangan! Biarkan saja dia pergi. Biarkan putraku selamat.

“Tidak terima kasih tuan. S-saya masih… S-saya masih ada urusan lain.”

“Lho? Bukankah kau bebas hari ini? Pekerjaanmu sudah beres bukan? Ayolah Siwon-ah, menginaplah disini. Banyak kamar kosong.”

Yunho… Apa ini perbuatanmu? Apa sebegitu inginnya kau mengusirku dari rumah ini? Hentikan! Kau justru membuat Siwon dalam masalah.

“Tidak hyung, terima kasih. K-kehadiranku hanya a-akan menyusahkan saja. Aku permisi dulu.”

Anak ini… Siwon-ah putra umma… Apa dia memikirkan… Aku? Aku yang sudah begitu jahat terhadapnya selama ini. Aku yang tidak pernah menunjukkan kasih sayangku kepadanya. Aku yang selama ini terus membuatnya menderita. Kau masih saja menyayangi umma nak…

“Umma juga sangat sayang kepadamu Siwon-ah…”

“Eh? Kau bilang apa tadi sayang?”

“T-tidak. B-bukan apa-apa.”

Siwon-ah…

.

.

.

“Segera siapkan ruang gawat darurat! Ada orang yang tenggelam di sungai Han!” perintah salah satu petugas ambulance kepada para suster yang bertugas malam itu. Suster-suster itu dengan sigap melakukan pekerjaan mereka dan membawa sebuah tubuh dengan pakaian basah melekat di tubuhnya.

Bibir orang tersebut berwarna biru, wajahnya pucat pasi, dan detak jantungnya berdetak sangat lemah bahkan sempat berhenti beberapa kali dan bisa saja meninggal di tempat jika bukan karena pertolongan pertama dari seseorang yang menemukannya tenggelam di sungai Han.

Penyelamat orang itu berada di satu mobil ambulance yang sama. Raut wajahnya begitu mencemaskan keadaannya orang yang tenggelam tersebut. Dia mengikuti derap kaki para suster dan dokter gawat darurat sampai dia dihalangi untuk masuk dalam ruang gawat darurat. Penyelamat itu diminta untuk menunggu dan jika dia mengenal siapa pasien yang sedang kritis tersebut, dia dimintai tolong untuk segera menghubungi keluarganya.

Penyelamat itu menggigit bibirnya ketika mendengar kata keluarga.

Apakah orang yang dia selamatkan masih memiliki keluarga saat dia hendak ingin menghilangkan dirinya sendiri dari keluarga yang dimaksud?

Selamat tinggal umma.

“Mengapa kau harus terus mendapatkan penderitaan seperti ini Siwon oppa? Kenapa harus dirimu?” lirihnya pilu.

Penyelamat itu menangis tersedu-sedu sampai tanpa sadar tubuhnya merosot ke bawah dan duduk berjongkok sambil memegangi kedua lututnya. Dia menutupi wajahnya yang menangis agar orang lain tidak mendengar. Hanya saja tangisan sedihnya begitu menyayat hati hingga setiap orang yang melewatinya memberikan tatapan iba kepadanya.

Dia terus menangis beberapa menit sampai akhirnya dia mendongakan kepalanya dan menghapus kasar airmata itu. Penyelamat orang yang tenggelam tersebut yang ternyata adalah Siwon, segera berdiri dan langsung memasang tampang dingin dan datarnya. Dia juga mengeluarkan ponsel dari saku celananya kemudian menekan layar sentuh ponselnya tersebut.

Ponsel canggih itu dia tempelkan di telinga kanannya, menunggu jawaban dari seberang sambungan telepon itu. Hanya membutuhkan tiga nada panggil, telepon itu akhirnya tersambung. Tanpa membuang waktu penyelamat itu langsung berkata,

“Seunghyun oppa. Maaf mengganggu. Siwon oppa ada di rumah sakit pusat.”

“…”

“Aku tidak tahu detail kejadiannya. Kita baru bisa mengetahuinya setalah polisi datang. Karena itu segeralah kemari.”

“…”

“Baik oppa. Aku akan menjaganya.”

Aku akan menjaganya. Selalu.

.

.

.

Tidak!!!

Gadis itu.

Lepaskan aku!! Jangan!!

Gadis itu.

Aku mohon tuan…hiks…hiks…lepaskan aku…

Gadis itu.

“Yeobo.” Suara istri keduaku membuyarkan lamunanku. Aku segera menoleh dan memberikan satu senyuman kepadanya.

“Kau belum tidur? Apa kau masih bekerja? Mengapa kau mematikan lampunya?” tanyanya cemas sembari menyentuh bahuku sebelum memberikan kecupan di pelipis kananku. Aku kembali tersenyum sebelum membalas perbuatan manisnya dengan mengecup punggung tangannya.

“Aku hanya sedang berpikir sayang. Kau tidurlah lebih dulu. Nanti aku akan menyusulmu.” Jawabku agar cintaku tidak semakin cemas dengan keadaanku. Melihatnya tersenyum adalah kebahagiaanku sendiri. Aku tidak ingin kehilangan dia seperti aku kehilangan istri pertamaku.

Apalagi…

Apalagi, dengan melihat senyumannya, aku merasa dosa besarku di masa lalu sedikit terampuni. Wajah cantiknya, wajahnya yang seperti malaikat baik hati itu, wajah tersenyumnya yang menawan, seolah-olah memberikan kesan kepadaku bahwa aku dimaafkan.

Bahwa ‘dia’ memaafkan aku atas tindakan kejiku.

“Kau berpikir apa? Sepertinya serius.” Tanggapnya penasaran.

Aku memperhatikan wajahnya dan menarik nafas sebelum menghembuskan perlahan.

Apakah sudah satnya aku berterus terang kepadanya? Apakah sudah saatnya aku tidak lagi menjadi pengecut? Apakah sudah saatnya aku mengatakan hal yang bahkan tidak bisa aku ceritakan kepada mendiang istri pertamaku?

“Sayang…”

“Hm?”

“Kau ingin mendengar kisahku?”

“Kisah? Kisah apa? Kau pasti punya masa lalu yang kelam ya?” goda istriku yang secara tidak sengaja menohok hatiku karena yang dia katakana benar adanya.

Ya. Aku punya masa lalu yang kelam, teramat kelam.

“Apa kau mau berjanji, setelah aku menceritakannya, kau akan tetap mencintaiku?”

“Huh? Kau ini kenapa sih? Tentu saja! Aku akan selalu mencintaimu yeobo.”

“Terima kasih.”

“Lalu, apa yang ingin kau ceritakan?”

“Sebenarnya aku…”

.

.

.

“Kyuhyun!” seru suara Seunghyun ketika dia melihat Kyuhyun yang berdiri di depan sebuah pintu. Gadis manis berambut ikal coklat sepunggung itu menoleh ke arah suara Seunghyun. Dia memutar tubuhnya sedikit lalu membungkuk hormat kepada Seunghyun dan seorang lelaki paruh baya di belakang Seunghyun.

Kyuhyun, orang yang menyelamatkan Siwon, tidak mengenal siapa pria tersebut tetapi dari garis wajahnya yang mirip dengan Seunghyun, Kyuhyun menduga bahwa pria tersebut adalah ayah Seunghyun.

“Bagaimana keadaan Siwon?” tanya Seunghyun langsung sementara ayah Seunghyun memegangi bahu Seunghyun, berusaha menyalurkan kekuatan dan ketenangan kepada putranya tersebut.

“Masa kritisnya sudah lewat oppa. Dokter mengatakan bahwa air di paru-parunya sudah berhasil di pompa keluar. Sekarang kita hanya tinggal menunggu Siwon oppa untuk sadar.” Jelas Kyuhyun membuat kelegaan tersendiri di hati Seunghyun.

“Syukurlah.”

“Aku rasa kata itu masih jauh dari kita oppa.” Seunghyun langsung menatap Kyuhyun dengan raut wajah penuh tanda tanya dan kekhawatiran.

“Apa maksudmu?”

“Siwon oppa memang selamat dari kejadian tenggelamnya dia di sungai Han, akan tetapi…”

“Apa? Katakan Kyuhyun!”

“Siwon oppa… Siwon oppa memiliki kanker di perutnya.”

.

.

.

Brak!!

Jika pintu itu tidak terbuat dari kayu berkualitas tinggi, pasti hentakan keras dari Seunghyun akan langsung menghancurkan pintu itu sampai berkeping-keping. Luapan amaran dan kesedihan yang memuncak membuat Seunghyun tidak mempedulikan lagi akibat dari tindakannya. Dengan cepat dia berjalan memasuki rumah mewah itu dan mencari seseorang yang merupakan sumber dari amarahnya tersebut.

“Seunghyun! Tunggu nak! Kita tidak bisa datang begitu saja ke rumah seseorang dan berbuat onar!” seruan ayah Seunghyun yang mengikuti sang putra karena cemas Seunghyun akan berbuat suatu tindakan yang akan menggiringnya dalam masalah, tidak dihiraukan sama sekali oleh Seunghyun.

Pemuda itu justru berteriak lantang, memanggil nama ibu dari Siwon, sang istri dari tuan rumah.

“Choi Leeteuk! Keluar! Dasar wanita kejam!! Keluar!! KELUAR!!!” teriaknya begitu keras sampai semua pelayan di rumah itu keluar, penasaran dengan apa yang sedang terjadi.

Sekuriti rumah tersebut yang tadinya berusaha memegangi Seunghyun sejenak sempat kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka sendiri ngeri dengan tatapan membunuh dari sepasang mata tajam Seunghyun. Namun mereka kembali berusaha mengendalikan Seunghyun meski usaha mereka sia-sia karena tenaga Seunghyun yang cukup kuat.

“Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?” satu suara yang sangat dikenal oleh Seunghyun membuatnya menoleh ke arah suara tersebut. Matanya membelalak dengan sempurna.

“Seunghyun?” suara itu memanggil nama Seunghyun.

“Yunho?” ujar Seunghyun tidak percaya jika temannya tersebut bisa berada di rumah ini.

“Sedang apa kau disini?” tanya Yunho gugup. Dia khawatir Seunghyun akan salah paham akan dirinya.

“Kau! Justru aku yang seharusnya bertanya sedang apa kau disini? Mengapa kau bisa berada satu rumah dengan wanita yang menghancurkan hidup Siwon?” tanya Seunghyun. Sebelum sempat Yunho menjawab, wanita yang disebut oleh Seunghyun terlihat menuruni tangga dengan raut wajah penasaran namun sedikit ketakutan. Dia memandangi Seunghyun yang dikenalnya sebagai salah satu rekan kerja Siwon.

“Kau…” lirihnya meski terdengar jelas oleh Seunghyun hingga membuat pemuda itu menengadahkan wajahnya. Dia melihat wajah Leeteuk dengan seksama. Ada sedikit rasa heran ketika Seunghyun memandang wajah sembab dan mata bengkak itu. Jelas sekali bahwa Leeteuk habis menangis, tetapi Seunghyun tidak tahu karena alasan apa.

Seunghyun menggelengkan kepalanya, membuang dengan cepat rasa ingin tahunya karena ada hal yang lebih penting untuk dia tekankan kepada Leeteuk.

“Akhirnya anda keluar juga.” Sinis Seunghyun. Dia baru saja akan menghampiri Leeteuk sebelum tangan Yunho menahannya.

“Yun?” Seunghyun menatap Yunho dengan tatapan penuh tanda tanya akan mengapa dia menghentikan Seunghyun. Seunghyun tidak mengerti mengapa Yunho menahannya seperti ini padahal dia tahu seperti apa hidup Siwon dan siapa penyebabnya.

“Kau mau apa?” tanya Yunho meski dia punya dugaannya sendiri. Yunho sebenarnya tidak ingin menahan Seunghyun terutama setelah kejadian kemarin. Hanya saja, Yunho memikirkan Kangin dan dampak jika pria itu mengetahui semuanya. Yunho berpikir Kangin akan marah besar karena telah dibohongi oleh Leeteuk dan jika Kangin marah, pria itu bisa melampiaskannya tidak hanya kepada Leeteuk tapi kepada Siwon karena memiliki hubungan dengan Leeteuk. Yunho mengenal betul bagaimana sifat sang ayah dan dia tidak ingin Siwon mendapatkan masalah hanya karena Leeteuk.

Selain itu, Yunho tidak ingin Kangin kembali bersedih karena orang yang dikasihinya. Dulu adalah sang ibu yang meninggalkan Kangin karena maut. Dan jika sekarang Kangin kembali kehilangan Leeteuk karena kebohongan, maka tidak akan ada lagi yang tersisa dari sang ayah.

Itu sebabnya Yunho menyembunyikan semuanya.

Akan tetapi, niat itu tidak sejalan dengan pemikiran Seunghyun karena pemuda itu justru menyeringai remeh ke arah Yunho dan berujar sinis.

“Kenapa? Ada masalah bagimu jika aku macam-macam dengannya?” Yunho menghela nafas pelan. Akan sangat sulit baginya memberi pengertian kepada Seunghyun terlebih lagi dalam keadaan marah seperti sekarang.

“Aku tidak peduli dengannya, hanya saja…”

“Hanya saja apa? Apa Yun? Katakan!”

“Aku lebih memikirkan appaku dan…” belum sempat Yunho menyelesaikan kalimatnya, Seunghyun sudah lebih dulu menyela dengan tawanya yang membahana keras.

“Ahahaha! Lucu sekali… Ahahaha…”

“Seunghyun…”

“Katakan Jung Yunho-ssi, apa anda tahu bahwa perempuan itu adalah ibu Siwon?” tanya Seunghyun tiba-tiba dengan nada yang menyudutkan Yunho.

“…”

“Jawab!” teriak Seunghyun kala Yunho diam saja. Yunho tidak tahu lagi harus mengatakan apa agar Seunghyun mengerti. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Seunghyun sudah terlanjur basah menilainya salah. Maka dari itu, Yunho menundukkan kepalanya dan menjawab,

“Ya, aku tahu.”

Seunghyun tidak mengatakan apapun. Lidahnya terlalu kelu untuk menanggapi kenyataan bahwa selama ini, orang yang dia anggap teman bahkan sahabatnya bisa begitu tega membohonginya. Seunghyun terlalu kecewa untuk bisa meluapkan kemarahaannya kepada Yunho. Kecewa karena ternyata Yunho sama saja dengan yang lain, orang berhati dingin yang senang mempermainkan perasaan orang lain.

“Begitu rupanya.”

“Seungh…”

“Anda mencemaskan ayah anda? Yunho-ssi, anda sengaja menyembunyikan fakta bahwa perempuan itu adalah ibu Siwon agar ayah anda tidak tahu betapa busuknya dia. Anda cemas jikalau Siwon bertemu dengan dia, Siwon akan membeberkan rahasianya. Begitu? Yah, saya tidak terkejut karena semua anak yang berbakti akan melindungi orang tuanya.” Ejek Seunghyun tanpa mau memberikan sedikit pun waktu untuk Yunho menjelaskan.

“Seunghyun, dengar dulu…”

“Perlu anda ketahui Jung Yunho yang terhormat, saya juga tidak peduli dengan keluarga anda yang kejam ini. Bagi saya, kebahagiaan adik saya Siwon adalah yang utama karena dia sudah saya anggap seperti keluarga saya. Dan jika ada seseorang seperti anda dan keluarga anda bermaksud menghancurkan kebahagiaan yang hanya setitik itu, maka saya tidak akan tinggal diam. Saya tidak akan pernah membiarkan orang lain mempermainkan perasaan Siwon!”

“Seunghyun! Kau salah paham!”

“Tidak. Saya mengerti dengan sangat jelas. Lalu kau, ibu macam apa kau yang tega menelantarkan darah dagingnya sendiri? Ibu macam apa yang dengan entengnya mengusir putra yang sudah dilahirkannya dengan susah payah? Apakah kau begitu membenci Siwon sampai kau tidak ingin dia ada dalam kehidupanmu? Kau… Kau seharusnya kau malu kepada dirimu sendiri.”

“A-aku…”

“Yah, selamat nyonya Choi Leeteuk yang terhormat. Keinginan anda akan segera tercapai. Siwon akan segera meninggalkan kita semua.”

“Apa?”

“Dia akan segera hilang dari kehidupan yang kejam ini. Ya, paling tidak dia tidak akan menderita lagi. Tadinya aku ingin melampiaskan amarahku kepadamu nyonya, namun setelah aku melihatmu dan keluarga ini, aku tidak akan merendahkan diriku seperti dirimu. Aku akan memastikan Siwon menikmati sisa hidupnya dengan kebahagiaan, tanpa adanya dirimu.”

Dan Seunghyun langsung pergi dari rumah itu dengan ayahnya, meninggalkan tanda tanya besar di kepala Leeteuk dan Yunho.

.

.

.

“Nyonya Song ingin mengucapkan terima kasih karena jasa Siwon-ssi, putrinya bisa selamat.”

“Karena Siwon? Memang Siwon berbuat apa pak polisi?”

“Malam itu, putri nyonya Song ingin melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung, ada Siwon-ssi disana dan dengan segera dia berenang untuk menyelamatkan putri nyonya Song. Siwon-ssi berhasil membawa putri nyonya Song ke tepian sungai namun entah karena apa, Siwon-ssi tidak juga menarik dirinya sendiri dan membiarkan air sungai menyeret tubuhnya sampai anda menyelamatkan dia Kyuhyun-ssi.”

Penjelasan polisi tersebut menjadi berita baru lagi bagi Kyuhyun, Seunghyun, dan Jiyong yang sedang menemani Seunghyun. Mereka semua berpikir hal yang sama bahwa Siwon tidak berniat bunuh diri pada awalnya. Lalu mengapa dia berubah pikiran setelah menyelamatkan orang lain?

Pertanyaan itu terjawab ketika polisi mengenalkan nyonya Song yang datang bersama putrinya. Nyonya Song terlihat sebagai ibu yang baik dan begitu perhatian kepada putrinya. Siapa saja yang melihat nyonya Song akan bisa menilai bahwa nyonya Song sangat menyayangi putrinya.

Kau iri bukan? Batin ketiganya tak kuasa menahan sesak di hati mereka masing-masing.

Kyuhyun bahkan tak sanggup lagi berdiri di tempat itu dan segera berlari memasuki kamar rawat Siwon. Gadis itu mendekati ranjang Siwon yang diisi oleh tubuh yang lemah tak berdaya dengan berbagai alat media di tubuhnya. Kyuhyun menggenggam erat tangan Siwon yang tak ditusuk oleh jarum infus lalu mencium punggung tangan itu dan jari-jarinya.

Kyuhyun meletakan telapak tangan Siwon di pipinya dan sesekali mengecup telapak tangan pemuda tersebut sambil membelai rambut Siwon yang menutupi dahinya dengan tangannya yang bebas.

“Aku berjanji bahwa aku akan terus berada disisimu oppa. Aku berjanji kau tidak akan kesepian lagi. Aku berjanji akan mencintaimu. Selalu.”

.

.

.

Dokter menatap Siwon yang juga menatap balik ke arahnya. Dua orang itu memiliki keinginan masing-masing yang sayangnya saling bertentangan.

“Siwon-ssi, jika kita melakukan operasi ini, anda masih memiliki kesempatan untuk hidup. Kanker anda belum menjalar ke tubuh anda. Kami masih bisa menyembuhkan anda asalkan anda bersedia untuk di operasi dan di kemoterapi setelahnya.” Tutur dokter itu bersikeras agar Siwon mau untuk di operasi dan menjalani kemoterapi. Dokter itu ingin agar Siwon selamat. Hanya saja keinginan dokter itu tak sejalan dengan keinginan Siwon.

Setelah sadar sepenuhnya seminggu yang lalu dan mengetahui kenyataan bahwa dia sakit, Siwon memiliki niat lain. Dia akan menunggu dengan sabar sampai maut mengambil nyawanya. Siwon bukannya menyerah, dia sudah membuang jauh-jauh pemikiran untuk mengakhiri hidupnya setelah mendapat pukulan demi pukulan dari Seunghyun. Seiwon membuang niat tidak terpuji itu setelah melihat airmata Kyuhyun yang begitu mengkhawatirkannya.

Tidak. Siwon tidak lagi memikirkan niat itu.

Lalu mengapa dia tak ingin dioperasi dan menjalani kemoterapi?

Keduanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tenaga dan waktu yang terbuang untuk bisa sembuh. Siwon tahu dia akan merepotkan banyak orang sehingga Siwon memilih untuk menerima apa yang sudah digariskan oleh Tuhan uintuknya. Siwon siap jika memang kematian menjemputnya.

“Terima kasih dokter tapi saya menolak untuk di operasi.”

“Tapi Siwon-ssi…”

“Terima kasih sekali lagi dokter. Saya permisi dulu.” Pamit Siwon dan melangkah keluar dari ruang dokter tersebut.

Begitu Siwon keluar, dia sudah ditunggu oleh Kyuhyun yang berdiri dengan sebuah syal di tangannya. Wajahnya menampakan senyum manis yang hanya diperuntukkan untuk Siwon.

“Bagaimana?” tanya Kyuhyun memastikan keputusan Siwon meski dia sudah tahu jawabannya.

“Bisa kau antarkan aku pulang Kyu? Aku lelah.” Jawab Siwon megalihkan pembicaraan. Kyuhyun kembali hanya tersenyum sebelum memakaikan syal itu di leher Siwon dan menggandeng lengannya lalu berjalan bersama. Di tengah perjalanan, Siwon memutus kesunyian di antara mereka berdua.

“Kyu.”

“Hm?”

“Pergilah.”

“Maksudmu?”

“Tinggalkan aku dan carilah lelaki yang baik untukmu. Kau gadis yang cantik dan pintar. Pasti banyak lelaki yang ingin menjadi kekasihmu.” Ujar Siwon meski dia merasakan sakit di hatinya ketika mengatakan hal tersebut. Siwon tahu perasaan apa yang bergelayut ini, namun dia harus menahannya demi Kyuhyun. Siwon tahu dia bukanlah lelaki yang pantas untuk mendampingi Kyuhyun. Walau perasaannya ini disambut dengan baik oleh Kyuhyun.

Sementara Kyuhyun sendiri hanya tersenyum sebelum mengusap lengan Siwon. Dengan lembut dia menjawab.

“Benar sih, tapi aku maunya kau yang menjadi kekasihku.”

“Kyu…” lirih Siwon ingin membantah ucapan Kyuhyun tetapi jari telunjuk Kyuhyun lebih dulu menempel di bibirnya.

“Sudah aku bilang bukan, aku ini mencintaimu. Jadi aku akan selalu berada di sisimu meski kau tidak menginginkannya. Aku akan membuatmu mengatakan bahwa kau mencintaiku juga oppa karena aku yakin kau merasakan hal yang sama terhadapku.”

“Maafkan aku Kyu, tapi kau tahu aku tak bisa kar…”

“Karena penyakitmu? Memang kenapa dengan penyakitmu? Aku mencintaimu apa adanya oppa. Jadi sampai maut memisahkan kita, kau terjebak bersamaku. Jadi nikmati saja.”

“Maafkan aku Kyu… Maaf…”

“Tidak perlu meminta maaf oppa. Aku yang ingin bersamamu karena kau adalah orang pertama yang membuka mataku bahwa aku bisa mencintai orang lain, bahwa aku harus bisa diandalkan untuk orang lain, bahwa aku harus bisa menyukai diriku sendiri agar bisa memberikan cintaku kepada orang lain. Kau membuatku mencintai hidupku oppa, jadi aku akan berusaha untuk membuatmu merasakan hal yang sama.”

.

.

.

“Lalu, apa yang ingin kau ceritakan?”

“Sebenarnya aku…”

“Apa?”

“Sayang, aku pernah melakukan dosa yang tidak termaafkan saat aku muda dulu. Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu.”

“Apa yang kau lakukan?”

“A-aku…”

“…”

“A-aku… A-aku memperkosa seorang gadis belia.”

.

.

.

Apakah ini hukuman untukku Tuhan?

Apakah memang ini cara-Mu membalas semua perbuatan kejiku terhadap salah satu malaikat-Mu?

Mengapa?

Mengapa orang yang aku cintai justru adalah orang yang menorehkan luka paling mendalam di hatiku? Luka yang tidak akan pernah sembuh meski dengan waktu.

“Mengapa?”

.

.

.

Siwon menatap langit biru di atas kepalanya dengan senyum manis terpasang di wajah tampannya. Mata hitamnya menangkap sepasang burung merpati terbang bersama sebelum akhirnya bertengger di dahan sebuah pohon yang ada di taman tersebut. Siwon memperhatikan sepasang burung merpati itu sampai keduanya terbang lagi, mengepakan kedua sayap mereka dan membumbung tinggi ke angkasa.

“Seandainya aku bisa terbang seperti mereka, maka aku akan bisa pergi dan bebas lepas, meninggalkan semua beban di hatiku.” Gumamnya masih terus memandang sepasang burung merpati yang telah menghilang dibalik awan.

Siwon menutup matanya, merasakan hembusan angin semilir yang menyentuh permukaan kulitnya dan rambutnya, berusaha melupakan sakit luar biasa yang berasal dari perutnya. Siwon terus menutup matanya sampai dia merasakan sepasang lengan memeluk pinggangnya dari belakang dan sebuah kepala di punggungnya.

“Kalau oppa ingin terbang jauh, oppa harus mengajakku juga.” Ucap Kyuhyun dari balik punggung Siwon.

Siwon tersenyum mendengarnya dan dengan hati-hati membalas pelukan Kyuhyun dengan meletakan kedua tangannya di lengan Kyuhyun.

Ya. Seperti sepasang merpati tadi, dia akan terbang bersama gadis yang dia cintai. Mereka akan terus bersama sampai salah satu dari mereka enggan untuk mengembangkan sayapnya.

END

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Sepertinya Nao sedikit lupa jalan ceritanya (‾▿‾”) tapi mudah2an sih ga aneh ya. Kalaupun aneh, ya salahkan saja sama otak & jari Nao yang suka punya pemikiran sendiri \_~(˘▾˘~)

Anyway, walaupun daddy-Won akan segera wamil, Nao akan berusaha terus menulis WK. Yah, sekedar pengobat rindu aja sih… 2 tahun tanpa kekonyolan Daddy tampan Won (づ ̄ ³ ̄)づ

WKS series Nao akan terus berlanjut, sampai Nao merasa sudah cukup. Jadi stay tuned my amazing readers.

Gomenasai untuk typos dan kegajean luar biasa dari FF ini. You know me so well lah… ¬o( ̄- ̄メ)

Keep Calm and Ship WonKyu, YunJae, and KrisHo 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements