Tags

, , ,

Poster - Sakura Nagashi

( 。・_・。)人(。・_・。 )

Title : Sakura Nagashi 4

Pairing / Charas : WonKyu, Minho, Suho

Disclaimer : All casts are belong to their self and God, Utada Hikaru and Sakura Nagashi are belong to herself and her label. Poster by Choi So Yeon

Inspired : Sakura Nagashi by Utada Hikaru

Warning : Un-betaed, Angst, AU, OC, Family, Romance, Drama, GS, M for Language Used

Summary : Everybody finds love, in the end.

( 。・_・。)(。・_・。 )

Previous Chapter

Kejadian itu begitu cepat sehingga orang-orang hanya bisa berteriak ketika mobil sedan hitam itu menabrak tubuh Siwon sampai terlempar jauh. Baru beberapa detik berikutnya, orang-orang itu beramai-ramai mengelilingi tubuh Siwon yang bersimbah darah. Salah satu dari orang-orang tersebut langsung menghubungi ambulance sementara yang lain berusaha untuk menolong Siwon. Ibunda dari gadis kecil itu pun ingin sekali membantu Siwon tetapi dia masih harus mengurusi buah hatinya yang terus menangis.

Siwon sendiri sudah tidak merasakan apapun lagi. Sakit di seluruh tubuhnya perlahan tidak dirasakannya lagi. Mata hitamnya hanya tertuju kepada gadis kecil yang masih saja menangis meski sang bunda sudah berusaha menenangkannya.

“Mi-min-min-ho… Jo-joon-jo-joon-my-myeon…” lirih Siwon dalam ambang ketidaksadarannya. Nampaknya, melihat gadis kecil yang memiliki nama panggilan yang sama dengan Joonmyeon, membuat Siwon teringat kedua anaknya. Dalam hatinya, Siwon berpikir bahwa dia telah menyelamatkan kedua buah hatinya itu. Minho akan selamat dengan uang asuransinya. Putranya akan kembali menjadi calon penerima donor ketika semua biaya rumah sakit terlunasi dengan uang asuransi itu. Sementara Joonmyeon, Siwon merasa seperti menyelamatkan putrinya dengan menyelamatnya gadis itu.

Siwon tersenyum tipis.

Tampaknya dia sudah siap untuk meninggalkan penderitaannya.

Tampaknya Siwon sudah siap melupakan segalanya.

Tampaknya dia sudah siap meninggalkan dunia ini.

Selamat tinggal.

.

.

.

“Dilaporkan telah terjadi kecelakaan di kawasan xxx pada pukul xxx. Menurut saksi mata, mobil melaju dengan kecepatan yang tinggi dan tidak terkendali. Pihak kepolisian…”.

.

.

.

“Dilaporkan telah terjadi kecelakaan di kawasan xxx pada pukul xxx. Sebuah mobil menabrak seorang pria pejalan kaki yang berusaha menyelamatkan seorang anak perempuan. Menurut saksi mata, mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak terkendali karena rem mobil tidak berfungsi. Pihak kepolisian sudah menyatakan bahwa kejadian ini murni kecelakaan dan bukan percobaan bunuh diri seperti yang diduga sebelumnya meski beberapa saksi mata menyatakan bahwa pria tersebut terlihat menghiraukan rambu lalu lintas dan menyebrang di saat lampu untuk pejalan kaki berwarna merah. Keadaan korban saat ini dikabarkan kritis dan masih ditangani secara insentif oleh pihak rumah sakit. Kami akan melaporkan kembali kronologis kecelakaan ini setelah mendapatkan pernyataan lebih lanjut dari pihak kepolisian dan pihak rumah sakit.”

.

.

.

“Permisi! Mohon beri jalan! Suster segera siapkan ruang operasi!”

“Baik dokter!”

Kyuhyun dan Joonmyeon menatap dengan cemas keadaan Siwon yang dibawa pergi oleh tim medis rumah sakit tersebut. Siwon sedang ditangani oleh dokter pasca mengalami kecelakaan mobil. Siwon harus segera di operasi agar nyawanya bisa terselamatkan.

“Ikuti aba-abaku. Satu, dua, tiga, angkat!” seru dokter itu sekaligus mengangkat tubuh Siwon dibantu paramedis lainnya ke meja operasi. Dokter itu dengan cekatan memerintahkan kepada suster dan dokter lainnya untuk segera memeriksakan kondisi Siwon dan bersiap untuk operasi. Sedangkan satu suster terlihat berusaha menahan Kyuhyun dan Joonmyeon agar tidak masuk ke dalam ruang operasi.

“Tapi kami ingin melihat kondisi appa suster! Kami mohon, izinkan kami masuk!” desak Joonmyeon. Namun gelengan kuat sang suster memupus harapan itu. Dengan sekali dorong, baik Kyuhyun maupun Joonmyeon sudah berada diluar ruangan.

“Sebaiknya anda berdua menunggu dan berdoa agar operasi ini berjalan lancar. Kami akan berusaha semampu kami untuk menyelamatkan tuan Choi.” Ujar suster itu sebelum kembali masuk dan menutup pintu ruang operasi.

Kyuhyun dan Joonmyeon tidak punya pilihan selain menunggu. Keduanya mengambil tempat duduk dekat pintu ruang operasi. Kyuhyun langsung menutup wajah cantik namun lelah miliknya dengan kedua telapak tangan, berusaha menutupi tangisannya. Walau tak bisa dipungkiri, tangisan itu masih terdengar di telinga Joonmyeon.

Gadis itu menghela nafas panjang. Raut wajahnya begitu menyiratkan kesedihan. Dalam hatinya Joonmyeon mempertanyakan mengapa nasib keluarganya bisa beakhir setragis ini. Joonmyeon tidak mengerti, disaat dirinya mengakui keberadaan sang appa, disaat kedua orang tuanya mengikrarkan bahwa mereka masih saling mencintai, disaat Joonmyeon mengira bahwa kebahagiaan akan menyapanya, semua itu harus direnggut dengan kecelakaan ini.

Joonmyeon menghapus kasar bulir airmatanya sendiri sebelum kembali menghela nafas.

Tidak.

Dirinya tidak boleh ikut terpuruk dan putus asa seperti yang dirasakan oleh Kyuhyun. Harus ada yang tegar diantara mereka dan Joonmyeon harus menjadi pribadi itu.

Dengan lembut Joonmyeon meremas bahu Kyuhyun, mencoba menarik perhatian Kyuhyun dan berhasil. Ibu dua anak itu menolehkan wajahnya yang basah oleh airmata, ke arah Joonmyeon.

“Umma, dengarkan Joonie.” Sahut Joonmyeon perlahan. Kyuhyun pun diam mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Joonmyeon.

“Appa pasti akan baik-baik saja. Appa adalah laki-laki yang kuat, umma. Aku yakin umma tahu itu. Appa laki-laki yang hebat. Appa akan selamat umma. Ah, tidak. Appa pasti selamat. Karena apa? Karena Tuhan akan mendengarkan doa kita. Tuhan akan menyatukan keluarga kita jika kita selalu berdoa dan tidak putus asa. Umma, appa membutuhkan doa dan dukungan kita sekarang. Umma paham?”

Kyuhyun terpaku sesaat. Dia menatap lurus Joonmyeon yang memberikan senyum meski jelas terlihat bahwa senyum itu begitu dipaksakan. Terlebih lagi dengan raut wajah penuh kecemasan dan kesedihan dari Joonmyeon walau putrinya tersebut berusaha untuk tegar. Joonmyeon sedang berusaha untuk menjadi seseorang yang bisa diandalkan pada saat genting seperti sekarang ini.

Kyuhyun menundukkan kepalanya, malu dengan dirinya sendiri. Dia tersenyum pilu meratapi dirinya yang mudah sekali menjadi lemah jika ditekan seperti saat ini. Namun Kyuhyun bersyukur bahwa putrinya tidak seperti dirinya. Joonnienya adalah anak yang kuat. Joonnienya adalah gadis yang baik dan menyayangi keluarganya.

Saat itulah Kyuhyun menyadari sesuatu. Sesuatu mengenai Joonmyeon.

Sejak kapan putrinya begitu kuat? Sejak kapan Joonnienya begitu mencemaskan Siwon, seperti seorang anak kepada ayahnya?

Ayah?

“Joonnie, kau…” Kyuhyun tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Dia merasa tak perlu setelah melihat wajah Joonmyeon. Raut wajah gadis manis itu begitu sedih dan tersirat penyesalan yang dalam walau Joonmyeon berusaha menutupinya dengan senyuman.

Tidak, Kyuhyun tak perlu lagi berkata apapun. Wajah itu sudah menjadi jawaban untuknya.

Kyuhyun membelai pipi putrinya lembut lalu menarik tubuh ramping Joonmyeon ke dalam pelukannya. Tangan Kyuhyun yang tadinya berada di pipi Joonmyeon pun sudah berpindah ke rambut gadis itu, meneruskan belaian lembutnya, menghantarkan perasaan nyaman bagi Joonmyeon.

“Maafkan umma sayang. Maafkan umma yang lemah ini.”

“Umma, ti-“ Joonmyeon tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena Kyuhyun sudah melepaskan pelukannya dari tubuh gadis itu dan menatapnya lekat. Kyuhyun menyisirkan jemarinya di rambut Joonmyeon sembari tersenyum.

“Terima kasih kau sudah berusaha tegar untuk keluarga kita. Terima kasih karena kau sudah mau menerima appamu. Terima kasih Joonnie.” Ucap Kyuhyun lalu mengecup kening Joonmyeon.

Joonmyeon terpaku sesaat dengan kecupan Kyuhyun di keningnya. Sepertinya sudah lama sekali Joonmyeon tidak menerima kecupan hangat itu dari Kyuhyun. Tidak sejak dia mulai memberontak. Sontak Joonmyeon tak kuasa menahan airmatanya lagi. Gadis itu menangis tersedu-sedu di dada Kyuhyun, memeluk kembali bundanya dengan sangat erat.

Keduanya saling berbagi kekuatan dan berusaha untuk bisa melalui semua cobaan ini dengan penuh keyakinan. Keyakinan bahwa Siwon akan baik-baik saja.

Tidak.

Siwon harus baik-baik saja.

Demi keutuhan keluarga mereka.

.

.

.

Joonmyeon menunggu dengan sabar sampai sambungan teleponnya diangkat oleh orang yang dia hubungi. Gadis itu sudah kesekian kali memakai ponsel pintarnya tersebut untuk menghubungi seseorang, namun sampai detik ini tak kunjung berhasil. Kesabarannya berbuah manis ketika satu suara berat dari seorang pria menyapa gendang telingannya.

“Yoboseyo Cho Joonmyeon-nim.”

“Yoboseyo Hong-ssi. Bagaimana? Apa anda sudah menyelesaikan semua perintah saya?” tanya Joonmyeon tak sabar. Joonmyeon sudah sangat ingin tahu tentang keadaan seseorang sampai dia meminta bantuan dari kenalan kepala rumah tangga Song untuk mencari tahu dan mengurus semuanya.

“Sudah nona. Saya sudah lakukan perintah nona. Adik anda sekarang sudah kembali masuk ke dalam daftar prioritas penerima donor ginjal dan sumsum tulang belakang. Beliau juga sudah dipindahkan ke kamar perawatan VVIP dan mendapatkan perawatan terbaik. Walau-“

“Walau apa?”

“Walau awalnya beliau menolak.”

“Tentu saja dia akan menolak. Dia tidak tahu hubungan kami. Tapi semua baik-baik saja bukan?”

“Ya nona.”

Jawaban tuan Hong tadi membuat Joonmyeon bisa bernafas dengan lega. Joonmyeon senang akhirnya Minho bisa ditangani dengan layak. Tidak sia-sia Joonmyeon mengeluarkan hamper seluruh tabungannya demi membayar tuan Hong. Pria itu ternyata bisa diandalkan.

Joonmyeon memang diam-diam mencari tahu mengenai Minho setelah dia mengetahui semua masa lalu Kyuhyun dan Siwon. Dan betapa terkejutnya dia saat diberitahu bahwa Minho dicabut dari daftar penerima donor hanya karena dia tidak memiliki biaya.

Joonmyeon geram dan bermaksud menuntut rumah sakit tersebut. Akan tetapi setelah diberi penjelasan lebih lanjut dari tuan Hong bahwa rumah sakit itu sudah tidak bisa lagi menanggung tunggakan biaya pengobatan Minho dan terpaksa mengeluarkannya dari daftar, Joonmyeon mengurungkan niatnya.

Joonmyeon lalu meminta tuan Hong untuk mengurus semuanya, mulai dari memastikan Minho kembali menjadi calon penerima donor sampai menangani setiap tagihan perawatan dari rumah sakit dan berniat memindahkan Minho ke rumah sakit yang lebih lengkap dari rumah sakit sebelumnya. Joonmyeon bermaksud menemui Minho dulu sebelum tuan Hong memindahkan Minho.

Sayang, belum sempat Joonmyeon menemui Minho, kecelakaan itu terjadi. Joonmyeon terpaksa meminta tuan Hong menemui Minho terlebih dahulu dan mengurus adiknya itu sebelum dia yang turun tangan. Joonmyeon tidak mungkin meninggalkan Kyuhyun sendiri di saat seperti itu.

Sekarang, setelah Joonmyeon yakin Kyuhyun bisa ditinggal, setelah yakin semua keperluan Minho terpenuhi, Joonmyeon bermaksud menemui adiknya itu.

“Bagus Hong-ssi. Lalu apa ada lagi yang bisa kau sampaikan kepadaku mengenai Minho?” tanya Joonmyeon lagi, meminta sedetail mungkin berita tentang Minho.

“Saya memiliki kabar baik untuk anda mengenai hal tersebut. Tapi sebelumnya saya mohon maaf karena saya tidak sempat mengangkat telepon dari anda. Saya sedikit sibuk nona.”

“Kabar baik? Kabar baik apa?”

“Pihak rumah sakit sudah menemukan donor ginjal nona dan adik nona adalah kandidat utama penerima donor tersebut.”

“Apa? Minho mendapatkan donor ginjal? Benarkah?”

“Ya nona.”

“Oh Tuhan! Syukurlah. Lalu bagaimana untuk donor sumsum tulang belakangnya?”

“Mohon maaf nona, mereka masih belum mendapatkannya. Sulit menemukan yang sesuai jika bukan dari anggota keluarga. Menemukan donor ginjal saja sudah merupakan keajaiban.”

“Anggota keluarga? Jadi apa aku dan umma bisa menjadi donor?”

“Kemungkinan itu ada nona. Tapi nona dan nyonya harus diperiksa dulu. Secara detail rumah sakit yang lebih paham untuk masalah ini.”

“Tuan Hong, apakah Minho harus di operasi di rumah sakit itu? Bisakah dia dipindahkan ke rumah sakit lain? Bukan apa-apa, aku hanya ingin lebih leluasa menjaga Minho dan appa jika mereka berada di rumah sakit yang sama.”

“Tentu bisa nona. Akan segera saya kerjakan.”

“Bagus. Aku akan segera kesana. Tolong pantau keadaan Minho. Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya.”

“Baik nona. Saya akan menunggu kedatangan nona.”

“Terima kasih Hong-ssi.”

Selesai mengatakan itu, Joonmyeon segera melangkah ke tempat Kyuhyun yang masih menunggu di depan ruang operasi. Sudah lebih dari enam jam mereka menunggu tetapi belum ada tanda-tanda tim dokter akan keluar.

“Umma.” Panggil Joonmyeon sedikit mengagetkan Kyuhyun.

“Hm?”

“Aku harus pergi sebentar. Aku harus ke rumah sakit universitas S. Minho ada disana umma.” Ujar Joonmyeon. Begitu mendengar nama Minho, Kyuhyun menatap tak percaya ke arah Joonmyeon. Kyuhyun bangkit dari tempat duduknya dan mencengkram kedua lengan Joonmyeon.

“Minho?” tanya Kyuhyun memastikan indera pendengarannya masih berfungsi. Anggukan dan jawaban Joonmyeon setelahnya meyakinkan Kyuhyun bahwa dia tidak salah dengar.

“Ya umma, Minho. Adikku, putra umma dan appa. Minho sedang di rawat disana dan aku akan mengurus semuanya agar Minho bisa dipindahkan ke rumah sakit disini, agar kita lebih mudah menjaga mereka berdua.” Jelas Joonmyeon sambil tersenyum. Kyuhyun ikut tersenyum dan memeluk Joonmyeon sejenak sebelum menyuruh agar Joonmyeon lekas pergi.

“Aku akan segera kembali umma. Hubungi aku jika operasinya sudah selesai.”

“Ya sayang. Cepatlah!” seru Kyuhyun agar Joonmyeon tidak lagi membuang waktunya. Joonmyeon mencium pipi Kyuhyun lalu segera melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

Minho-ya, bertahanlah.

.

.

.

Kyuhyun menanti dengan sabar pintu operasi itu untuk terbuka. Kecemasannya tidak pernah berkurang akan tetapi Kyuhyun tahu dia harus kuat saat ini. Dia tidak boleh lemah dan kehilangan semangat karena orang yang dia cintai saat ini sedang berjuang di dalam sana. Kyuhyun menatap pintu itu beberapa kali kemudian mengusap wajahnya sendiri dan menghela nafas. Hanya tiga hal itu yang sejak tadi Kyuhyun kerjakan untuk menghabiskan waktunya. Sampai…

Sampai lampu merah ruang operasi tersebut padam.

Kyuhyun langsung berdiri dan menanti para tim medis yang menangani operasi Siwon. Tak berselang kemudian, para pejuang berjubah putih itu pun keluar. Kyuhyun segera menghampiri dokter utama yang melakukan operasi. Kyuhyun membungkuk hormat sebelum menanyakan hasil operasi Siwon.

“Dokter, bagaimana kondisi suami saya?” tanya Kyuhyun langsung.

“Anda istri tuan Choi?” tanya dokter itu balik. Merupakan ketentuan rumah sakit untuk mengabarkan kondisi pasien hanya kepada keluarga pasien. Tanpa ragu Kyuhyun mengangguk, tidak peduli jika dia membohongi dokter tersebut. Lagipula, Siwon memang pernah menjadi suaminya dan Kyuhyun akan berusaha agar Siwon kembali lagi kepadanya.

“Operasinya berhasil nyonya Choi. Kami sudah berhasil menghentikan pendarahannya. Tuan Choi mengalami patah tulang di beberapa titik di bahu dan kaki kanannya. Beliau masih harus melakukan beberapa operasi untuk patah tulang tersebut tapi akan kami lakukan setelah kondisi tuan Choi stabil.”

“Lalu apakah saya sudah bisa melihat suami saya dokter?”

“Mohon maaf nyonya, untuk saat ini sebaiknya tuan Choi tidak menerima tamu dulu sampai kami yakin beliau tidak mengalami koma. Operasinya memang berhasil tapi kami masih harus menunggu efek dari operasi pengangkatan peluru tadi.”

Kyuhyun mengerutkan kedua alisnya bingung dengan penjelasan terakhir dokter tadi.

Operasi pengangkatan peluru?

“Peluru dokter?” tanya Kyuhyun tidak sadar. Kini sang dokter yang kebingungan dengan pertanyaan Kyuhyun. Bukankah seharusnya Kyuhyun tahu mengenai kondisi suaminya sendiri?

“Ya nyonya, peluru. Ada sebutir peluru bersarang di kepala suami anda. Dan dilihat dari kondisi tuan Choi, peluru itu sudah ada disana cukup lama dan mengancam nyawa tuan Choi. Anda tidak mengetahui hal ini?” tanya dokter itu mulai ragu dengan Kyuhyun.

Kyuhyun sendiri tidak terlalu mendengarkan pertanyaan dokter tersebut. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah perasaan bersalah yang semakin menumpuk. Kyuhyun marah kepada dirinya sendiri karena tidak mengetahui kondisi Siwon ternyata lebih buruk dari yang dia duga. Selama bertahun-tahun pria itu hidup dengan semua perjuangannya dan dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Siwon. Bahkan ketika mereka masih menikah.

“Nyonya Choi.” Kyuhyun tidak menghiraukan panggilan dokter itu. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai rumah sakit, membuat sang dokter terkejut dan berusaha menolong Kyuhyun. Namun Kyuhyun seperti kehilangan nyawanya. Tubuhnya tidak mau menuruti perintah otaknya untuk berdiri. Dia lemas karena terlalu bersedih.

Tangisan yang Kyuhyun pendam sejak tadi kini kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Wanita itu menangis keras sembari memukul-mukul dadanya sendiri, seolah-olah Kyuhyun sendiri yang merasakan kesakitan dan penderitaan Siwon selama ini.

Kyuhyun merasa dunia tidak adil untuk Siwon.

Dan dia pun adalah bagian dari ketidak adilan tersebut.

.

.

.

Kaca bening menjadi pembatas antara Kyuhyun dan Siwon. Ibu dari dua anak itu hanya bisa melihat ayah kedua anaknya terbaring dengan semua selang dan gips ditubuhnya. Ditambah dengan mesin-mesin yang menjadi bukti nyata bahwa kekasih hatinya masih hidup. Baru menyaksikan Siwon seperti itu, Kyuhyun sudah sangat merindukan suaminya tersebut.

Kyuhyun merindukan mata hitam yang selalu menatapnya dengan cinta itu, meski kini keduanya tertutup rapat. Kedua lengan kekarnya yang selalu siap menangkap Kyuhyun disaat Kyuhyun terjatuh atau memeluknya ketika Kyuhyun membutuhkan kehangatan. Kini lengan itu hanya tergeletak di samping tubuh Siwon yang dipenuhi luka. Bibir joker yang selalu berusaha tersenyum di saat suka maupun duka, kini terkatup meski sedikit terbuka karena selang di mulut Siwon.

Kyuhyun kembali menitikan airmata. Entah untuk yang keberapa kalinya dia menangis tapi Kyuhyun tahu dia akan sering melakukan hal itu bahkan sampai airmatanya kering sekali pun.

Kyuhyun meletakan telapak tangannya di kaca bening itu, berdoa, berharap bahwa Siwon segera sadar agar Kyuhyun bisa meminta maaf sekali lagi dan menebus semua kesalahannya. Kyuhyun ingin menjalin lagi kisah mereka berdua.

Kyuhyun ingin Siwon bahagia.

“Siwonnie…” lirih Kyuhyun sambil menempelkan keningnya di kaca bening itu. Lama Kyuhyun berada disana dengan posisi tersebut sampai dia mendengar suara Joonmyeon disamping memanggilnya.

“Umma.”

Kyuhyun menoleh dan mendapati Joonmyeon tersenyum kepadanya. Senyum manis yang menyiratkan sebuah kabar gembira dimasa duka seperti sekarang ini.

“Joonmyeon.” Sahut Kyuhyun membalas panggilan Joonmyeon. Suara Kyuhyun berbanding terbalik dari suara Joonmyeon yang terdengar bersemangat. Dan Joonmyeon menyadari hal itu. Gadi itu mendekat kemudian menyentuh lengan atas Kyuhyun, meremasnya pelan.

“Appa masih belum sadar?” tanya Joonmyeon, tidak jadi memberitahu berita yang akan dia sampaikan. Joonmyeon berpikir bahwa kabar itu bisa dia beritahu nanti.

“Belum sayang. Appa baru saja dipindahkan ke ruang ICU ini jadi mungkin masih membutuhkan waktu baginya untuk sadar.” Jawab Kyuhyun yang diangguki oleh Joonmyeon.

“Begitu.” Ucapan Joonmyeon itu menjadi kata terakhir sebelum keheningan menyelimuti keduanya. Baik Joonmyeon maupun Kyuhyun tidak bermaksud mengatakan apapun lagi dan hanya memandang Siwon, berharap keadaan pria itu segera membaik.

Sampai suara seorang suster memutus keheningan itu.

“Cho Joonmyeon-ssi, maaf mengganggu. Adik anda sudah berada di kamar VVIP.” Ujarnya membuat Joonmyeon dan Kyuhyun memanglingkan perhatian mereka kepada suster tersebut.

“Begitukah? Baik suster, terima kasih atas informasinya. Saya akan segera kesana.” Balas Joonmyeon sambil membungkuk kepada sang suster yang langsung pergi begitu selesai mengabarkan berita tersebut.

Sementara itu, Kyuhyun nampak terkejut dengan berita yang disampaikan oleh suster tersebut. Dia tak menyangka bahwa Joonmyeon sudah memindahkan Minho ke rumah sakit yang sama dengan Siwon. Kyuhyun sedikit terperangah dengan tindakan cepat Joonmyeon. Kyuhyun merasa putrinya yang bisa diandalkan kembali lagi kepadanya.

“Minho sudah berada di rumah sakit ini Joonnie?”

“Sudah umma. Sebenarnya aku baru saja ingin memberitahu umma. Minho sudah ditempatkan di kamar rawatnya. Kita bisa menjenguknya jika umma mau.”

“Tentu saja, aku ingin menjenguknya. Aku ingin melihat keadaan Minho.”

“Ya, tentu saja umma. Umma mau sekarang?” tanya Joonmyeon semangat. Joonmyeon senang akhirnya Kyuhyun bisa bertemu dengan Minho. Akan tetapi gelengan kepala Kyuhyun memupus semangat itu. Joonmyeon menatap Kyuhyun dengan tatapan menyelidik. Joonmyeon tak mengerti kenapa Kyuhyun belum ingin bertemu dengan Minho saat ini.

Sedangkan Kyuhyun tersenyum simpul. Dia paham dengan maksud tatapan Joonmyeon. Kyuhyun menyentil kening Joonmyeon, bermaksud menggodanya sedikit.

“Jangan pasang tampang seram begitu. Kau seperti polisi yang mencurigai umma saja.” Goda Kyuhyun. Joonmyeon sendiri mengelus keningnya yang disentil sang bunda.

“Habisnya umma tiba-tiba bilang tidak mau bertemu dengan Minho.”

“Umma tidak bilang tidak ingin bertemu bukan? Hanya tidak sekarang sayang. Umma masih ingin disini bersama appa. Kau temuilah adikmu dulu. Temani dia dan beri pengertian keadaan appa. Umma yakin, adikku sangat cemas sekarang. Umma akan kesana setelah appa stabil. Lalu kau bisa ceritakan bagaimana kau bisa membawa Minho kemari. Oke?”

“Oke. Kalau begitu jaga appa, ya umma.” Ucap Joonmyeon kemudian berbalik meningalkan Kyuhyun untuk menemui Minho.

“Selalu sayang.” Bisik Kyuhyun, entah terdengar atau tidak oleh Joonmyeon. Kyuhyun mengulum senyum manis menatap punggung gadis kecilnya. Ah, Joonmyeon bukan lagi gadis kecil Kyuhyun. Joonmyeon sudah menunjukkan bahwa dirinya sudah beranjak dewasa. Putri kecilnya sudah dewasa.

Kyuhyun kembali memandangi Siwon yang masih terbaring di dalam ruang ICU. Doa selalu Kyuhyun panjatkan demi kesembuhan pria yang sangat dia cintai itu dan juga untuk kesembuhan Minho. Doa dan harapan akan kebahagiaan mereka.

Bangunlah sayang. Bangunlah.

.

.

.

If you were to look at me now,

What would you think about me, living without you?

Everybody finds love 

In the end

Looking upon the flowers scattering after they just opened,

I wonder, is this the cheerlessness of this grove?

No matter how frightening it is, I won’t look away

If there is love at the end of everything

TBC

( 。・_・。)(。・_・。 )

n4oK0’s notes : Hola (づ ̄ ³ ̄)づ Nao is back again. Pada kangen ga? Nao sih kangen beudヾ(=゚・゚=)ノ\

Anyway, Nao memutuskan untuk melanjutkan FF ini. Nao selalu berusaha untuk menyelesaikan apa yang sudah Nao buat (walau lama pisan) (‾▿‾”)

Yang berharap ada lovey dovey Wondad sama Kyumom, harus bersabar ya. Karena FF ini lebih ke Family, jadinya yang kayak gitu tidak akan banyak. Kalau mau menunggu dengan sabar, ntar Nao kasih di FF yang lain atau FF baru Nao #spoiler

Untuk urusan medis dan teman2nya, Nao ga paham. Tadinya mau riset dulu tapi berhubung Nao malas warbiyasa jadinya terima bersih aja yak amazing readers. Kalau mau tanya bener apa ga urusan kedokteran, bisa kontak leadernim Nao di B.A.T.

Oh ya satu lagi. Tadinya Nao mau buat Minho as oppa. Tapi tiba-tiba Nao berubah pikiran dan jadilah Suho yang noona. Nao udah cek dan ricek FF ini dan sepertinya (sepertinya loh), tidak ada mention soal siap yang lahir duluan jadi aman (untuk sementara, biasanya amazing readers matanya lebih awas).

Sutra. Monggo di review (jika berkenan). As usual, typos, gaje, dan hal-hal mistik lainnya adalah tanggung jawab Nao jadi Nao cuma bisa bilang gomen m(_ _)m

Bubye (づ ̄ ³ ̄)づ

Keep Calm and Ship Wonkyu, Yunjae, and Krisho 😀

Sankyu and peace all

^^n4oK0^^

Advertisements