Tags

, , ,

Poster - Sakura Nagashi

( 。・_・。)(。・_・。 )

Title : Sakura Nagashi 1

Pairing / Charas : WonKyu, Minho, Suho

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, Utada Hikaru and Sakura Nagashi are belong to herself and her label. Poster by Choi So Yeon

Inspired : Sakura Nagashi by Utada Hikaru

Warning : Un-betaed, Angst, AU, OC, Family, Romance, Drama, GS, M for Language Used

Summary : Everybody finds love, in the end.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Cuaca hari itu sangatlah tidak bersahabat. Panas terik dari sinar matahari terasa membakar kulit masyarakat yang sebagian besar berkulit putih tersebut, membuatnya menjadi sedikit menghitam. Setiap orang akan berusaha untuk tidak keluar rumah atau keluar dari kantor karena ingin terhindar dari sengatan matahari dan panasnya udara.

Terkecuali untuk seorang pria berusia tiga puluh lima tahun yang sedang sibuk mengangkat barang-barang majikannya ke dalam bagasi sebuah mobil mewah. Pria dengan tubuh tinggi kekar itu harus bergulat dengan cuaca ekstrem hanya karena perintah dari sang anak majikan yang akan berpergian ke luar negeri di liburan musim panas ini. Padahal jadwal keberangkatannya masih lima jam lagi namun dia sudah memerintahkan pria yang notabene adalah supir keluarganya untuk memasukkan koper dan semua barang yang akan dibawanya sekarang juga.

“Choi ahjussi! Sudah semua belum? Awas! Jangan sampai ada yang ketinggalan!” teriak sang anak majikan dari dalam rumahnya yang sejuk. Sang pria menoleh sebelum akhirnya memberikan senyum manisnya kepada sang anak majikan.

“Sudah nona. Koper tadi adalah koper terakhir. Ada lagi yang bisa saya lakukan untuk nona?” tanya pria bermarga Choi tersebut. Sang anak majikan nampak berpikir ketika dia ditanya sedemikian rupa oleh pria tersebut. Sepertinya dia tidak memiliki perintah apapun namun entah karena alasan apa, sang anak majikan seolah-olah mencari sesuatu yang bisa dikerjakan oleh pria yang belum kehilangan ketampanannya meski kulitnya menghitam karena disengat oleh sinar matahari.

“Buatkan aku minum! Sekarang!” titahnya tak terbantahkan. Dia menyuruh pria tersebut untuk membuatkan minum padahal di dalam rumah ada beberapa pelayan yang siap melakukan perintahnya. Akan tetapi, nona muda itu menyuruh supirnya untuk membuatkan minuman. Mendengar perintah nona mudanya, pria tadi hanya bisa menghela nafas panjang, berusaha maklum dengan tingkah sang nona muda karena pada dasarnya hal ini memang sudah sering terjadi.

Dengan lunglai, sang pria berjalan memasuki rumah menuju dapur untuk membuatkan minuman, walau dia sendiri tak tahu harus membuatkan minuman apa karena sang nona muda tidak mengatakan keinginannya secara jelas. Pria Choi itu pun tidak berani bertanya sebab dia tahu apa yang akan dia dapatkan, omelan panjang dan bukannya jawaban atas pertanyaannya. Jadi dia pasrah saja jika nanti dia kena marah lagi oleh nona mudanya. Dia sudah terbiasa dengan sikap gadis manis tersebut yang selalu saja mencari kesalahan dari dirinya. Sebaik apapun pekerjaan yang dia lakukan tidak akan pernah memuaskan di mata sang nona.

Terlebih lagi, bagi pria itu, sebuah perintah dari majikan adalah hal yang harus dilakukan meski perintah tersebut tidak sesuai dengan deskripsi pekerjaannya. Dia tak punya pilihan lain selain mengerjakannya dengan baik walau terkadang jerih payahnya tidak membuahkan hasil yang setimpal.

Di saat sang pria tengah membuatkan minuman, dia dikagetkan oleh tepukan di bahunya. Sontak sang pria berbalik dan menemukan nyonya rumah tempatnya bekerja sedang menatap ke arahnya dengan tatapan iba. Pria itu tahu maksud dari tatapan itu namun dia tidak berkata apapun. Dia hanya membungkuk hormat selayaknya pekerja kepada atasannya.

“Selamat datang, nyonya. Mohon maaf saya lancang masuk ke dalam rumah. Nona muda ingin dibuatkan minuman jadi saya membuatkan terlebih dahulu. Setelah saya mengantarkan minuman nona muda, saya akan segera kembali ke tempat saya.” Ucap pria itu sopan sembari memberikan penjelasan mengapa dia yang seorang supir, yang memiliki tempatnya sendiri, berada di dalam rumah utama. Sang nyonya rumah hanya mengangguk dan masih terus memandang lekat ke arah pria tersebut sehingga pria itu merasa risih walau dia tak berani mengatakannya.

“Kau sudah makan?” tanya nyonya itu tiba-tiba, mengagetkan pria tersebut.

“S-saya… Sa-saya…” ujarnya terbata. Dia ingin menjawab dengan jujur tapi jika itu dia lakukan maka dampaknya akan buruk. Sementara sang pria berkecamuk dengan perdebatan di benaknya sendiri, raut wajah sang nyonya terlihat semakin iba kepada pria tersebut. Dia menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.

“Tak perlu kau jawab, aku sudah tahu jawabannya.”

“Nyonya… Saya…”

“Kau pasti belum makan. Siwon, apa yang sudah diperintahkan oleh Joonie sampai kau tidak sempat makan?” tanyanya lagi. Pria bernama Siwon itu terlihat semakin gugup. Dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut. Dia tahu nyonya rumah ini bisa memarahi Joonie atau Cho Joonmyeon, jika dia tahu seharian ini Joonmyeon terus saja menyuruhnya macam-macam.

“I-itu… S-saya…”

“Siwon, jawab aku! Dan jangan sekali-kali kau berbohong!” Tegas nyonya rumah itu.

Cho Kyuhyun, menunggu jawaban dari Siwon dengan sabar meski ada gurat kekesalan terpancar dari wajahnya yang cantik meski dia sudah berusia tiga puluh tujuh tahun.

Didesak seperti itu oleh Kyuhyun membuat Siwon serba salah. Dia tidak mau membuat Kyuhyun memarahi Joonmyeon tapi dia juga tak tahu harus menjawab seperti apa pertanyaan Kyuhyun tadi. Kyuhyun jelas bisa segera tahu jika dia berbohong. Jadi yang dilakukan oleh Siwon hanya berdiri, menundukkan kepalanya dan menutup mulutnya rapat-rapat. Siwon lebih memillih Kyuhyun marah kepadanya daripada Kyuhyun marah kepada Joonmyeon.

“Kau tidak mau menjawabku bukan? Kau tidak akan pernah mau menjawabku jika sudah berurusan dengan Joonie! Baik kalau begitu. JOONMYEON!!!” teriak Kyuhyun tiba-tiba dengan sangat lantang sehingga membuat Siwon terlonjak sedikit sebelum membelalakan matanya dengan lebar, terkejut Kyuhyun langsung memanggil Joonmyeon. Sayup-sayup, Siwon mendengar suara langkah kaki dari arah ruang keluarga dan tidak sampai dua menit, Joonmyeon sudah berdiri tak jauh dari Kyuhyun dan Siwon.

“Ada apa sih umma? Kenapa umma berteriak seperti itu? Jika umma ada perlu denganku, cepatlah! Aku sedang menonton acara favoritku.” Runtuk Joonmyeon sedikit tidak sopan kepada Kyuhyun, ibu kandungnya sendiri. Kyuhyun sendiri, langsung menatap tajam putri semata wayangnya tersebut sebelum dia membuka mulutnya.

“Joonmyeon! Sopan sedikit! Kau itu pewaris keluarga kita, jadi bersikaplah seperti orang yang bermartabat.” Ingat Kyuhyun tegas yang hanya diangguki malas oleh Joonmyeon. Kyuhyun menggelengkan kepalanya, tidak mengerti mengapa putrinya yang dulu begitu baik dan penurut bisa berubah menjadi seenaknya dan egois seperti sekarang.

“Umma ingin tanya sesuatu kepadamu.”

“Apa?”

“Kenapa kau menyuruh Choi ahjussi untuk membuatkanmu minum? Bukankah ada banyak pelayan di rumah ini yang bisa melakukannya?” tanya Kyuhyun langsung tanpa basa basi. Sontak Joonmyeon langsung menoleh ke arah Siwon dan memincingkan matanya, tidak suka bahwa Kyuhyun tahu apa yang dia lakukan terhadap Siwon.

“Aku inginnya dia.” Jawab Joonmyeon angkuh. Matanya terus mengikuti gerak gerik Siwon dengan amarah yang begitu kentara, membuat Siwon salah tingkah.

“Joonmyeon! Choi ahjussi itu supir keluarga kita. Tugasnya mengantarkan dan menjemputmu. Bukan melakukan semua perintahmu!” tegur Kyuhyun semakin jengkel dengan sikap Joonmyeon yang begitu semena-mena terhadap Siwon. Sementara Joonmyeon justru merasa heran sekaligus kesal karena ibunya begitu membela Siwon.

“Umma ini kenapa sih? Selalu saja membela dia! Biar saja umma! Kita yang membayar dia jadi dia harus menuruti semua kemauan kita!” tukas Joonmyeon keras kepala.

“Cho Joonmyeon! Sudah umma bilang, bersikaplah sopan!” raung Kyuhyun marah. Dia tidak mengira bahwa sikap Joonmyeon benar-benar berubah menjadi begitu menyebalkan. Kyuhyun tidak tahu sejak kapan Joonmyeon berperangai buruk seperti ini.

“Kenapa umma jadi marah kepadaku? Oh! Ini pasti gara-gara dia! Choi ahjussi!! Choi ahjussi ini suka sekali mencari muka dengan umma hah! Oh, aku tahu. Pasti Choi ahjussi mengincar umma bukan? Dengar ya, ummaku boleh saja seorang janda kaya, tapi aku tak sudi punya ayah tiri! Apalagi supir miskin sepertimu! Jadi lebih baik Choi ahjussi jangan bermimpi di siang bolong dan bersikaplah seperti seorang supir miskin yang mengais rejeki dari kami!” Kyuhyun membulatkan matanya lebar-lebar, tak percaya dia baru saja mendengar Joonmyeon memaki seseorang sedemikian rupa. Terlebih lagi yang dia caci maki itu adalah…

“CHO JOONMYEON!! KETERLALUAN KAMU!! YANG ADA DIHADAPANMU SEKARANG ITU…”

“Nyonya!” seruan Siwon menghentikan teriakan kemarahan dari Kyuhyun. Tatapan dan gelengan kepala kecil yang dilakukan oleh Siwon terlihat oleh Kyuhyun dan itu membuatnya semakin sedih dan kesal di saat yang bersamaan. Tangannya mengepal kuat, berusaha menahan segala perasaan yang berkecamuk di dadanya.

Sedangkan Siwon sendiri hanya bisa memberikan senyum tipis meski di matanya, Siwon merasa terluka dengan ucapan Joonmyeon. Namun Siwon buru-buru mengenyahkan kesedihannya dan beralih ke arah Joonmyeon yang terkejut dengan teriakan sang bunda.

“Nona Joonmyeon… Maafkan saya jika saya sudah membuat nona merasa tidak nyaman. Nona tidak perlu khawatir. Saya tidak memiliki maksud apapun dengan nyonya Kyuhyun dan nona Joonmyeon. Saya hanya ingin bekerja disini nona. Demi putra saya yang sedang sakit. Saya tidak sempat memikirkan apapun selain dia.” Tutur Siwon tulus. Dia memang tidak berniat jahat sedikit pun kepada keluarga Cho. Siwon hanya ingin terus bisa bekerja di keluarga yang telah memberikannya pekerjaan untuk menghidupi dan membiayai pengobatan putra semata wayangnya yang sakit parah.

Walau…

Siwon menyimpan sesuatu yang tidak bisa dia beritahukan kepada siapa pun. Rahasia yang akan dia simpan seumur hidupnya.

“Huh! Kau pikir aku percaya? Kau itu licik. Entah dengan cara apa, kau bisa membuat umma menerimamu bekerja. Aku sudah tidak menyukaimu sejak kau datang! Lihat saja, aku akan buat kau menyesal telah datang di kehidupan kami!” ancam Joonmyeon sebelum dia meninggalkan Siwon dan Kyuhyun berdua.

“Siwon…” lirih Kyuhyun memanggil nama Siwon. Dari nada suaranya, jelas Kyuhyun cemas dengan keadaan Siwon setelah mendapat perlakuan seperti itu dari Joonmyeon.

“Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa dengan sikap nona Joonmyeon.” Ucap Siwon sambil kembali tersenyum. Dia tidak ingin menambah kekhawatiran Kyuhyun meski tidak berhasil sama sekali. Justru dengan senyum terpaksa Siwon, Kyuhyun menjadi lebih merasa bersalah.

“Mana bisa seperti itu! Anak itu semakin tak terkendali semenjak aku memindahkan sekolahnya. Aku kira sekolah disana adalah pilihan terbaik, namun dia berubah sampai aku tidak mengenal putriku sendiri.” Gerutu Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Dia menyalahkan keputusannya memindahkan Joonmyeon ke sekolah swasta ternama agar Joonmyeon bisa mengenyam pendidikan lebih baik dan bergaul dengan orang-orang yang bisa membantunya kelak saat dia menjadi pimpinan selanjutnya dari perusahaan Cho. Namun Kyuhyun menyesali keputusan itu karena apa yang terjadi sekarang, Joonmyeon justru berubah menjadi anak pembangkang, tidak sopan dan sangat keras kepala.

“Nona Joonmyeon masih remaja nyonya, jadi nona muda masih berusaha mencari jati dirinya.” Ucapan Siwon membuyarkan pikiran Kyuhyun terhadap Joonmyeon. Dia menatap Siwon yang masih berusaha terlihat tenang dan baik-baik saja. Padahal Kyuhyun yakin bahwa hati Siwon sekarang pasti sakit sekali karena ulah Joonmyeon.  Kyuhyun mengerti Siwon mengorbankan dirinya sendiri demi kebahagiaan dirinya dan Joonmyeon, tapi bukan seperti ini yang ada di pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun berjalan ke hadapan pria yang lebih tinggi darinya itu. Kyuhyun memandang wajah tampan yang tertutupi raut wajah yang lelah dan sorot mata yang selalu sendu. Kyuhyun menatap mata itu lekat sambil mengambil salah satu tangan Siwon dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya sebelum mengecup buku jari Siwon. Pria itu membiarkan nyonya yang menjadi majikannya itu melakukan hal tersebut kepadanya walau dilihat dari sisi mana pun, tindakan Kyuhyun bukanlah tindakan yang biasa dilakukan majikan kepada pekerjanya.

Akan tetapi kedua pria dan wanita itu telah menyimpan kerinduan yang mendalam terhadap satu sama lain. Kerinduan yang tidak bisa mereka ungkapkan karena situasi mereka berdua.

“Aku tak bisa seperti ini terus Siwon. Aku harus mengatakan kenyataannya kepada Joonmyeon.” Sahut Kyuhyun terdengar tak sanggup lagi untuk menampung semuanya. Siwon menghela nafas panjang sebelum melepaskan genggaman tangan Kyuhyun dari tangannya. Siwon mengambil jarak diantara mereka berdua, menatap Kyuhyun yang tampak kebingungan dengan sikap Siwon yang tiba-tiba menjauh, sebelum menggelengkan kepalanya.

“Jangan nyonya. Saya mohon jangan. Kasihan nona muda. Dia pasti tidak bisa menerimanya dengan baik.” ujar Siwon menolak maksud Kyuhyun untuk membeberkan rahasia mereka berdua.

“Lalu apa kau bisa? Apa kau tak sedih jika dia memperlakukanmu seperti itu? Apa kau tidak kasihan denganku? Dia harus tahu kenyataan yang sebenarnya bahwa kau…”

“Kyu.” Begitu nama itu keluar dari bibir Siwon, Kyuhyun berhenti berbicara. Dia termangu dengan panggilan Siwon kepadanya. Sejak waktu itu, Siwon tidak pernah lagi memanggilnya begitu, tidak dengan sebutan nyonya di depan namanya. Kyuhyun bergeming, menunggu kelanjutan ucapan Siwon.

“Dia anak yang bahagia. Dia bahagia sampai aku datang. Sikapnya kepadaku adalah hukuman untukku jadi aku tidak mempermasalahkannya Kyu. Jika baginya melampiaskan semua kekesalannya kepadaku dapat meringankan bebannya, maka aku rela. Asalkan dia bahagia. Asalkan dia bahagia…”

“Siwon…”

“Kau harus mengerti Kyu. Baginya hanya ada kau. Dia tidak mengenal sosok lain sebagai orang tuanya, hanya kau. Dan saat kau, orang yang dipujanya, begitu memperhatikan aku yang hanya orang asing, dia merasa keberadaannya terancam. Aku yang salah Kyu. Seharusnya aku tidak hadir dalam kehidupan kalian.” Sela Siwon dengan tatapan nanar yang dia arahkan kepada Kyuhyun. Sementara Kyuhyun sendiri, hanya termangu menatap sedih Siwon. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Siwon pasrah begitu saja dengan keadaannya sekarang.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Tidak. Dia menolaknya.

Hidup keluarganya tidak bisa seperti ini. Mereka sudah terlalu lama terluka dan menderita. Sudah saatnya semua mengetahui kebenarannya.

Sudah saatnya.

.

.

.

Kriet!

“Appa pulang.” Sapa Siwon begitu memasuki apartemen kecilnya yang merupakan tempat tinggalnya bersama dengan sang putra, Choi Minho.

“A-appa…”

“Minho-ya.” Lirih Siwon bergegas memasuki satu-satunya kamar tidur yang ada di dalam apartemen tersebut. Di dalam kamar, terbaring lemah seorang pemuda yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker. Pemuda tersebut, Choi Minho, tampak kurus dengan kulitnya yang pucat dan rambutnya yang menipis.

Dengan keadaannya yang jelas sakit parah tersebut, Minho masih mencoba tersenyum kepada sang ayah, Siwon. Minho berusaha agar dirinya tidak terlihat kesakitan walau kenyataan berkata sebaliknya.

Gagal ginjal serta kanker darah yang dideritanya membuat Minho harus bertahan hidup dengan cuci darah. kemoterapi dan obat-obatan. Minho juga harus menggantungkan harapannya untuk sembuh dengan donor ginjal dan donor sumsum tulang belakang yang cocok untuknya.

Jika boleh jujur, sebenarnya Minho tidak keberatan jika harus meninggalkan dunia ini. Dia pasrah dengan keadaannya sejak dia di vonis dokter menderita penyakit mematikan tersebut. Hanya saja…

Hanya saja, Minho memikirkan Siwon.

Ayahnya sudah berjuang untuknya dan keluarga mereka. Ayahnya hanya memiliki dirinya di dunia ini. Jika dia pergi, ayahnya akan kesepian meski Minho tahu dengan kepergiannya, beban Siwon akan berkurang.

Minho dilema karenanya.

“Minho-ya. Appa sudah bisa melunasi pembayaran cuci darahmu bulan lalu, sehingga pihak rumah sakit bersedia melakukan perawatanmu untuk bulan ini. Lalu appa juga sudah memberitahu ke pihak rumah sakit untuk kemoterapimu bulan depan. Dan ini, appa sudah membelikan obat untuk mengurangi rasa sakitmu nak.” Ujar Siwon sembari memperlihatkan sebuah kantong plastik kecil dengan berbagai obat didalamnya. Minho menatap obat yang harganya tidak murah itu sebelum mengalihkan perhatiannya ke wajah sang appa.

“Appa…” sahutnya lemah.

“Ya, ada apa?” balas Siwon sambil mendudukan dirinya di bibir ranjang. Siwon terlihat menyiapkan beberapa butir obat untuk Minho sehingga tidak menatap langsung ke arah Minho.

“Obat itu… Obat itu bukannya mahal? Lalu biaya perawatan yang tadi appa bilang… Appa dapat uang darimana?” tanya Minho meskipun dia sudah mengetahui jawabannya tapi pemuda itu ingin mendengarnya dari mulut ayahnya sendiri. Siwon terlihat gugup ketika ditanya demikian. Dengan cepat, dia meletakan obat-obat yang sudah dia siapkan di sebuah kotak plastik kecil untuk tempat obat. Siwon langsung memberikan obat-obatan tersebut kepada Minho lengkap dengan segelas air putih.

“Minumlah dulu obat ini. Agar kau bisa merasa lebih baik.” Kelit Siwon mengalihkan pembicaraan.

“Appa…” keluh Minho tidak ingin diabaikan begitu saja akan tetapi melihat wajah lelah sang ayah, Minho hanya bisa menghela nafas kemudian mengambil kotak obat miliknya. Dengan perlahan, Minho menelan butir-butir obat itu lalu meminum air putih yang disiapkan oleh Siwon.

“Sekarang appa jawab Minho. Darimana appa mendapatkan uang untuk membayar semua ini?” tanya Minho tidak sabar. Siwon masih terlihat gugup sehingga dia menggaruk bagian belakang kepalanya dan berusaha kembali berkelit dari pertanyaan Minho.

“Ah! Lebih baik tidak usah dipikirkan darimana appa bisa mendapatkan uang itu Minho-ya. Yang penting besok kau bisa segera melakukan cuci darah kembali.”

“Appa… Appa pasti menjual darah lagi ya. Lalu appa pasti berhutang lagi kepada nyonya Cho. Appa, hutang kita kepada mereka sudah terlalu banyak. Aku mohon jangan meminjam uang lagi ataupun menjual darah. Aku baik-baik saja appa. Aku tidak perlu cuci darah lagi.” Ucap Minho merasa bersalah kepada Siwon. Dia sungguh tidak ingin menyusahkan sang ayah namun mengapa Siwon terus saja berjuang untuknya?

Ucapan Minho tadi tentu saja membuat Siwon menyatukan kedua alisnya. Dia tidak mengerti mengapa Minho masih keras kepala untuk tidak mau melakukan pengobatan untuk penyakitnya. Mengapa anak itu tidak mengerti bahwa Siwon berjuang dengan segenap kemampuannya agar Minho bisa sembuh, agar putranya bisa terus hidup.

“Apa yang kau katakan? Kau perlu perawatan itu nak. Kau bisa sembuh dengan melakukan apa yang dikatakan oleh dokter. Demi kesembuhanmu, appa akan lakukan apapun jadi kali ini appa yang memohon. Jangan pikirkan apapun ya sayang. Sembuhlah dan terus bersama dengan appa.” Ujar Siwon sambil meremas lengan Minho.

“A-appa…” Minho tidak tahu harus berkata apalagi agar Siwon mengerti bahwa dia tidak ingin melihat ayahnya terus menderita. Siwon seolah tidak mengerti jika Minho merasa sakit dan terus merasa bersalah melihat Siwon membuang hidupnya hanya untuk dirinya.

“Sudahlah. Jangan bicarakan ini lagi. Ayo makan Minho-ya. Appa sudah bawakan makanan dari rumah keluarga Cho. Para koki berlebihan membuat makan malamnya sehingga appa diberi sedikit.” Ajak Siwon agar Minho mau makan bersamanya. Siwon membantu Minho untuk bisa bersandar pada kepala ranjang dan setelah dia rasa Minho nyama, Siwon kembali menyiapkan makan malam mereka.

Minho akhirnya hanya bisa tersenyum kaku dan menerima suapan demi suapan dari Siwon. Namun dalam hatinya Minho ingin berteriak, menangisi ketidak adilan yang terjadi pada keluarga mereka.

Minho hanya mampu berandai jika saja dia memiliki tubuh yang sehat.

Andai dia tidak memiliki penyakit berbahaya ini.

Andai dia cukup kuat maka dia bisa melindungi Siwon.

Menjadi sandaran Siwon.

Karena dibalik sikap kuat Siwon, dibalik senyumnya yang tegar, dibalik itu semua, Minho tahu betapa kejamnya dunia terhadap sang appa. Betapa dunia tidak memihaknya.

Minho mengalirkan bulir airmatanya karena dia sedih. Dia sedih mengapa sang ayah harus menderita seperti ini?

Tidak adakah kebahagiaan yang bisa kau berikan kepada appaku Tuhan? Tidak adakah?

.

.

.

I can’t believe we’ll never meet again.
I haven’t told you anything yet. 

No matter how frightening it is, I won’t look away
if there is love at the end of everything.

Everybody finds love
In the end

TBC

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Hi All… Nao’s here. Huehehe… Kalo ada yang mampir ke WKC pasti tahu FF ini. Yup, that’s right! Ini adalah FF yang Nao ikutkan dalam Kontes. Ga menang sih tapi Nao happy udah bisa memeriahkan ultahnya WKC.

Nao ingin terima kasih banget buat amazing readers yang mau ngevote, ngelike, ngeshare, dan kasih komen di WKC kemarin. Maacih semua \(´▽`)/ Nao juga makasih banget sama admin2 WKC. Sumprit dae to the bak untuk eventnya.

Nao baca loh komen2 seru amazing readers dan kebanyakan pada bingung ya sama jalan ceritanya. Wajar sih soalnya ini adalah FF bersambung yang dipaksa jadi One Shoot ┌(“˘o˘)┐

Otak Nao merajalela saat buat FF ini. Jadi maksud hati ingin bikin one shoot eh malah keterusan (sampai sekarang masih berterbaran idenya, belum ngumpul semua).

Jadi Nao akan elaborate FF ini sesuai dengan plot Nao di awal. Bagi yang sudah baca mungkin bisa berandai-andai bagaimana jalan ceritanya dan ending yang kemarin… Uhuh, itu bukan endingnya. Jadi yang penasaran, silahkan mampir dan baca yak (づ ̄ ³ ̄)づ

Ya sutralah.

As usual, typos, gaje, dan hal-hal mistik lainnya adalah tanggung jawab Nao jadi Nao cuma bisa bilang gomen m(_ _)m

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, and Krisho 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements