Tags

, ,

Title : WonKyu Playlist

Track 2 : Ima Demo Zutto

Pairing : Yunjae, Wonkyu

Genre : Family, Romance, Angst, Drama

Disclaimer : All casts are belong to their self, their respective agency and God, Ima Demo Zutto belong to Spontania and their label company

Inspired : My own playlist – Ima Demo Zutto by Spontania feat Yuna Ito

Warning : Un-betaed a.k.a. Typos, GS, OOC, OC’s, AU, Collection of One Shot or Drabbles

Track 1 Part 1 | Track 1 Part 2

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Aslinya FF ini ada di WP ini. Namun Nao masukin juga ke Playlist karena Nao merubah dan menambahkan sedikit FF ini. Bagi amazing readers yang udah baca versi aslinya, pasti bisa tahu bedanya.

Setelah ini, mudah2an Nao bisa post yang baru. Muup kebanyakan repost, remake dan lainnya. Nao kepengen banget buat FF ini karena liat MVnya sekali lagi.

Sedih beud…

Udah ah itu aja. Gomen untuk typos dan kegajean yak.

Jangan bosen2 sama Nao yah.

Keep Calm and Ship WonKyu, YunJae, and KrisHo 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

( 。・_・。)(。・_・。 )

Hanashite shimatte. Gomenne.

(This is the last time we speak. I’m sorry.)

.

.

.

Tiiit… Tiit… Tiit…

Bunyi panel cardiograph itu terus terdengar di telinga Yunho seakan menjadi lagu nina bobo untuknya. Namun justru bunyi justru selalu membuatnya terjaga. Dia tidak ingin bunyi itu berubah menjadi satu bunyi yang datar karena itu artinya orang yang sedang terbaring dengan berbagai alat kedokteran itu akan pergi untuk selamanya.

Yunho memandang wajah cantik yang tertidur itu. Meski kulitnya pucat dan tubuhnya kian kurus hari demi hari, tapi semua itu tidak menghilangkan kecantikan alami wanita tersebut. Jaejoong, penghuni kamar rawat di rumah sakit tersebut selama kurang lebih tiga bulan itu, masih tak sadarkan diri setelah menjalani kemoterapinya.

Penyakit kanker otak yang dideritanya memaksa wanita yang masih berusia 25 tahun itu harus mau menghabiskan hari-hari di rumah sakit. Keluarganya hanya tinggal sang adik, Kyuhyun yang saat ini masih bekerja demi membiayai pengobatan sang kakak.

Yunho dan Jaejoong adalah sepasang kekasih sejak keduanya masih di bangku sekolah menengah atas. Keduanya saling mencintai dan berjanji akan menikah ketika mereka lulus kuliah dan mendapat pekerjaan. Mereka berjanji akan memulai hidup yang baru bersama-sama.

Namun takdir berkata lain. Di saat mereka sedang berbahagia dengan persiapan pernikahan mereka, kabar buruk mendera keduanya. Jaejoong divonis dengan penyakit mematikan itu. Yunho dan Jaejoong tentu terkejut, sedih, marah, dan tak tahu harus berbuat apa dengan kenyataan tersebut.

Terlebih lagi Yunho yang harus mendapati sang kekasih harus berhadapan dengan maut di usianya yang masih muda, disaat mereka akan merengkuh kebahagiaan, di saat mereka sedang jatuh cinta dan tak sanggup untuk berpisah satu sama lain.

Saat mengetahui fakta itu, Yunho sempat depresi, sempat berbuat hal-hal bodoh, sampai dia disadarkan oleh Siwon, sahabat sekaligus kekasih Kyuhyun, bahwa bukan kekonyolan Yunho yang dibutuhkan oleh Jaejoong. Yang dibutuhkan oleh Jaejoong adalah Yunho yang baik, Yunho yang tegar, dan Yunho yang selalu mencintai Jaejoong apapun yang terjadi.

Yunho pun akhirnya sadar dan kembali ke sisi Jaejoong. Mendukung kekasih cantiknya itu kala Jaejoong terpuruk, menemaninya kala Jaejoong melakukan kemoterapi dan setelahnya, terus bersamanya bahkan sampai Yunho harus mencari pekerjaan yang bisa dia lakukan di rumah agar bisa terus menjaga Jaejoong.

Keduanya membuat janji baru bahwa mereka akan menghadapi cobaan ini bersama-sama. Bahwa keduanya akan segera mempersiapkan pernikahan mereka setelah Jaejoong sembuh dan mereka berjanji mereka akan hidup bahagia.

Yunho masih setia memandangi Jaejoong sampai kelopak mata yang menutupi sepasang mata besar nan indah itu terbuka perlahan. Yunho segera mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong.

“Boojae…” Panggil Yunho lirih. Jaejoong masih mencoba membuka kelopak matanya karena sayup-sayup dia mendengar panggilan sayang dari Yunho. Setelah matanya terbuka sempurna dan iris matanya menangkap wajah kecil nan tampan milik Yunho, Jaejoong mencoba menyunggingkan senyumannya.

“Yu…Yunnie… Yunnie bear.” Balasnya meski sedikit lemah. Yunho tersenyum lebar lalu menurunkan wajahnya dan mencium bibir Jaejoong lembut. Jemarinya membelai pipi Jaejoong, menyalurkan rasa cintanya kepada Jaejoong.

“Bagaimana perasaanmu sayang?”

“Sakit Yun…” Lirih Jaejoong manja walau dia memang benar masih merasakan sakit yang luar biasa. Yunho tersenyum miris mendengar ucapan Jaejoong. Dia lalu mengatur ranjang Jaejoong agar Jaejoong bisa setengah duduk lalu Yunho menempatkan dirinya di sisi Jaejoong. Yunho menyelipkan tangannya di belakang punggung Jaejoong sampai tangannya dapat meraih bahu Jaejoong kemudian memeluk pujaan hatinya itu.

“Lebih baik?”

“Um.” Yunho tertawa kecil melihat kemanjaan Jaejoong yang sekarang sudah meletakkan kepalanya di dada Yunho. Yunho sedikit membetulkan posisi Jaejoong dan dirinya agar alat-alat kedokteran yang menempel di tubuh Jaejoong tidak menggangu mereka berdua. Setelah yakin Jaejoong nyaman, Yunho kembali memeluknya dan sesekali mengecup rambut Jaejoong.

Saat ini, pelukan dan kecupan ringan adalah hal berharga bagi keduanya. Tak ada yang tahu kapan waktu akan menang dalam pertempuran ini. Karena itu, Yunho dan Jaejoong berusaha memanfaatkan waktu yang mereka miliki untuk memberi tahu pasangan masing-masing betapa mereka saling mencintai. Betapa mereka akan sangat kehilangan jika salah satu diantara mereka pergi.

Cinta yang indah yang sedang diuji.

.

.

.

“Jadi, bagaimana kondisi eonnie saya dokter? Apa dia bisa sembuh?” Tanya Kyuhyun langsung kepada sang dokter yang merawat Jaejoong.

“Saya sudah berbuat semampu saya Kyuhyun-ssi. Sekarang saya hanya bisa menyerahkan kepada kemauan Jaejoong-ssi untuk hidup dan kehendak Tuhan. Maafkan saya.”

“Dokter ini bagaimana? Kenapa seperti menyerah begitu? Jae eonnie pasti sembuh! Dia pasti sembuh! Bukan begitu Wonnie? Katakan Jae eonnie akan sembuh! Katakan Wonnie! Katakan!” Kyuhyun beteriak histeris di dalam ruang dokter tersebut, membuat Siwon dengan sigap mendekap Kyuhyun dengan erat, berusaha menenangkan kekasih hatinya yang sedang bersedih karena kenyataan pahit ini.

“Wonnie… Hiks…hiks… Jae eonnie, Wonnie.”

“Aku tahu baby, aku tahu.”

“Eonnie…”

.

.

.

Yunho membopong Jaejoong ke atap rumah sakit dengan langkah pelan namun pasti. Hari ini, entah kenapa Jaejoong terlihat berseri, sehat seperti tak pernah mengidap penyakit mematikan itu. Dan tiba-tiba saja Jaejoong ingin ke atap rumah sakit dan ingin melihat matahari terbenam.

“Sudah sampai sayang.”

“Huwa! Yunnie kuat sekali! Membopongku dari kamar sampai kesini. Kekasihku ini memang yang paling hebat. Sudah tampan, pintar, dan kuat.” Puji Jaejoong ceria. Yunho tertawa kecil karena pujian Jaejoong dan juga karena Jaejoong yang terlihat antusias seperti anak kecil.

“Siapa dulu kekasih pria ini… Boojaejoongie…” Kelakar Yunho yang membuat Jaejoong ikut tertawa.

“Yunnie, ayo duduk disana.” Ucap Jaejoong sambil menunjuk bangku panjang di deket pagar pembatas di atap tersebut. Yunho mengangguk lalu membawa tuan puterinya ke tempat yang diminta.

Yunho mendudukan Jaejoong dengan hati-hati. Lalu dia mengambil tempat di samping Jaejoong, memakaikan jaketnya kepada Jaejoong kemudian memeluk Jaejoong.

“Kau sudah merasa hangat sayang?” Tanya Yunho sedikit cemas jika Jaejoong kedinginan. Wajar saja karena udara sore itu memang sedikit lebih dingin dari biasanya. Jaejoong menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Yunho.

Mereka terdiam beberapa saat, menikmati detik-detik sang mentari menyudahi tugasnya menerangi dunia hari itu sebelum esoknya kembali memperlihatkan kuasanya akan cahaya. Jaejoong dan Yunho berbagi kehangatan dan momen kebersamaan mereka sampai Jaejoong membuka mulutnya.

“Yunnie bear…”

“Hm?”

“Nanti saat Joongie pergi, Yunnie bear harus tetap disini. Yunnie bear tidak boleh mengejar Joongie.”

“Boojae bicara apa sih? Yunnie tidak mengerti.” Kilah Yunho padahal dia paham maksud Jaejoong yang sebenarnya. Yunho tidak mau mengakui bahwa dia takut saat Jaejoong akan pergi semakin dekat. Tanpa sadar pun Yunho semakin memeluk Jaejoong dengan erat.

“Yunnie… Berjanjilah Yunnie akan tetap disini, menjaga baby Kyu dan memastikan kuda mesum itu tidak berbuat macam-macam sebelum mereka berdua menikah.” Gurau Jaejoong meski tersirat nada keseriusan di ucapannya tadi.

“Boojae sud…”

“Berjanjilah Yunho.” Potong Jaejoong langsung. Yunho terlihat kaget sekaligus sedih karena Jaejoong bicara seperti itu dan juga karena Jaejoongnya memanggilnya dengan Yunho dan bukan Yunnie. Jaejoong memanggilnya dengan Yunho hanya saat-saat Jaejoong serius dengan ucapannya. Yunho memejamkan mata dan menelan semua keberatannya akan ucapan Jaejoong yang seakan menyiratkan bahwa dia akan pergi dalam waktu dekat.

“Aku berjanji Jae.”

“Terima kasih Yunnieku sayang.”

“Hm.”

“Yunnie.”

“Apa sayang?”

“Aku mencintai Yunnie bear. Sangat mencintai Yunnie sampai kapan pun. Selamanya hanya Yunnie yang ada di hati Joongie.” Ungkap Jaejoong. Yunho sekuat tenaga menahan airmatanya. Ungkapan hati Jaejoong begitu menyayat hati Yunho. Kenapa Jaejoong harus mengucapkan kata cinta itu seolah-olah ini adalah kata cinta terakhirnya?

“Aku juga sangat mencintaimu Boojaejoongieku tersayang. Selalu dan selamanya.” Jaejoong tersenyum mendengar pengakuan jujur Yunho tadi. Airmatanya mengalir begitu saja. Dia tahu waktunya bersama Yunho tidak akan lama lagi, jadi mendengar kata cinta tulus dari Yunho membuatnya merasa sangat bahagia.

Jaejoong puas dengan hidupnya. Meski terlalu singkat, tapi dia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintainya dan selalu ada bersamanya. Tuhan sudah sangat baik kepadanya karena membiarkan dia bertemu dan memiliki Yunho disisinya sampai akhir. Jaejoong pun menutup kedua matanya, merasakan raganya mulai bukan miliknya lagi. Namun sebelum dia benar-benar pergi, Jaejoong masih sempat berkata,

Hanashite shimatte. Gomenne.” Dan akhirnya jantung Jaejoong pun berhenti berdetak.

Malam itu dihiasi oleh rembulan, bintang yang bercahaya, dan tangisan keras dari seorang Yunho. Tangisan memilukan seorang lelaki yang ditinggal pergi selama-lamanya oleh wanita yang paling dia cintai.

.

.

.

“Eonnie! Sadarlah eonnie!”

“Kyuhyun-ssi. Kami akan berusaha sebaik kami. Mohon anda tunggu diluar.”

Kyuhyun bergeming di depan pintu gawat darurat yang baru saja terbuka karena membawa Jaejoong yang sudah terbujur kaku di ranjang dorong rumah sakit.

Kyuhyun terus menatap pintu itu, berharap bahwa kakaknya hanya tertidur dan besok akan membuka matanya. Namun tangisan keras yang dia dengar saat dia menemukan kakaknya bersama dengan Yunho, menjadi penanda bahwa Jaejoong dalam keadaan yang tidak baik.

Yunho.

Tiba-tiba Kyuhyun teringat dengan nama itu. Dan dengan sekuat tenaga dia berlari ke arah atap, tempat Yunho masih berada sekarang.

“Kyu? Kyuhyun!” teriakan Siwon yang membahana di koridor rumah sakit itu, bermaksud untuk me tidak terdengar oleh telinga Kyuhyun. Amarah dan kesedihan sudah menutup semua inderanya. Yang ada di benaknya hanya satu.

Penjelasan.

Dari Yunho, kekasih kakaknya.

.

.

.

Plak!!

Tamparan itu tidak terasa sakit sama sekali.

Plak!!! Plak!!! Plak!!!

Bahkan setelah tiga kali tamparan itu mendarat di kedua pipinya, sakit itu masih saja tidak bisa dia rasakan.

Plak!!! Plak!!! Plak!!! Plak!!! Plak!!!

Beberapa kali pun pipinya ditampar dengan kuat sekali pun, dia tidak bisa merasakan apapun.

Kenapa?

Ada apa dengannya?

Oh ya, rasanya telah hilang bersamaan dengan hilangnya belahan jiwanya.

“Bajingan! Kenapa oppa? Kenapa kau membawa Jae eonnie ke atap? Dia sedang sakit! Kau tahu itu! KAU TAHU ITU!!!” raungan keras dari Kyuhyun yang terselimutkan oleh amarah dan kesedihan membuatnya melampiaskan kepada Yunho.

Kyuhyun menyalahkan Yunho atas peristiwa ini. Dia menyalahkan Yunho karena membawa Jaejoong ke atap disaat dia sakit. Dia menyalahkan Yunho karena ketidak mampuannya sendiri menjaga sang kakak.

“Jae eonnie t-tidak bi-bisa terkena u-udara dingin op-oppa… Hiks… Hiks… K-kau tahu i-itu… Ke-kenapa…” raungan yang keras berubah menajdi isakan. Kekuatannya untuk berdiri dan terus menampar Yunho menghilang begitu saja karena kakinya tak kuat lagi menompang tubuhnya.

Tubuh Kyuhyun merosot dan akhirnya terduduk di lantai atap. Adik Kim Jaejoong itu menangis sekeras yang dia bisa. Meratapi nasib kakaknya yang begitu cepat berpulang ke Yang Maha Kuasa.

“Eonnie… Hiks… Hiks.. EONNIE!!!!”

.

.

.

Siwon membungkuk hormat ke arah dokter yang menangani Jaejoong. Mata hitamnya tak kuasa Manahan laju airmata yang memaksa untuk turun. Dan dia membiarkannya.

Jaejoong sudah menjadi sahabatnya sejak lama. Kehilangan seorang sahabat seperti Jaejoong bagikan kehilang salah satu anggota keluarga yang begitu menyayangi dirinya. Siwon tidak mengira dia akan berpisah secepat ini dengan Jaejoong.

Siwon menegakan tubuhnya ketika dia merasakan sang dokter telah pergi dari hadapannya. Dengan perlahan, Siwon memasuki ruang gawat darurat yang tadinya begitu sibuk kini sepi dengan hanya satu suster yang berjaga. Suster itu menatap Siwon dan mengerti bahwa dia membutuhkan waktu untuk mengucapkan perpisahan dengan mendiang Jaejoong sehingga dengan diam-diam, dia pergi meninggalkan Siwon berdua dengan Jaejoong.

Siwon mengambil kain putih yang menutupi wajah Jaejoong. Siwon memandang wajah cantik Jaejoong meski sekarang tidak ada lagi warna di pipinya yang selalu merona.

Jaejoong telah pergi dan dia tidak mungkin kembali.

Kenyataan itu membuat Siwon yang sejak tadi berusaha tegar terjatuh, berlutut di samping ranjang Jaejoong dan menangis.

“Jae… Jae…” isaknya hanya memanggil nama Jaejoong.

.

.

.

Semua berduka.

Semua menangisi kepergiannya.

Semua merasa sakitnya ditinggalkan.

Itulah yang dirasakan saat yang terkasih tidak bisa lagi bersama. Jadi, jangan sia-siakan waktu bersama dengan mereka. Karenakau tidak akan tahu kapan waktu akan berhenti untuknya.

.

.

.

Kyuhyun memeluk Siwon dengan erat. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang kekasih, berharap detak jantung stabil Siwon mampu menenangkan dirinya. Dan hal itu yang didapatkan oleh Kyuhyun. Belum lagi sepasang lengan yang sanggup menghangatkan tidak hanya tubuhnya, tapi juga hatinya.

Kyuhyun semakin merapatkan dirinya kedalam pelukan Siwon. Dia tidak ingin satu-satunya kehangatan yang dia miliki menghilang lagi dari hidupnya. Cukup kakaknya. Kyuhyun tidak akan kuat jika Siwon juga akan pergi darinya.

Tidak.

Kyuhyun tidak akan sanggup.

“Siwon.” Panggil seseorang ketika dia membuka pintu kamar Jaejoong. Dia hendak masuk namun langkahnya terhenti dengan tatapan dari Siwon. Tatapan yang seolah mengatakan agar dirinya tidak masuk ke dalam kamar tersebut.

Yunho, pria yang terlihat menyedihkan dengan wajahnya yang lelah dan sembab serta perawakannya yang berantakan, hanya bisa mengangguk. Dia paham jika ada Kyuhyun di kamar ini maka Yunho tidak akan bisa memasuki tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan akan Jaejoong.

‘Maaf’ ucap Siwon walau tanpa suara. Gerak bibir yang terbaca sempurna oleh Yunho hanya ditanggapi dengan anggukan kecil dan suara pintu yang tertutup.

Sepeninggalan Yunho, Siwon melepaskan pelukan Kyuhyun dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kyuhyun. Dia menatap mata coklat itu dengan lekat sebelum tersenyum pilu.

“Baby, sampai kapan kau akan begini terus? Sampai kapan kau akan membenci Yu…” belum sempat Siwon menyelesaikan perkataannya, Kyuhyun sudah lebih dulu mencium bibir joker itu. Kyuhyun menangkup pipi kekasihnya dan mencium dalam Siwon.

Keduanya larut dalam ciuman panas itu sampai paru-paru mereka mengingatkan mereka akan udara. Dengan enggan, keduanya melepaskan bibir pasangan masing-masing walau tampak Kyuhyun mencuri kecupan-kecupan kecil dari bibir Siwon.

“Baby…” Siwon mencoba memulai kembali namun sebuah jari yang menempel di bibirnya lagi-lagi memotong ucapannya.

“Jangan sekarang Wonnie. Hatiku masih sakit, amarahku masih memuncak, rasa ini masih menyesakan dadaku. Aku butuh waktu. Aku tahu aku mungkin keterlaluan dengan semua yang aku lakukan, tapi dia kakakku Wonnie. Kakak yang begitu menyayangiku dan sebaliknya, begitu aku sayangi. Dia pergi ketika bersama Yunho.”

“Kyu…”

“Tidak! Itu yang aku percayai saat ini. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain dia yang menyebabkan kakakku pergi.”

“Sayang, Jae pergi karena dia memang harus pergi. Kau tidak bis…”

“Aku bisa Wonnie! Aku bisa! Aku mohon jangan katakan apapun sekarang! Aku mohon…”

Siwon menutup kedua matanya dan kembali memeluk Kyuhyun yang sekarang menangis, kembali mengingat kepedihan atas berpulangnya Jaejoong.

Siwon kini mengerti mengapa Yunho sama sekali tidak memberikan reaksi apapun ketika Kyuhyun bahkan seluruh dunia menyalahkannya atas kematian Jaejoong.

Dia mengerti dan hal itu membuatnya semakin mengagumi sahabatnya tersebut.

.

.

.

“Siwon-ah, aku tidak akan marah kepada Kyuhyun. Saat ini dia membutuhkan alasan untuk menyalurkan semua perasaannya.”

“Dan alasan itu kau?”

“Sobat, aku berjanji kepada Jaejoong akan menjaga Kyuhyun. Selain darimu tentu aku menjaga satu hal lagi.”

“Apa itu? Dan apa maksudnya menjaga Kyuhyun dariku?”

“Ahahaha… Jaejoongie khawatir jika kau macam-macam dengan adik tersayanganya makanya dia berpesan begitu kepadaku.”

“Cih. Jadi…”

“Apa?”

“Apa yang harus kau jaga dari Kyuhyun sampai kau mau berkorban menjadi orang yang disalahkan?”

“Hm… Apa ya? Coba kau cari tahu sendiri.”

“Yun… Jangan main-main.”

“Kau akan tahu sobat, kau akan tahu.

.

.

.

Kini aku tahu Yun, kini aku mengerti.

.

.

.

Aku ingin menjaga hati dan pikiran Kyuhyun agar dia tidak terpuruk dengan rasa bersalah terhadap dirinya sendiri. Aku tahu dia begitu merasa bersalah karena menganggap dirinya tak becus menjaga Jaejoong. Jaejoong tahu akan hal ini dan untuk itu dia memintaku menjaga Kyuhyun.

Aku bersedia menjadi martir demi Kyuhyun, adik wanita yang selamanya aku cintai.

Demi Jaejoong.

END

Advertisements