Tags

, , , ,

Title : Thin Thread

Pairing : Wonkyu, YunJae, KangTeuk, GTop, and more

Genre : Romance, Family, Angst

Disclaimer : All casts are belong to their self and God

Inspired : Just based on my bad mood

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, AU, OOC, several OCs

Sequel : Sky, I, Fly

( 。・_・。)(。・_・。 )

Siwon menatap langit biru di atas kepalanya dengan senyum manis terpasang di wajah tampannya. Mata hitamnya menangkap sepasang burung merpati terbang bersama sebelum akhirnya bertengger di dahan sebuah pohon yang ada di taman tersebut. Siwon memperhatikan sepasang burung merpati itu sampai keduanya terbang lagi, mengepakan kedua sayap mereka dan membumbung tinggi ke angkasa.

“Seandainya aku bisa terbang seperti mereka, maka aku akan bisa pergi dan bebas lepas, meninggalkan semua beban di hatiku.” Gumamnya masih terus memandang sepasang burung merpati yang telah menghilang dibalik awan.

Siwon menutup matanya, merasakan hembusan angin semilir yang menyentuh permukaan kulitnya dan rambutnya, berusaha melupakan sakit luar biasa yang berasal dari perutnya. Siwon terus menutup matanya sampai dia merasakan sepasang lengan memeluk pinggangnya dari belakang dan sebuah kepala di punggungnya.

“Kalau oppa ingin terbang jauh, oppa harus mengajakku juga.” Ucap Kyuhyun dari balik punggung Siwon.

Siwon tersenyum mendengarnya dan dengan hati-hati membalas pelukan Kyuhyun dengan meletakan kedua tangannya di lengan Kyuhyun.

Ya. Seperti sepasang merpati tadi, dia akan terbang bersama gadis yang dia cintai. Mereka akan terus bersama sampai salah satu dari mereka enggan untuk mengembangkan sayapnya.

.

.

.

Apakah ini hukuman untukku Tuhan?

Apakah memang ini cara-Mu membalas semua perbuatan kejiku terhadap salah satu malaikat-Mu?

Mengapa?

Mengapa orang yang aku cintai justru adalah orang yang menorehkan luka paling mendalam di hatiku? Luka yang tidak akan pernah sembuh meski dengan waktu.

“Mengapa?”

.

.

.

“Lalu, apa yang ingin kau ceritakan?”

“Sebenarnya aku…”

“Apa?”

“Sayang, aku pernah melakukan dosa yang tidak termaafkan saat aku muda dulu. Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu.”

“Apa yang kau lakukan?”

“A-aku…”

“…”

“A-aku… A-aku memperkosa seorang gadis belia.”

.

.

.

“Apakah anda yakin akan melakukan ini nyonya?” tanya seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang rapi dan terlihat mahal kepada seorang wanita cantik yang terlihat masih segar dan muda meski usianya sudah menginjak kepala empat.

Wanita itu, Jung Leeteuk, atau yang akan segera kembali kepada marga gadisnya, mengangguk perlahan sebagai jawaban atas pertanyaan sang pengacara. Wanita itu menatap lurus mata pengacara sewaannya tersebut dengan tatapan kosong. Ibu Choi Siwon itu tak bisa merasakan apapun sekarang sejak dia mengetahui kebenaran dari kisah kelamnya selama ini.

Takdir begitu lihai mempermainkan hidupnya.

Pria yang dia kira akan menjadi pelabuhan terakhirnya ternyata adalah pria yang merengut semua masa depan dan kebahagiaannya. Pria itu…

Jung Kangin.

Menyebut nama itu membuat Leeteuk meremas kedua tangannya dengan kuat sampai tangan itu memutih. Leeteuk tidak merasakan perih ditangannya akibat kuku-kukunya menusuk kulit di telapak tangannya. Kemarahan dan kekecewaan yang tumbuh membesar membuatnya mati rasa.

Yang ada di pikirannya sekarang adalah menjauh dari pria itu.

Menjauh dan membalas semua rasa sakit dan kemalangan hidupnya.

“Kalau begitu, silahkan tanda tangan disini nyonya dan saya akan segera mengajukan tuntutan anda.” Permintaan sang pengacara menyadarkan Leeteuk. Dengan satu pandangan lagi, Leeteuk segera meraih ballpoint dari tangan sang pengacara dan menanda tangani beberapa berkas. Leeteuk bahkan tidak membacanya terlebih dahulu karena dia yakin pengacara yang sudah dikenal banyak orang karena kehandalannya menangani berbagai kasus, tidak akan mengelabuinya.

“Baiklah nyonya. Saya akan segera ke pengadilan untuk menyerahkan berkas ini. Saya tidak tahu apakah kita bisa menutut seseorang karena kejadian empat belas tahun yang lalu, tapi saya rasa kita bisa menjadikan peristiwa itu sebagai dasar tuntutan nyonya untuk bercerai.” Jelas pengacara tersebut. Leeteuk hanya mengangguk tanda dia paham dengan apa yang dikatakannya. Leeteuk kemudian membungkuk dan menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan sang pengacara.

“Terima kasih anda mau membantu saya.” Tuturnya. Sang pengacara tersenyum sebelum membalas membungkuk kepada Leeteuk dan berkata,

“Sudah menjadi tugas saya nyonya Jung.”

“Choi.” Sahut Leeteuk tiba-tiba dengan nada suara datar namun dingin dan menusuk.

“Maaf?” tanya sang pengacara karena dia sepertinya tidak mengerti maksud dari perkataan Leeteuk. Leeteuk memandang datar pengacara paruh baya tersebut sebelum berbalik dan meninggalkannya seorang diri. Akan tetapi sebelum Leeteuk benar-benar pergi, dia mengatakan sesuatu yang membuat sang pengacara tidak akan mempertanyakan lagi keputusan Leeteuk untuk memakai jasanya.

Kalimat Leeteuk sudah cukup menyakinkannya.

.

.

.

“Saya tidak mau dipanggil dengan marga itu lagi. Saya bukan seorang Jung. Nama saya Choi Leeteuk.”

.

.

.

Tidak!!!

Lepaskan aku!! Jangan!!

Aku mohon tuan…hiks…hiks…lepaskan aku…

Tuan siapa? Lepaskan penutup mata ini! Lepaskan aku!!!

LEPASKAN!!!

Bajingan itu!

Lelaki yang sudah menyentuhku dengan hina.

Lelaki yang dengan seenaknya merengut kesucianku dan membuangku begitu saja.

Lelaki pengecut yang bahkan saat melakukan hal keji itu, tetap menyembunyikan dirinya.

Tuhan…

Mengapa aku bisa begitu bodoh, tolol, dungu sampai tidak mengetahui suamiku sendiri adalah pemerkosa yang membuatku berdosa kepada darah dagingku sendiri?

Mengapa aku dibutakan oleh cinta dan kasih sayang yang dia berikan sampai aku tidak merasakan sentuhannya adalah sentuhan yang sama dengan sentuhan bajingan itu?

Mengapa Tuhan?

Mengapa Kau memberiku cobaan seperti ini?

Sekarang apa yang harus aku lakukan?

Aku ingin berpisah darinya, jauh darinya, membalas semua perbuatannya, Akan tetapi… Mengapa semua begitu menyesakan?

Meski demikian, aku harus tetap pergi darinya.

Tidak, aku tidak melarikan diri. Aku hanya ingin memberinya hukuman.

Aku ingin dia terus merasa bersalah tanpa bisa memperbaiki kesalahan itu dengan melihatku terus.

Aku ingin dia hancur karena tidak bisa berbuat apapun untuk menenangkan hatinya yang sakit kala melihatku.

Aku ingin dia tahu bagaimana rasanya tidak bisa menyentuh darah dagingnya sendiri.

Aku akan menjadi wanita kejam yang disebutkan oleh Seunghyun, teman putraku itu. Aku akan membuat Jung Kangin menderita.

Dan tak hanya dia, aku juga akan membuat keluargaku sendiri yang telah menyakiti putra tercintaku ikut menderita.

Rasa sesak ini harus aku tanggung seorang diri.

Demi membalas semua orang yang telah menghancurkan hidupku dan hidupnya.

Demi putraku, Choi Siwon.

.

.

.

“Apa kau bilang? Semua warisan dari Choi samchon akan jatuh ke tangan Leeteuk? Bukankah Choi samchon sudah mencoretnya dari daftar penerima waris?” teriak seorang pria besar dengan perutnya yang membuncit. Pria itu terlihat geram dan gusar karena berita yang baru dia dengar akan benar-benar menghancurkan hidupnya jika memang benar adanya.

Pengacara sewaan Leeteuk itu tidak terlihat takut sama sekali ketika dia dibentak sedemikian rupa. Pengacara itu justru tersenyum arif meski siapa pun yang melihat akan bergidik ngeri karena senyum itu bukan senyum tulus melainkan senyum penuh kemenangan dan jika boleh dikatakan, seperti senyum iblis.

“Tampaknya tidak begitu, tuan dan nyonya Lee. Paman anda ternyata sempat merubah kembali surat wasiatnya. Di dalam wasiat itu, tertulis bahwa seluruh kekayaan keluarga Choi akan jatuh ke tangan Choi Leeteuk dan jika terjadi sesuatu terhadap Choi Leeteuk sehingga beliau cacat atau meninggal dunia, maka kekayaan itu akan jatuh ke tangan putra atau putri kandung dari Choi Leeteuk.” jelas pengacara itu sambil merapikan jasnya karena tadi sempat diremas oleh pria dengan nama belakang Lee tersebut.

“Choi Leeteuk? Dia sudah menikah! Dia bukan lagi bagian dari keluarga Choi! Sudah aku katakan dia telah dicoret dari daftar keluarga Choi jadi tidak mungkin Choi samchon memberikan warisannya kepada perempuan itu! Ini gila!!! Pasti ini sebuah kesalahan!!! Tidak mungkin samchonku tidak mengatakan apa-apa kepadaku! Tidak! Ini pasti salah! Jangan bicara omong kosong! Pasti ada yang telah merubah surat wasiatnya!!! Ini pasti ada yang tidak beres!” teriak Lee marah dan tidak terima dengan berita yang disampaikan oleh pengacara dari Leeteuk. Kemarahan tuan Lee ditanggapi dengan tenang oleh pengacara paruh baya tersebut. Dia bahkan memasang senyum ramah walau bisa dilihat tidak ada yang ramah dari sorot matanya. Justru, pengacara itu terlihat begitu mengintimidasi tuan dan nyonya Lee dengan auranya.

“Dengan sangat menyesal, sekali lagi saya sampaikan tuan dan nyonya Lee. Semua berkas yang ada di meja di depan anda adalah berkas asli, resmi dan sudah tercatat di notaris dan di sahkan di pengadilan. Berkas itu menyatakan bahwa semua harta dari tuan Choi jatuh kepada putrinya, Choi Leeteuk dan keputusan itu berlaku mulai hari ini.” Ulasnya lagi yang semakin membuat tuan dan nyonya Lee pucat pasi karena dengan kenyataan tersebut, itu artinya dia dan istrinya serta anak-anaknya akan tinggal dijalanan. Mereka jatuh miskin dalam sedetik dengan satu berkas saja.

“A-apa… A-apa maksudmu?” gagap tuan Lee masih tidak bisa menerima atau tidak mau menerima bahwa dia akan jadi gelandangan. Belum sempat pengacara berwiabawa itu menjawab, suara Choi Leeteuk membahana di ruang keluarga dari kediaman keluarga Choi.

“Maksudnya adalah kau dan istri materialistismu itu harus keluar dari rumahku, oppa.” Sinis Leeteuk dengan seringai meremehkan yang terarah kepada tuan dan nyonya Lee.

“KAU!!!” geram tuan Lee dan bermaksud menghampiri Leeteuk untuk memukulnya. Namuan tindakannya itu tidak bisa dia lakukan karena terhalangi oleh dua orang bodyguard yang sengaja di sewa oleh Leeteuk.

“Ck, ck. Masih suka ringan tangan rupanya. Tidak baik loh oppa, bersikap kasar terhadap wanita.”

“KAU!!! CHOI LEETEUK!!!”

“Hai oppa. Lama tak jumpa kau terlihat sangat tua dan lelah.” Ejek Leeteuk lalu kembali menyeringai menang. Dengan santai, dia menduduki sebuah sofa mewah yang berhadapan langsung dengan nyonya Lee sementara tuan Lee masih dicekal oleh dua bodyguard Leeteuk.

“Leeteuk!!! Apa maumu?” tanya tuan Lee masih kesal dan ingin sekali menampar mulut sepupunya tersebut, akan tetapi cengkraman kedua pria besar disamping kanan dan kirinya membuatnya sulit bergerak. Leeteuk sendiri hanya berdecih pelan sebelum mengalihkan pandangannya kepada pengacaranya.

“Pengacara Hwang. Kapan aku bisa menempati rumahku lagi?” tanya Leeteuk kepada pengacara dengan nama Hwang tersebut. Pria dengan rambut yang sebagian memutih itu membungkuk hormat terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Leeteuk.

“Mulai hari ini anda sudah bisa menempatinya nyonya.” Tentu saja jawaban itu menimbulkan kepanikan di hati kedua sepupu Leeteuk tersebut. Dengan terbata-bata, nyonya Lee bertanya kepada Leeteuk dan pengacara Hwang.

“H-hari ini? T-tapi kami akan t-tinggal dimana?”

“Itu urusanmu, bukan masalahku. Aku minta kalian untuk segera pergi karena aku harus mendekorasi ulang rumah ini untuk aku tinggali bersama putraku.” Tukas Leeteuk tak peduli dengan situasi tuan dan nyonya Lee. Leeteuk sama sekali tidak merasa iba dengan keduanya.

Baginya, apa yang dia lakukan sekarang masih belum sebanding dengan penderitaan yang dialami oleh dirinya dan Siwon karena kebusukan hati dan lidah berbisa dari tuan dan nyonya Lee.

Dengan satu isyarat tangan, Leeteuk memerintahkan kedua bodyguardnya untuk mengusir tuan dan nyonya Lee. Kedua bodyguard itu menyeret tuan Lee sementara nyonya Lee mengikuti ketiganya karena berusaha membantu sang suami terlepas dari cengkaraman kuat bodyguard Leeteuk. Kedua bodyguard itu dibantu oleh dua orang asisten rumah tangga keluarga Choi yang mengenal Leeteuk dan telah mengabdi kepada keluarga Choi cukup lama. Keduanya terlihat membawa koper-koper yang entah sejak kapan sudah ada bersama mereka.

Ternyata sebelumnya Leeteuk sudah menghubungi kedua pelayan setia keluarganya itu. Leeteuk tahu bahwa keduanya masih menganggapnya dan menghormatinya sebagai nona di rumah itu. Apalagi Leeteuk juga tahu peringai kedua sepupunya yang kasar dan sombong membuat semua pelayan dan pekerja di kediaman Choi tidak menyukai mereka.

Leeteuk menatap wajah kedua sepupunya itu dengan pandangan jijik dan marah. Setiap kali Leeteuk mengingat perbuatan mereka kepadanya dulu, Leeteuk ingin sekali menghabisi keduanya. Hanya saja, Leeteuk tidak sebodoh tuan dan nyonya Lee yang terus menggunakan cara yang sama yaitu mengancamnya dengan keselamatan Siwon agar Leeteuk tunduk kepada mereka berdua dan orang tuanya dulu.

Tidak.

Leeteuk lebih cerdas dari itu atau lebih tepatnya lebih licik.

Semenjak Kangin membeberkan semua rahasia gelapnya kepada Leeteuk, ibu dari Choi Siwon itu semakin yakin untuk membalas dendam. Keraguannya menguap begitu saja begitu semua kebenaran menyakitkan itu terungkap. Leeteuk marah karena Kangin yang begitu dia cintai ternyata bajingan yang menodainya. Leeteuk geram karena orang tua yang dia anggap sebagai pelindungnya justru lebih mementingkan nama baik keluarga dengan menyembunyikan darah daging mereka sendiri, menelantarkan cucu mereka sendiri. Leeteuk berang karena semua keluarganya yang dia percayai justru adalah pengkhianat hanya karena tergiur dengan harta.

Seperti kedua sepupu gila hartanya ini, tega menyuruh anak-anak mereka untuk melakukan penggecetan terhadap Siwon semasa dia di bangku sekolah. Dan yang tidak pernah bisa Leeteuk maafkan adalah ketika kedua sepupu jahatnya itu mencoba membunuh Siwon dengan mendorongnya dari tangga. Beruntung saat itu Seunghyun berada bersamanya, sehingga peristiwa mengenaskan itu bisa terhindari.

Sejak dulu, Leeteuk berusaha melindungi Siwon dengan menuruti setiap perkataan dan perintah keluarganya. Ketakutan Leeteuk akan kekuasaan dan kemampuannya keluarganya untuk merealisasikan semua ucapan mereka membuat Leeteuk menjadi ibu yang keji.

Lalu ketika kedua orang tuanya sudah tidak ada, Leeteuk mulai leluasa menyelidiki dan mencari bukti-bukti dari kejahatan keluarganya. Meski masih ada rasa takut akan anggota keluarganya yang lain tapi demi membebaskan dirinya dari belenggu tekanan keluarganya tersebut, Leeteuk memberanikan dirinya untuk terus menguak kebusukan keluarganya sendiri.

“T-tunggu dulu! Leeteuk! Apa-apaan ini? Leeteuk!” pekikan nyonya Lee membuat Leeteuk tersadar dari ingatan masa lalunya. Dia menatap lagi tua dan nyonya Lee sebelum berdecak dan mengisyaratkan kedua bodyguard dan asisten rumah tangganya untuk membawa keduanya pergi meninggalkan rumah yang sekarang menjadi miliknya.

“Tolong antarkan mereka meninggalkan rumahku.”

“Segera nyonya.” Jawab salah satu bodyguard tersebut sambil kembali menyeret tuan Lee. Tuan Lee tentu tidak mau menyerah begitu saja. DIa kembali berontak sembari meneriakan hal yang memicu amarah Leeteuk.

“Leeteuk! Kau berani mengusirku! Apa kau tak takut apa yang bisa aku lakukan kepada anak cacatmu itu hah! Dia bisa mati! Kau dengar aku! MATI!!!” teriaknya lantang dan percaya diri Leeteuk akan bereaksi sama seperti dulu, memohon agar mereka tidak melukai Siwon. Namun, begitu dia melihat sorot mata tajam Leeteuk memandangnya dengan sengit dan seolah-olah ingin membunuhnya, baru dia menyadari bahwa ucapannya tidak berpengaruh apa-apa lagi terhadap Leeteuk. Wanita yang ada dihadapannya sekarang bukan Leeteuk yang sama.

Leeteuk mengangkat tangannya, kembali memberi tanda agar kedua bodyguardnya itu berhenti menyeret tuan Lee. Ketika keduanya menghentikan tindakan mereka, Leeteuk berjalan dengan angkuh ke arah tuan Lee dan memandangnya remeh.

“Oppa, oppa. Kau ini benar-benar tidak tahu diri sekali. Ck, ck, dengan mulut busukmu itu kau baru saja menanda tangani surat kematianmu sendiri. Kau yang akan segera bertemu dengan penciptamu karena sudah dengan lancang menyebutnya sebagai anak cacat. Aku tidak takut lagi kepadamu ataupun anggota keluarga Choi lainnya.”

“A-apa?”

“Aku memegang kelemahan kalian semua. Tidak sia-sia aku terus diam dan menurut kepada kalian sehingga kau dan orang-orang brengsek itu tidak menaruh curiga dengan penyelidikan diam-diam yang aku lakukan.”

“K-kau…”

“Oppa, aku senang sekali karena akhirnya aku memiliki keberanian untuk berdiri dengan kedua kakiku lagi. Dan ini adalah awal kebangkitanku.”

“L-Leeteuk… ” Keterkejutan tuan Lee tak mampu membuatnya berkata apapun. Dia tidak mengira bahwa Leeteuk akan menyelidiki mereka semua. Dia mengira Leeteuk tidak akan berani karena dirinya dan anggota keluarga Choi lainnya didukung oleh kedua orang tua Leeteuk. Tuan Lee selalu beranggapan Leeteuk tidak berani untuk membantah keputusan kedua orang tuanya. Namun dia salah. Sangat salah.

Menjadi seorang ibu membuat Leeteuk mampu melakukan segalanya demi sang anak.

Seharusnya dia paham itu karena dia pun melakukan hal yang agar anak-anaknya bisa hidup senang dan berkecukupan seperti sekarang. Akan tetapi sepertinya sebentar lagi semua itu akan hancur karena dirinya terlalu serakah. Terbukti dengan apa yang dikatakan oleh Leeteuk selanjutnya.

“Pengacara Hwang, tolong urus tuntutanku kepada Lee Sangwon dan seluruh keluarganya atas penggelapan uang perusahan ayahku, percobaan pembunuhan kepada putraku dan penggecetan dan ancaman kepadaku.” Ujarnya kepada pengacara Hwang yang ditanggapi dengan,

“Baik nyonya.” Seraya mengangguk. Sedangkan tuan Lee atau Sangwon membelalakan kedua matanya panik. Dia tak menyakan Leeteuk akan benar-benar melibatkan keluarganya.

“L-Leeteuk… J-jangan libatkan keluagaku! L-Leeteuk…” belum sempat Sangwon menyelesaikan permohonannya kepada Leeteuk, wanita itu menyela dengan kembali meminta pengacara Hwang melakukan sesuatu yang lebih memberatkan Sangwon.

“Oh. Satu lagi pengacara Hwang.”

“Ya nyonya?”

“Tolong berikan ini kepada kepolisian. Ini adalah bukti rekaman dari bisnis prostitusi yang dilakukan oleh anak-anaknya. Mereka berdua adalah mucikari yang mensuplai wanita-wanita muda kepada para pejabat dan pengusaha bejat di kota ini.” Tukas Leeteuk sembari menatap dan menyeringai puas ke arah Sangwon yang sudah dipastikan memucat dengan kebenaran akan tindakan criminal kedua anaknya terungkap.

“Akan segera saya laporkan nyonya.” Tanggap pengacara Hwang tegas lalu melangkah meninggalkan Leeteuk dan Sangwon. Masih banyak yang harus dia kerjakan setelah ini.

Sedangkan Sangwon hanya bisa berteriak memohon kepada Leeteuk agar tidak melibatkan keluarganya. Akan menjasi sia-sia semua usahanya selama ini jika seluruh keluarganya berkahir di penjara.

“LEETEUK! JANGAN KAITKAN ANAK-ANAKKU!! LEETEUK!!!” teriaknya terus menerus diikuti oleh isak tangis nyonya Lee sebelum akhirnya menghilang di balik pintu. Leeteuk menatap pintu dari kayu jati itu dengan tajam sampai tatapannya menyendu. Dalam hatinya, dia tahu bahwa balas dendam hanya menyisakan rasa sakit yang berkelanjutan, namun mengingat kepedihan akibat ulah keluarganya terhadap Siwon dan dirinya, kemarahan dan kebencian itu timbul lagi.

Dia hanyalah manusia biasa dan jika dia mampu menghilangkan kemarahan itu dengan balas dendam, maka Leeteuk akan melakukannya.

Dia akan melakukannya.

“Aku hanya membalas semua kebaikanmu di masa lalu oppa. Hanya itu.”

.

.

.

Di tempat yang lain, tiga orang manusia terlihat berbicara dengan sangat serius dan puncaknya adalah ketika salah satunya berdiri dan mengucapkan satu kata.

“Cerai?” tanya Kangin tidak ingin mempercayai apa yang baru saja dia dengar dari perwakilan pengacara Leeteuk, istrinya. Atau mungkin akan menjadi mantan istrinya.

“Benar tuan Jung. Nyonya Choi Leeteuk mengajukan cerai dan juga ini.” Ucap pengacara muda yang merupakan tangan kanan dari pengacara Hwang. Dia menyerahkan sebuah map tertutup kepada Kangin yang kembali duduk karena ingin melihat isi dari map coklat tersebut.

“Apa ini?” tanyanya lagi sambil membuka map itu. Kangin mengeluarkan isinya dan membaca judul dari kertas pertama yang dilihatnya. Kedua matanya membola karena isi dari map tersebut adalah,

“Itu adalah tuntutan atas pemerkosaan yang pernah anda lakukan kepada nyonya Choi empat belas tahun yang lalu.” Jelas pengacara tersebut dengan nada suara datar. Lain pengacara tersebut lain lagi dengan apa yang dirasakan oleh Yunho yang sejak tadi menemani sang ayah. Dia sangat terkejut dengan penjelasan sang pengacara.

Ayahnya pernah memperkosa? Dan itu adalah ibu tirinya sendiri?

“A-appa? A-apa yang dia katakan tadi?” tanya Yunho tidak ingin percaya dengan telinganya sendiri. Sedangkan Kangin hanya terdiam, tak berniat menjawab pertanyaan Yunho.

Dia membaca kertas-kertas tuntutan itu dengan tatapan sedih dan menyesal. Kangin sendiri tidak menyadari bahwa matanya telah berkaca-kaca dan sebulir airmata keluar dari kelopak mata itu dan menetes di atas tuntutan tersebut. Kangin menutup matanya sebelum mengambil nafas sepanjang mungkin dan menghembuskannya perlahan. Dengan senyun pilu, dia menatap sang pengacara.

“Tuan pengacara, apakah Leeteuk benar-benar ingin bercerai dariku?” tanyanya dan dijawab dengan anggukan pasti oleh pengacara tersebut.

“Kalau begitu jawabanku adalah tidak. Aku tidak mau bercerai dengannya.” Sahut Kangin yakin dengan keputusannya. Kangin tidak ingin berpisah dengan Leeteuk. Dia terlalu mencintai wanita itu meski rasa bersalah terus menggelayuti hatinya.

Kangin sempat berpikir bahwa melepaskan Leeteuk adalah jalan yang terbaik karena pasti wanita itu akan merasa jijik dan marah jika bertemu dengannya. Tetapi, Kangin juga memiliki keyakinan bahwa Leeteuk masih mencintainya dan dia ingin cinta itu tetap hidup. Dia ingin percaya bahwa mereka berdua bisa menyelesaikan semua permasalahan mereka dan menjalani hidup yang baru.

“Masalah itu bisa anda sampaikan di persidangan nanti. Kalau begitu saya perm…” Kangin menyadari bahwa pengacara itu akan pulang tanpa mendengar satu lagi keputusannya. Dengan sigap, Kangin menyela ucapan sang pengacara.

“Tunggu tuan pengacara. Aku memang tidak mau bercerai dengan Leeteuk tapi aku akan menerima tuntutannya yang menginginkan aku di penjara karena perbuatanku dulu.” Ucap Kangin yang membuat baik sang pengacara maupun Yunho terkejut bukan main.

“…/APA??” teriak Yunho sementara sang pengacara hanya menatap penasaran dengan keputusan Kangin. Lama dia hanya memandang ke arah Kangin sampai akhirnya mulutnya terbuka dan mengatakan,

“Tuan Jung, anda pasti tahu bahwa jika anda menerima tuntutan nyonya Choi Leeteuk atas pemerkosan itu maka kemungkinan pernikahan anda terselamatkan itu sangat kecil bukan?” tanya sang pengacara ingin memastikan bahawa Kangin paham dengan apa yang dia sampaikan tadi.

Kangin tersenyum lagi sebelum kembali berdiri dan memandang pengacara tersebut lurus kematanya.

“Tuan pengacara, apapun konsekuensinya atas perbuatan bejatku dulu, aku akan menerima dengan lapang dada. Namun untuk pernikahanku, aku akan berjuang sekuat tenagaku karena aku masih sangat mencintainya.” Tegas Kangin masih memandang lekat sang pengacara.

Pengacara muda itu tersenyum pertama kali sejak dia menjajaki kakinya di kediaman keluarga Jung. Entah kenapa, dia merasa pria dihadapannya ini akan bisa memenuhi apa yang dia katakana tadi. Tak terkecuali Yunho. Walau dia masih bingung dengan semua yang dilakukan ayahnya dulu, namun melihat kesungguhan Kangin untuk mempertahankan pernikahannya dengan Leeteuk, maka Yunho pun yakin sang ayah tidak bisa lagi hidup tanpa Leeteuk.

Mau tidak mau, Yunho harus menerima keinginan sang ayah dan mungkin saja, Yunho akan ikut membantu sang ayah. Walau bagaimana pun, dia tidak ingin ayahnya sampai berada di balik jeruji besi.

Kangin memang sudah yakin dengan semua putusan yang diambilnya dan dia akan berjuang sampai akhir. Dan kini ada satu hal yang harus dia tekankan kepada pengacara muda itu.

“Tuan pengacara.”

“Ya tuan Jung.”

“Jangan panggil istriku dengan Choi Leeteuk. Dia masih seorang Jung karena dia masih sah istriku. Ingat itu.”

.

.

.

Sebuah mobil sedan mewah terparkir dengan rapi di pinggir jalan dekat dengan sebuah taman kecil. Kaca mobil itu kemudian turun dan menampakan sesosok wanita dengan kacamata hitamnya. Arah pandangan wanita itu terarah ke sepasang muda-mudi yang duduk di bangku taman sambil memandang sekumpulan anak kecil yang bermain dengan riang.

Wanita itu membuka pintu mobilnya dan mendekati sepasang muda-mudi yang jelas adalah sepasang kekasih. Dia baru saja akan menegur keduanya ketika suara sang gadis menghentikan tindakannya.

“Ini obatmu oppa.” Sahutnya sambil menyerahkan beberapa butir pil dan sebotol air putih. Sang pemuda menatap pil-pil itu dan meringis. Dia tidak suka pil-pil itu karena efek dari pil itu membuatnya mual. Hal itu dia sampaikan kepada sang gadis.

“Aku mual Kyu, bolehkah aku tidak meminumnya?” pinta sang pemuda yang ternyata adalah Siwon. Sang gadis, Kyu atau Kyuhyun, menghela nafas dan menggeleng perlahan.

“Tidak boleh. Kau harus meminumnya oppa atau aku akan menyeretmu ke rumah sakit untuk dikemoterapi.” Ancamnya yang selalu berhasil membuat Siwon meminum obat-obatnya.

“Sama saja Kyu, aku akan segera mat…” Kyuhyun segera menempelkan bibirnya ke bibir Siwon ketika pemuda itu akan mengatakan hal paling mengerikan baginya. Kyuhyun tidak mau Siwon putus asa dengan penyakitnya. Bukankah mereka sudah berjanji akan menghadapi ini bersama-sama, meski di sisi Siwon, dia masih ingin segera menyelesaikan semua penderitaannya.

Kyuhyun tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika Siwon memang akan pergi, maka hal itu merupakan takdir Tuhan bukan karena jalan pintas konyol yang diambil oleh manusia.

Kyuhyun tidak akan memaksa Siwon untuk dioperasi jika memang itu keinginannya, namun dia akan terus menyemangati agar Siwon memikirkan kembali betapa indahnya menjalani hidup, walau penuh dengan penderitaan dan kepedihan. Kyuhyun ingin membalas budi karena Siwon membuatnya sadar bahwa dia hidup untuk dirinya dan juga untuk mereka yang mengasihinya.

Dan sekarang, orang terkasih dari Kyuhyun tengah menghadapi cobaan yang berat, tentu Kyuhyun harus bisa menjadi sandaran untuknya. Kyuhyun akan bersamanya dan melakukan apa saja sampai hal terkecil hanya untuk membuatnya sadar bahwa Siwon bisa kembali bersemangat hidup untuk diri Kyuhyun, untuk teman dan sahabatnya, untuk dirinya sendiri.

Kyuhyun melepaskan ciuman tiba-tibanya lalu memandang seksama iris hitam kekasih hatinya itu. Jemarinya menyentuh pipi tirus yang kian membuatnya cemas namun tidak pernah Kyuhyun utarakan.

“Kau akan hidup selama yang kau bisa.” Lirih Kyuhyun kemudian menambahkan satu kecupan lagi di bibir Siwon. Sedangkan Siwon sendiri hanya mampu tersenyum dan membalas dengan usapan di pipi bulat Kyuhyun. Jarinya juga menghapus bulir airmata yang tidak sadar di teteskan oleh Kyuhyun.

Batin Siwon berteriak keras. Dia berada dalam dilema.

Di satu sisi, Siwon ingin segera meninggalkan dunia fana ini. Namun di satu sisi hatinya memberontak ingin tetap bersama dengan Kyuhyun dan semua yang menyayanginya. Siwon berdiri di antara dua keinginan yang sama besarnya.

Apa yang harus dia putuskan?

Dia bingung walau waktu terus berjalan.

Apa yang bisa membuatnya mengambil keputusan secepatnya?

“Oppa? Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit?” tanya Kyuhyun khawatir dengan diamnya Siwon. Gelengan kepala dan sebuah kecupan di pipi menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Aku mencintaimu.” Tegas Siwon tanpa ada keraguan sama sekali. Kyuhyun tersenyum lebar dan kembali menitikan airmatanya sebelum memeluk Siwon dan berkata hal yang sama.

“Aku lebih mencintaimu oppa.” Ucapnya. Siwon tersenyum seraya menepuk-nepuk punggung Kyuhyun.

Cukup lama keduanya berpelukan sampai Kyuhyun melepaskan pelukan mereka dan kembali nyodorkan pil-pil yang harus diminum oleh Siwon. Pemuda itu kali ini menerima tanpa protes. Dengan cepat, dia menelan pil-pil tersebut lalu meminum air putih yang disediakan oleh Kyuhyun.

Siwon meringis dan sedikit menutup mulutnya. Mual dirasakan oleh pemuda tinggi berlesung pipi tersebut tapi dengan susah payah Siwon mencoba tidak terlalu menghiraukannya. Demi Kyuhyun, Siwon akan menelan semua pil menyakitkan yang harus dia konsumsi.

Demi Kyuhyun.

Keduanya tidak menyadari kehadiran wanita yang terus menyaksikan setiap adegan di depannya. Wanita itu melepaskan kacamatanya karena embun yang diakibatkan oleh airmatanya sendiri. Dia menghapus bekas airmata itu.

Tidak.

Tidak boleh ada kesedihan lagi setelah dia berbicara dengan Siwon.

Tidak ada airmata lagi karena tujuan utamanya sekarang adalah membahagiakan putra tersayangnya.

Putranya yang menderita sejak dia dilahirkan, putranya yang harus cacat karena keteledorannya, putranya yang sekarang sedang sakit.

Kali ini, putranya hanya boleh merasakan kebahagiaan. Dan dia akan pastikan hal itu. Dimulai dengan,

“Siwon.”

END

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Ehem! Tes, tes… 1,2,3… Oke, Nao mulai ya. Hi amazing readers!!! Long time no read ¬o( ̄- ̄メ) Pa kabar semua? Semoga jangan baper karena daddy won wamil ya.

Anyway, sequel yang ini WK momennya secuil karena Nao lagi berusaha menjelaskan perihal kehidupan uri daddy won dan ummanya di previous chapter (walau gagal sepertinya karena Nao rada lupa jalan ceritanya dan malas buka part-part awalnya) (‾▿‾”)

Moga-moga terjawab semua misterinya ya. Gomen kalo ga sinkron (anggap aja sinkron yak) sama gomen juga untuk typos dan kegajean luar biasa dari FF ini. Yang kenal Nao pasti maklum ┌(“˘o˘)┐

Keep Calm and Ship WonKyu, YunJae, and KrisHo 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements